Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Stimulasi

a. Definisi Stimulasi

Menurut Soetjiningsih (2010) Stimulasi adalah perangsangan

yang datangnya dari lingkungan diluar individu anak. Anak yang

banyak mendapatkan stimulasi akan lebih cepat berkembang dari pada

anak yang kurang atau bahkan tidak mendapatkan stimulasi, stimulasi

dapat juga berfungsi sebagai penguat (reinforcement).

Stimulasi kegiatan membina kemampuan dasar anak merupakan

upaya untuk mencegah kelambatan dan meningkatkan perkembangan

anak. Stimulasi pembinaan kemampuan dasar anak dilakukan sesuai

dengan tahap perkembangan, sesuai dengan umur anak. Kegiatan ini

dapat dilakukan oleh orang tua dan anggota keluarga lainnya di

lingkungan rumah tangga masing-masing dalam kehidupan sehari-hari

(Depkes,2011).

Kegiatan-kegiatan stimulasi tumbuh kembang anak tersebut

dikelompokkan dalam 4 jenis yaitu :

1) Kegiatan stimulasi kemampuan gerak halus

2) Kegiatan stimulasi kemampuan gerak kasar

3) Kegiatan stimulasi kemampuan berbicara, bahasa dan kecerdasan


4) Kegiatan stimulasi kemampuan bergaul dan mandiri

b. Prinsip Stimulasi

Stimulasi perkembangan dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai

berikut :

1) Sebagai ungkapan rasa cinta dan kasih saying, bermain dengan

anak sambil menikmati kebahagiaan bersama anak.

2) Bertahap dan berkelanjutan serta mencakup 4 bidang kemampuan

perkembangan.

3) Dimulai dari tahap perkembangan yang telah dicapai anak

4) Anak selalu diberi pujian atas keberhasilannya

5) Dilakukan dengan wajar, tanpa paksaan, hukuman atau bentakan

bila anak tidak mau.

6) Alat bantu stimulasi bila diperlukan dicari yang sederhana dan

mudah didapat.

Suasana dibuat segar, menyenangkan dan bervariasi agar

tidak membosankan (Depkes,2011).

Hal-hal yang mendukung pemberian stimulasi tumbuh

kembang :

1) Ekstra energi

Untuk bermain diperlukan energi ekstra, anak yang sakit kecil

keinginan untuk bermain.

2) Waktu

Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain.


3) Alat permainan

Untuk bermain diperlukan alat permainan yang sesuai dengan

umur dan taraf perkembangannya.

4) Ruangan untuk bermain

Ruangan tidak perlu luas dan tidak perlu ruangan khusus untuk

bermain, anak bias bermain di ruang tamu, halaman, bahkan

diruang tidurnya.

5) Pengetahuan cara bermain

Anak belajar bermain melalui mencoba-coba sendiri, meniru

teman-temannya atau diberi tahu caranya oleh orang lain.

6) Teman bermain

Anak harus merasa yakin bahwa ia mempunyai teman

bermain kalau ia memerlukan, apakah itu saudaranya, orang

tuanya atau temannya. Bila kegiatan bermain dilakukan

bersama orang tuanya, maka hubungan orang tua dengan anak

menjadi akrab dan ibu/ayah akan segera mengetahui setiap

kelainan yang terjadi pada anak mereka secara dini

(Soetjiningsih,2010).

Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila

mempertahankan kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan

tahap perkembangannya. Pada awal perkembangan kognitif,

anak berada dalam tahap sensorik motorik. Pada tahap ini


keadaan kognitif akan memperlihatkan aktifitas-aktifitas

motoriknya, yang merupakan hasil dari stimulasi sensorik

(Soetjiningsih,2010).

c. Cara stimulasi pada anak usia 4-5 tahun

1) Kemampuan gerak halus dan kecerdasan

Kegiatan yang perlu dilanjutkan : doronglah agar anak mau

bermain puzzle, balok-balok, memasukkan benda yang satu

kedalam benda lainnya dan menggambar, bantulah agar anak

memotong gambar-gambar dari majalah tua dengan gunting untuk

anak, kemudian dengan lem dan kertas ia dapat menempelkan

gambar itu pada kertas atau karton, memilih dan mengelompokkan

benda-benda menurut jenisnya, mencocokkan gambar dan benda

(Depkes,2011).

2) Kemampuan gerak kasar

Kegiatan yang perlu dilanjutkan : doronglah agar anak mau

memanjat, berlari, melompat, melatih keseimbangan badan, dan

bermain bola (Depkes,2011).

3) Kemampuan bergaul dan mandiri

Kegiatan yang perlu dilanjutkan : bujuklah dan tenangkanlah

ketika anak kecewa dengan cara memeluknya dan berbicara

kepadanya, rencanakan untuk sering-sering pergi keluar dengan

anak seperti ketempan bermain, took, kebun binatang dan lain-

lain. Cobalah untuk membuat anak mau membersihkan tubuhnya


kemudian mengelapnya dengan bantuan sedikit mungkin demikian

juga dalam berpakaian dan melakukan pekerjaan rumah tangga

yang ringan (Depkes,2011).

