Anda di halaman 1dari 36

CASE REPORT

UVEITIS DAN KATARAK KOMPLIKATA

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Dokter Umum


Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pembimbing : dr. Suyatno, SpM.

Disusun Oleh :

Moh. Ilham Akbar, S.Ked

J510170090

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA

RSUD KABUPATEN IR SOEKARNO SUKOHARJO

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2018
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Nama : Sdr. A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 13 tahun
Alamat : Genten, Karanganyar

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Mata kanan tersasa nyeri dan pandangan kabur sejak 2 minggu yang lalu
Keluhan Tambahan
Kemerahan pada mata kanan dan silau
Riwayat penyakit sekarang:

Pasien datang ke poli Mata Ir Soekarno Sukoharjo dengan keluhan

penglihatan mata kanan kabur dan terasa nyeri sejak 2 minggu yang lalu.

Keluhan ini muncul secara tiba-tiba disertai dengan kemerahan pada mata

kanan. Keluhan juga disertai dengan mata sering keluar air sejak 4 hari

yang lalu disertai penglihatan yang menurun seperti ada yang menghalangi

dan silau pada mata kanan. Kadang pasien juga sering merasa pusing saat

siang hari menjelang sore hari. Oleh pasien sering di kucak. Riwayat

trauma diakui pasien mengaku mata kanan terkena jarum pentul saat

bermain pasien mengakui setelah terkena jarum mata kanan sempat

berdarah sebelumnya pasien tidak demam, batuk dan pilek. Pasien Tidak

memiliki gangguan penglihatan sebelumnya. Mata kiri pasien dirasakan

tidak memiliki kelainan.

Riwayat Penyakit Dahulu

 Pasien tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya

 Riwayat penyakit mata lainnya disangkal


 Riwayat Hipertensi disangkal

 Riwayat DM disangkal

 Riwayat penyakit sistemik lainnya disangkal

Riwayat pengobatan:

Pasien sudah berobat ke dokter umum dan diberi obat tetes dan kapsul,

namun pasien lupa nama obatnya.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Keluhan serupa disangkal, Riwayat penyakit sistemik disangkal

Riwayat Psikososial :

Merokok +, alcohol-

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Komposmentis
Tanda Vital :
TD : 120/80 mmHg
N : 84 x/menit
RR : 20x/menit
IV. STATUS LOKALIS

OD OS
2/60 Visus 5/5
Sentral Kedudukan bola mata Sentral
Baik ke segala arah Pergerakan bola mata Baik ke segala arah
Udem(-), hiperemis(-) , Palpebrae Udem(-),

Hematom- hiperemis(-) ,

Hematom(-)
Injeksi Konjungtiva (-), Konjungtiva Injeksi Konjungtiva

injeksi siliar (+), (-), injeksi siliar (-),


Jernih,Tanda radang (-) Kornea Jernih, Tanda radang

(-)
Hiperemis, kedalaman Bilik mata depan Hiperemis, kedalaman
dangkal ,cell flare + cukup
Coklat, iris reguler , kripte Iris Coklat, iris reguler,

-, sinekia posterior + kripte (n), sinekia-


Ukuran ± 2 mm, Reflek Pupil Ukuran ± 3 mm,

cahaya langsung/tak Reflek cahaya

langsung (+) lambat langsung/tak langsung

(+)
Keruh ringan Lensa Jernih
Tidak dilakukan Vitreous Humour Tidak dilakukan
6/5.5 Tonometer 5/5.5

V. RESUME

Seorang laki-laki 13 tahun datang keluhan pandan mata kanan terasa

kabur dan nyeri sejak 2 minggu yang lalu. Keluhan ini muncul secara tiba-

tiba disertai dengan kemerahan, berair, silau, pandangan seperti terhalangi

pada mata kanan.

Pada pemeriksaan, ditemukan mata kanan : visus 5/30, injeksi

siliar (+), pupil miosis anisokor, reflex pupil lambat, sinekia posterior, cell

flare+. Riwayat trauma diakui pasien mengaku mata kanan terkena jarum

pentul saat bermain pasien mengakui setelah terkena jarum mata kanan

sempat berdarah

VI. DIAGNOSA KLINIS


Uveitis anterior akut dextra
Katarak Komplikata

VII. DIAGNOSA BANDING


- Konjungtivitis akut
- Glaukoma akut
- Keratitis
VIII. PENATALAKSANAAN
Tobrosan 6 gtt
Cendrotropin 4 gtt
Amoxycilin 2x1
Lamusin 0-0-1
IX. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad sanactionam : bonam
Ad functionam : dubia
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Uveitis meliputi berbagai macam kondisi, dimana terjadi proses

inflamasi pada uvea (iris, korpus siliare, koroid) .

PATOFISIOLOGI

Dilatasi pupildiikuti eksudasiedema iris, pucat, refleks lambat

Eksudasi fibrin dan sel radang masuk ke BMD aqueous humor

keruh

Patofisiologi pasti dari uveitis belum diketahui. Secara umum, uveitis

disebabkan oleh reaksi imun. Uveitis sering dihubungkan dengan infeksi,

seperti herpes, toxoplasmois dan sifilis; ada yang menyebutkan bahwa terjadi

reaksi imun untuk melawan molekul-molekul asing atau antigen tersebut yang

juga melukai sel-sel dan pembuluh darah uvea, selain itu, uveitis juga dapat

terjadi akibat reaksi toksin dari patogen yang ada dalam tubuh tersebut.

