Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Korupsi di Indonesia telah menjamur di berbagai segi kehidupan. Dari Instansi


tingkat desa, kota, hingga pemerintahan, bisa di bilang korupsi sudah membudaya di
Indonesia. Tetapi usaha untuk memberantas korupsi memang bukan suatu yang sia-sia.
Penyelesaian korupsi masih tebang pilih dan pelaksanaan hukumnya masih belum
maksimal. Masih banyak korupsi yang berkeliaran di Indonesia, dan masih sangat
pintar para korupsi untuk mengelabui menyuap agar kasus tersebut tak segera muncul
dipermukaan.

Seperti kasus dalam makalah ini, kasus Direktur Utama Garuda Indonesia yang
menjadi tersangka dugaan suap pembelian mesin pesawat dari Rolls Royce Inggris
yang melibatkan sejumlah pihak Indonesia lainnya. Ini merupakan sedikit gambaran
bahwasanya perkorupsian di Indonesia masih sangat membudidaya dan belum mampu
diberantas hingga akar-akarnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Mengapa kasus korupsi mantan Dirut Garuda Indonesia bisa terjadi?


2. Siapa yang terlibat dalam kasus tersebut ?
3. Dimana kasus tersebut terjadi ?
4. Kapan terjadinya kasus tersebut ?
5. Bagaimana kejadian tersebut berlangsung ?
6. Apa akibat yang diterima oleh pemberi dan penerima suap dalam kasus
tersebut ?

1.3 TUJUAN

1.Mengetahui dan memahami kasus korupsi yang melibatkan negara lain

2.Mengetahui penyebab terjadinya kasus korupsi tersebut

3.Mengetahui akibat yang diterima oleh pihak yang menjadi tersangka

1
4..Memahami kronologis terjadinya ksus korupsi tersebut

BAB II
ISI

1.Mantan Dirut Garuda Indonesia tersangka kasus dugaan korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK menetapkan mantan Direktur Utama


Garuda Indonesia sebagai tersangka dugaan suap pembelian mesin pesawat dari
Rolls Royce Inggris.

KPK juga menetapkan pendiri PT Mugi Rekso Abadi sebagai tersangka pemberi suap
kepada mantan Dirut Garuda tersebut dalam kasus pengadaan pesawat dan mesin
pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls Royce Plc kepada PT Garuda Indonesia.

"Tersangka ESA diduga menerima suap dari tersangka SS dalam bentuk uang dan
barang," ujar Wakil Ketua KPK. Laode M Syarif, dalam jumpa pers di Gedung KPK,
Jakarta Kamis (19/1) sore.

Beberapa media di Indonesia melaporkan tersangka yang ditetapkan KPK sebagai


Emirsyah Satar, yang menjabat Direktur Utama Garuda sejak Maret 2005 hingga
mengundurkan diri pada Desember 2014.

Menurut KPK, pendiri PT Mugi Rekso Abadi yang disebut SS memberi suap kepada
mantan Dirut Garuda itu dalam bentuk uang sebesar sekitar Rp20 miliar serta barang
setara Rp 26,76 miliar yang tersebar di Indonesia dan Singapura.

Pemberian tersebut diduga untuk memenangkan proyek pengadaan pesawat Airbus


dalam kurun 2005-2014 dalam program pengadaan 50 pesawat Airbus A330.

2
Dalam keterangan sebelumnya, juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengungkapkan,
kasus ini terungkap setelah pihaknya bekerja sama dengan lembaga antikorupsi
Singapura (Corrupt Practices Investigation Bureau) dan Inggris (Serious Fraud Office).

Sebelumnya, Lembaga antikorupsi Inggris Serious Fraud Office (SFO) menemukan


adanya konspirasi untuk tindak korupsi dan suap oleh Rolls-Royce di Cina, India, dan
pasar-pasar lainnya.

Rolls-Royce sudah meminta maaf 'tanpa syarat' atas kasus-kasus yang terjadi dalam
rentang waktu hampir 25 tahun.

Pengadilan Inggris memerintahkan produsen mesin jet itu untuk membayar denda dan
biaya sebesar 497 juta Dollar (sekitar Rp 8,1 triliun) ke kantor SFO, lembaga yang
pernah melakukan penyelidikan terhadap perusahaan ini.