4) Kemampuan berbicara dan bahasa

Kegiatan yang perlu dilanjutkan : Teruslah membaca untuk anak

dan buatlah anak melihat anda membaca buku, bantulah ia

memilih acara TV dan lihatlah TV bersama anak tak lebih dari 1

jam sehari, ajarkanlah anak menyebutkan namanya, salah satu cara

untuk mengajarinya adalah menyebutkan seluruh namanya dengan

perlahan, dan mintalah ia mengulanginya dengan perlahan pula,

menyebut nama-nama benda (Depkes,2011).

d. Stimulasi dini yang dapat dilakukan orang tua dirumah pada anak usia

4-5 tahun

1) Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang

diperkirakan mampu ia kerjakan, misalnya : melompat tali, main

englek, dan sebagainya.

2) Melatih anak melengkapi gambar, misalnya : menggambar baju

pada gambar orang atau menggambar pohon, menggambar bunga

pada gambar rumah.

3) Jawablah pertanyaan anak dengan benar, jangan membohongi atau

menunda jawabannya.

4) Ajak anak dalam aktivitas keluarga seperti berbelanja kepasar,

memasak, dan membetulkan mainan (Hanawatiaj,2012).


2. Pengetahuan

a. Definisi Pengetahuan

Notoatmodjo (2010) menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan

hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan

terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui

mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang

sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt

behaviour).

Teori yang dikemukan oleh Notoatmodjo (2010) semakin banyak

informasi yang didapat maka semakin banyak pula pengetahuan yang

didapat karena informasi merupakan salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang.

Suatu perbuatan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih

langgeng daripada perbuatan yang tidak didasari oleh pengetahuan,

dan orang yang mengadopsi perbuatan dalam diri seseorang tersebut

akan terjadi proses yaitu: (1) Kesadaran (Awarenes), dimana orang

tersebut menyadari pengetahuan terlebih dahulu terhadap stimulus

(objek); (2) Merasa tertarik (Interest), dimana orang mulai tertarik

pada stimulus; (3) Menimbang-nimbang (Evaluation), merupakan

suatu keadaan mempertimbangkan terhadap baik buruknya stimulus

tersebut bagi dirinya; (4) Trial, dimana orang telah mulai mecoba
perilaku baru; dan (5) Adopsi (Adoption), dimana orang telah

berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikap.

b. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan yang dicakup di dalam

dominan kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :

1) Tahu (know)

Tahu diartikan mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Yang termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik

dari seluruh bahan yang dipelajari atau yang telah diterima. Oleh

sebab itu “tahu” itu adalah merupakan tingkat pengetahuan yang

paling rendah.

Kata kerja untuk mengukur bahwa orang berfikir tentang

apa yang dikerjakan antara lain: menyebut, menguraikan,

mengidentifikasikan, menyatakan dan sebagainya.

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang telah

paham tentang objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, meramalkan, dan sebagainya terhadap

objek yang telah dipelajari.


3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil

(sebenarnya) aplikasi disini dapat diartikan penggunaan atau

aplikasi hokum-hukum, metode, prinsip dan sebagainya dalam

konteks atau situasi lain.

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyebarkan

materi atau suatu objek kedalam komponen tetapi masih didalam

suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama

lain.

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis merujuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang

ada.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

penilaian terhadap suatu materi atau objek dan juga kriteria yang

ada.
c. Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut Natoatmodjo (2010), untuk mengetahui rasa ingin

tahunya, manusia menggunakan berbagai macam cara untuk

memperoleh kebenaran yang dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

1) Cara Tradisional

a) Cara coba salah (trial and error) yaitu cara yang paling

tradisonal, yang pernah digunakan manusia dalam memperoleh

ilmu pengetahuan adalah melalui cara coba salah atau dengan

kata lain “Trial and Erro”. Cara ini merupakan cara yang

paling tradisional, yaitu upaya pemecahan dilakukan dengan

cara coba-coba, bila satu cara tidak berhasil dicoba cara yang

lain.

b) Cara kekuasaan (otoritas), sering kita jumpai/temui dalam

kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-

kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui

penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak.

Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan secara turun

temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Pengetahuan

diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik tradisi,

otoritas pemerintah, otoritas pemimpin, agama, maupun ahli

ilmu pengetahuan.

c) Berdasarkan pengalaman pribadi merupakan guru yang paling

baik, maksud pepatah ini bahwa pengalaman merupakan


sumber pengetahuan atau pengalaman merupakan suatu cara

untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Pengetahuan

pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh

pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang

kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan

permasalah yang dihadapi pada masa lalu.

d) Melalui jalan pikiran (induksi dan deduksi) maksudnya

pengetahuan dapat diperoleh manusia dengan menggunakan

jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi yang

merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung

melalui pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan dan dicari

hubungannya, sehingga dapat dibuat kesimpulan.