Adanya antigen akan merangsang timbulnya proses inflamasi,

sehingga terjadi penumpukan leukosit dan molekul plasma pada tempat

terjadinya infeksi atau pada jaringan yang terluka untuk melawan antigen.

Proses ini melibatkan faktor kemotaktik, migrasi sel, adesi molekul-molekul,

peningkatan permeabilitas kapiler dan pelepasan mediator inflamasi. Proses

inflamasi tersebut seharusnya berhenti bila antigen penyebab telah


dimusnahkan. Saat proses inflamasi terjadi akibat proses imun itu sendiri,

proses yang terjadi dikendalikan oleh antigen yang mengawali terjadinya

respon semula. Situasi ini akan berakhir dengan proses inflamasi kronik

karena antigen yang ada tidak dapat dimusnahkan seluruhnya.

Uveitis juga didapatkan berhubungan dengan penyakit-penyakit

autoimun seperti SLE dan rhematoid arthritis. Pada kasus-kasus tersebut,

uveitis dapat terjadi akibat adanya reaksi hipersensitivitas yang melibatkan

pembentukan kompleks imun pada uvea.

ETIOLOGI

Penyebab uveitis anterior :

Autoimun Infeksi Keganasan Lain-lain

Arthritis reumatoid juvenile Sifilis Sindroma Idiopatik

Spondilitis ankilosa Tuberkulosis Masquerade Uveitis traumatika

Kolitis ulserativa Morbus Hansen Retinoblastoma Ablasio retina

Uveitis terinduksi lensa Herpes zoster Limfoma Iridosiklitis heterokromik Fuchs

Sarkoidosis Adenovirus Melanoma Gout

Penyakit Crohn Onkoserkiasis maligna Krisis glaukomatosiklik

Psoriasis

Penyebab uveitis posterior :

1. Infeksi

a. Virus

CMV, herpes simpleks, herpes zoster, rubella, rubeola, HIV, Epstein Barr,

virus coxsackie. Nekrosis retina akut.

a. Bakteri
Mycobacterium tuberkulosis, brucellosis, sifilis, Nocardia, Neisseria

Meningitidis, Mycobacterium avium, Borrelia

b. Fungus

Candidia, Histoplasma, Cryptococcus dan Aspergillus

c. Parasit

Toxoplasma, Toxocara, Cysticercus dan Onchocera

KLASIFIKASI

Lokasi Perjalanan Patologi Faktor

Penyakit Penyabab
Anterior Akut Granulomatosa Infeksi
Posterior Kronis Non- Autoimun

Granulomatosa
Rekuren Sistemik

Klasifikasi yang direkomendasikan oleh International Uveitis Study Group

adalah berdasarkan letak anatomis dari uvea, yaitu :

 Uveitis Anterior : Iritis, cyclitis anterior, iridocyclitis

 Uveitis Intermediate/Pars Planitis : Cyclitis posterior, hyalitis,

retinokoroiditis

Basal.

 Uveitis Posterior : Koroiditis, korioretinitis, retinokoroiditis, neurouveitis.

 Panuveitis

Klasifikasi berdasarkan patologi :

Non- granulomatosa Granulomatosa


Onset Akut Tersembunyi
Sakit Nyata Tidak ada atau ringan
Fotofobia Nyata Ringan
Penglihatan kabur Sedang Nyata
Merah sirkum corneal Nyata Ringan
Keratik presipitat Putih halus Kelabu besar
Pupil Kecil dan tidak teratur Kecil dan tidak teratur
Sinekia posterior Kadang Kadang
Nodul iris Kadang Kadang
Tempat Uvea anterior Uvea anterior dan

posterior
Perjalanan Akut Kronik
Rekurens Sering Kadang

MANIFESTASI KLINIS

- Mata seperti berpasir

- Injeksi silier

- Nyeri saat ditekan/ gerak

- Fotofobia

- Blepharospasme

- Penglihatan suram

- Palpebra bengkak

- Edema

- Hipopion

- Iris edema

- Sinekia posterior

- Pupil sempit ireguler


- Refleks pupil lambat sampai negatif

- Bilik mata keruh

UVEITIS ANTERIOR

- Uveitis pada Penyakit Persendian

Sekitar 20% anak dengan JRA menunjukkan adanya iridosiklitis non-

granulomatosa bilateral menahun. Wanita jauh lebih sering ditemukan jika

dibandingkan dengan laki-laki (4:1). Usia rata-rata uveitis terdeteksi adalah

5,5 tahun. Pada sebagian besar kasus, onset uveitis tersebut tidak tampak

nyata, uveitis ini baru disadari setelah anak tersebut mempunyai warna yang

berbeda pada kedua mata, berbeda ukuran dan bentuk pupil, atau timbulnya

strabismus.

Tanda klinis utama uveitis pada JRA ini adalah adanya sel-sel dan kilauan

merah dalam kamera anterior, presipitat keratik putih berukuran kecil sampai

sedang dengan atau tanpa bintik-bintik fibrin pada endotel, sinekia posterior,
katarak berkomplikasi, aneka bentuk glaukoma sekunder edema makular dan

keratopati pita berkapur di akhir perjalanan penyakit.

Timbulnya iridosiklitis pada arthritis reumatoid pada dewasa semata-mata

kebetulan. Pada orang dewasa, kemungkinan besar menimbulkan skleritis dan

sklerouveitis. Sayangnya sel-sel dan kilauan (flare) di aqueous humor tersebut

ditafsirkan sebagai iridosiklitis.

