Anda di halaman 1dari 7

Paper Competition GFest 2017

API-SM UPN “Veteran” Yogyakarta

IDENTIFIKASI VULKANIK UNTUK MENGETAHUI POTENSI GEOTHERMAL SISTEM


PADA DAERAH JARANG MANIFESTASI PERMUKAAN KOMPLEKS GUNUNG
LAMONGAN, JAWA TIMUR : SOLUSI PENINGKATAN CADANGAN ENERGI
BERSIH DAN TERBARUKAN

Luvian Elsandy Purnomoa, Muhammad Fakhrun Abdillahb


a,b
Institut Teknologi Bandung
a
luviansandy@gmail.com, babdillahfakhrun@gmail.com

ABSTRAK
Peningkatan konsumsi energi fosil setiap tahun yang tidak diimbangi dengan peningkatan cadangan terbukti
telah mengakibatkan defisit energi sejak tahun 2002 karena 95% energi nasional berasal dari energi fosil. Selain risiko
defisit, dampak penggunaan energi fosil yang berkepanjangan dapat mengakibatkan polusi CO 2, CO, SO2, SO3, serta
TEL. Dewan Energi Nasional memproyeksikan kebutuhan energi Indonesia pada tahun 2025 sebesar 23% dari energi
terbarukan, untuk mengimbangi proyeksi kebutuhan tersebut diperlukan peningkatan cadangan energi bersih dan
terbarukan. Geotermal sebagai salah satu sumber energi bersih dan terbarukan memerlukan peningkatan eksplorasi
yang umumnya diawali dengan survei manifestasi permukaan. Namun, kasus berbeda dijumpai pada Kompleks
Gunung Lamongan (KGL) yang jarang memiliki manifestasi permukaan, sehingga diperlukan identifikasi vulkanik
untuk mengetahui potensi geotermal dengan mengkaji kondisi sumber magma, kondisi hidrogeologi, serta analisis
vulkano-stratigrafi. KGL merupakan bagian dari rangkaian gunung api busur Sunda yang terdiri dari monogenetic
vent field dengan puluhan individual eruptive centers yang mengindikasikan dapur magma berumur panjang.
Manifestasi permukaan KGL berada di Sungai Tancak sekitar 8 km sebelah timur puncak Gunung Lamongan yang
menunjukkan temperatur mata air panas berkisar antara 350C sampai 420C sehingga diketahui temperatur reservoir
melalui pengukuran chalcedony geothermometer sebesar 1300C. Data manifestasi permukaan tidak cukup baik untuk
mengindikasikan temperatur reservoir sebagai syarat komponen geotermal sistem (T>500C, Treservoir sekitar 2300C).
Penemuan terbaru mengindikasikan bahwa dapur magma terletak di barat laut puncak Gunung Lamongan dengan
kedalaman 4,2 km sehingga di daerah manifestasi permukaan Sungai Tancak tidak cukup baik untuk
merepresentasikan kondisi reservoir dan sumber magma. Berdasarkan data erupsi historis dan pre-historis, produk
erupsi berupa perulangan lava basaltik dan piroklastik yang cukup tebal yang mengindikasikan sistem reservoir dan
caprock yang cukup baik. Deteksi aliran fluida melalui passive seismic signal oleh Kusuma (2016) menunjukkan
bahwa aliran fluida intensif pada daerah barat laut sampai tenggara memotong puncak Gunung Lamongan. Sebagai
kesimpulan, potensi geotermal pada KGL berada di barat laut sampai tenggara memotong puncak Gunung Lamongan.
Lebih lanjut, identifikasi vulkanik dapat menjadi solusi untuk mengetahui potensi geotermal pada survei pendahuluan
di daerah jarang manifestasi permukaan guna meningkatkan cadangan energi bersih dan terbarukan di Indonesia.
Terakhir, perlu dilakukan studi lain yang lebih intensif untuk mengatahui potensi geotermal di KGL secara kuantitatif.

