Anda di halaman 1dari 14

KEKUASAAN KEHAKIMAN DAN ASAS-ASASNYA

SERTA PERADILAN DAN HAKIM ACARA PERDATA

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah

“HUKUM ACARA PERDATA”

Dosen pengampu :

Dr. Dian Ferricha, SH.M.H.

Disusun oleh kelompok 2 :

1. Hendri Wahyu Lestari (17104163081)

2. Mokhammad Iqbal (17104163083)

3. Amara Dea Theana (17104163091)

HTN C – SMT 4

JURUSAN HUKUM TATA NEGARA

FAKULTAS SYARIAH DAN ILMU HUKUM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG

1
FEBRUARI 2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa
atas berkat rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik walaupun masih banyak kekurangan
didalamnya.

Makalah ini akan membahas mengenai “Kekuasaan Kehakiman dan


Asas-Asasnya serta Peradilan dan Hakim Acara Perdata”. Kami juga berharap
semoga pembuatan makalah ini tentunya tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Untuk itu kami ucapkan terimakasih kepada :

1. Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung Prof. Dr. H.


Maftukhin, M.Ag.

2. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam


penyusunan makalah ini Dr. Dian Ferricha, S.H.M.H.

3. Teman – teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam


penyelesaian makalah.

Tiada gading yang tak retak, itu kata pepatah tiada satupun manusia
yang luput dari kesalahan, oleh karena itu kami berharap pemberian maaf yang
sebesar-besarnya. Atas kekurangan dan kesalahan, baik yang disengaja maupun
yang tidak disengaja. Saran dan kritik sangat kami harapkan agar kami dapat
memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Penyusun

2
Tulungagung, 21 Februari 2018

DAFTAR ISI

JUDUL ……………………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ............................................................................. 1
BAB II. PEMBAHASAN ............................................................................... 2
A. Pengertian Kekuasaan Kehakiman..................................................... 2
B. Asas-Asas Kekuasaan Kehakiman...................................................... 4
C. Peradilan Acara Perdata ..................................................................... 5
D. Hakim Acara Perdata ......................................................................... 8
BAB III. PENUTUP ....................................................................................... 10
A. Kesimpulan ......................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 11

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kekuasaan kehakiman dalam operasionalnya, tidak bisa dipisahkan
dariistilah badan peradilan,1 selain itu ada istilah pengadilan, sehingga ada dua
ungkapan yang hampir sama, tetapi mempunyai makna yang berbeda. Peradilan
adalah fungsi mengadili atau proses yang ditempuh dalam mencari dan
menemukan keadilan, sedangkan istilah pengadilan konotasinya adalah instansi
resmi yang merupakan salah satu pelaksana fungsi mengadili tadi, yang
dilengkapi oleh aparat resmi yang berprofesi hakim.2
Berdasarkan keterangan diatas, dalam makalah ini akan menyajikan
materi tentang kekuasaan kehakiman berikut asas-asasnya beserta peradilan dan
hakim untuk acara perdata.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud kekuasaan kehakiman?

2. Apa saja asas-asas kekuasaan kehakiman?

3. Apa yang dimaksud peradilan acara perdata?

4. Bagaimana hakim acara perdata?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian kekuasaan kehakiman.

2. Mengetahui asas-asas kekuasaan kehakiman.

3. Mengetahui tentang peradilan acara perdata.

4. Mengetahui tentang hakim acara perdata.

1 Zaenal Arifin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di Indonesia, ( Jakarta: Kencana,
2008), hlm. 137.
2 Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 232.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kekuasaan Kehakiman

