Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

MANAJEMEN FARMASI DI PUSKESMAS

Disusun Oleh:

Kelompok 3

Kriscika Gusfani F.16.060


Muhammad Maulana F.16.061
Mahdiaty F.16.062
Misbahul Jannah F.16.063
Muhammad Rizky Rais F.16.064
Nadimah Firza F.16.065
Noorjannah F.16.066
Novia Henjani F.16.067

PROGRAM STUDI FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA

BANJARMASIN

2018
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 3
1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 3
1.2. Tujuan ......................................................................................................... 4
BAB II ISI .............................................................................................................. 5
2.1. Perencanaan.................................................................................................. 5
2.2. Pengadaan .................................................................................................... 6
2.3. Penerimaan ................................................................................................... 9
2.4. Penyimpanan .................................................................................................9
2.5. Pendistribusian ............................................................................................10
2.6. Pengendalian ..............................................................................................10
2.7. Pencatatan & Pelaporan ..............................................................................10
2.8. Evaluasi .......................................................................................................11
BAB III PENUTUP ..............................................................................................13
3.1. Kesimpulan .................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional. Untuk mencapai tujuan pembanguan nasional
yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat harus
diselenggarakan upaya-upaya yang bersifat menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan. Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua
pihak, tidak hanya oleh keluarga, kelompok dan bahkan oleh masyarakat.
Salah satu upaya pemerintah dalam mewujudkan hal tersebut yaitu
membentuk Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS).
Puskesmas merupakan unit organisasi pelayanan kesehatan
terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal
di suatu wilayah kerja tertentu. Puskesmas sebagai salah satu organisasi
fungsional pusat pengembangan masyarakat yang memberikan pelayanan
promotif (peningkatan), preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan),
rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Salah satu upaya pemulihan kesehatan
yang dilakukan melalui kegiatan pokok Puskesmas adalah pengobatan.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan terutama pengobatan di
Puskesmas maka obat-obatan merupakan unsur yang sangat penting.
Untuk itu pembangunan di bidang perobatan sangat penting pula.
Pengelolaan obat di Puskesmas merupakan salah satu aspek
penting dari Puskesmas karena ketidakefisienan akan memberikan dampak
negatif terhadap biaya operasional Puskesmas, karena bahan logistik obat
merupakan salah satu tempat kebocoran anggaran, sedangkan ketersediaan
obat setiap saat menjadi tuntutan pelayanan kesehatan maka pengelolaan
yang efesien sangat menentukan keberhasilan manajemen Rumah Sakit
secara keseluruhan.

3
1.2 Tujuan
a. Mengetahui bagaimana terlaksananya optimalisasi penggunaan obat
melalui peningkatan efektifitas dan efesiensi pengelolaan obat dan
penggunaan obat secara tepat dan rasional, kurat dan tidak rasional.
b. Mengetahui bagaimana tersedianya obat setiap saat dibutuhkan baik
mengenai jenis, jumlah maupun kualitas secara efesien
c. Menelaah dan memahami bagaimana proses perencanaan kebutuhan,
pengadaan/permintaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian,
pengendalian, pencatatan, pelaporan, pengarsipan dan pemantauan
serta evaluasi pengelolaan.

4
BAB II
ISI
Menurut Permenkes No. 30 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas Pasal 1 Ayat 1, Pusat Kesehatan Masyarakat yang
selanjutnya disingkat Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatu wilayah kerja. Dalam rangka memenuhi tuntutan pelayanan
kesehatan, Puskesmas harus mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas di
semua bidang pelayanannya, dan salah satu sistem yang mampu mengelola hal
tersebut adalah dengan sistem manajemen farmasi. Adapun sistem kefarmasian di
Puskesmas berdasarkan Permenkes No. 30 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas Pasal 3 Ayat 1 yaitu Pengelolaan Obat dan Bahan
Medis Habis Pakai meliputi: perencanaan kebutuhan, pengadaan/permintaan,
penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan, pelaporan,
pengarsipan dan pemantauan serta evaluasi pengelolaan.

2.1 Perencanaan
Perencanaan adalah suatu proses seleksi obat dan memerlukan jumlah obat
dalam rangka pengadaan. Tujuan perencanaan dalam mendapatkan jenis dan
jumlah obat yang tepat sesuai dengan kebutuhan, menghindari kekosongan
obat dan meningkatkan penggunaan obat. Perencanaan dilakukan secara
terpadu berdasarkan pada jumlah kebutuhan selama 1 tahun, tidak hanya dari
daftar esensial, tapi juga berdasarkan rasionalisasi (kenyataan). Pada dasarnya
perencanaan dibuat untuk tahun anggaran berikutnya untuk menunjang
kegiatan pelayanan yang dilaksanakan tiap hari maka pada setiap awal bulan
disusun rencana kebutuhan obat, alat kesehatan, bahan gigi dan reagensia
yang didasarkan atas penerimaan dan penggunaan obat bulan lalu yang
mencakup ; jumlah obat yang diterima, jumlah obat yang digunakan, sisa obat
pada akhir bulan, jumlah kunjungan, pola penyakit, serta adanya upaya
kesehatan di Puskesmas melalui kegiatan pokok yang akan dilaksanakan
bulan tersebut. Adapun perencanaan menggunakan 2 metode, yaitu :
a. Metode Konsumsi: Metode ini berdasarkan pada jumlah kebutuhan
penggunaan obat selama 1 tahun.

