Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN HCC (HEPATOCELULAR CARCINOMA/

KANKER HATI PRIMER

I. Konsep Penyakit
1.1 Definisi
Karsinoma hepatoseluler atau hepatoma adalah tumor ganas hati primer dan
paling sering ditemukan daripada tumor ganas hati primer lainnya seperti
limfoma maligna, fibrosarkoma, dan hemangioendotelioma.
Hepatocellular Carcinoma (HCC) atau disebut juga hepatoma atau kanker hati
primer atau Karsinoma Hepato Selular (KHS) adalah satu dari jenis kanker yang
berasal dari sel hati. Hepatoma biasa dan sering terjadi pada pasien dengan
sirosis hati yang merupakan komplikasi hepatitis virus kronik. Hepatitis virus
kronik adalah faktor risiko penting hepatoma, virus penyebabnya adalah virus
hepatitis B dan C.

1.2 Etiologi
1. Virus Hepatitis B
Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya hepatoma terbukti
kuat, baik secara epidemiologis, klinis maupun eksperimental. Sebagian
besar wilayah yang hiperendemik HBV menunjukkan angka kekerapan
hepatoma yang tinggi.

Umur saat terjadinya infeksi merupakan faktor resiko penting karena infeksi
HBV pada usia dini berakibat akan terjadinya kronisitas. Karsinogenitas
HBV terhadap hati mungkin terjadi melalui proses inflamasi kronik,
peningkatan proliferasi hepatosit, integrasi HBV DNA ke dalam DNA sel
penjamu, dan aktifitas protein spesifik-HBV berinteraksi dengan gen hati.
Pada dasarnya, perubahan hepatosit dari kondisi inaktif menjadi sel yang
aktif bereplikasi menentukan tingkat karsinogenesis hati. Siklus sel dapat
diaktifkan secara tidak langsung akibat dipicu oleh ekspresi berlebihan suatu
atau beberapa gen yang berubah akibat HBV. Infeksi HBV dengan pajanan
agen onkogenik seperti aflatoksin dapat menyebabkan terjadinya hepatoma
tanpa melalui sirosis hati.
2. Virus Hepatitis C
Di wilayah dengan tingkat infeksi HBV rendah, HCV merupakan faktor
resiko penting dari hepatoma. Infeksi HCV telah menjadi penyebab paling
umum karsinoma hepatoseluler di Jepang dan Eropa, dan juga bertanggung
jawab atas meningkatnya insiden karsinoma hepatoseluler di Amerika
Serikat, 30% dari kasus karsinoma hepatoseluler dianggap terkait dengan
infeksi HCV. Sekitar 5-30% orang dengan infeksi HCV akan berkembang
menjadipenyakit hati kronis. Dalam kelompok ini, sekitar 30% berkembang
menjadi sirosis, dan sekitar 1-2% per tahun berkembang menjadi karsinoma
hepatoseluler. Resiko karsinoma hepatoseluler pada pasien dengan HCV
sekitar 5% dan muncul 30 tahun setelah infeksi. Penggunaan alkohol oleh
pasien dengan HCV kronis lebih beresiko terkena karsinoma hepatoseluler
dibandingkan dengan infeksi HCV saja. Penelitian terbaru menunjukkan
bahwa penggunaan antivirus pada infeksi HCV kronis dapat mengurangi
risiko karsinoma hepatoseluler secara signifikan.
3. Sirosis Hati
Sirosis hati merupakan faktor resiko utama hepatoma di dunia dan
melatarbelakangi lebih dari 80% kasus hepatoma. Penyebab utama sirosis di
Amerika Serikat dikaitkan dengan alkohol, infeksi hepatitis C, dan infeksi
hepatitis B. Setiap tahun, 3-5% dari pasien dengan sirosis hati akan
menderita hepatoma. Hepatoma merupakan penyebab utama kematian pada
sirosis hati. Pada otopsi pada pasien dengan sirosis hati , 20-80% di
antaranya telah menderita hepatoma.
4. Aflatoksin
Aflatoksin B1 (AFB1) meruapakan mikotoksin yang diproduksi oleh
jamur Aspergillus. Dari percobaan pada hewan diketahui bahwa AFB1
bersifat karsinogen. Aflatoksin B1 ditemukan di seluruh dunia dan terutama
banyak berhubungan dengan makanan berjamur.1 Pertumbuhan jamur yang
menghasilkan aflatoksin berkembang subur pada suhu 13°C, terutama pada
makanan yang menghasilkan protein. Di Indonesia terlihat berbagai makanan
yang tercemar dengan aflatoksin seperti kacang-kacangan, umbi-umbian
(kentang rusak, umbi rambat rusak,singkong, dan lain-lain), jamu, bihun, dan
