Anda di halaman 1dari 36

Laporan Praktikum

Laser

Layar Celah /kisi

OLEH,
NAMA : MA’FIRANI SYAM
NO.STAMBUK : A 241 14 020
KELOMPOK :I
ASISTEN : RIYAN SETIAWAN UKI

LABORATORIUM FISIKA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016
i
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T, karena berkat rahmat dan

taufik-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Gelombang dan Optik

mengenai “Interferensi Celah Ganda”. Selanjutnya penulis berterima kasih kepada

kak Riyan Setiawan Uki selaku asisten praktikum yang telah memberikan bimbingan

dalam penulisan laporan ini. Selanjutnya penulis juga berterima kasih kepada

semua pihak yang telah memberi kritik dan masukan terhadap penyajian laporan

praktikum ini.

Meskipun telah berusaha dengan segenap kemampuan, namun penulis

menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan

kerendahan hati penulis menerima adanya kritik dan saran yang membangun dari

pihak manapun demi perbaikan dimasa yang akan datang. Akhir kata penulis

ucapkan selamat membaca. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan khususnya

mendapatkan nilai yang memuaskan.

Wassalamu’alaikum wr,wb.

Palu, Oktober 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR KOREKSI ...........................................................................................i

KATA PENGANTAR ..........................................................................................ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1

1.1. Latar Belakang ................................................................................1

1.2. Tujuan Percobaan ...........................................................................1

1.3. Alat dan Bahan ................................................................................1

BAB II INTERFERENSI CAHAYA ......................................................................2

BAB III METODE PENELITIAN..........................................................................7

3.1. Jenis Penelitian ...............................................................................7

3.2. Waktu dan Tempat ..........................................................................7

3.3. Prosedur Kerja.................................................................................7

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................9

4.1. Hasil Pengamatan ...........................................................................9

4.2. Analisa Data ....................................................................................11

4.3. Pembahasan ...................................................................................21

BAB V KESIMPULAN ........................................................................................25

5.1. Kesimpulan` ....................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................25

LAPORAN SEMENTARA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik transversal. Dikatakan

transversal karena arah getar medan magnetik dan medan listriknya tegak lurus

terhadap arah perambatan. Jika cahaya adalah gelombang, maka cahaya akan

mengalami fenomena yang disebut Interferensi. Jika diletakkan sumber cahaya

yang berdekatan di depan sebuah layar, akan terlihat pola interferensi cahaya

berupa garis-garis terang dan gelap.

Untuk mengetahui dan menyaksikan secara langsung fenomena interferensi

ini, maka dilakukan praktikum Interferensi Celah Ganda dengan menggunakan satu

sumber cahaya dan diberikan gangguan berupa kisi

1.2. Tujuan Percobaan

Mengamati pola interferensi yang dihasilkan oleh celah ganda dan kisi

1.3. Alat dan Bahan

1. Sumber cahaya/ Laser.

2. Bangku optik.

3. Layar

4. Kisi 100 garis/mm

5. Kisi 300 garis/mm

6. Mistar

1
BAB II

INTERFERENSI CAHAYA

Interferensi Cahaya dalah perpaduan dari 2 gelombang cahaya. Agar hasil

interferensinya mempunyai pola yang teratur, kedua gelombang cahaya harus

koheren, yaitu memiliki frekuensi dan amplitudo yg sama serta selisih fase tetap.

Pola hasil interferensi ini dapat ditangkap pada layar, yaitu

a. Garis terang, merupakan hasil interferensi maksimum (saling memperkuat

atau konstruktif)

b. Garis gelap, merupakan hasil interferensi minimum (saling memperlemah

atau destruktif)

Paduan Gelombang

(a) (b)

Gambar 2.1. (a) Gelombang Saling menguatkan (b) Gelombang Saling melemahkan

2.1. Beda Lintasan

Jarak tempuh cahaya yang melalui dua celah sempit mempunyai dua

perbedaan (beda lintasan), hal ini yang menghasilkan pola interferensi.

2
Gambar 2.2 Beda Lintasan

2.2. Kondisi Interferensi

Gambar 2.3 Kondisi Interferensi

2.3. Syarat Interferensi maksimum

Interferensi maksimum terjadi jika kedua gelombang memiliki fase yang sama

(sefase) yaitu jika selisih lintasannya sama dengan nol atau bilangan bulat kali

panjang gelombang .

𝑑𝑠𝑖𝑛𝜃 = 𝑛𝜆 ............................................................................................................. (1)

dengan n = 0, 1, 2 ...

