Anda di halaman 1dari 10

1. Validasi model tanah.

Validasi adalah sebuah tindakan pembuktian melalui langkah-langkah yang


sesuai bahwa perlengkapan atau mekanisme, kegiatan, prosedur, proses dan tiap
bahan yang telah digunakan dalam pengawasan dan produksi akan selalu mencapai
hasil yang diinginkan. Validasi dilakukan dengan cara kalibrasi dan verifikasi
terhadap debit (m3/dtk) sebagai luaran model. Dimana dalam ilmu mekanika tanah
yang disebut “tanah” ialah semua endapan alam yang berhubungan dengan teknik
sipil, kecuali batuan tetap. Ukuran dari partikel tanah adalah sangat beragam dengan
variasi yang cukup besar. Model tanah atau jenis tanah umumnya dapat disebut
sebagai kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (silt) atau lempung (clay), tergantung
pada ukuran partikel yang paling dominan pada tanah tersebut.

Tabel 1.1Batasan-Batasan Ukuran Golongan Tanah.

Nama Kelompok Ukuran Butiran (mm)

Organisasi Kerikil Pasir Lanau Lempung

Massachusetts Institute of
>2 2 – 0,06 0,06 – 0,002 < 0,002
Technology (MIT)

U.S. Departement of
>2 2 – 0,05 0,05 – 0,002 < 0,002
Agriculture (USDA)

American Association of State


Highway and Transportation 76,2 - 2 2 –0,075 0,075–0,002 < 0,002
Officials (AASHTO)

Unified Soil Classification Halus


System (U.S. Army Corps of
(yaitu lanau dan
Engineers, U.S. Bureau of 76,2-4,75 4,75-0,075
lempung)
Reclamation)
< 0,0075

Sumber :Mekanika Tanah, Braja M Das

1
Pemodelan Tanah, menggunakan metode pendekatan tanah melalui model Mohr-
Coulomb, Linear Elastic, dan HS Small yang dimodelkan dalam program Plaxis.
Dari ketiga model tersebut parameter yang digunakan berbeda-beda, berikut adalah
spesifikasi yang digunakan oleh setiap model.
 Model Mohr-Coulomb, merupakan pendekatan perilaku tanah yang paling
sederhana dan cukup baik menjelaskan perilaku tanah dan batuan. Mohr-
Coulomb sering disebut juga linear elastic perfectly plastic model yang
dapatmemodelkan sifat elastisitas tanah dengan parameter modulus
kekakuan tanah (E )dan poisson ratio (v) serta memodelkan perilaku plastis
tanah dengan parameterkohesi (c) dan sudut geser tanah (∅). Model ini
cukup baik sebagai tingkat pertama (first order) pendekatan prilaku tanah
dan batuan. Disini setiap lapis tanah dianggap mempunyai kekakuan yang
konstan atau meningkat secara linier terhadap kedalaman. Kelemahan
model ini adalah melinierkan kekakuan tanah (tidak memperhitungkan
perubahan nilai E terhadap perubahan tegangan).
 Model Linear Elastic, dasar dari model linear elastic adalah Hukum Hooke
yang dapat digunakanuntuk memodelkan perilaku tanah atau suatu material
yang elastik dan isotropik.Parameter yang digunakan juga tidak banyak,
hanya 2 parameter penting yangdigunakan dalam model ini yaitu Modulus
Young (E) dan poisson ratio (v) yangdapat dicari dengan mudah seperti
model Mohr-Coulomb.
 Model HS Small, Model Hardening Soil Model mengasumsikan model
yang dibentuk adalahelastis selama proses loading maupun unloading
namun pada kenyataannya perilakutanah bisa kembali seperti semula ketika
tanah meregang sepenuhnya dengan sangatkecil atau biasa disebut regangan
kecil (small strain), model HS Small ini merupakan pembaharuan dari
model sebelumnya yaitu Hardening Soil Model dimanamemerlukan
kekakuan regangan kecil dari tanah dan model kekakuan tanah untuk
mengurangi ketidak linieran dengan pertambahan amplitude regangan.

2
Pendekatan tanah dengan model HS Small lebih mendekati kondisi yang
terjadi sesungguhnya pada tanah.

2. Formulasi rumus korelasi Vs dari nilai N-SPT.

Kecepatan gelombang geser (Vs)merupakan salah satu properti dinamis tanah


yang penting dalam analisis site specific response gempa. Sejak tahun 70–an para
peneliti dari Jepang sudah memulai mengembangkan persamaan korelasi Vs
dengan parameter tanah seperti nilai N-SPT, dimana Standart Penetration Test
(SPT) merupakan salah satu tes tanah untuk mengetahui jenis tanah pada lokasi
yang akan didirikan bangunan, pada dasarnya uji SPT ini merupakan penjatuhan
palu (pada alat SPT) seberat 63,5 kg dengan tinggi jatuh 76 cm dan dilakukan
pengukuran jumlah pukulan untuk menghantam tanah sedalam 30 cm searah
vertikal. Pada pemukulan pertama nilai dicatat sebagai dudukan, sedangkan nilai
pada pemukulan ke-2 dan ke-3 dijumlahkan untuk memdapatkan nilai pukulan N
atau perlawanan SPT. Persamaan korelasi semakin banyak bermunculan dari hasil
penelitian untuk kondisi tanah di beberapa negara.

