Anda di halaman 1dari 11

Analisis Performansi Pekerjaan Proyek Pembangunan

Mechanical – Electrical – Pumbling Gedung Sentraland Semarang


Menggunakan Metode Earned Value Analysis
Susatyo Nugroho*), Darminto Pujotomo**), Imaduddin Zakiy Purwanto***)

Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,


Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275
Email : susatyo.nwp@gmail.com *), darminto_pujotomo@yahoo.com **), zakiy.imaduddin@yahoo.com ***)

Abstrak
Proyek pada umumnya memiliki batas waktu (deadline), artinya proyek harus diselesaikan sebelum
atau tepat pada waktu yang telah ditentukan. Pada proyek pengerjaan Mechanical, Electrical, Plumbing
(MEP) yang dilakukan oleh PT.Indospec, terjadi keterlambatan selama 9 minggu, mulai dari minggu ke 44
hingga minggu ke 52, dimana pada minggu ke 52 plan berada pada persentase 87.40% dan actual berada
pada persentase 33.53%. Hal ini membuat perusahaan merasa perlu melakukan evaluasi kinerja proyek agar
dapat diketahui kinerja dalam penyelesaian proyek dan faktor keterlambatan,dengan menggunakan metode
Earned Value Analysis (EVA) dan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA). Hasil dari perhitungan
EVA menunjukkan tidak adanya penambahan dari rencana biaya, namun terjadi keterlambatan dalam waktu
penyelesaian. Material Dipesan Belum Jadi, Terlambat Pengiriman, Tidak Ada Gudang, Penyesuaian Biaya,
Perubahan Material, Perubahan Fungsi, Arsitektur, Struktur menjadi penyebab utama dalam keterlambatan
proyek. Koordinasi yang baik dan persiapan yang matang dalam pengerjaan proyek sangat penting agar
keterlambatan dalam proyek dapat dihindari.
Keyword : Manajemen Proyek, Earned Value Analysis, Fault Tree Analysis

Abstract
Projects generally have a time limit (deadline), meaning that the project must be completed before or
right at a predetermined time. In construction projects Mechanical, Electrical, Plumbing (MEP) conducted
by PT.Indospec, there is a lateness for 9 weeks, starting from week 44 through week 52, where at week 52 the
plan percentage is at 87.40% and the actual percentage is at 33.53%. This makes the company feel the need
to evaluate the performance of the project, in order to know the performance in completion of projects and
the lateness factor, using Earned Value Analysis (EVA) and using Fault Tree Analysis (FTA). The results of
the EVA calculation showed no increase of cost plans, but there is a delay in the completion time. Material
Booked Unfinished, Late Delivery, No Warehouse, Cost Adjustment, Changes in Material, Changes in
Functional, Architectural, Structural, a major cause in the lateness of the project. Good coordination and
preparation of the project is very important in order to avoid lateness in the project.
Keyword: Project Management, Earned Value Analysis, Fault Tree Analysis

Pendahuluan pada besar kecilnya nilai keuntungan yang dapat


Dewasa ini, kebutuhan perusahaan terhadap diperoleh perusahaan.
fungsi manajemen proyek tidak dapat dipandang hanya PT. Propernas Griya Utama adalah perusahaan
dengan sebelah mata. Hal ini disebabkan karena dalam yang bergerak di bidang property. Salah satu proyek
melakukan proses produksi, perusahaan harus mampu property andalan yang dimiliki adalah Sentraland
menghasilkan suatu produk baik berupa barang ataupun Semarang, dengan pengerjaan konstruksi dilakukan
jasa yang sesuai dengan kriteria, waktu dan besarnya oleh PT. Wijaya Karya dan pengerjaan Mechanical,
biaya yang telah ditetapkan. Perubahan terhadap salah- Electrical, Plumbing (MEP) dilakukan oleh PT.
satu dari ketiga faktor tersebut dapat mempengaruhi Indospec.
dua faktor lainnya yang tentunya juga akan berdampak

1
Hasil observasi awal menunjukkan, pengerjaan pedoman dalam melakukan suatu penelitian. Tahapan
proyek MEP Sentraland Semarang mengalami dan langkah penelitian ini disajikan dalam bentuk
keterlambatan. Dari data realisasi pelaksanaan flowchart pada gambar 2
pekerjaan, telah dibuat Kurva S sebagaimana dapat
dilihat pada Gambar 1. berikut :
Mulai

Studi Pendahuluan

Perumusan Masalah

Penentuan Tujuan
Penelitian

Studi Pustaka Studi Lapangan

Gambar 1. Kurva S Proyek Pembangunan MEP Pengumpulan data yang dibutuhkan :