Kata kunci: identifikasi vulkanik, manifestasi permukaan, kompleks gunung lamongan.

hanya akan berumur 12 tahun untuk minyak, 33 tahun


1. PENDAHULUAN untuk gas bumi dan 88 tahun untuk batubara
mengingat tidak ada penambahan cadangan terbukti
Peningkatan konsumsi energi fosil setiap tahun yang
secara signifikan. (Rencana Umum Energi Nasional
tidak diimbangi dengan peningkatan cadangan dalam Lamp. Peraturan Presiden No 22 Tahun 2017).
terbukti telah mengakibatkan defisit energi sejak tahun Dampak lain dari penggunaan energi fosil yang
2002 karena 95% energi nasional berasal dari energi
berkepanjangan adalah emisi gas rumah kaca yang
fosil. Potensi energi fosil Indonesia diperkirakan
relatif meningkat. Dewan Energi Nasional
1
memproyeksikan kebutuhan energi Indonesia pada
tahun 2025 sebesar 23% dari energi terbarukan, untuk
mengimbangi proyeksi kebutuhan tersebut diperlukan
peningkatan cadangan energi bersih dan terbarukan.
Geotermal sebagai salah satu sumber energi bersih dan
terbarukan memerlukan peningkatan eksplorasi yang
umumnya diawali dengan survei manifestasi
permukaan. Namun, kasus berbeda dijumpai pada
Kompleks Gunung Lamongan (KGL) yang jarang
memiliki manifestasi permukaan, sehingga diperlukan
identifikasi vulkanik untuk mengetahui potensi
geotermal dengan mengkaji kondisi sumber magma,
kondisi hidrogeologi, serta analisis vulkano-
stratigrafi. Gambar 1 : Peta Jawa timur menunjukkan lokasi kompleks
Gunung Lamongan. (Hak cipta pada Carn, 2000)

Kompleks Gunung Lamongan. KGL mencakup luas


2. METODOLOGI PENELITIAN area 260 km2 yang terdiri dari banyak pre-historis
Penelitian ini meliputi 3 hal yaitu analisis kondisi maupun historis pusat erupsi (Bronto, 1985). Gunung
sumber magma, analisis kondisi reservoir, dan analisis Lamongan sebagai pusat erupsi historis terletak di
kondisi aliran fluida. Analisis kondisi sumber magma bagian selatan dari puncak Kompleks Gunung
dilakukan dengan analisis produk morfologi kompleks Lamogan. Kedua pre-historis pusat erupsi, Gunung
gunung lamongan yang berdasarkan peta gunung api Tarub di sebelah barat dan Gunung Tjupu di sebelah
Bronto (1980) dan peta geologi regional bersumber utara, melengkapi kesatuan pusat erupsi sebagai
dari Bemellen (1946), analisis sumber magma juga (Lamongan-Tarub-Tjupu atau LTT) (Carn. 2001). Ciri
dilakukan dengan analisis karakteristik lava lamongan lain dari KGL adalah keterdapatan 61 cinder cones
muda berdasarkan analisis petrografi Carn (2000). dan 29 maars yang mengindikasikan tipe letusan pre-
Studi literatur seperti pemetaan potensi air panas Tiris historis bertipe phreato-magmatic.
oleh Deon (2015), InSAR analisis oleh Chaussard
(2008) serta POLSAR analisis oleh Phillibosian
(2011). Analisis kondisi reservoir menggunakan data
peta gunung api Bronto (1980). Sedangkan analisis
kondisi fluida dilakukan dengan melihat pola aliran air
tanah tertekan dan air tanah tidak tertekan yang
bersumber dari peta hidrogeologi cekungan air tanah
Probolinggo. Studi literatur juga digunakan untuk
meyakinkan hipotesa dalam menganalisis aliran fluida
seperti data passive seismic signal KGL oleh Kusuma
(2015).

