Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di era globalisasi, banyak aspek - aspek yang mengalami perkembangan yang signifikan.
Perkembangan yang terjadi tentunya membawa suatu kemajuan bagi segala aspek yang
mendapat dampak adanya globalisasi. Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua
dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit
dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi
berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
pertahanan, keamanan dan lain – lain

Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa Indonesia
yang majemuk. Sejarah Pancasila adalah bagian dari sejarah inti negara Indonesia. Sehingga
tidak heran bagi sebagian rakyat Indonesia, Pancasila dianggap sebagai sesuatu yang sakral yang
harus kita hafalkan dan mematuhi apa yang diatur di dalamnya.

Indonesia diidealkan dan dicita-citakan oleh the founding fathers sebagai suatu Negara
Hukum (Rechtsstaat/ The Rule of Law). Ada penegasan bahwa “Negara Indonesia adalah Negara
Hukum”. Namun, bagaimana cetak biru dan desain makro penjabaran ide negara hukum itu,
selama ini belum pernah dirumuskan secara komprehensif. Yang ada hanya pembangunan
bidang hukum yang bersifat sektoral. Oleh karena itu, hukum hendaknya dapat dipahami dan
dikembangkan sebagai satu kesatuan sistem. Apalagi, negara hendak dipahami sebagai suatu
konsep hukum, yaitu sebagai Negara Hukum.

Berbahagialah bangsa Indonesia yang telah memiliki pancasila sebagai dasar negara dan
ideologi nasional sebagai salah satu dasar hukum.Namun persoalannya adalah bagaimana agar
nilai-nilai pancasila dapat diterapkan di dalam hukum Indonesia. Untuk itu jurnal ini akan
menjawab persoalan tersebut dan penulis mengambil jurnal dengan judul Problematika

1
Penegakan Hukum Di Indonesia Menuju Hukum Yang Responsif Berlandaskan Nilai-Nilai
Pancasila

2
BAB II

IDENTITAS JURNAL

1 Identitas Jurnal

 Judul : Problematika Penegakan Hukum Di Indonesia Menuju


Hukum Yang Responsif Berlandaskan Nilai-Nilai
Pancasila
 Penulis : 1. Yadyn,
2. Abdul Razak,
3. Aswanto

 Volume Jurnal : Volume 1 Nomor 1 halaman 78-85


 Tahun Terbit : Juny, 2012
 Jenis Jurnal : Jurnal Analisis
 Lembaga Penerbit Jurnal : Kejaksaan Negeri Makassar
 ISSN : 2252-7230

2 Ringkasan Bagian Jurnal

2.1 Pendahuluan

Hukum lahir dari suatu dimensi sosial yang bertujuan untuk menciptakan
ketertiban, keamanan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Untuk merumuskan hukum
yang bersumber dari nilai masyarakat Indonesia adalah bagaimana menciptakan hukum
yang responsif yang mampu mengimplementasikan keinginan dari bangsa Indonesia.
Bahwa pilar utama lainnya dalam membentuk hukum yang responsif adalah bagaimana
membentuk pemahaman yang baik dan menyeluruh kepada aparat penegak hukum dalam
memahami dan menjalankan aturan yang berlandaskan pada prinsip nilai-nilai
kemanusiaan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat, bukan hanya sekedar
menjadi “boneka Undang-undang”. Hukum responsif selaras dengan nilai-nilai yang

3
terkandung dalam jiwa bangsa Indonesia yakni Pancasila, yaitu pencerminan nilai
kemanusiaan dan nilai keadilan.

Permasalahan yang esensial dalam penegakan hukum di Indonesia bukan hanya


semata-mata terhadap produk hukum yang tidak responsif, melainkan juga berasal dari
faktor aparat penegak hukumnya. Untuk meletakkan pondasi penegakan hukum, maka
pilar yang utama adalah penegak hukum yang mampu menjalankan tugasnya dengan
integritas dan dedikasi yang baik. Karena sepanjang sapu kotor belum dibersihkan, maka
setiap pembicaraan tentang keadilan akan menjadi omong kosong belaka, as long as the
dirty broom is not cleaned, any talk of justice will be empty.(Ali, 2001-74