Pada dasarnya kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan Negara yang


merdeka untuk menyelenggarkan peradilan guna menegakan hukum dan
keadilan berdasarkan pancasila dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia
Tahun 1945 demi terselenggaranya Negara hukum di Republik Indonesia.
Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh sebuah Mahkamah
Agung dan badan peradilan yang di bawahnya dalam lingkungan Peradilan
Umum.
Kekuasaan kehakiman ini bertugas untuk menegakan dan mengawasi
berlakunya peraturan perundang-undangan tang berlaku (Ius Constitutum).
Eksistensi hukum sangat diperlukan dalam mengatur dalam kehidupan
manusia, tanpa hukum kehhidupan manusia akan liar, siapa kuat diyalah yang
menang / berkuasa. Tujuan hukum untuk melindungi kepentingan manusia
dalam mempertahankan hak dan kewajibannya.
Indonesia adalah negara hukum, sudah selayaknya menghormati dan
menjunjug tinggi prinsip-prinsip hukum, salah satunya adalah diakuinya
prinsip keadilan yang bebas yang tidak memihak. Tolak ukuran dapat dilihat
sejauh mana kemandirian badan-badan peradilan dalam menjalankan tugas
dan kewenanganya terutama dalam menegakan aturan perundang-undangan
(Hukum) dan keadilan. Maupun jaminan yuridis adanya kemerdekaan
kekuasaan kehakiman.3
Kekuasaan kehakiman dalam praktek diselengarakan oleh badan-
badan peradilan Negara. Adapun tugas pokok badan peradilan negara adalah
memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara yang
diajukan oleh masyrakat pencari keadilan.

3 Bambang Sutiyoso, Metode Penemuan Hukum, (Jakarta: UII Press, 2006), hlm. 2.

2
Sebagai institusi yang dibutuhkan masyarakat, usia pengadilan sudah
berbilang ribuan tahun, jauh mendahului usia pengadilan modern. Urusan atau
pekerjaan mengadili adalah salah satu sekian banyak fungsi yang harus ada
dan dijalankan oleh masyarakat, sebagai respon terhadap adanya kebutuhan
tertentu. Mengadili adalah pekerjaan yang dibutuhkan untuk membuat
masyrakat menjadi tentram, dan produktif. Didalam masyrakat akan selalu
muncul persoaln diantara para angotanya harus diselesaikan. Persoalan-
persoalan yang tidak diselesaikan akan menjadi ganguan bagi ketentraman dan
produktifitas masyrakat. Suatu institusi mesti dimunculkan untuk menjalankan
fungsi tersebut dan ia adalah Pengadilan.4
Kemudian secara khusus, kekuasaan kehakiman telah diatur dalam
UU No. 4 tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman. Dengan demikian UU
No. 4 tahun 2004 merupakan undang-undang yang organik. Sekaligus sebagai
induk dan kerangka umum yang meletakan asas – asas, landasan, dan
pedoman bagi seluruh lingkungan peradilan di Indonesia. Pasal 10 ayat (1,2)
UU No. 4 tahun 2004, menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan
oleh sebuah Makamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya,
dan sebuah Makamah Konstitusi. Adapun badan peradilan yang berada
dibawah Makamah Agung meliputi badan peradilan dalam lingkungan :
a. Peradilan Umum
b. Peradilan Agama
c. Peradilan Militer
d. Peradilan Tata Usaha Negara
Dalam menyelengarakan kekuasaan kehakiman tersebut, Mahkamah
Agung bekedudukan sebagai pengadilan negara tertinggi yang membawahi
semua lingkungan peradilan di Indonesia, baik lingkungan peradilan umum,
peradilan agama, peradilan militer, maupun peradilan tata usaha negara.
Sasaran penyelengaraan kekuasaan kehakiman adalah untuk
menumbuhkan kemandirian para penyelengara kekuasaan kehakiman dalam
rangka mewujudkan peradilan yang berkualitas. Kemandirian para
penyelengara dilakukan dengan cara meningkatkan integritas pengetahuan dan