Dan produsen mesin jet terbesar dari Inggris, Rolls-Royce, sudah menyatakan akan
membayar denda sebesar 671 Dollar juta (atau sekitar Rp11 triliun) untuk
menyelesaikan kasus-kasus korupsi dengan otoritas Inggris dan Amerika Serikat,
termasuk dengan sebuah pihak Indonesia.

Tanggapan Garuda Indonesia

Sejauh ini belum ada tanggapan dari tersangka namun manajemen Garuda Indonesia
menyatakan kasus dugaan korupsi itu bukan tindakan korporasi.

"Dugaan atas hal tersebut tidak ada kaitannya dengan kegiatan korporasi, tetapi lebih
pada tindakan perseorangan," kata Vice President Corporate Communication Garuda
Indonesia, Benny S Butarbutar, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/01).

Menurutnya, Garuda Indonesia -sebagai perusahaan publik- memiliki mekanisme


dalam seluruh aktivitas bisnisnya, mulai dari penerapan sistem GCG yang diterapkan
secara ketat, hingga transparansi dalam informasinya.

"Manajemen Garuda Indonesia juga menyatakan menyerahkan sepenuhnya kepada


KPK," tandasnya.

3
Dalam keterangan kepada wartawan, Ketua KPK, Agus Rahardjo mengharapkan
pengungkapan kasus ini tidak akan mengganggu kinerja Garuda Indonesia.

"Kasus ini semoga tidak memberikan dampak buruk kepada Garuda, yang mendapat
reputasi baik di internasional," katanya dalam jumpa pers.

"Kasus ini sifatnya pribadi. Kami sangat berterima kasih, manajemen kasus ini juga
disampaikan dengan baik," tambahnya.

KPK, menurut Laode, telah menggeledah sejumlah tempat untuk mengembangkan


kasus dugaan korupsi ini, di antaranya dengan memeriksa kediaman mantan Dirut
Garuda Indonesia, ESA, di Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Mereka juga menggeledah rumah SS di Cilandak Barat, Jakarta Selatan, serta beberapa
kantornya di Jakarta.

2.Rolls Royce didenda Rp11 triliun untuk kasus suap, termasuk ke pihak
Indonesia
Produsen mesin jet terbesar dari Inggris, Rolls-Royce akan membayar denda
sebesar 671 juta Dollar (atau sekitar Rp11 triliun) untuk menyelesaikan
kasus-kasus korupsi dengan otoritas Inggris dan Amerika Serikat, termasuk
dengan sebuah pihak Indonesia.

Lembaga antikorupsi Inggris Serious Fraud Office(SFO) menemukan adanya


konspirasi untuk tindak korupsi dan suap oleh Rolls-Royce di Cina, India dan
pasar-pasar lainnya. Perusahaan meminta maaf 'tanpa syarat' atas kasus-kasus yang
terjadi dalam rentang waktu hampir 25 tahun Pengadilan Inggris memerintahkan
produsen mesin jet itu untuk membayar denda dan biaya sebesar 497juta Dollar
(sekitar Rp 8,1 triliun) ke kantor SFO, lembaga yang pernah melakukan penyelidikan
terhadap perusahaan ini.

Lembaga SFO mengungkapkan 12 tuduhan konspirasi tindak korupsi dan suap di


tujuh negara yaitu Indonesia, Thailand, India, Rusia, Nigeria, Cina dan Malaysia.

4
Rolls-Royce mengatakan mereka juga akan membayar denda sebesar US$170juta
atau sekitar Rp2,2 triliun) kepada Departemen Kehakiman AS, dan US$26 juta (atau
sekitar Rp346 miliar) kepada para regulator Brasil.

Hakim menggambarkan Rolls-Royce yang merupakan produsen mesin pesawat


militer dan sipil, kereta api, kapal, kapal selam nuklir dan pembangkit listrik ini
sebagai "sebuah permata dalam mahkota industri Inggris."

Saham akhir perusahaan itu hampir mencapai angka 4,5% lebih tinggi saat kabar
kompensasi ini beredar dan pengumuman keuntungan perusahaan tahun 2016 yang
mengalahkan ekspektasi.

