Anda di halaman 1dari 48

ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR

24-03-1921 Lahir di Lanipa, tanggal 24 Maret 1921 JKM 3, AGG 97


Nama ayah : Malinrang lebih deikenal dengan sebutan Bung Tua
Nama Ibu : Kaisang
th 1934 Tammat S.R. di Lanipa, melanjutkan pendidikan di Palopo
th 1938 Tammat Standard School, Muhammadiyah di Palopo (setingkat SLTP) JKM 20
Berangkat ke Makassar untuk ke Jawa melanjutkan pendidikan
Dari Makassar naik kapal laut ke Surabaya, dan dari Surabaya naik kereta ke Solo.
Tahun 1938 itu juga Kahar mendaftar dan diterima di Kwee School milik organisasi
Muhammadiyah di Solo (setingkat SLTA atau Muallimin). Kahar menimbah ilmu disini
selama kurang lebih 3 tahun (1938-1941). Namun, ia tidak dapat menyelesaikan
pelajarannya sampai tamat karena ia terpikat pada seorang gadis Solo bernama Warlina
yang kemudian diperisterinya. AGG 98,
Th 1941 Kahar Mudzakkar kembali ke Sulawesi memboyong isteri yang sedang hamil pertama. Tiba
di Luwu Kahar dan isterinya langsung ke Lanipa. AGG 98, JKM 26
Mereka tidak lama di Lanipa. Jiwa dan semangat Kahar Mudzakkar yang selalu ingin
pergerakan membuat mereka kemudian menetap di Palopo. Pengalamannya di Solo telah
mengilhami dirinya untuk ikut gerakan kepanduan Hizbul Wathan bersama pemuda
Muhammadiyah di Palopo. JKM 27
Fabr 1942 Tentara Jepang mendarat di Makassar. Berita itu diperoleh Kahar di Palopo dari seorang
pemuda yang baru kembali dari Makassar, namanya Mansyur. JKM 29
Kahar Mudzakkar bermaksud menemui tentara Jepang itu. Ia berangkat naik sepeda
menyongsong ke arah Makassar
Di Rappang, Kahar berhasil menemui komandan tentara Jepang yang bermaskar di kota
itu. Kahar menyampaikan kesediaannya kepada untuk membantu Dai Nippon mengusir
Belanda dari Celebes, Kahar bersama barisan pemuda yang dipimpinnya mempersiapkan
kedatangan tentara Jepang di Palopo. JKM 33
Tiga hari kemudian tentara Jepang tiba di Palopo, disambut oleh para pemuda dibawah
pimpinan Kahar.Mudzakkar.

Kahar Mudzakkar kemudian diterima sebagai pegawai di perusahaan Jepang "Nippon


Dohopu".di Makassar. Sebagai pegawai kantor yang diciptakan Jepang, Ia memungkinkan
sering bepergian pulang pergi ke Palopo dan Makassar. AGG 98 dan JKM 34
Kahar mulai memperlihatkan sikap kurang simpatik kepada tentara Jepang. Jangan mau
diperalat tentara Jepang, Ia tidak beda dengan Belanda, penjajah! Kata Kahar kepada
rekan-rekan pemuda lainnya. JMK 36
Malahan Kahar mulai jengkel melihat semakin mesrahnya hubungan antara tentara Jepang
dengan Pemerintah Kerajaan Luwu. Ia melihat Pemerintahan Kerajaan Luwu telah diperalat
untuk melanggengkan kekuasaan Jepang di wilayah Luwu. Karena kejengkelan Kahar
mulai mengungkit-ungkit sistem strata sosial yang ada di Wilayah Luwu. JKM 36
Harada, komandan tentara Jepang di Palopo melihat sikap Kahar ini sebagai sikap
berbahaya, dapat mempengaruhi pemuda lainnya mengikutinya. Herada mencari alasan
untuk mengeluarkan Kahar dari tempatnya bekerja. Ia dituduh macam-macam yang
merugikan tentara Jepang sehingga dikeluarkan dari pekerjaandi Nippon Dohopo, dan
sempat ditangkap beberapa saat kemudian dilepas. JKM 37
Mei 1943 Kahar Mudzakkar Ripaoppangitana. Dia kembali ke Solo bersama isteri dan seorang
anaknya.JKM 38-40 dan AGG 98
Terdapat sedikitnya dua informasi yang berlainan tentang penyebab dijatuhkannya
hukuman adat ripaoppangi tana terhadap diri Abdul Qahhar Mudzakkar. Yaitu :
- Mattulada. "Kahar Muzakkar Profil Patriot Pemberontak", halaman 177 menyebutkan
karena Qahhar Mudzakkar dituduh "membuat permusuhan-permusuhan dikalangan kaum
bangsawan di Luwu, tingkah lakunya yang amat mencerca sesunan masyarakat Luwu yang
feodalistik.

- Sanusi Dg Mattata. "Luwu dalam Revolusi" halaman 105-106, mengatakan bahwa


hukuman itu dijatuhkan karena desakan pimpinan tentara pendudukan Jepang di Kota
Palopo yang bernama Harada. Pimpinan pasukan Jepang ini kelihatannya memang tidak
senang terhadap Abdul Qahhar Mudzakkar yang dianggap mempunyai pengaruh
dikalangan pemuda di Luwu, sebagai pemimpin pandu Hizbul Wathan. Karena itu ia
mencari cara untuk menjebak Abdul Qahhar Mudzakkar sehingga dapat ditangkap. Abdul
Qahhar Mudzakkar dituduh mencuri emas dari perusahaan tempat ia bekerja yang
disimpan disuatu tempat. Dengan demikian ketika barang itu hilang, maka Harada segera
menjatuhkan tuduhannya kepada diri Abdul Qahhar Mudzakkar sebagai pencurinya. AGG
117 & 217
Mei 1943 Pada Bulan Mei 1943 itu juga Kahar Mudzakkar bersama isteri dan seorang anaknya
meninggalkan wilayah kerajaan Luwu menuju Makassar, kemudian dengan kapal laut
melanjutkan ke Jawa kembali ke kampung isterinya di Solo. JKM 40