Sumber : PT. Indospec 1. Rencana Anggaran Biaya RAB
2. Kurva S ( Master Time Schedule )
3. Biaya Aktual
Dari Gambar 1 terlihat bahwa proyek berturut-
turut mengalami keterlambatan selama 9 minggu mulai
dari minggu ke 44 hingga minggu ke 52, dimana pada
Analisa Data :
akhir minggu ke 52 plan berada pada persentase 1. Menghitung Indikator PV, EV, dan AC
87.40% dan actual berada pada persentase 33.53% dari 2. Menghitung Analisis Kerja (CV, SV, CPI,
dan SPI)
perencanaan yang dapat terealisasi. Hal ini membuat
perusahaan merasa perlu melakukan evaluasi kinerja
proyek agar dapat diketahui indikasi inefisiensi kinerja
Menghitung perkiraan estimasi biaya dan waktu serta pekerjaan tersisa
dalam penyelesaian pekerjaan, serta dapat dilakukan 1. Estimasi to complete (ETC)
kebijakan-kebijakan manajemen serta perubahan 2. Estimasi at Complection (EAC)
3. Time Estimate
metode pelaksanaan yang harus dilakukan untuk dapat 4. Analisa nilai The Complete Performance Indeks (TCPI)
mencegah berlanjutnya keterlambatan penyelesaian
proyek.
Earned Value Analysis (EVA) merupakan Mengidentifikasi faktor – faktor yang
sistem manajemen yang mengintegrasikan biaya, mempengaruhi kemajuan /
keterlambatan proyek menggunakan
jadwal, dan masalah teknis. Sistem ini memungkinkan Fault Tree Analysis (FTA)
perhitungan antara variansi biaya dan waktu, performa
indeks, serta peramalan biaya proyek dan durasi waktu
yang diperlukan (Naderpour, 2011). Dari ketiga
Kesimpulan dan Saran
dimensi tersebut, dengan menggunakan konsep earned
value, dapat dihubungkan antara kinerja biaya dengan
waktu yang berasal dari perhitungan varian dari biaya
dan waktu (Khamooshi, 2014). Selesai
PT. Propernas Griya Utama sebagai owner
perlu melakukan evaluasi keterlambatan proyek yang
Gambar 2. Metodologi Penelitian
dilakukan oleh kontraktor. Evaluasi dilakukan agar
dapat mengetahui performansi dari proyek tersebut,
sehingga diketahui berapa lama pekerjaan tersebut akan
selesai dilakukan dan mengetahui faktor – faktor Pengertian Kegiatan dan Manajemen Proyek
penyebab keterlambatan tersebut Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai suatu
kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka
Metode Penelitian waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya terbatas
Metodologi penelitian merupakan suatu prosedur yang dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang
sistematik untuk mengetahui performansi suatu project sasarannya telah digariskan dengan jelas (Ervianto,
secara lebih cepat dan akurat yang digunakan sebagai 2002).
2
Manajemen proyek adalah merencanakan, Earned Value Analysis
mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber Pada suatu proyek konstruksi perencanaan dan
daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pengendalian proyek harus dipandang sebagai satu
pendek yang telah ditentukan. Perencanaan menempati kesatuan yang terintegrasi dalam system pengelolaan
urutan pertama, karena perencanaan merupakan proses proyek. Terlebih untuk proyek besar seperti yang telah
mencoba meletakkan dasar tujuan dan sasaran temasuk disebutkan sebelumnya, dimana akan terdapat banyak
menyiapkan segala sumber daya untuk mencapainya. kegiatan dan logika ketergantungan yang akan
Sedangkan pengendalian adalah kegiatan memantau melibatkan banyak pihak. ada gambar 3 dibawah
dan menjaga agar langkah-langkah kegiatan tersebut menjelaskan penjadwalan biaya dan waktu secara
tetap terarah pada tujuan yang telah ditetapkan dan tradisional yang sering digunakan perusahaan kontruksi
memastikan sumber daya terpakai secara efektif dan dalam menyelesaikan masalahnya.
efisien.Dari pengertian di atas terlihat bahwa ciri pokok
proyek adalah sebagai berikut :
a. Memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau
hasil kerja akhir.
b. Jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu
dalam proses mencapai tujuan di atas telah
ditentukan.
c. Bersifat sementara, dalam arti umumnya dibatasi
oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir telah
ditentukan dengan jelas.
d. Kegiatan bersifat non rutin, tidak berulang-ulang.
Jenis dan intensitas kegiatan berubah sepanjang
proyek berlangsung. Gambar 3 Penjadwalan biaya dan waktu tradisional
Suatu proyek dapat muncul karena beberapa Sumber : Husen, 1999
alasan, antara lain :
a. Berasal dari permintaan pemerintah, proyek Dalam kasus ini sangat penting untuk
biasanya dititikberatkan untuk kepentingan umum, merencanakan suatu system pengendalian proyek yang
contoh : proyek pembangunan jalan, bendungan. sistematis dan komperehensif. Sistem pengendalian
b. Berawal dari permintaan pasar. Misal penelitian, diciptakan untuk memastikan agar perencanaan dapat
pengembangan serta perluasan maupun mendorong pelaksanaan berjalan dengan lancar dan
pembangunan fasilitas produksi baru karena menciptakan sistem pengendalian yang efektif dan
permintaan pasar terhadap produk cukup besar. efisien dalam mengontrol 3 aspek utama : biaya, waktu
dan mutu.
Semua proyek selalu mengandung resiko yang Suatu konsep pengendalian terintegrasi yang
cukup besar menyangkut manajemen yang diterapkan dapat menganalisis penyimbangan biaya dan jadwal
dalam proyek tersebut. Manajemen proyek yang asal- pertama kali diperkenalkan ole Departemen Pertahanan
asalan akan menyebabkan kerugian materi, waktu dan AS pada tahun 1967. Konsep ini dikenal dengan
tenaga juga kredibilitas peusahaan yang menangani C/SCSC(Cost/Schedule Control System Criteria) atau
proyek, bahkan bisa merusak sistem yang telah mapan. earned value (Soemardi, dkk, 2005)Konsep ini telah
Proyek harus mampu memberikan optimasi sistem berkembang pesat dan mulai diterapkan dalam
yang ada, sehingga manajemen proyek yang baik harus manajemen proyek kostruksi. Konsep ini dipadukan
ditekankan pada : dengan konsep perencanaan bertingkat yang membagi
a. Organisasi proyek harus tangguh, tahan terhadap proyek menjadi sub-sub proyek. Umpan balik sangat
gangguan yang timbul baik dari dalam maupun penting terhadap keberhasilan dalam proyek apapun.
luar organisasi. Umpan balik yang tepat waktu dan dan tepat sasaran
b. Analisa kebutuhan sumber daya harus akurat dan akan membuat manajer proyek untuk mengidentifikasi
toleransi yang diberlakukan harus akurat karena masalah lebih cepat dan membuat beberapa
harga yang dibayar akan sangat mahal bila pryek penyesusaian yang bisa menjaga proyek berjalan sesuai
gagal. dengan waktu dan biaya.
c. Pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan yang Earned Value Analysis (EVA), atau analisa
telah disusun.(Soeharto, 1999) nilai yang diperoleh telah terbukti sebagai salah satu
cara yang paling efektif untuk mengukur pekerjaan
proyek dan sebagai alat umpan balik dalam mengatur
proyek. Cara tersebut memungkinkan para manajer