Akomodasi mewah

Kesepakatan antara SFO dan Rolls-Royce, disetujui oleh pengadilan pada hari Selasa
(17/1) dikenal sebagai kesepakatan penangguhan tuntutan (DPA).

Ini merupakan kesepakatan ketiga yang pernah dibuat lembaga SFO sejak
dicantumkan dalam undang-undang Inggris pada tahun 2014.

Mereka mengizinkan perusahaan untuk membayar denda yang besar, tapi


menghindari penuntutan, jika mereka mengakui kejahatan ekonomi seperti penipuan
atau penyuapan.

Pelanggaran ini melibatkan para 'perantara' Rolls-Royce, yang terdiri dari


perusahaan-perusahaan setempat yang menangani penjualan, distribusi dan
pemeliharaan di negara-negara di mana perusahaan Inggris itu tidak memiliki cukup
orang di lapangan.

Kasus dugaan korupsi atau suap yang dirinci oleh SFO diantaranya:

 Di Indonesia, para staf senior Rolls-Royce setuju memberikan US$2,2 juta


(atau sekitar Rp26 miliar) dan sebuah mobil Rolls-Royce Silver Spirit bagi seorang
perantara. Ada dugaan kuat bahwa pemberian ini adalah imbalan bagi sang
perantara yang "menunjukkan kecenderungan menguntungkan" untuk Rolls-Royce
sehubungan kontrak untuk mesin Trent 700 yang digunakan dalam pesawat
terbang, kata SFO.

5
 Di Cina, staf Rolls-Royce setuju untuk membayar uang sebesar $5 juta(atau
sekitar Rp66 miliar) untuk CES, maskapai penerbangan milik negara, saat
negosiasi penjualan mesin T700. SFO mengatakan sebagian uang itu dimaksudkan
untuk membayar karyawan maskapai penerbangan Cina untuk mengikuti kuliah
meraih gelar MBA selama dua minggu di Universitas Columbia, dan menikmati
"akomodasi hotel bintang empat dan kegiatan ekstrakurikuler mewah."

 Di Thailand, Rolls-Royce setuju untuk membayar US$18.8 juta (atau sekitar


Rp240 miliar) untuk perantara di kawasan. Sebagian uang itu dibagikan untuk
perorangan yaitu "para agen dari pemerintahan Thailand dan karyawan Thai
Airways," kata SFO. Para agen ini "diharapkan untuk memenangkan Rolls-Royce
sehubungan dengan penjualan mesin T800 oleh Thai Airways.

 Di India, kasus yang berhubungan dengan penggunaan perantara dibatasi oleh


pemerintah India. "Istilah perantara dalam kontrak Rolls Royce tidak digunakan,"
kata SFO. Tetapi perusahaan terus menggunakan perantara dan mengatakan
pembayaran itu untuk 'jasa konsultasi umum' bukan komisi.

Tak ada toleransi

Dalam pernyataannya, kepala eksekutif Rolls-Royce Warren East mengatakan:


"Perilaku yang ditemukan dalam penyelidikan oleh lembaga anti korupsi Inggris dan
otoritas lainnya benar-benar tidak dapat diterima dan untuk itu kami meminta maaf."

"Praktik-praktik itu terjadi di masa lalu dan tidak mencerminkan cara Rolls-Royce
melakukan bisnis dewasa ini.”

"Kami sekarang melakukan perombakan secara fundamental dengan cara berbeda.


Kami memberlakukan toleransi nol terhadap segala bentuk perilaku bisnis
menyimpang," tambahnya.

Kuasa hukum perusahaan, David Perry, mengatakan kepada pengadilan bahwa


mereka telah mengalami 'perubahan yang mendasar' sejak penyelidikan dimulai,
merombak strategi sistem, pelatihan, tata kelola dan etika.

6
Direktur SFO David Green mengatakan penyelidikan terhadap perusahaan
Rolls-Royce untuk kasus senilai 13 juta Dollar itu merupakan investigasi terbesar
yang pernah dilakukan oleh lembaga anti-korupsi tersebut.

"Hal ini membuat Rolls-Royce menarik garis dengan perilaku yang mencakup praktik
di tujuh negara, dalam tiga dasawarsa dan tiga sektor bisnis," katanya.