Jenderal A.H.Nasution, dalam bukunya MEMENUHI PANGGILAN TUGAS, jilid 2, hal 240 menulis :
Letnan Kolonel Kahar Mudzakkar telah berkali-kali meminta ke Staf Angkatan Darat agar ia dikirim ke
Sulawesi, apalagi dalam pemberontakan Andi Azis itu. Setelah kita menguasai keadaan, maka Kepala
Staf Teritorial, Kolonel Bambang Supeno menyarankan ikut sertanya pamen ini ke Makassar. Saya
setujui dan jadilah "hilang" ia di sana, dilaporkan ke Staf Angkatan Darat "diculik". Cukup sengit
perdebatan kita kemudian di staf mengenai kejadian yang amat disesalkan ini. NAS 2.240
05-04-1950 Kapal Waikelo dan Kapal Bontekoe terlihat berhenti diluar pelabuhan Makassar. Kedua
kapal itu mengangkut pasukan Batalyon Worang. Andi Azis minta membatalkan rencana
pendaratan Batalyon Worang dan kembali ke Jawa. JKM 92
09-04-1950 Kahar Mudzakkar dan J.F.Warouw tiba di Makassar bersama Kolonel Bambang Supeno
yang mendapat mandat dari Kasad Kolonel H.A.Nasution untuk menyelesaikan masalah
Andi Azis yang sudah dianggap melakukan perlawanan kepada Pemerintah Pusat karena
melarang Batalyon Worang mendarat di Makassar.JKM 93-95
Kahar Mudzakkar dan J.F.Warouw tiba di Makassar bersama Kolonel Bambang Supeno
yang mendapat mandat dari Kasad Kolonel H.A.Nasution untuk menyelesaikan masalah
Andi Azis yang sudah dianggap melakukan perlawanan kepada Pemerintah Pusat karena
melarang Batalyon Worang mendarat di Makassar.JKM 93-95
Perundingan dengan Andi Azis tidak mencapai kesepakatan. A.H Nasution mengutus
Kapten M.Jusuf membawa Surat pembatalan Mandat Bambang Supeno dkk.Kahar
Mudzakkar kecewa. JKM 98
18-04-1950 Balyon Worang mendarat di Pantai Jeneponto setelah mendapat jaminan dari KGSS
23-04-1950 Brigade Mataram yang dipimpin Letkol Suharto mendarat di Makassar.JKM 99
22-06-1950 Kahar Mudzakkar dengan ditemani Kolonel Mursito (Wakil Bambang Supeno) mendarat di
Makassar, langsung menghadap Panglima Komando TT VII Wirabuana, Kolonel Alex
Kawilarang.menyampaikan bahwa saya kata Kahar datang hanya ingin menjelaskan
kepada KGSS kalau saya bukan lagi komandan mereka. (JKM 103-104)
Kahar Mudzakkar dan Kolonel Mursito bersama Lettu Saleh Syahban ke daerah bertemu
KGSS.
01-07-1950 Kahar Mudzakkar kembali masuk kota Makassar dan terus langsung ke Markas Komando
TT VII Wirabuwana. Menyampaikan kepada Kolonel Kawilarang bahwa : Para anggota
KGSS yang berjumlah sekitar 15.000 orang atau sekitar v10 Batalyon, sudah satu paham,
mereka ingin diikat dalam satu kesatuan (Brigade Hasanuddin) dan saya (Kahar) menjadi
Komandan Brigade itu. JKM 108-109
Kolonel Alex Kawilaran menolak. Katanya : Para anggota KGSS itu tidak semua
berpendidikan dan banyak tidak disiplin. Bagaimana bisa langsung diterima sebagai
tentara. Kawilarang tetap berpegang kepada perintah Pusat bahwa anggota KGSS akan
diseleksi terlebih dahulu mana yang memenuhi persyaratan untuk diterima dalam TNI.
Dalam rapat yang diadakan pada tanggal 01 Juli 1950 itu, yang dihadiri juga Abdul Qahhar
Mudzakkar, Panglima mengeluarkan dekrit pembubaran KGSS dengan nama Decreet
Kawilarang AGG 96
Kahar Mudzakkar menyatakan bahwa dirinya mengundurkan diri dari TNI dan berpihak
kepada KGSS. Kahar kemudian membuka tanda-tanda pangkat di pundaknya, kemudian
dengan kasar melemparkan ke atas meja Panglima Kawilarang dan berjalan keluar
ruangan rapat.JKM 112
Menurut Bahar Mattaliu, Kahar Mudzakkar dilarikan ke Pinrang oleh anggota KGSS pada
tanggal 5 Juli 1950 atas perintahnya. Di Pinrang , Kahar masuk hutan bersama Andi Selle.
NAS 2. 361
Ajakan Damai oleh Pemerintah. AGG 152
10-10-1950 Pemerintah mengirim missi Inter-departemental yang diketuai Mr.Makmun Sumadipradja ke
Sulawesi Selatan. Hasilnya disampaikan di depan sidang DPR yang ke-40 pada tanggal 21
Desember 1950. dikatakan bahwa " …..pemuda Sulawesi Selatan merasa dirinya berjuang
dan menganggap harus mendapat penghargaan"
Nov 1950 Pemerintah kala itu Perdana Menteri Moh. Natsir dengan Surat Keputusan Nomor
16/PM/1950 menetapkan cara penyelesaian peristiwa gerilya di Sulawesi Selatan, antara
lain berisi :
- Para Pedjuang nasional di Sulawesi Selatan diterima sebagai anggota Tentara Nasional
Indonesia.
- Di Sulawesi Selatan akan dibentuk Brigade Hasanuddin; bataljon-bataljon jang diresmikan
mendjadi bagian dari brigade tersebut.
Di Sulawesi Selatan dihasilkan kesepakatan antara Komando TT VII / Wirabuana, beberapa tokoh
Sulawesi Selatan, dan pihak Komando KGSS sendiri yaitu menetapkan KGSS menjadi anggota CTN
(Corps Tjadangan Nasional) yang selanjutnya akan diproses menjadi anggota APRI .
01-01-1951 Para anggota KGSS ditampung di dalam beberapa rayon untuk kemudian didatangkan ke
Makassar dan akan dilantik sebagai anggota CTN.
17-03-1951 Gubernur B.W.Lapian, selaku Kepala Staf Keamanan Daerah Sulawesi melakukan
pertemuan dengan Qahhar Mudzakkar di Baraka. AGG 154
Awal 1951 Kahar Mudzakkar dengan KGSS-nya serentak memasuki kota Makassar dengan
persenjataan lengkap setelah ada kesepakatan dengan Panglima Teritorium VII.:
24-03-1951 Kahar bersama brigade persiapannya diresmikan menjadi Brigade CTN di Lapangan
Hasanuddin Makassar. NAS 2.362. Pelantikan dilakukan oleh Letkol Suwido yang mewakili
Menteri Pertahanan AGG 153.
07-08-1951 Rapat antara pihak TT VII-Indonesia Timur yang dipimpin oleh Letkol J.F.Warouw yang
berkedudukan sebagai Komandan Ko.Pas "A" dengan Abdul Qahhar Mudzakkar,
komandan CTN Sulawesi Selatan. Kedua belah pihak didampingi oleh beberapa orang
perwira dan komandan bawahan mereka, serta dihadiri pula utusan Angkapan Perang dari
Pusat, dari Seksi Pertahanan Parlemen, dan Wakil Gubernur Sulawesi.
Rapat yang berlangsung 5 jam itu telah menyepakati ketentuan sebagai berikut :
- Pelantikan CTN Sulsel menjadi TNI akan dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1951
- Jumlah anggota yg dilantik paling banyak 4.000 orang, dalam 4 batalyon infantri yaitu:
Batu Putih, Arief Rate, Wolter Monginsidi,dan 40.000, termasuk yang tidak bersenjata.
- Abdul Qahhar Mudzakkar akan menjadi Wakil Komandan Ko. Pas "A" / VII dengan
pangkat Letnan Kolonel dan khusus bertugas memimpin batalyon-batayon infanteri
yg baru dilantik sedang anggota stafnya akan ditempatkan di staf TT VII, Ko.Pas "A":
AGG 155-156
Dokumen asli dari hasil rapat ini masih tersimpan pada Dinas Sejarah Militer Angkatan Darat
Bandung, Lihat Map 14 DI/TII Kahar Muzakkar 1951; lihat juga "Kahar Muzakkar wkl. Kompas A-VII
dengan pangkat Letkol. Dilantik tgl. 17-Agustus", Nusantara,10 Agustus 1951. AGG 176
16-08-1951 Sehari sebelum pelantikan, Qahhar Mudzakkar sebagai komandan CTN beserta
pasukannya meninggalkan rayon-rayon penampungannya untuk kemudian kembali ke
hutan-hutan Sulawesi Selatan. NAS 2.362 dan AGG 156
Menurut Qahhar Mudzakkar, "Keputusan-keputusan yang telah disepakati oleh hasil rapat
tanggal 07 Agustus 1951 tidak dipenuhi oleh pihak Komando TT.VII", yaitu ketentuan-
ketentuan yang menyebutkan bahwa : AGG 156
- Staf Officieren TT VII yang reaksioner akan dipindahkan sebelum tanggal 17-08-1951
- Bahwa tawanan-tawanan CTN akan dibebaskan sebelum tanggal 17-08-1951