3. GEOLOGI REGIONAL
Kompleks Gunung Lamongan (KGL) yang menjadi
daerah penelitian merupakan bagian sebelah selatan
dari Kabupaten Probolinggo dan sebelah utara
Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Indonesia. Lokasi Gambar 2 : Peta menggambarkan distribusi eruptive vents,
tersebut terletak pada 8.000S, 133.3420E dengan cinder cones, dan maars di KGL, Jawa Timur
(diadopsi dari Carn. 2000)
ketinggian 1651 m (Carn, 2000). Kompleks Gunung
Lamongan berada di lembah antara masif kaldera
Kompleks Gunung Lamongan (KGL) termasuk dalam
Tengger-Semeru di sebelah barat dan Iyang- Argapuro
Blitar sub-zona, Solo zona yang merupakan bagian
di sebelah timur.
dari rangkaian busur holosen vulkanik sunda di Jawa
Timur (Bemmelen, 1946). Busur vulkanik sunda
terbentuk akibat subduksi lempeng Indo-Australia
terhadap lempeng Eurasia sekitar 5 juta tahun yang
lalu, walaupun aktivitas vulkanik baru terbentuk pada
akhir eosen (Hamilton, 1979; Rangin et al, 1990
dalam Carn, 2001). Vulkanik kuarter umumnya

2
menutupi lapisan vulkanik akhir pliosen-miosen atau Temperatur permukaan tanah KGL yang diukur oleh
sedimen di bawahnya (Atmaja, 1994 dalam Carn, Danu (2012) memiliki korelasi positif terhadap
2001). Perubahan ketebalan kerak benua dari ketinggian setelah dikoreksi oleh faktor vegetasi.
Sumatera hingga menjadi kerak samudera di Flores Namun, anomali temperatur permukaan tanah terjadi
mengakibatkan perubahan karakteristik gunung api pada bagian timur dan barat laut yang memiliki
sepanjang busur vulkanik Sunda (Whitford et al. 1979 temperatur lebih hangat dari area sekitarnya. Anomali
dalam Carn, 2001). Silisik vulkanisme di Sumatera tersebut berkaitan dengan aktivitas sumber magma.
berubah secara berangsur menjadi mafik-intermediet
vulkanisme di Jawa hingga basaltik Vulkanisme di
Flores ( Hamilton, 1988 dalam Carn, 2001). Diketahui
bahwa tektonik struktur berada di bawah volkanik
(Chotin et al., 1980), terlebih sinoptik radar
menggambarkan bukti regional sesar barat laut-
tenggara (Carn, 1999).

4. HASIL

4.1. Kondisi Sumber Magma


Kompleks Gunung Lamongan (KGL) adalah bagian
dari rangkaian busur Sunda yang berlokasi di Kendeng
basin, Jawa Timur (Smyth, 2008). Anomali negatif
dari Kendeng basin sebagai basement dari KGL
Gambar 3 : Peta distribusi panas permukaan tanah (Sumber
(Sandwell, 1997) mengindikasikan regime extension data : Kukuh Danu. 2012, digunakan atas izin)
pada sudut yang curam dari busur, hal yang biasa
terjadi pada banyak batas konvergen (Apperson, Interferometric synthetic aperture radar (InSAR)
1991). Dalam tatanan tektonik tersebut, penipisan dan analisis oleh Chaussard (2008) menunjukkan bahwa
fracture pada kerak mengizinkan magma naik untuk selama 2007-2008 KGL memiliki aktivitas uplift
erupsi sampai ke permukaan. Perjalanan magma yang dengan rata-rata 12 cm/bulan di bagian utara dari
relatif cepat ke permukaan menunjukkan dapur puncak yang mengindikasikan suplai magma yang
magma yang berumur panjang dan biasanya relatif stabil. Model konseptual oleh Chaussard (2008)
membentuk monogenetic vent field dilengkapi menunjukkan bagaimana setting tektonik
puluhan hingga ribuan individual eruptive center menyebabkan kenaikan magma di kerak bagian atas
(seperti cinder cones dan maars) pada KGL (Knittel, yang menunjukkan dapur magma terletak pada
1995 dalam Chaussars, 2001). Berdasarkan analisa kedalaman 3.4 km termasuk dalam dapur magma
petrografi pada sampel lava lamongan muda KGL, dangkal. PALSAR analisis oleh Philibosian (2011)
menunjukkan adanya shieve texture dan reabsorption menunjukkan bahwa sumber magma terletak di barat
features pada mineral plagioklas yang laut dari puncak KGL dengan area berbentuk
mengindikasikan ketidakstabilan temperatur dan lingkaran.
tekanan pada lingkungan pembentukan lava sebagai
hasil dari adanya aktivitas pengisian kembali dapur
magma secara kontinu (Nelson, 1992 dalam Gill,
2010).