2) Cara modern merupakan cara baru atau modern dalam memperoleh

pengetahuan dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara

ini disebut penelitian ilmiah atau metodelogi penelitian.

Selanjutnya diadakan penggabungan secara proses berfikir

deduktif, induktif, verifikatif, maka lahirlah suatu cara penelitian

yang dikenal dengan metode penelitian ilmiah.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010) tingkat pengetahuan seseorang

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :


1) Usia

Dengan bertambahnya usia maka tingkat pengetahuan akan

berkembang sesuai dengan pengetahuan yang pernah didapatkan

dan juga dari pengalaman pribadi

2) Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang sangat besar pengaruhnya

terhadap pengetahuan. Seseorang yang berpendidikan tinggi

pengetahuannya akan berbeda dengan orang yang berpendidikan

rendah.

3) Intelegensi

Pengetahuan yang dipengaruhi intelegensi adalah

pengetahuan dimana seseorang dapat bertindak cepat, tepat, dan

mudah dalam mengambil keputusan. Seseorang yang mempunyai

intelegensi rendah akan bertingkah laku lambat dalam mengambil

keputusan.

4) Lingkungan

Lingkungan juga berpengaruh terhadap tingkat

pengetahuan. Jika orang hidup dalam lingkungan yang berpikiran

luas, maka tingkat pengetahuan akan lebih baik dari orang yang

tinggal dalam lingkungan orang yang berpikiran sempit.


5) Pekerjaan

Seseorang yang bekerja tingkat pengetahuan akan lebih luas

daripada seseorang yang tidak bekerja karena dengan bekerja

seseorang akan mempunyai banyak informasi dan pengalaman.

e. Kategori Pengetahuan

Menurut Arikunto (2010) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan

diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :

Baik : Jika responden dapat menjawab dengan benar 76%-100%

Cukup : Jika responden dapat menjawab dengan benar 56%-75%

Kurang : Jika responden dapat menjawab dengan benar < 56%

3. Minat

a. Pengertian minat

Minat adalah disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang

mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas,

pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau

pencapaian. Hal penting pada minat adalah intensitasnya, secara

umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas

tinggi (Depdiknas,2010).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat

Menurut Sukmadinata (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi minat

yaitu :
1) Pengetahuan

pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indra

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.

2) Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang

kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah

yang dihadapi masa lalu.

3) Informasi

Informasi merupakan hasil dari pengolahan data dalam suatu

bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya

yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang

digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi merupakan

data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterpretasi

untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan.

c. Skala pengukuran minat

Menurut Damin ( 2010), jenis skala pengukuran minat yaitu dengan

menggunakan skala ordinal.


B. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual pada penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai

berikut :

Variabel Independent Variabel Dependent

Pengetahuan Orang Tua


Pemberian Stimulasi
Pertumbuhan dan
perkembangan
Minat Orang Tua

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual


C. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Hasil Ukur Skala


Ukur Ukur
1. Pengetahuan Pemahaman Mengisi Kuesioner 0:Pengetahuan Ordinal
ibu tentang Kuesioner kurang,jika
pertumbuhan responden
dan menjawab
perkembangan benar < 56 %
anak, meliputi 1:Pengetahuan
definisi dan cukup jika
cara responden
mengukur menjawab
benar 56%-
75%
2:Pengetahuan
baik jika
responden
menjawab
benar 76%-
100%
2. Minat Kemauan ibu Mengisi Check list 0: kurang,jika Ordinal
dalam check list jumlah skor <
mendorong 56 %
anak untuk 1: cukup jika
memperoleh jumlah skor
objek khusus, 56%-75%
aktivitas, 2: baik jika
pemahaman, jumlah skor
dan 76%-100%
keterampilan
untuk tujuan
atau
pencapaian
3. Pemberian Perubahan Mengisi Check list 0: kurang,jika Ordinal
Stimulasi atau check list jumlah skor <
pertumbuhan diferensiasi 56 %
dan sel menuju 1: cukup jika
perkembangan keadaan yang jumlah skor
anak lebih dewasa 56%-75%
dengan 2: baik jika
perubahan jumlah skor
sesuai dengan 76%-100%
usia anak
Tabel 2.1 Definisi Operasional
D. Hipotesis

H0 : Tidak ada hubungan pengetahuan orang tua dengan pemberian

stimulasi pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia 4-5 tahun

di TK Pembina Kota Tais Kabupaten Seluma.

H0 : Tidak ada hubungan minat orang tua dengan pemberian stimulasi

pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia 4-5 tahun di TK

Pembina Kota Tais Kabupaten Seluma

Ha : Ada hubungan pengetahuan orang tua dengan pemberian stimulasi

pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia 4-5 tahun di TK

Pembina Kota Tais Kabupaten Seluma.

Ha : Ada hubungan pengetahuan orang tua dengan pemberian stimulasi

pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia 4-5 tahun di TK

Pembina Kota Tais Kabupaten Seluma.