Sekitar 10-60% pasien dengan spondilitis ankilosa berkembang menjadi

uveitis anterior. Uveitis tampak sebagai iridosiklitis tipe non-granulomatosa

dengan injeksi siliaris, sakit, penglihatan kabur dan fotofobia. Pada

pemeriksaan mata, tampak injeksi siliar dan adanya presipitat keratik putih

halus terutama di bagian bawah (Artl’s Triangle). Sinekia posterior, sinekia

anterior perifer, katarak dan glaukoma merupakan komplikasi yang umum

terjadi setelah peradangan. Pemastian diagnosis dengan foto rontgen sendi

sakroiliaka.

Artl’s Triangle

- Iridosiklitis Heterokrom Fuch

Penyakit yang etiologinya tidak diketahui ini mencakup 3% dari semua

kasus uveitis. Iridosiklitis heterokrom Fuch adalah siklitis tenang dengan


depigmentasi iris pada mata yang sama. Secara patologis, terjadi atrofi iris dan

korpus siliare, depigmentasi berbentuk bercak lapisan berpigmen dan infiltrasi

difus limfosit dan sel plasma. Unilateral merupakan ciri khas penyakit ini.

Onset tidak jelas, tanpa rasa sakit, kemerahan maupun fotofobia. Pasien sering

tidak menyadari hingga penyakit yang terbentuk mengganggu penglihatannya.

Dengan slit lamp atau kaca pembesar akan tampak deposit putih halus

tersebar merata pada permukaan posterior kornea. Juga tampak flare dan sel-

sel dalam kamera anterior dan iris.

- Uveitis terinduksi lensa

Uveitis yang terinduksi lensa atau fakogenik adalah uveitis yang timbul

akibat reaksi autoimun sekunder terhadap antigen lensa. Kasus ini terjadi pada

pasien yang lensa matanya mengalami katarak hipermatur. Kapsul lensa bocor,

materi lensa meresap ke kamera anterior dan posterior sehingga menimbulkan

reaksi radang. Mata memerah dan sedikit sakit, pupil kecil, dan penglihatan

sangat menurun (kadang hingga hanya persepsi cahaya).

Uveitis terinduksi lensa yang lebih berat dapat timbul setelah operasi

ekstraksi lensa ekstrakapsular. Tampak banyak leukosit dan PMN dalam

kamera anterior. Matanya memerah dan sakit, dan penglihatannya menjadi

kabur.
PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI

Pemeriksaan fisik tidak jauh berbeda dengan gejala yang dapat timbul

pada uveitis, hasil pemeriksaan yang didapat bervariasi tergantung dari lokasi,

penyebab dan patogenesis dari proses inflamasi yang terjadi. Pemeriksaan

jaringan mata yang menyeluruh dapat memberikan hasil yang sangat

membantu dalam penentuan diagnosis.

Konjungtiva

Didapatkan injeksi siliar (injeksi perilimbal, kemerahan sirkumkorneal

akibat dilatasi pembuluh-pembuluh darah limbus, merupakan karakteristik

dari uveitis anterior) atau nodul (pada sarkoidosis).

 Kornea

Ditemukan adanya presipitat keratik, merupakan kumpulan sel-sel

mediator inflamasi pada permukaan endotel kornea. Presipitat tersebut

tampak berupa deposit putih halus. Presipitat keratik berukuran kecil

umumnya ditemukan pada uveitis non-granulomatosa, sedangkan presipitat

berukuran besar biasanya ditemukan pada uveitis granulomatosa, yang

dikenal dengan ”mutton fat”.


Presipitat Keratik

Presipitat keratik awal biasanya berwarna putih dan akan menjadi lebih

berpigmen dan mengkerut seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, pada

kornea dapat timbul gambaran dendrit epitel, ”geographic ulcers” atau

terdapat skar pada stroma pada kasus keratouveitis pada herpes. Mekanisme

inflamasi yang terjadi pada tingkat seluler akan menimbulkan gambaran

”cells” dan ”flare” pada aqueous humor.

Cells and Flare

Pada kasus-kasus uveitis anterior yang berat, dapat terjadi penimbunan

fibrin dan/atau pembentukan hipopion.


Hipopion

 Iris

Ditemukan sinekia anterior yaitu iris melekat pada kornea maupun sinekia

posterior yaitu iris melekat pada lensa. Bila proses berlanjut terus maka akan

timbul ”pupillary block”, ”iris bombé” dan/atau glaukoma sudut tertutup.

Iris Bombé

Terdapat nodul yang terdiri atas kelompok sel-sel putih tampak di tepian

pupil iris (Nodul Koeppe bila timbul pada batas pupil, dan Nodul Bussaca

bila timbul pada stroma iris) atau terdapat granuloma yang nyata.hal ini

terhadi pada uveitis granulomatosa. Adanya atrofi iris pada beberapa bagian

saja merupakan ciri khas pada penyakit herpes. Pada pemeriksaan pupil, akan

didapatkan pupil yang miosis.


Bussaca’s Nodules Koeppe’s Nodules

 Lensa

Pemeriksaan yang mungkin didapat adalah adanya katarak. Katarak

merupakan komplikasi yang sering timbul dalam klinis pasien uveitis.

Katarak biasanya terjadi pada uveitis yang telah berlangsung lama atau pada

uveitis dengan pemakaian kortikosteroid jangka panjang. Pada vitreous

humor, akan tampak gambaran ”snowball opacities”, berupa infiltrasi sel-sel,

yang pada umumnya terlihat pada uveitis intermediate dan sarkoidosis. Selain

itu, juga tampak adanya traksi pada retina, atau pembentukan membran

siklitik dibelakang lensa.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memastikan etiologi ,

sehingga, sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium, sebaiknya dilakukan

anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik agar dapat dilakukan pemeriksaan

penunjang yang terarah. Pemeriksaan laboratorium pada umumnya tidak

diperlukan untuk uveitis anterior, terutama jika jenisnya non-granulomatosa

dan jelas sensitif terhadap terapi non-spesifik.