Manifestasi permukaan KGL terletak di sungai


Tancak, Desa Tiris sekitar 8 km dari puncak Gunung
Lamongan. Identifikasi sampel mata air panas oleh
Deon (2015) menunjukkan temperatur berkisar antara
350C sampai 420C atau sekitar 100C lebih hangat dari
mata air sekitarnya. Sedangkan, temperatur air di maar
sama dengan temperatur air tanah sekitarnya (Deon.
2015). KGL mungkin menunjukkan potensi
sumberdaya geotermal, meskipun tidak diekspresikan
dengan baik oleh manifestasi permukaan seperti
temperatur mata air panas >500C, steam ground, dan
chalcedony geothermometer yang hanya mencapai
1300C (Deon. 2015).

3
kedap-cahaya serta kaca gunung api yang telah
lapuk.

3. Lapisan berikutnya terdapat endapan maar


Lamongan (Lma) dan Lava luar pusat erupsi tarub
(Tel) yang hanya tersebar pada titik/ area tertentu.
Lma tersebar di bagian barat sebanyak 11 tempat,
bagian utara sebanyak 4 tempat, bagian timur
sebanyak 6 tempat, bagian selatan sebanyak 6
tempat, dengan luas 0,2-2,9 km persegi. Penyusun
endapan Lma terdiri dari batuan samping yang di
ledakkan kembali bercampur dengan magma baru,
ketebalan rata-rata 50 m, berstruktur sedimen,
berbutir halus sampai kasar, meruncing, basaltik.
Tel merupakan Lava luar pusat tarub yang tersebar
di bagian barat sebanyak 11 lokasi, bagian selatan
1 lokasi, yang bervariasi dengan luas 2,64-29,7 km
persegi, lava jenis basal piroksen, merah-hitam,
Gambar 4 : InSAR dan PALSAR analisis dari KGL; a. Insar hipokristalin, vitrovirik – porfiro-afanitik, fenokris
Analisis; b. PALSAR analisis yang menunjukkan plagioklas labradorit (An54-62), piroksen, olivine
lokasi sumber magma; c. Aktivitas uplift dari KGL; dan mineral kedap cahaya dalam masa dasar
d. Model kedalaman sumber magma (Sumber data : mikrokristalin dan kaca gunung api.
Chaussard. 2008; Philibosian. 2011 )
Fracture modeling menggunakan metode azimuthal
resistivity sounding pada KGL menunjukkan adanya 4. Lapisan berikutnya terdapat Tarub lava muda
fracture dengan arah N3300E, model konseptual (Tlm) yang tersebar di tenggara, timur, timur laut
bawah permukaan dibuat sebagai hasil dari ARS pusat erupsi gunung tarub pada koordinat
(Martha. 2012). 9114000m-9120000m;759000m-762000m dengan
luas area 60,44 km persegi. Lava andesit-basaltik,
abu-abu, pirofirik, terdiri atas labradorit-andesin
4.2. Kondisi reservoir
plagioklas, olivin, piroksen, dan gelas vulkanik.
Secara umum untuk mengetahui susunan reservoir
maka perlu untuk memahami volkanostratigrafi. 5. Diatas lapisan tersebut terdapat Tlsm yang
Volkanostratigrafi gunung Lamongan terdiri dari merupaka lava letusan samping muda yang
lapisan pre-historis yang aktivitasnya tidak terekam, tersebar di 2 lokasi, yaitu lokasi 1 pada koordinat
tetapi produknya dapat diidentifikasi (Gunung Tarub) 760000m-716000m;9113500m-9115000m dengan
serta lapisan historis yang aktivitasnya terekam luas area 2,82 km2 persegi dan lokasi 2 berada pada