3
Bilangan n disebut orde terang. Untuk n = 0 disebut terang pusat, n = 1 disebut

terang ke-1 dan seterusnya. Karena jarak celah ke layar l jauh lebih besar sari jarak

kedua celah d (l >> d), maka sudut  sangat kecil, sehingga sin   tan  p/l.

Dengan demikian

𝑝𝑑
𝑙
= 𝑛𝜆 .................................................................................................................. (2)

Dengan p adalah jarak terang ke-n ke pusat terang

2.4. Syarat Interferensi minimum

Interferensi minimum terjadi jika beda fase kedua gelombang 180 0, yaitu jika

selisih lintasannya sama dengan bilangan ganjil kali setengah .

1
𝑑𝑠𝑖𝑛 = (𝑚 − )𝜆 .................................................................................................... (3)
2

dengan m = 1, 2, 3 ...

Bilangan m disebut sebagai orde gelap. Tidak ada gelap ke nol. Untuk itu m =

1 disebut gelap ke-1 dst. Mengingat sin   tan  p/l, maka

𝑝𝑑
𝑙
= (𝑚 − 1)𝜆 ........................................................................................................ (4)

Dengan jarak p adalah jarak gelap ke-m ke pusat gelap.

Jarak antara dua garis terang yang berurutan sama dengan jarak dua garis

gelap berurtan. Jika jarak itu disebut ∆p

𝑝𝑑
𝑙
= 𝜆 .................................................................................................................... (5)

4
2.5. Interferensi celah ganda :

- Pertama kali ditunjukkan oleh Thomas Young pada tahun 1801

- Ketika dua gelombang cahay yang koheren menyinari dua celah yang

sempit, maka akan teramati pola interfernsi terang dan gelap pada layar.

Gambar 2.4 Interferensi Celah Ganda

Interferensi optik dapat terjadi jika dua gelombang (cahaya) secara

simultan hadir dalam daerah yang sama

S3 θ
θ

Gambar 2.5 Interferensi Optik

S1, S2 dan S3 adalah celah sempit yang dilalui oleh cahaya dengan panjang

gelombang ė. Gelombang cahaya yang memancar dari S3 akan mengenai celah S1

5
dan S2, dan menurut teori Huygens dari S1 dan S2 akan memancar gelombang-

gelombang cahaya yang koheren.

Kerja sama antara kedua gelombang yang berasal dari S1 dan S2 diamati

pada layer di titik P. Beda antara lintasan optic anatara kedua sumbu S1 dan S2 di P

adalah sebagai berikut :

𝑆1 𝑃 − 𝑆2 𝑃 = 𝑟1 − 𝑟2 ............................................................................................... (6)

𝑆1 𝐴 = 𝑑𝑠𝑖𝑛𝜃 .......................................................................................................... (7)

dengan
𝑃
tan 𝜃 = ................................................................................................................ (8)
𝑎

Untuk θ << (sudut yang sangat kecil ), maka tan θ ≈ sinθ, sehingga :

𝑑𝑃
𝑟1 − 𝑟2 = 𝑎
........................................................................................................... (9)

interferensi konstruktif ( maksimum = terang) terjadi di P bila :

𝑟1 − 𝑟2 = 𝑚𝜆 ......................................................................................................... (10)

dengan, m= 0,1,2,dst

atau

𝑝𝑑
𝑎
= 𝑚𝜆 .............................................................................................................. (11)

sehingga

𝑚𝜆𝑎
𝑝= 𝑑
............................................................................................................... (12)

Interferensi destruktif ( minimum = gelap) terjadi P bila :

1 𝜆𝑎
𝑃 = (𝑚 + 2) 𝑑
..................................................................................................... (13)

dengan m = 0,1,2 dst

6
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Eksperimen Murni, yaitu penelitian yang semua variabel-variabel dalam

penelitian dapat dikontrol semuanya.

3.2. Waktu dan Tempat

Waktu : Senin, 24 oktober 2016

Tempat : Laboratorium Gelombang dan Optik

3.3. Prosedur Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan pada percobaan ini.

2. Merangkai alat dan bahan yang akan di gunakan seperti pada gambar di

bawah ini :

Gambar 3.1. susunan rangkaian alat dan bahan

3. Menyalakan sumber cahaya dengan cara menekan tombol on pada pada

sumber cahaya tersebut

4. Mengatur letak celah dengan cara menggeser kearah sumber cahaya

atau ke layar menggunakan 100 kisi.