5
b. Metode Epidemiologi: Metode ini berdasarkan pada jenis penyakit
dan jumlah penderita yang dialami masyarakat pada tahun tersebut.

Adapun fungsi seleksi/pemilihan obat adalah untuk menentukan


apakah obat benar-benar diperlukan sesuai dengan jumlah penduduk dan
pola penyakit di daerah. Untuk mendapatkan pengadaan obat yang baik,
sebaiknya diawali dengan dasar-dasar seleksi obat yaitu meliputi :

a. Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik yang


memberikan efek terapi jauh lebih baik dibandingkan resiko efek
samping yang akan ditimbulkan.
b. Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin dengan cara menghindari
duplikasi dan kesamaan jenis.
c. Jika ada obat baru harus ada bukti yang spesifik untuk efek terapi
yang lebih baik.
d. Hindari penggunaan kombinasi, kecuali jika obat kombinasi
mempunyai efek yang lebih baik dibanding obat tunggal.
e. Apabila jenis obat banyak, maka kita memilih berdasarkan obat
pilihan (drug of choice) dari penyakit yang prevalensinya tinggi
(Mangindara dkk, 2012).

2.2 Pengadaan
Merupakan suatu proses untuk pengadaan obat yang dibutuhkan.
Tujuannya adalah tersedianya obat dengan jenis dan jumlah yang tepat
dengan mutu tinggi dan dapat diperoleh pada waktu tepat. Untuk menjamin
kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi harus
melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan atau jalur
yang telah ditentukan oleh Dinas Kesehatan Kota tertentu.
Pengadaan/permintaan obat di Puskesmas dilakukan untuk memperoleh jenis
dan jumlah obat, obat dengan mutu yang tinggi, menjamin tersedianya obat
dengan cepat dan tepat waktu. Oleh karena itu, pengadaan/permintaan obat
harus memperhatikan dan mempertimbangkan bahwa obat yang

6
diminta/diadakan sesuai dengan jenis dan jumlah obat yang telah
direncanakan.
Pengadaan ini dilaksanakan dengan disertai Laporan Pemakaian dan
Lembar Permintaan Obat (LPLPO) serta ditandatangani oleh pengelola obat
di Puskesmas dan diketahui oleh pemimpin Puskesmas. Pengadaan ini juga
meliputi persediaan obat untuk Puskesmas pembantu dan unit pelayanan
kesehatan lainnya. Pengadaan/permintaan obat di Puskesmas dilakukan
melalui Dinas Kesehatan Kota dan GFK (Gudang Farmasi Kota) dengan
mengajukan LPLPO (Lembar Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat).
Kegiatan permintaan dari Puskesmas ke GFK dapat dilakukan sebagai
berikut:
a. Permintaan rutin, yaitu permintaan yang dilakukan sesuai dengan
jadwal yang disepakati oleh Dinas Kesehatan dan masing-masing
Puskesmas.
b. Permintaan khusus yaitu permintaan yang dilakukan diluar jadwal
yang telah disepakati apabila terjadi peningkatan yang menyebabkan
kekosongan obat dan penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) serta
obat rusak.

Berikut cara menghitung kebutuhan obat :

Jumlah untuk periode yang akan datang diperkirakan sama dengan


pemakaian pada periode sebelumnya.

SO = SK + SWK + SWT + SP

Sedangkan untuk menghitung permintaan obat dapat dilakukan


dengan rumus :

SO– –SSSS
Permintaan= =SO
Permintaan

Keterangan :

SO = Stok optimum
SK = Stok kerja (stok pada periode berjalan)
SWK = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu kekosongan obat

7
SWT = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu tunggu (lead time)
SP = Stok penyangga
SS = Sisa stok

Stok kerja Pemakaian rata-rata per periode distribusi


Waktu kekosongan Lamanya kekosongan obat dihitung dalam hari
Waktu tunggu Waktu tunggu, dihitung mulai dari permintaan obat oleh
Puskesmas sampai dengan penerimaan obat di Puskesmas
Stok penyangga Persediaan obat untuk mengantisipasi terjadinya
peningkatan kunjungan, keterlambatan kedatangan obat.
Besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan antara
Puskesmas dan Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota
Sisa stok Sisa obat yang masih tersedia di Puskesmas pada akhir
periode distribusi
Stok optimum Stok ideal yang harus tersedia dalam waktu periode tertentu

Kegiatan utama dalam permintaan dalam pengadaan obat baik di Rumah Sakit
maupun Puskesmas antara lain berupa :

a. Menyusun daftar permintaan obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan


b. Mengajukan permintaan kebutuhan obat kepada Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten dan GFK dengan menggunakan LPLPO.
c. Penerimaaan dan pengecekan jenis dan jumlah obat.

