Anda di halaman 1dari 77

TATALAKSANA KLINIS

MIDDLE EAST RESPIRATORY SYNDROME CORONA VIRUS


(MERS COV)

WHO GUIDELINE OF MERS COV

Diah Handayani

Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RS Persahabatan
Penyakit pada Haji

www.thelancet.com Vol 383 June 14, 2014


Penyakit Infeksi

 • Influenza viruses
 • Coronaviruses
 • Pneumococcal sepsis
 • Tuberculosis
 • Meningococcal sepsis
 • Polio
 • Yellow fever

www.thelancet.com Vol 383 June 14, 2014

www.thelancet.com Vol 383 June 14, 2014


Infeksi paru

 Pneumonia bakterial dan virus penyebab perawatan di RS


terbesar
 Pneumonia terutama pada klp umur 58 th, dengan komobid
DM(21%), malignansi (20%) dan PPOK (19%)
 TB penyebab utama pneumonia, 10% peningkatan penularan
 Penularan TB sulit dinilai  TB laten meningkat pada jamaah
singapura 2009
 pandemic H1N1 dilaporkan 26 dari 100 pasien suspek jamaah
Prancis dan dideteksi 559 jamaah haji dan RSV, serta
Streptococcus pneumoniae.
www.thelancet.com Vol 383 June 14, 2014
www.healthmagazine.ae /press_release/vaccination-against-infectious-diseases-necessary-for-hajjtravelers-
from-uae-say-leading-doctors/
Journal of Infection and Public Health (2008) 1, 27—32
Sebaran virus terkait haji

Respiratory Viruses During the Hajj • CID •

Abbreviations: FLUA, influenza A virus;


FLUB, influenza B virus; FLUC, influenza C virus; H1N1, influenza A/2009/H1N1 virus; HAdV, human adenovirus; HEV, human enterovirus; HMPV, human
metapneumovirus; HRV, human rhinovirus; KSA, Kingdom of Saudi Arabia; MS2, MS2 bacteriophage; RSVA, human respiratory syncytial virus A; RSVB,
human respiratory syncytial virus B.
Profil pneumonia pada Haji

Indian J Med Res. 2011 May; 133(5): 510–513. PMCID: PMC3121282


DEFINISI
MERS CoV : penyakit sindrom pernapasan
yang disebabkan oleh virus Corona yang
menyerang saluran pernapasan mulai dari
ringan sampai berat
(The Coronavirus Study Group of the International Committee on Taxonomy of Viruses )

Kasus pertama dilaporkan


September 2012 di Arab Saudi
Epidemiologi

 Sejak April 2012, hingga awal Juni 20014 WHO


melaporkan 681 kasus termasuk 204 meninggal dunia
(WHO report 4 June 2014)
 Kasus ini termasuk 44 kasus terbaru selama 19 Mei-2
Juni 2014 di Saudi Arabia
 Semua kasus di luar Arab Saudi memiliki riwayat baru
saja berkunjung ke negara KSA atau UAE
 65.6% kasus laki laki, rerata umur 49 tahun (berkisar 9
bulan ‐94 tahun).
Kasus pertama

A. Foto saat masuk B. 2 hari kemudian

Pasien 60 thn, datang 13 Juni 2012 dengan gejala demam, batuk dan napas berat, didapatkan
peningkatan nilai BUN dan Cr dihari ketiga perawatan. Nilai DPL luekosit normal pada saat
masuk dengan neutrofil 92.5% a, pada hari kesepuluh didapatkan neutrofilia, limfopeni dan
trombositopenia progresif. Pasien mengalami ARDS dan MOF dan akhirnya meninggal pada 24
Juni 2012.
Zaki et al. N Engl J Med 2012 367:1814-20
Khan Virology Journal 2013, 10:66
http://www.virologyj.com/content/10/1/66
Evaluasi cluster

124 HCW
tetap sehat
sampai
Januari 2013

Memish ZA et al. NEJM epub May 29, 2013


Perkembangan MERS CoV
Evaluasi cluster kasus UK

Menjadi bukti penularan antar manusia, terjadi koinfeksi dengan influenza dan
parainfluensa tipe 2. masa inkubasi 1-9 hari