7
5. Mengukur panjang jarak antara kisi ke dinding atau layar sepanjang 20

cm menggunakan mistar

6. Mengukur jarak antara sumber cahaya atau laser ke kisi mistar

7. Mengukur lebar pusat terang masing masing pita terang dan mengukur

lebar masing masing pita gelap hingga orde ke-3 dengan menggunakan

mistar

8. Mencatat nilai yang di dapatkan pada tabel laporan sementara.

9. Mengatur letak celah dengan cara menggeser kearah sumber cahaya

atau ke layar menggunakan 300 kisi.

10. Mengukur lebar pusat terang masing masing pita terang dan ukur lebar

masing masing pita gelap hingga orde ke-3

11. Mencatat nilai yang di dapatkan pada tabel laporan sementara.

12. Mengulangi langkah 3-9 untuk panjang jarak antara kisi ke dinding atau

layar sepanjang 40 cm.

8
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

1. 100 Kisi

1) Jarak kisi ke layar (L) = 20 x 10-2 m

Jarak sumber cahaya ke kisi = 61 x 10-2 m

P (m)
No K
Terang Gelap

1 1 1,0 x 10-2 1,36 x 10-1

2 2 2,0 x 10-2 2,06 x 10-1

3 3 3,0 x 10-2 2,57 x 10-1

2) Jarak kisi ke layar (L) = 40 x 10-2 m

Jarak sumber cahaya ke kisi = 41 x 10-2 m

P (m)
No K
Terang Gelap

1 1 2,1 x 10-2 1,67 x 10-1

2 2 4,1 x 10-2 2,67 x 10-1

3 3 6,1 x 10-2 3,45 x 10-1

1 1
d = 𝑁 = 100 = 0,01 mm/garis = 1 x 10-5 m

NST mistar = 0,1 cm = 1x10-3m.

λ = 632,8 nm = 6, 32 x 10-7 m

9
3) 300 Kisi

1) Jarak kisi ke layar (L) = 20 x 10-2 m

Jarak sumber cahaya ke kisi = 61 x 10-2 m

P (m)
No K
Terang Gelap

1 1 4,1 x 10-2 1,23 x 10-1

2 2 8,7 x 10-2 1,88 x 10-1

3 3 15,2 x 10-2 2,53 x 10-1

2) Jarak kisi ke layar (L) = 40 x 10-2 m

Jarak sumber cahaya ke kisi = 41 x 10-2 m

P (m)
No K
Terang Gelap

1 1 8,3 x 10-2 2,3 x 10-1

2 2 17,6 x 10-2 3,55 x 10-1

3 3 30,1 x 10-2 4,50 x 10-1

1 1
d = 𝑁 = 300 = 0,00333 mm/garis = 3,33 x 10-6 m

NST mistar = 0,1 cm = 1x10-3m.

λ = 632,8 nm = 6, 32 x 10-9 m

10
4.2. Analisa Data

1. Untuk Kisi 100 garis/mm

A. Perhitungan Umum
𝑝𝑑
λ = 𝑘𝑙

1) L = 20 x 10-2 m

a) K=1

Terang

1,00 𝑥 10 −2 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = 1 (2,00 𝑥 10 −1 )
= 5,00 𝑥 10−7 𝑚

Gelap

1,36 𝑥 10 −1 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = 1 (2,00 𝑥 10 −1 )
= 6,80 𝑥 10−6 𝑚

b) K=2

Terang

2,00 𝑥 10 −2 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = = 5,00 𝑥 10−7 𝑚
2 (2,00 𝑥 10 −1 )

Gelap

2,06 𝑥 10 −1 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = (2)(2,00 𝑥 10 −1 )
= 5,15 𝑥 10−6 𝑚

c) K=3

Terang

3,00 𝑥 10 −2 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = 3 (2,00 𝑥 10 −1 )
= 5,00 𝑥 10−7 𝑚

Gelap

2,57 𝑥 10 −1 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = 3 (2,00 𝑥 10 −1 )
= 4,28 𝑥 10−6 𝑚

11
2) L = 40 x 10-2 m

a) K = 1

Terang

2,10 𝑥 10 −2 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = 1 (4,00 𝑥 10 −1 )
= 5,25 𝑥 10−7 𝑚

Gelap

1,67 𝑥 10 −1 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = 1 (4,00 𝑥 10 −1 )
= 4,18 𝑥 10−6 𝑚

b) K = 2

Terang

4,10 𝑥 10 −2 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = = 5,13 𝑥 10−7 𝑚
2 (4,00 𝑥 10 −1 )