Anhar Gonggonng menulis : "Sepanjang sumber yang kami peroleh, ketentuan-ketentuan yang
dimaksud Abdul Qahhar Mudzakkar itu tidak terrcantum didalam hasil rapat tanggal 07 Agustus 1951.
Di dalam dokumen yang masih bertandatangan "asli" Abdul Qahhar Mudzakkar dan Letnan Kolonel
J.F.Warrouw serta saksi-saksi lainnya, hanya tiga ketentuan yang dicantumkan; sedang dari sumber
lainnya , yaitu surat kabar Nusantara, ketentuan yang dianggap tidak dipenuhi itu juga tidak ada. Yang
ada : Penyempurnaan susunan batalyon akan dilakukan sesudah pelantikan. Juga ada ketentuan
tentang mengurus keputusan mereka yang akan kembali ke masyarakat akan dibentuk suatu panitia
dan Abdul Qahhar Mudzakkar akan menjadi salah seorang anggotanya"; AGG 176

17-08-1951 Meskipun Qahar Mudzakkar beserta pasukannya telah kembali ke hutan, Pimpinan APRI
berhasil menarik Andi Selle ke dalam lingkungan organisasinya. Andi Selle bersama
pasukannya dilantik menjadi anggota APRI tanggal 17-08-1951. Batalyonnya bernama Bn
719.Bau Massepe. AGG 157
Kolonel Alex Kawilarang digantikan Kolonel Gatot Soebroto sebagai Panglima Komando TT
VII. Gatot Soebroto berhasil mendekati Andi Sose. pada tahun 1952 akhirnya diresmikan
sebagai anggota APRI dengan kedudukan sebagai komandan batalyon yaitu Bn 720
dengan pangkat Kapten, AGG 159 dan AGG 178
Kemudian menyusul Usman Balo, Azis Taba dan banyak lagi yang lainnya memisahkan dri
dengan Qahhar Mudzakkar, masuk TNI. NAS 2.362
17-08-1953 Nama TKR dialihkan lagi menjadi TII (Tentara Islam Indonesia). Abdul Qahhar Mudzakkar
bersama pasukannya menyatakan diri menjadi bagian dari gerakan DI/TII pimpinan
Kartosuwiryo yang bertujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) AGG 123.
Proklamasi DI (Darul Islam) diucapkan di konperensi Makalua yang berlangsung 3 hari
berturut-turut. NAS 2. 363
Terjadi pertentangan antara Kartosuwiryo dengan Kahar Mudzakkar. AG 197. Alasan
penolakan terhadap Proklamasi NII oleh Kjartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1949
terutama disebabkan oleh bentuk negara NII pimpinan Kartosuwiryo itu, tetap menghendaki
negara kesatuan jika kelak NII dapat diwujudkan. Sedang Abdul Kahar Mudzakkar yang
nampaknya sangat tertarik terhadap ide Hasan Muhammad Tiro, menghendaki bentuk
negara federasi. AG 198 & 200
02-02-1960 RPI (Republik Persatuan Indonesia) diproklamasikan pada tgl 02-02-1960. AGG 192.
Dibentuk dengan persetujuan bersama antara pimpinan PRRI/Permesta dan pimpinan
DI/TII di Aceh. AGG 196
14-05-1962 RPII (Republik Persatuan Islam Indonrsia) dibentuk dan mengangkat Abdul Qahhar
Mudzakkar sebagai "Pejabat Chalifah". Keputusan ini diambil dalam konperensi PUPIR III
(Pertemuan Urgenie Pejuang Islam Revolusioner). AGG 197

Jenderal A.H.Nasution, dalam bukunya MEMENUHI PANGGILAN TUGAS, jilid 2, halaman 327 menulis
tentang tuntutan Kahar Mudzakkar mengenai KGSS sebagai berikut :
Dimasa kita beroperasi melawan kup Andi Azis dan kawan-kawan dan kemudian melawan
KNIL selama berbulan-bulan, ex-gerilya tersebut telah bertempur bahu-membahu dengan
TNI. Tetapi sudah itu, soal ex-gerilya ini menjadi "bom waktu" yang baru, ex-gerilya tersebut
dipimpin oleh Kahar Mudzakkar.

Panglima Kawilarang menyatakan, bahwa mereka yang dalam Komando Gerilya Sulawesi
Selatan (KGSS) yang sebagian nanti akan dapat masuk TNI dengan melalui syarat-syarat
tertentu, dan selebihnya akan dikembalikan ke masyarat, terutama BRN dan CTN.

Letnan Kolonel Kahar Mudzakkar, bekas Wakil Komandan Brigade 16 di Jawa (Komandan
Brigade 16 Letnan Kolonel Warrouw, NAS 2. 17) yang "dilarikan" ke pedalaman oleh KGSS,
ketika ia berada di Makassar dalam kelompok staf teritorium AD, menjadi pimpinan mereka
dan menuntut penerimaan mereka menjadi satu brigade lengkap.