(Gunung Lamongan). Berdasarkan peta geologi koordinat 762000m-763000m;9115400m-
Bronto (1985) susunan stratigrafi vulkano sebagai 9116500m dengan luas area 3,79 km2. Lava basal
berikut: piroksen, abu-abu kehitaman, holokristalin porfiro-
afanitik, massa dasar mikrokristalin, fenokris
1. Lapisan paling bawah merupakan Tarub lava tua plagioklas, piroksen, olivin, dan mineral kedap
(Tlt) yang berumur Tarub vulkano tua yang cahaya.
tersebar di barat laut, barat, dan timur laut puncak
KGL dengan luas area 608.375 km2. Berupa lava 6. Lapisan berikutnya merupakan Llt (lava tua
basal berwarna hitam sampai hitam keabu-abuan, Lamongan) terletak di koordinat 755000m-
pada bagian dasarnya membreksi merah coklat, 759000m; 9114000m-9117000m dengan luas 68,9
hipokristalin porfiro afanitik, tersusun oleh km2, jenis litologi basal, permukaan hitam sampai
plagioklas labradorit (An52-62), mineral kedap kemerah-merahan, hipokristalin, vitrovirik dengan
cahaya, kaca gunung api, olivin, dan piroksen. fenokris plagioklas labradorit (An54), mineral
kedap cahaya, olivine, dan piroksen, dalam massa
2. Lapisan di atasnya merupakan Tarub piroklastik dasar kaca gunung api dan mikrokristalin.
dengan ketebalan bervariasi antara 5-50 m yang
tersebar di timur, timur laut, barat laut, barat, dan 7. Diatas lapisan tersebut terdapat Llm (lava muda
barat daya dengan luas 64,76 km persegi. Litologi Lamongan) dengan luas 17,67 km2. lava basal
tuf hablur berwarna kuning coklat, padat, sangat olivin, abu-abu hitam, hipokristalin vitrovirik
lapuk, berlapisan tebal setiap lapisan. Tampak dengan susunan plagioklas, kaca gunung api,
pejal, tersusun oleh piroksen, plagioklas, mineral olivin, piroksen, dan mineral kedap cahaya.
4
4.3. Kondisi aliran fluida Berdasarkan data peta hidrogeologi yang disusun oleh
Maar pada KGL sebagai kawah dangkal dengan sisi Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Direktorat
yang curam menunjukkan erupsi eksplosif di tempat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Kompleks
dimana maar terbentuk. Phreatomagmatic explosion Gunung Lamongan termasuk dalam wilayah cekungan
merupakan efek dari kontak magma-air yang air tanah Probolinggo yang memiliki sistem air tanah
mengindikasikan keberadaan muka air tanah dangkal tidak tertekan dengan kedalaman kurang dari 50 meter
ketika maar terbentuk bawah muka tanah (mbmt) dan sistem air tanah
tertekan pada kedalaman 50-80 mbmt. KGL
merupakan daerah imbuh bagi cekungan air tanah
probolinggo di sebelah utara. Muka air tanah tertekan
diperkirakan sebagai fluida yang mengalir dari daerah
imbuh dan bereaksi dengan sumber magma disebelah
barat laut sampai keluar sebagai mata air panas di
Tiris. Muka air tanah tertekan memiliki laju aliran 104
juta m3/tahun dari daerah imbuh ke daerah limpasan.
Dengan demikian air tanah tertekan yang berada di
lapisan piroklastik cukup tebal merupakan potensi
fluida pengisi reservoir yang dapat dimanfaatkan
sebagai komponen geotermal sistem.