Gelap

2,67 𝑥 10 −1 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = = 3,34 𝑥 10−6 𝑚
(2)(4,00 𝑥 10 −1 )

c) K=3

Terang

6,10 𝑥 10 −2 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = = 5,08 𝑥 10−7 𝑚
3 (4,00 𝑥 10 −1 )

Gelap

3,45 𝑥 10 −1 (1,00 𝑥 10 −5 )
λ = 3 (4,00 𝑥 10 −1 )
= 2,88 𝑥 10−6 𝑚

B. Perhitungan Ralat

∆λ ∆λ
∆λ = 𝜕𝑝
|∆p|+ 𝜕𝑙
|∆𝐿|

𝑑 𝑝𝑑
∆λ = 𝑘𝑙
|∆p|+ 𝑘𝑙 2
|∆𝐿|

12
1 1
∆p = ∆𝐿 = 2 Nst mistar = 2 𝑥 0,001 = 5𝑥10−4 m

1) L = 20 x 10-2 m

a) K = 1

Terang

1,00 x 10 −5 0,01 𝑥 1,00 x 10 −5


∆ λ1 = |5𝑥10−4 |+ |5𝑥10−4 |
1 𝑥 0,2 1 (0,2)2

∆ λ1 = 2,50 x 10−8 + 1,25 x 10−9

∆ λ1 = 2,63 x 10-8 m

Ktpm = 2,63 x 10-8 m

∆ λ1 2,63 x 10 −8
Ktpr = λ1
x 100% = 5,00 x 10 −7
x 100% = 5,25 %

∆ λ1
AB = 1 - log λ1
= 1 - log 0,0525 = 2,28 ≈ 2 𝐴𝐵

Pelaporan : (5,00  0,26 ) x 10-7 m

b) K = 2

Terang

1,00 x 10 −5 (0,02) (1,00 x 10 −5 )


∆ λ2 = 2 𝑥 0,2
|5𝑥10−4 |+ 2 (0,2)2
|5𝑥10−4 |

∆ λ2 = 1,25 x 10−8 + 1,25 x 10−9

∆ λ2 = 1,38 x 10-8 m

Ktpm = 1,38 x 10-8 m

∆ λ2 1,38 x 10 −8
Ktpr = x 100% = x 100% = 2,75 %
λ2 5,00 x 10 −7

∆ λ2
AB = 1 - log = 1 - log 0,0275 = 2,56 ≈ 3 𝐴𝐵
λ2

13
Pelaporan : (5,000  0,138 ) x 10-7 m

c) K=3

Terang

1,00 x 10 −5 (0,03) (1,00 x 10 −5 )


∆ λ3 = 3 𝑥 0,2
|5𝑥10−4 |+ 3 (0,2)2
|5𝑥10−4 |

∆ λ3 = 8,33 x 10−9 + 1,25 x 10−9

∆ λ3 = 9,58 x 10-9 m

Ktpm = 1,38 x 10-8 m

∆ λ3 9,58 x 10 −9
Ktpr = λ3
x 100% = 5,00 x 10 −7
x 100% = 1,92 %

∆ λ2
AB = 1 - log λ2
= 1 - log 0,0192 = 2,72 ≈ 3 𝐴𝐵

Pelaporan : (5,0000  0,0958 ) x 10-7 m

2) L = 40 x 10-2 m

a) K = 1

Terang

1,00 x 10 −5 0,021 𝑥 1,00 x 10 −5


∆ λ1 = 1 𝑥 0,4
|5𝑥10−4 |+ 1 (0,4)2
|5𝑥10−4 |

∆ λ1 = 1,25 x 10−8 + 6,50 x 10−10

∆ λ1 = 1,32 x 10-8 m

Ktpm = 1,32 x 10-8 m

∆ λ1 1,32 x 10 −8
Ktpr = λ1
x 100% = 5,25 x 10 −7
x 100% = 2,51 %

∆ λ1
AB = 1 - log λ1
= 1 - log 0,0251 = 2,60 ≈ 3 𝐴𝐵

14
Pelaporan : (5,250  0,132 ) x 10-7 m

b) K = 2

Terang

1,00 x 10 −5 (0,041) (1,00 x 10 −5 )


∆ λ2 = 2 𝑥 0,4
|5𝑥10−4 |+ 2 (0,4)2
|5𝑥10−4 |

∆ λ2 = 6,25 x 10−9 + 6,41 x 10−10

∆ λ2 = 6,89 x 10-9 m

Ktpm = 6,89 x 10-9 m

∆ λ2 6,89 x 10 −9
Ktpr = λ2
x 100% = 5,13 x 10 −7
x 100% = 1,34 %

∆ λ2
AB = 1 - log λ2
= 1 - log 0,0134 = 2,87 ≈ 3 𝐴𝐵

Pelaporan : (5,1300  0,0689 ) x 10-7 m

c) K=3

Terang

1,00 x 10 −5 (0,061) (1,00 x 10 −5 )


