Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang
Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan Nasional dilaksanakan
secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat secara menyeluruh. Salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna
tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk
agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kwalitas
pelayanan dan pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan.Upaya kesehatan merupakan usaha
kesehatan yang menyeluruh yang menyangkut upaya peningkatan kesehatan (Promotif ) Pencegahan
penyakit (Preventif ) Penyembuhan penyakit (Kuratif ) dan pemulihan kesehatan (Rehabilitasi ).

Puskesmas merupakan unit pelaksana pembangunan kesehatan diwilayah kecamatan yang


berfungsi menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan, memberdayakan masyarakat dan
keluarga serta memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Selain melaksanakan 6 program pokok puskesmas maka dikembangkanlah program inovatif/


pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah kerja dan tuntutan dari wilayah tersebut.
Dalam hal ini Puskesmas Biaro mengambil beberapa program pengembangan diantaranya Klinik
remaja PKPR, perpustakaan dan rintisan untuk menjadi Puskesmas rawat narkoba dan HIV /AIDS.

Sebagai program pengembangan, program Narkoba dan HIV aids merupakan wujud dari
deklarasi millennium /MIllenium Development Goals(MDGs) atau termasuk salah satu dari tujuan
pembangunan millennium yaitu penurunan angka penyakit menular dan HIV AIDS, dimana dalam
tujuan ini diharapkan pada tahun 2015 akan terjadi penurunan angka kasus baru HIV AIDS dan juga
penyakit menular lainnya.

Di wilayah kerjanya sendiri yang merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan kota
bukittinggi dan kabupaten 50 kota memungkinkan mobilisasi masyarakatnya tinggi dan juga tidak
menutup kemungkinan peredaran narkoba juga tinggi. Maka atas dasar itulah mengapa Puskesmas
Biaro mengambil program narkoba ini menjadi salah satu program pengembangan. Selain itu dengan
adanya rancangan peraturan pemerintah di tahun 2011 yang dalam substansinya menyatakan bahwa
setiap pemakai narkoba wajib lapor Puskesmas menjadi semangat bagi kami Puskesmas Biaro untuk
pelaksanaan program ini.dan berkaitan dengan itu di tahun 2013 dikeluarkanlah Surat keputusan
(SK) dari Kemenkes bahwa Puskesmas Biaro sebagai salah satu Puskesmas penyelenggara wajib lapor
(Institusi Penerima Wajib lapor/IPWL).

Dokter Puskesmas sebagai tenaga medis yang berada di baris terdepan pelayanan kesehatan
ditingkat kecamatan,sehingga diharapkan seluruh rakyat Indonesia baik dikota maupun di desa dapat
dilayani,sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan.Dengan demikian sangat diharapkan
adanya kinerja yang baik dari para dokter dalam pembangunan di bidang kesehatan terutama yang
bertugas di puskesmas.

Sebagai dokter yang bertugas di Puskesmas Biaro, selain bertugas untuk pelayanan pada
program pokok puskesmas penulis juga terlibat dalam program pengembangan rawat narkoba ini.
Peranan dokter dalam program ini dapat berupa pelayanan pada klien yang datang ke puskesmas
dengan keluhan kecanduan pemakaian narkoba ataupun keluhan kesehatan lain akibat pemakaian
narkoba ini. Diharapkan dokter mampu untuk mendeteksi dini pemakai narkoba dan mampu
melakukan pelayanan kesehatan berkaitan dengan kecanduan narkoba.

Seleksi dokter teladan yang dilakukan tiap tahun dapat mengevaluasi dan memotivasi para
dokter sehingga dapat bekerja lebih semangat dan lebih optimal. Dalam penilaian tersebut dapat
diketahui kemampuan dokter tersebut dalam menggerakkan 3 Fungsi Puskesmas yaitu sebagai
Pelayanan, Pembinaan dan Pengembang upaya kesehatan dalam peranannya sebagi professional
(Dokter)

1.Tujuan Penulisan
Umum : Untuk dapat mengetahui upaya – upaya pembangunan terutama
bidang kesehatan.
Khusus : Merupakan salah satu syarat mengikuti seleksi Dokter Teladan tingkat
Kabupaten Agam
2.Metode Penulisan.
1. Cara Pengumpulan data : Data Sekunder, hasil evaluasi masing-masing program
dari Puskesmas Biaro
2. Ruang Lingkup Penulisan : pengalaman selama bertugas di Puskesmas Biaro
Tahun 2009 sampai dengan 2013
BAB III