Pada uveitis anterior maupun posterior yang tidak responsif terhadap

terapi, atau bila uveitis yang terjadi bilateral atau granulomatosa atau rekuren,

maka harus ditentukan diagnosis etiologinya. Pemeriksaan penunjang yang

dapat dilakukan antara lain :

 LED

 Foto Rontgen Thorax

 Titer Lyme

 Tes Mantoux

 ANA (Antinuclear Antibody)

 RPR (Rapid Plasma Reagin)

 VDRL (Venereal Disease Research Laboratory)

 PPD (Purified Protein Derivative)

 ELISA

 HLA B27

 Fluorescein angiography

 Lumbal Pungsi

 Kultur vitreous

 CT-scan dan MRI otak

Hampir semua pemeriksaan penunjang pada uveitis merupakan

pemeriksaan laboratorium khusus yang akan dilakukan hanya dengan alasan

dan indikasi yang jelas. Dengan indikasi yang jelas, maka pemeriksaan tersebut

baru akan bernilai diagnostik. Tidak ada aturan pasti yang menentukan
pemakaian pemeriksaan-pemeriksaan tersebut. Kuncinya adalah dengan

memaksimalkan kemampuan anamnesis, penilaian keseluruhan sistem tubuh

dan pemeriksaan fisik secara umum dan oftalmologik sehingga dapat

ditentukan indikasi pemeriksaan penunjang yang diperlukan.

DIAGNOSIS

Uveitis sering berhubungan dengan penyakit sistemik lainnya, oleh sebab

itu, ada baiknya dilakukan anamnesis yang komprehensif serta pemeriksaan

fisik yang menyeluruh pada setiap pasien dengan inflamasi intraokuler.

Pemeriksaan yang menyeluruh tersebut dapat membantu dalam penentuan

diagnosis yang tepat sehingga faktor penyebab dapat ditangani dengan baik.

Anamnesis : Riwayat diabetes melitus, rhematik, TB, sinusitis, abses/ karies

Pemeriksaan Fisik

Evaluasi tanda-tanda vital, periksa ketajaman penglihatan, periksa gerakan

bola mata, periksa setiap jaringan bola mata dengan slit lamp, lakukan

pemeriksaan funduskopi, dan ukur tekanan bola mata.

DIAGNOSA BANDING

Uveitis anterior Konjungitivitis Glaukoma akut

akut akut
Injeksi Silier /pericorneal Dari Kongestif

vascular fornikslimbus
Pupil Miosis ireguler Normal Paresis sfingter
pupil(iridoplegi)
Reflek Pupil + lambat + normal -
Visus << atau normal Normal Sangat menurun
TIO >> atau normal Normal >> 80 mmHg,

PAS+
Kornea Keratiitik presipitat Normal Edema

(KP)
BMD Dangkal – menutup Normal Tertutup
Sekret - + -

PENATALAKSANAAN

Tujuan utama penatalaksanaan uveitis adalah mengobati proses inflamasi

pada mata secara efektif serta meminimalkan komplikasi yang mungkin

timbul baik dari penyakitnya itu sendiri maupun dari terapi yang diberikan.

Agar tujuan pengobatan dapat dicapai, maka diperlukan pemeriksaan yang

baik, karena, beberapa kondisi memerlukan tindakan tertentu seperti

pemberian obat kortikosteroid, sedangkan pada kondisi lain tidak dianjurkan

karena penggunaan kortikosteroid jangka panjang akan menyebabkan

pembentukan katarak dan meningkatkan tekanan intraokuler.

Kortikosteroid

Kortikosteroid merupakan terapi primer pada pasien uveitis.

Kortikosteroid menekan kerja sistem imun serta memiliki efek anti-inflamasi

melalui beberapa mekanisme. Kortikosteroid dapat diberikan secara topikal,

melalui injeksi periokular atau intravitreal atau diberikan secara sistemik.

Pemberian secara topikal diutamakan pada pasien dengan uveitis anterior.

Penetrasi menuju segmen posterior pada pemberian topikal sangat buruk,


kecuali bila pasien tersebut pseudofakia atau afakia. Secara umum,

kortikosteroid yang dianjurkan pada pemberian topikal adalah prednisolon

asetat.

Steroid eyedrop 6x/ hari, tiap 3 jam ; polydex/sitro

Steroid oral (methylprednisolone) 1mg/kg (single dose). Biasanya

diberikan 18 mg 2 tablet dan distop secara tappering off.

Mydriatic dan Cycloplegic

Pengobatan topikal ini digunakan untuk mengatasi spasme siliare yang

biasanya muncul pada uveitis anterior akut dan untuk melepaskan sinekia

posterior yang terbentuk dan/atau mencegah perkembangan sinekia baru.

Midriatikum (short and Long) efek midriasis 4 jam. Pemberiannya

untuk melepas sinekia atau mencegah sinekia jika belum terbentuk.

KOMPLIKASI

- Sinekia anterior

- Sinekia posterior

- Katarakak komplikata

- Glaukoma sekunder

- Oklusi pupil
- Endoftalmitis

Sinekia Anterior Sinekia Posterior

Uveitis yang kronis dapat mengakibatkan hiposekresi dari aqueous humor,

yang berakibat menurunnya suplai nutrisi ke struktur segmen anterior, terjadu

formasi membran siklitik, dan pelepasan korpus siliaris.

