Anda di halaman 1dari 12

Tugas

Perencanaan Hutan

DOKUMEN PERENCANAAN HUTAN

DISUSUN OLEH :

1. NURUL FADILAH ATIK (M111 15 304)

2. ROSDIANA PATRA (M111 15 093)

3. ARMILA AHMAD (M111 15 079)

4. RAMLAH (M111 15 073)

5. ABDURRAHMAN ABDULLAH (M111 15 090)

LABORATORIUM PERENCANAAN DAN SISTEM INFORMASI


KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
JUDUL : PERENCANAAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI

RINGKASAN

Pengertian

Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman, yang selanjutnya disebut


Usaha Hutan Tanaman adalah suatu kegiatan usaha di dalam kawasan hutan
produksi untuk menghasilkan produk utama berupa kayu, yang kegiatannya
terdiri dari penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan hasil,
pengolahan dan pemasaran hasil hutan tanaman.

Maksud dan Tujuan

Usaha hutan tanaman bertujuan untuk menghasilkan produk utama berupa


hasil hutan kayu guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan bahan baku
industri perkayuan, meningkatkan kualitas lingkungan melalui kegiatan
reboisasi, untuk memperluas kesempatan bekerja dan berusaha bagi
masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan hutan.

Kriteria Areal Usaha Hutan Tanaman

1) Areal kosong di dalam kawasan hutan produksi dan/atau areal yang akan
dialihfungsikan menjadi kawasan hutan produksi, serta tidak dibebani hak-hak
lain.

2) Topografi dengan kelerengan maksimal 25 %. Pada kelerengan antara 8 % –


25 % harus diikuti dengan upaya konservasi tanah.

3) Penutupan vegetasi calon lokasi usaha hutan tanaman berupa non hutan
(semak belukar, padang alang-alang dan tanah kosong) atau areal bekas
tebangan yang kondisinya rusak.

4) Terdapat masyarakat di sekitarnya sebagai sumber tenaga kerja.

5) Tidak dibenarkan melakukan penebangan hutan alam yang ada di areal usaha
hutan tanaman, kecuali untuk pembangunan sarana dan prasarana dengan luas
maksimum 1 % dari seluruh luas areal usaha.

6) Bagian-bagian yang masih bervegetasi hutan alam, dienclave sebagai blok


konservasi.
2. DOKUMEN AMDAL, RKPKH-HTI, dan RKT HTI

AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan


hidup, dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan
keputusan.

Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-
ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi
kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

Dokumen AMDAL terdiri dari :

1) Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-


ANDAL)

2) Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

3) Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

4) Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

5) Tiga dokumen (ANDAL, RKL dan RPL) diajukan bersama-sama untuk


dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Hasil penilaian inilah yang menentukan
apakah rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut layak secara lingkungan atau
tidak dan apakah perlu direkomendasikan untuk diberi ijin atau tidak.

Guna AMDAL

1) Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah

2) Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan


hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan

3) Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha
dan/atau kegiatan

4) Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan


lingkungan hidup

5) Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu
rencana usaha dan atau kegiatan

6) memberikan alternatif solusi minimalisasi dampak negatif


7) Digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberi ijin
usaha dan/atau kegiatan”

Prosedur AMDAL

1) Prosedur AMDAL terdiri dari :

2) Proses penapisan (screening) wajib AMDAL

3) Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat

4) Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL (scoping)

5) Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL Proses penapisan atau
kerap juga disebut proses seleksi kegiatan wajib AMDAL, yaitu menentukan
apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak

Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat.

Berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000,


pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang
ditentukan dalam peraturan tersebut, menanggapi masukan yang diberikan,
dan kemudian melakukan konsultasi kepada masyarakat terlebih dulu sebelum
menyusun KA-ANDAL.

Proses penyusunan KA-ANDAL.

Penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan lingkup


permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan).
Proses penilaian KA-ANDAL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa
mengajukan dokumen KA-ANDAL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk
dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian KA-
ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk
memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.

Proses penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL.

Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada


KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL).
Proses penilaian ANDAL, RKL, dan RPL. Setelah selesai disusun,
pemrakarsa mengajukan dokumen ANDAL, RKL dan RPL kepada Komisi
Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal
untuk penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang
dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali
dokumennya.