∆ λ3 = |5𝑥10−4 |+ |5𝑥10−4 |
3 𝑥 0,4 3 (0,4)2

∆ λ3 = 4,17 x 10−9 + 6,35 x 10−10

∆ λ3 = 4,80 x 10-9 m

Ktpm = 1,38 x 10-8 m

∆ λ3 4,80 x 10 −9
Ktpr = x 100% = x 100% = 0,94 %
λ3 5,08 x 10 −7

∆ λ2
AB = 1 - log = 1 - log 0,0094 = 3,02 ≈ 3 𝐴𝐵
λ2

Pelaporan : (5,0800  0,0480 ) x 10-7 m

15
2. Untuk Kisi 300 garis/mm

A. Perhitungan Umum

1) L = 20 x 10-2 m

a) K = 1

Terang

4,10 𝑥 10 −2 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = 1 (2,00 𝑥 10 −1 )
= 6,83 𝑥 10−7 𝑚

Gelap

1,23 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = = 2,05 𝑥 10−6 𝑚
1 (2,00 𝑥 10 −1 )

b) K = 2

Terang

8,70 𝑥 10 −2 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = = 7,25 𝑥 10−7 𝑚
2 (2,00 𝑥 10 −1 )

Gelap

1,88 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = (2)(2,00 𝑥 10 −1 )
= 1,57 𝑥 10−6 𝑚

c) K=3

Terang

1,52 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = 3 (2,00 𝑥 10 −1 )
= 8,44 𝑥 10−7 𝑚

Gelap

2,53 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = 3 (2,00 𝑥 10 −1 )
= 1,41 𝑥 10−6 𝑚

2) L = 40 x 10-2 m

a) K = 1

16
Terang

8,30 𝑥 10 −2 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = 1 (4,00 𝑥 10 −1 )
= 6,92 𝑥 10−7 𝑚

Gelap

2,30 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = 1 (4,00 𝑥 10 −1 )
= 1,92 𝑥 10−6 𝑚

b) K = 2

Terang

1,76 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = = 7,33 𝑥 10−7 𝑚
2 (4,00 𝑥 10 −1 )

Gelap

3,55 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = = 1,48 𝑥 10−6 𝑚
(2)(4,00 𝑥 10 −1 )

c) K=3

Terang

3,01 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = 3 (4,00 𝑥 10 −1 )
= 8,36 𝑥 10−7 𝑚

Gelap

4,50 𝑥 10 −1 (3,33 𝑥 10 −6 )
λ = = 1,25 𝑥 10−6 𝑚
3 (4,00 𝑥 10 −1 )

B. Perhitungan Ralat

1) L = 20 x 10-2 m

a) K=1

Terang

3,33 x 10 −6 0,041 ( 3,33 x 10 −6 )


∆ λ1 = 1 (0,2)
|5𝑥10−4 |+ 1 (0,2)2
|5𝑥10−4 |

∆ λ1 = 8,33 x 10−8 + 1,71 x 10−9

17
∆ λ1 = 1,00 x 10-8 m

Ktpm = 1,00 x 10-8 m

∆ λ1 1,00 x 10 −8
Ktpr = λ1
x 100% = 6,83 x 10 −7
x 100% = 1,47 %

∆ λ1
AB = 1 - log λ1
= 1 - log 0,0147 = 2,83 ≈ 3 𝐴𝐵

Pelaporan : (6,830  0,100 ) x 10-7 m

b) K = 2

Terang

3,33 x 10 −6 (0,087) (3,33 x 10 −6 )


∆ λ2 = 2 𝑥 0,2
|5𝑥10−4 |+ 2 (0,2)2
|5𝑥10−4 |

∆ λ2 = 4,17 x 10−9 + 1,81 x 10−9

∆ λ2 = 5,98 x 10-8 m

Ktpm = 5,98 x 10-8 m

∆ λ2 5,98 x 10 −8
Ktpr = λ2
x 100% = 7,25 x 10 −7
x 100% = 0,82 %

∆ λ2
AB = 1 - log λ2
= 1 - log 0,0082 = 3,08 ≈ 3 𝐴𝐵

Pelaporan : (7,250  0,598 ) x 10-7 m

c) K=3

Terang

3,33 x 10 −6 (0,253) (3,33 x 10 −6 )


