Anda di halaman 1dari 12

6.

Tanda klinis TBC

Demam : menyerupai demam influenza.Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar,kemudian


timbul kembali.keadaan ini dipengaruhi oleh daya tubuh pasien

Malaise : tidak nafsu makan,sakit kepala,meriang ,nyeri otot,keringat malam.

BB turun dan rasa lelah

Batuk/batuk darah : Sifat batuk dimulai dari batuk kering(non produktif) kemudian setelah timbul
peradangan berubah menjadi produktif (dahak).Keadaan lebih lanjut akan menjadi batuk darah karena
terdapat pembuluh darah kecil yang pecah.

Sesak nafas : Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit TB paru yang sudah lanjut.

Nyeri dada: bila radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis

8. Alur diagnosis dan pem penunjang dari scenario?

terdiri atas anmnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

anamnesis

Data umum pasien


a. Nama pasien
Sebaiknya nama lengkap bukan nama panggilan atau alias.
b. Jenis kelamin
Sebagai kelengkapan harus juga ditulis datanya
c. Umur
Terutama penting pada pasien anak-anak karena kadang-kadang digunakan untuk
menentukan dosis obat. Juga dapat digunakan untuk memperkirakan kemungkinan
penyakit yang diderita, beberapa penyakit khas untuk umur tertentu.
d. Alamat
Apabila pasien sering berpindah-pindah tempat maka tanyakan bukan hanya alamat
sekarang saja tetapi juga alamat pada waktu pasien merasa sakit untuk pertama kalinya.
Data ini kadang diperlukan untuk mengetahui terjadinya wabah, penyakit endemis atau
untuk data epidemiologi penyakit.
e. Pekerjaan
Bila seorang dokter mencurigai terdapatnya hubungan antara penyakit pasien dengan
pekerjaannya, maka tanyakan bukan hanya pekerjaan sekarang tetapi juga pekerjaan-
pekerjaan sebelumnya.
f. Perkawinan
Kadang berguna untuk mengetahui latar belakang psikologi pasien
g. Agama
Keterangan ini berguna untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh (pantangan)
seorang pasien menurut agamanya.
h. Suku bangsa
Berhubungan dengan kebiasaan tertentu atau penyakit-penyakit yang berhubungan
dengan ras/suku bangsa tertetu.

Keluhan utama

- Sejak kapan mulai


- Sifat serta beratnya
- Lokasi serta penjalarannya
- Hubungan dengan waktu

Keluhan tambahan

- Keluhan terkait system lain

Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit sekarang

Riwayat penyakit keluarga

Riwayat engobatan dan alergi

Riwayat psikososial

Pemeriksaan fisik

Inspeksi : head to toe

- Pola berjalan, Ekspresi wajah

- Genggaman tangan saat bersalaman, Cara berbicara

- Tingkat kesadaran

- Kepala, Kulit

Perkusi - vital

Palpasi - kulit

Auskultasi
Pemeriksaan penunjang

• Tujuan : mendeteksi gangguan metabolik


• Radiologi :
– CT-scan  hematoma, perdarahan, dan tumor
• Patologi Klinik
– Analisa LCS  menyingkirkan kemungkinan meningitis dan perdarahan subarakhnoid