2.2 Kajian Teori

Laporan penilaian dan akuntabilitas pelaksanaan penegakan hukum di Indonesia


menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap penegakan
hukum di Indonesia di bawah 60% (enam puluh) persen (Jaringan Survei Indponesia,
2011). Itu artinya masyarakat kurang percaya terhadap sistem hukum dan aparat penegak
hukum di Indonesia. Untuk melaksanakan penegakan hukum yang baik maka diharapkan
aparat penegak hukum tidak sekedar menjadi boneka undang-undang, yang
melaksanakan ketentuan undang-undang secara normatif semata, melainkan dibutuhkan
Common Sense yang baik oleh aparatur penegak hukum. Common Sense mengedepankan
prinsip Sense Of Humanity yang dibutuhkan oleh aparat penegak hukum dalam
penanganan suatu perkara agar ke depan tidak terjadi lagi perkara Minah-minah yang
lain. Mengedepankan peraturan sebagai sesuatu yang serius adalah suatu seni yang
kasuistis dan suatu semangat pembelaan hukum (lawyerly virtue) yang ambigu.

Teori hukum hendaknya tidak buta terhadap konsekuensi sosial dan tidak kebal
terhadap pengaruh sosial melainkan menjadi jembatan penghubung antara pemikiran
normatif legalistik formiil dengan pemikiran responsif, integritas memiliki ciri dan
landasan moral yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana
yang baik dan mana yang tidak baik. “Bukankah satu tingkah laku yang jujur akan lebih
mulia dibanding seribu kata-kata”.

4
2.3 Metodologi penelitian

- Jenis dan Tipe Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian hukum, yang tipe penelitiannya merupakan


penelitian normatif (Legal Research) dan Juridis sosiologis (Socio Legal Research).
Karena tipe penelitian ini mengkombinasikan antara bentuk kajian normatif dan empiris,
maka analisis normatif / yuridis terutama ditujukan untuk mengkaji konsep negara
hukum di Indonesia beserta permasalahan penegakan hukum yang timbul di dalamnya,
sedangkan analisis sosiologis empiris digunakan untuk melihat sejauhmana realitas
hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat tentang permasalahan penegakan
yang ada di Indonesia beserta tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparatur penegak
hukum saat ini

2.4 Pembahasan

Permasalahan penegakan hukum di Indonesia, terletak pada 3 faktor, Integritas


aparat penegak hukum, produk hukum, dan tidak dilaksanakannya nilai-nilai Pancasila
oleh aparat penegak hukum dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Lebih lanjut
Lawrence Friedman mengemukakan 3 aspek yang menjadi dasar keterpurukan hukum
suatu negara adalah struktur, substansi dan kultur. Ketiga pisau analisis Friedman
tersebut, apabila dikombinasikan dengan keterpurukan penegakan hukum yang ada di
Indonesia, maka sangatlah tepat bilamana teori Lawrence Friedmann, menjadi kajian
teori analisis penulis, mengingat berbicara mengenai sistem hukum, maka kita tidak akan
terlepas dari 3 (tiga) komponen sistem hukum tersebut yakni: Struktur, yaitu keseluruhan
institusi-institusi hukum yang ada beserta aparatnya, mencakupi antara lain Kepolisian
dengan para Polisinya, Kejaksaan dengan para Jaksanya, Pengadilan dengan para
Hakimnya; Substansi, yaitu keseluruhan aturan hukum, norma hukum dan asas hukum,
baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, termasuk putusan pengadilan. Kultur
Hukum yaitu opini-opini, kepercayaan-kepercayaan (keyakinan-keyakinan), kebiasaan-
kebiasaan, cara berpikir, dan cara bertindak, baik dari para penegak hukum maupun

5
warga masyarakat, tentang hukum dan berbagai fenomena yang berkaitan dengan hukum.
(Lawrence M. Friedman, 1975 : 11-16).

Analisis terhadap keseluruhan hasil penelitian berupa struktur hukum, terhadap


aparat penegak hukum menempatkan 70% tingkat ketidak percayaan masyarakat
terhadap penegak hukum di Indonesia., disebabkan oleh berbagai faktor antara lain
integritas aparat penegak hukum tersebut, rendahnya tingkat pelaksanaan kinerja oleh
aparat penegak hukum, serta tidak diaplikasikannya nilai-nilai Pancasila dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari oleh aparat penegak hukum.

Analisis yang kedua adalah keterpurukan hukum dalam hal Substansi hukum,
yaitu keseluruhan aturan hukum, norma hukum dan asas hukum, baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis sudah ketinggalan zaman dan merupakan produk peninggalan
penjajah Belanda, sehingga dirasakan kurang aspiratif dalam menyerap keinginan
masyarakat Indonesia, dan tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Analisis selanjutnya
adalah keterpurukan hukum dari aspek Kultur Hukum. Kebiasaan-kebiasaan atau praktek
suap-menyuap merupakan kebiasan dalam penegakan hukum di Indonesia, 87%
responden dari 3 lokasi penelitian menyatakan bahwa aparat penegak hukum di Indonesia
belum bersih dari praktek suap-menyuap.