∆ λ3 = |5𝑥10−4 |+ |5𝑥10−4 |
3 𝑥 0,2 3 (0,2)2

∆ λ3 = 2,78 x 10−9 + 2,11 x 10−9

∆ λ3 = 4,89 x 10-9 m

18
Ktpm = 4,89 x 10-9 m

∆ λ3 4,89 x 10 −9
Ktpr = λ3
x 100% = 8,44 x 10 −7
x 100% = 0,58 %

∆ λ2
AB = 1 - log λ2
= 1 - log 0,0058 = 3,24 ≈ 3 𝐴𝐵

Pelaporan : (8,44000  0,00489 ) x 10-7 m

2) L = 40 x 10-2 m

a) K = 1

Terang

3,33 x 10 −6 0,083 𝑥 3,33 x 10 −6


∆ λ1 = |5𝑥10−4 |+ |5𝑥10−4 |
1 𝑥 0,4 1 (0,4)2

∆ λ1 = 4,17 x 10−9 + 8,65 x 10−10

∆ λ1 = 5,03 x 10-9 m

Ktpm = 5,03 x 10-9 m

∆ λ1 5,03 x 10 −9
Ktpr = λ1
x 100% = 6,92 x 10 −7
x 100% = 0,73 %

∆ λ1
AB = 1 - log λ1
= 1 - log 0,0073 = 3,14 ≈ 3 𝐴𝐵

Pelaporan : (6,9200  0,0503 ) x 10-7 m

b) K = 2

Terang

3,33 𝑥 10 −6 (0,176) (3,33 x 10 −6 )


∆ λ2 = |5𝑥10−4 |+ |5𝑥10−4 |
2 𝑥 0,4 2 (0,4)2

∆ λ2 = 2,08 x 10−9 + 9,17 x 10−10

∆ λ2 = 3,00 x 10-9 m

19
Ktpm = 3,00 x 10-9 m

∆ λ2 3,00 x 10 −9
Ktpr = λ2
x 100% = 7,33 x 10 −7
x 100% = 0,41 %

∆ λ2
AB = 1 - log = 1 - log 0,0041 = 3,39 ≈ 3 𝐴𝐵
λ2

Pelaporan : (7,3300  0,0300 ) x 10-7 m

c) K=3

Terang

3,33 x 10 −6 (0,301) (3,33 x 10 −6 )


∆ λ3 = 3 𝑥 0,4
|5𝑥10−4 |+ 3 (0,4)2
|5𝑥10−4 |

∆ λ3 = 1,39 x 10−9 + 1,05 x 10−9

∆ λ3 = 2,43 x 10-9 m

Ktpm = 2,43 x 10-9 m

∆ λ3 2,43 x 10 −9
Ktpr = λ3
x 100% = 8,36 x 10 −7
x 100% = 0,29 %

∆ λ2
AB = 1 - log λ2
= 1 - log 0,0029 = 3,54 ≈ 4 𝐴𝐵

Pelaporan : (8,36000  0,02430 ) x 10-7 m

20
4.3. Pembahasan

Ketika dua buah gelombang bergerak bersamaan dengan sudut fase yang

sama, maka gelombang akan bersuperposisi saling menguatkan. Ketika beda sudut

fasenya 180o maka gelombang akan bersuperposisi saling melemahkan. Ketika dua

buah celah sempit (lebih kecil daripada panjang gelombang cahaya), maka cahaya

akan didifraksikan oleh kedua celah itu. Cahaya dari kedua celah ini dapat bertemu

di layar bersamaan. Kalau sudut fase keduanya sama, maka akan terbentuk garis

terang, tetapi kalau sudut fase keduanya beda 180o maka membentuk garis gelap.

Sehingga, pada layar akan terdapat pita-pita terang dan gelap. Gejala ini dinamakan

interferensi cahaya

Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengamati pola interferensi

yang dihasilkan oleh celah ganda dan kisi.

Alat dan bahan yang digunakan yaitu laser sebagi sumber cahaya

monokromatik yang merupakan cahaya dengan penyebaran warnanya tetap,

bangku optik digunakan sebagai dudukan kisi, kisi digunakan sebagai celah ganda,

pada percobaan ini digunakan dua kisi yaitu kisi 100 garis/mm dan kisi 300

garis/mm, serta mistar 100 cm digunakan untuk mengukur jarak sumber ke kisi,

jarak kisi ke layar, dan jarak pola yang terbentuk pada layar.