GAMBARAN UMUM PUSKESMAS BIARO

3.1. Wilayah Kerja Puskesmas Biaro


3.1.1. Geografis

Puskesmas Biaro merupakan salah satu dari 22 buah Puskesmas yang ada di wilayah kerja
Dinas Kesehatan Kabupaten Agam yang berlokasi di Kecamatan IV Angkat Canduang. Terletak
antara 100.30 BT - 100.31 BT dan 0.25 LS – 0.27 LS, dengan luas wilayah kerja 33,01 km2.
Wilayah kerja Pusksmas Biaro terletak pada ketinggian 910 m dari permukaan laut. Wilayah
kerja Puskesmas Biaro ini mempunyai jarak ke Lubuk Basung 73 km dan ke Kota Bukittinggi 7
Km yang terdiri dari 7 Nagari dengan 33 Jorong dengan batas wilayah kerja sebagai berikut :

- Utara : Berbatas dengan wilayah kerja Puskesmas magek dan Baso

- Selatan : Berbatas dengan wilayah kerja Puskesmas Lasi

- Barat : Berbatas dengan Kota Bukittinggi

- Timur : Berbatas dengan wilayah kerja Puskesmas Baso

3.1.2. Demografi

Jumlah penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Biaro :

Penduduk : 44821 jiwa


Laki-laki : 21887 jiwa
Perempuan : 22934 jiwa
KK : 8.847 jiwa
Masyarakat Miskin : 4.720 jiwa
KK Miskin : 1.137 KK

3.1.3. Mata Pencaharian

Sosial ekonomi masyarakat pada umumnya usaha konfeksi/ dagang, PNS / ABRI, dan
petani dengan distribusi sbb:

Grafik 3.4. Distribusi Mata Pencarian Pokok Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Biaro
Tahun 2008

Konveksi; 20%
Tani; 40%

Buruh; 5%

Swasta; 5%
PNS; 20%

Dagang; 10%

Tani PNS Dagang Swasta Buruh Konveksi

3.1.4. Fasilitas Pendidikan

Jumlah sarana pendidikan yang ada diwilayah kerja Puskesmas Biaro, sebagai
berikut:

 SMU/sederajat : 2
 SMP/sederajat : 3
 SD : 30
 TK : 22
 Pondok Pesantren : 3

3.1.5. Data Sarana Kesehatan


Di wilayah kerja Puskesmas Biaro terdapat sarana/prasarana kesehatan sebagai berikut :

Puskesmas 1 Buah
Pustu 8 Buah
Polindes 11 Buah
Toko Obat 1 Buah
Praktek Dr. Umum 7 Buah
Praktek Dr. Gigi 2 Buah
Bidan Praktek Swasta (BPS) 7 Buah
Puskel 1 Buah
Kenderaan Roda 2 5 Buah
Posyandu balita 62 Buah
Posyandu lansia 23 Buah
POS UKK Pertanian 8 Buah
Poskestren 4 Buah
Klinik KB 5 Buah
3.1.7. Data Ketenagaan

Sumber daya manusia/ tenaga kesehatan Puskesmas Biaro terdiri dari Puskesmas Induk,
Puskesmas Pembantu dan Polindes dapat dilihat pada data berikut :

No. Jenis Tenaga Jumlah


Puskesmas Induk
1. Dokter Umum 2
2. Dokter Gigi 2
3. Sarjana Kesehatan Masyarakat 3
4. Ahli Madya Keperawatan 3
5 Ahli Madya Kebidanan 2
6. Sanitarian 1
7. Bidan 2
8. Perawat 3
9. Perawat Gigi 2
10. Asisten Apoteker 1
11. Pembantu Ahli Gizi 2
12. Tenaga Laboratorium 1
13. Pekarya Kesehatan 4
Puskesmas Pembantu
Bidan 8
Polindes
1. Bidan 11
Tenaga Lain
1. Psikolog 1
2. Sopir 1
3. Satpam 1
4. Sukarela 4
5. K3 1
JUMLAH 50

Dari data tenaga kesehatan tersebut diatas dapat dilihat bahwa secara umum jumlah
tenaga kesehatan sudah mencukupi namun untuk jenis tenaga tertentu seperti asisten apoteker,
tenaga ahli madya gizi dan tenaga perlu dilakukan penambahan.

