Anda di halaman 1dari 3

Erythroblastosis Fetalis: Pertentangan

darah antara ibu dan janin


by Hygiena Kumala Suci | Kesehatan Anak

Saat mengandung, terjalin suatu hubungan spesial antara


ibu dan janin.

Saat mengandung, terjalin suatu hubungan spesial antara ibu dan


janin. Janin menerima segala hal dari sang ibu. Tapi janin terbentuk dari penyatuan gen ibu
dan ayah, kadang dapat terjadi pertentangan antara ibu dan janin dan salah satu bentuknya
adalah erythroblastosis fetalis ini. Apa yang dimaksud erythroblastosis fetalis ?
Erythroblastosis fetalis adalah peningkatan penghancuran sel darah merah janin akibat
antibodi (sel pertahanan tubuh) ibu yang masuk ke janin lewat plasenta dan menghancurkan
antigen (tanda pengenal benda asing) yang terdapat di sel darah merah janin. Penyakit ini
penyebab penting terjadinya anemia (kurang darah) dan jaundice (bayi kuning) pada bayi

baru lahir. Kenapa hal ini dapat terjadi ? Darah memiliki 60 macam
antigen yang berbeda di permukaan selnya, dan antigen yang paling sering menyebabkannya
adalah antigen D dari rhesus dan antigen ABO dari golongan darah, sedangkan antigen lain
adalah CW , CX , DU , K (Kell), M, Duffy, S, P, MNS, Xg, Lutheran, Diego, and Kidd (tapi
jarang). Hal inilah yang menyebabkan darah setiap individu berbeda (contoh sederhana
adalah perbedaan golongan darah). Janin terbentuk dari penggabungan ayah dan ibu,
sehingga bisa saja antigen yang ada pada janin berbeda dengan ibu. Akibatnya imunitas ibu
menganggap darah janin sebagai benda asing yang berbahaya dan mengeluarkan antibodi
yang nantinya akan menempel pada antigen sel darah merah janin dan menghancurkannya.
Kapan erythroblastosis fetalis terjadi ? • Bila ibu rhesus negatif dan rhesus janin
positif. Hal ini tak pernah terjadi di kehamilan pertama karena ibu belum tersentisasi dengan
antigen janin, tapi gejala akan semakin hebat pada kehamilan berikutnya. Persentasi janin
akan rhesus + bila ayah rhesus + adalah 50%, tapi kemungkinan penyakit muncul hanya 10%.

• Bila golongan darah ibu berbeda dari


golongan darah janin (misal ibu O dan janin A atau B, atau ibu A dan janin B dan
sebaliknya). Penyakit ini dapat muncul pada kehamilan pertama dan menetap untuk
kehamilan berikutnya. Presentasi janin berbeda golongan darah bila golongan darah ayah
berbeda dengan ibu adalah 20-25%, tetapi hanya 15% yang beresiko terkena dan hanya 0,3-
2,2% yangberkembang menjadi penyakit. • Perbedaan antigen lainnya seperti yang
disebut diatas, presentasi munculnya adalah 5%. Apa gejala dari erythroblastosis fetalis ?
Gejala yang timbul dapat sangat ringan (hanya diketahui dari hasil laboratorium saja) hingga
gejala yang berat (kematian janin). Pada perbedaan rhesus, gejala yang ada adalah bayi
terlahir pucat lalu jadi kuning pada hari pertama setelah lahir, terdapat pembesaran hati dan
limpa, tanda-tanda gagal jantung ( pembesaran jantung, distress pernafasan), bengkak seluruh
tubuh (edema anasarka) dan kegagalan sirkulasi. Bila gejala edema anasarka sudah muncul
dari kandungan (biasa disebut hidrops fetalis), maka nantinya dapat menimbulkan kematian
dalam rahim atau mati sesaat setelah lahir. Sedangkan pada pebedaan golongan darah, gejala
lebih ringan, hanya bayi menjadi kuning 24 jam setelah lahir dan berkembang jadi kernicterus
yang berbahaya bagi bayi Bagaimana mengetahui janin saya terkena atau tidak ? •
Ayah dan ibu menjalani tes incompatibility darah untuk melihat golongan darah mereka
bertentangan atau tidak. • Ibu menjalani tes antibodi terhadap antigen D pada minggu
kehamilan ke 12-16, 28-32, dan 36. Bila titer meningkat maka positif terkena. • Janin dapat
diperiksa dengan Ultrasonografi, amnionsintesis, dan Percutaneus Umbilical Blood
Sampling (PUBS), minimal pada usia janin 18-20 minggu. Apa yang harus saya lakukan ?
Untuk janin, dapat dilakukan transfusi PRC (packed Red Cell) melalui vena umbilical bila
hematokrit janin < 30% atau sudah timbul hidrops fetalis. Transfusi dilakukan setiap 3-5
minggu sekali dengan target hematokrit 45-55%. Anda dapat melakukan persalinan bila paru-
paru janin matang, timbul fetal distress, timbul komplikasi PUBS dan usia kehamilan 35-37
minggu. Pada bayi, bila disebabkan perbedaan rheus, sebaiknya bayi dilahirkan pada rumah
sakit dengan fasilitas perawatan neonatal yang baik dan lengkap karena bayi mungkin
membutuhkan transfusi darah dan perawatan intensif hingga keadaan stabil. Sedangkan pada
perbedaan golongan darah, bayi cukup dilakukan phototherapy dengan sinar blue light atau
transfuse darah bila bayi anemia berat. Bagaimana mencegah timbul erythroblastosis
fetalis pada bayi ? Pemberian Human anti-D globulin (RhoGAM) pada masa kehamilan
28-32 minggu dan pada saat persalinan (72 jam sebelum persalinan) akan menurunkan resiko
erythroblastosis fetalis menjadi 1%. Tetapi tingkat keberhasilan ini harus didukung dengan
perawatan antenatal yang baik, deteksi dini penyakit dan persalinan yang minimal tindakan
invasive pada ibu