Adapun prosedur kerja dari praktikum ini yaitu dengan mengatur jarak antara

kisi ke layar sejauh 20 cm dan 40 cm. Kemudian sumber cahaya atau laser

diarahkan menembus kisi (100 kisi/mm untuk perlakuan pertama dan 300 kisi/mm

untuk perlakuan kedua) sehingga pola interferensi cahaya berupa pola terang dan

gelap terbentuk di layar. Kemudian mengukur jarak antar pola yaitu dari terang

pusat ke terang pertama hingga ke terang ke tiga dan jarak dari pola gelap pertama

hingga ke pola gelap ke tiga

21
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, ketika proses interferensi terjadi

maka cahaya laser akan membentuk pola terang dan gelap melalui kisi. Ketika kisi

di sinari oleh cahaya laser, maka cahaya laser akan didifraksikan oleh kisi tersebut.

Adapun prinsip kerja kisi difraksi, untuk menyebarkan cahaya. Jika cahaya jatuh

pada kisi, maka kisi itulah sebagai sumber cahaya baru, karena setelah keluar dari

kisi, cahaya akan disebarakan. Cahaya dari kisi ini kemudian bertemu di layar

bersamaan.

Ketika sudut fase pada kisi sama maka terbentuklah pola terang pada layar

dimana gelombang bersuperposisi saling menguatkan dan ketika sudut fasenya

berbeda 180o maka terbentuklah pola gelap pada layar karena gelombang

bersuperposisi saling melemahkan.

Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh hasil untuk penggunaan kisi 100

garis/mm dengan jarak layar ke kisi sejauh 20 cm antara lain untuk jarak terang

orde pertama, orde kedua, dan orde ketiga secara berturut-turut yaitu 1 cm, 2 cm

dan 3 cm sedangkan untuk jarak gelap orde pertama, kedua, dan ketiga secara

berturut-turut yaitu 13,6 cm, 20,6 cm, dan 25,7 cm. Untuk jarak layar ke kisi sejauh

40 cm, diperoleh jarak terang orde pertama, kedua, dan ketiga berturut-turut yaitu

2,1 cm; 4,1 cm; dan 6,1 cm sedangkan untuk gelap orde pertama, kedua dan ketiga

diperoleh jarak antar pola berturut-turut yaitu 16,7 cm; 26,7 cm; dan 34,5 cm. Dari

hasil pengamatan tersebut, dapat dilihat pengaruh dari jarak kisi ke layar terhadap

jarak antar pola yaitu semakin jauh jarak antara kisi ke layar maka jarak antara pola

terang atau gelap juga akan semakin jauh pula.

Kemudian untuk penggunaan kisi 300 garis/mm dengan jarak layar ke kisi

sejauh 20 cm antara lain untuk jarak terang orde pertama, orde kedua, dan orde

ketiga secara berturut-turut yaitu 4,1 cm; 8,7 cm dan 15,2 cm sedangkan untuk jarak

22
gelap orde pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turut yaitu 12,3 cm; 18,8 cm

dan 23,5 cm. Untuk jarak layar ke kisi sejauh 40 cm, diperoleh jarak terang orde

pertama, kedua, dan ketiga berturut-turut yaitu 8,3 cm; 17,6 cm; dan 30,1 cm

sedangkan untuk gelap orde pertama, kedua dan ketiga diperoleh jarak antar pola

berturut-turut yaitu 23,0 cm; 35,5 cm; dan 45,0 cm. Berdasarkan hasil pengamatan

antara dua kisi yang digunakan, dapat diketahui bahwa besarnya kisi

mempengaruhi jarak antar pola yang terbentuk. Semakin besar garis kisi/mm maka

jarak antar pola akan semakin besar dan sebaliknya.

Dari hasil perhitungan, besarnya panjang gelombang yang diperoleh antara

cahaya hasil interferensi untuk orde 1 sampai orde 3 untuk kisi 100 garis/mm

dengan panjang L = 20 cm, panjang gelombang cahaya untuk pola terang sebesar

5x10-7 m sedangkan untuk pola gelap panjang gelombang rata-ratanya sebesar

5,41 x 10-6 m. kemudian untuk panjang L = 40 cm diperoleh panjang gelombang

rata-rata untuk pola terang sebesar 5,15x10-7 m dan untuk pola gelap sebesar

3,46x10-6 m. Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa semakin jauh jarak kisi ke

layar maka panjang gelombang untuk pola terang semakin besar tetapi panjang

gelombang pola gelap semakin pendek

Kemudian dengan menggunakan kisi 300 garis/mm, panjang gelombang

cahaya untuk pola terang dengan L=20 cm sebesar 7,51 x 10-7 m dan untuk pola

gelap sebesar 1,67 x 10-6 m. Untuk L=40 cm, diperoleh panjang gelombang pola

terang sebesar 7,54x10-7 m dan pola gelapnya sebesar 1,55 x 10-6 m.