10. Diagnosis etiologi : Spondilitis TB ?


Jawab :
A. DEFINISI
Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis tulang belakang adalah peradangan granulomatosa yg
bersifat kronisdestruktif olehMycobacterium tuberculosis. Dikenal pula dengan nama Pottds
disease of the spine atau tuberculousvertebral osteomyelitis. Spondilitis ini paling sering
ditemukan pada vertebraT8 – L3dan paling jarang pada vertebraC1 2. Spondilitis tuberkulosis
biasanya mengenai korpus vertebra, tetapi jarang menyerang arkus vertebrae.
B. ETIOLOGI
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang yg bersifatacid-fastnon-motile
(tahan terhadap asam pada pewarnaan, sehingga sering disebut juga sebagai Basil/bakteri Tahan
Asam (BTA))dan tidakdapat diwarnai dengan baik melalui cara yg konvensional.
Dipergunakanteknik Ziehl-Nielsonuntuk memvisualisasikannya.Bakteri tubuh secara lambat
dalam media egg-enriched dengan periode 6-8 minggu.
Produksi niasinmerupakankarakteristik Mycobacterium tuberculosis dan dapat membantu untuk
membedakannnya dengan spesies lainSpondilitis tuberkulosa merupakan infeksi sekunder dari
tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 5 95 % disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik
(2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin ) dan 5 10 % oleh mikobakterium tuberkulosa
atipik.
Lokalisasi spondilitis tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakal bawah dan lumbal atas,
sehingga didugaadanya infeksi sekunder dari suatu tuberkulosa traktus urinarius, yg
penyebarannyamelalui pleksus Batson pada vena paravertebralis.Meskipun menular, tetapi orang
tertular tuberculosis tidak semudah tertularflu.
Penularan penyakit ini memerlukan waktu pemaparan yg cukup lama dan intensifdengan sumber
penyakit (penular). Menurut Mayoclinic, seseorang yg kesehatanfisiknya baik, memerlukan
kontak dengan penderita TB aktif setidaknya 8 jam sehariselama 6 bulan, untuk dapat terinfeksi.
Sementara masa inkubasi TB sendiri, yaituwaktu yg diperlukan dari mula terinfeksi sampai
menjadi sakit, diperkirakan sekitar6 bulan. Bakteri TB akan cepat mati bila terkena sinar
matahari langsung. Tetapidalam tempat yg lembab, gelap, dan pada suhu kamar, kuman dapat
bertahan hidupselama beberapa jam. Dalam tubuh, kuman ini dapat tertidur lama (dorman)
selamabeberapa tahun
C. PATOGENESIS/KLASIFIKASI
Spondilitis tuberkulosa merupakan suatu tuberkulosis tulang yang sifatnya sekunder dari TBC
tempat lain di dalamtubuh. Penyebarannya secara hematogen, diduga terjadinya penyakit ini
sering karena penyebaran hematogen dariinfeksi traktus urinarius melalui pleksus Batson. Infeksi
TBC vertebra ditandai dengan proses destruksi tulangprogresif tetapi lambat di bagian depan
(anterior vertebral body).
Penyebaran dari jaringan yang mengalami perkejuanakan menghalangi proses pembentukan
tulang sehingga berbentuk tuberculos squestra. Sedang jaringan granulasi TBCakan penetrasi ke
korteks dan terbentuk abses paravertebral yang dapat menjalar ke atas atau bawah
lewatligamentum longitudinal anterior dan posterior.
Sedangkan diskus intervertebralis karena avaskular lebih resisten tetapiakan mengalami
dehidrasi dan penyempitan karena dirusak oleh jaringan granulasi TBC. Kerusakan progresif
bagiananterior vertebra akan menimbulkan kifosis (Savant, 2007).Perjalanan penyakit spondilitis
tuberkulosa terdiri dari lima stadium yaitu:
1. Stadium implantasi Setelah bakteri berada dalam tulang, apabila daya tahan tubuh penderita
menurun, bakteri akan berduplikasimembentuk koloni yang berlangsung selama 6-8 minggu.
Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus danpada anak-anak pada daerah sentral
vertebra.
2. Stadium destruksi awalSelanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra dan penyempitan yang