BAB III

VISI DAN MISI PUSKESMAS BIARO

3.1 Visi dan misi Puskesmas BIARO:

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan

2. Memberdayakan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan dengan :

a. Menumbuhkan dan mengembangkan upaya berbasis masyarakat

b. Menumbuhkan LSM yang bergerak dibidang kesehatan

c. Menumbuhkan dan memfungsikan dewan penyantun puskesmas

d. Menumbuhkan dan melambangkan keluarga sehat

3. Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama

3.2 Semboyan puskesmas BIARO:

 Bersahabat Petugasnya
 Iptek dan imtaq landasan kerjanya

 Aman Pelayanannya

 Rasional Tindakannya

 Obat-obatnya Terjamin

BAB IV

UPAYA UPAYA YANG DILAKUKAN

4.1 MANAJEMEN PUSKESMAS:

Sistim Manajemen yang kami terapkan dalam pengelolaan program atau kegiatan di
Puskesmas Biaro adalah sistim P1(Perencanaan ), P2(Penggerakkan dan Pelaksanaan) serta
P3( Pengawasan,Pengendalian dam Penilaian ). Dengan sistim tersebut diharapkan Puskesmas dapat
melaksanakan kegiatan –kegiatan yang lebih terarah dan mengahasilkan pelayan yang bermutu dan
cakupan kegiatan yang baik.

Pelaksanaan manajemen Puskesmas oleh penulis berdasar pada Surat Keputusan (SK) yaitu SK
Kepala Puskesmas sebagai Koordinator Program P2PL dan SK untuk program inovatif sebagai dokter
yang terlibat dalam program narkoba.

4.1.1 P1 ( PERENCANAAN )

Dalam pelaksanaan P1 (Perencanaan) untuk program P2PL di Puskesmas Biaro tidak diketemui
adanya kendala, karena pemegang program yang telah ditunjuk sehingga tugas dan tanggung jawab
untuk masing masing program jelas sehingga dengan adanya perencanaan pelaksanaan program
akan berjalan lebih terarah.
Sebagai koordinator, penulis bertanggung jawab akan program yang berada di bawah P2PL dan
bersama dengan pemegang program merencanakan kegiatan yang akan dilakukan untuk 1 tahun.

Perencanaan ini dapat digunakan sebagai :

- Petunjuk untuk menggerakkan dan melaksanakan


- Memudahkan pengawasan. Pengendalian dan penilaian.
- Dapat mempertimbangkan situasi di masa depan ( hambatan, dorongan, potensi - potensi)
Puskesmas Biaro melakukan perencanaan melalui cara :

1. Pra Lokakarya dan Lokakarya Mini.


Setiap awal tahun anggaran dilakukan Lokmin yang bertujuan untuk evaluasi juga
sebagai sarana dalam perencanaan tahunan Puskesmas. Untuk program P2PL maka pada
lokmin ini direncanakan apa saja yang menjadi rencana tindak lanjut dan kegiatan yang akan
dilaksanakan 1 tahun ke depan.

2. Melalui Rapat Bulanan Puskesmas


Dalam rapat bulanan ini direncanakan rencana jangka pendek serta evaluasi (bulanan
dan minggguan) yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan dan sarana yang ada.

Selain itu sebagai koordinator program P2PL , penulis juga merencanakan berbagai
keperluan untuk kelancaran program, misal dalam hal obat-obatan jiwa dan peralatan. Begitu
juga untuk program inovatif merencanakan pengadaan obat obatan narkoba.

4.2.2 P2 ( PENGGERAKAN DAN PELAKSANAAN )

1. Pengorganisasian.
Pembentukan struktur organisasi dilakukan pada saat Pra Lokmin. Dalam hal ini di
tunjuklah petugas yang akan memegang suatu program sesuai dengan kemampuan dari
petugas tersebut. Dengan harapan program dapat berjalan dengan baik seperti yang
diharapkan

2. Pembinaan Petugas.
Pembinaan kepada pemegang program di bawah P2PL dapat dilakukan kapan saja.
Pembinaan ditujukan untuk kelancaran dalam pelaksanaan tugas sehari hari pemegang
program. Bentuk pembinaan tersebut dapat berupa transfer ilmu dan pengetahuan .

4.1.3 .PENGAWASAN PENGENDALIAN DAN PENILAIAN (P3)

P3 dilaksanakan dalam bentuk penilaian kinerja .Pengawasan dan Pegendalian


dilakukan pada saat pelaksanaan kegiatan baik dalam gedung maupun luar gedung yang
setiap bulannya direkap dalam bentuk laporan bulanan. Selaku koordinator program maka
laporan bulanan yang dibuat oleh pemegang program di periksa kembali oleh koordinator
sebelum diberikan kepada pemegang SP2TP. Pada rapat bulanan dilakukan evaluasi
terhadap kegiatan –kegiatan yang telah dilaksanakan meliputi pencapaian program,
hambatan atau kendala yang timbul dan mencarikan jalan keluar dari masalah yang timbul.

Kegiatan pendukung manajemen Puskesmas:

1. Apel setiap hari Senin

Dihadiri oleh seluruh staf puskesmas baik yang di Puskesmas/ Pustu/ dan polindes. Pada
apel pagi Senin selain sebagai tanda memulai kegiatan di awal minggu juga dapat
menjadi sarana untuk penyampaian informasi baik dari kepala puskesmas , pemegang
program, atau dari bidan desa ke sesama bidan desa.Dalam apel pagi pun koordinator
dapat menyampaikan informasi yang berkaitan dengan program di bawah koordinasinya.