Gambar 5 : Mekanisme pembentukan maar (Hak cipta pada


USGS. 2008)

Gambar 6 : Peta Cekungan Air Tanah Probolinggo (Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral. 2000)

5
Analisis passive seismic signal oleh Kusuma (2015) 5. DISKUSI
pada KGL diguakan untuk mengetahui rekaman aliran
Kompleks Gunung Lamongan memiliki karakteristik
fluida bawah permukaan. Berdasarkan hasil analisis
dapur magma yang berumur panjang, hal tersebut
yang dilakukan pada 9-12 Mei 2014, menunjukkan
karena proses pengisian kembali dapur magma yang
daerah aliran fluida secara kontinu pada NW-SE area
berlangsung secara kontinu sehingga panas yang
KGl seperti pada gambar 7.
dihasilkan cukup baik sebagai potensi geotermal.
Manifestasi permukaan pada KGL terletak di sungai
Tancak 8 km sebelah timur puncak gunung lamongan.
Akan tetapi, menurut analisis geokimia Deon (2015)
manifestasi permukaan tidak cukup baik untuk
mengekspresikan kondisi komponen geotermal sistem
seperti temperatur mata air panas >500 0C, steam
ground, dan geothermometer chalcedony yang hanya
mencapai 1300 0C. Hal tersebut diakibatkan karena
jarak manifestasi permukaan yang cukup jauh dari
sumber magma. Letak sumber magma menurut
analisis InSAR Chaussard (2008) berada di barat laut
4 km dari puncak KGL dengan kedalaman 3,4 km
dengan area berbentuk circular Phillibosian (2011).
Hasil pengukuran thermal ground oleh Danu (2012)
juga mengungkapkan bahwa terdapat anomali panas di
NW-SE puncak KGL setelah dikoreksi oleh faktor
Gambar 7 : Area aliran fluida berdasarkan passive seismic vegetasi.
signal (Hak cipta pada Kusuma, 2015) Tipe erupsi Kompleks Gunung Lamongan yang
bervariasi menimbulkan produk erupsi yang
kompleks. Secara umum KGL merupakan perulangan
antara lava basaltik yang kaya unsur Fe dan piroklastik
yang cukup tebal. Lapisan paling bawah merupakan
Tarub lava tua (Tlt) diendapkan pada area barat laut
dan barat yang kaya akan mineral mafic sebagai media
konduksi yang baik. Lapisan tersebut ditutupi oleh
Tarub piroklastik (Tp) di seluruh bagian tubuh gunung
dengan porositas yang tinggi dan mencerminkan
reservoir yang baik. Lapisan berikutnya adalah Tarub
lava tua yang kaya mineral mafik, disambung oleh
lapisan teratas adalah Lamongan lava muda ( Llm)
yang retak pada beberapa bagian dengan tekstur glassy
sebagai cap rock yang bagus.
Mekanisme pembentukan maar menunjukkan muka
air tanah yang cukup dangkal pada KGL. KGL
merupakan daerah imbuh bagi cekungan air tanah
probolinggo disebelah utara. Muka air tanah tertekan
diperkirakan sebagai fluida yang mengalir dari daerah
imbuh dan bereaksi dengan sumber magma disebelah
barat laut sampai keluar sebagai mata air panas di
Tiris. Muka air tanah tertekan memiliki laju aliran 104
juta m3/tahun dari daerah imbuh ke daerah limpasan.
Dengan demikian air tanah tertekan yang berada di
Gambar 8 : Rekaman aliran fluida berdasarkan passive seismic
lapisan piroklastik cukup tebal merupakan potensi
signal (Hak cipta pada Kusuma.2015) fluida pengisi reservoir yang dapat dimanfaatkan
sebagai komponen geotermal sistem. Analisis passive
seismic signal oleh Kusuma (2015) pada KGL
digunakan untuk mengetahui rekaman aliran fluida
bawah permukaan. Berdasarkan hasil analisis yang
dilakukan pada 9-12 Mei 2014 menunjukkan daerah
aliran fluida secara kontinu pada NW-SE area KGL.

