Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

ENERGI TERBARUKAN

PEMBUATAN BIOBRIKET DARI KERNEL SAWIT DAN SEKAM PADI

Oleh:
Sania Mazaya
NIM A1C015043

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Energi biomassa menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan bakar

fosil (minyak bumi) karena beberapa sifatnya yang menguntungkan yaitu, dapat

dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang dapat diperbaharui, relatif tidak

mengandung unsur sulfur sehingga tidak menyebabkan polusi udara juga dapat

meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya hutan dan pertanian.

Situasi energi di Indonesia tidak lepas dari situasi energi dunia. Konsumsi

energi dunia hanya makin meningkat membuka kesempatan bagi Indonesia untuk

mencari sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Seperti

diketahui Indonesia sangat berkepentingan untuk menggantikan sumber daya

energi minyak dengan sumber daya energi lainnya, karena minyak merupakan

sumber daya energi yang menghasilkan devisa selain gas alam oleh karena itu,

sektor sektor perekonomian yang memanfaatkan minyak sedapat mungkin

menggantikannya dengan sumber daya lain seperti gas alam, batubara, panas

bumi, tenaga air dan biomassa yang tersedia dalam jumlah besar.

Mengurangi penggunaan minyak bumi yang berlebihan maka perlu

dikembangkan suatu energi alternatif yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti

minyak bumi. Bentuk alternatif ini ada berbagai macam antara lain gasohol bahan

bahan organik, biobriket yang bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan

bentuk bentuk energi alternatif yang lain, energi alternatif yang dihasilkan
diharapkan memiliki kualitas dan terbuat dari bahan baku yang diperbaharui dan

murah.

B. Tujuan

1. Mengetahui proses pembuatan biobriket dari kernel sawit dan sekam padi.

2. Membandingkan antara briket karbonisasi dan non karbonisasi.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Energi biomassa menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan bakar

fosil (minyak bumi) karena beberapa sifatnya yang menguntungkan yaitu, dapat

dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang dapat diperbaharui, relatif tidak

mengandung unsur sulfur sehingga tidak menyebabkan polusi udara juga dapat

meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya hutan dan pertanian (Widardo

dan Suryanta, 1995).

Energi biomassa dapat menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan

bakar fosil (minyak bumi) karena beberapa sifatnya yang menguntungkan yaitu

dapat dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang dapat diperbaharui

(renewable resources), relatif tidak mengandung sulfur sehingga tidak

menyebabkan polusi udara, dan mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan

sumber daya hutan dan pertanian (Ndraha, 2009). Biomassa merupakan campuran

material organik yang kompleks, terdiri atas karbohidrat, lemak, protein, dan

sedikit mineral lain seperti sodium, fosfor, kalsium, dan besi. Komponen utama

biomassa tersusun atas selulosa dan lignin (Silalahi, 2000).

Biobriket merupakan batangan arang yang terbuat dari arang limbah organik

yang telah dicetak sedemikian rupa yang memiliki nilai kalor yang tinggi.

Biobriket banyak dimanfaatkan di negara-negara Asia bagian selatan seperti

Indonesia, India, dan Thailand. Biobriket merupakan salah satu alternatif

pemanfaatan limbah guna meningkatkan nilai tambah limbah hasil pertanian

(Muhammad Ginta Mundhe, 2015).


Pembuatan briket arang dari limbah pertanian dapat dilakukan dengan

menambah bahan perekat, dimana bahan baku diarangkan terlebih dahulu

kemudian ditumbuk, dicampur perekat, dicetak dengan sistem hidrolik maupun

manual dan selanjutnya dikeringkan. Penggunaaan bahan perekat dimaksudkan

untuk menarik air dan membentuk tekstur yang padat atau mengikat dua substrat

yang direkatkan. Adanya bahan perekat menjadikan massa susunan partikel

semakin baik, teratur dan lebih padat sehingga dalam proses pencetakan

keteguhan tekan dan arang briket akan semakin baik. Bioarang ini memberikan

keuntungan yaitu biayanya amat murah. Alat yang digunakan untuk pembuatan

briket bioarang cukup sederhana dan bahan bakunya pun sangat murah, bahkan

tidak perlu membeli karena berasal dari sampah, limbah pertanian yang tidak

digunakan lagi. Bahan baku untuk pembuatan arang umumnya telah tersedia

disekitar kita (Tim Penyusun, 2017).


III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Timbangan digital.