HPA UK Novel Coronavirus Investigation Team; Eurosurv 2013; 18(11)


Evaluasi cluster Prancis  infeksi nosokomial

Kasus indeks
 Laki laki 64 th, pulang dari Dubai 5 hari sebelumnya

 Riwayat transplantasi ginjal

 Gejala: diare, demam dan menggigil

 CT abdomen infiltrat paru pada hari kedua

 Batuk dan sesak hari keempat

 Swab negatif, BAL positif

 Gagal napas dan gagal ginjal  meninggal hari 36


sejak onset

Guery et al. Lancet 2013; epub May 30


Infeksi nosokomial
Kasus kedua
 Laki laki 51 tahun dirawat karena
MCI dan terapi steroid, dan riwayat
DVT
 Pasien dalam 1 ruangan hari ke4-7
pasien indeks, dan 1 kamar mandi
 Hasil swab: inconclusive; sputum
induksi positif MERS-CoV
 Tidak ada prosedur medis aerosol,
tidak ada kecurigaan MERS CoV
 Masa inkubasi 9-12 days

 Spesimen mungkin didapat dari


saluran napas bawah dengan
bronkoskopi/BAL

Guery et al. Lancet 2013; epub May 30


Virus Corona

 Enveloped positive strand RNA virus


 •Human CoVs diisolasi pertama tahun 1960

 6 human CoVs (HCoVs) telah

teridentifikasi sampai saat ini


 HCoV-229E
 HCoV-OC43

 HCoV-NL63

 HCoV-HKU1

 SARS-CoV

 Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV)


Patogenesis MERS CoV

Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV): challenges in identifying its


source and controlling its spread
, , ,
Lu Lu Qi Liu Lanying Du Shibo Jiang, Microbes and Infection,Volume 15, Issues 8–9, July–August
2013, Pages 625–629
Gambaran klinis


Seperti infeksi pernapasan akut berat (severe acute
respiratory infection/SARI

Pneumonia

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS),
disertai gagal ginjal, perikarditis dan Disseminated
Intravascular Coagulation (DIC).

Pada pasien immunocompromise ditemukan gejala
awal demam dan diare.
Deteksi dan Tatalaksana Dini

Sebelum menentukan pasien suspek MERS CoV


dilakukan :

Anamnesis: demam suhu > 38 C, batuk dan sesak,
ditanyakan pula riwayat bepergian dari negara
timur tengah 14 hari sebelum onset

Pemeriksaan fisis: sesuai dengan gambaran
pneumonia

Radiologi: Foto toraks dapat ditemukan infiltrat,
konsolidasi sampai gambaran ARDS

Laboratorium: ditentukan dari pemeriksaan PCR
dari swab tenggorok dan sputum
klasifikasi

 "Kasus dalam penyelidikan"/Suspek


 Kasus Probable

 Kasus konfirmasi
Tujuan


Pedoman tatalaksana ini diperuntukkan bagi dokter
yang merawat pasien remaja dan dewasa dengan
SARI dalam keadaan kritis dan penatalaksanaan di
Intensive Care Unit (ICU) dengan sumber daya yang
terbatas

Penatalaksanaan kasus pada anak merujuk ke
tatalaksana SARI pada anak (IDAI).

Pedoman ini tidak menghilangkan kewenangan klinis
spesialistik

Alur penatalaksanaan MERS-CoV mengikuti alur
penatalaksanaan Flu Burung , merujuk pada buku
tatalaksana Flu Burung di rumah sakit.
Susunan

Bab 1
Deteksi dan tatalaksana dini pasien dengan ISPA
berat/SARI, termasuk upaya pencegahan, pengendalian
infeksi dan pengobatan.

Bab 2
Tatalaksana pasien yang mengalami perburukan gangguan
pernapasan berat dan ARDS.

Bab 3
Tatalaksana pasien yang mengalami perburukan syok septik.