ringan pada diskus. Proses ini berlangsungselama 3-6 minggu.
3. Stadium destruksi lanjutPada stadium ini terjadi destruksi yang massif, kolaps vertebra, dan
terbentuk massa kaseosa serta pus yangberbentuk cold abses, yang tejadi 2-3 bulan setelah
stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuksekuestrum dan kerusakan diskus
intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di depan (wedginganterior) akibat
kerusakan korpus vertebra sehingga menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus.
4. Stadium gangguan neurologisGangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis
yang terjadi tetapi ditentukan oleh tekanan abses kekanalis spinalis. Vertebra torakalis
mempunyai kanalis spinalis yang kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudahterjadi di
daerah ini. Apabila terjadi gangguan neurologis, perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia yaitu:
i. Derajat IKelemahan pada anggota gerak bawah setelah beraktivitas atau berjalan jauh. Pada
tahap ini belum terjadigangguan saraf sensoris.
ii. Derajat IIKelemahan pada anggota gerak bawah tetapi penderita masih dapat melakukan
pekerjaannya.
iii. Derajat IIIKelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak atau aktivitas
penderita disertai denganhipoestesia atau anestesia.
iv. Derajat IVGangguan saraf sensoris dan motoris disertai dengan gangguan defekasi
dan miksi.TBC paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini atau lambat tergantung
dari keadaan penyakitnya.Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia terjadi karena tekanan
ekstradural dari abses paravertebral ataukerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh
adanya granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit yang tidakaktif atau sembuh terjadi karena
tekanan pada jembatan tulang kanalis spinalis atau pembentukan jaringan fibrosisyang progresif
dari jaringan granulasi tuberkulosa. TBC paraplegia terjadi secara perlahan dan dapat
terjadidestruksi tulang disertai dengan angulasi dan gangguan vaskuler vertebra.
5. Stadium deformitas residua, Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah stadium
implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen karenakerusakan vertebra yang massif di
depan (Savant, 2007)
D. PATOFISIOLOGI
Kuman yg “bangun” kembali dari paru-paru akan menyebar mengikuti aliran darah ke pembuluh
tulang belakang dekatdengan ginjal. Kuman berkembang biak umumnya di tempat aliran darah
yg menyebabkan kuman berkumpul banyak (ujungpembuluh). Terutama di tulang belakang, di
sekitar tulang thorakal (dada) dan lumbal (pinggang) kuman bersarang.Kemudian kuman
tersebut akan menggerogoti badan tulang belakang, membentuk kantung nanah (abses) yg
bisamenyebar sepanjang otot pinggang sampai bisa mencapai daerah lipat paha.
Dapat pula memacu terjadinya de “ormitas.Gejala awalnya adalah perkaratan “ umumnya disebut
pengapuran “ tulang belakang, sendi-sendi bahu, lutut, panggul.Tulang rawan ini akan terkikis
menipis hingga tak lagi ber” pungsi. Persendian terasa kaku dan nyeri, kerusakan padatulang
rawan sendi, pelapis ujung tulang yg ber”
ungsi sebagai bantalan dan peredam kejut bila dua ruang tulangberbenturan saat sendi
digerakkan.Terbentuknya abses dan badan tulang belakang yg hancur, bisa menyebabkan tulang
belakang jadi kolaps dan miring kearah depan. Kedua hal ini bisa menyebabkan penekanan syara
“-syara” sekitar tulang belakang yg mengurus tungkaibawah, sehingga gejalanya bisa kesemutan,
baal-baal, bahkan bisa sampai kelumpuhan.Badantulang belakang yg kolaps dan miring ke depan
menyebabkan tulang belakang dapat diraba dan menonjol dibelakang dan nyeri bila tertekan,