Gangguan metabolisme lensa dapat menimbulkan katarak. Katarak sering

timbul pada uveitis menahun. Operasi katarak sebaiknya dilakukan 3-4 bulan

setelah uveitis tenang. Prognosis operasi katarak pada kasus demikian

tergantung pada penyebab uveitis.

Ablasio retina dapat timbul akibat traksi atau tarikan pada retina oleh

benang-benang vitreus. Edema kistoid makula dan degenerasi makula dapat

terjadi pada uveitis anterior yang beepanjangan. Kortikosteroid sistemik atau

periokular dapat digunakan untuk terapi edema makular, jika tidak berhasil,

maka dapat digunakan terapi imunosupresif. Berkurangnya penglihatan

hingga kebutaan juga merupakan salah satu komplikasi dari uveitis.

PROGNOSIS
Uveitis merupakan kondisi penyakit yang berpotensi dalam menimbulkan

kebutaan. Uveitis juga dapat berakhir dengan komplikasi yang serius pada

mata. Dengan pengobatan yang adekuat, serangan uveitis non-granulomatosa

umumnya berlangsung beberapa hari sampai minggu, namun, pasien akan

sering mengalami kekambuhan. Uveitis granulomatosa berlangsung berbulan-

bulan sampai tahunan, kadang-kadang dengan remisi dan eksaserbasi, dan

dapat menimbulkan kerusakan permanen dengan penurunan penglihatan yang

nyata walau dengan pengobatan yang terbaik sekali.

Katarak Komplikata

I. Definisi
Katarak komplikata merupakan katarak akibat penyakit mata lain
seperti radang, dan proses degenerasi (ablasio retina, retinitis pigmentosa,
glaukoma, iskemia okular, nekrosis anterior segmen, buftalmos, akibat suatu
trauma dan pasca bedah mata).

II. Etiologi
Katarak dapat diakibatkan oleh :

1. Penyakit lokal di mata seperti glaukoma, ablasio retina, uveitis,


retinitis pigmentosa, miopia maligna dan lain-lain
2. Trauma :
a. Fisik : radiasi, tembus dan tak tembus
b. Mekanis : pasca bedah dan kecelakaan
c. Kimia : zat toksik
3. Penyakit sistemik atau metabolik seperti diabetes melitus, galaktosemi
dan distrofi miotonik
4. Keracunan beberapa jenis obat-obatan (tiotepa intra vena, steroid lokal
lama, steroid sistemik, oral kontra septik dan miotika antikolinesterase)

Penyakit Lokal
Glaukoma
Glaukoma adalah sekelompok gangguan yang melibatkan beberapa
perubahan atau gejala patologis yang di tandai dengan peningkatan
tekanan intra okular ( TIO) dengan segala akibatnya. Glaukoma
memberikan gambaran klinik berupa peninggian tekanan bola
mata, penggaungan papil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.
Glaukoma dapat timbul secara perlahan dan menyebabkan
hilangnya pandangan ireversibel tanpa timbulnya gejala lain yang nyata
atau dapat timbul secara tiba-tiba dan menyebabkan kebutaan dalam
beberapa jam. Jika peningkatan TIO lebih besar dari pada
toleransi jaringan, kerusakan terjadi pada sel ganglion retina, merusak
diskus optikus sehingga menyebabkan atrofi saraf optik dan hilangnya
pandangan perifer.
Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan
keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan ini
berupa titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan katarak pungtata
subkapsular diseminata anterior atau dapat disebut menurut penemunya
katarak Vogt, bisa juga kekeruhan seperti porselen / susu tumpah di meja
pada subkpasul anterior. Katarak ini bersifat reversibel dan dapat hilang
bila tekanan bola mata sudah terkontrol
Uveitis

Seperti semua proses radang, uveitis anterior ditandai dengan


adanya dilatasi pembuluh darah yang akan menimbulkan gejala hiperemia
silier (hiperemi perikorneal atau pericorneal vascular injection).
Peningkatan permeabilitas ini akan menyebabkan eksudasi ke dalam akuos
humor, sehingga terjadi peningkatan konsentrasi protein dalam akuos
humor. Pada pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) hal ini tampak sebagai
akuos flare atau sel, yaitu partikel-partikel kecil dengan gerak Brown (efek
tyndal). Kedua gejala tersebut menunjukkan proses keradangan akut.
Pada proses peradangan yang lebih akut, dapat dijumpai
penumpukan sel-sel radang di dalam Bilik Mata Depan yang disebut hipopion,
ataupun migrasi eritrosit ke dalam bilik mata depan, dikenal dengan hifema.
Apabila proses radang berlangsung lama (kronis) dan berulang, maka sel-
sel radang dapat melekat pada endotel kornea, disebut sebagai keratic
precipitate (KP). Jika tidak mendapatkan terapi yang adekuat, proses
keradangan akan berjalan terus dan menimbulkan berbagai komplikasi.
Pada uveitis, katarak timbul pada subkapsul posterior akibat
gangguan metabolisme lensa bagian belakang. Kekeruhan juga dapat
terjadi pada tempat iris melekat dengan lensa (sinekia posterior) yang
dapat berkembang mengenai seluruh lensa. Kekeruhan dapat bermacam-
macam, dapat difus, total, atau hanya terbatas pada tempat sinekia
posterior
Retinitis pigmentosa

Miopia maligna

Miopia adalah suatu kelainan refraksi di mana sinar cahaya paralel


yang memasuki mata secara keseluruhan dibawa menuju fokus di depan
retina. Miopia umum disebut sebagai kabur jauh / terang
dekat shortsightedness).
Katarak miopia dikarenakan terjadi degenerasi badan kaca, yang
merupakan proses primer, yang menyebabkan nutrisi lensa terganggu, juga
karena lensa pada miopia kehilangan transparansi sehingga menyebabkan
katarak. Dilaporkan bahwa pada orang dengan miopia onset katarak muncul
lebih cepat.