Bab 4
Perawatan berkelanjutan pasien kritis serta pencegahan
komplikasi.
BAB 1: Deteksi dan Tatalaksana Dini

Sebelum menentukan pasien suspek MERS CoV dilakukan :



Anamnesis: demam suhu > 38 C, batuk dan sesak,
ditanyakan pula riwayat bepergian dari negara timur
tengah 14 hari sebelum onset

Pemeriksaan fisis: sesuai dengan gambaran pneumonia

Radiologi: Foto toraks dapat ditemukan infiltrat,
konsolidasi sampai gambaran ARDS

Laboratorium: ditentukan dari pemeriksaan PCR dari
swab tenggorok dan sputum
klasifikasi

 "Kasus dalam penyelidikan"/Suspek


 Kasus Probable

 Kasus konfirmasi
Kasus dalam penyelidikan/suspek
A. Pasien dengan ISPA) yaitu demam atau riwayat demam, batuk. DAN
pneumonia atau dengan ARDS (pasien immunocompromised mempunyai
gejala dan tanda yang tidak jelas)
DAN salah satu dari berikut :
 Riwayat perjalanan ke Timur Tengah atau Negara terjangkit dalam waktu
14 hari sebelum mulainya gejala
 DAN pneumonia yang bukan disebabkan oleh infeksi lainnya
 Penyakit muncul dalam satu klaster yang terjadi dalam waktu 14 hari,
tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali
ditemukan etiologi lain.
 Penyakit terjadi pada petugas kesehatan yang bekerja di RS/layanan
kesehatan yang merawat pasien dengan ISPA berat (SARI), terutama
pasien yang memerlukan perawatan intensif, tanpa memperhatikan tempat
tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi lain
Kasus dalam penyelidikan/suspek
B. Seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah
atau negara terjangkit dalam waktu 14 hari sebelum mulai
sakit selain ISPA (Pada pasien dengan gangguan kekebalan
tubuh kemungkinan tanda dan gejala tidak jelas)
C. Seseorang dengan penyakit pernapasan akut dengan
berbagai tingkat keparahan (ringan – berat) yang dalam
waktu 14 hari sebelum mulai sakit, memiliki riwayat kontak
erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probable infeksi
MERS-CoV yang sedang sakit

Tidak perlu menunggu hasil tes untuk patogen


lain sebelum pengujian untuk MERS CoV.
Kasus Probable
 “Pasien Dalam Investigasi”, dengan bukti klinis, radiologis, atau
histopatologis parenkim paru (pneumonia atau ARDS) tetapi
tidak ada kemungkinan untuk mendapatkan konfirmasi secara
laboratorik disebabkan pasien atau sampel yang tidak ada atau
tes yang tidak tersedia untuk memeriksa infeksi saluran
pernafasan lainnya;
 DAN kontak erat* dengan pasien terkonfirmasi secara
laboratorik;
 DAN belum dapat ditentukan jenis infeksi atau etiologi lainnya,
termasuk setelah dilakukannya semua tes dengan indikasi klinis
untuk CAP
Kasus Probable
Definisi dengan menggunakan kriteria klinis,
epidemiologis, dan laboratoris:
 Seseorang menderita demam > 38C, gejala ISPA

lainnya dengan bukti klinis /radiologis / histopatologis


Pneumonia atau ARDS yang memiliki hubungan
langsung dengan kasus konfirmasi MERS-CoV dalam
waktu 14 hari sebelum sakit.
 DAN Tidak tersedia Pemeriksaan untuk MERS-CoV atau
pada satu kali pemeriksaan spesimen yang tidak
adekuat hasilnya negatif.
Kasus Probable

 Seseorang menderita demam > 38C, gejala


ISPA lainnya dengan bukti klinis / radiologis /
histopatologis Pneumonia atau ARDS yang
melakukan perjalanan ke salah satu negara
terjangkit infeksi MERS-CoV dalam waktu 14
hari sebelum timbul sakit,
 DAN Hasil pemeriksaan laboratorium MERS-
CoV yang tidak meyakinkan (yaitu, satu
pemeriksaan skrining positif tanpa konfirmasi).
Kasus Probable
 Seseorang menderita demam > 38C, gejala
ISPA lainnya dengan berbagai derajat
keparahan yang memiliki hubungan
epidemiologis langsung dengan kasus
konfirmasi MERS-CoV
 DAN hasil pemeriksaan laboratorium MERS-