beras berjamur. Salah satu mekanisme hepatokarsinogenesisnya ialah
kemampuan AFB1 menginduksi mutasi pada gen supresor tumor p53.
Berbagai penelitian dengan menggunakan biomarker menunjukkan ada
korelasi kuat antara pajanan aflatoksin dalam diet dengan morbiditas dan
mortalitas hepatoma.
5. Obesitas
Suatu penelitian pada lebih dari 900.000 individu di Amerika Serikat
diketahui bahwa terjadinya peningkatan angka mortalitas sebesar 5x akibat
kanker pada kelompok individu dengan berat badan tertinggi (IMT 35-40
kg/m2) dibandingkan dengan kelompok individu yang IMT-nya normal.
Obesitas merupakan faktor resiko utama untuk non-alcoholic fatty liver
disesease (NAFLD), khususnya non-alcoholic steatohepatitis (NASH) yang
dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kemudian berlanjut menjadi
hepatoma.
6. Diabetes Mellitus
Tidak lama ditengarai bahwa DM menjadi faktor resiko baik untuk penyakit
hati kronis maupun untuk hepatoma melalui terjadinya perlemakan hati dan
steatohepatitis non-alkoholik (NASH). Di samping itu, DM dihubungkan
dengan peningkatan kadar insulin dan insulin-like growth factors (IGFs)
yang merupakan faktor promotif potensial untuk kanker. Indikasi kuatnya
aasosiasi antara DM dan hepatoma terlihat dari banyak penelitian.
Penelitian oleh El Serag dkk. yang melibatkan173.643 pasien DM dan
650.620 pasien bukan DM menunjukkan bahwa insidensi hepatoma pada
kelompok DM lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan insidensi
hepatoma kelompok bukan DM.
7. Alkohol
Meskipun alkohol tidak memiliki kemampuan mutagenik, peminum berat
alkohol (>50-70 g/hari atau > 6-7 botol per hari) selama lebih dari 10 tahun
meningkatkan risiko karsinoma hepatoseluler 5 kali lipat. Hanya sedikit bukti
adanya efek karsinogenik langsung dari alkohol. Alkoholisme juga
meningkatkan resiko terjadinya sirosis hati dan hepatoma pada pengidap
infeksi HBV atau HVC. Sebaliknya, pada sirosis alkoholik terjadinya HCC
juga meningkat bermakna pada pasien dengan HBsAg positif atau anti-HCV
positif. Ini menunjukkan adanya peran sinergistik alkohol terhadap infeksi
HBV maupun infeksi HCV.
1.3 Tanda dan Gejala
Hepatoma seringkali tak terdiagnosis karena gejala karsinoma tertutup oleh
penyakit yang mendasari yaitu sirosis hati atau hepatitis kronik. Pada
permulaannya penyakit ini berjalan perlahan, malah banyak tanpa keluhan. Lebih
dari 75% tidak memberikan gejala-gejala khas. Ada penderita yang sudah ada
kanker yang besar sampai 10 cm pun tidak merasakan apa-apa.
Keluhan utama yang sering adalah :
1. Keluhan sakit perut atau rasa penuh ataupun ada rasa bengkak di perut kanan
atas
2. Nafsu makan berkurang,
3. Berat badan menurun, dan rasa lemas.
4. Keluhan lain terjadinya perut membesar karena ascites (penimbunan cairan
dalam rongga perut), mual, tidak bisa tidur, nyeri otot, berak hitam, demam,
bengkak kaki, kuning, muntah, gatal, muntah darah, perdarahan dari dubur,
dan lain-lain.

1.4 Patofisiologi
Hepatoma 75 % berasal dari sirosis hati yang lama/menahun. Khususnya yang
disebabkan oleh alkoholik dan postnekrotik. Pedoman diagnostik yang paling
penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pada
penderita sirosis hati yang disertai pembesaran hati mendadak. Tumor hati yang
paling sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain. Matastase ke hati
dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Hal ini benar,
khususnya untuk keganasan pada saluran pencernaan, tetapi banyak tumor lain
juga memperlihatkan kecenderungan untuk bermestatase ke hati, misalnya
kanker payudara, paru-paru, uterus, dan pankreas. Diagnosa sulit ditentukan,
sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor yang luas,
sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi.
Stadium Hepatoma

Stadium I : Satu fokal tumorberdiameter \ hati.