Kabinet Natsir menyuruh kita berunding terus dengan mereka, sehingga lebih didekati
tuntutan-tuntutan KGSS. Mereka akan dilantik resmi sebagai kesatuan dan diberikan
perlengkapan sekedarnya.
Pada tanggal 17 Agustus 1951 diadakan pelantikan, tapi hanya sebagian yang hadir,
selebihnya dengan pimpinan Kahar Mudzakkar lari ke pedalaman lagi dengan membawa
serta perlengkapan-perlengkapan yang telah diserahkan kepada mereka.
Kahar Mudzakkar lari ke hutan bersama sebagian besar anak buahnya pada tanggal 16
Agustus 1951, yaitu sehari sebelum pelantikan tanggal 17 Agustus 1951. NAS 2.362

24-09-1961
Corry Van Stenus bersama anaknya, Abdullah diantar oleh Mayor Andi Lantara, Komandan
Batalyon 722 berpusat di Watampone, datang di Markas Kodam XIV Hasanuddin di Jalan
Monginsidi Makassar. Corry diutus Kahar Mdzakkar menemui Kolonel Yusuf.untuk
membicarakan keinginan Kahar Mudzakkar untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. KKM 2

25-09-1961 Kolonel Yusuf bersama Corry ke Jakarta menghadap Kasad Jenderal A.H.Nasution.
Kasad menyambut gembira keinginan pimpinan DI/TII tersebut dan menyerahkan
sepenuhnya teknis pelaksanaan pertemuan kepada Panglima Kodam XIV Hasanuddin.
26-09-1961 Kolonel Yusuf bersama Corry kembali ke Makassar.
Selanjutnya Corry di antar dengan Kapal Perang ALRI ke tempat persembunyian Kahar di
sekitar Teluk Bone.
05-10-1961 Kolonel Yusuf datang di Bonepute untuk pertemuan dengan Kahar sesuai dengan
kesepakan. Tetapi ternyata pertemuan tidak terlaksana karena Kahar tidak ada di
lokasi..KKM 4
21-10-1961 Pertemuan di Bonepute antara Kahar Mudzakkar dan Kolonel M.Jusuf. "Kahar menyatakan
akan tunduk kepada Pemerintahan RI, tunduk kepada Pancasila, dan mengakui Soekarno
sebagai Presiden RI. KKM 7.
Pernyataan menyerah Kahar sudah ada hanya resminya tidak sebelum 5 Oktober 1961.
NAS 5. 242
12-11-1961 Dalam suatu jamuan makan di Pos Komando Kodam IV di Bone tanggal 12 November
1961, terjadi pertemuan kembali antara Panglima Kodam XIV Kolonel M.Yusuf dengan
Pimpinan DI/TII. Disitu Kahar Mudzakkar mengeluarkan Pernyataan sebagai berikut :
"Demi Allah, dengan ini saya tunduk dan menyatakan menyerah serta menaati
penyelesaian anak buah saya keseluruhannya dan segenap yang saya miliki tanpa syarat
kepada Panglima XIV / Hasanuddin Kolonel M.Yusuf atas dasar kebenaran dan keadilan
untuk kepentingan keamanan dan pembangunan seluruh bangsa dan negara. Saya
menyatakan pula bahwa saya taat kepada Bung Karno sebagai pemimpin negara dan
bangsa, Jenderal A.H.Nasution sebagai MKN/KASAD dan Kolonel M.Yusuf sebagai
Panglima Kodam XIV Hasanuddin" NAS 5. 242
Mengenai penyelesaian amnesti Kahar Mudzakkar, berhubung ia melapor melewati batas
waktu yang ditetapkan tanggal 5 Oktober 1961, dan kenyataan bahwa ia tetap berpegang
pada cita-cita menuju Negara Islam, yang terbukti dari salah satu suratnya; mempersulit
saya (A.H.Nasution) dalam penyelesaiannya. NAS 5.242
Kata A.H.Nasution : Saya sayangkan bahwa saya tak berhasil mendapat tanda tangan
Presiden untuk amnesti dan abolisi bagi Kahar Mudzakkar. Memang secara teknis, saat
mereka "kembali" adalah melewati batas waktu. Karena mereka tidak dipercaya beliau
akan sungguh-sungguh melepaskan cita-cita mereka. NAS 5. 270
Okt 1962 A.H.Nasution berkata : Kita mengalami kemunduran di Sulawesi Selatan.Bulan Oktober
1962 Kahar Mudzakkar kembali ke hutan. Telah lama ia menunggu keputusan Presiden
tentang amnesti dan abolisi. Dan setelah kita garap Kartosuwiryo, rupanya (Kahar) berpikir
kembali. NAS 5.401
Dan setelah Kartosuwiryo dihukum mati, maka Kahar lari kembali ke hutan NAS 5.349
14-06-1962 Katosuwiryo ditangkap NAS 5.238
16-08-1962 Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati. Permohonan grasinya ditolak Presiden. NAS 5.251
12-09-1962 Kartosuwiryo menjalani hukuman mati. NAS 5.251

awal 1963 Kahar tinggalkan Wilayah Sulawesi Selatan ke Sulawesi Tenggara. (Info Usman R)
Pencarian Kahar Mudzakkar di sekitar Gunung Latimojong dilakukan TNI secara besar-
besaran namun tidak berhasil. KKM 30
Dari dokumen DI/TII yang ditemukan ditambah keterangan gerombolan DI/TII yang
ditangkap dan informasi intelijen TNI dan petunjuk rakyat berhasil disimpulkan kalau Kahar
Mudzakkar sudah tidak berada di Wilayah Sulawesi Selatan, sudah lama meninggalkan
kawasan kaki Gunung Latimojong, menuju wilayah Sulawesi Tenggara..KKM 31

Memasuki tahun 1964, TNI mulai memusatkan perhatian operasi ke Wilayah Sulawesi
Tenggara karena informasi tentang keberadaan Kahar Mudzakkar semakin jelas.KKM 33

11-09-1964 Corry bersama anaknya Abdullah berpisah dengan Kahar Mudzakkar di Bukit Kambiasu.
KKM 42. Corry memilih pindah ke kampung Sumilling, Masamba, Luwu Utara (Fajar :
Minggu 2 April 2006).
31-01-1964 Informasi yang akurat diperoleh TNI dari Mayor Kadir Yunus, Wakil I Kombad II bahwa
Kahar Mudzakkar dan pasukannya yang tersisa , tengah menelusuri Sungai Lasolo menuju
hilir Laut Banda. Dari sana kemungkinan Kahar Mudzakkar akan menyeberang ke lain
tempat.KKM 66

Peltu Umar yang masih berada di hutan mencari jejak Kahar Mudzakkar mendapat pesan
melalui radio. Ia diperintahkan oleh Kapten Djaya dari Lawali supaya bergerak menuju
kampung Kaburulaonde dan selanjutnya menyulusuri Sungai Lasolo ke hilir. KKM 67
03-02-1965
Penyergapan Kahar Mudzakkar dilakukan pada jam 05.30.yang menewaskan Kahar
Mudzakkar. Jumlah mayat yang dikumpulkan 18 0rang. Ada juga mayat yang hanyut jatuh
ke sungai, yang lainnya dapat meloloskan diri termasuk Mansyur dan Sitti Hudayah, istri
Kahar Mudzakkar yang luka terkena peluru pada bagian pantatnya. KKM 75-90