3
untuk mendekatkan diri pada siklus managerial plan- b. CV (Cost Variance)
do-check-act (merencanakan-melakukan-memeriksa- Yaitu variansi atau perbedaan atara biaya yang
tindakan). Metode earned value ini dapat membantu harus dikeluarkan untuk mengerjakan suatu
dengan jelas dan objektif dimanakah perkembangan pekerjaan pada periode tertentu dengan kemajuan
proyek dan kemanakah perkembangan tersebut akan pekerjaan yang dicapai pada periode tersebut yang
berlangsung. Metode ini menggunakan pola-pola dan menggambarkan posisi keuangan pekerjaan pada
kejadian yang sering terjadi di masa lampau untuk periode yang bersangkutan. CVcum adalah
dijadikan prediksi di masa depan sebagai prinsip- kumulatif variansi antara biaya yang telah
prinsip dasar(Ahuja H N, 1984). dikeluarkan dengan kemajuan aktual kumulatif.
CV = BCWP – ACWP
Terminologi Dasar c. VAC (Variance at Completion)
Dalam konsep earned value dikenal beberapa Yaitu variansi biaya yang diperkirakan akan terjadi
parameter untuk mengendalikan biaya proyek menurut pada saat proyek telah selesai berdasarkan
Anbari (2003)yang bisa dilihat pada Gambar 2.3 antara produktifitas terakhir sedangkan VACcum
lain : berdasarkan produktivitas rata-rata.
a. BCWS (Budgeted Cost Work Schedule) VAC = BAC – EAC
BCWS adalah merupakan anggaran biaya yang VACcum = BAC – EACcum
dialokasikan berdasarkan rencana kerja yang telah
disusun terhadap waktu. BCWS dihitung dari Indeks Pelaksanaan Pekerjaan
akumulasi anggaran biaya yang direncanakan untuk Menurut Soeharto (1999) Indeks Pelaksanaan
pekerjaan dalam periode waktu tertentu. BCWS Pekerjaan dibagi dalam :
pada akhir proyek (penyelesaian 100%) disebut a. SPI (Schedule Peformance Index)
BAC (Budget At Completion). SPI yaitu indeks yang menunjukkan
b. BCWP (Budgeted Cost Work Performed) produktivitas (efesiensi jadwal) berdasarkan
BCWP yaitu kemajuan yang telah dicapai kemajuan yang dicapainya pada periode tertentu
berdasarkan nilai uang dari pekerjaan-pekerjaan sedangkan SPIcum adalah indeks produktivitas
yang telah diselesaikan pada periode waktu tertentu. pekerjaan berdasarkan kumulatif kemajuan yang
BCWP inilah yang disebut earned value. BCWP dicapainya sampai periode tertentu.
dinilai berdasarkan presentase pekerjaan yang telah SPI = BCWP / BCWS
dilaksanakan, dinilai dengan suatu ukuran kemajuan SPIcum = BCWPcum / BCWScum
pekerjaan yang telah ditetapkan dan merupakan b. CPI (Cost Performance Index)
akumulasi dari pekerjaan-pekerjaan yang telah Yaitu indeks yang menunjukkan produktifitas
diselesaikan. keuangan (efisiensi biaya) atau keuangan
c. ACWP (Actual Cost Work Permormed) berdasarkan penyerapan biaya yang sebenarnya
ACWP adalah biaya actual yang dikeluarkan untuk terjadi sampai pada penyerapan proyek
menyelesaikan pekerjaan sampai pada periode berdasarkan penyerapan biaya yang sebenarnya
tertentu. ACWP dapat disajukan per periode atau terjadi pada periode tertentu. CPIcum adalah
kumulatif. indeks yang menunjukkan produktivitas periode
d. BAC (Budget At Completion) tertentu.
BAC adalah budget rencana yang akan diserap oleh CPI = BCWP / ACWP
keseluruhan proyek atau keseluruhan pekerjaan. CPIcum = BCWPcum / ACWPcum
Nilainya adalah nilai proyek tersebut atau nilai
kontrak yang harus diselesaikan atau nilai Estimasi Untuk Menyelesaikan Proyek dan
keseluruhan pekerjaan. Peramalan Biaya Akhir
a. ETC (Estimate to Complete) yaitu sejumlah biaya
Variansi yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek
Menurut Soeharto (1999) Variansi dibagi dalam : berdasarkan data produktivitas terakhir yang
a. SV (Schedule Variance) dicapai.
Yaitu variansi atau perbedaan antara kemajuan ETC = (BAC – BCWPcum ) / CPI
pekerjaan yang dicapai dengan yang direncanakan b. EAC (Estimate at Complete) adalah besarnya biaya
pada periode tertentu yang menunjukkan posisi yang akan diserap secara keseluruhan oleh proyek
kemajuan pekerjaan tersebut pada periode tersebut. berdasarkan data produktivitas terakhir yang
SVcum kumulatif adalah variansi antara kemajuan dicapai. Sedangkan EACcum adalah besarnya
pekerjaan yang telah dicapai dengan yang biaya yang akan diserap secara keseluruhan oleh
direncanakan. produk berdasarkan data produktivutas rata-rata.
SV = BCWP – BCWS EAC = ACWPcum + ETC
4
 PV = Rencana Progress x RAB
Langkah - Langkah FTA = 87,40% x Rp 61.481.000.00
Langkah-langkah FTA (Blanchard, 2004) dalam suatu = Rp 53.734.394.000
sistem, sebagai berikut:  EV = Presentasi Realisasi x RAB
1. Mengidentifikasi kejadian atau peristiwa terpenting = 33,53% x Rp 61.481.000.000