2. Alat pencetak briket.

3. Alat tulis.

4. Pengaduk.

5. Panci dan kompor.

6. Bahan (kernel sawit dan sekam padi).

7. Air.

8. Tepung tapioka.

9. Gelas ukur.

10. Alat penumbuk.

B. Prosedur Praktikum

a. Kernel Sawit.

1. Mempersiapkan alat dan bahan.

2. Menimbang bahan sesuai kebutuhan. Kemudian lakukan proses

pembakaran bahan baku (pengarangan) hingga menjadi arang.

3. Arang yang sudah jadi dihaluskan, hingga menjadi serbuk.

4. Menimbang arang yang sudah menjadi serbuk (150 gram) dan timbang

tepung kanji (15% dan 20%) dengan timbangan digital.


5. Membuat bahan perekat dengan cara memanaskan tepung tapioka yang

dicampur dengan air hingga membentuk adonan kanji (1:5).

6. Mencampurkan adonan perekat dengan serbuk arang dengan perbandingan

15% dan 20%.

7. Mencetak adonan menggunakan alat pencetak briket, kemudian timbang

dengan timbangan digital.

8. Mengoven briket selama 24 jam.

9. Setelah 24 jam, menimbang briket, mengukur diameter luar dan diameter

dalam briket.

10. Membakar briket sambil menghitung lamanya waktu briket terbakar

sampai menjadi abu dan bara api mati dengan sendirinya.

11. Mencatat hasil pengamatan, menghitung volume, susut bobot dan densitas

briket.

b. Sekam padi

1. Mempersiapkan alat dan bahan.

2. Menimbang bahan (150 gram) dan timbang tepung tapioka (15% dan

20%) dengan timbangan digital.

3. Membuat bahan perekat dengan cara memanaskan tepung tapioka yang

dicampur dengan air hingga membentuk adonan kanji (1:5).

4. Mencampurkan adonan perekat dengan serbuk arang dengan perbandingan

15% dan 20%.

5. Mencetak adonan menggunakan alat pencetak briket, kemudian timbang

dengan timbangan digital.


6. Mengoven briket selama 24 jam.

7. Setelah 24 jam, menimbang briket, mengukur diameter luar dan diameter

dalam briket.

8. Membakar briket sambil menghitung lamanya waktu briket terbakar

sampai menjadi abu dan bara api mati dengan sendirinya.

9. Mencatat hasil pengamatan, menghitung volume, susut bobot dan densitas

briket.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Drum Kiln

Gambar 1. Drum Kiln

Drum kiln berfungsi untuk melakukan proses karbonisasi atau

pengarangan pada suatu bahan yang akan dijadikan arang. Drum kiln ini

mempunyai penutup dengan satu cerobong asap dan di bagian bawahnya

terdapat lubang kecil agar oksigen dapat masuk secukupnya.

Keterangan gambar dan fungsi:

A : Exhaust berfungsi sebagai lubang keluaran gas pembakaran.

B : Tutup berfungsi untuk menutup tabung.


C : Tabung berfungsi sebagai tempat pembakaran.

D : Kaki tabung berfungsi untuk menyangga tabung.

2. Alat Pengempa

A B

Gambar 2. Alat Pengempa

Alat pengempa berfungsi untuk mengempa atau mencetak briket, baik

dari biomassa hasil karbonisasi atau nonkarbonisasi. Alat ini akan

membentuk suatu padatan yang lebih memudahkan dalam pengangkutan

suatu briket.

Keterangan gambar dan fungsi:

A : Pegas berfungsi untuk mengembalikan posisi tuas penekan.

B : Tuas penekan untuk menekan alat tongkat pengempa.


C : Tongkat pengempa berfungsi untuk mengempa briket.

D : Tabung pengcetak berfungsi sebagai tempat mencetak briket yang


dikempa.

E : Kerangka berfungsi sebagai tempat tegaknya alat.

3. Tungku Biomassa

Gambar 3. Tungku Biomassa

Tungku biomassa berfungsi sebagai tempat pembakaran briket biomassa

yang digunakan sebagai bahan bakar kompor untuk memasak.

Keterangan gambar dan fungsi:

A : Meja Pembakaran berfungsi sebagai tempat meletakan alat pemasak.

B : Tabung Bakar berfungsi sebagai tempat terjadinya pembakaran.