04-02-1965 Mayat Kahar Mudzakkar diangkut dari Lasolo ke Lawali dengan berjalan kaki sehari penuh
melalui hutan. KKM 86
Dari Lawali mayat diangkut menggunakan helikopter TNI AU H.202 ke PakuE. Diantar
langsung oleh Peltu Umar. Tiba di PakuE pukul 15 petang, tanggal 04 Februari 1965.
05-02-1965 Mayat Kahar Mudzakkar diberangkatkan dari PakuE ke Makassar pada tanggal 5 Feb 1965
(pagi) menggunakan helikopter. Peltu Umar yang seharusnya berangkat pula tidak jadi
lantaran helikopter sudah penuh. KKM 87. Mayat tiba di Makassar langsung dimasukkan
ke kamar jenazah Rumah Sakit Polamonia.
Mendengar jenazah suaminya dibawa ke PakuE, Corry pun mengejar ke PakuE. Diikuti
juga orang tua dan saudaranya. Kami semua ingin sekali melihat jenazah Pak Kahar. Corry
berbicara dengan Panglima Kodan XIV Kasanuddin Kolonel M.Jusuf melalui radio talki
untuk bisa melihat mayat suaminya. Tapi Pak Jusuf bersikeras menolak dan tidak
memperkenankan kami melihat jenazahnya, Pak Jusuf berkata, "Apa perlunya lagi melihat
jenazah Kahar. Toh jenazahnya sedah diangkut dengan heli ke Makassar". Majalah SABILI
No.15 TH VIII 5 Januari 2001 M / 10 Syawal 1421 H, halaman 82

Beberapa keluarga dekat Kahar Mudzakkar dipanggil Pak Yusuf untuk melihat langsung
mayat tersebut. Farida dan suaminya Andi Semangat, Abdullah Ashal (19 Th) yang datang
dari Jakarta. Amir Adam yang berada di Makassar juga melihat jenazah itu dari dekat. Yang
memandikan jenazah itu adalah Letnan Husein yang diminta khusus oleh Pemerintah, Ia
seorang mantri kami dihutan dulu., kata Corry. Semua mereka yang melihat jenazah itu
membenarkan kalau itu jenazah Kahar Mudzakkar. "Saya sudah yakin bahwa suami saya
sudah syahid, kata Cory menegaskan" SABILI halaman 81-83.
07-08-1949 bertepatan dengan 22 Syawal 1368 H S.M.Kartosuwirjo memproklamasikan berdirinya
NEGARA ISLAM INDONESIA . Majalah Sabili Edisi Khusus No 9 Th X 2003, hal 153
14-06-1962 Katosuwiryo ditangkap NAS 5.238
16-08-1962 Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati. Permohonan grasinya ditolak Presiden. NAS 5.251
12-09-1962 Kartosuwiryo menjalani hukuman mati. NAS 5.251

05-04-1964 Pertemuan M.Jusuf dengan Andi Selle di Lempangan, Pinrang.


03-02-1965 Kahar tertebak mati
19-07-1965 Gerungan tertangkap

Corry Van Stenus


Lahir di Klaten tanggal 31 Desember 1922
Nama ayah : Adnan Bernard Van Stenus (seorang Indo-Belanda)
Nama ibu : Supinah (asal Solo)
Menikah dengan Abdul Qahhar Mudzakkar pada tanggal …-…-1947
Dianugerahi 7 orang anak, 3 diantaranya sudah wafat.
Wafat pada tanggal 01 April 2006, pukul 05.00 WIB di R.S.Fatmawati, Jakarta
meninggalkan 4 orang anak dan 21 orang cucu. Empat anak tersebut adalah :
1. Hasan Kamal, 2. Guril, 3. St.Baedabah, 4. Abdullah.

Andi Halia AGG 71 dan AGG 81 No.64


K.H.Ambo Dalle, diculik DI/TII tahun 1957. Keluar hutan tahun 1964. AGG 39 dan AGG 55 No 46
Tjatatan Bathin Abdul Qahhar Mudzakkar terdiri dari 3 jilid.
Jilid I dan Jilid II masih berupa ketikan.
Jilid III dicetak dengan baik di Singapura tahun 1382 H - AGG 213 No 90

NAS A.H.Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas


AGG Anhar Gonggong, Abdul Qahhar Mudzakkar dari Patriot hingga Pemberontak.
KKM A.Wanua Tangke dan Anwar Nasyaruddin, Kisah Tertembaknya Kahar Muzakkar.
JKK Anwar Nasyaruddin dan Moh.Yahya Mustafa, Jejak-Jejak Radikal Kahar Muzakkar
SABILI Majalah SABILI No.15 TH.VIII 5 Januari 2001 / 10 Syawal 1421
VDIJK C.Van Dijk, Darul Islam sebuah Pemberontakan
Isteri Kahar
ke-1 Warlina AGG 98 Nikah th 1941 ?
ke-2 Corry Nikah th 1947 Fajar 2 April 2006
ke-3 Andi Janawari
ke-4 Sitti Hami AGG 111
ke-5 Andi Halia
ke-6 Rawe
ke-7
ke-8 Andi Sitti Habibah Nikah th 1960 ?
ke-9 Sitti Hudayah Nikah th 1963 ?
1 Muharram 1372 970,224 1372 1,331,147,328
621,577,400
1,952,724,728
724,728 365

1 Muharram 1372 =
29 Mhr
29 Sfr
30 R.Aw
29 R.Ak
30 J.Aw
29 J.Ak
30 Raj
29 Sa'b
30 Rmd
29 Syw
30 Zlq
6 Zhj
330

6 DZULHIJJAH 1372 '=


1 Muharram 1368 970,224 1368 1,327,266,432
3 November 1948 621,577,400
1,948,843,832
843,832 365
30 J aw
29 J ak
30 Rjb
29 Sbn
30 Rmd
1368 H 22 Syw
0 Zqd
0 Zhj
170
22 Syawal 1368 =
7 Syw
30 Zqd
29 Zhj
1369 H 30 Mhr
29 Sfr
21 R aw
146
9 R aw
29 R ak
30 J aw
29 J ak
30 Rjb
29 Sbn
30 Rmd

29 Syw
30 Zqd
29 Zhj
1370 H 30 Mhr
29 Sfr
30 R aw
2 R ak
365
27 R ak
30 J aw
29 J ak
30 Rjb
29 Sbn
30 Rmd
29 Syw
30 Zqd
29 Zhj
1371 H 30 Mhr
29 Sfr
30 R aw
13 R ak
365
16 R ak
30 J aw
29 J ak
30 Rjb
29 Sbn
30 Rmd
29 Syw
30 Zqd
29 Zhj
1372 H 30 Mhr
29 Sfr
30 R aw
24 R ak
365
5 R ak
30 J aw
29 J ak
30 Rjb
29 Sbn
30 Rmd
29 Syw
30 Zqd
1372 H 17 Zhj
229

