Anda di halaman 1dari 7

Pembahasan

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa pada pengamatan pertama jumlah kepadatan daphnia adalah
4 dan 3 ekor sampel. Lalu pada pengamatan kedua kepadatan daphnia menjadi 1 dan 3 ekor/
sampel. Pada pengamatan ketiga kepadatan naik sebanyak 3 dan 4 ekor/ sapel. Dan pada
pengamatan keempat kepadatan daphnia mengalami kematian yaitu sebanyak 1 dan 4 ekor/
sampel. Hal ini kemungkinan terjadi karena pada saat itu daphnia sudah mencapai fase death
phasesehingga kepadatannya menurun.

Mekanisme reproduksi Daphnia adalah dengan cara parthenogenesis. Satu atau lebih individu muda
dirawat dengan menempel pada tubuh induk. Daphnia yang baru menetas harus melakukan
pergantian kulit (molting) beberapa kali sebelum tumbuh jadi dewasa sekitar satu pekan setelah
menetas. Siklus hidup Daphnia sp. yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran
terjadi sesaat setelah telur menetas di dalam ruang pengeraman. Daphnia sp. dewasa berukuran
2,5 mm, anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai
menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Adapun umur yang dapat dicapainya 12 hari.
Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor, individu yang baru menetas
sudah sama secara anatomi dengan individu dewasa. Proses reproduksi ini akan berlanjut jika
kondisi lingkungannya mendukung pertumbuhan. Jika kondisi tidak ideal baru akan dihasilkan
individu jantan agar terjadi reproduksi seksual.

Daphnia jantan lebih kecil ukurannya dibandingkan yang betina. Pada individu jantan terdapat organ
tambahan pada bagian abdominal untuk memeluk betina dari belakang dan
membuka carapacae betina, kemudian spermateka masuk dan membuahi sel telur. Telur yang telah
dibuahi kemudian akan dilindungi lapisan yang bernama ephipium untuk mencegah dari ancaman
lingkungan sampai kondisi ideal untuk menetas.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan daphnia diantaranya:


a. Suhu
Daphnia hidup pada selang suhu 18-24 C. Daphnia membutuhkan pH yang sedikit alkali yaitu pH 6,7
- 9,2. Sepertii makluk hidup akuatik lainnya pH tinggi dan kandungan amonia tinggi dapat bersifat
mematikan bagi Daphnia.
b. Mineral dalam Air
Daphnia merupakan filter feeder yang berarti mendapat pakan melalui cara menyaring organisme
yang lebih kecil atau bersel tunggal seperti algae dan jenis protozoa lainnya. Selain itu
membutuhkan vitamin dan mineral dari air. Mineral yang harus ada dalam air adalah kalsium. Unsur
ini sangat dibutuhkan untuk pembentukan cangkangnya. Oleh karena itu, dalam wadah pembiakan
akan lebih baik jika ditambahkan potongan batu kapur, batu apung dan sejenisnya. Selain
meningkatkan pH, bahan tersebut dapat mensuplai kalsium untuk Daphnia.
c. Kadar DO
Daphnia membutuhkan suplay oksigen untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Jika oksigen
dalam perairan kurang mencukupi Daphnia akan membentuk hemoglobin. Pada kondisi tersebut
Daphnia akan berwarna merah. Kurangnya supay oksigen dapat menyebabkan kematian pada
Daphnia.

Menurut Kadarwan (1974) dalam Chumaidi (1982) kotoran ayam dianggap lebih baik daripada
kotoran kandang lainnya. Dikatakan bahwa kandungan dalam kotoran ayam adalah nitrogen 4%,
phosphor 3,2%, kalium 1,9%, dan bahan organik 74%. Hal tersebut memungkinkan daphnia untuk
mendapatkan nutrisi yang baik dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dalam berkembang biak.

1. Survival rite
Dari hasil sampling yang dilakukan selama masa pemeliharaan didapatkan hasil rata-rata tingkat
kelangsungan hidup daphnia sp. Berdasarkan hasil sampling yang dilakukan, kelangsungan
hidup daphnia sp tertinggi terdapat pada perlakuan media kotoran ayam, kemudian diikuti dengan
perlakuan limbah lel dan terendah pada tanpa perlakuan. Namun jika dibadingkan dengan jumlah
tebar diawal pemeliharaan, sangatlah sedikit. Dengan kata lain, mortalitas daphnia sp sangat tinnggi.