2.5 Kesimpulan dan Saran

2.5.1 Kesimpulan

Berdasarkan latar belakang, pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai


berikut: Tata Hukum Pancasila adalah Tata Hukum Indonesia. Pengantar Tata Hukum
Indonesia adalah sama seperti Tata Hukum Pancasila oleh karena itu hukum pancasila
adalah hukum tertulis di Indonesia,Oleh karena hukum di Indonesia harus
mencerminkan. Hukum yang akan mengakui tuhan yang maha esa, kemanusiaan yang
adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakayatan dan keadilan sosial.

Dengan mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara, jika


melaksanakannya dengan baik, maka perwujudan untuk menuju negara yang aman dan

6
sejahtera pasti akan terwujud.Sebagai warga negara yang baik kita harus mengamalkan
nilai-nilai pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari,supaya bangsa Indonesia tertib
dalam hukum.

2.5.2 Saran

Untuk mengembangkan nilai-nilai Pancasila dan memadukannya dengan hukum,


diperlukan usaha yang cukup keras. Salah satunya kita harus memiliki rasa nasionalisme
yang tinggi. Selain itu, kita juga harus mempunyai kemauan yang keras guna
mewujudkan negara Indonesia yang aman, makmur dan nyaman bagi setiap orang yang
berada di dalamnya

7
BAB III

PEMBAHASAN

3 PEMBAHASAN :

3.1 Relevansi antara topik jurnal dengan karya-karya dan bidang keahlian penulis

Adapun relevansi antara topik jurnal dengan karya-karya dan bidang keahlian
penulis adalah terdapat relevansi antara topik jurnal terhadap bidang keahlian penulis
dimana pada identitas jurnal tertera: (1)Yadyn, seseorang yang bekerja di Kejaksaan
Negeri Makassar, (2)Abdul Razak, Mahasiswa Hukum Pidana Universitas
Hasanuddin, dan (3) Aswanto adalah Mahasiswa Hukum Pidana Universitas
Hasanuddin dimana kita ketahui bidang keahlian penulis sangat sesuai dengan jurnal
penelitian yang mereka lakukan. Jurnal yang dibuat oleh ketiga penulis tersebut adalah
jurnal Problematika Penegakan Hukum Di Indonesia Menuju Hukum Yang Responsif
Berlandaskan Nilai-Nilai Pancasila. Maka dari hal tersebut dapat kita lihat bahwa
topik jurnal sesuai dengan keahlian penulis.

3.2 Pokok-pokok argumentasi pancasila dalam pendahuluan

Adapun pokok-pokok argumen penulis di dalam pendahuluan adalah sebagai


berikut:
1. Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa
Indonesia yang majemuk
2. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila untuk penegakan hukum
3. Keterbatasan moral para penegak hukum dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila
4. Bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
5. Hukum responsif yang belum selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam jiwa
bangsa Indonesia yakni Pancasila, yaitu pencerminan nilai kemanusiaan dan nilai
keadilan.
8
3.3 Pemilihan serta cakupan kajian teori

Adapun literatur yang digunakan dalam penulisan adalah literatur terupdate


karena pada kajian teori penulis mengemukakan pendapat para ahli diatas tahun 2010
sperti (Jaringan Survei Indponesia, 2011). Hal ini merupakan langkah pembaharuan
penelitian yang terdahulu sehingga penelitian tersebut memberikan informasi yang lebih
baru dan yang akan sangat bermanfaat bagi pembaca dan pembaharuan-pembaharuan
kemudian.

3.4 Metodologi penelitian yang digunakan dan relevansinya

Metodologi dalam penelitian ini dengan desain penelitian menggunakan sumber-


sumber kepustakaan yang mendukung dan dianalisis menggunakan teknik yang tipe
penelitiannya merupakan penelitian normatif (Legal Research) dan Juridis sosiologis
(Socio Legal Research). Populasi dalam penelitian terdiri atas (1) Aparat penegak hukum
(2) swasta (3) Pelajar (4) Pedagang (5) Buruh (6) Pegawai Negeri (7) tahanan maupun
narapidana serta (8) Masyarakat yang terdiri dari seluruh lapisan dan tingkatan. Sampel
penelitian diambil dari seluruh lapisan masyarakat yang terdiri atas tahanan / narapidana,
pelajar, swasta, buruh, pegawai negeri, dan pedagang. Peneliti juga melakukan
wawancara dengan aparat penegak hukum yakni Advocad, Jaksa dan Hakim.