Stadium II : Satu fokal tumor berdiameter > 3cm. Tumor terbataS
pada segment I atau multi-fokal tumor terbatas padlobus
kanan atau lobus kiri hati.

Stadium III : Tumor pada segment I meluas ke lobus kiri (segment


IV) atau ke lobus kanan segment V dan VIII atau
tumordengan invasi peripheral ke sistem pembuluh darah
(vascular) atau pembuluh empedu (biliary duct) tetapi
hanya terbatas pada lobus kanan atau lobus kiri hati.
Stadium IV : Multi-fokal atau diffuse tumor yang mengenai lobus
kanan dan lobus kiri hati.- atau tumor dengan invasi ke
dalam pembuluh darah hati (intra hepaticvaskuler) ataupun
pembuluh empedu (biliary duct)- atau tumor dengan invasi
ke pembuluh darah di luar hati (extra hepatic vessel) seperti
pembuluh darah vena limpa (vena lienalis)

1.5 Pemeriksaan Penunjang


1. Biopsi
Biopsi aspirasi dengan jarum halus (fine needle aspiration biopsy) terutama
ditujukan untuk menilai apakah suatu lesi yang ditemukan pada pemeriksaan
radiologi imaging dan laboratorium AFP itu benar pasti suatu hepatoma.
Cara melakukan biopsi dengan dituntun oleh USG ataupun CTscann mudah,
aman, dan dapat ditolerir oleh pasien dan tumor yang akan dibiopsi dapat
terlihat jelas pada layar televisi berikut dengan jarum biopsi yang berjalan
persis menuju tumor, sehingga jelaslah hasil yang diperoleh mempunyai nilai
diagnostik dan akurasi yang tinggi karena benar jaringan tumor ini yang
diambil oleh jarum biopsi itu dan bukanlah jaringan sehat di sekitar tumor.
2. Radiologi
untuk mendeteksi kanker hati stadium dini dan berperan sangat menentukan
dalam pengobatannya.
Kanker hepato selular ini bisa dijumpai di dalam hati berupa benjolan
berbentuk kebulatan (nodule) satu buah,dua buah atau lebih atau bisa sangat
banyak dan diffuse (merata) pada seluruh hati atau berkelompok di dalam
hati kanan atau kiri membentuk benjolan besar yang bisa berkapsul.

3. Ultrasonografi
Dengan USG hitam putih (grey scale) yang sederhana (conventional) hati
yang normal tampak warna ke-abuan dan texture merata (homogen).
USG conventional hanya dapat memperlihatkan benjolan kanker
hatidiameter 2 cm – 3 cm saja. Tapi bila USG conventional ini dilengkapi
dengan perangkat lunak harmonik sistem bisa mendeteksi benjolan kanker
diameter 1 cm – 2 cm13, namun nilai akurasi ketepatan diagnosanya hanya
60%.
4. CT scan
CT scann sebagai pelengkap yang dapat menilai seluruh segmen hati dalam
satu potongan gambar yang dengan USG gambar hati itu hanya bisa dibuat
sebagian-sebagian saja.
CTscann dapat membuat gambar kanker dalam tiga dimensi dan empat
dimensi dengan sangat jelas dan dapat pula memperlihatkan hubungan
kanker ini dengan jaringan tubuh sekitarnya.
5. Angiografi
angiografi ini dapat dilihat berapa luas kanker yang sebenarnya. Kanker yang
kita lihat dengan USG yang diperkirakan kecil sesuai dengan ukuran pada
USG bisa saja ukuran sebenarnya dua atau tiga kali lebih besar. Angigrafi
bisa memperlihatkan ukuran kanker yang sebenarnya.
6. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI yang dilengkapi dengan perangkat lunak Magnetic
ResonanceAngiography (MRA) sudah pula mampu menampilkan dan
membuat peta pembuluh darah kanker hati ini.
7. PET (Positron Emission Tomography)
Positron Emission Tomography (PET) yang merupakan alat pendiagnosis
kanker menggunakan glukosa radioaktif yang dikenal sebagai flourine18 atau
Fluorodeoxyglucose (FGD) yang mampu mendiagnosa kanker dengan cepat
dan dalam stadium dini.
Caranya, pasien disuntik dengan glukosa radioaktif untuk mendiagnosis sel-
sel kanker di dalam tubuh. Cairan glukosa ini akan bermetabolisme di dalam
tubuh dan memunculkan respons terhadap sel-sel yang terkena kanker.
PET dapat menetapkan tingkat atau stadium kanker hati sehingga tindakan
lanjut penanganan kanker ini serta pengobatannya menjadi lebih mudah. Di
samping itu juga dapat melihat metastase (penyebaran).