Rendahnya kelangsungan hidup daphnia sp. diduga karena tidak adanya phytoplankton yang hidup
pada media pemeliharaan. Hal ini disebabkan karena tsedikit adanya cahaya matahari yang
menyinari media pemeliharaan. Menurut Mokoginta, (2003) penumbuhan phytoplankton dalam
media kultur diperlukan untuk budidaya daphnia sp. karena daphnia sp. akan menggunakan
phytoplankton tersebut sebagai makanannya agar dapat tumbuh dan berkembang biak.

2. Kualitas air
Pada praktikum ini tidak dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi pH, suhu dan DO.
Pengukuran kualitas air dimaksudkan untuk mengetahui kualitas air pada media, karena salah satu
faktor pendukunga dalam keberhasilan pemeliharaandaphnia sp adalah kualitas air.
Dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan daphnia sp sesuai yang dikemukanan oleh Darmanto,
dkk (2000), daphnia spdapat hidup optimal pada pH 6,5 – 8,5.

Daphnia sp. hidup pada kisaran suhu 22 – 310C. Kisaran suhu tersebut merupakan kisaran suhu
optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan Daphnia sp. (Radini, 2006 dalam Mubarak, 2009),
dan penetasan dahpnia sp. yang baik adalah pada suhu 210C. (Gusrina, 2006 dalam Ferry, 2009).

Daphnia sp. membutuhkan suplay oksigen untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Jika
oksigen dalam perairan kurang mencukupi daphnia sp. akan membentuk hemoglobin. Pada kondisi
tersebut daphnia sp. akan berwarna merah. Kurangnya supay oksigen dapat menyebabkan kematian
pada daphnia sp.(Anonim, 2012).
Oksigen terlarut sesuai dengan Radini (2006) di dalam Mubarak (2009) bahwa, konsentrasi oksigen
terlarut yang optimal untuk kultur daphnia.
V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Kelangsungan hidup daphnia sp tertinggi terdapat pada perlakuan B (media pupuk organik).
2. Rendahnya kelangsungan hidup daphnia sp di akibatkan tidak adanya phytoplankton yang hidup
sebagai makanan bagi daphnia sp.
3. Parameter kualitas air pada media daphnia sp masih memenuhi standar optimal untuk
kelangsungan hidup bagidaphnia sp.

5.2 Saran
Untuk kegiatan praktikum budidaya pakan alami selanjutnya disarankan untuk dilakukan ditempat
yang mendapatkan cahaya matahari yang cukup.
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, Pedoman Teknis Budidaya Pakan Alami Ikan dan Udang, (Jakarta, badan penelitian dan
pengembangan pertanian, 1990).
Balai budidaya laut lampung, Budidaya Fitoplankton Dan Zooplankton (Lampung proyek
pengembangan perkayaan teknologi, 2002).
Chumaidi dan Djajadireja, 1982. Kultur Massal Daphnia sp.di Dalam Kolam Dengan Menggunakan
Pupuk Kotoran Ayam. Bull. Pen.PD.1.3(2) : 17 – 20.
Davis,C.C. 1995. The Marine and Fresh Water Plankton. Michigan State Univ.Press.
Hutabarat, S dan Evans. 1985. Kunci Identifikasi Zooplankton Daerah Tropik . UI Press: Jakarta.
Mufidah dkk. 2009. Pengkayaan Daphnia Spp. dengan Viterna terhadap Kelangsungan Hidup dan
Pertumbuhan Larva Ikan Lele Dumbo (Clarias
Gariepinus).http://journal.unair.ac.id/filerPDF/9_Naila_rev.pdf. (26 April 2010).
Mulyanto, W. 1992. Biologi laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia :Jakarta.
Nontji, Anugerah. 1993.Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan
Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology . WB Saunders Company.Phyladelphia.
Romimohtarto, Kasijan.dkk. 2007. Biologi laut . Ilmu Tentang Biota Laut.Djambatan: Jakarta.
Rostini,I.2007. Kultur fitoplankton pada skala laboratorium Unpadpress: Bandung.
Sachlan, M. 1982.Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Diponegoro:
Semarang.
Stone, D. 1997.Biodiversity of Indonesia. Singapore:Tien Wah Press.
Pembahasan
1. Survival rite

Dari hasil sampling yang dilakukan selama masa pemeliharaan didapatkan hasil
rata-rata tingkat kelangsungan hidup daphnia sp. Berdasarkan hasil sampling
yang dilakukan, kelangsungan hidup daphnia sp tertinggi terdapat pada
perlakuan B (media pupuk organik), kemudian diikuti dengan perlakuan C
(media EM4) dan terendah pada perlakuan A (tanpa perlakuan). Namun jika
dibadingkan dengan jumlah tebar diawal pemeliharaan, sangatlah sedikit.
Dengan kata lain, mortalitas daphnia sp sangat tinnggi.
Rendahnya kelangsungan hidup daphnia sp. diduga karena tidak adanya
phytoplankton yang hidup pada media pemeliharaan. Hal ini disebabkan karena
tidak adanya cahaya matahari yang menyinari media pemeliharaan. Menurut
Mokoginta, (2003) penumbuhan phytoplankton dalam media kultur diperlukan
untuk budidaya daphnia sp. karena daphnia sp. akan menggunakan
phytoplankton tersebut sebagai makanannya agar dapat tumbuh dan
berkembang biak.
2. Kualitas air