dalam sistem (top level event), langkah pertama = Rp 20.614.579.300
dalam FTA ini merupakan langkah penting karena  AC = Rp 12.000.000.000
akan mempengaruhi hasil analisis sistem. Pada Selanjutnya dari hasil perhitungan PV, EV,
tahap ini, dibutuhkan pemahaman tentang sistem dan AC tersebut, akan disajikan menjadi bentuk
dan pengetahuan tentang jenis-jenis kerusakan Gambar 5. grafik interaksi seperti dibawah ini :
(undesiredevent) untuk mengidentifikasi akar
permasalahan sistem.
2. Membuat pohon kesalahan (fault tree), Setelah
permasalahan terpenting teridentifikasi, langkah
berikutnya adalah menyusun urutan sebab akibat
pohon kesalahan (fault tree). Pada tahap ini, cause
and effect diagram (ishikawa) dapat digunakan
untuk menganalisis kesalahan dan mengeksplorasi
keberadaan kerusakan- kerusakan yang
tersembunyi.
3. Menganalisis pohon kesalahan (fault tree), Analisis
pohon kesalahan (fault tree) diperlukan untuk Gambar 5. Grafik Interaksi PV EV AC
memperoleh informasi yang jelas dari suatu sistem
dan perbaikan-perbaikan apa yang harus dilakukan Dari ketiga indicator diatas maka diperoleh
pada sistem. besaran kinerja proyek sebagai berikut :
 Schedule Varians (SV)
Didapat dari pengurangan EV dan PV
= EV – PV
= Rp 20.614.579.300 – Rp 53.734.394.000
= Rp – 33.119.814.700
 Cost Varians (CV)
Didapat dari pengurangan PV dan AC
= EV – AC
= Rp 20.614.579.300 – Rp 12.000.000.000
= Rp 8.614.579.300
 Schedule Performance Index (SPI)
Didapat dari ratio antara EV dan PV
= EV / PV
= Rp 20.614.579.300 / Rp 53.734.394.000
Gambar 4 Contoh Fault tree Analysis (FTA) = 0,38
 Cost Performance Index (CPI)
Hasil dan Pembahasan Didapat dari ratio antara EV dan AC
Data Proyek = EV / AC
Adapun data - data umum proyek pembangunan MEP = Rp 20.614.579.300 / Rp 12.000.000.000
sebagai berikut : = 1,7
 Kontraktor : PT. Indospec
 Alamat Proyek : Jl. Ki Mangunsarkoro, No. Perkiraan Biaya dan Waktu Akhir Proyek Minggu
36, Semarang ke- 52
 Nilai Proyek : Rp 61.481.000.000 Selain dapat digunakan untuk menganalisa
 Kurva S : (Terlampir) kinerja proyek, dapat juga digunakan untuk
memperkirakan biaya dan waktu penyelesaian proyek.
Perhitungan Kinerja Proyek Minggu ke – 52 Prakiraan tersebut dapat bermanfaat untuk memberikan
Untuk mendapatkan nilai Plan value (PV) dan suatu early warning mengenai hal yang akan terjadi di
Earned value (EV), langkah pertama yang harus masa datang. Berikut ini adalah perkiraan biaya akhir
dilakukan yaitu dengan meninjau kurva S dan nilai dari proyek pada minggu ke – 52
RA kontrak. Maka didapatkan :
5
 ETC = (RAB – EV)
=(Rp61.481.000.000 – Rp 20.614.579.300) Perkiraaan Rencana Terhadap Penyelesaian Proyek
= Rp 40.866.420.700 Perkiraan rencana terhadap penyelesaian
 EAC = AC + ETC proyek dapat diketahui berdasarkan nilai parameter
= Rp 12.000.000.000 + Rp 40.866.420.700 indeks prestasi penyelesaian atau disebut To Complete
= Rp 52.866.420.700 Performance Index (TCPI). Angka TCPI adalah angka
Berdasarkan perhitungan di atas perkiraan biaya indeks kemungkinan dari sebuah perkiraan. Indeks ini
penyelesaian proyek adalah sebesar Rp 52.866.420.700, bisa digunakan untuk menambah kepercayaan dalam
sehingga dapat diketahui deviasi antara biaya rencana pelaporan penilaian sisa pekerjaan
penyelesaian proyek (RAB) dengan biaya perkiraan TCPI =((RAB – EV) / (EAC – AC))
penyelesaian (EAC) pada minggu ke-52 sebesar Rp ` `= (( Rp 61.481.000.000 - Rp 20.614.579.300)
8.614.579.300 / (Rp 52.866.420.700 – Rp12.000.000.000)) = 1 : 1
Untuk perkiraan waktu penyelesaian proyek adalah Dari nilai indeks diatas, nilai indeks
sebagai berikut : kepercayaan kinerja pada minggu ke – 52 sama dengan
 Waktu rencana (OD) : 54 minggu 1, sehingga dapat diartikan bahwa proyek ini masih
 Waktu yang telah ditempuh (ATE): 52 minggu berjalan sesuai rencana.
 Nilai indeks SPI : 0.38 Selanjutnya perhitungan analisa kinerja
Maka estimasi waktu penyelesaian proyek (TE) dapat proyek, perkiraan biaya dan waktu penyelesaian akhir
dihitung sebagai berikut : proyek, dan analisa perkiraan rencana terhadap
TE = ATE + (OD – (ATE x SPI ) / SPI penyelesaian proyek pada minggu ke – 1 sampai
= 52 + ( 54 – ( 52 x 0.38 ) ) / 0.38 minggu ke 52 akan diberikan pada tabel di Lampiran
= 142 minggu 4.1. Dari hasil perhitungan PV, EV, dan AC dari
Berdasarkan hasil estimasi nilai TE diatas minggu – 1 sampai minggu ke – 52, akan disajikan
maka dapat disimpulkan bahwa waktu penyelesaian menjadi bentuk gambar 6 grafik interaksi seperti
proyek lebih lama dari schedule yang direncanakan (54 dibawah ini :
minggu).