CoV yang tidak meyakinkan (yaitu, satu


pemeriksaanskrining positif tanpa konfirmasi)
Kasus konfirmasi

Seseorang menderita infeksi MERS-CoV


dengan konfirmasi laboratorium
Perjalanan penyakit
Infeksi Pernapasan akut (ISPA)
 Demam > 38 C sakit tenggorokan, batuk, sesak/napas cepat

 Kriteria napas cepat pada anak :

 Usia < 2 bulan : 60 x/menit atau lebih

 Usia 2-<12 bulan : 50x/menit atau lebih

 Usia 1 - <5 tahun : 40 x/menit atau lebih

Pneumonia berat
Pasien remaja atau dewasa dengan demam, batuk, frekuensi
pernapasan > 30 kali/ menit, gangguan pernapasan berat,
saturasi oksigen (SpO2) <90%
Perjalanan penyakit
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)

Onset: akut dalam waktu 1 minggu dari timbulnya
gejala klinis atau perburukan gejala respirasi, atau
timbul gejala baru

Gambaran radiologis (misalnya foto toraks atau CT
scan): opasitas bilateral, yang belum dapat
dibedakan apakah karena efusi, kolaps paru /
kolaps lobar atau nodul.

Edema paru: kegagalan pernafasan yang belum
diketahui penyebabnya, apakah karena gagal
jantung atau overload cairan
ARDS
Tingkat hipoksemia:

ARDS ringan : 200 mm Hg
<PaO2/FiO2 ≤ 300 mm Hg dengan
PEEP atau CPAP≥ 5 cm H2O;

ARDS sedang : 100 mm Hg
<PaO2/FiO2 ≤ 200 mm Hg dengan
PEEP ≥ 5 cm H2O

ARDS berat : PaO2/FiO2 ≤ 100 mm
Hg dengan PEEP ≥ 5 cm H2O

Ketika PaO2 tidak tersedia, rasio SpO2/FiO2 ≤ 315


menunjukkan ARDS.
Perjalanan penyakit
Sepsis
 Terbukti Infeksi atau diduga infeksi, dengan dua atau lebih kondisi berikut:
 suhu> 38 ° C atau <36 ° C,
 HR> 90/min, RR> 20/min atau
 PaCO2 <32 mm Hg,
 sel darah putih> 12 000 atau <4000/mm3 atau > 10% bentuk imatur
Sepsis berat
 Sepsis dengan disfungsi organ, hipoperfusi (asidosis laktat) atau hipotensi.
Disfungsi organ meliputi: oliguria, cedera ginjal akut, hipoksemia, transaminitis,
koagulopati, trombositopenia, perubahan kesadaran, ileus atau
hiperbilirubinemia.
Syok septik
 Sepsis yang disertai hipotensi (Sistole <90 mm ​Hg) meskipun sudah dilakukan
resusitasi cairan adekuat dan terdapat tanda hipoperfusi.
Pemeriksaan laboratorium
Bahan pemeriksaan :
 Spesimen dari saluran napas atas (hidung, nasofaring

dan/atau swab tenggorokan)



Spesimen saluran napas bagian bawah (sputum,
aspirat endotracheal, kurasan bronkoalveolar)
Tempat pemeriksaan :
Laboratorium Badan Litbangkes RI Jakarta
Ambil spesimen serial dari beberapa tempat dalam
waktu beberapa hari (setiap 2-3 hari) untuk melihat
Viral shedding
Pemeriksaan laboratorium
Jenis pemeriksaan:

Kultur mikroorganisme sputum dan darah

Pemeriksaan virus influenza A dan B
virus influenza A subtipe H1, H3, dan H5 (di negara-
negara dengan virus H5N1 ditemukan pada unggas),
RSV, virus parainfluenza, rhinoviruses, adenonviruses,
metapneumoviruses manusia, dan corona virus baru