Trauma
Fisik (Radiasi)
Secara medis mata bertugas menerima sinar, namun tidak semua
sinar baik untuk mata. Sinar yang tidak terlihat oleh mata adalah sinar
yang tidak baik. Misalnya, sinar ultraviolet dan infra merah. Keuntungan
kita adalah mata kita memiliki kemampuan untuk menahan sinar tersebut.
Namun, bila secara terus menerus terpapar sinar juga tidak baik karena
berakibat mata akan rusak. Ultraviolet merusak kornea, sedangkan infra
merah merusak lensa yang menyebabkan katarak.
Dr. Janes mengungkapkan bahwa, sinar yang tidak terlihat mata
dengan panjang gelombang di bawah 400 nm atau di atas 750nm sangat
tidak baik karena mata tidak bereaksi terhadap sinar yang tidak terlihat itu.
Contoh ekstrimnya, radiasi karena rontgen atau bomatom. Kedua hal itu,
paling berpengaruh merusak mata. Tragedi Nagasaki dan Hiroshima
diJepang, yang dalam angka menyebutkan bahwa, 10 persen penduduk
yang tinggal dalam radius 1 km yang dijatuhkan bom menderita katarak.
Fisik (Tembus dan Tak tembus)
Trauma tumpul yang mengenai mata dapat menyebabkan robekan pada
pembuluh darah iris, akar iris dan badan silier sehingga mengakibatkan
perdarahan dalam bilik mata depan. Iris bagian perifer merupakan bagian
paling lemah. Suatu trauma yang mengenai mata akan menimbulkan
kekuatan hidraulis yang dapat menyebabkan hifema dan iridodialisis, serta
merobek lapisan otot spingter sehingga pupil menjadi ovoid dan non
reaktif. Tenaga yang timbul dari suatu trauma diperkirakan akan terus ke
dalam isi bola mata melalui sumbu anterior posterior sehingga
menyebabkan kompresi ke posterior serta menegangkan bola mata ke
lateral sesuai dengan garis ekuator. Hifema yang terjadi dalam beberapa
hari akan berhenti, oleh karena adanya proses homeostatis. Darah dalam
bilik mata depan akan diserap sehingga akan menjadi jernih kembali.

Trauma pada umumnya menyebabkan katarak monookuler. Trauma


fisik baik tembus maupun tidak tembus dapat merusak kapsul lensa, cairan
COA masuk ke dalam lensa dan timbul katarak. Trauma tak tembus
(tumpul) dapat menimbulkan katarak dengan berbagai bentuk :
a. Vissous ring
Cetakan pupil pada lensa akibat trauma tumpul yang berbentuk
vossious ring yaitu lingkaran yang terbentuk oleh granula coklat
kemerah-merahan dari pigmen iris dengan garis tengah kurang lebih 1
mm. Secara normal menjadi padat sesudah trauma. Cincin vossious
cenderung untuk menghilang sedkit demi sedikit. Kekeruhan kapsul yang kecil-
kecil dan tersebar dapat ditemui sesudah menghilangnya pigmen.
b. Roset (bintang)

Katarak berbentuk roset; bentuk ini dapat terjadi segera sesudah


trauma tetapi dapat juga beberapa minggu sesudahnya. Trauma tumpul
mengakibatkan perubahan susunan serat-serat lensa dan susunan sisten
suture (tempat pertemuan serat lensa) sehingga terjadi bentuk roset.
Bentuk ini dapat sementara dan dapat juga menetap.
c. Katarak zonuler atau lamelar

Katarak Zonular dan lamelar, bentuk ini sering ditemukan pada orang
muda yang sesudah trauma. Penyebabnya karena adanya perubahan
permeabilitas kapsul lensa yang mengakibatkan degenerasi lapisan
kortek supersial. Trauma tumpul akibat tinju atau boladapat
menyebabkan robekan kapsul, walaupun tampa trauma tembus mata.
Bahan-bahan lensa dapat keluar melalui robekan kapsul ini dan bila
diabsorbsi maka mata akan menjadiafakia.
d. Katarak traumata desiminata subepitel (ditemukan oleh Vogt)

Berbentuk kekeruhan yang bercak-bercak dan terletak dibawah lapisan


epitel lensa bagian depan. Kadang-kadang kekeruhan ini bersifat
permanen dan tidak progresif. Katarak akibat trauma tembus dapat
dalam bentuk : Laserisasi yaitu robekan pada kapsul lensa. Bila kapsul
robek dan isi lensa bercampur dengan cairan aqueous dapat timbul
katarak total.