4 Satjipto Raharjo, Sosiologi Hukum, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2004), hlm. 133.

3
kemampuan. Sedang peradilan yang berkualitas merupakan produk dari
kimerja para penyelengara peradilan tersebut.
Kemandirian kekuasaan kehakiman merupakan persyaratan penting
dalam melakukan kegiatan pememuan hukum oleh hakim di pengadilan.
Kemandirian atau kebebasan kekuasaan kehakiman berarti tidak adanya
intervensi dari pihak-pihak extra judicial lainya, sehinga dapat mendukung
terciptanya kondisi yang kondusif bagi hakim dalam menjalankan tugas-
tugasnya di bidang Judisial, yaitu dalam memeriksa, mengadili dan
memutuskan sengketa yang diajukan oleh pihak-pihak yang berperkara. Lebih
lanjut kondisi ini diharapkan dapat menciptakan putusan hakim yang
berkualitas, yang mengandung unsur keadilan, kepastian hukum dan
kemanfaatan.
Salah seorang hakim merasa bahwa kasus-kasus kriminal tidak perlu
menyita perhatianya tetapi ia merasa perlu memeliti setiap detail undang-
undang kriminal tersebut. Dan pengaruh tertentu yang mendorong para hakim
itu untuk berusaha mengikuti “hukum”.5 Secara analitis, apa yang terjadi pada
para hakim itu berlangsung melalui dua tahap. Pilihan pertamanya adalah
apakah hendak mengikuti “Hukum” atau tidak. Sikap-sikap, nilai, dan konteks
sosial menentukan pilihan ini. Pilihan kedua adalah keputusan aktual.
Bagaimanapun juga, bagi hakim ini akan berarti bahwa ia selalu “Terikat” oleh
hukum.
Pada pasal 1 UU No. 4 tahun 2004 disebutkan bahwa kebebasaan
dalam melaksanakan wewenang judisial bersifat tidak mutlak karena tugas
hakim adalah untuk menegakan hukum keadilan berdasarkan pancasila,
sehinga putusanya mencerminkan rasa keadialan rakyat Indonesia.

B. Asas-Asas Kekuasaan Kehakiman

Di Indonesia kekuasaan kehakiman ini diatur dalam Undang-undang


No.14 tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman yang diantaranya:6

5 Lawrence M. Friedman, Sistem Hukum Prespektif Ilmu Sosial, (Bandung: Nusa Media, 2000), hlm.
229.
6 http://manusiapinggiran.blogspot.co.id/2013/11/asas-hukum-dalam-kekuasaan-kehakiman.html
diakses Rabu, 21 Ferbruari 2018, pukul 21:58 WIB.

4
1. Di Negara hanya ada peradilan negara tidak dibolehkan adanya peradilan-
peradilan yang bukan dilakukan oleh badan peradilan negara. (pasal 3)
2. Peradilan dilakukan demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha Esa.
(pasal 4 ayat 1)
3. Peradilan dilakukan dengan cepat sederhana dan biaya yang ringan. (pasal
4 ayat 2)
4. Pengadilan mengadili menurut hukum tanpa membedakan orang. (pasal 5)
5. Kekuasaan kehakiman bersifat menunggu atau pasif.
6. Hakim tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara
yang diajukan dengan dalih bahwa hukumanya tidak atau kurang jelas,
melainkan wajib untuk memriksa dan mengadilinya. (pasal 14)
7. Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum.
8. Semua pengadilan memeriksa dan memutuskan perkara dengan majelis
yang sekurang-kurangnya terdiri dari tiga orang. (pasal 15)
9. Para pihak atau terdakwa mempunyai hak ingkar (recusatie) terhadap
hakim yang mengadili perkaranya. (pasal 28 ayat 1)
10. Seseorang hakim yang terikat hubungan keluarga sedarah sampai derajat
ketiga atau semenda dengan ketua salah seorang anggota hakim, jaksa,
penasehat hukum atau panitera dalam suatu perkara tertentu wajib
mengundurkan diri dari pemeriksaan perkara itu. (pasal 28 ayat 2)
11. Semua keputusan hakim harus disertai alasan-alasan putusan. (pasal 23)
12. Hakim diangkat dan diberhentikan oleh kepala negara. (pasal 31)