"Saya pikir hal ini sudah sangat jelas menunjukkan bahwa SFO memiliki gigi dan
bahwa SFO tidak akan hengkang," kata Green kepada BBC.

Ia pun menambahkan: "Sisi positif dari cara sisi perusahaan adalah mereka
menunjukkan kerjasama yang tulus dengan penyelidikan SFO, ada manfaatnya."

Namun, masih ada pertanyaan tentang apakah 'keadilan sudah terpenuhi,' kata Robert
Barrington, direktur eksekutif di Transparency International Inggris.

"Para pelaku perorangan tidak dimintai pertanggung jawaban - dan pasar, ditunjukkan
dengan naiknya harga saham ini - barangkali menunjukan bahwa ini bukan hukuman
atau langkah yang menimbulkan efek jera," kata Barrington.

SFO mengatakan kepada BBC bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk


menuntut individu yang terkait dengan kasus ini sesudah tercapainya kesepakatan
dengan perusahaanuntuk kasus ini.

3. Kronologi KPK Ungkap Kasus Suap Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap kasus suap


pengadaan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda
Indonesia Tbk. Kasus ini sendiri sudah ditelusuri sejak 2016. Klimaksnya, mantan
Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar jadi tersangka.

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengatakan, pengungkapan kasus


pembelian mesin Trent 700 dari perusahaan asal Inggris itu harus melibatkan lembaga
antikorupsi dari negara lain, yakni Serious Fraud Office (SFO) Inggris dan Corrupt
Practices Investigation Bureau (CPIB) Singapura.

7
Alasannya, kasus tersebut tergolong dalam korupsi lintasnegara. Sehingga,
pengungkapannya dibutuhkan komunikasi, kerjasama dan kordinasi dengan KPK
negara lain.

"Saat ini kedua badan itu sedang melakukan penyidikan ke tersangka lain. Jadi ini
operasi yang besar dari SFO, CPIB dan badan korupsi lainnya," kata Syarif di Gedung
KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis 19 Januari 2017.

Dalam kurun enam bulan pendalamannya, lembaga antirasuah akhirnya berhasil


mengumpulkan sejumlah barang bukti untuk mencari tersangkanya.

Operasi itu dimulai dengan penggeledahan sejumlah tempat di Jakarta Selatan pada
Rabu 18 Januari 2017. Seperti rumah tersangka Emir di Grogol Utara, Kebayoran
Lama, Jakarta Selatan; kediaman Soetikno di Cilandak; Kantor Soetikno di Wisma
MRA Jalan TB Simatupang; Rumah di Jatipadang, serta di sebuah rumah kawasan
Bintaro Jaksel.

Dari operasi awal, KPK berhasil menyita satu koper merah. Operasi berlangsung
hingga sore kemarin. Dan hasilnya, KPK pun menemukan alat bukti untuk menjerat
pelaku.

Mantan Dirut PT Garuda Emirsyah Satar dan Beneficial Owner Connaught


Intenational Pte. Ltd, Soetikno Soedarjo akhirnya resmi dijadikan tersangka. Emir
diduga telah menerima suap dari Soetikno. Suap tersebut diberikan dalam bentuk
uang dan barang.

Dari pengembangan sementara, Emir menerima 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau
setara Rp20 miliar. Dan barang yang diterima senilai USD2 juta, yang tersebar di
Singapura dan Indonesia.

Soetikno sendiri diduga kuat sebagai perantara dari perusahaan Rolls-Royce yang
memberikan suap pada Emir.

Syarif menegaskan, KPK akan terus mendalami seluruh proses suap proyek
pengadaan tersebut, mulai dari awal hingga penunjukkan pembelian mesin pesawat
dari Rolls-Royce.

8
Alasannya, kata Syarif, hal itu merujuk pada alasan pemilihan pembelian mesin di
perusahaan itu. Padahal, untuk jenis Airbus ada dua pilihan mesin yang bisa
digunakan. "Rolls-Royce menawarkan, kalau beli mesin kami ada sesuatunya.
Padahal, ada 3 alternatif, ada 3 mesin yang cocok," papar Syarif.