Tabel 2.1 Beberapa persamaan korelasi yang dihasilkan beberapa peneliti


terdahulu

3
3. Respon model tanah linier ekivalen dan non-linier?

Model tanah linier ekivalen


Perilaku histeresis non linier aktual (the actual nonlinear hysteritic
behavior) dapat didekati dengan pendekatan linier ekivalen. Pendekatan linier
menggunakan nilai modulus geser ekivalen (G) dan ratio redaman linier ekivalen
(ξ). SHAKE merupakan salah program komputer yang pertama menggunakan
pendekatan linier ekivalen. Pada tahun 1998 dikembangkan program komputer
EERA dalam FORTRAN 90, berdasarkan konsep yang sama dengan SHAKE.
EERA merupakan singkatan dari Equivalent-linear Earthquake site Response
Analysis. Input dan output yang digunakan pada program ini sepenuhnya
menggunakan MS-Excel.
Pendekatan model linier ekivalen dilakukan dengan memodifikasi model Kelvin-
Voigt untuk memperhitungkan beberapa jenis ketidaklinieran tanah. Perilaku
nonlinier dan hysteresis tegangan-regangan tanah aktual didekati selama
pembebanan.

4
Modulus geser linier ekivalen (G) digunakan sebagai modulus regangan secant
(Gs), yang tergantung pada amplitudo regangan geser (γ).Gs pada akhir siklus
regangan simetris adalah:
c
Gs 
c
Dimana τc dan γc adalah tegangan geser dan amplitudo regangan.

Energi yang terdissipasi (Wd) selama siklus pembebanan sama dengan daerah yang
terbentuk dari loop tegangan-regangan, yaitu:
W d    d
c

Energi regangan maksimum yang tersimpan pada sistem adalah:

Ws = ½ τc γc = ½ G γ

Critical damping ratio (ξ) dapat dinyatakan dalam Wd dan Ws yaitu :


Wd

4Ws

Damping ratio untuk model linier ekivalen (ξ) adalah damping ratio yang
menghasilkan kehilangan energi yang sama dengan siklus tunggal pada loop
hysteresis tegangan-regangan pada perilaku tanah irreversible.

Model tanah non linier

Berbagai variasi model tanah non-linier siklik telah dikembangkan dengan


karakteristik kurva lengkung hiperbolik, serta digunakan beberapa aturan dalam
mengembangkan perilaku unloading-reloading, penurunan kekakuan, dan efek
lainnya. Bentuk kurva lengkung hiperbolik ini terlihat pada Gambar 1. Nilai Gmax
dan τmax dapat diproleh dari pengukuran, komputasi, atau dari korelasi empiris.

5
Gambar 1. Kurva lengkung hiperbolik.

Beberapa model yang menggunakan prinsip unloading-reloading seperti dikutip


dari yaitu model Ramberg-Osgood, model hyperbolik, model Martin-Davidenkov,
model Iwan type, dan model HDCP (Hardin-Drnevich-Cundall-Pyke).
Model-model ini dapat diimplementasikan dalam analisis respons tanah. Untuk
menghindari respons palsu pada tingkat regangan yang sangat rendah, beberapa
model non-linier siklik menambahkan damping regangan rendah.

Pada unloading-reloading response model non-linier siklik, regangan geser tidak


akan nol pada saat tegangan geser nol, ini merupakan kelebihan model non-linier
siklik jika dibandingkan dengan model linier ekivalen. Selain itu kemampuan untuk
menghitung perubahan tekanan pori dan juga perubahan tegangan efektif
merupakan kelebihan yang terdapat pada model non-linier siklik. Pada saat tekanan
pori meningkat, tegangan efektif menurun, sehingga nilai Gmax dan τmax akan
menurun. Bentuk dan posisi kurva lengkung hiperbolik tergantung pada nilai Gmax
dan τmax, lengkungan kurva akan menurun seiring dengan meningkatnya tegangan
pori.

Kesimpulan

Model tanah linier ekivalen dan model tanah non-linier dibandingkan dengan
melakukan analisis pada jenis tanah pasir homogen. Hasil yang diperoleh dari
model tanah linier ekivalen memberikan nilai yang relatif lebih besar dibandingkan
dengan model tanah non linier. Model tanah linier ekivalen merupakan model tanah
yang mudah diimplementasikan kedalam program komputer, namun hasil yang

6
diperoleh memberikan nilai yang overestimate dibandingkan dengan model tanah
non linier.