GRAFIK INTERAKSI PV EV AC
60
50
MILIAR RUPIAH

40
30 BCWS
20 BCWP
10 ACWP

0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49 51
MINGGU

Gambar 6 Grafik Interaksi PV EV AC Minggu ke 1 – 52


Dari perhitungan tabel diatas dari minggu ke -1 sampai minggu ke – 52, maka selanjutnya akan dibuat grafik interaksi
antara CV dan SV pada gambar 4.3, sebagai berikut :
GRAFIK INTERAKSI ANTARA CV DAN SV
20
MILIAR RUPIAH

0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49 51 SV
-20 CV

-40
MINGGU

6
Dari perhitungan tabel diatas dari minggu ke -1 sampai minggu ke – 52, maka selanjutnya akan dibuat grafik interaksi
antara SPI dan CPI padagambar sebagai berikut :

GRAFIK INTERAKSI ANTARA SPI DAN CPI


25

20

15
NILAI

10 SPI
CPI
5

0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49 51
MINGGU

Gambar 7 Grafik Interaksi SPI dan CPI Minggu ke 1 – 52

Analisis Faktor Keterlambatan Proyek MEP dari dikarenakan beberapa pekerjaan sangat
PT. Indospec berhubungan kaitanya dengan fisik selesai,
Keterlambatan dari PT. Indospec disebabkan seperti misalnya pekerjaan matv, cctv, hvac,
sprinkler, hydrant dan beberapa lainya, agar
beberapa faktor penyebab yang mengakibatkan
pemasangan nya sesuai dengan arsitektur dan
keterlambatan dalam jalannya proyek MEP. Beberapa struktur bangunan yang direncanakan.
penyebab keterlambatan dari pihak PT. Indospec b. Sumber daya manusia (sdm) menjadi penting
berdasarkan wawancara dengan Manajer Proyek saat pemasangan material, dikarenakan
setempat diantaranya yaitu : pekerjaan pemasangan material MEP sangat
1. Ketersediaan material yang mengakibatkan erat kaitanya dengan kemampuan sdm tersebut
keterlambatan dalam MEP, diantaranya : dan koordinasi dengan kontraktor fisik.
a. Material yang belum ada di proyek Koordinasi yang tidak tepat dan kemampuan
dikarenakan penyesuaian biaya dari pekerja rendah menyebabkan beberapa
kontraktor, dan tidak adanya gudang sehingga pemasangan tegangan rendah, elevator, travo
membuat koordinasi dengan pihak supplier menjadi terhambat karena beberapa aspek
harus tepat. pemasangan yang salah, karena juga menjadi
b. Material yang terlambat di proyek dikarenakan pertama kali nya melakukan pembangunan
beberapa pembelian barang dilakukan melalui MEP pada gedung bertingkat. Koordinasi juga
pembelian di luar negeri, sehingga tidak tepat menyebabkan kurva S saat awal
menyebabkan beberapa barang terlambat proyek tidak disesuaikan dengan kemampuan
datang karena adanya koordinasi yang salah kontraktor fisik sehingga tidak tepat dengan
dari pihak kontraktor dan supplier. Material jadwal yang telah direncanakan oleh
yang belum jadi juga disebabkan karena kontraktor MEP.
pembuatan beberapa panel listrik yang 3. Perizinan PLN yang mengakibatkan keterlambatan
dilaksanakan oleh sub kontraktor, sehingga MEP diantaranya :
pemilihan sub kontraktor yang salah a. Sumber daya manusia (SDM) PLN sangat
menyebabkan beberapa pekerjaan menjadi penting kaitanya dengan beberapa perijinan
terganggu. dalam pemasangan trafo maupun
2. Pemasangan material terganggu yang penyambungan listrik. Dalam pemasangan
mengakibatkan keterlambatan MEP diantaranya : trafo dan tegangan listrik perlu adanya
a. Fisik belum selesai menyebabkan beberapa koordinasi yang baik dengan PLN, yang mana