4. Data praktikum

Jenis briket: sekam padi nonkarbonisasi

Tabel 1. Data hasil praktikum


Massa (g) Susut Diame
Nomer Tinggi Volume Densitas
bobot ter
briket Awal Akhir (cm) (cm3) (g/cm3)
(g) (cm)
1 66,94 46,76 20,18 3,5 6 57,70 0,81
2 62,92 44, 26 18,66 3,8 5,8 65,75 0,67
3 49,10 34,16 14,94 3,7 4,7 50,51 0,68
4 58,20 41,16 17,04 3,7 5,2 55,88 0,74
5 52,31 36,90 15,41 3,5 4,6 44,23 0,83
6 45,40 31,84 13,56 3,5 4,5 43,27 0,74

Lama waktu pembakaran briket nomer 2, 3, 5, dan 6 yaitu 5,47 menit.

5. Perhitungan

a. Susut bobot

Susut bobot = massa awal – massa akhir

Susut bobot 1 = 66,94 – 46,76 = 20,18 g

Susut bobot 2 = 62,92 – 44,26 = 18,66 g

Susut bobot 3 = 49,10 – 34,16 = 14,94 g

Susut bobot 4 = 58,20 – 41,16 = 17,04 g

Susut bobot 5 = 52,31 – 36,90 = 15,41 g

Susut bobot 6 = 45,40 – 31,84 = 13,56 g

b. Volume

Volume = ¼ . π . d2 . t

Volume 1 = ¼ . 3,14 . 3,52 . 6 = 57,70 cm3

Volume 2 = ¼ . 3,14 . 3,82 . 5,8 = 65,75 cm3

Volume 3 = ¼ . 3,14 . 3,72. 4,7 = 50,51 cm3


Volume 4 = ¼ . 3,14 . 3,72 . 5,2 = 55,88 cm3

Volume 5 = ¼ . 3,14 . 3,52 . 4,6 = 44,23 cm3

Volume 6 = ¼ . 3,14 . 3,92 . 4,5 = 43,27 cm3

c. Densitas

Densitas = massa briket setelah dioven : volume briket

Densitas 1 = 46,76 : 57,70 = 0,81 g/cm3

Densitas 2 = 44,26 : 65,75 = 0,67 g/cm3

Densitas 3 = 34,16 : 50,51 = 0,68 g/cm3

Densitas 4 = 41,16 : 55,88 = 0,74 g/cm3

Densitas 5 = 36,9 : 44,23 = 0,83 g/cm3

Densitas 6 = 31,84 : 43,27 = 0,74 g/cm3

B. Pembahasan

Energi biomassa menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan bakar

fosil (minyak bumi) karena beberapa sifatnya yang menguntungkan yaitu dapat

dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang dapat diperbaharui, relatif tidak

mengandung unsur sulfur sehingga tidak menyebabkan polusi udara juga dapat

meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya hutan dan pertanian (Widardo

dan Suryanta, 1995).

Biomassa adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan semua

bahan organik yang ada di permukaan bumi seperti halnya kayu, rumput laut,

limbah dari kotoran hewan dan lain-lain yang dapat digunakan sebagai energi.
Biomassa bersifat ramah lingkungan, bersih, murah dan berguna sebagai bahan

bakar (Iriany, 2016).

Briket adalah perubahan bentuk produk dari serbuk yang dicampur dengan

perekat menjadi bentuk tertentu sesuai yang diinginkan melalui proses

pengepresan. Pembuatan briket dapat memberikan bentuk dan ukuran seragam,

sehingga memudahkan untuk dibawa dan digunakan untuk bahan bakar.

Pemanfaatan limbah tempurung dari industri pengolahan minyak kelapa sawit

menjadi briket tempurung untuk bahan bakar merupakan alternatif untuk

mengoptimalkan dan memberikan nilai tambah limbah padat.

Briket adalah produk hasil proses pemadatan residu biomassa yang

digunakan sebagai bahan bakar dan dicetak dengan menggunakan perekat. Briket

dari biomassa memiliki nilai kalor yang tinggi. Faktor yang mempengaruhi

kualitas briket adalah komposisi bahan baku dan waktu karbonisasi. Proses

karbonisasi dalam pembuatan briket dapat menambah nilai kalor dan mengurangi

asap yang dihasilkan dari pembakaran briket (Iriany, 2016).

Biobriket merupakan batangan arang yang terbuat dari arang limbah organik

yang telah dicetak sedemikian rupa yang memiliki nilai kalor yang tinggi.

Biobriket banyak dimanfaatkan di negara-negara Asia bagian selatan seperti

Indonesia, India, dan Thailand. Biobriket merupakan salah satu alternatif

pemanfaatan limbah guna meningkatkan nilai tambah limbah hasil pertanian

(Iriany, 2016).