1.6 Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada sirosis adalah asites, perdarahan saluran
cerna bagian atas, ensefalopati hepatika, dan sindrom hepatorenal. Sindrom
hepatorenal adalah suatu keadaan pada pasien dengan hepatitis kronik, kegagalan
fungsi hati, hipertensi portal, yang ditandai dengan gangguan fungsi ginjal dan
sirkulasi darah Sindrom ini mempunyai risiko kematian yang tinggi. Terjadinya
gangguan ginjal pada pasien dengan sirosis hati ini baru dikenal pada akhir abad
19 dan pertamakali dideskripsikan oleh Flint dan Frerichs. Penatalaksanaan
sindrom hepatorenal masih belum memuaskan, masih banyak kegagalan
sehingga menimbulkan kematian. Prognosis pasien dengan penyakit ini buruk.

1.7 Penatalaksanaan
Pemilihan terapi kanker hati ini sangat tergantung pada hasil pemeriksaan
radiologi dan biopsi. Sebelum ditentukan pilihan terapi hendaklah dipastikan
besarnya ukuran kanker,lokasi kanker di bagian hati yang mana, apakah lesinya
tunggal (soliter) atau banyak (multiple), atau merupakan satu kanker yang sangat
besar berkapsul, atau kanker sudah merata pada seluruh hati, serta ada tidaknya
metastasis (penyebaran) ke tempat lain di dalam tubuh penderita ataukah sudah
ada tumor thrombus di dalam vena porta dan apakah sudah ada sirosis hati.
Pemilihan terapi kanker hati ini sangat tergantung pada hasil pemeriksaan
radiologi. Sebelum ditentukan pilihan terapi hendaklah dipastikan besarnya
ukuran kanker,lokasi kanker di bahagian hati yang mana, apakah lesinya tunggal
(soliter) atau banyak (multiple), atau merupakan satu kanker yang sangat besar
berkapsul, atau kanker sudah merata pada seluruh hati, serta ada tidaknya
metastasis (penyebaran) ke tempat lain di dalam tubuh penderita ataukah sudah
ada tumor thrombus di dalam vena porta dan apakah sudah ada sirrhosis hati.
Tahap tindakan pengobatan terbagi tiga, yaitu tindakan bedah hati digabung
dengantindakan radiologi dan tindakan non-bedah dan tindakan transplantasi
(pencangkokan) hati.
1. Tindakan Bedah Hati Digabung dengan Tindakan Radiologi
Terapi yang paling ideal untuk kanker hati stadium dini adalah tindakan
bedah yaitu reseksi (pemotongan) bahagian hati yang terkena kanker dan
juga reseksi daerah sekitarnya.

Pada prinsipnya dokter ahli bedah akan membuang seluruh kanker dan tidak
akan menyisakan lagi jaringan kanker pada penderita, karena bila tersisa
tentu kankernya akan tumbuh lagi jadi besar, untuk itu sebelum menyayat
kanker dokter ini harus tahu pasti batas antara kanker dan jaringan yang
sehat.

Radiologilah satu-satunya cara untuk menentukan perkiraan pasti batas itu


yaitu dengan pemeriksaan CT angiography yang dapat memperjelas batas
kanker dan jaringan sehat sehingga ahli bedah tahu menentukan di mana
harus dibuat sayatan. Maka harus dilakukan CT angiography terlebih dahulu
sebelum dioperasi.

Dilakukan CT angiography sekaligus membuat peta pembuluh darah kanker


sehingga jelas terlihat pembuluh darah mana yang bertanggung jawab
memberikan makanan (feeding artery) yang diperlukan kanker untuk dapat
tumbuh subur. Sesudah itu barulah dilakukan tindakan radiologi Trans
Arterial Embolisasi (TAE) yaitu suatu tindakan memasukkan suatu zat yang
dapat menyumbat pembuluh darah (feeding artery) itu sehingga menyetop
suplai makanan ke sel-sel kanker dan dengan demikian kemampua hidup
(viability) dari sel-sel kanker akan sangat menurun sampai menghilang.