1,470

17 Zulhijjah 1372 =
31 Jan
28 Feb
31 Mar
30 Apr
31 Mei
30 Jun
31 Jul
31 Agt
243
21 Sep
264,525,720 264

21 September 1952
9 Sep
31 Okt
30 Nop
31 Des
31 Jan 1953
28 Feb
31 Mrt
30 Apr
31 Mei
30 Jun
31 Jul
17 Agt 1953
330

17 AGUSTUS 1953
31 Jan
28 Feb
31 Mrt
30 Apr
31 Mei
30 Jun
31 Jul
31 Agt
30 Sep
31 Okt

3 Nov
0 Des
307

307,998,680
31 Mrt
30 Apr
31 Mei
30 Jun
31 Jul
17 Agt 1949
0
0
170
0

07 Agustus 1949
24 Agt
30 Sep
31 Okt
30 Nov
31 Des 1949
0
146
31
28
31
30
31
30
31

31
30
31
30
31 Des 1950
0
0
365
31
28
31
30
31
30
31
31
30
31
30
31 Des 1951
0
365
31
28
31
30
31
30
31
31
30
31
30
31 Des 1952
0
365
31
28
31
30
31
30
31
17 Agt 1953
0
229

1,470

17 Agustus 1953
Penuturan Usman R. (Bpkna Manni) pada Bulan Maret 2013 bertempat di Masjid Al-Iman
Pattedong sesudah shalat Maghrib menunggu shalat Isya.
Pada awal tahun 1963 (sekitar bulan April) saya melihat Qahar Mudzakkar di antar oleh
Gerungan bersama serombongan kecil pasukannya lewat di depan rumah tempat
tinggalnya di Pongngera menuju ke arah Pantai Teluk Bone untuk seterusnya
menyeberang ke Sulawesi Tenggara.

33 Memasuki tahun 1964, TNI memusatkan perhatian operasi ke wilayah Sulawesi Tenggara.
Informasi tentang keberadaan Kahar Mudzakkar dan pasukannya dipastikan memang berada
di Wilayah Sulawesi Tenggara..
34 Hasil analisa intelijen TNI, dugaan sementara, Kahar Mudzakkar dan pasukannya berada di
sekitar Danau Towuti. Ketika menyeberang ke wilayah Sulawesi Tenggara mereka
menggunakan jalan darat menyusuri tepi laut Teluk Bone.
Tanggal 6 Agustus 1964, dua peleton RPKAD dikirim ke Sulawesi Tenggara, disekitar Danau
Towuti dengan tugas :
- Mencegat bila bertemu pasukan DI / TII
- Memastikan keberadaab Kahar Mudzakkar di sana.
36 Hasil penjajakan pasukan RPKAD disekitar Danau Towuti ini, menunjukkan tanda-tanda Kahar
Mudzakkar dan pasukannya memang berada di Wilayah Sulawesi Tenggara.
Laporan keberadaan Kahar Mudzakkar itu, membuat TNI segera melakukan gerakan
mengatur formasi pengepungan dengan mendaratkan sejumlah pasukan tempur di pantai
barat Sulawesi Tenggara. Bahkan dari jurusan lain, pasukan TNI dibantu rakyat mengapit
lokasi yang diduga sebagai tempat keberadaan Kahar Mudzakkar dan pasukannya.
37 Hasil pengepungan di sekitar Danau Towuti, beberapa menteri, panglima dan pasukan DI/TII
ditangkap. Ratusan rakyat dibebaskan dari penguasaan pasukan DI/TII. Namun Kahar
Mudzakkar dan pasukan intinya berhasil meloloskan diri dari kepungan. Kahar Mudzakkar dan
pasukannya tidak jauh dari Danau Towuti, mereka berputar-putar antara kampung Wisu - Laiju
- dan Lawata.

34 Di sekitar Danau Towuti Kahar Mudzakkar dan pasukannya berputar-putar di sekitar Danau
Towuti antara Kampung Wisu - Laiju - Lawata. KKM 37
37 Kampung Wisu

37 Kampung Laiju

37 Kampung Lawata

38 Donggala Pada tanggal 15 Agustus 1964, Pasukan TNI dari operasi Tekad I
berhasil menemukan jejak DI/TII di sekitar Donggala, kemudian
terjadi kontak senjata.
Pasukan DI/TII terdesak mundur. Kahar Mudzakkar yang tidak
jauh dari lokasi kontak senjata tersebut bergerak mundur bersama
pasukannya menuju La Elu. JKM 38
Antara Donggala - La Ulu memerlukan waktu dua hari perjalanan.

La Elu Lima hari di La Elu, Kahar Mudzakkar dan pasukannya merasa


tidak aman. Dari La Elu mereka bergerak ke Lawali JKM 39
Di Lawali Kahar Mudzakkar bertahan selama setengah bulan,
Lawali namun ada tanda-tanda TNI sudah menciun jejak mereka. Kahar
Mudzakkar bersama pasukannya bergerak ke Anggaloha.
39 Anggaloha Disini mereka bertahan selama 10 hari yaitu sampai tanggal 17
September 1964..
Pada tanggal 11 September 1964, Kahar Mudzakkar memutuskan
untuk berpisah dengan isterinya Corry dan anaknya Abdullah.
Mereka bergerak meninggalkan Anggaloha menuju Bukit
Kambiasu untuk melepaskan isterinya menuju kesuatu tempat
yang lebih aman (Sumilling). JKM 42
Kahar Mudzakkar dan pasukannya kemudian bergerak menuju
Sumbelaha Amate JKM 47

Amate Hanya satu hari disini, Kahar Mudzakkar dan pasukannya


bergerak lagi ke Nelangai sebuah perkampungan penduduk yang
bertetangga dengan Amate yang membutuhkan sehari perjalanan
kaki. JKM 39

Nelangai Dua hari di Nelangai, Kahar Mudzakkar dan pasukannya bergerak


menuju ke Achirat. JKM 40

40 Achirat Tempat ini cukup terpencil, tetapi Kahar Mudzakkar dan


pasukannya belum merasa aman. Mereka bergerak lagi menuju
kampung Lawata.yang dianggap lebih aman JKM 40

Lawata Tiba di Lawata tanggal 29 September 1964, Kahar Mudzakkar dan


pasukannya disambut hangat penduduk setempat. JKM 40

Wiau Kahar Mudzakkar menjadikan Wiau. Laeju dan Lawali sebagai


tempat kedudukan mereka secara mobile. Tiga tempat ini sebagai
LaEju basis perjuangan DI/TII di Sulawesi Tenggara. JKM 40.
Pada akhir 1964, Intelijen TNI menyimpulkan kalau Kahar
Lawali Mudzakkar dan sisa pasukannya hanya bergerak di tiga lokasi
(Wiau - La Eju - Lawali) secara bergiliran.