Mekanis (Pasca Bedah)


Ekstraksi katarak ekstra kapsular, yaitu mengeluarkan isi lensa
(korteks dan nukleus) melalui kapsul anterior yang dirobek (kapsulotomi
anterior) dengan meninggalkan kapsul posterior. Operasi katarak ini adalah
merupakan tehnik operasi untuk katarak Imatur / matur yang nukleus atau
intinya keras sehingga tidak memungkinkan dioperasi dengan
tehnik fakoemulsifikasi. Insisi kornea lebih kecil daripada ICCE (kira-kira
5-6mm) sehingga proses penyembuhan lebih cepat sekitar seminggu.
Karena kapsul posterior yang utuh, sehingga dapat dilakukan penanaman
lensa intraokular (IOL). Mengurangi resiko edema kornea.Kerugiannya
berupa membutuhkan alat dan tekniknya lebih sukar dibandingkan ICCE.
Penyulit pada teknik ini berupa adanya ruptur kapsul posterior, prolaps
badan kaca, hifema, peningkatan tekanan intraokular, endofthalmitis, dan
katarak sekunder.
Katarak traumatik EKEK di sebabkan karena kekeruhan kapsul
posterior akibat katarak traumatik yang terserap sebagian atau setelah
terjadinya ekstraksi katarak ekstra kapsular. Epitel lensa subkapsul yang
tersisa mungkin mencoba melakukan regenerasi serat-serat lensa, sehingga
memberikan gambaran ‘telur ikan’ pada kapsul posterior (manik-manik
Elschnig). Lapisan epitel yang berproliferasi tersebut mungkin
menghasilkan banyak lapisan, sehingga menimbulkan kekeruhan. Sel-sel
ini mungkin juga mengalami diferensiasi miofibroblastik. Kontraksi serat-
serat ini menimbulkan banyak kerutan-kerutan kecil di kapsul posterior,
yang menimbulkan distorsi penglihatan. Semua ini menimbulkan
penurunan ketajaman penglihatan setelah ekstraksi katarak ekstra kapsular.
Kimia (Zat Tosik)
Katarak toksik jarang terjadi. Banyak kasus pada tahun 1930-an
akibat penelanan dinitrofenol (obat untuk menekan nafsu makan).
Kortikosteroid merupakan bahan yang berperan untuk menghilangkan
gejala peradangan dalam waktu cepat. Namun, juga mempengaruhi proses
metabolisme tubuh, sehingga lama kelamaan mengakibatkan kekeruhan
pada lensa mata atau biasa dikenal sebagai katarak. Pemberian
kortikosteroid dalam jangka waktu lama baik dalam pemberian sistemik
maupun tetes, dapat mengakibatkan kekeruhan lensa.

Penyakit Sistemik atau Metabolik


Diabetes Melitus
Katarak diabetes merupakan katarak yang terjadi akibat adanya
penyakit diabetes melitus. Katarak bilateral dapat terjadi karena gangguan
sistemik, seperti salah satunya pada penyakit diabetes melitus. Katarak ini
dapat terjadi pada umur pubertas atau dewasa muda, tampak sebagai
kekeruhan berupa bercak-bercak salju di lensa sedangkan katarak pada
orangtua dengan diabetes, biasanya bukan katarak diabetika tetapi katarak
senilis, yang di percepat oleh diabetes melitus. Katarak pada pasien diabetes
mellitus dapat terjadi dalam 3 bentuk :
- Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada
lensa akan terlihatkekeruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut.
Bila dehidrasi lama akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan
hilang bila terjadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali.
- Pasien diabetes juvenile dan tua yang tidak terkontrol, dimana terjadi
katarak serentak pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau
bentuk piring subkapsular
- Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara
histopatologi dan biokimia sama dengan katarak pasien non diabetik.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa padakeadaan hiperglikemia
terdapat penimbunan sorbitol dan fruktosa di dalam lensa. Pada
mataterlihat peningkatkan insidens maturasi katarak yang lebih pada
pasien diabetes. Jarang ditemukan ‘true diabetic´ katarak. Pada lensa
akan terlihat kekeruhan tebaran salju subkapsular yang sebagian jernih
dengan pengobatan. Diperlukan pemeriksaan tes urine dan pengukuran
darah gula puasa.
Galaktosemia
Galaktosemia adalah penyakit yang disebabkan oleh defisiensi
galaktosa 1-fosfat uridililtransferase. Enzim ini penting untuk mengubah
galaktosa menjadi glukosa, karena laktosa yang merupakan gula utama
susu adalah disakarida yang mengandung glukosa dan galaktosa.
Galaktosemia merupakan penyakit resesif autosom pada metabolisme
galaktosa yang terdapat pada sekitar 1 dalam 60000 bayi baru lahir. Bayi
dengan galaktosemia dalam urinenya akan terdapat galaktosa, tetapi bukan
glukosa. Oleh karena itu diagnosis dapat ditegakkan dengan mencari zat
yang terdapat pada urine (galaktosa) menggunakan clini test, sedangkan
pemeriksaan glukosa dalam urine negatif.

Katarak galaktosemia di duga terjadi karena penimbunan gula dan


gula alkohol dalam lensa (terutama pada pasien hiperglikemia). Kadar
glukosa meningkat dan mendorong pembentukan sorbitol (oleh aldosa
reduktase) dan fruktosa. Akibatnya, terjadi peningkatan tekanan osmotik di
lensa. Kadar glukosa dan fruktosa yang tinggi juga menimbulkan
glikosilasi non enzimatik protein lensa. Akibat peningkatan tekanan
osmotik dan glikosilasi protein lensa, lensa menjadi tidak tembus cahaya
dan keruh yang dikenal sebagai katarak.Katarak pada bayi dengan galaktosemia
besifat reversibel dengan manajemen terapi yang lebih awal.
Tetani
Katarak komplikata akibat hipokalsemia berkaitan dengan tetani
infantile, hipoparatiroidisma karena insufisiensi glandula paratiroid. Pada
lensa terlihat kekeruhan titik subkapsular yang sewaktu-waktu menjadi
katarak lamellar. Pada pemeriksaan darah terlihat kadar kalsium turun.