Adapun fungsi daftar permintaan tersebut adalah :

a. Menghindari gejala penyimpanan pengelolaan obat dari yang seharusnya


b. Optimasi pengelolaan persediaan obat melalui prosedur
pengadaan/permintaan yang baik
c. Indikator untuk memilih ketepatan pengelolaan obat di Puskemas (Djuna,
2014).

8
2.3 Penerimaan
Merupakan suatu proses dalam menerima obat-obatan dari instansi farmasi
setiap satu bulan sekali berdasarkan permintaan yang didalamnya tersusun
jenis dan jumlah obat. Tujuannya adalah agar obat yang diterima baik jenis
dalam jumlahnya sesuai dengan dokumen yang menyertainya. Penerimaan
obat disesuaikan dengan adanya dokumen dan diperiksa kelengkapannya.
Kelengkapan dokumen meliputi ; nama produsen, penandaan, waktu
kadaluarsa, nomor batch, bentuk sediaan dan jumlah. Penerimaan adalah
suatu kegiatan dalam menerima obat-obatan yang diserahkan dari unit
pengelola yang lebih tinggi kepada unit pengelola dibawahnya yang
selanjutnya digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Saat penerimaan, petugas dari Puskesmas berkewajiban melaksanakan
pengecekan terhadap semua obat yang diserahkan, apakah sesuai dengan
daftar penyerahan dan memeriksa keadaan fisik obat serta persyaratan lain
untuk penerimaan obat. Penerimaan obat dapat berasal dari APBD Kota,
ASKES, Program, sumber lain.

2.4 Penyimpanan
Suatu proses pengamanan dengan menempatkan obat-obatan yang
diterima pada tempat-tempat yang dinilai aman. Tujuannya adalah untuk
memelihara mutu obat, menghindari penggunaan obat yang tidak
bertanggung jawab, menjaga kelangsungan persediaan dan memudahkan
pencarian. Semua obat atau bahan obat harus disimpan pada kondisi yang
sesuai sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya, sistem penyimpanan
dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan dan kelas terapi obat serta
disusun secara alfabetis, pengeluaran obat memakai sistem FEFO (First
Expired First Out) dan FIFO (First In First Out). Setiap item obat dilengkapi
dengan kartu stock. Setiap penerimaan dan pengeluaran jenis obat di gudang
penyimpanan harus dicatat dalam kartu tersebut.
Obat atau bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam
hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka
harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas

9
pada wadah baru. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor
batch, dan tanggal kadaluarsa.

2.5 Pendistribusian
Suatu rangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan penerimaan obat
dari gudang obat kepada Puskesmas pembantu (Pustu), Puskesmas keliling
(Pusling), posyandu dan pasien. Tujuannya adalah tercapainya penyebaran
obat secara merata dan teratur yang dapat diperoleh pada saat dibutuhkan
serta terjaminnya mutu dan keabsahan obat, ketepatan dan kerasionalan,
efisiensi penggunaan obat.

2.6 Pengendalian
Untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan sesuai kebutuhan
pelayanan, melalui, pengaturan sistem pesanan atau pengadaan, penyimpanan
dan pengeluaran. Berdasarkan UU No.35 Tahun 2014, hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan,
kadaluarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan
dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan cara manual maupun
elektronik. Kartu stok sekurang-kurangnya memuat nama obat, tanggal
kadaluarsa, jumlah pemasokan, jumlah pengeluaran dan sisa persediaan.

2.7 Pencatatan & Pelaporan


a. Pencatatan
Proses kegiatan membuat catatan secara tertib dalam rangka
melakukan penatausahaan obat-obatan baik yang diterima, disimpan,
didistribusikan maupun yang digunakan di Puskesmas. Adapun maksud
dan tujuan dari pencatatan dan pelaporan adalah :
1) Selalu dapat dijaga keadaan obat-obatan di Puskesmas
2) Keadaan obat-obatan disemua sub unit di Puskesmas dapat
dimonitor
3) Dapat memperoleh informasi mengenai penyelenggaraan obat-
obatan di Puskesmas