Pada tanggal 21 Januari 1965, satu peleton RPKAD dari Kie II, Yon 330 Para tiba di hulu
Sungai Riru Uha, anak Sungai Lasolo. Pasukan RPKAD ini menyergap gubuk persembunyian
Mansyur, salah seorang ajudan Kahar Mudzakkar yang telah memisahkan diri dengan
kelompok Kahar Mudzakkar. Mansyur brhasil meloloskan diri ke hutan, Pasukan RPKAD
menggeleda isi gubuk itu dan berhasil menemukan sejumlah dokumen rahasia DI/TII yang
belum sempat disembunyikan Mansyur. KKM 48-49.
Dari dokumen rahasia DI/TII yang ditemukan itu, TNI mendapat petunjuk kalau Kahar
Mudzakkar dan pasukannya bergerak secara mobile, hanya berpindah-pindah ditiga tempat
yang disebut kompleks Wiau, LaEju dan Lawali.

Pada tanggal 26 Januari 1965, Kapten Djajadi, Komandan Kie D,Yon 330/Para, Siliwangi tiba
di Lawali. Semua komandan peleton dikumpulkan dan diberi briefing untuk melakukan operasi
selanjutnya. Kompleks Wiau-LaEju-Lawali akan dikepung dengan operasi militer. KKM 49
Pada tanggal 27 Januari 1965, dikirim peleton Umar dengan perbekalan hanya untuk 5 hari,
guna mencari kedudukan Kahar Mudzakkar yang sebenarnya. Sekalipun pada tanggal 1
Februari 1965 mereka sudah kehabisan makanan, tetapi mereka bertekad menyelesaikan
tugas. NAS 6.108
Menelusuri Sungai Lasolo
Pada tanggal 31 Januari 1965 datang ke PakuE beberapa petinggi DI/TII baik yang ditangkap
maupun yang menyerah. Diantaranya adalah Mayor Kadir Yunus, Wakil I KDB (Komando
Daerah Bawahan) 23 DI/TII. KKM 64
Dari hasil pemeriksaan terhadap Mayor Kadir Yunus, pihak komando operasi TNI
mendapatkan informasi yang sangat diperlukan, bahwa ; Kahar Mudzakkar dan sisa
pasukannya tengah menyusuri Sungai Lasolo menuju hilir Laut Banda. Dari sana
kemungkinan Kahar Mudzakkar akan menyeberang ke lain tempat. KKM 66
Berdasarkan informasi dari Mayor Kadir Yunus ini; Maka pada tanggal 2 Februari 1964,
Kapten Jayadi dari Lawali mengirim perintah melalui radio kepada Peltu Umar yang sementara
masih di hutan mencari jejak Kahar Mudzakkar dan pasukannya. Isi perintah :
- Terus bergerak mencari Kahar Mudzakkar dan pasukannya.
- Bergerak menuju kampung Kaburulaonde, selanjutnya
- Menyusuri Sungai Lasolo, sebab informasi terakhir yang diperoleh pasukan TNI,
Kahar Mudzakkar tengah menyusuri Sungai Lasolo menuju hilir. KKM 67
Peltu Umar melanjutkan pencarian sesuai perintah, dengan menyusuri tepi Sungai Lasolo
bersama 19 orang pasukannya dan beberapa rakyat sebagai penunjuk jalan termasuk La
Passe. KKM 68
Setelah menemukan jejak-jejak pasukan Kahar Mudzakkar, Peltu Umar bersama pasukannya
terus mengikuti jejak-jejak itu, mereka berjalan menyusuri tepi sungai, hutan belantara dan
rawa namun pemilik jejek itu belum ditemukan.

Setelah seharian penuh menyusuri Sungai Lasolo. Menjelang mendekati muara sungai, dari
ketinggian, pasukan TNI ini melihat dari kejauhan sekitar sekian meter jaraknya ada sebuah
rakit ditambatkan ditepi sungai. Kemudian ada anak sungai yang keluar dari dalam, airnya
barhulu dari sebuah air terjun. Anak sungai itu dikelilingi ketinggian, sehingga kurang tampak
bila dilihat dari kejauhan. Ditepi anak sungai itu ada 6 gubuk (menurut A.H.Nasution 2 gubuk)
terbuat dari rotan berjejer menghadap ke anak sungai. KKM 71 & NAS 6. 108.
Seluruh pasukan Peltu Umar berhenti dan mengamati situasi. Terlihat dari kejauhan seorang
pria sedang mandi di anak sungai, dia adalah Mansyur, bisik La Passe kepada Peltu Umar.
kemudian seorang lagi tengah menjemur pakaian.

Dari gubuk kedua, tiba-tiba keluar seorang pria. Seketika La Passe langsung berbisik kepada
Peltu Umar "itu Kahar Mudzakkar". Pandangan Umar belum beralih mengawasi mengawasi
gerak-gerik Kahar Mudzakkar di depan gubuknya. Kahar Mudzakkar kemudian masuk lagi ke
dalam gubuknya, dan tidak keluar lagi. KKM 73

Dari hasil analisa medan, Peltu Umar menyimpulkan kalau penyergapan tidak bisa dilakukan
saat itu juga, melainkan lebih cocok pada pagi hari. Penyergapan sore harihanya akan
mendapat waktu yang pendek, dan pengejaran musuh dimalam hari akan menyulitkan
pasukan TNI. KKM 73
Maka keputusan penyergapan pagi hari sudah final. Selanjutnya Peltu Umar mengatur strategi
penyergapan. KKM 74
Pada jam 16.30 petang (menurut KKM 74 sesudah maghrib) tanggal 2 Februari 1965 sayup-
sayup terdengar lagu "Terkenang masa lampau" dari sebuah radio yang dipancarkan oleh
pemancar radio "Malaysia" Kuala Lumpur. NAS 6. 68
Perlahan-lahan fajar menyingsing. Hari itu Rabu tanggal 03 Februari 1965 bertepatan hari Idul
Fitri 1 Syawal 1384 H. Belum ada suara terdengar dari dalam gubuk. KKM 80
Pukul 5.00 subuh, baru terdengar ada gerakan di dalam gubuk. Digubuk kedua seorang
wanita tengah menanak nasi dari api unggun yang dibuat. Wanita itu adalah Sitti Hudayah,
isteri Kahar yang kesembilan.
Pukul 5.30 pagi, Kahar Mudzakkar terbangun, ia keluar sebentar dari gubuknya, kemudian
masuk lagi.
Salah seorang pasukan DI/TII keluar dari salah satu gubuk menuju arah rakit yang
ditambatkan di sungai Lasolo. Rupanya ia akan mempersiapkan rakit yang akan digunakan..
Dibahunya tergantung sebuah senapan Garrand. Ketika mendekati tepi sungai,
pandangannya diarahkan menyapu sekeliling dan menyeberang sungai, terlihat samar-samar
pasukan TNI yang sembunyi di antara pepohonan. Orang it5u langsung bergegas berbalik
menuju ke gubuk untuk melaporkan adanya pasukan TNI.