2. Pertemuan bulanan pustu polindes dalam bentuk arisan

Arisan ini tidak hanya diikuti oleh bidan tapi juga bisa diikuti oleh staf puskesmas yang
lain. Arisan ini dilaksanakan bergiliran di Pustuny dan polindes. Kegiatan arisan ini
diharapkan dapat menambah keakraban dan rasa kekeluargaan sesama petugas
puskesmas. Selain itu dalam kegiatan arisan ini juga ada acara lain seperti ceramah
agama, ataupun ceramah kesehatan oleh dokter yang bertujuan untuk penyegaran ilmu
kepada bidan desa.

3.Senam pagi

Senam pagi dilaksanakan setiap Rabu mulai 7.30 pagi di halaman Puskesmas Biaro..

4. kegiatan insidentil (wirid, rekreasi, study banding)

Kegiatan wirid dilaksanakan setiap minggunya bertempat di aula kantor camat Ampek
Angkek.Pelaksana kegiatan bergiliran setiap minggunya. Bentuk keterlibatan penulis
disini adalah mengikuti acara wirid bergantian dengan dokter umum lain, sehingga
kegiatan pelayanan di Puskesmas pun tidak terganggu.

4.2.Tugas dan Tanggung Jawab


4.2.1 Sebagai Dokter

1. Memelihara dan meningkatkan kesehatan dari masyarakat di dalam wilayah kerja


Puskesmas
2. Mengusahakan agar pelayanan kesehatan Umum di wilayah kerja Puskesmas dapat
berjalan dengan baik

Kegiatan Pokok :
1. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan penderita
2. Menerima rujukan dan konsultasi
3. Supervisi dan bimbingan teknis kepada perawat dan bidan di Puskesmas
Kegiatan lain :
1. Menerima konsultasi kesehatan dari petugas kesehatan
2. Memberikan penyuluhan kesehatan pada penderita dan masyarakat di wilayah
kerjanya
Tugas – tugas pokok yang telah dilaksanakan selama bertugas di Puskemas Biaro:

a. Pelayanan di BP, KIA, Gawat Darurat


Setiap harinya dokter tidak lepas dengan pelayanan baik itu pengobatan atau pun
rujukan baik itu di poli umum/BP, KIA atau pun di ruang gawat darurat. Di
Puskesmas Biaro dengan kegiatan pelayanan dapat dilakukan dengan lancar
karena terdapat dua orang dokter umum.
b. Pelayanan kesehatan pada posyandu lansia, Puskel.
Setiap minggunya dokter secara bergantian mengunjungi posyandu lansia dan
kunjungan dokter ke pustu dan polindes.
c. Referal sistim menerima rujukan dari bidan dan perawat di Pustu dan polindes
serta rujukan dari poli gigi

d. Melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap calon jemah Haji .


Untuk pemeriksaan kesehatan jemaah haji ini penulis pada tahun 2010 yang lalu
mengikuti pelatihan petugas pemeriksaan kesehatan haji yang diadakan oleh
Dinas Kesehatan Sumatera Barat. kemudian untuk pelaksanaannya maka
penulis di SK kan oleh kepala dinas sebagai petugas pemeriksa kesehatan haji
tingkat pertama dan lanjutan.
e. Penyuluhan di dalam gedung dilakukan kepada pengunjung puskesmas secara
individual dan keluarga.
Penyuluhan langsung kepada individu dilakukan pada saat kunjungan misalnya
kunjungan di poli umum, maka dokter selain melakukan pengobatan juga dapat
memberikan penyuluhan singkat yang sifatnya individu.
f. Penyuluhan diluar gedung dilakukan secara berkelompok antar lain :
a. Kepada masyarakat umum dan kelompok institusi bila ditemui kasus KLB.
b. Ke sekolah ataupun pesantren di lingkungan wilayah kerja Puskesmas

Usaha – usaha untuk lebih menigkatkan kemampuan profesi dengan :

a. aktif sebagai anggota organisasi profesi ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang
Agam
b. Sebagai dasar untuk pelaksanan tugas sebagai seorang dokter maka terdapat
surat tanda registrasi dokter (STR) yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran
Indonesia d
c. Dalam pelaksanan tugas sebagai dokter maka terdapat Surat izin praktek
d. Mengikuti seminar atau symposium kesehatan yang diadakan oleh lintas profesi
kesehatan
e. Mengikuti pelatihann – pelatihan di bidang kesehatan baik di tingkat Kabupaten
ataupun Provinsi:berupa:
 pelatihan ACLS/Advance Cardiac Life Support,
 Pelatihan TOT Poskestren,
 Pelatihan petugas PPTM( Pencegahan Penyakit Tidak Menular)
 Pelatihan Petugas pemeriksa Kesehatan Jemaah Haji
f. Membaca Buletin kesehatan / kedokteran.
g. Melihat dan mendengarkan acara – acara yang berhubungan dengan kesehatan.
h. Dalam hal keterlibatan dengan program inovatif, maka penulis pun mengikuti
seminar dan pelatihan yang dilaksanakan oleh Badan Narkotika Nasional /BNN