Pemeriksaan spesimen coronavirus baru dilakukan
dengan menggunakan reverse transcriptase
polymerase chain reaction (RT-PCR)
Pemeriksaan laboratorium
Dilakukan juga:
 pemeriksaan darah untuk menilai viremia,

 swab konjungtiva jika terdapat konjungtivitis,

 urin

 tinja

 cairan serebrospinal jika dapat dikerjakan

Data selama ini menunjukkan bahwa spesimen


saluran napas bawah cenderung lebih positif
daripada spesimen saluran napas atas.
Terapi
Terapi oksigen pada pasien ISPA berat /SARI

Berikan terapi oksigen pada pasien dengan tanda depresi napas
berat, hipoksemia ( SpO2 <90%) atau syok.

Mulai terapi oksigen dengan 5 L / menit lalu titrasi sampai SpO2
≥ 90% pada orang dewasa yang tidak hamil dan SpO2 ≥ 92-
95% pada pasien hamil.

Pulse oximetri, oksigen, selang oksigen dan masker harus tersedia
di semua tempat yang merawat pasien ISPA berat/SARI .

JANGAN membatasi oksigen dengan alasan ventilatory drive terganggu.


Terapi
Berikan antibiotik empirik untuk mengobati Pneumonia
Pada pasien pneumonia komuniti (CAP) dan diduga terinfeksi
MERS CoV, dapat diberikan antibiotik secara empirik secepat
mungkin sampai tegak diagnosis, kemudian disesuaikan
berdasarkan hasil uji kepekaan.
Gunakan manajemen cairan konservatif pada pasien ISPA
berat/SARI tanpa syok
Pada pasien ISPA berat/SARI harus hati-hati dalam pemberian
cairan intravena, karena resusitasi cairan secara agresif dapat
memperburuk oksigenasi, terutama dalam situasi terdapat
keterbatasan ventilasi mekanis.
Terapi

Jangan memberikan kortikosteroid sistemik
dosis tinggi atau terapi tambahan lainnya
untuk pneumonitis virus diluar konteks uji klinis


Pemantauan secara ketat pasien dengan ISPA
berat/SARI bila terdapat tanda-tanda
perburukan klinis, seperti gagal nafas,
hipoperfusi jaringan, syok dan memerlukan
perawatan intensif (ICU)
Bab 2.
Tatalaksana Depresi Napas Berat,Hipoksemia dan ARDS

Kenali kasus yang berat  tidak cukup hanya oksigen saja


Meskipun oksigen yang diberikan sudah tinggi pasien dapat
terus mengalami work of breathing atau hipoksemia

ventilasi mekanis secara dini

Pertimbangkan NIV pada pasien imunosupresi, ARDS ringan


tanpa gangguan kesadaran atau gagal jantung
(pada fasilitas terbatas tetapi petugas terlatih untuk NIV)
pantau pasien secara ketat di ICU, jika NIV tidak berhasil
jangan menunda intubasi endotrakeal untuk ventilasi mekanik
Bab 2.
Tatalaksana Depresi Napas Berat,Hipoksemia dan ARDS


Gunakan lung protective strategy ventilation (LPV) untuk
pasien dengan ARDS

Untuk mencapai target LPV, dimungkinkan permisif
hypercapnia.

gunakan PEEP adekuat untuk mengatasi hipoksemia.

Double triggering, bentuk umum dari asynchrony, dapat diatasi dengan
meningkatkan aliran inspirasi, memperpanjang waktu inspirasi, suction
trachea, membuang air dari tabung ventilator, dan mengatasi kebocoran
sirkuit.

Tingkat kedalaman sedasi harus dipertimbangkan jika tidak dapat
mengendalikan volume tidal.

Gunakan kateter in-line untuk suction

Minimalkan transportasi.
Bab 2.
Tatalaksana Depresi Napas Berat,Hipoksemia dan ARDS


Pada pasien dengan ARDS berat, pertimbangkan terapi
ajuvan awal, terutama jika gagal mencapai target LPV

Pemberian blokade neuromuskular 48 jam pertama berhubungan dengan
peningkatan kelangsungan hidup dan peningkatan waktu bebas ventilator
tanpa menyebabkan kelemahan otot yang signifikan.

