Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KEGIATAN

F4. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

POLA MAKAN RENDAH ASAM URAT


PADA LANSIA

Disusun oleh:

dr. Reschita Adityanti

INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PUSKESMAS DEMAK III KABUPATEN DEMAK

PERIODE FEBRUARI – MEI 2015


HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Usaha Kesehatan Masysrakat

Laporan F4. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

Topik :

POLA MAKAN RENDAH ASAM URAT PADA LANSIA

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internship sekaligus
sebagai bagian dari persyaratan menyelesaikan program internship dokter Indonesia di
Puskesmas Demak III Kabupaten Demak

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal Mei 2015

Mengetahui,
DokterPendamping
Dokter Internship,

dr. Retno Widhiastuti


dr. Reschita Adityanti
NIP. 19740606 200801 2 014
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Gout adalah salah satu penyakit rematik yang paling sering terjadi pada orang
dewasa. Sekitar 3,9 % orang dewasa di US menderita gout (8,3 juta). di indonesia sendiri
data dari survei epidemiologik yang dilakukan di Bandungan, Jawa Tengah atas kerjasama
WHOCOPCORD terhadap 4.683 sampel berusia antara 15 – 45 tahun didapatkan
bahwa prevalensi gout pada wanita sebesar 11,7%.

Hiperurisemia merupakan kelainan biokimia yang mendasari terjadinya gout


meskipun juga terdapat faktor predisposisi yang mempengaruhi munculnya gout secara
klinis. Selain itu hiperurisemia juga berhubungan dengan kerusakan ginjal kronis,
gangguan metabolik dan faktor resiko penyakit jantung arterosklerotik seperti hipertensi,
obesitas, resisten insulin dan hiperlipidemia, yang dapat terjadi secara bersamaan dan
disebut dengan sindrom metabolik. Meskipun belum ada bukti yang menyatakan bahwa
kadar asam urat plasma yang rendah dapat menurunkan resiko dari penyakit
kardiovaskular, namun hiperurisemi tetap dapat peningkatan morbiditas pada pasien
terutama pada pasien dengan hipertensi dan bertambah tinggi pada wanita serta lansia.

B. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
 Banyaknya pengobatan kasus gout arthritis pada lansia yang kurang efektif karena
tidak disertai dengan perubahan pola makan.
 Rendahnya pengentahuan lansia tentang pencegahan penyakit gout arthritis.

C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Pemberian informasi dilakukan dengan metode penyuluhan. Penyuluhan kali ini
difokuskan terhadap pemberian informasi kepada para guru sekolah dasar binaan
wilayah Puskesmas Demak 3. Penyuluhan disampaikan dengan metode langsung
(direct communication/ face to face communication) dan penyampaiannya
menggunakan leaflet .
D. PELAKSANAAN
Penyuluhan dilakukan secara tatap muka, dihadiri oleh beberapa dokter intership
dan sejumlah guru sekolah dasar.
Hari/tanggal : Kamis, 17 April 2015
Waktu : 09.30-10.00
Tempat : Balai Desa Donorojo Demak
Peserta : 30 orang
Kegiatan : Penyuluhan mengenai Pola Makan Rendah Asam Urat
Penyuluhan dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan dengan penyuluhan tentang
Pola Makan Rendah Asam Urat, meliputi definisi asam urat, penyakit gout, dan usaha
untuk mencegah dan mengurangi kadar asam urat dalam darah. Setelah penyampaian
materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab.

E. MONITORING, EVALUASI DAN KESIMPULAN

Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan pengecekan pemahaman peserta


penyuluhan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang telah
disampaikan. Pertanyaan yang dijawab dengan benar oleh peserta penyuluhan
merupakan bukti keberhasilan bahwa penyuluhan yang telah dilakukan mampu di
terima dan dipahami oleh peserta.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Hiperurisemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat
darah di atas normal. Secara statistik, hiperurisemia didefinisikan sebagai kadar
asam urat darah di atas dua standar deviasi hasil laboratorium pada rata-rata
populasi (Putra, 2009). Sedangkan menurut American College of Rheumatology
(2012), hiperurisemia didefinisikan sebagai peningkatan dari kadar urat serum yang
lebih dari 6,8 atau 7,0 mg/dl. Hiperurisemia terkait resiko gout dapat didefinisikan
sebagai hipersaturasi kadar asam urat (Hawkins and Rahn, 2005).
Asam urat adalah produk akhir dari degradasi atau metabolism purin
(Hawkins and Rahn, 2005; Qazi and Lohr, 2005). Kadar asam urat dalam darah
tergantung dari keseimbangan antara metabolism purin dan asupan makanan
mengandung purin, dan eliminasi atau ekskresi asam urat oleh ginjal dan intestin