KPK masih terus menyidik kasus tersebut. Tersangka Emir dijerat dengan Pasal 12
huruf a atau b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana
telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001,Pasal 55 ayat (1) KUHP ,
Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sementara Soetikno selaku pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5
ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana
telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001juncto Pasal 55 ayat (1)
ke-1 KUHP , Pasal 64 ayat (1) KUHP

4.Emirsyah Satar Bantah Korupsi Saat Jadi Dirut Garuda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah


menetapkan mantan direktur utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar untuk kasus
dugaan korupsi. Direktur Utama Garuda dari 2005-2014 tersebut diduga terlibat
dalam penyuapan pembelian pesawat dan mesinnya dari Airbus dan Rolls-Royce.
Akan tetapi, Emirsyah Satar membantah tuduhan tersebut tetapi akan menghormati
proses hukum dan bekerja sama dengan penyidik.
"Sepengetahuan saya, selama saya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia,
saya tidak pernah melakukan perbuatan koruptif ataupun menerima sesuatu yang
berkaitan dengan jabatan saya, " ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/1).
Mantan direktur utama Garuda tersebut kini menjadi petinggi di toko daring Lippo
Group, MatahariMall.com. Pihak MatahariMall menyatakan mendukung proses
hukum di Indonesia, tetapi enggan memberikan komentar lebih lanjut.
KPK mengungkapkan memiliki bukti mantan dirut Garuda menerima Rp 20 miliar
dolar AS dan barang senilai 2 juta dollar AS di Singapura dan Indonesia. Wakil Ketua
KPK, Agus Rahardjo mengatakan kasus korupsi tersebut menarget individu dan tidak
akan berimbas pada operasional Garuda. Saham Garuda ditutup turun 2,3 persen pada

9
perdagangan Rabu kemarin.
Rolls-Royce setuju membayar denda lebih dari 800 juta dolar AS untuk penyelesaian
kasus dugaan penyuapan di enam negara yang terjadi lebih dari satu dekade. Hal itu
diungkapkan Departemen Kehakiman AS dan lembaga anti-korupsi Inggris, Serious
Fraud Office (SFO) pada Selasa lalu.

BAB III
PEMBAHASAN

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap kasus suap pengadaan mesin


pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia Tbk.
Kasus ini sendiri sudah ditelusuri sejak 2016. Beberapa media di Indonesia
melaporkan tersangka yang ditetapkan KPK sebagai Emirsyah Satar, yang menjabat
Direktur Utama Garuda sejak Maret 2005 hingga mengundurkan diri pada Desember
2014. Menurut KPK, pendiri PT Mugi Rekso Abadi yang disebut SS memberi suap
kepada mantan Dirut Garuda itu dalam bentuk uang sebesar sekitar Rp20 miliar serta
barang setara Rp 26,76 miliar yang tersebar di Indonesia dan Singapura. Pemberian
tersebut diduga untuk memenangkan proyek pengadaan pesawat Airbus dalam kurun
2005-2014 dalam program pengadaan 50 pesawat Airbus A330. Dalam kurun enam
bulan pendalamannya, lembaga antirasuah akhirnya berhasil mengumpulkan sejumlah
barang bukti untuk mencari tersangkanya.

KPK telah menggeledah sejumlah tempat untuk mengembangkan kasus dugaan


korupsi ini, di antaranya dengan memeriksa kediaman mantan Dirut Garuda Indonesia,
ESA, di Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Mereka juga menggeledah
rumah SS di Cilandak Barat, Jakarta Selatan, serta beberapa kantornya di Jakarta.

10
Operasi itu dimulai dengan penggeledahan sejumlah tempat di Jakarta Selatan pada
Rabu 18 Januari 2017. Seperti rumah tersangka Emir di Grogol Utara, Kebayoran
Lama, Jakarta Selatan; kediaman Soetikno di Cilandak; Kantor Soetikno di Wisma
MRA Jalan TB Simatupang; Rumah di Jatipadang, serta di sebuah rumah kawasan
Bintaro Jaksel. Dari operasi awal, KPK berhasil menyita satu koper merah. Operasi
berlangsung hingga sore kemarin. Dan hasilnya, KPK pun menemukan alat bukti
untuk menjerat pelaku. Mantan Dirut PT Garuda Emirsyah Satar dan Beneficial
Owner Connaught Intenational Pte. Ltd, Soetikno Soedarjo akhirnya resmi dijadikan
tersangka. Emir diduga telah menerima suap dari Soetikno.