4. Efek ekstrapolasi nilai Vs?

Efek ekstrapolasi kecepatan gelombang shear (Vs) adalah proses memperkirakan


nilai suatu arah pergerakannya tegak lurus (transversal) dengan arah perambatan
gelombang. Persamaan dari kecepatan Gelombang S (Vs) adalah sebagai berikut :

𝜇
𝑉𝑠 = √
𝜌

dimana, Vs = kecepatan Gelombang S


μ = modulus geser
ρ= densitas medium

Gelombang ini tidak dapat merambat pada fluida, sehingga pada inti bumi bagian
luar tidak dapat terdeteksi sedangkan pada inti bumi bagian dalam mampu dilewati.
Kecepatan gelombang S (VS) adalah ± 3 – 4 km/s di kerak bumi, > 4,5 km/s di
dalam mantel bumi, dan 2,5 – 3,0 km/s di dalam inti bumi (Hidayati, 2010). Dalam
ASCE 2010 dan SNI 1726:2012, parameter kecepatan gelombang geser (Vs) sudah
dimasukkan dan menjadi salah satu parameter dalam menentukan pengklasifikasian
jenis tanah dan batuan sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Klasifikasi jenis tanah dan batuan berdasarkan ASCE 2010 dan SNI
1726:2012

7
5. Efek kedalam batuan dasar dan perbedaan sumber gempa?

Efek batuan dasar memiliki peranan penting dalam perencanaan pembangunan


infrastruktur pada suatu daerah. Jenis dan kedalaman batuan dasar di bawah
permukaan bumi dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membangun
suatu infrastruktur. Keberadaan batuan dasar dapat dijadikan pedoman dalam
kontruksi jalan raya dan bangunan. Sifat batuan dasar yang memiliki tekstur keras,
sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam pemberian beban terhadap
permukaan bumi akibat pembangunan infrastruktur di atas permukaannya.

Batuan dasar memiliki porositas dan permeabilitas yang sangat rendah. Hal ini
disebabkan batuan dasar memiliki nilai tahanan jenis yang cukup tinggi. Porositas
adalah ukuran ruang kosong dalam suatu bahan, sedangkan permeabilitas adalah
sifat suatu bahan untuk meloloskan air.

Perbedaan sumber gempa, dimana sumber gempa disebut juga dengan istilah
hiposenter (hypocenter/hiposentrum) yang berasal dari bahasa Yunani υπόκεντρον
yang berarti "di pusat", adalah titik di dalam bumi yang menjadi pusat gempa bumi.
Titik di permukaan bumi tepat di atas hiposenter disebut dengan episenter.
Hiposentrum adalah sumber gempa di kedalaman bumi tertentu. Lokasi pusat
gempa ditentukan berdasarkan pengukuran gelombang seismik. Sedangkan
Episentrum adalah gempa bumi yang terjadi di luar permukaan bumi.
Analisis deagregasi dilakukan untuk mengetahui gempa yang paling berpengaruh
terhadap suatu lokasi kajian berdasarkan nilai magnitude (M) dan jarak (R) yang
paling dominan. Hal ini digunakan untuk pencarian data goyangan gempa (motion)
yang sesuai untuk lokasi tersebut.

8
A. Berdasarkan Penyebabnya, gempa bumi dapat dikelompokan sebagai berikut:

 Gempa Tektonik, yaitu gempa bumi yang berasal dari pergeseran lempeng-
lempeng bumi yang mengakibatkan permukaan tanah menjadi bergerak.

 Gempa Vulkanis, yaitu gempa yang diakibatkan adanya letusan gunung


berapi yang sangat keras sehingga tanah disekitarnya menjadi bergerak
 Gempa Guguran, yaitu gempa yang diakibatkan runtuhnya masa batuan
atau tanah yang sering terjadi teowongan tambang dan gua

B. Berdasarkan Jarak Hiposentrum-nya

 Gempa bumi dalam, yaitu gempa bumi yang jarak atau kedalaman
hiposentrumnya lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi.
 Gempa bumi menengah, yaitu gempa bumi yang jarak atau kedalaman
hiposentrumnya berada antara 100 km dan 300 km di bawah permukaan
bumi
 Gempa bumi dangkal, yaitu gempa bumi yang jarak atau kedalaman
hiposentrumnya kurang dari 100 km dibawah permukaan bumi

C. Berdasarkan Intensitas atau Kekuatannya


 Makroseisme, adalah gempa bumi yang ber-intensitas besar dan dapat
diketahui secara langsung

9
 Mikroseisme, adalah gempa bumi yang ber-intensitas kecil dan harus alat
pengukur kekuatan gempa jika ingin mengetahui intensitas gempan-nya

10