Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang ditandai oleh
pencekungan (cupping) diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang yang
biasanya disertai peningkatan tekanan intraokular. Hampir 60 juta orang terkena
glaukoma. Diperkirakan 3 juta penduduk Amerika Serikat terkena glaukoma, dan
diantara kasus-kasus tersebut, sekitar 50% tidak terdiagnosis. Sekitar 6 juta orang
mengalami kebutaan akibat glaukoma, termasuk 100.000 penduduk Amerika,
menjadikan peyakit ini sebagai penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah di
Amerika Serikat.1
Sebagian besar kasus glaukoma tidak disertai penyakit lain atau disebut
dengan glaukoma primer. Glaukoma primer sudut terbuka merupakan bentuk
tersering, bersifat kronik dan progresif, menyebabkan pengecilan lapangan
pandang bilateral progresif asimtomatik yang muncul perlahan dan sering tidak
terdeteksi sampai terjadi pengecilan lapangan pandang yang ekstensif. Diagnosa
galukoma primer sudut terbuka jika pada pemeriksaan didapatkan adanya
peningkatan intraokular, gambaran kerusakan diskus optikus dan defek lapangan
pandang.2
Penatalaksanaan glaukoma sebaiknya dilakukan oleh ahli oftalmologi,
tetapi besar masalah dan pentingnya deteksi kasus-kasus asimptomatik
mengharuskan adanya kerjasama dan bantuan dari semua petugas kesehatan.
Oftalmoskopi dan tonometri merupakan bagian dari pemeriksaan fisik rutin pada
semua pasien yang cukup kooperatif dan tentu saja semua pasien yang berusia
lebih dari 30 tahun. Hal ini penting pada pasien yang mempunyai riwayat
glaukoma pada keluarganya. Untuk itu penting bagi kita sebagai dokter layanan
primer untuk dapat mendeteksi secara dini glaukoma pada masyarakat agar dapat
ditatalaksana sesegera mungkin.
1.2. Batasan Masalah
Meet the expert ini membahas tentang manifestasi klinis dan diagnosis
Primary Open Angle Glaucoma (POAG).

1.3. Tujuan Penulisan


Penulisan meet the expert ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan
pembaca mengenai Primary Open Angle Glaucoma (POAG).

1.4. Metode Penulisan


Metode penulisan meet the expert ini adalah tinjauan pustaka dengan
merujuk ke berbagai sumber dan literatur.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Glaukoma merupakan kelompok penyakit dengan karakterisitik neuropati
optik yang berhubungan dengan hilangnya lapangan pandang dengan peninggian
Tekanan Intra Okuler (TIO) sebagai faktor risiko utama. Primary open angle
glaucoma (POAG) adalah penyakit neuro optik kronis progresif pada orang
dewasa dengan karakteristik akibat dari adanya atrofi saraf optik dan kehilangan
sel ganglion retina beserta aksonnya.1,4
Glaukoma sudut terbuka primer merupakan masalah kesehatan yang
signifikan. Glaukoma sudut terbuka primer adalah bentuk glaukoma yang sering
dijumpai. Sekitar 0,4 - 0,7 % orang berusia lebih dari 40 tahun dan 2 - 3 % orang
berusia lebih dari 70 tahun diperkirakan mengidap glaukoma primer sudut
terbuka. Penyakit ini 3 kali lebih sering dan umumnya lebih agresif pada orang
yang berkulit hitam. Jika terdapat kecenderungan familial yang kuat dan kerabat
dekat, pasien dianjurkan menjalani pemeriksaan skrining secara teratur.4,5