C. Peradilan Acara Perdata

Peradilan adalah suatu proses yang dijalankan di pengadilan yang


berhubungan dengan tugas memeriksa, memutus dan mengadili perkara.
Berkaitan dengan tugas tersebut berikut ini akan dijelaskan secara singkat
tentang proses dan tahapan persidangan acara perdata.
Sebelum Majelis Hakim sampai kepada pengambilan putusan dalam
setiap perkara yang ditanganinya, terlebih dahulu melalui proses pemeriksaan
yang merupakan tahap-tahap dalam pemeriksaan itu. Tanpa melalui proses
pemeriksaan persidangan ini majelis hakim tidak akan dapat mengambil

5
putusan dalam perkara perdata yang ditanganinya. Melalui proses persidangan
ini pula semua pihak, baik penggugat maupun tergugat diberi kesempatan
yang sama untuk mengajukan sesuatu dan mengemukakan pendapatnya serta
menilai hasil pemeriksaan persidangan menurut perspektifnya masing-masing.
Pada akhir dari proses pemeriksaan persidangan hakim akan mengambil
putusan. Proses persidangan ini merupakan salah satu aspek yuridis formil
yang harus dilakukan hakim untuk dapat mengambil putusan dalam perkara
perdata.
Proses pemeriksaan persidangan perkara perdata di Pengadilan yang
dilakukan oleh hakim, secara umum diatur dalam HIR (Herzien Indonesis
Reglement) dan Rbg (Rechtsreglement Buitengewesten).
Pada garis besarnya proses persidangan perdata pada peradilan tingkat
pertama di Pengadilan Negeri terdiri dari 5 (lima) tahap sebagai berikut :
1. Tahap Mediasi
Pada hari sidang yang telah ditetapkan oleh Majelis Hakim, kedua
belah pihak (penggugat dan tergugat) hadir, maka Majelis Hakim sebelum
melanjutkan pemeriksaan wajib mengusahakan upaya perdamaian dengan
mediasi, yaitu suatu cara penyelesaian sengketa melalui proses
perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan diibantu
oleh mediator. Mediator ini adalah pihak netral yang membantu para pihak
yang berperkara dalam perundingan untuk mencari penyelesaian secara
mufakat. Mediator ini bisa dari Hakim Pengadilan (yang bukan memeriksa
perkara) dan bisa juga dari pihak luar yang sudah memiliki sertifikat
mediator.
2. Tahap Pembacaan Gugatan (termasuk Jawaban, Replik, Duplik)
Apabila Majelis Hakim telah mendapatkan pernyataan mediasi
gagal dari mediator, maka pemeriksaan perkara akan dilanjutkan ke tahap
ke-2 yaitu pembacaan surat gugatan. Kesempatan pertama diberikan
kepada pihak penggugat untuk membacakan surat gugatannya. Pihak
penggugat pada tahap ini dapat diberi kesempatan untuk memperbaiki
surat gugatannya apabila ada kesalahan-kesalahan, sepanjang tidak
merubah pokok gugatan. Bahkan lebih dari itu pihak penggugat dapat