Sebelum dilakukan TAE dilakukan dulu tindakan Trans Arterial


Chemotherapy (TAC) dengan tujuan sebelum ditutup feeding artery lebih
dahulu kanker-nya disirami racun (chemotherapy) sehingga sel-sel kanker
yang sudah kena racun dan ditutup lagi suplai makanannya maka sel-sel
kanker benar-benar akan mati dan tak dapat berkembang lagi dan bila sel-sel
ini nanti terlepas pun saat operasi tak perlu dikhawatirkan, karena sudah tak
mampu lagi bertumbuh.
Tindakan TAE digabung dengan tindakan TAC yang dilakukan olehdokter
spesialis radiologi disebut tindakan Trans Arterial Chemoembolisation
(TACE). Selain itu TAE ini juga untuk tujuan supportif yaitu mengurangi
perdarahan pada saat operasi dan juga untuk mengecilkan ukuran kanker
dengan demikian memudahkan dokter ahli bedah. Setelah kanker disayat,
seluruh jaringan kanker itu harus diperiksakan pada dokter ahli patologi yaitu
satu-satunya dokter yang berkompentensi dan yang dapat menentukan dan
memberikan kata pasti apakah benar pinggir sayatan sudah bebas kanker.

Bila benar pinggir sayatan bebas kanker artinya sudahlah pasti tidak ada lagi
jaringan kanker yang masih tertinggal di dalam hati penderita. Kemudian
diberikan chemotherapy (kemoterapi) yang bertujuan meracuni sel-sel kanker
agar tak mampu lagi tumbuh berkembang biak.
Pemberian Kemoterapi dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam
bahagian onkologi (medical oncologist) ini secara intra venous (disuntikkan
melalui pmbuluh darah vena) yaitu epirubucin/dexorubicin 80 mg digabung
dengan mitomycine C 10 mg. Dengan cara pengobatan seperti ini usia
harapan hidup penderita per lima tahun 90% dan per 10 tahun 80%.

2. Tindakan Non-bedah Hati


Tindakan non-bedah merupakan pilihan untuk pasien yang datang pada
stadium lanjut.. Termasuk dalam tindakan non-bedah ini adalah:
1) Embolisasi Arteri Hepatika (Trans Arterial Embolisasi = TAE)
Pada prinsipnya sel yang hidup membutuhkan makanan dan oksigen
yang datangnyabersama aliran darah yang menyuplai sel tersebut. Pada
kanker timbul banyak sel-sel baru sehingga diperlukan banyak makanan
dan oksigen, dengan demikian terjadi banyak pembuluh darah baru (neo-
vascularisasi) yang merupakan cabang-cabang dari pembuluh darah
yang sudah ada disebut pembuluh darah pemberi makanan (feeding
artery) Tindakan TAE ini menyumbat feeding artery. Caranya
dimasukkan kateter melalui pembuluh darah di paha (arteri femoralis)
yang seterusnya masuk ke pembuluh nadi besar di perut (aorta
abdominalis) dan seterusnya dimasukkan ke pembuluh darah hati (artery
hepatica) dan seterusnya masuk ke dalam feeding artery. Lalu feeding
artery ini disumbat (di-embolisasi) dengan suatu bahan seperti gel foam
sehingga aliran darah ke kanker dihentikan dan dengan demikian suplai
makanan dan oksigen ke sel-sel kanker akan terhenti dan sel-sel kanker
ini akan mati. Apalagi sebelum dilakukan embolisasi dilakukan tindakan
trans arterial chemotherapy yaitu memberikan obat kemoterapi melalui
feeding artery itu maka sel-sel kanker jadi diracuni dengan obat yang
mematikan. Bila kedua cara ini digabung maka sel-sel kanker benar-
benar terjamin mati dan tak berkembang lagi.Dengan dasar inilah
embolisasi dan injeksi kemoterapi intra-arterial dikembangkan dan
nampaknya memberi harapan yang lebih cerah pada penderita yang
terancam maut ini. Angka harapan hidup penderita dengan cara ini per
lima tahunnya bisa mencapai sampai 70% dan per sepuluh tahunnya bisa
mencapai 50%.