sering sebut sebagai gibbus Bahaya yg terberat adalah kelumpuhan tungkai bawah, karena
penekanan batang syara” di tulang belakang yg dapatdisertai lumpuhnya syara” yg mengurus
organ yg lain, seperti saluran kencing dan anus (saluran pembuangan).
Tuberkulosis tulang adalah suatu proses peradangan yg kronik dan destrukti “yg disebabkan basil
tuberkulosis ygmenyebar secara hematogen dari” okus jauh, dan hampir selalu berasal dari paru-
paru. Penyebaran basil ini dapatterjadi pada waktu ineksi pri-mer atau pasca primer. Penyakit ini
sering ter-jadi pada anak-anak. Basil tuberkulosisbiasanya menyangkut dalam spongiosa tulang.
Pada tempat in “eksi timbul osteitis, kaseasi clan likui” aksi denganpembentukan pus yg
kemudian dapat mengalami kalsi“ ikasi. Berbeda dengan osteomielitis piogenik, maka
pembentukantulang baru pada tuberkulosis tulang sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Di
samping itu, periostitis dansekwester hampir tidak ada. Pada tuberkulosis tulang ada
kecenderungan terjadi perusakan tulang rawan sendi ataudiskus intervertebra.Dari pemeriksaan”
isik Pada pemeriksaan re” leks” isiologis normal. Ditemukan hipestesia (raba) setinggi VT6.
Tidakditemukan adanya re” leks patologis. Pada pemeriksaan nervi cranialis tidak ditemukan
adanya kelainan.
E. PATOLOGI
Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran hematogen atau penyebaran
langsung noduslimfatikus para aorta atau melalui jalur limfatik ke tulang dari fokus tuberkulosa
yang sudah ada sebelumnya di luartulang belakang. Pada penampakannya, fokus infeksi primer
tuberkulosa dapat bersifat tenang. Sumber infeksi yangpaling sering adalah berasal dari sistem
pulmoner dan genitourinarius.Pada anak-anak biasanya infeksi tuberkulosa tulang belakang
berasal dari fokus primer di paru-paru sementarapada orang dewasa penyebaran terjadi dari
fokus ekstrapulmoner (usus, ginjal, tonsil).
Penyebaran basil dapat terjadimelalui arteri intercostal atau lumbar yang memberikan suplai
darah ke dua vertebrae yang berdekatan, yaitusetengah bagian bawah vertebra diatasnya dan
bagian atas vertebra di bawahnya atau melalui pleksus Batsondsyang mengelilingi columna
vertebralis yang menyebabkan banyak vertebra yang terkena. Hal inilah yang menyebabkanpada
kurang lebih 70% kasus, penyakit ini diawali dengan terkenanya dua vertebra yang berdekatan,
sementara pada20% kasus melibatkan tiga atau lebih vertebra.Berdasarkan lokasi infeksi awal
pada korpus vertebra dikenal tiga bentuk spondilitis:
1. Peridiskal / paradiskalInfeksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus (di area metafise
di bawah ligamentum longitudinal anterior /area subkondral). Banyak ditemukan pada orang
dewasa. Dapat menimbulkan kompresi, iskemia dan nekrosis diskus.Terbanyak ditemukan di
regio lumbal.
2. SentralInfeksi terjadi pada bagian sentral korpus vertebra, terisolasi sehingga disalahartikan
sebagai tumor. Sering terjadipada anak-anak. Keadaan ini sering menimbulkan kolaps vertebra
lebih dini dibandingkan dengan tipe lain sehinggamenghasilkan deformitas spinal yang lebih
hebat. Dapat terjadi kompresi yang bersifat spontan atau akibat trauma.Terbanyak di temukan di
regio torakal.
3. AnteriorInfeksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari vertebra di atas dan
dibawahnya. Gambaranradiologisnya mencakup adanya scalloped karena erosi di bagian anterior
dari sejumlah vertebra (berbentuk baji).Pola ini diduga disebabkan karena adanya pulsasi aortik
yang ditransmisikan melalui abses prevertebral dibawahligamentum longitudinal anterior atau
karena adanya perubahan lokal dari suplai darah vertebral.
4. Bentuk atipikalDikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas dan fokus primernya tidak dapat
diidentifikasikan. Termasukdidalamnya adalah tuberkulosa spinal dengan keterlibatan lengkung