Yang harus menyusun AMDAL

Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsa suatu rencana


usaha dan/atau kegiatan. Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat
meminta jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun
dokumen AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli
di bidangnya. Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan
AMDAL diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000.

1. Komisi Penilai AMDAL

Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai


dokumen AMDAL. Di tingkat pusat berkedudukan di Kementerian
Lingkungan Hidup, di tingkat Propinsi berkedudukan di Bapedalda/lnstansi
pengelola lingkungan hidup Propinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota
berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup
Kabupaten/Kota. Unsur pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga
masyarakat yang terkena dampak diusahakan terwakili di dalam Komisi
Penilai ini.

2. Pemrakarsa

Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggungjawab


atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.

3. Masyarakat yang berkepentingan

Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh


atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-
alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana
usaha dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi, faktor pengaruh sosial
budaya, perhatian pada lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai
atau norma yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses
AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan
masyarakat pemerhati.
Yang dimaksud dengan UKL dan UPL

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan


Lingkungan Hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan
dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan
yang tidak wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Hidup).
Kewajiban UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak
diwajibkan menyusun AMDAL dan dampak kegiatan mudah dikelola dengan
teknologi yang tersedia.
UKL-UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk
pengambilan keputusan dan dasar untuk menerbitkan ijin melakukan usaha
dan atau kegiatan.

Proses dan prosedur UKL-UPL

1) Proses dan prosedur UKL-UPL tidak dilakukan seperti AMDAL tetapi


dengan menggunakan formulir isian yang berisi :

2) Identitas pemrakarsa

3) Rencana Usaha dan/atau kegiatan

4) Dampak Lingkungan yang akan terjadi

5) Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup

6) Tanda tangan dan cap

Formulir Isian diajukan pemrakarsa kegiatan kepada :

1) Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup


Kabupaten/Kota untuk kegiatan yang berlokasi pada satu wilayah
kabupaten/kota

2) Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup


Propinsi untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu Kabupaten/Kota
3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan
pengendalian dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari
satu propinsi atau lintas batas negara

Catatan :

Kaitan dokumen perencanaan pembangunan hutan tanaman dengan unsur-unsur


perencanaan hutan yaitu :

1. Tujuan yang tertulis didalam dokumen perencanaan pembangunan hutan


tanaman yaitu untuk menghasilkan produk utama berupa hasil hutan kayu
guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan bahan baku industri perkayuan,
meningkatkan kualitas lingkungan melalui kegiatan reboisasi, untuk
memperluas kesempatan bekerja dan berusaha bagi masyarakat, khususnya
masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan hutan.
2. Politik. Yang dimaksud dengan politik ini adalah kewenangan, delegasi dan
pertanggung jawaban dalam pelaksanaan sebuah rencana. Sehingga tujuan
yang telah direncanakan akan berhasil.
Didalam dokumen ini terdapat beberapa instansi yang memiliki kewenangan
dalam perencanaan pembangunan hutan tanaman yakni Instansi yang
bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota
untuk kegiatan yang berlokasi pada satu wilayah kabupaten/kota. Instansi
yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi
untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu Kabupaten/Kota. Instansi yang
bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian
dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu propinsi
atau lintas batas negara
3. Prosedur, merupakan urutan tindakan atau kegiatan yang terorganisir dalam
rangka pencapaian tujuan tersebut. Prosedur yang tertulis dalam dokumen
yang dimaksud yaitu : Prosedur AMDAL, Proses pengumuman dan konsultasi
masyarakat, Proses penyusunan KA-ANDAL, Proses penyusunan ANDAL,
RKL, dan RPL.
4. Anggaran atau budget merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam
pencapaian tujuan. Anggaran ini harus dibuat serealistis mungkin, sehingga
beban dari pelaksanaan ini tidak tidak lah begitu berat.
5. Program, merupakan gabungan dari politik, prosedur dan anggaran serta perlu
adanya alternatif tujuan bilamana tujuan utamanya tidak tercapai sebagaimana
yang diharapkan.
JUDUL : RENCANA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT KOPERASI WANA
LESTARI MENOREH 2010-2014