1.8 Pathway
II. Rencana Asuhan Keperawatan Pasien dengan HCC (Hepatocelular
Carcinoma)
2.1 Pengkajian
a. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku, bangsa, no. registrasi

2.2.1 Riwayat Keperawatan


1. Keluhan utama: pasien biasanya mengeluh mual, muntah, nyeri
perut kanan atas, pembesaran perut, berak hitam
2. Riwayat penyakit sekarang: biasanya pasien awalnya mengalami
mual, nyeri perut kanan atas, berak hitam, kemudian perut pasien
membesar dan sesak nafas.
3. Riwayat penyakit dahulu: biasanya pasien pernah mengalami
penyakit hepatitis B atau C atau D. Dan mengalami sirosis hepatik
4. Riwayat penyakit keluarga: biasanya salah satu atau lebih
keluarga pasien menderita penyakit hepatitis B atau C atau D.
Biasanya ibu pasien menderita hepatitis B atau C atau D yang
diturunkan kepada anaknya pada waktu hamil.
5. Riwayat lingkungan: biasanya pasien inggal di lingkungan yang
kumuh dan kotor
6. Riwayat imunisasi: biasanya pasien tidak diimunisasi untuk
penyakit hepatitis B.

2.2.2 Pemeriksaan Fisik ; Data Fokus


1. Pemeriksaan Fisik
2. Gejala klinik
3. Fase dini : Asimtomatik.
4. Fase lanjut : Tidak dikenal simtom yang patognomonik.
Keluhan berupa nyeri abdomen, kelemahan dan penurunan berat
badan, anoreksia, rasa penuh setelah makan terkadang disertai
muntah dan mual. Bila ada metastasis ke tulang penderita mengeluh
nyeri tulang.
Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan :
Ascites
Ikterus
Splenomegali, Spider nevi, Eritema palmaris, Edema.
Secara umum pengkajian Keperawatan pada pasien dengan kasus
Hepatoma, meliputi :
Gangguan metabolism
Perdarahan
Asites
Edema
Hipoalbuminemia
Jaundice/icterus
Komplikasi endokrin
Aktivitas terganggu akibat pengobatan

2.1.3 Pemeriksaan Penunjang


1. Penanda Tumor
Alfa-fetoprotein (AFP) adalah protein serum normal yang
disintesis oleh sel hati fetal, sel yolk-sac dan sedikit sekali oleh
saluran gastrointestinal fetal. Kadar AFP akan menurun segera
setelah lahir. Rentang normal AFP adalah 0-20 ng/ml. Kadar AFP
meningkat pada 60-70% dari pasien hepatoma dan kadar lebih dari
400 ng/ml adalah diagnostik atau sangat sugestif untuk hepatoma.
Nilai normal dapat ditemukan pada hepatoma stadium lanjut. Hasil
positif-palsu dapat ditemukan oleh hepatitis akut atau kronik dan
pada kehamilan. Penanda tumor lain untuk hepatoma adalah des-
gamma carboxy prothrombin (DCP) atau PIVKA-2 yang kadarnya
meningkat hingga 91% dari pasien hepatoma, namun juga
meningkat pada pasien dengan defisiensi vitamin K, hepatitis
kronis aktif atau metastasis karsinoma.

2. Ultrasonografi Abdomen
Untuk meminimalkan kesalahan hasil pemeriksaan AFP, pasien
sirosis hati dianjurkan menjalani pemeriksaan USG setiap tiga
bulan. Untuk tumor kecil pada pasien dengan resiko tinggi, USG
lebih sensitif daripada AFP serum berulang. Sensitifitas USG
untuk neoplasma hati berkisar antara 70-80%. Tampilan USG yang
khas untuk HCC kecil adalah gambaran mosaik, formasi septum,
bagian perifer sonolusen, bayangan lateral yang dibentuk oleh
pseudokapsul fibrotik, serta penyangatan eko posterior. Berbeda
dari tumor metastasis, hepatoma dengan diameter kurang dari 2
sentimeter mempunyai gambaran bentuk cincin yang khas. USG
colour Doppler sangat berguna untuk membedakan hepatoma dari
tumor yang lain.
Gambar Hasil USG pasien dengan hepatoma