3.5 Kerangka berpikir penulis pada bagian pembahasan

Hasil pembahasan memperlihatkan penulis sebagai eksekutor yaitu di lapangan


seperti pada aparat penegak hukum, pelajar, pedagang, pegawai, tahanan bahkan
narapidana sekalipun penulis melakukan wawancara mengenai nilai-nilai pancasila dalam
penegakan hukum di indonesia. Dan menurut saya penulis memberikan kerangka berpikir

9
yang luar biasa sehingga mendapatkan hasil seperti yang ingin dicapai yaitu Analisis
terhadap keseluruhan hasil penelitian berupa struktur hukum, terhadap aparat penegak
hukum, Analisis yang kedua adalah keterpurukan hukum dalam hal Substansi hukum,
yaitu keseluruhan aturan hukum, norma hukum dan asas hukum, baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis, Analisis selanjutnya adalah keterpurukan hukum dari aspek
Kultur Hukum. Kebiasaan-kebiasaan atau praktek suap-menyuap merupakan kebiasan
dalam penegakan hukum di Indonesia.

3.6 Kesimpulan dan saran yang diajukan penulis serta implikasinya pada penelitian berikutnya

Kesimpulan dan saran yang diajukan penulis sudah lengkap dan mencakup secara
keseluruhan tujuan dari penelitian ini dan harapan berikutnya terhadap nilai-nilai
pancasila dalam penetapan hukum di Indonesia ini.
Adapun implikasi untuk penelitian berikutnya ialah jurnal ini sudah hampir
memuat semua data yang dicari dan diperlukan dalam penelitian. Untuk penelitian
selanjutnya bisa menggunakan jurnal ini sebagai pembantu ataupun pembanding untuk
penelitian kasus berikutnya dengan lebih memperluas pengolhan dan analisis data.

3.7 Keunggulan dan kelemahan jurnal

3.7.1 Keunggulan

 Artikel atau jurnal ini merupakan jurnal internasional yang sudah terakui
kebagusannya dilihat dari adanya ISSN, volume dan nomor pada jurnal.
 Peneliti menggunakan landasan yang bagus yaitu mengambil beberapa
argumen dari para ahli untuk digunakan sebagai dasar penelitian.
 Pengumpulan datanya sudah mutakhir terbukti dengan metode penelitian yag
sangat lengkap

10
 Pustaka yang dipakai oleh peneliti sebagai landasan begitu banyak dan juga
peneliti menggunakan buku-buku yang bagus merupakan buku yang
kemutakhirannya sudah terakui.
 Artikel atau jurnal yang dibuat oleh penulis sudah memuat cara penulisan
jurnal yang baik dan benar serta sudah memuat kemuktahiran penelitian yang
memuat pendahuluan, kajian teori, metodologi penelitian, pembahasan,
kesimpulan serta saran.
 Bahasa yang digunakan pada artikel atau jurnal ini tidak rumit sehingga dapat
dengan mudah dipahami oleh pembaca.
 Analisis datanya sangat lengkap, objek yang diteliti juga sangat luas, tidak
berpatok pada satu populasi saja.
 Jurnal ini memuat kasus-kasus atau masalah nilai-nilai pancasila dalam
penegakan hukum sesuai dengan masalah bangsa indonesia saat ini

3.7.2 Kelemahan

 Analisis data pada jurnal ini kurang lengkap dan terperinci, sehingga membuat
pembaca kurang memahami metode analisis data yang dilakukan.

 Pembahasan pada jurnal ini terlalu padat, sehingga membuat pembaca bosan
dalam membaca keseluruhan jurnal tersebut

11
BAB IV

PENUTUP

4 KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dari jurnal yang saya baca ini, jurnal ini dapat digunakan sebagai panduan
penelitian berikutnya, belajar dari memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat
pada jurnal. Dan Tinjauan pustaka pada artikel atau jurnal ini dapat juga dipakai sebagai
bahan pelajaran bagi mahasiswa pada materi pancasila sebagai pentingnya nilai-nilai
pancasila bagi bangsa indonesia

4.2 Saran

Sebaiknya semua kekurangan yang terdapat pada jurnal ini direvisi lagi dan
ditingkatkan kualitas dan kekuatan penelitiannya serta mengedepankan kasus maupun
masalah terupdate di Negara ini yaitu Indonesia.

12