III. Gejala Klinis


Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana mulai
katarak selamanya di daerah bawah kapsul atau pada lapis korteks,
kekeruhan dapat difus, pungtata ataupun linear, rosete, retikulum dan
biasanya terlihat vakuol.
Dikenal 2 bentuk yaitu bentuk yang disebabkan kelainan pada
polus posterior mata dan akibat kelainan pada polus anterior bola mata.
Katarak pada polus posterior terjadi akibat penyakit koroiditis,
retinitis pigmentosa, ablasi retina, kontusio retina dan miopia tinggi yang
mengakibatkan kelainan badan kaca. Biasanya kelainan ini berjalan aksial
dan tidak berjalan cepat didalam nukleus, sehingga sering terlihat nukleus
lensa tetap jernih. Katarak akibat miopia tinggi dan ablasi retina
memberikan gambaran agak berlainan.
Katarak akibat kelainan polus anterior bola mata biasanya
diakibatkan oleh kelainan kornea berat, iridoksiklitis, kelainan neoplasma
dan glaukoma. Pada iridoksiklitis akan mengakibatkan katarak
subkapsularis anterior. Pada katarak akibat glaukoma akan terlihat katarak
disiminata pungtata subkapsular anterior (katarak Vogt).

IV. Terapi
 Operasi
Pengobatan untuk katarak adalah pembedahan. Pembedahan
dilakukan jika penderita tidak dapat melihat dengan baik dengan
bantuan kaca mata untuk melakukan kegitannya sehari-hari. Beberapa
penderita mungkin merasa penglihatannya lebih baik hanya dengan
mengganti kaca matanya, menggunakan kaca mata bifokus yang lebih
kuat atau menggunakan lensa pembesar. Jika katarak tidak
mengganggu biasanya tidak perlu dilakukan pembedahan.
Indikasi operasi :
 Indikasi sosial : jika pasien mengeluh adanya gangguan
penglihatan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari
 Indikasi medis : bila ada komplikasi seperti glaukoma
 Indikasi optik : jika dari hasil pemeriksaan visus dengan hitung jari dari
jarak 3 m kemudiandidapatkan hasil visus 3/60
Pembedahan katarak terdiri dari pengangkatan lensa dan
menggantinya dengan lensa buatan

Pengangkatan Lensa
Ada 2 macam pembedahan yang bisa digunakan untuk mengangkat
lensa :
A.) ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction) atau EKEK
Lensa diangkat dengan meninggalkan kapsulnya. Untuk
memperlunak lensa sehingga mempermudah pengambilan lensa
melalui sayatan yangkecil, digunakan gelombang suara
berfrekuensi tinggi (fakoemulsifikasi). Termasuk kedalam
golongan ini ekstraksi linear, aspirasi dan irigasi. Pembedahan ini
dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan
endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensaintra okular,
kemungkinan akan dilakukan bedah gloukoma, mata dengan
presdiposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, sebelumnya mata
mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid makular edema, pasca
bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat
melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca.
Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat
terjadinya katarak sekunder.
B.) ICCE (Intra Capsular Cataract Extraction) atau EKIK
Ekstraksi jenis ini merupakan tindakan bedah yang umum
dilakukan pada katarak senil. lensa beserta kapsulnya dikeluarkan
dengan memutus zonula Zinn yang telah mengalami degenerasi.
Pada saat ini pembedahan intra kapsuler sudah jarang dilakukan.
Penanaman Lensa baru
Penderita yang telah menjalani pembedahan katarak biasanya
akan mendapatkan lensa buatan sebagai pengganti lensa yang telah
diangkat. Lensa buatan ini merupakan lempengan plastik yang disebut
lensa intraokular, biasanya lensa intraokular dimasukkan ke dalam
kapsul lensa di dalam mata.

DAFTAR PUSTAKA

AAO (American Academy of Ophthalmology). 2011. Cataract.


http://www.geteyesmart.org/eyesmart/diseases/cataracts.cfm (diakses tanggal
5 Desember 2011)
Benjamin J. Phil. 2010. Acute Endhoptalmitis after Cataract Surgery : 250
Consecutive Cases treated at the tertiary referral center in Netherland.
American Journal of ophthalmology. Volume 149 No.3

Hartono. Oftalmoskopi dasar & Klinis. 2007. Yogyakarta: Pustaka Cendekia


Press.

Ilyas, Sidarta Prof.dr, Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Indonesia Edisi
Ke 3 Jakarta: 2008

Khurna A.K. 2007. Community Ophthalmology in Comprehensive


Ophthalmology, fourth edition, chapter 20, new delhi, new age limited
publisher : 443-446.

Majalah Farmacia Edisi April 2008.Halaman: 66 (Vol.7 No.9)

Marylin E. Doenges. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC

Nova Faradilla. 2009. Glaukoma dan Katarak Senilis. Riau: Fakultas Kedokteran
University of Riau

Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia). 2011. Katarak.


http://www.perdami.or.id/?page=news_seminat.detail&id=2 (diakses tanggal
5 Desember 2012)

Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia, Ilmu Penyakit Mata. Sagung Seto.
Jakarta:2002

Sidarta, Ilyas. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.

Sidarta, Ilyas. 2002. Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-2. Jakarta: CV. Sagung Seto

Sidarta, Ilyas. 2006. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. pp : 205-8.

Sidarta, Ilyas. Dasar-dasar Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-3.
2009. Jakarta: Balai Pustaka FKUI

Vaughan, D. G.; Asbury, T. Oftalmologi Umum edisi 14. Widya Medika. Jakarta:
2000.