syaraf saja dan granuloma yang terjadi di canalisspinalis tanpa keterlibatan tulang (tuberkuloma),
lesi di pedikel, lamina, prosesus transversus dan spinosus, sertalesi artikuler yang berada di sendi
intervertebral posterior. Insidensi tuberkulosa yang melibatkan elemen posteriortidak diketahui
tetapi diperkirakan berkisar antara 2%-10%.
F. MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis spondilitis tuberkulosa yaitu:
a. Badan lemah, lesu, nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun.
b. Suhu subfebril terutama pada malam hari dan sakit (kaku) pada punggung. Pada anak-anak
sering disertai denganmenangis pada malam hari.
c. Pada awal dijumpai nyeri interkostal, nyeri yang menjalar dari tulang belakang ke garis tengah
atas dada melaluiruang interkostal. Hal ini disebabkan oleh tertekannya radiks dorsalis di tingkat
torakal.
d. Nyeri spinal menetap dan terbatasnya pergerakan spinale. Deformitas pada punggung (gibbus)
f. Pembengkakan setempat (abses)
g. Adanya proses tbc (Tachdjian, 2005).Kelainan neurologis yang terjadi pada 50 % kasus
spondilitis tuberkulosa karena proses destruksi lanjut berupa:
a. Paraplegia, paraparesis, atau nyeri radix saraf akibat penekanan medula spinalis yang
menyebabkan kekakuan padagerakan berjalan dan nyeri.
b. Gambaran paraplegia inferior kedua tungkai yang bersifat UMN dan adanya batas defisit
sensorik setinggi tempatgibbus atau lokalisasi nyeri interkostal (Tachdjian, 2005).
G. DIAGNOSIS SPONDILITIS TUBERKULOSA
Diagnosis pada spondilitis tuberkulosa meliputi:
1. Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan keterangan dari pasien, meliputi keluhan utama,
keluhan sistem badan,riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit
keluarga atau lingkungan.
2. Pemeriksaan fisika
a. Inspeksi Pada klien dengan spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan pada tulang
belakang terlihat bentukkiposis.
b. PalpasiSesuai dengan yang terlihat pada inspeksi, keadaan tulang belakang terdapat adanya
gibbus pada area tulangyang mengalami infeksi.
c. PerkusiPada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok.
d. AuskultasiPada pemeriksaan auskultasi, keadaan paru tidak ditemukan kelainan.
3. Pemeriksaan medis dan laboratorium (Lauerman, 2006).
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG SPONDILITIS TUBERKULOSA
Pemeriksaan penunjang pada spondilitis tuberkulosa yaitu:
1. Pemeriksaan laboratoriuma.
Pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis dan LED meningkat.
b. Uji mantoux positif tuberkulosis.
c. Uji kultur biakan bakteri dan BTA ditemukan Mycobacterium.
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional.
e. Pemeriksaan hispatologis ditemukan tuberkel.
f. Pungsi lumbal didapati tekanan cairan serebrospinalis rendah.
g. Peningkatan CRP (C-Reaktif Protein).
h. Pemeriksaan serologi dengan deteksi antibodi spesifik dalam sirkulasi.
i. Pemeriksaan ELISA (Enzyme-Linked Immunoadsorbent Assay) tetapi menghasilkan negatif
palsu pada penderitadengan alergi.
j. Identifikasi PCR (Polymerase Chain Reaction) meliputi denaturasi DNA kuman tuberkulosis
melekatkannukleotida tertentu pada fragmen DNA dan amplifikasi menggunakan DNA
polimerase sampai terbentuk rantaiDNA utuh yang diidentifikasi dengan gel.
2. Pemeriksaan radiologisa.
a. Foto toraks atau X-ray untuk melihat adanya tuberculosis pada paru. Abses dingin tampak
sebagai suatubayangan yang berbentuk spindle.
b. Pemeriksaan foto dengan zat kontras.
c. Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis, osteolitik, destruksi korpus vertebra, penyempitan
diskusintervertebralis, dan mungkin ditemukan adanya massa abses paravertebral.
d. Pemeriksaan mielografi.