Dari pengembangan sementara, Emir menerima 1,2 juta Euro dan USD180 ribu
atau setara Rp20 miliar. Dan barang yang diterima senilai USD2 juta, yang tersebar di
Singapura dan Indonesia. Soetikno sendiri diduga kuat sebagai perantara dari
perusahaan Rolls-Royce yang memberikan suap pada Emir.

KPK masih terus menyidik kasus tersebut. Tersangka Emir dijerat dengan Pasal 12
huruf a atau b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana
telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 , Pasal 55 ayat (1) KUHP ,
Pasal 64 ayat (1) KUHP. Sementara Soetikno selaku pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat
(1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 , Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP , Pasal 64 ayat (1) KUHP. Serta Produsen mesin
jet terbesar dari Inggris, Rolls-Royce akan membayar denda sebesar 671 juta Dollar
(atau sekitar Rp11 triliun) untuk menyelesaikan kasus-kasus korupsi dengan otoritas
Inggris dan Amerika Serikat, termasuk dengan sebuah pihak Indonesia.

Solusi untuk kasus tersebut :

Berbicara mengenai masalah tentunya ada solusi yang mampu meredam


masalah tersebut, terutama maslah korupsi ini. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
yang selama ini dipercaya untuk membasmi korupsi di negeri ini dinilai kurang
maksimal, karena para koruptor lebih cerdik diri pada mereka dan harus diakui bahwa
aksi penipuan maupun kejahatan yang dilakukan oleh para koruptor gerakannya
sungguh samar. Untuk itu, perlu adanya solusi yang benar-benar mampu membasmi

11
korupsi.untuk kalangan atas seharusnya dibatasi kekayaannya, sehingga presentasi
adanya kecurangan menjadi terminimalisir dan orientasi hidup hedonis juga
berkurang. Sedangkan untuk kalangan menengah ke bawah seharusnya ada solusi
pasti dari pemerintahan, yaitu dengan membuka lowongan pekerjaan yang
selebar-lebarnya bagi mereka, sehingga mereka mampu melangsungkan hidupnya
dengan baik. Tidak hanya itu, UU republik Indonesia no. 31 tahun 1999 juga harus
ditegakkan, supaya para koruptor merasa jera dan berfikir dua kali apabila mau
mengulanginya lagi.

Apabila hal demikian dapat terealisasi dalam masyarakat, tentunya akan


membawa suatu keberhasilan yang dicita-citakan oleh bangsa ini. Hal ini juga harus
diimbangi dengan Sumber Daya Manusia (SDA) yang berkualitas agar mampu
bersinergi dengan pemerintahan untuk mengatasi masalah tersebut.

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Emirsyah Satar ditetapkan sebagai tersangka setelah menerima suap berupa uang
sebesar 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar dan barang yang
diterima senilai USD2 juta, yang tersebar di Singapura dan Indonesia dari
Rolls-Royce melalui Soetikno sebagai perantara. Akibat dari perbuatannya Tersangka
Emir dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 , Pasal 55 ayat (1) KUHP , Pasal 64 ayat (1) KUHP. Sementara Soetikno selaku
pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal
13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 , Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP , Pasal 64 ayat

12
(1) KUHP. Serta Produsen mesin jet terbesar dari Inggris, Rolls-Royce akan
membayar denda sebesar 671 juta Dollar (atau sekitar Rp11 triliun) untuk
menyelesaikan kasus-kasus korupsi dengan otoritas Inggris dan Amerika Serikat,
termasuk dengan sebuah pihak Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38674859

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/01/20/ok2gzb382-emirsyah-s
atar-bantah-korupsi-saat-jadi-dirut-garuda

13
http://news.okezone.com/read/2017/01/20/337/1596368/kronologi-kpk-ungkap-kasus-
suap-mantan-dirut-garuda-emirsyah-satar

http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38660310

14

Anda mungkin juga menyukai