Posisi prone pada pasien dapat meningkatkan oksigenasi dan
kelangsungan hidup tetapi perlu perawatan khusus saat mengubah posisi
pasien dengan aman

Lung Recruitment Manuver dan PEEP yang tinggi dapat
meningkatkan oksigenasi dan mengurangi kebutuhan
terapi lainnya

Gunakan strategi tatalaksana cairan konservatif untuk
pasien ARDS yang tidak shock
BAB 3. Tatalaksana Syok Sepsis


Kenali syok sepsis yaitu ketika pasien mengalami hipotensi (SBP <90 mm Hg)
yang menetap setelah challenge pemberian cairan atau tanda-tanda hipoperfusi
jaringan (konsentrasi laktat darah> 4 mmol / L) dan mulai resusitasi

Berikan cairan infus kristaloid secara dini dan cepat untuk syok sepsis

Resusitasi cairan yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan pernapasan.

Jangan memberikan cairan hipotonik atau solusi berbasis starch untuk resusitasi.
Starch berhubungan dengan peningkatan insiden disfungsi dan gagal ginjal

Jangan gunakan balans cairan sebagai panduan untuk mengelola atau mengurangi
volume pemberian loading cairan.

Gunakan vasopressor ketika syok tetap berlanjut meskipun resusitasi cairan
telah diberikan secara adekuat
Pemberian vasopresor diberikan pada dosis minimum yang diperlukan untuk
mempertahankan perfusi (SBP> 90 mm Hg) guna mencegah efek samping.
Pertimbangkan pemberian hidrokortison intravena (sampai 200 mg / hari) atau
prednisolon (sampai 75 mg / hari) pada pasien dengan syok persisten
BAB 4. Pencegahan Komplikasi

Antisipasi Tindakan
Dampak
Mengurangi hari •Protokol penyapihan meliputi penilaian
penggunaan harian kesiapan bernapas spontan
ventilasi mekanis •Protokol Sedasi untuk titrasi pemberian
invasif (IMV) obat penenang pada target tertentu,
dengan atau tanpa interupsi harian
infus obat penenang
BAB 4. Pencegahan Komplikasi

Antisipasi Tindakan
Dampak
Mengurangi •Intubasi oral adalah lebih baik daripada intubasi
kejadian nasal
ventilator- •Lakukan perawatan antiseptik oral secara teratur
associated •Jaga pasien dalam posisi semi-telentang
pneumonia •Gunakan sistem penyedotan tertutup, kuras dan
buang kondensat dalam pipa secara periodik
•Gunakan sirkuit ventilator baru untuk setiap pasien,
ganti sirkuit jika kotor atau rusak
•Ganti alat heat moisture exchanger jika tidak
berfungsi, ketika kotor atau setiap 5-7 hari
•kurangi hari IMV
BAB 4. Pencegahan Komplikasi

Antisipasi Tindakan
Dampak
Mengurangi kejadian Gunakan obat profilaksis (heparin 5000 unit subkutan
tromboemboli vena dua kali sehari) pada pasien tanpa kontraindikasi.
Pasien dengan kontraindikasi, gunakan perangkat
profilaksis mekanik seperti intermiten pneumatic
compression device.

Mengurangi kejadian Gunakan checklist sederhana selama pemasangan


infeksi terkait kateter kateter IV sebagai pengingat dari setiap langkah
aliran darah yang diperlukan untuk pemasangan yang steril dan
pengingat harian untuk melepas kateter jika tidak
diperlukan
BAB 4. Pencegahan Komplikasi