e. CT scan memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesiirreguler, skelerosis, kolaps
diskus, dan gangguan sirkumferensi tulang.
f. MRI mengevaluasi infeksi diskus intervertebralis dan osteomielitis tulang belakang serta
menunjukkan adanyapenekanan saraf (Lauerman, 2006).
I. DIAGNOSIS BANDING SPONDILITIS TUBERKULOSA
Diagnosis banding pada spondilitis tuberkulosa yaitu:
1. Fraktur kompresi traumatik akibat tumor medulla spinalis.
2. Metastasis tulang belakang dengan tidak mengenai diskus dan terdapat karsinoma prostat.
3. Osteitis piogen dengan demam yang lebih cepat timbul.
4. Poliomielitis dengan paresis atau paralisis tungkai dan skoliosis.
5. Skoliosis idiopatik tanpa gibbus dan tanda paralisis.
6. Kifosis senilis berupa kifosis tidak lokal dan osteoporosis seluruh kerangka.
7. Penyakit paru dengan bekas empiema tulang belakang bebas penyakit.
8. Infeksi kronik non tuberkulosis seperti infeksi jamur (blastomikosis).
9. Proses yang berakibat kifosis dengan atau tanpa skoliosis (Currier, 2004).KET:
a. Infeksi piogenik (contoh : karena staphylococcal/suppurative spondylitis). Adanya sklerosis
atau pembentukan tulangbaru pada foto rontgen menunjukkan adanya infeksi piogenik. Selain itu
keterlibatan dua atau lebih corpus vertebrayang berdekatan lebih menunjukkan adanya infeksi
tuberkulosa daripada infeksi bakterial lain.
b. Infeksi enterik (contoh typhoid, parathypoid). Dapat dibedakan dari pemeriksaan
laboratorium.
c. Tumor/penyakit keganasan (leukemia, Hodgkinds disease, eosinophilic granuloma, aneurysma
bone cyst danEwingds sarcoma) Metastase dapat menyebabkan destruksi dan kolapsnya corpus
vertebra tetapi berbedadengan spondilitis tuberkulosa karena ruang diskusnya tetap
dipertahankan. Secara radiologis kelainan karenainfeksi mempunyai bentuk yang lebih difus
sementara untuk tumor tampak suatu lesi yang berbatas jelas.
d. Scheuermannds disease mudah dibedakan dari spondilitis tuberkulosa oleh karena tidak
adanya penipisan korpusvertebrae kecuali di bagian sudut superior dan inferior bagian anterior
dan tidak terbentuk abses paraspinal.
J. PROGNOSIS SPONDILITIS TUBERKULOSA
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit menahun dan apabila dapat sembuh secara spontan
akan memberikancacat pembengkokan pada tulang punggung. Dengan jalan radikal operatif,
penyakit ini dapat sembuh dalam waktusingkat sekitar 6 bulan (Tachdjian, 2005).Prognosis dari
spondilitis tuberkulosa bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan ada tidaknya
komplikasineurologis. Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat, prognosisnya baik
walaupun tanpa operasi. Penyakitdapat kambuh apabila pengobatan tidak teratur atau tidak
dilanjutkan setelah beberapa saat karena terjadi resistensiterhadap pengobatan (Lindsay,
2008).Untuk spondilitis dengan paraplegia awal, prognosis untuk kesembuhan saraf lebih baik
sedangkan spondilitis denganparaplegia akhir, prognosis biasanya kurang baik. Apabila
paraplegia disebabkan oleh mielitis tuberkulosa prognosisnyaad functionam juga buruk (Lindsay,
2008)..
K. KOMPLIKASI SPONDILITIS TUBERKULOSA
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh spondilitis tuberkulosa yaitu:
1. Pottds paraplegiaa.
a. Muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural oleh pus maupun sequester atau
invasi jaringangranulasi pada medula spinalis. Paraplegia ini membutuhkan tindakan operatif
dengan cara dekompresi medulaspinalis dan saraf.
b. Muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan granulasi atau
perlekatantulang (ankilosing) di atas kanalis spinalis.
2. Ruptur abses paravertebraa.
a. Pada vertebra torakal maka nanah akan turun ke dalam pleura sehingga menyebabkan
empiema tuberculosis
b. Pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas abses yang