pekerjaan MEP tidak dapat dijalankan, kaitanya tersebut dengan sdm PLN yang
7
mengurus pemasangan listrik. Pemilihan fungsi dan perubahan beberapa material, yang
beberapa sdm di PLN yang tepat bisa mengakibatkan jalan nya pekerjaan arsitektur
membuat progress yang baik dalam menjadikan pekerjaan yang paling tidak sesuai
pembangunan MEP, khususnya bagian tepat pada waktunya.
penyambungan listrik dan pemasangan trafo. b. Detail yang kurang dari pihak kontraktor,
b. Administrasi dalam pendaftaran khususnya pemasangan beberapa MEP dan
penyambungan listrik mengakibatkan arsitek yang berubah, ditambah dengan
keterlambatan dalam pembangunan MEP. koordinasi yang tidak baik dari pihak MEP
Administrasi dalam penyambungan listrik menyebabkan beberapa perubahan struktur
meliputi surat perintah kerja dan sub dan arsitek detail menjadi berubah, sehingga
kontraktor listrik dari pihak PLN yang berhak menyebabkan pekerjaan menjadi lama dalam
melakukan pemasangan trafo, yang telah hal struktur dan arsitek desain.
ditunjuk oleh PLN sebagai rekanan. Pemilihan 2. Cuaca yang mengakibatkan keterlambatan MEP
orang dalam PLN yang salah dapat diantaranya :
mengakibatkan pekerjaan menjadi terhambat a. Musim hujan pada akhir tahun turut
dalam pemasangan trafo karena kaitan nya mempengaruhi keterlambatan dalam pekerjaan
dengan perijinan dari PLN. fisik dan menyebabkan beberapa pekerjaan
MEP menjadi terlambat, yang kaitanya
Analisis Faktor Keterlambatan Proyek MEP dari berhubungan dengan pekerjaan kontraktor
PT. Wijaya Karya fisik.
Beberapa faktor keterlambatan dalam proyek b. Angin yang kencang pada akhir tahun
MEP disebabkan juga oleh kontraktor fisik, mengingat dikarenakan musim hujan menyebabkan
beberapa pekerjaan saling erat kaitanya dengan beberapa pekerjaan diperlambat dikarenakan
beberapa pekerjaan fisik yang seharusnya sudah cuaca tidak mendukung, analisis waktu
diselesaikan tepat pada waktunya. Berdasrkan pembangunan yang tidak tepat menyebabkan
wawancara dengan Manajer Proyek PT. Wijaya Karya, keterlambatan yang cukup lama.
didapatkan beberapa penyebab yaitu : Hujan angin yang sangat kencang sangat
1. Desain yang mengakibatkan keterlambatan MEP berbahaya dalam pekerjaan fisik, sehingga
diantaranya : mengakibatkan keterlambatan dalam
a. Perubahan desain dari owner dan konsumen pekerjaan. Analisis waktu yang tidak tepat
dalam pembelian apartemen mengakibatkan menyebabkan keterlambatan yang cukup lama
beberapa rencana perkerjaan perubahan ikut sehingga diperlukan analisis kurva S yang
menganggu jalannya pembuatan MEP, dimana baik oleh kontraktor.
perubahan desain menyebabkan perubahan

Pembentukan Minimal Cut Set


Cut set merupakan himpunan dari basic event dimana jika semua basic event muncul maka top event akan
terjadi. Mencari minimal cut set dapat menggunakan analisa mocus dengan mengambil angka yang sering muncul.
Keterlambatan MEP

Internal Kontraktor Fisik

Pemasangan material Desain Cuaca


Perizinan PLN Ketersediaan Material
terganggu

Material Material Detail Perubahan


SDM Hujan Angin Hujan Angin
Administrasi Fisik belum tidak Ada Terlambat Kurang Desain
SDM PLN
selesai

15 16 17
Pekerja Material
8 7 Kemampuan
kurang
Penyesuaian
Biaya
Tidak ada
Gudang
Terlambat
dipesan Struktur Arsitek
Perubahan
Fungsi
Perubahan
Material
SPK RAB Pekerja Pengiriman
koordinasi belum jadi