10
Penyelenggaraan pencatatan meliputi pencatatan obat di
Puskesmas atau unit dan pencatatan di sub unit. Pencatatan dilakukan pada
kamar suntik, kamar obat, laboratorium, Puskesmas pembantu, Puskesmas
keliling. Pencatatan obat dilakukan terhadap permintaan obat-obatan yang
diajukan kepada Dinas Kesehatan Kota, penyertaan obat-obatan dari Dinas
Kesehatan Kota,penyimpanan di gudang Puskesmas, dan pendistribusian
kepada subunit atas permintaan yang diajukan oleh subunit tersebut.

b. Pelaporan
Proses kegiatan membuat dan mengirimkan pelaporan mengenai
penyelenggaraan obat yaitu tentang penerimaan dan penggunaannya.
Tujuannya agar instansi atasan dapat menerima informasi tentang
penyelenggaraan obat di unit bawahannya sehingga dapat mengambil
langkah kebijaksanaan. Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan
pelaporan eksternal . pelaporan internal merupakan pelaporan yang
digunakan untuk kebutuhan manajemen apotek meliputi keuangan, barang
dan laoran lainnya. Sedangkan pelaporan eksternal merupakan pelaporan
yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan peraturan
perundang-undangan UU No. 35 Tahun 2014 meliputi pelaporan
narkotika, psikotropika dan pelaporan lainnya.

2.8 Evaluasi
Serangkaian prosedur untuk menilai suatu program dan memperoleh
informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, kegiatan, hasil dan
dampak serta biayanya. Fokus utama dari evaluasi adalah mencapai
perkiraan yang sistematis dari dampak program. Tujuan dari evaluasi
sebagai berikut:
a. Menetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang
sedang berjalan dan mencari solusinya.
b. Memprediksi kegunaan dari pengembangan program dan
memperbaikinya.
c. Mengukur kegunaan program-program yang inovatif.
d. Meningkatkan efektifitas program, manajemen dan administrasi.

11
e. Mengetahui kesesuaian antara sasaran yang diinginkan dengan
hasil yang dicapai.
Kegiatan Ada empat jenis evaluasi yang dibedakan atas interaksi
dinamis diantara lingkungan program dan waktu evaluasi yaitu :
a. Evaluasi formatif yang dilakukan selama berlangsungnya kegiatan
program. Evaluasi ini bertujuan untuk melihat dimensi kegiatan
program yang melengkapi informasi untuk perbaikan program.
b. Evaluasi sumatif yang dilakukan pada akhir program. Evaluasi ini
perlu untuk menetapkan ikhtisar program, termasuk informasi
outcome, keberhasilan dan kegagalan program.
c. Evaluasi penelitian adalah suatu proses penelitian kegiatan yang
sebenarnya dari suatu program, agar diketemukan hal-hal yang
tidak tampak dalam pelaksanaan program.
d. Evaluasi presumtif yang didasarkan pada tendensi yang
menganggap bahwa jika kegiatan tertentu dilakukan oleh orang
tertentu yang diputuskan dengan pertimbangan yang tepat, dan jika
bertambahnya anggaran sesuai dengan perkiraan, maka program
dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan.

Masalah dalam Evaluasi Ada tiga area kritis dalam statistik


evaluasi yaitu :

a. Pemilihan indikator
b. Realibilitas
c. Validitas

12
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Salah satu hal penting dalam pelayanan kesehatan adalah
pengelolaan dan pembiayaan obat. Pengelolaan obat merupakan suatu
rangkaian kegiatan yang menyangkut aspek perencanaan, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan
pelaporan obat serta evaluasi yang dikelola secara optimal untuk
menjamin tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan farmasi,
dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia seperti tenaga, dana,
sarana dan perangkat lunak (metode dan tatalaksana) dalam upaya
mencapai tujuan yang ditetapkan diberbagai tingkat unit kerja. Sehingga
dapat mengetahui terlaksananya optimalisasi penggunaan obat melalui
peningkatan efektifitas dan efesiensi pengelolaan obat dan penggunaan
obat secara tepat dan rasional, kurat dan tidak rasional. Tersedianya obat
setiap saat dibutuhkan baik mengenai jenis, jumlah maupun kualitas secara
efesien.

13
DAFTAR PUSTAKA

Djuna, Arifin, Darmawansyah, 2014. Studi Manajemen Pengelolaan Obat Di


Puskesmas Labakkang Kabupaten Pangkep, Skripsi. Bagian Administrasi dan
Kebijakan Kesehatan FKM UNHAS, Makassar.

JICA dan Kemenkes RI. 2010, Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian di


Puskesmas. Jakarta : Direktorat Bina Obat Publik Dan Perbekalan Kesehatan,
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Mangindara, Darmawansyah, Nurhayani, Balqis, 2012, Analisis Pengelolaan


Obat di Puskesmas Kampala Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai
Tahun 2011, Jurnal AKK, Vol 1 No 1, hal 1-55

Republik Indonesia, M.K., 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian
Di Puskesmas.

14