Antisipasi Dampak Tindakan

Mengurangi kejadian Rubah posisi pasien setiap dua jam


ulkus karena tekanan
Mengurangi kejadian Berikan nutrisi enteral dini (dalam
stres ulcer dan waktu 24-48 jam pertama), berikan
pendarahan lambung histamin-2 receptor blocker atau
proton-pump inhibitors
Mengurangi kejadian Mobilisasi dini
kelemahan terkait ICU
Penatalalaksanaan awal
 Datang ke RS ddiperlukan
 Pengobatan simptomatis bila:
 Istirahat sebanyak mungkin - Kesulitan bernapas, napas
pendek
 Banyak minum
nyeri dada atau abdomen
 Hindari menyentuh hidung,
mata, telinga, untuk - Kebingungan mendadak

mengurangi penyebaran - Palpitasi


penyakit - Muntah munt

 Tetap di rumah untuk


menghindari penularan
Penatalalaksanaan awal
Tatalaksana MERS CoV asimtomatif
Identifikasi  semua kasus kontak MERS CoV terutama HCW,dan
pasien ranap kontak
 20% confirmed cases
Isolasi dan follow up
Isolasi di rumah atau RS
Isolasi di rumah TIDAK dilakukan pada kondisi
 terdapat faktor risiko menjadi berat (komorbid, umur)

 kondisi lingkungan dan sosial tidak memadai

 Memiliki anggota keluarga berisiko MERS CoV berat

Isolasi dilakukan sampai 2x berurutan tes negative (swab


tenggorok)diambil dalam 24 jam setelah terdiagnosis
WHO/MERS/IPC/15.2
Manajemen MERS CoV untuk Haji
di Saudi Arabia

http://www.moh.gov.sa/en/CCC/StaffRegulations/Corona/Documents/IPC%20Guidelines%20for%20MERS-
coV%20Infection.pdf
http://www.moh.gov.sa/en/CCC/StaffRegulations/Corona/Documents/IPC%20Guidelines%20for%20MERS-coV%20Infection.pdf
http://www.moh.gov.sa/en/CCC/StaffRegulations/Corona/Documents/IPC%20Guidelines%20for%20MERS-coV%20Infection.pdf
Pencegahan dan pengendalian infeksi


sama dengan pencegahan infeksi pada
penyakit flu burung dan Emerging
Infectious Disease lain yang mengenai
saluran napas
(Buku pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas

kesehatan lainnya : Kementerian kesehatan RI)


Pencegahan dan pengendalian infeksi

pencegahan transmisi droplet.

pencegahan standar pada setiap pasien yang diketahui atau
dicurigai memiliki infeksi pernafasan akut, termasuk pasien dengan
dicurigai, probable atau terkonfirmasi MERS-CoV

dimulai dari triase pada pasien dengan gejala infeksi pernapasan
akut yang disertai demam.

Pengaturan ruangan dan pemisahan tempat tidur minimal 1 meter
antara setiap pasien yang tidak menggunakan APD.

Pastikan triase dan ruang tunggu berventilasi cukup.

Terapkan etika batuk.

pencegahan airborne digunakan untuk prosedur yang menimbulkan
penularan aerosol (intubasi trakea, pemasangan ventilasi non-invasif,
tracheostomi dan bantuan ventilasi dengan ambu bag sebelum intubasi)
Kewaspadaan standar

Kebersihan tangan dan penggunaan alat pelindung diri
(APD) untuk menghindari kontak langsung dengan
darah pasien, cairan tubuh, sekret (termasuk sekret
pernapasan) dan kulit lecet atau luka.

Kontak dekat dengan pasien yang mengalami gejala
pernapasan (misalnya batuk atau bersin) pada saat
memberikan pelayanan, gunakan pelindung mata
karena semprotan sekresi dapat mengenai mata.

pencegahan jarum suntik atau cedera benda tajam,
 pengelolaan limbah yang aman; pembersihan dan
disinfeksi peralatan serta pembersihan lingkungan
Pencegahan droplet

Gunakan masker bedah bila bekerja dalam radius 1
meter dari pasien.

Tempatkan pasien dalam kamar tunggal, atau
berkelompok dengan diagnosis penyebab penyakit
yang sama.