6
6. KESIMPULAN Kusuma, P. 2015. “Application of Ensemble Empirical
Mode Decomposition the Passive Seismic Signal
Kompleks Gunung Lamongan memiliki karakteristik
for Identification of Hydrothermal Activity Signal,
dapur magma yang berumur panjang, hal tersebut
Case Study: Mt. Lamongan, East Java”.
karena proses pengisian kembali dapur magma yang
Melbourne: Preceeding World Geothermal
berlangsung secara kontinu sehingga panas yang
Congress
dihasilkan cukup baik sebagai potensi geotermal.
Letak sumber magma berada di barat laut 4 km dari Phillibosian, Belle dkk. 2011. “A Survey of Volcanic
puncak KGL dengan kedalaman 3.4 km dengan area Deformation on Java using ALOS POLSAR
berbentuk circular. Kondisi reservoir berupa Interferometric Time Series”. AGU and
piroklastik yang ditutupi oleh hamparan lava basaltik Geochemical Journal Vol.12 hal. 525-546
mengindikasikan kondisi reservoir yang cukup baik
untuk mengalirkan panas. Aliran fluida intensif berada Utama, W. 2012. “Fracture Modelling Using
di NW-SE KGL dengan kedalaman 50-80 meter Azimuthal Resistivity Sounding Method In
dengan laju aliran 104 juta m3/tahun. Dengan Geothermal Manifestation of Gunung Lamongan,
demikian KGL memiliki potensi geothermal yang East Java”. Proceeding ITB Geothermal 2012
cukup baik untuk dimanfaatkan berdasarkan
identifikasi vulkanik walaupun memiliki manifestasi
permukaan yang jarang.

DAFTAR PUSTAKA

Baubron, J. C., Sabroux, J. C., and Bourdan. 1988.


Methodology for The Geochemically Monitoring
of an Active Volcano in Dormant Phase
Lamongan (East Java). Bandung : Volcanological
Survey of Indonesia
Bronto, S. Peta Gunung Api Lamongan. 1980.
Bandung : Pusat Survei Geologi.
Carn, S. A. 1999. “The Lamongan Volcanic Field,
East Java, Indonesia : Physical Activity, Hystoric
Activity, and Hadzard.” Journal of Geothermal
and Volcanology Vol. 95 (2000) hal. 81-108
Carn, S. A. 2001. “Petrology and Geochemistry of the
Lamongan Volcanic Field, East Java, Indonesia:
Primitive Sunda Arc Magmas in an Extensional
Tectonic Setting?” Journal Petrology 2001
Chaussard, E. and Amelung, F. 2012. “Precursory
Inflation of Shallow Magma Reservoirs at West
Sunda Volcanoes detected by InSAR.”
Geophysical Research Journal Vol. 39 hal 311-
345
Deon, F. 2015. “Geochemical/Hydrochemical
Evaluation of the Geothermal Potential of the
Lamongan Volcanic Field (Eastern Java,
Indonesia)”. Springer Journal Vol.3 Hal 20-41
Deon, F. 2015. “Greenfield Exploration of Hidden
MagmaticallyDriven Geothermal System in
Active Subduction Zone: Case Study Volcanic
Field (Eastern Java, Indonesia)”. Proceeding
World Geothermal Congress 2015