Briket biorang adalah gumpalan-gumpalan atau batangan-batangan arang

yang terbuat dari aneka macam bahan hayati atau biomassa. Briket adalah salah
satu cara yang digunakan untuk mengkonversi sumber energi biomassa kebentuk

biomassa lain dengan cara dimampatkan sehingga bentuknya menjadi lebih teratur

(Hijrah Purnama Putra, 2013).

Bioarang merupakan arang (salah satu jenis bahan bakar) yang dibuat dari

aneka macam bahan hayati atau biomassa, misalnya kayu, ranting, daun-daunan,

rumput, jerami, ataupun limbah pertanian lainnya. Bioarang ini dapat digunakan

dengan melalui proses pengolahan, salah satunya adalah menjadi briket bioarang

(Retta Ria Purnama, 2012).

Karbonisasi adalah proses pemecahan atau peruraian selulosa menjadi

karbon pada suhu berkisar 275oC. Dengan proses karbonisasi, nilai kalor yang

dihasilkan dapat mencapai 25-30 MJ/kg, sedangkan proses nonkarbonisasi hanya

menghasilkan nilai kalor sekitar 15 MJ/kg (Iriany, 2016).

Briket karbonisasi adalah jenis briket yang terlebih dahulu mengalami

proses karbonisasi sebelum menjadi briket yaitu proses pengkarbonan atau

pengarangan atau pembakaran bahan baku (umpan) didalam tungku pembakaran

(incinerator). Sedangkan briket nonkarbonisasi merupakan briket yang tidak

mengalami proses karbonisasi dan proses pembuatannya lebih sederhana.

Pembuatan briket mempunyai dua bahan penyusun yang penting yaitu bahan baku

dan bahan perekat. Pemilihan bahan baku dan bahan perekat sangat menentukan

mutu suatu briket. Bahan baku dan bahan perekat yang banyak digunakan saat ini

adalah biomassa (Maryono, 2013).

Briket merupakan salah satu biomassa yang terbuat dari bahan-bahan

organik dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Dalam pembuatan


briket, proses pirolisis dan perekat yang digunakan dalam pencetakan briket

merupakan faktor yang paling penting, karena hal ini akan mempengaruhi kualitas

briket yang dihasilkan. (Hijrah Purnama Putra, 2013)

a. Pirolisis

Merupakan suatu proses termal dengan kondisi sedikit atau tanpa adanya

oksigen. Pirolisis merupakan salah satu proses konversi biomassa secara

termokimia, dimana terjadi destruksi bahan organik dengan panas yang terjadi

tanpa oksigen. Proses pirolisis dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :

1) Fast Pyrolisis, yaitu pirolisis yang dilakukan pada suhu tinggi (±5000C),

laju transfer panas cepat, mempunyai vapuor residence time yang pendek

(<2 detik), menghasilkan 75% cairan (25% air), arang 12%, dan gas 13%.

2) Medium Pyrolisis, yaitu pirolisis yang dilakukan pada suhu moderat (<

5000C), laju transfer panas sedang, mempunyai vapuor residence time

yang moderat (±2 detik), menghasilkan 50% cairan, (50% air), arang 25%,

dan gas 25%.

3) Slow Pyrolisis, yaitu pirolisis yang dilakukan pada suhu rendah (50-

1000C), laju transfer panas lambat, mempunyai vapuor residence time

yang panjang (>2 detik), menghasilkan 30% cair (70% air), arang 35%,

dan gas 35%.

b. Perekat yang biasa digunakan untuk membuat briket dapat dikelompokkan

menjadi 2 (dua) jenis, yaitu perekat organik dan perekat anorganik.


1) Perekat organik, merupakan perekat yang efektif, tidak terlalu mahal dan

menghasilkan abu yang relatif sedikit. Contoh perekat organik adalah

kanji, dan tar.

2) Perekat anorganik, merupakan perekat yang dapat menjaga ketahanan

briket dalam proses pembakaran, sehingga briket menjadi tahan lama.

Selain itu perekat ini juga memiliki daya lekat yang kuat dibandingkan

perekat organik, akan tetapi biaya yang dikeluarkan lebih tinggi dan

menghasilkan abu yang lebih banyak dibandingkan perekat organik.

Perekat pabrik seperti lem merupakan salah satu perekat anorganik.