Pada praktikum ini juga dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi pH,
suhu dan DO. Pengukuran kualitas air dimaksudkan untuk mengetahui kualitas
air pada media,karena salah satu faktor pendukunga dalam keberhasilan
pemeliharaan daphnia sp adalah kualitas air. Hasil pengukuran kualitas air
dapat dilihat pada Tabel 2.
 pH
Hasil pengukuran pH pada media berkisar antara 7,5 – 8, 29 yang berarti masih
dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan daphnia sp sesuai yang dikemukanan
oleh Darmanto, dkk (2000), daphnia sp dapat hidup optimal pada pH 6,5 – 8,5.
 Suhu
Daphnia sp. hidup pada kisaran suhu 22 – 31 C. Kisaran suhu tersebut
0

merupakan kisaran suhu optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan Daphnia


sp. (Radini, 2006 dalam Mubarak, 2009), dan penetasan dahpnia sp. yang baik
adalah pada suhu 21 C. (Gusrina, 2006 dalam Ferry, 2009). Sedangkan hasil
0

pengukuran suhu yang dilakukan berkisar antara 26 – 26,2 C yang berarti masih
0

berada dalam kisaran suhu optimum.


 DO
Daphnia sp. membutuhkan suplay oksigen untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakannya. Jika oksigen dalam perairan kurang
mencukupi daphnia sp. akan membentuk hemoglobin. Pada kondisi
tersebut daphnia sp. akan berwarna merah. Kurangnya supay oksigen dapat
menyebabkan kematian pada daphnia sp. (Anonim, 2012).
Oksigen terlarut dari pengukuran kualitas air berkisar antara 5,05 – 5,35 mg/l,
hal ini sesuai dengan Radini (2006) di dalam Mubarak (2009) bahwa,
konsentrasi oksigen terlarut yang optimal untuk kultur daphni.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Kelangsungan hidup daphnia sp tertinggi terdapat pada perlakuan B (media


pupuk organik).
2. Rendahnya kelangsungan hidup daphnia sp di akibatkan tidak adanya
phytoplankton yang hidup sebagai makanan bagi daphnia sp.
3. Parameter kualitas air pada media daphnia sp masih memenuhi standar
optimal untuk kelangsungan hidup bagi daphnia sp.
B. Saran
Untuk kegiatan praktikum budidaya pakan alami selanjutnya disarankan untuk
dilakukan ditempat yang mendapatkan cahaya matahari yang cukup.

DAFTAR PUSTAKA
Adi Kharisma Ryan, 2006. Pengaruh Penambahan Aktif EM4 Dan Kotoran Ayam
Pada Kompos Alang-Alang (Imperata cylindrica) Terhadap Pertumbuhan Semai
Gmelina arborea. Program Studi Budidaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor. 68 Halaman.

Anonim. 2011. http://pobersonaibaho.wordpress.com/2011/03/08/daphnia-sp-


klasifikasi-morfologi-reproduksi-bacillus-subtilis-bakteri-nitrifikasi-sistem-
kultur-zooplankton-parameter-kualitas-air/. Diakses tanggal 3 Januari 2013.
. 2012. http://seputarperikanan.blogspot.com/2012/03/cara-budidaya-
daphnia-pakan-alami.html. Diakses tanggal 3 Januari 2013.
Darmanto, dkk. 2000. Budidaya Pakan Alami Untuk Benih Ikan Air Tawar.
Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Instalasi Penelitian Dan
Pengkajian Teknologi Pertanian. Jakarta.
Ferry. 2009. http://ferryaquakulture.blogspot.com/2009/04/budidaya-ikan-
mas-sinyonya.html?m=1,. Diakses tanggal 3 Januari 2013.
Mubarak Shofy et.al. 2009. Pemberian Dolomit Pada Kultur Daphnia
sp. Sistem Daily Feeding Pada Populasi Daphnia sp. Dan Kestabilan Kualitas Air.
Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol.1 No.1. 6 Halaman.
Sulasingkin Dewi, 2003. Pengaruh konsentrasi Ragi Yang Berbeda Terhadap
Pertumbuhan Populasi Daphnia sp.Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas
Perikanan Dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 41 Halaman.