3. Strategi Skrining dan Surveilans


Skrining dimaksudkan sebagai aplikasi pemeriksaan diagnostik
pada populasi umum, sedangkan Surveilans adalah aplikasi
berulang pemeriksaan diagnostik pada populasi yang berisiko
untuk suatu penyakit sebelum ada bukti bahwa penyakit tersebut
sudah terjadi. Karena sebagian dari pasien HCC, dengan atau tanpa
sirosis, adalah tanpa gejala, untuk mendeteksi dini HCC diperlukan
strategi khusus terutama bagi pasien sirosis hati dengan HbsAg
atau anti-HCV positif. Berdasarkan atas lamanya waktu
penggandaan diameter HCC yang berkisar antara 3 sampai 12
bulan, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan AFP serum dan
USG abdomen setiap 3 hingga 6 bulan bagi pasien sirosis maupun
hepatitis kronik B atau C. Cara ini di Jepang terbukti dapat
menurunkan jumlah pasien HCC yang terlambat dideteksi dan
sebaliknya meningkatkan identifikasi tumor dini atau kecil. Namun
hingga kini masih belum jelas apakah dengan demikian juga terjadi
penurunan mortaliatas.

2.2 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


Diagnosa 1 :
Gangguan rasa nyaman nyeri abdomen berhubungan dengan adanya
penumpukan cairan dalam rongga abdomen (ascites).

2.1.1 Definisi
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya
kerusakan jaringan yang actual atau potensial, atau digambarkan dengan
istilah awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan
sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan
dan durasinya kurang dari 6 bulan.

2.1.2 Batasan Karakteristik


Objektif
- Posisi untuk menghindari nyeri
- Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas tidak bertenaga
sampai kaku)
- Respon autonomic (misalnya diaphoresis, perubahan tekanan darah,
pernapasan, atau nadi, dilatasi pupil).
- Perubahan selera makan
- Perilaku distraksi (misalnya : mondar-mandir, mencari orang dan
aktivitas lain, aktivitas berulang)
- Perilaku ekspresif (misalnya : gelisah, merintih, menangis,
kewaspadaan berlebihan, peka terhadap rangsang, dan menghela
napas panjang)
- Wajah topeng (nyei)
- Perilaku sikap menjaga melindungi
- Fokus menyempit (misalnya : gangguan persepsi waktu,
gangguan proses pikir, bukti nyeri yang diamati)
- Berfokus pada diri sendiri
- Gangguan tidur (mata terlihat kuyu, gerakan tidak teratur atau
tidak menentu dan menyeringai)

2.1.3 Faktor yang berhubungan


- Agen-agen penyebab cedera (misalnya : biologis, kimia, fisik dan
psikologis).

Diagnosa 2 :
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak
adekuat.

2.1.4 Definisi
Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

2.1.5 Batasan karakteristik


a. Berat badan kurang dari 20% atau lebih dibawah berat badan
ideal untuk tinggi badan dan rangka tubuh
b. Asupan makanan kurang dari kebutuhan metabolic, baik kalori
total maupun zat gizi tertentu
c. Kehilangan berat baan dengan asupan makanan yang adekuat
d. Melaporkan asupan makanan yang tidak adekuat kurang dari
RDA.

2.1.6 Faktor yang berhubungan


a. Ketidak mampuan untuk menelan atau mencerna makanan atau
menyerap nutrient akibat factor biologis, psikologis atau ekonomi
termasuk beberapa contoh non nanda berikut:
b. Ketergantungan zat kimia
c. Penyakit kronis
d. Kesulitan mengunyah atau menelan
e. Factor ekonomi
f. Intoleransi makanan
g. Kebutuhan metabolic tinggi
h. Reflek mengisap pada bayi tidak efektif
i. Kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi
j. Akses terhadap makanan terbatas
k. Hilang nafsu makan
l. Mual dan muntah
m. Pengabaian oleh orang tua
n. Gangguan psikologis

2.2 Perencanaan
Diagnosa 1 :
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (reflek spasme otot pada
dinding perut).

2.2.1 Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)


Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama …. x 24 jam:

- Pain Level,
- Pain control,
- Comfort level
Dengan Kriteria Hasil :
- Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
- Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri)
- Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
- Tanda vital dalam rentang normal