RINGKASAN

Rencana pengelolaan hutan ini menggambarkan sistem pengelolaan hutan


rakyat yang diterapkan oleh anggota Koperasi Wana Lestari Menoreh. Dalam
perjalanan pengelolaan hutan yang akan dilakukan jika diperlukan adanya
perubahan/revisi maka setiap perubahan dalam rencana pengelolaan akan menjadi
bagian yang tidak terpisahkan. Dokumen Rencana Pengelolaan ini akan disimpan
dalam jangka waktu 5 tahun. Manajemen ini menggambarkan :

1. Tujuan pengelolaan hutan rakyat Koperasi Wana Lestari Menoreh

2. Wilayah pengelolaan hutan

3. Kondisi soisal ekonomi masyarakat dalam wilayah pengelolaan hutan rakyat

4. Cara untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan, metode-metode pemanenan dan


Silvikultur untuk menjamin kelestarian

5. Limit Penebangan Yang Lestari

6. Aspek Sosial dalam pengelolaan hutan rakyat

7. Aspek pengelolaan lingkugan hidup.

8. Peta-peta hutan yang menunjukkan Kawasan-kawasan yang dilindungi,


pengelolaan yang direncanakan dan kepemilikan lahan

9. Jangka waktu perencanaan

SASARAN KEGIATAN

Koperasi Wana Lestari Menoreh dalam usahanya lebih mengedepankan nilai


sosial yang dibangun dengan mengangkat kearifan local yang selama ini sangat
dipatuhi oleh masyarakat, hal ini sangat efektif dalam kegiatan pengelolaan hutan
secara lestari, dan secara umum dapat mempertahankan budaya local dalam upaya
melestarikan hutan.

Selain itu Koperasi Wana Lestari Menoreh juga mengedepankan aspek


Ekologi sebagai upaya dalam menjaga keseimbangan ekosistem dalam menyangga
tata air, upaya ini tentu tidak lepas dari akses teknologi yang diharapkan adanya
dukungan dari akademisi/perguruan tinggi, pemerintah terkait, Lembaga Sosiala
Masyarakat dalam mentransfer pengetahuan pengelolaan hutan secara lestari.

Harapan

Terjaganya nilai-nilai social dan kearifan local yang telah dijalankan


masyarakat, terciptanya peningkatan kesejahteraan masyarakat petani hutan
untuk mendukung pelestarian sumberdaya alam di Kabupaten Kulonprogo, DIY
melalui pengembangan usaha pengelolaah hutan dan pengolahan kayu.

Rencana manajemen ini akan diperbaharui secara berkala untuk mengetahui


perubahan-perubahan penting yang terjadi di area yang dikelola oleh anggota
Koperari Wana Lestari Menoreh. Paling tidak, rencana ini akan diganti setiap lima
tahun.

Tujuan-tujuan Pengelolaan

Tujuan pengelolaan hutan KWLM adalah untuk:

1) Meningkatkan mutu pengelolaan lahan hutan rakyat anggota KWLM di


Kabupaten Kulonprogo
2) Memfasilitasi akses pasar bagi para anggota dimana pasar yang dituju adalah
yang mampu membeli kayu dengan harga yang lebih baik
3) Meningkatkan kesejahteraan anggota
4) Membina anggota agar memiliki kemampuan melakukan pengelolaan hutan
secara lestari.
5) Menjembatani tukar pengalaman dan wawasan diantara para anggota.
6) Mendapatkan Sertifikat FSC untuk semua anggota hutan rakyat untuk
pengelolaan yang lestari dan memiliki pasar dengan permintaan yang sangat
tinggi.
Wilayah Pengelolaan

Sesuai dengan legalitas Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM), Badan


Hukum Nomor : 29/BH/XV.3/2009, tanggal 3 April 2009, dimana telah disebutkan
didalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) bahwa, cakupan
wilayah kerjanya pada dasarnya meliputi seluruh wilayah Kabupaten Kulonprogo.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya diatas, luas hutan rakyat Kabupaten
Kulonprogo, terdiri dari 12 Kecamatan seluas 17.510,75 ha.
Mengingat bahwa organisasi ini baru dibentuk, maka tahap awal pengelolaan
hutan rakyat KWLM difokuskan pada 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Samigaluh,
Kecamatan Kalibawang dan Kecamatan Girimulyo, terdiri dari 15 desa dengan
potensi luasan lahan 8.300,50 ha. Pengelolaan lahan yang dilakukan KWLM
merupakan lahan milik perseorangan (bukan hutan negara) yang dapat ditunjukkan
dengan bukti yang sah yang diakui oleh pemerintah.