4.2.2 sebagai staf Puskesmas

Karena keberadaan sebagai dokter di instansi pemerintah maka penulis memiliki kedudukan
sebagai staf di puskesmas yang memiliki konsekuensi kepatuhan dan ketaatan kepada pimpinan
Puskesmas.

4.2.3 Sebagai Koordinator program

Dalam pelaksanaan program Puskesmas terdapat unit pelaksana teknis fungsional yang terdiri
atas 4 kordinator: Kesmas, P2PL, Promkes dan YanKes masing masingnya terdapat seorang
koordinator. Dalam hal ini penulis mendapat kepercayaan sebagai koordinator untuk P2PL.

Tugas tugas yang dilakukan:

1. Bertanggung jawab secara khusus untuk program yang berada dibawah P2PL
2. Menerima laporan dari pemegang program tentang kegiatan programnya misalnya
mengenai kendala ataupun masalah di lapangan kemudian di laporkan ke kepala
Puskesmas untuk dapat dicarikan solusinya bersama

4.2.4 Sebagai Anggota Masyarakat


Sebagai anggota masyarakat, penulis berusaha untuk bersosialisasi dan ikut dalam
kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat khususnya di lingkungan tempat tinggal misalnya
dengan mengikuti kegiatan pengajian dan arisan di lingkungan tempat tinggal.

4.2.5 Sebagai anggota organisasi profesi

Sebagai seorang dokter maka penulis juga aktif dalam organisasi profesi yaitu Ikatan
Dokter Indonesia cabang Agam. Dan untuk 2010 sampai 2013 penulis termasuk kedalam
kepengurusan IDI cabang Agam yaitu untuk seksi Ilmiah dan Pendidikan Masyarakat
BAB V

KEGIATAN POKOK DAN PENCAPAIAN PROGRAM

5.1.Pengobatan dan pemulihan

Pengobatan dilakukan di Poli Umum, Gigi dan KIA.Alur pelayanan di Puskesmas yaitu: setelah
pasien mendaftar di loket karcis kemudian masuk ke masing masing ruangan sesuai dengan
umur(bayidan balita ke KIA dan anak serta dewasa ke Poli umum) dan juga berdasar keluhan
(penyakit umum atau gigi). Di poli pasien diterima awal oleh paramedic kemudian dilakukan
anamnesa dasar dan pemeriksaan tanda-tanda vital kemudian di konsulkan ke dokter.oleh
dokter apabila keluhan pasien dapat diterapi setingkat puskesmas maka langsung diresepkan,
namun bila tidak bias ditangani akan di rujuk ke rumahsakit.bagi pasien yang memerlukan
pemeriksaan penunjang laboratorium maka dirujuk ke bagian laboratorium terlebih dahulu
sebelum diberi terapi.

5.2. P2PL

5.2.1 .Imunisasi

imunisasi masih menjadi program primadona dalam pencegahan penyakit infeksi dan menular,
terutama bagi bayi, balita adan anak usia sekolah.
Adapun beberapa hasil cakupan program ini:

2012(%) 2013(%)
Desa UCI 10 20JORONG
HB 0 75,7 87
BCG 77,1 89,1
POLIO 1 77,1 88,9
DPT HB 1 79,1 82,1
DPT HB 3 80,5 83,8
POLIO 4 80,9 83,8
CAMPAK 77 90,6

5.2.2 tb

Program Tb paru masih merupakan permasalahan di Puskesmas Biaro. Dalam pelaksanaan


program masih ditemukan permasalahan yaitu masih kecilnya angka penemuan kasus baru/
CDR. Dimana dari angka target nasional adalah 70 %,Upaya yang telah dilakukan dalam rangka
meningkatkan penemuan kasus yaitu:

 pembagian sasaran /target kepada masing masing jorong kepada bidan desa
 penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit TBC dan pengobatannya
 pemeriksaan kepada pasien kontak serumah
 pelacakan ke rumah sakit pemerintah dan swasta yang ada di Bukittinggi
 kunjungan rumah oleh pemegang program

kasus TBC di puskesmas Biaro tahun 2012dan 2013:

2012(%) 2013(%)
SUSPEK 270 130
BTA POSITIF 21(30%) 7 (10%)
KESEMBUHAN 18 6
Dari table di atas tampakbahwa pencapaian target masih rendah dari target nasional, hal ini
mungkin disebabkan oleh :

 Masih rendahnya pengiriman target oleh bidan desa


 Masih kurangnya kualitas sputum yang diperiksa, sehingga hasil menjadi negative,
padahal keluhan dan pemeriksaan fisik mendukung
 Masih banyak pasien yang berobay langsung ke rumah sakit ataupun ke praktek spesialis

Untuk 2014 ini maka kami mempunyai rencana rtindak lanjut untuk meningkatkan pencapaian
dengan Penyuluhan dan pemberian informasi yang lebih aktif kepada masyarakat melalui
pembentukan kader TB dengan menjadikan PMO ataupun pasien yang telah sembuh sebagai
kader

5.2.3 diare

Dari evaluasi program tahun 2013 terdapat 1180 kasus diare sedangkan di tahun
sebelumnya sebanyak 1107 kasus.

5.2.4 ispa

Dari data evaluasi program 2013, terdapat kasus ISPA sebanyak 10209 pada tahun 2012 dan
9739 di tahun 2013. Tampak bahwa kasusnya tidak meningkta, tapi untuk antisipasi
peningkatan kasus di tahu berikutnya dapat di upayakan:
1. Peningkatan penyuluhan mengenai ISPA di Posyandu
2. Sosialisasi mengenai ISPA dan Pnemoni

5.2.5. dbd

Demam Berdarah masih merupakan penyakit yang masih di temukan di Kecamatan Ampek
Angkek. Dalam hal ini di setiap tempat yang terdapat kasus dilakukan pelacakan oleh petugas
surveillance dan pemegang program dbd untuk melakukan pemeriksaan jentik. Setelah itu
petugas promkes dan dokter turun untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat.

Angka kejadian demam berdarah di puskesmas Biaro;


2012 2013
JUMLAH KASUS 4 6

5.2.6. rabies

kasus gigitan hewan penular rabies masih sering terjadi di wilayah kerja puskesmas Biaro.
Sebelum mendapatkan vaksin anti rabies maka prosedur yang harus dijalani oleh pasien adalah
melapor ke dinas kehewanan dan setelah mendapatkan surat dari dinas tersebut maka
diketahui apakah pasien memmang perlu di beri VAR atau tidak. Selain itu juga dokter dan
paramedic memberi penyuluhan mengenai penyakit rabies kepada pasien.

aNgka kasus rabies di Puskesmas Biaro:

2012 2013

KASUS 8 19
VAR 1 11
Terjadi penurunan kasus yang dapat dilihat pada table di atas, hal ini mungkin disebabkan oleh
semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit rabies dan bagaimana
penanganan awal terhadap gigitan hewan.

5.2.7. filariasis

Pada tahun 2013 kabupaten agam termasuk lagi kepada wilayah yang di programkan kembali
untuk makan obat pencegahan kaki gajah untuk 2 tahun ke depan.

Upaya yang dilakukan;

 Sosialisasi melalui radio agar meningkatkan lagi kesadaran masyarakat mengenai


pentingnya program ini
 sosialisasi ke tingkat kecamatan dan nagari agar mendapat dukungan dari
perangkat nagari dan kecamatan

angka cakupan filariasis tahun 2013


2013(%)
CAKUPAN

Kendala

 pencapaian baru sebatas pemberian obat.


 Adanya isu efek samping pemakaian obat dari media massa
 Masih rendahnya kesadaran masyarakat ttg pentingnya obat nya makan obat.

5.2.8 jemaah haji

Ampek angkek merupakan kecamatan dengan jumlah jemaah haji yang paling banyak
untukkabupaten agam. Setiap tahun terjadi peningkatan jumlah jemaah yang berasal dari
ampek Angkek.sesuai dengan prosedur maka pemeriksaan kesehatan jemaah haji terdapat 2
pemeriksaan pertama yaitu di Puskesmas jemaah berada dan pemeriksaan lanjutan setingkat
kabupaten atau di rumah sakit.

Di Puskesmas biaro pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk keperluan jjemaah haji telah
dapat dilakukan mandiri ,namun untuk rontgen dan ekg masih di rujuk ke rumah sakit.calon
jemaah haji dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter dan dilakukan pengontrolan sebanyak 4x
sebelum pemeriksaan lanjutan. Diharapkan dengan kontrol 4x tersebut dapat meminimalisir
kejadian penyakit yang tidak terduga yang mungkin didapatkan oleh jemaah nantinya.