6
mencabut gugatannya. Kedua kesempatan tersebut diberikan sebelum
tergugat mengajukan jawabannya.
3. Tahap Pembuktian
Tahap pembuktian merupakan tahap yang cukup penting dalam
semua proses pemeriksaan perkara, karena dari tahap inilah nantinya yang
akan menentukan apakah dalil penggugat atau bantahan tergugat yang
akan terbukti. Dari alat-alat bukti yang diajukan para pihak, Majelis Hakim
dapat menilai peristiwa hukum apa yang terjadi antara penggugat dengan
tergugat sehingga terjadi sengketa. Dari peristiwa hukum yang terbukti
tersebut nantinya Majelis Hakim akan mempertimbangkan hukum apa
yang akan diterapkan dalam perkara tersebut dan memutuskan siapa yang
menang dan kalah dalam perkara tersebut.
Para pihak beperkara yang memikul beban pembuktian (burden of
proof) untuk diajukan di depan persidangan mengenai kebenaran yang
seutuhnya. Akan tetapi, setelah hakim dalam persidangan menampung dan
menerima segala sesuatu kebenaran tersebut, dia harus menetapkan
kebenaran itu.7
4. Tahap Kesimpulan
Pengajuan kesimpulan oleh para pihak setelah selesai acara
pembuktian tidak diatur dalam HIR maupun dalam Rbg, akan tetapi
mengajukan kesimpulan ini timbul dalam praktek persidangan. Dengan
demikian sebenarnya ada pihak yang tidak mengajukan kesimpulan tidak
apa-apa. Bahkan kadang-kadang para pihak menyatakan secara tegas tidak
akan mengajukan kesimpulan akan tetapi mohon kebijaksanaan hakim
untuk memutus dengan seadil-adilnya.
5. Tahap Putusan
Setelah melalui beberapa proses dan tahap persidangan, maka
proses persidangan sampailah pada tahap terakhir yaitu pembacaan
putusan. Setelah putusan diucapkan oleh hakim, maka kepada para pihak

7 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian,
dan Putusan Pengadilan Cet ke-14, (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), hlm. 71.

7
diberitahukan akan haknya untuk mengajukan upaya hukum jika tidak
menerima putusan tersebut.8

D. Hakim Acara Perdata

Terdapat pandangan bahwa hakim perdata mutlak bersifat pasif.


Sikap pasif tidak hanya dalam arti hakim bersifat menunggu (tidak mencari-
cari perkara) atau luas ruang lingkup sengketa tergantung para pihak, tetapi
meliputi hakim pasif dalam memimpin persidangan. Asumsinya karena
perkara adalah kehendak para pihak sehingga hakim tidak perlu mencampuri
jalannya perkara. Perihal bagaimana proses persidangan berjalan, pengajuan
bukti-bukti, ataupun bagaimana para pihak menetapkan hubungan hukum
merupakan urusan para pihak. Hakim hanya bertugas mengawasi agar
peraturan hukum acara dilaksanakan oleh para pihak.
Paradigma di atas berasal dari filsafat hukum barat yang liberal-
individualisme yang dilembagakan dalam Reglement op de Burgerlijke
Rechtsvordering (RV). Tetapi sesungguhnya RV tidak berlaku sebagai hukum
acara perdata di pengadilan negeri (landraad), karena yang berlaku di Jawa
dan Madura adalah Herziene Indonesisch Reglement (HIR), sedangkan untuk
luar Jawa dan Madura adalah Rechtsreglement voor de Buitengewesten (RBg).
HIR/RBg lahir dari aliran tradisional indonesia yang menghendaki agar setiap
perkara yang disidangkan hakim diselesaikan secara tuntas. Oleh karena itu
hakim berperan dominan dalam memimpin persidangan maupun dalam
nenentukan semua faktor dan proses.
Pasal 4 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan
Kehakiman merupakan legitimasi yuridis keaktifan hakim. Ketentuan tersebut
menegaskan bahwa pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha
mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan
yang sederhana, cepat, dan biaya ringan. Sederhananya mengandung makna

8 https://wawansimbeling.blogspot.com/2015/08/proses-dan-tahapan-persidangan-perkara.html
diakses Rabu, 21 Februari 2018, pukul 22:50 WIB.