Penentuan produk kayu yang dipanen/dikelola

Salah satu yang mencirikan hutan rakyat yaitu dalam satu lahan pada
umumnya jenis tanaman beragam. Penentuan pilihan atas jenis yang akan dikelola
menjadi sangat penting, diawal berjalan koperasi. Ini terkait dengan kemampuan dan
ketersediaan sumberdaya manusia dan finansial yang terbatas dalam melakukan
pengelolaan hutan yang akan dilakukan. Namun kedepannya bukan tidak mungkin
akan lebih banyak potensi yang akan dikelola seiring dengan pertumbuhan koperasi.
Untuk diawal berjalannya koperasi menetapkan 4 jenis tanaman/pohon komersial
yang akan dikelola yaitu jati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia sp), sonokeling
(Dalbergia lattifolia), dan sengon (Paraseriantes falcataria). Dari ke empat jenis
kayu inilah yang akan dibeli oleh koperasi melalui anggota-anggotanya.
Jatah Tebang Tahunan (JTT)

JTT Tahun 2010


Jenis Luas volume Umur Etat
pohon lahan kayu (m3) tebangan tebangan
(ha) (tahun) (m3/tahun)
Jati 110 826,35 20 82,64
Mahoni 110 939,84 15 125,31
Albasia 110 307,33 5 122,93
Sonokeling 110 88,18 30 5,88
Jumlah 2.161,70 336,76

Jangka Waktu Perencanaan

Dokumen rencana pengelolaan hutan rakyat Koperasi Wana Lestari Menoreh


(KWLM) yang disusun untuk jangka waktu 5 tahun. Namun sistem pengelolaan
hutan rakyat yang dilakukan KWLM saat ini bukan menggunkan pengelolaan hutan
rakyat pada satu hamparan luas, namun berdasarkan keanggotaan aktif, dimana masih
dimungkinkan keanggotaan dan luasan lahan yang terus bertambah maka, setiap
tahun KWLM akan membuatkan laporan terhadap perubahannya. Beberapa laporan
perubahan yang setiap tahunnya akan dibuatkan yaitu;

1. Data anggota dan luasan lahan.


2. Data potensi kayu dan perhitungan Jatah Tebang Tahunan (JTT)
3. Data kawasan hutan yang memiliki nilai konservasi tinggi (NKT)

Catatan :

Kaitan dokumen ini dengan unsur-unsur perencanaan hutan yakni :

1. Tujuan. Salah satu tujuan dari pengelolaan hutan KWLM ini yaitu
Meningkatkan mutu pengelolaan lahan hutan rakyat anggota KWLM di
Kabupaten Kulonprogo. Sehingga suatu rencana dapat dikatakan rencana
apabila memiliki salah satunya tujuan yang jelas.
2. Politik. Yang dimaksud dengan politik ini adalah kewenangan, delegasi dan
pertanggung jawaban dalam pelaksanaan sebuah rencana. Sehingga tujuan
yang telah direncanakan akan berhasil. Dalam dokumen ini tertulis bahwa
yang bertanggung jawab dalam rencana pengelolaan KWLM ini yaitu seluruh
anggota KWLM.
3. Prosedur, merupakan urutan tindakan atau kegiatan yang terorganisir dalam
rangka pencapaian tujuan tersebut. Dalam dokumen perencanaan ini juga
memiliki kegiatan-kegiatan yang terorganisir mulai dari wilayah pengelolaan
hingga jangka waktu perencanaan.
4. Anggaran atau budget merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam
pencapaian tujuan. Anggaran ini harus dibuat serealistis mungkin, sehingga
beban dari pelaksanaan ini tidak tidak lah begitu berat.
5. Program, merupakan gabungan dari politik, prosedur dan anggaran serta perlu
adanya alternatif tujuan bilamana tujuan utamanya tidak tercapai sebagaimana
yang diharapkan.