Jumlah jemaah haji 2012 dan 2013;

2012 2013
Jumlah jemaah haji 98 92

KEGIATAN PENGEMBANGAN:

1.PERPUSTAKAAN

Merupakan program inovatif sejak 2009 bekerjasama dengan perpustakaan nasional, dimana
buku buku merupakan hibah dari perpustakaan nasional , terdiri dari buku kesehatan dan
umum. Untuk kelancaran pun telah dilatih petugas perpustakaan , yang menjadi anggota adalah
staf dan masyarakat umum. Penulis merasa perpustakaan ini sangat membantu dalam
pengembangan ilmu, tidak hanya ilmu kedokteran tapi juga ilmu pengetahuan lainnya

2.PKPR

Di tahun 2010 telah dilakukan 2x pembinaan untuk kader PKPR setingkat SLTP.Bentuk
keterlibatan penulis pada program ini adalah sebagai narasumber dalam pembinaan kader PKPR
khususnya untuk materi narkoba. Dan di tahun 2013 telah dilakukan kembali refresh bagi kader.

3.RADIO

Telah ada sejak 2008 dan bekerjasama dengan radio agro FM 107,7 . setiap minggu diadakan
dialog interaktif yang melibatkan semua puskesmas di agam timur . dan di puskesmas sendiri
kegiatan radio menampilkan info dan pesan pesan kesehatan dengan nama SEHATI FM 101,1

Bentuk keterlibatan penulis dalam radioini adalah sebagai narasumber dalam acara penyuluhan
di radio ini dalam kegiatan filariasis dan penyuluhan narkoba.

4.UKS/ UKGS

Bentuk keterlibatan penulis dalam kegiatan ini adalah menerima rujukan dari petugas
pemegang UKS/UKGS pada screening anak sekolah, misalnya pada saat ditemukan masalah
kesehatan mata dan THT, maka di rujuk ke Puskesmas untuk dapat di tindak lanjutan.

5.POSKESTREN

Sampai saat ini telah ada 2 pesantren yang telah dibina oleh puskesmas, terakhir 2010 telah di
bentuk lagi kader poskestern yang baru di pesantren Pasia dengan melibatkan 28 orang santri.

Bentuk keterlibatan penulis dalam Poskestren ini adalah; sebagai petugas pelatih kader
Poskestren dan menjadi narasumber untuk materi narkoba dan HIV AIDS.

6.NARKOBA DAN HIV AIDS


Program rawat narkoba dan HIV/AIDS muncul sebagai salah satu program inovatif di
Puskesmas Biaro disebabkan :

1. Makin maraknya pemakaian narkoba di masyarakat, yang tidak saja mengenai orang
dewasa tapi telah sampai ke kalangan remaja dan anak-anak.
2. Puskesmas Biaro yang terletak di kecamatan ampek angkek merupakan daerah
perbatasan dengan kota Bukittinggi dan perlintasan antara provinsi sumatera barat ke
riau,yang memungkinkan mobilitas masyarakatnya tinggi, begitu juga dengan peredaran
narkoba.
3. Semakin meningkatnya kasus HIV AIDS Sumatera barat dan Agam khususnya.

Program rawat narkoba ini telah dirintis sejak tahun 2007 dengan berbagai kerjasama
dengan pihak terkait salah satunya dengan Badan narkotika Nasional/BNN.
Setelah di SK kan sebagai puskesmas IPWL maka terbentuklah struktur dengan:
Penanggung Jawab : Yori sulistia SKM MPH
Tenaga Medis : dr.Prima Dewi Indra
Paramedis : Mitra Yani, Amk dan Yulkasrita Amd.Kep
Tenaga Psikolog : Prima permata Sari S,psi
Assessment : Mitra yani,Yulkasrita,Prima Permata Sari
Tenaga Laboratorium : Mizarni
Kegiatan yang telah dilakukan dalam merintis program ini:

1. Kunjungan ke Pusat terapi dan rehabilitasi Napza di Lido Sukabumi jawa barat pada
tahun 2007, dengan mengikutsertakan semua unsure pemerintahan, termasuk DPR
2. Program residensial di Lido, dengan mengirimkan 4 orang tenaga Puskesmas yang
terdiri dari dokter, perawat dan psikolog serta 1 orang tenaga penjangkau lapangan
selama 1,5 bulan pada 2009.
:
3. Kunjungan dan magang di Pusat terapi rumatan metadon puskesmas Jatinegara
Jakarta Timur.
4. Pelatihan konselor VCT /voluntary councelling and testing, yang di ikuti 2 orang
perawat.
5. Study banding dan pembentukan kerjasama system rujukan ke instalasi rawat
narkoba RSJ. HB. SANIN padang
6. Pelatihan harm reduction di Puskesmas perkotaan bukittinggi
7. Pelatihan kader narkoba se kabupaten agam dengan perwakilan 3 orang dari masing
masing kecamatan di hotel Nuansa Matur, juli 2010
8. Penjalinan kerjasama dalam sistem rujukan dengan RS. Achmad Mochtar Bukittinggi

Kegiatan yang telah dilakukan;


1. Promotif dan preventif; promosi melalui radio dan penyuluhan narkoba ke
sekolah sekolah
2. Kuratif; medis dan psikologis kepada pemakai narkoba yang datang ke
Puskesmas. Selama ini klien yang datang di antar oleh tenaga penjangkau
lapangan atau pun datang sendiri dengan keluhan keluhan yang disebabkan
oleh kecanduan pemakaian narkoba tersebut.