8
pemeriksaan dan penyelesaian perkara dilakukan secara efektif dan efisien,
sedangkan biaya ringan berarti biaya perkara dapat dijangkau oleh masyarakat.
HIR/RBg telah menempatkan hakim dalam posisi aktif dalam tahap
pra persidangan, persidangan dan pasca persidangan (eksekusi). Berikut
adalah ketentuan dalam HIR/RBg yang menempatkan peran hakim aktif, yaitu
:
Pasal 119 HIR/Pasal 143 RBg :
Ketua pengadilan negeri berwenang memberi nasihat dan bantuan hukum
kepada penggugat atau wakilnya atau kuasanya dalam hal mengajukan
gugatannya.
Pasal 132 HIR/Pasal 156 RBg :
Jika ketua menganggap perlu agar perkara dapat berjalan dengan baik dan
teratur, maka pada saat pemeriksaan perkara, dia dapat memberikan nasihat
kepada kedua belah pihak dan guna menunjukkan upaya hukum dan
keterangan yang dapat mereka pergunakan.
Pasal 195 ayat (1) HIR/Pasal 206 ayat (1) RBg :
Dalam hal menjalankan putusan pengadilan negeri, dalam perkara yang pada
tingkat pertama diperiksa oleh pengadilan negeri maka dilakukan atas perintah
dan dengan pimpinan ketua pengadilan negeri yang pada tingkat pertama
memeriksa perkara itu menurut cara yang diatur dalam pasal-pasal sebagai
berikut.
Saat ini hakim aktif kembali mendapatkan penegasan dalam Pasal 14
PERMA No.2 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan
Sederhana. Ketentuan tersebut memberikan guidance bagi hakim dalam
persidangan gugatan sederhana agar aktif memberikan penjelasan mengenai
acara persidangan, menyelesaikan perkara secara damai, menuntun para pihak
dalam pembuktian dan menjelaskan upaya hukum yang dapat ditempuh oleh
para pihak.
Jadi dapat disimpulkan pada saat hakim menerima pelimpahan
perkara, maka setelah mempelajari dan menemukan cacat formil dalam
gugatan, dalam persidangan hakim memberikan nasehat untuk perbaikan
gugatan. Pemberian nasehat/pencerahan akan mengarahkan pencari keadilan

9
agar tidak sesat dalam menuntut/membela hak di pengadilan. Diharapkan
setiap perkara akan berakhir dengan putusan yang menuntaskan hubungan
hukum para pihak.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan Negara yang merdeka untuk


menyelenggarkan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan berdasarkan
pancasila dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 demi
terselenggaranya Negara hukum di Republik Indonesia.

Di Indonesia kekuasaan kehakiman ini diatur dalam Undang-undang


No.14 tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman. Pada garis besarnya proses
persidangan perdata pada peradilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri
terdiri dari 5 (lima) tahap yaitu mediasi, pembacaan gugatan, pembuktian,
kesimpulan dan putusan.

Saat hakim acara perdata menerima pelimpahan perkara, maka setelah


mempelajari dan menemukan cacat formil dalam gugatan, dalam persidangan
hakim memberikan nasehat untuk perbaikan gugatan. Pemberian
nasehat/pencerahan akan mengarahkan pencari keadilan agar tidak sesat dalam
menuntut/membela hak di pengadilan. Diharapkan setiap perkara akan
berakhir dengan putusan yang menuntaskan hubungan hukum para pihak.

10
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Achmad. 2011. Menguak Tabir Hukum. Bogor: Ghalia Indonesia.

Arifin, Zaenal. 2008. Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di


Indonesia. Jakarta: Kencana.

Harahap, M. Yahya. 2014. Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan,


Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan. Jakarta: Sinar
Grafika.

M. Friedman, Lawrence. 2000. Sistem Hukum Prespektif Ilmu Sosial. Bandung: Nusa
Media.

Raharjo, Satjipto. 2004. Sosiologi Hukum. Surakarta: Muhammadiyah University


Press.

Sutiyoso, Bambang. 2006. Metode Penemuan Hukum. Jakarta: UII Press.

http://manusiapinggiran.blogspot.co.id/2013/11/asas-hukum-dalam-kekuasaan-
kehakiman.html

https://wawansimbeling.blogspot.com/2015/08/proses-dan-tahapan-persidangan-
perkara.html

11