Standar kualitas briket bioarang dari TKKS pada saat ini masih belum ada,

akan tetapi briket bioarang yang memenuhi syarat sebagai bahan bakar dapat

dilihat dari nilai kalor, kadar karbon terikat dan kerapatannya yang tinggi. Saat ini

digunakan SNI 01-6235-2000 mengenai standar kualitas briket arang dengan

bahan baku utamanya kayu, yaitu dimana syarat briket yang baik memiliki :

1. Kadar air : maksimal 8%.

2. Bahan yang hilang pada pemanasan 950oC : maksimal 15 %.

3. Kadar abu : maksimal 8%.

4. Kalori (atas dasar berat kering) : minimal 5000 kal/gr.

Syarat briket yang baik adalah briket yang permukaannya halus dan tidak

meninggalkan bekas hitam di tangan. Selain itu, sebagai bahan bakar, briket juga

harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Mudah dinyalakan.

b. Tidak mengeluarkan asap.


c. Emisi gas hasil pembakaran tidak mengandung racun.

d. Kedap air dan hasil pembakaran tidak berjamur bila disimpan pada waktu

lama.

e. Menunjukkan upaya laju pembakaran (waktu, laju pembakaran, dan suhu

pembakaran) yang baik.

Menurut hasil praktikum pembuatan briket dari kernel sawit, saat dilakukan

pengujian briket mudah terbakar, hasil api dari pembakaran terbilang cukup baik,

asap yang dihasilkann terbilang kecil bahkan tidak ada asap yang keluar dan lama

pembakaran 16.02 menit merupakan waktu yang baik.

Perekat yang biasa digunakan untuk membuat briket dapat dikelompokkan

menjadi 2 (dua) jenis, yaitu perekat organik dan perekat anorganik.

1. Perekat organik, merupakan perekat yang efektif, tidak terlalu mahal dan

menghasilkan abu yang relatif sedikit. Contoh perekat organik adalah kanji,

dan tar.

2. Perekat anorganik, merupakan perekat yang dapat menjaga ketahanan briket

dalam proses pembakaran, sehingga briket menjadi tahan lama. Selain itu

perekat ini juga memiliki daya lekat yang kuat dibandingkan perekat organik,

akan tetapi biaya yang dikeluarkan lebih tinggi dan menghasilkan abu yang

lebih banyak dibandingkan perekat organik. Perekat pabrik seperti lem

merupakan salah satu perekat anorganik.

Menurut Reta Ria Purnama (2012), secara umum proses pembuatan briket

melalui tahap penggerusan, pencampuran, pencetakan, pengeringan dan

pengepakan.
a. Penggerusan adalah menggerus bahan baku briket untuk mendapatkan ukuran

butir tertentu. Alat yang digunakan adalah crusher.

b. Pencampuran adalah mencampur bahan baku briket pada komposisis tertentu

untuk mendapatkan adonan yang homogen. Alat yang digunakan adalah

mixer, combining blender, horizontal kneader dan freet mill.

c. Pencetakan adalah mencetak adonan briket untuk mendapatkan bentuk

tertentu sesuaikan yang diinginkan. Alat yang digunakan adalah Briquetting

Machine.

d. Pengeringan adalah proses mengeringkan briket dengan menggunakan udara

panas pada temperatur tertentu untuk menurunkan kandungan air briket.

e. Pengepakan adalah pengemasan produk briket sesuai dengan spesifikasi

kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan.

Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Pembuatan Biobriket

Massa (g) Susut Volume Lama


No. Diameter Densitas
Bobot Briket bakar
Briket (cm) (g/m3)
Awal Akhir (g) (cm3) (menit)
A 66.94 46.76 20.18 3.5 57.75 0.81 16.02
B 62.92 44.26 18.66 3.8 65.81 0.67 16.02
C 49.1 34.16 14.94 3.7 50.55 0.67 16.02
D 58.2 41.12 17.08 3.7 55.93 0.74 16.02
E 52.31 36.9 15.41 3.5 44.28 0.83 16.02
F 45.4 31.84 13.56 3.5 43.31 0.74 16.02

Menurut hasil praktikum pembuatan briket dari kernel sawit, saat dilakukan

pengujian briket mudah terbakar, hasil api dari pembakaran terbilang cukup baik,

asap yang dihasilkan terbilang kecil bahkan tidak ada asap yang keluar dan lama

pembakaran 16.02 menit merupakan waktu yang baik. Rata-rata susut bobot yang
dihasilkan dalam pembuatan briket dari kernel sawit adalah 16.64 gr. Rata-rata

densitas dari kernel sawit yang dibuat adalah 0.74 g/m3.