merupakan coldabsces (Lindsay, 2008).
3. Cedera corda spinalis (spinal cord injury). Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural
sekunder karena pustuberkulosa, sekuestra tulang, sekuester dari diskus intervertebralis (contoh :
Pottds paraplegia “ prognosabaik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan korda spinalis
oleh jaringan granulasi tuberkulosa (contoh :menigomyelitis “ prognosa buruk). Jika cepat
diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi paralisis padatumor). MRI dan mielografi
dapat membantu membedakan paraplegi karena tekanan atau karena invasi dura dancorda
spinalis.
L. PENATALAKSANAAN SPONDILITIS TUBERKULOSA
Pada prinsipnya pengobatan spondilitis tuberkulosa harus dilakukan segera untuk menghentikan
progresivitaspenyakit dan mencegah atau mengkoreksi paraplegia atau defisit neurologis. Prinsip
pengobatan Pottds paraplegiayaitu:
1. Pemberian obat antituberkulosis.
2. Dekompresi medula spinalis.
3. Menghilangkan atau menyingkirkan produk infeksi.
4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft) (Graham, 2007).
Pengobatan pada spondilitis tuberkulosa terdiri dari:
1. Terapi konservatifa.
a. Tirah baring (bed rest).
b. Memberi korset yang mencegah atau membatasi gerak vertebra.
c. Memperbaiki keadaan umum penderita.
d. Pengobatan antituberkulosa.Standar pengobatan berdasarkan program P2TB paru yaitu:
i. Kategori I untuk penderita baru BTA (+/-) atau rontgen (+).
a) Tahap 1 diberikan Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg, dan Pirazinamid
1.500 mgsetiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali).
b) Tahap 2 diberikan Rifampisin 450 mg dan INH 600 mg 3 kali seminggu selama 4 bulan (54
kali).
ii. Kategori II untuk penderita BTA (+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan, termasuk
penderitayang kambuh.
1. Tahap 1 diberikan Streptomisin 750 mg, INH 300 mg, Rifampisin 450 mg, Pirazinamid 1500
mg, danEtambutol 750 mg setiap hari. Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan
obat lainnyaselama 3 bulan (90 kali).
2. Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg, dan Etambutol 1250 mg 3 kali seminggu
selama 5bulan (66 kali).Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita
bertambah baik, LED menurun danmenetap, gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme
berkurang, serta gambaran radiologis ditemukanadanya union pada vertebra.
2. Terapi operatifa.
a. Apabila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat.
Biasanya 3minggu sebelum operasi, penderita diberikan obat tuberkulostatik.
b. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka, debrideman, dan
bone graft.
c. Pada pemeriksaan radiologis baik foto polos, mielografi, CT, atau MRI ditemukan adanya
penekanan padamedula spinalis (Ombregt, 2005).Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan
pengobatan utama bagi penderita spondilitis tuberkulosa tetapioperasi masih memegang peranan
penting dalam beberapa hal seperti apabila terdapat cold absces (abses dingin),lesi tuberkulosa,
paraplegia, dan kifosis.
a. Cold abscesCold absces yang kecil tidak memerlukan operasi karena dapat terjadi resorbsi
spontan dengan pemberiantuberkulostatik. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah.
b. Lesi tuberkulosa
1) Debrideman fokal.
2) Kosto-transveresektomi.
3) Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.
c. Kifosis
1) Pengobatan dengan kemoterapi.
2) Laminektomi.
3) Kosto-transveresektomi.
4) Operasi radikal.
5) Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang.Operasi kifosis dilakukan apabila
terjadi deformitas hebat. Kifosis bertendensi untuk bertambah berat,terutama pada anak.
Tindakan operatif berupa fusi posterior atau operasi radikal (Graham, 2007)