Berdasarkan penggunaan kisi, dapat diketahui bahwa semakin besar jumlah

garis kisi/mm yang digunakan maka panjang gelombang cahaya untuk pola terang

semakin besar tetapi panjang gelombang untuk pola gelap semakin pendek.

23
Berdasarkan literatur, nilai panjang gelombang dari laser yang digunakan

sebesar 6,32 x 10-7 m. Perbedaan nilai tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya

ketelitian praktikan dalam menghitung jarak antar pola yang terbentuk pada layar

ataupun karena kurangnya keterampilan praktikan dalam menggunakan alat

24
BAB V

KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

1. Proses interferensi menyebabkan terjadinya pola terang dan gelap pada

cahaya hasil interferensi

2. Semakin jauh jarak antara kisi ke layar maka jarak antara pola terang atau

gelap juga akan semakin jauh pula.

3. Semakin besar garis kisi/mm maka jarak antar pola akan semakin besar

dan sebaliknya

4. Semakin jauh jarak kisi ke layar maka panjang gelombang untuk pola

terang semakin besar tetapi panjang gelombang pola gelap semakin

pendek

5. Semakin besar jumlah garis kisi/mm yang digunakan maka panjang

gelombang cahaya untuk pola terang semakin besar tetapi panjang

gelombang untuk pola gelap semakin pendek

6. Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan panjang gelombang

yaitu

𝑝𝑑
λ =
𝑘𝑙

5.2. Saran

Asisten sudah memberi pemahaman awal pada praktikan secara jelas dan

sitematis, disertai dengan menginformasikan tujuan diadakannya praktikum.

25
DAFTAR PUSTAKA

Cahyanti, Ratna Devi. 2012. Interferensi Celah Ganda, [online]. Tersedia:

https://id.scribd.com/doc/97395936/Laporan-Interferensi-Final. [31 Oktober

2016]

Surya, Yohanes. 2009. Optika. Tangerang: Kandel

Tim Penyusun. 2016. Modul Praktikum Gelombang dan Optik. Palu: Universitas

Tadulako

26
TUGAS AWAL 1

Pada percobaan young (celah ganda), jika jarak antara dua celahnya dijadikan dua

kali semula, maka jarak antara 2 garis gelap yang berurutan menjadi berapa kali?

Diketahui : jarak antar dua celah awal : 𝑑1 = 𝑑1

jarak antar dua garis gelap awal : 𝑝1 = 𝑝1

jarak antar dua celah akhir : 𝑑2 = 2𝑑1

Ditanya : jarak antar dua garis gelap akhir (𝑝2 ) = …?

Penyelesaian :

𝑝𝑑
= 𝑚𝜆
𝐿

𝑝1 𝑑1
= 𝑚𝜆
𝐿

𝑝2 𝑑2
= 𝑚𝜆
𝐿

𝑝1 𝑑1 𝑝2 𝑑2
=
𝐿 𝐿

𝑝1 𝑑1 = 𝑝2 𝑑2

𝑝1 𝑑1 = 𝑝2 2𝑑1

𝑝1 = 2𝑝2

1
𝑝2 = 𝑝
2 1

Jadi, jarak antara dua garis gelap akhir yaitu ½ jarak antara dua garis

gelap awal
TUGAS AWAL 2

Animasi tentang interferensi celah ganda

1. Cahaya matahari memasuki sebuah celah

2. Cahaya terdifraksi dengan muka-muka gelombang. Muka gelombang

merupakan sederetan puncak-puncak gelombang yang bergerak bersamaan

3. Cahaya kemudian memasuki celah ganda yang sempit. Pada celah ini

kembali gelombang menjadi mengalami difraksi.


4. Muka-muka gelombang yang berasal dari masing-masing celah akan

berinterferensi sehingga pada layar akan tampak pita-pita terang dan gelap

5. Garis terang, merupakan hasil interferensi maksimum. Garis gelap,

merupakan hasil interferensi minimum.

6. Untuk menyederhanakan analisis eksperimen Young, asumsikan jarak D

dari celah-celah layar begitu besar disbanding dengan jarak d diantara

celah-celah

Anda mungkin juga menyukai