Kendala-kendala saat praktikum berlangsung antara lain :

1. Dalam proses penghancuran kernel sawit dan sekam padi yang sangat keras

dan tidak mudah hancur.

2. Belum matangnya kernel sawit sehingga susah untuk ditumbuk.

3. Sekam padi yang tidak dapat ditumbuk sehingga menyebabkan briket gagal.

4. Alat pres atau alat pengempa yang tidak dapat digunakan sehingga harus

secara manual.

5. Proses pembakaran yang terlalu banyak dalam menghasilkan asap pada briket

dari bekatul.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Proses pembuatan briket melalui tahap penggerusan, pencampuran,

pencetakan, pengeringan dan pengepakan.

2. Briket karbonisasi adalah jenis briket yang terlebih dahulu mengalami proses

karbonisasi sebelum menjadi briket yaitu proses pengkarbonan atau

pengarangan atau pembakaran bahan baku (umpan) didalam tungku

pembakaran sedangkan briket nonkarbonisasi merupakan briket yang tidak

mengalami proses karbonisasi dan proses pembuatannya lebih sederhana.

B. Saran

Asisten sudah melakukan tugasnya dengan baik alangkah lebih baik lagi

apabila asisten lebih tegas lagi terhadap praktikan, agar praktikum dapat berjalan

dengan kondusif. Sebaiknya dalam proses pembakaran kernel sawit dilakukan

lebih lama sehingga dalam penghancuran akan semakin mudah. Untuk

kedepannya, ketersediaan alat untuk praktikum juga harus lebih ditingkatkan lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Iriany dkk. 2016. Pembuatan Biobriket Dari Pelepah Dan Cangkang Kelapa
Sawit: Pengaruh Variasi Komposisi Bahan Baku Dan Waktu Karbonisasi
Terhadap Kualitas Briket. Jurnal Teknik Kimia USU, Vol. 5, No. 3.

Maryono., dkk. 2013. Pembuatan dan Analisis Mutu Briket Arang Tempurung
Kelapa Ditinjau dari Kadar Kanji. Jurusan Kimia FMIPA. Universitas
Negeri Makasar : Makasar.

Munthe, Muhammad Ginta dkk. 2015. Pemanfaatan Cangkang Kelapa Sawit Dan
Limbah Kelapa Sawit (Sludge) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Biobriket
Arang. Jurnal Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.3 No. 4.

Ndraha N. 2009. Uji komposisi bahan pembuat briket bioarang tempurung kelapa
dan serbuk kayu terhadap mutu yang dihasilkan. Sumatera Utara:
Universitas Sumatera Utara.

Purnama, Retta Ria., dkk. 2012. Pemanfaatan Limbah Cair Cpo Sebagai Perekat
Pada Pembuatan Briket Dari Arang Tandan Kosong Kelapa Sawit. Jurnal
Teknik Kimia No. 3, Vol. 18.

Purwanto, Djoko. 2010. Briket Bahan Bakar Dari Limbah Tempurung Kelapa
Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) The Fuel Briquettes From Oil Palm Shell
Waste. Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol.2, No.1.

Putra, Hijrah Purnama dkk. 2013. Studi Kualitas Briket Dari Tandan Kosong
Kelapa Sawit Dengan Perekat Limbah Nasi. Jrnal Sains dan Teknologi
lingkungan Vol. 5 No.1.

Ramadiah. 2016. Uji Kualitas Briket Dari Limbah Kelapa Sawit . Skripsi.
Fakultas Sains Dan Teknologi Uin Alauddin Makassar.

Silalahi. 2000. Penelitian Pembuatan Briket Kayu dari Serbuk Gergajian Kayu.
Bogor: Hasil Penelitian Industri DEPERINDAG.

Tim Penyusun. 2017. Modul Praktikum Energi Terbarukan. Fakultas Pertanian


Program Studi Teknik Pertanian Universitas Jenderal Soedirman :
Purwokerto.

Widardo dan Suryanta, 1995. Membuat Bioarang dari Kotoran Lembu. Kansius,
Bogor.
Wijaya, Beni Krisman. 2013. Uji Kualitas Briket Arang Dari Tandan Kosong Dan
Limbah Kernel Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq). Karya Ilmiah.
Program Studi Teknologi Hasil Hutan Jurusan Teknologi Pertanian
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Samarinda.