2.2.2 Intervensi Keperawatan dan Rasional (NIC)

Intervensi Rasional
Pain Management Pain Management

1. Kaji secara komprehensip 1. Untuk mengetahui tingkat


terhadap nyeri termasuk nyeri pasien
lokasi, karakteristik, durasi, 2. Untuk mengetahui tingkat
frekuensi, kualitas, intensitas ketidaknyamanan dirasakan
nyeri dan faktor presipitasi oleh pasien
2. Observasi reaksi 3. Untuk mengalihkan perhatian
ketidaknyaman secara pasien dari rasa nyeri
nonverbal 4. Untuk mengetahui apakah
3. Gunakan strategi komunikasi nyeri yang dirasakan pasien
terapeutik untuk berpengaruh terhadap yang
mengungkapkan pengalaman lainnya
nyeri dan penerimaan pasien 5. Untuk mengurangi factor yang
terhadap respon nyeri dapat memperburuk nyeri
4. Tentukan pengaruh yang dirasakan pasien
pengalaman nyeri terhadap 6. untuk mengetahui apakah
kualitas hidup( napsu makan, terjadi pengurangan rasa nyeri
tidur, aktivitas,mood, atau nyeri yang dirasakan
hubungan sosial) pasien bertambah.
5. Tentukan faktor yang dapat 7. Pemberian “health education”
memperburuk nyeri lakukan dapat mengurangi tingkat
evaluasi dengan pasien dan kecemasan dan membantu
tim kesehatan lain tentang pasien dalam membentuk
ukuran pengontrolan nyeri mekanisme koping terhadap
yang telah dilakukan rasa nyer
6. Berikan informasi tentang 8. Untuk mengurangi tingkat
nyeri termasuk penyebab ketidaknyamanan yang
nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan pasien.
hilang, antisipasi terhadap 9. Agar nyeri yang dirasakan
ketidaknyamanan dari pasien tidak bertambah.
prosedur 10. Agar pasien mampu
7. Control lingkungan yang menggunakan teknik
dapat mempengaruhi respon nonfarmakologi dalam
ketidaknyamanan pasien( memanagement nyeri yang
suhu ruangan, cahaya dan dirasakan.
suara)
Pemberian analgetik dapat
8. Hilangkan faktor presipitasi
mengurangi rasa nyeri pasien
yang dapat meningkatkan
pengalaman nyeri pasien(
ketakutan, kurang
pengetahuan)
9. Ajarkan cara penggunaan
terapi non farmakologi
(distraksi, guide
imagery,relaksasi)
10. Kolaborasi pemberian
analgesik

Diagnosa 2 :
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
tidak adekuat.

2.2.3 Tujuan dan kriteria hasil (NOC)


Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama……x 24 jam
pasien dapat menunjukan peningkatan pemenuhan kebutuhan nutrisi.
Dengan kriteria hasil:
1. Nafsu makan meningkat
2. Peningkatan masukan oral
3. Peningkatan aktivitas
4. Massa otot
5. Berat badan
2.2.4 Intervensi keperawatan dan rasional (NIC)

Intervensi Rasional
1. Kaji status nutrisi pasien 1. Pengkajian penting dilakukan
untuk mengetahui status nutrisi
pasien sehingga dapat menentukan
intervensi yang diberikan.
Untuk mem untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
yang dibutuhkan pasien.

2. Jaga kebersihan mulut,


2. Informasi yang diberikan dapat
anjurkan untuk selalu
memotivasi pasien untuk
melalukan oral hygiene
meningkatkan intake nutrisi.
3. Delegatif pemberian
3. Zat besi dapat membantu tubuh
nutrisi yang sesuai
sebagai zat penambah darah
dengan kebutuhan pasien
sehingga mencegah terjadinya
: diet pasien diabetes
anemia atau kekurangan darah.
mellitus.
4. Berikan informasi yang
4. Informasi yang diberikan dapat
tepat terhadap pasien
membantu pasien memahami
tentang kebutuhan nutrisi
pentingnya nutrisi bagi tubuh
yang tepat dan sesuai.

III. Daftar Pustaka

Brooker Criestine, kamus saku keperawatan, buku kedokteran :2001.


Padangparu.com
Carpernito, Lynda Juall . 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Jakarta, EGC
Gale, Danielle, Charette, Jane. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi,
Jakarta, EGC.
Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam FK. Unair RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 1994,
Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Marilyn E. Doenges, Merry Frances Mourhouse, Allice C. Glisser. 2000. Nursing
Care Planning Guidelines For Planning and Documenting Patient Care.
Third Edition.Philadelphia FA. Davis. Company.
Sudoyo Aru W, buku ajar ilmu penyakitdalam jilid II edisi IV : 2006
Soeparman, Sarwono Maspadji 1990. Ilmu Penyakit Dalam II Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.

Banjarmasin, Desember 2016

Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,

(………………….....) (…..........................)
20