2.2. Faktor Risiko


Menurut American Academy of Ophthalmology, terdapat beberapa faktor risiko
glaukoma sudut terbuka primer, yaitu
a. Tekanan Intraokular
Sejumlah studi berbasis populasi menunjukkan prevalensi POAG
meningkat sesuai dengan peningkatan tekanan intraokular. Pada Baltimore
Eye Survey, pada tekanan intraokular 30 mmHg, hampir 7% ras Kaukasia
dan 25% ras Afrika Amerika mengalami POAG. Studi berbasis populasi
menunjukan variabel proporsi dari pasien dengan tekanan intraokuler lebih
dari 21 mmHg mengalami kerusakan nervus optikus glaukomatus.3
b. Umur
Usia lanjut merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya
POAG. Sejumlah studi epidemiologi menunjukkan prevalensi glaukoma
meningkat secara dramatis berdasarkan usia, khususnya pada ras atau etnis
Latin/Hispanik dan keturunan Afrika.3
c. Miopia
Studi epidemiologi cross sectional yang besar pada ras Afro-
Karibean, Hispanik, Non Hispanik kulit putih, China, Asia India,dan
Jepang menunjukkan orang dengan miopia memiliki prevalensi POAG
yang tinggi dibandingkan tanpa miopia. Hipotesis yang mendasari bahwa
pada miopia aksial memiliki dukungan sklera yang lemah terhadap nervus
optik, dan ini berkontribusi untuk menyebabkan kerentanan nervus optik
menjadi rusak.3
d. Faktor Lain
Beberapa kondisi seperti diabetes mellitus, penyakit
kardiovaskular, dan oklusi vena sentral, diduga berhubungan dengan
glaukoma. Pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2 terjadinya
kerusakan pada nervus optik diduga akibat perubahan dari mikrovaskuler
akibat diabetes. Migrain dan vasospasme perifer meningkatkan risiko
terjadinya glaukoma dengan menurunkan autoregulasi dari aliran darah
diskus optikus.3

2.3. Patogenesis (daftar pustakanya harry ndak tau yg mana kak)


Glaukoma merupakan sekelompok penyakit kerusakan saraf optik
(neuropati optik) yang biasanya disebabkan oleh efek peningkatan tekanan okular
pada papil saraf optik. Iskemia tersendiri pada papil saraf optik juga penting.
Hilangnya akson menyebabkan defek lapangan pandang dan hilangnya ketajaman
penglihatan jika lapangan pandang sentral terkena.3
Ada dua teori utama mengenai mekanisme kerusakan serabut saraf oleh
peningkatan tekanan intraokular yaitu teori mekanik dan teori iskemik4:
a. Peningkatan tekanan intraokular menyebabkan kerusakan mekanik pada
akson saraf optik dan penipisan lapisan serat saraf dan inti bagian dalam
retina, iris dan korpus siliar juga menjadi atrofi, dan prosesus siliaris
memperlihatkan degenerasi hialin sehingga terjadi penurunan penglihatan.
b. Peningkatan tekanan intraokular menyebabkan iskemia akson saraf akibat
berkurangnya aliran darah pada papil saraf optik. Diskus optikus menjadi
atrofi disertai pembesaran cekungan optikus.
Gambaran patologik utama pada glaukoma sudut terbuka primer adalah
proses degeneratif di jaringan trabekular berupa penebalan lamella trabekula yang
mengurangi ukuran pori dan berkurangnya jumlah sel trabekula pembatas. Selain
itu, terjadi pengendapan bahan ekstrasel di dalam jalinan dan di bawah lapisan
endotel kanalis Schlemm. Akibatnya terjadi penurunan drainase humor akueous
yang menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler.4
Tekanan intraokuler yang tinggi secara mekanik menekan papil saraf optik
yang merupakan tempat dengan daya tahan paling lemah pada bola mata. Bagian
tepi papil saraf optik relatif lebih kuat daripada bagian tengah sehingga terjadi
cekungan pada papil saraf optik.
Daftar Pustaka

1. Vaughan,Daniel G dkk.2014. Glaukoma dalam Oftamologi Umum Edisi 17.


Jakarta :Widya Medika. Hal 212-229.
2. Ilyas, Sidarta dkk.2015.Glaukoma dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi ke 5.
Jakarta : Sagung Seto.Hal 222-229.
3. American Academy of Ophtalmology. 2016. Primary Open Angle
Glaucoma Preferred Practice Pattern.
4. Basic and clinical science course Glaukoma. American Association of
ophthalmology. 2014-2015
5. Turalba AV, Chen TC. Semin Ophthalmol. 2008;23(1):19-25
6.