KEGIATAN :

I.Kegiatan Luar Gedung Puskesmas;


1. Juni 2010:
Pemeriksaan Test HIV/ AIDS di Lapas Biaro yang bekerjasama dengan RSJ. HB. Saanin
Padang.
Diperiksa ; 234 orang.
Hasil : 4 orang Positif rujukan ke Poli HIV/AIDS RS.Achmad Mochtar
Bukittinggi
2. Juli 2010
a. Pemeriksaan Test HIV/AIDS di Rutan Maninjau:
Diperiksa : 68 orang.
Hasil : Negatif.
Foto:
Untuk menindak lanjuti hasil kegiatan luar gedung yang telah dilaksanakan kami
serahkan pelaksanaannya kepada petugas penjangkau. Biasanya yang dilaksanakan
adalah melakukan konsultasi lanjutan ke bagian Internist , pemeriksaan Laboratorium
lanjutan serta pemberian terapi ARV kalau diperlukan.

3. Penyuluhan narkoba dan HIV bekerjasama dengan kemenkominfo di kantor Pelayanan


terpadu Jirek
Gambar: sosialisasi narkoba di Kantor Pelayanan Terpadu, oktober 20

4. Penyuluhan melalui radio bekerjasama dengan kemenkominfo di radio AGRO FM


desember 2010, berkaitan dengan hari HIV/AIDS sedunia
FOTO
0

II. Kegiatan dalam gedung Puskesmas.


a. Menerima kunjungan pecandu yang ingin konsultasi dengan cara memberikan rasa
nyaman di Puskesmas.
b. Memberikan penjelasan kepada mereka cara/ alur untuk mendapatkan pelayanan.
c. Menjelaskan jenis layanan dan waktu layanan yang ada di Puskesmas.
d. Memberikan layanan VCT bagi pecandu yang mempunyai prilaku yang berpotensi
untuk tertular HIV.
e. Adalagi layanan yang diberikan mulai dari akibat yang mereka obati untuk datang ke
Puskesmas yang akhirnya bisa terungkap kalau mereka adalah seorang pecandu atau
mantan pecandu.

Alur pelayanan klinik narkoba:


III. BENTUK TERAPI.

1. Medis.
2. Psikologis.
3. Asuhan keperawatan

IV. JADWAL PELAYANAN.

Senin sampai sabtu setiap jam 08.00 sampai 12.00

V. ALUR PELAYANAN :

1. Karcis Rp. 3.500,-.


rujukan laboratorium
2. assessment dan Konsul dokter( hasilnya dicatat dalam rekan medis khusus. )

3. Konsul Psikolog.

4. Pelayanan VCT.

Data Kunjungan pasien Narkoba di Puskesmas Biaro :

JUMLAH HASIL
NO TAHUN SEMBUH
PENGUNJUNG RUJUK PSIKIATRI LIDO
1 2011 42 2 1 4
2 2012 79 - 3 12
3 2013 97 2 4 5
4 2014 2 -

DATA KUNJUNGAN VCT


JUMLAH HASIL RUJUK POLI
NO TAHUN
PENGUNJUNG POSITIF (+) NEGATIF (-) SERUNAI
1 2011 8 1 7 1
2 2012 27 2 24 1
3 2013 14 14

5. A p o t i k.

VI. PESAN-PESAN YANG DIBERIKAN ;

1. Agar datang berkunjung 2 atau 3 X seminggu.


2. Kartu Merah / Kartu Kunjungan bisa digunakan sementara sebagai ID Card.
3. Bila telah dating 3X dengan kunjungan yang teratur maka diberikan kartu IPWL.

VII. HAMBATAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM.

1. Tenaga di Puskesmas Biaro sudah memiliki SDM yang memadai, tetapi untuk tenaga
penjangkaunya agak sedikit terkendala, ini disebabkan karena tidak adanya biaya
operasional / honor.
2. Jadwal kontrol ulang / kunjungan ulang sering diabaikan oleh klien. Sehingga tingkat
keberhasilan terapi tidak terpantau dengan baik.