6 5 4 3 2 1 14 13 12 11
10 9

Gambar 8 Minimal Cut Set


8
Basic event berdasarkan nomor : MEP yang disebabkan oleh PT. Indospec sendiri. Dari
1. Material Dipesan Belum Jadi empat masalah tersebut, terdapat rekomendasi untuk
PT. Indospec diantaranya :
2. Terlambat Pengiriman 1. Material Dipesan Belum Jadi
3. Tidak Ada Gudang Material yang belum jadi disebabkan karena
pembuatan beberapa panel listrik yang
4. Penyesuaian Biaya
dilaksanakan oleh sub kontraktor, sehingga
5. Pekerja Kurang Koordinasi pemilihan sub kontraktor oleh PT. Indospec yang
6. Kemampuan Pekerja salah menyebabkan beberapa pekerjaan menjadi
terganggu. Pemilihan sub kontraktor yang benar
7. Fisik Belum Selesai sangat erat kaitannya dengan kesuksesan suatu
8. Sumber Daya Manusia PLN proyek. Pengambilan keputusan dari divisi
9. Rencana Anggaran Biaya procurement yang tepat dapat menghindari
kesalahan dalam pemilihan sub kontraktor.
10. Surat Perintah Kerja 2. Terlambat Pengiriman
11. Perubahan Material Terlambat pengiriman dikarenakan beberapa
pembelian barang dilakukan melalui pembelian di
12. Perubahan Fungsi
luar negeri, sehingga menyebabkan beberapa
13. Arsitek barang terlambat datang karena adanya koordinasi
14. Struktur yang salah dari pihak kontraktor dan supplier.
Untuk mencegah hal ini terjadi maka PT. Indospec
15. Hujan
pemilihan supplier yang tepat dan koordinasi yang
16. Angin baik agar pengiriman barang dapat terjadi tepat
17. Hujan Angin pada waktunya.
3. Tidak Ada Gudang
Hasil Minimal Cut Set Tidak ada gudang menyebabkan beberapa barang
Minimal Cut Set harus dibeli sesuai dengan tenggat waktu proyek.
Apabila proyek tersebut berjalan terlalu cepat
1,3 7 11,14 17 maka kontraktor harus membeli barang tepat
1,4 8 12,13 waktu, dan apabila barang terlambat, kontraktor
2,3 9 12,14 harus juga menyesuaikan pembelian barang.
2,4 10 15 Mempunyai gudang sendiri sangat diperlukan oleh
5,6 11,13 16 PT. Indospec agar penyimpanan barang sesuai dan
menghemat beberapa pembelian karena dapat
dipesan jauh hari, dan dapat menghindari inflasi
tahunan apabila proyek berjalan terlambat melebihi
tahun.
Dengan berdasarkan hasil dari minimal cut set, maka 4. Penyesuaian Biaya
angka yang sering muncul dapat menjadi akar Penyesuaian biaya dari pihak kontraktor
penyebab terjadinya keterlambatan MEP. Angka yang menyebabkan beberapa material tidak ada di dalam
sering mucul dari minimal cut set yaitu: proyek. Pemilihan pendanaan yang tepat oleh PT.
1. Material Dipesan Belum Jadi Indospec dalam sebuah proyek sangat diperlukan,
2. Terlambat Pengiriman dimana dapat menjadi acuan kontraktor untuk
3. Tidak Ada Gudang dapat menyesuaikan ritme suatu proyek, agar
4. Penyesuaian Biaya proyek dapat berjalan sesuai rencana, sehingga
11.Perubahan Material cashflow keuangan dalam perusahaaan juga
12. Perubahan Fungsi menjadi seimbang.
13. Arsitektur
14. Struktur Rekomendasi Hasil Minimal Cut Set Proyek MEP
PT. Wijaya Karya
Rekomendasi Hasil Minimal Cut Set Proyek MEP Hasil dari minimal cut set terdapat empat
PT. Indospec kesalahan utama yang menjadi penyebab keterlambatan
Hasil dari minimal cut set terdapat empat MEP yang disebabkan oleh PT. Wijaya Karya. Dari
kesalahan utama yang menjadi penyebab keterlambatan empat masalah tersebut, terdapat rekomendasi untuk
PT. Wijaya Karya diantaranya :
9
1. Perubahan Material
Perubahan material yang disebabkan perubahan 1. Pada akhir peninjauan, nilai kinerja schedule
oleh owner maupun para pembeli, harus dapat proyek atau SPI adalah sebesar 0,38 yang artinya
diantisipasi jauh hari. Perubahan yang tidak proyek mundur dari target waktu yang telah
diantisipasi dapat mengakibatkan pekerjaan MEP ditetapkan. Realisasi pekerjaan proyek
menjadi mundur, dikarenakan beberapa pekerjaan pembangunan MEP adalah 33,53% sedangkan
membutuhkan bangunan fisik yang telah jadi. target rencana sebesar 87,4% sehingga proyek
Koordinasi dari PT. Wijaya Karya, Tbk terhadap telah mengalami keterlambatan sebesar 53,87 %.
PT. Propernas Griya Utama maupun PT. Indospec Sedangkan dilihat dari segi kinerja biaya proyek,
sangat diperlukan agar kejadian seperti ini tidak nilai CPI sebesar 1,7 artinya biaya proyek telah
terulang kembali. dikeluarkan masih berada dibawah biaya yang
2. Perubahan Fungsi telah dianggarkan. Untuk TCPI dalam proyek ini
Perubahan beberapa fungsi bangunan menuntut sebesar 1:1, artinya proyek berjalan di tempat.
perubahan dalam penataan MEP. Penyesuaian 2. Perkiraan biaya akhir pada kinerja proyek minggu
fungsi dalam sebuah proyek harus direncanakan 52 adalah sebesar Rp 52.866.420.700, dan nilai
dengan sangat matang mengingat perubahan fungsi tersebut masih dibawah biaya yang dianggarkan
mengakibatkan perubahan lama rencana, sehingga (RAB) sebesar Rp 61.481.000.000, sehingga dapat
menyebabkan kurva S dalam proyek tidak sesuai diketahui perusahaan mendapatkan profit antara