B. Pencegahan
Pencegahan penyakit gout sama penting dengan pengobatannya. Pencegahan
gout dapat ditempuh dengan cara :
a. Mengatur intake cairan yang adekuat.
b. Pengurangan berat badan (pada pasien obesitas).
c. Perubahan pola makan dengan mengurang konsumsi makanan tinggi purin.
d. Mengurangi konsumsi alkohol
(Roddy, 2008;Becker and Jolly, 2005)
Mengatur intake cairan adekuat dapat mencegah munculnya penyakit gout.
Intake cairan yang adekuat mampu mengurangi resiko terbentuknya batu ginjal
pada pasien hiperurisemia. Pengurangan berat badan mampu menurunkan resiko
serangan gout rekuren. Hal ini dapat ditempuh dengan cara mengurangi konsumsi
makanan berkalori tinggi, dikombinasikan dengan program latihan aerobic secara
regular (Roddy, 2008;Becker and Jolly, 2005).
Perubahan pola makan dengan membatasi pengkonsumsian makanan dengan
kandungan purin tinggi mampu mengurangi kadar asam urat dalam darah. Contoh
makanan tinggi purin seperti kerang, daging, liver, otak, ginjal, gandum. Hasil
penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa konsumsi daging dan seafood
meningkatkan resiko serangan gout akut, sedangkan produk hasil olahan susu
mengurangi resiko tersebut (Roddy, 2008;Becker and Jolly, 2005).
Ada beberapa persyaratan terapi diet pada penderita gout yang harus dipenuhi,
diantaranya :
a. Rendah purin, dalam keadaan normal, kadar purin makanan dapat mencapai
600-1000mg / hari, sedangkan dalam diet rendah purin, dianjurkan untuk
mengkonsumsi 120-150mg purin/hari
b. Cukup kalori, protein, mineral, dan vitamin
c. Tinggi karbohidrat untuk membantu pengeluaran asam urat
d. Kandungan lemak sedang karena lemak cenderung mengambat pengeluaran
asam urat, serat
e. Mengandung banyak cairan untuk membantu mengeluarkan asam urat.
Total konsumsi alkohol sangat berkaitan dengan peningkatan resiko penyakit
gout. Alkohol mempunyai efek diuretik yang mampu berkontribusi untuk memacu
terjadinya dehidrasi sehingga memperlambat ekskresi asam urat melalui ginjal dan
menyebabkan prsipitasi kristal urat. Di samping itu, alkohol juga mempengaruhi
metabolisme asam urat dan mampu menyebabkan hiperurisemia (Roddy,
2008;Becker and Jolly, 2005).
Makanan yang tidak diperbolehkan

1. Sumber protein hewani


Sarden , kerang, jantung , hati , usus , limpa , paru paru, otak , ekstrak daging, bebek ,
angsa , burung.
2. Minuman : Alkohol

Makanan yang Dibatasi

1. Sumber protein hewani


Daging, ayam, ikan tongkol, tengiri, bawal, bandeng, udang (paling banyak 50 gr/hari)
2. Sumber protein nabati :
 Kacang kacang kering (kacng hijau, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah,
kacang tolo,kacang koro, kacang kapri dll) (paling banyak 25 gr /hari)
 Tahu ,tempe ,oncom (Paling banyak 50 gr/hari)
3. Sayuran
Asparagus , kacang polong , kacang buncis, kembang kool ,bayam , jamur (paling banyak
50 gr/hari.
DAFTAR PUSTAKA

1. Becker MA, Jolly M. (2005). Clinical gout and the pathogenesis of hyperuricemia.
In :KoopmanWJ (Eds.). A Text Book of Rheumatology.15th ed. Baltimore:
Lippincott Williams and Wilkins.

2. Hawkins DW, Rahn DW. (2005). Gout and Hyperuricemia.In :DiPiro JT, Talbert
RL, Yee GC, Matzke GR, Wells BG, Posey LM. (Eds.).Pharmacotherapy : A
Pathophysiologic Approach, 6th ed., New York : McGraw-Hill Companies, Inc.

3. Putra TR. (2009).Hiperurisemia. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,


Simadibrata, M, Setiati S, (Eds.). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Edisi ke-
5.Jakarta :Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

4. Roddy E. (2008).Hyperuricemia, Gout, and Lifestyle Factors.J Rheumatol35:1689-


91.

5. Qazi Y, Lohr JW. (2005). Hyperuricemia, eMedicine [Online],


http://www.emedicine.com/med/topic1112.htm. Diakses yanggal 22 Aoril 2015.