Jika diagnosis penyebab penyakit tidak mungkin
diketahui, kelompokkan pasien dengan diagnosis klinis
yang sama dan berbasis faktor risiko epidemiologi
yang sama dengan pemisahan minimal 1 meter.
 Batasi gerakan pasien dan pastikan bahwa pasien
memakai masker medis saat berada di luar kamar.
Pencegahan airborne

Pastikan bahwa petugas kesehatan menggunakan
APD (sarung tangan, baju lengan panjang,
pelindung mata, dan respirator partikulat (N95
atau yang setara)) ketika melakukan prosedur
tindakan yang dapat menimbulkan aerosol.
 Bila mungkin, gunakan satu kamar berventilasi
adekuat ketika melakukan prosedur yang
menimbulkan aerosol.
catatan
 Dari data kasus konfirmasi yang dilaporkan ke
WHO terdapat penularan pada petugas
kesehatan yang merawat kasus MERS CoV,
petugas kesehatan merupakan salah satu orang
yang rentan terhadap penularan MERS CoV.
Diperlukan pengawasan petugas kesehatan yang
merawat pasien suspek MERS CoV apabila
mengalami gejala dalam kurun waktu 14 hari
setelah merawat pasien MERS CoV agar
diperlakukan seperti suspek MERS CoV
Pencegahan infeksi

Regulasi Kemenkes KSA


 2013  vaksinasi yellow fever (Africa, Amerika latin)
,meningitis, polio.
 Profilaksis ciprofloxacin untuk karier Neisseria meningitides

jamaah asal negara2 endemik


 Vaksin untuk seasonal influenza, terutama pada (klp berisiko

(hamil, balita dan lansia, HIV/AIDS, asthma, CHF dan PPOK)


 Vaksin pneumokokus terutama pada kelompok berisiko

 MERS-CoV, menunda keberangkatan orang berisiko (>65 th,


www.thelancet.com Vol 383 June 14, 2014

DM,penyakit jantung, CKD, PPOK, autoimun, end stage, anak <


12 tahun
PencegahanInfeksi
Pengendalian infeksi

 Cuci tangan dengan baik dengan baik sesering


mungkin dan gunakan sabun
 Hindari dari orang sakit
 Makanan yang sehat
 Jaga dari penyakit lain , seperti asma
 Stop merokok
 Tutup mulut ketika tisu dan oran saat batuk atau bersin
dan segera dibuang
 Hindari pajanan dengan hewan yang bisa jadi
reservoir
Pengendalian infeksi
Terima
kasih
•WHO statement on the tenth meeting of the IHR Emergency Committee regarding MERS

•More
3 September information 2015about IHR
•Epidemic
•WHO callsclinical for stepping management up vigil (ECM) for MERS, Thailand confirms case
Sign up for WHO updates
•Global
18 JuneAlert 2015and response (GAR)
•Food
•WHO safety statement and on zoonoses
the ninth meeting of the IHR Emergency Committee regarding MERS
•WHO
17 Junedefinitions 2015 of emergencies
•WHO definitions
recommends of grades
continuation in emergencyof strong disease control measures to bring MERS-CoV
•Emergencies
13 June 2015
•Middle
•Joint mission East respiratory
to Republic syndrome
of Korea coronaviruson MERS-CoV (MERS-CoV)
begins well
10 June 2015
Sitemap

•Archive of news
•Home

•Health
Multimedia topics
•MERS-CoV: infographic
•Data
Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV)
jpg,East 321kb
•Media
Middle respiratory syndrome (MERS) is a viral respiratory disease caused by a novel coronavirus (MERS‐CoV) that was first identified in Saudi Arabia in 2012. Our understanding of the virus
and the disease itcentre
causes is continuing to evolve.
•MERS-CoV: videos and posters specific to Middle Eastern settings
•Publications
Coronaviruses are a large family of viruses that can cause diseases ranging from the common cold to Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
•Press
•Read briefings
the factsheet on MERS-CoV
•Countries
•Frequently
•Programmes Asked Questions on Middle East respiratory syndrome coronavirus
and projects
(MERS‐CoV)
•Governance
EPA/A.
•About WHO Hofford
Latest maps
Help and and epicurves
Services
Global map of countries with confirmed cases of MERS-CoV
•Contacts

•FAQs
Epicurve of confirmed global cases of MERS-CoV
•Employment
•Feedback
To download maps and charts right click on the links above and select the ‘save’ or ‘downlo
•Privacy
•Archive of maps, epicurves and case numbers
•E-mail scams

Beri Nilai