dengan rencana. Koordinasi ketiga pihak sangat biaya rencana penyelesaian proyek (RAB) dengan
diperlukan agar kejadian seperti ini tidak terulang biaya perkiraan penyelesaian (EAC) sebesar Rp
kembali, yaitu antara pihak PT. Indospec, PT. 8.614.579.300, dan waktu akhir pembangunan
Wijaya Karya, maupun PT. Propernas Griya proyek MEP Sentraland Semarang adalah 142
Utama. minggu hari yang artinya waktu akhir proyek
3. Arsitektur mundur dari yang direncanakan.
Pekerjaan arsitektur yang belum selesai dapat 3. Faktor – faktor yang mempengaruhi keterlambatan
mengakibatkan penundaan dalam pekerjaan MEP. proyek disebabkan oleh kedua belah pihak, yaitu
Pemilihan sub kontraktor yang salah dari pihak PT.Indospec selaku kontraktor MEP dan beberapa
kontraktor fisik mengakibatkan pihak kontraktor penyebab disebabkan oleh PT. Wijaya Karya
MEP tidak dapat mengerjakan beberapa pekerjaan selaku kontraktor fisik. Delapan basic event dari
mengingat dapat menganggu estetika dan hasil minimal cut set menjadi penyebab
mempersulit pekerjaan pihak arsitektur apabila keterlambatan proyek MEP, yaitu dari pihak PT.
dipasang terlebih dahulu. Pemilihan sub kontraktor Indospec diantaranya material dipesan belum jadi,
yang tepat sangat diperlukan oleh PT.Wijaya terlambat pengiriman, tidak ada gudang,
Karya dalam pengerjaan arsitektur, agar tepat pada penyesuaian biaya, dan dari pihak PT. Wijaya
waktu yang telah ditetapkan dalam proyek. Karya yang menyebabkan keterlambatan MEP
4. Struktur diantaranya perubahan material, perubahan fungsi,
Perubahan beberapa struktur bangunan menuntut arsitektur, dan desain.
perubahan dalam penataan MEP. Perubahan 4. Koordinasi yang baik dalam pengerjaan proyek
struktur disebabkan oleh beberapa tenant dan pihak dan persiapan yang matang sangat penting agar
pembeli menuntut beberapa penambahan dan keterlambatan dalam proyek dapat dihindari.
perubahan sehinga mengakibatkan beberapa Dalam keterlambatan proyek konstruksi akan
pekerjaan MEP menjadi tertunda. Detail yang merugikan semua pihak sebagai berikut:
kurang akibat dari perubahan struktur menuntut  Owner, keterlambatan penyelesaian pekerjaan
pekerjaan yang terus diulang dalam hal detail, proyek akan menyebabkan kerugian terhadap
sehingga beberapa pemasangan yang seharusnya waktu operasi hasil proyek, sehingga
dapat dipasang tepat waktu menjadi molor dari penggunaan hasil pembangunan menjadi
jadwal yang telah ditetapkan. Koordinasi ketiga terlambat.
pihak sangat diperlukan agar kejadian seperti ini  Kontraktor, penyelesaian pekerjaan proyek
tidak terulang kembali, yaitu antara pihak PT. terlambat akan mengalami kerugian waktu dan
Indospec, PT. Wijaya Karya, maupun pihak PT. biaya, karena keuntungan yang diharapkan
Propernas Griya Utama. oleh kontraktor akan berkurang, atau bahkan
tidak mendapat keuntungan sama sekali.
Kesimpulan Selain kemungkinan keterlambatan proyek
Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan, bisa berakibat kehilangan peluang pekerjaan
maka dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah untuk proyek konstruksi yang lain.
sebagai berikut :
10
DAFTAR PUSTAKA Husen, Abrar. 1999. Manajemen Proyek. Yogyakarta:
Penerbit Andi Offset
Ahuja, H. N. 1984. Project Management,Techniques Khamooshi, Homayoun. 2014. EDM:Earned Duration
in Planning and Controlling Management, a new approach to
Construction Project, John Willey & schedule performance management and
Sons Inc measurement, Department of Decision
Amalia, Ridhati. 2012. Analisa Penyebab Sciences School of Bussines, The George
Keterlambatan Proyek Pembangunan Washington University, Washington,
Sidoarjo Town Square Menggunakan United States
Metode Fault Tree Analysis (FTA), Lubis, Ibrahim. 2000. Pengendalian dan Pengawasan
Tugas Akhir, Institut Teknologi Surabaya Proyek dalam Manajemen, Jakarta :
Anbari, F. 2003. Earned Value Project Management Penerbit Ghalia Indonesia
Method and Extensions, Project Naderpour. 2011. Improving Construction
Management Journal, Project Management of an Educational Center
Management Institute by Applying Earned Value Technique,
Blanchard, Benjamin S. 2004. Logisticts Engineering Civil Engineering Department, Sharif
And Management sixth edition, New University of Technology, Teheran, Iran
Jersey: Penerbit Pearson Prentice Hall. Soeharto, Iman. 1999. Manajemen Proyek dari
Ervianto, Wulfram I. 2002. Manajemen Proyek Konseptual Sampai Operasional,
Konstruksi, Edisi Pertama, Yogyakarta Jakarta : Penerbit Erlangga.
: Salemba Empat Stamatis, D.H. 1995. Failure Mode And Effect
Hartawan, Harry. n.d. 1995. Analisa Keterlibatan Analysis.ASQ, Milwaukee.
Manajemen Proyek Dalam Proses Trisnowardono, Nono. 2006. Menuju Usaha
Perencanaan dan Pengendalian Proyek Jasa Konstruksi yang Handal, Jakarta:
Selama Pelaksanaan Konstruksi, Tugas Penerbit Abdi Tandur
Akhir, Universitas Indonesia

11