Keadaan yang terjadi secara tiba-tiba ini. Membuat seorang anggota tim yang bersembunyi
paling dekat dengan sungai Lasolo, dan sejak awal sudah mengarahkan moncong senjatanya
mengikuti gerakan pasukan DI/TII itu, tidak menyia-nyiakan peluang ini. Begitu melihatnya
berjalan tergopoh-gopoh kembali ke gubuk, langsung ia memuntahkan peluru dan tepat
mengenai sasaran. Disusul rentetan tembakan lainnya secara sambung menyambung
menghujani gubuk itu. Terlihat beberapa orang panik keluar dari gubuk berlarian
menyelamatkan diri. Namun mereka tidak lepas pula menjadi sasaran peluru. KK 81-82
Kahar Mudzakkar yang mengenakan baju kaos oblong lengan panjang dan berkepala botak,
melompat keluar dari gubuk nomor dua, menenteng ransel, berlari ke arah utara, kemudian
membelok ke timur untuk mencapai sebuah batu besar, dengan harapan bisa berlindung di
balik batu besar itu dari sasaran hujan peluru.

Kopral Dua Aili Sadeli mengenal orang itu dengan jelas, dialah Kahar Mudzakkar, Semula ia
hendak menangkap hidup-hidup, akan tetapi ketika dilihatnya bahwa Kahar Mudzakkar
sedang menggenggam granat tangan. Sebelum Kahar Mudzakkar sempat mencapai batu
besar tersebut, Kopral Dua Aili Sadeli yang menempati posisi didekat batu besar itu segera
memuntahkan pelurunya dari senapan Thomson dan menembus dada Kahar Mudzakkar yang
tewas seketika itu, Disusul datang lagi empat anggota DI/TII ingin menyelamatkan diri, mereka
semua rebah terkena senapan Thomson Kopral Dua Aili Sadeli. NAS 6.109 dan KKM 82
di S o l o Usaha Semangat Muda

Toko LUWU

di Jakarta GEPIS (Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi

APIS (Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi)

KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi)

BKI (Batalyon Kemajuan Sulawesi)

AGG 90 TRIPS (Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi)


Pimpinan perlawanan secara bergelombang ke Jawa
memberitahukan situasi perlawanan rakyat terhadap Belanda di
Sulawesi Selatan kepada Pemimpin Republik di Jawa.
Rombongan pertama sekitar 40 orang dipimpin oleh Manai Sofyan.
Menyusul rombongan kedua Andi Mattalatta bersama Saleh Lahade,
La Nakka dan Muhammad Amin Lanca. Kemudian menyusul
berangkat rombongan-rombongan berikutnya. AGG 89
Pada tanggal 12-01-1946 rombongan Andi Mattalatta diterima
Presiden Sukarno. Presiden memerintahkan supaya menemui
Perdana Menteri Syahrir dan Panglima Besar Sudirman.
Dalam pertemuan itu Jend Sudirman minta kepada Andi Mattalatta
untuk menemui Kahar Mudzakkar (Komandan Batalyon BKI) yang
berada dibawah Brigade yang dipimpin oleh Kolonel Zulkifli Lubis.
Abdul Qahhar Mudzakkar dan Andi Mattalatta mengusulkan kepada
Panglima Besar Sudirman agar membentuk Tentara Republik
Indonesia (TRI) Persiapan Sulawesi.
Usul itu diterima. Pada tanggal 16 April 1946 (menurut C.Van Dijk hal
146, tgl 24 Maret 1946) dikeluarkan sebuah keputusan Panglima
Besar Jenderal Sudirman yang menugaskan kepada Abdul Qahhar
Mudzakkar, Andi Mattalatta dan Saleh Lahade untuk "Membentuk TRI
di Sulawesi Selatan dengan kekuatan dan organisasi satu divisi,
hingga kesatuan yang terkecil, guna menegakkan dan membela RI".
AGG 90
Struktur Organisasi dan susunan personalia pimpinan TRI-Persiapan
Sulawesi : AGG 90 dan JKM 59
- Abdul Qahhar Mudzakkar sebagai komandan dengan pangkat
Letnan Kolonel.
- Andi Mattalatta sebagai wakil komandan dengan pangkat Mayor.
- Saleh Lahade sebagai Kepala staf dengan pangkat Mayor.
Pimpinan TRI-PS melakukan persiapan. Batalyon BKI menjadi inti
TRI-PS dan melakukan pengiriman pasukannya ke Sulawesi Selatan.
AGG 91 - VDIJK 146
Pada tanggal 27 Juni 1946 Ekspedisi pertama diberangkatkan dari
Jawa ke Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kapten Muhammadong.
Kemudian menyusul ekspedisi-ekspedisi berikutnya berlangsung
sampai bulan Maret 1947. AGG 91. Ekspedisi Andi Mattalatta
mendarat di Suppa. JKM 62
Pada tanggal 20 Januari 1947 diadakan konperensi pembentukan
TRI-Persiapan Sulawesi di Paccekke. Konperensi Patjtjekke berhasil
menyusun struktur dan Personalia suatu Divisi TRI di Sulawesi
Selatan/Tenggara yang terdiri dari :AGG 92
Pada tanggal 20 Januari 1947 diadakan konperensi pembentukan
TRI-Persiapan Sulawesi di Paccekke. Konperensi Patjtjekke berhasil
menyusun struktur dan Personalia suatu Divisi TRI di Sulawesi
Selatan/Tenggara yang terdiri dari :AGG 92
- Panglima Divisi : Andi Abdullah Bau Massepe
- Kepala Staf : Mayor Andi Mattalatta
- Wakil Kepala Staf : Mayor Saleh Lahade
- Seksi I : Kapten Muhammadsjah
- Seksi II : Kapten Maulwi Saelan
- Seksi III : Kapten Andi Sapada
- Seksi IV : Kapten Andi Oddang
- Resimen I (daerah Pare-Pare & Mandar) : Andi Selle Mattola
- Resimen II (Makassar & daerah Selatan) : Andi Pajonga
- Resimen III (Luwu & daerah tenggara) : Andi Djemma
65 KRU-X (Kesatrian Reserve-X)
Pada tahun 1948 terjadi reorganisasi dalam tubuh Angkatan Darat RI.
Satuan-satuan bersenjata non reguler yang terdiri dari orang-orang
yang berasal dari luar pulau Jawa dan Sumatera seperti TRI-PS,
KRIS, dan ALRI Divisi VI dijadikan satu kesatuan dengan nama
Kesatrian Reserve-X (KRU-X)
65-66 Brigade XVI
Pada bulan Agustus 1948, dibentuk Brigade XVI. KRU-X dimasukkan
dalam kesatuan TNI dan dijadikan sebagai Brigade XVI. Ditunjuk
sebagai Komandan Brigade adalah Kolonel Limbong (ex KNIL) dan
wakil Komandan Berigade XVI ditunjuk Letkol J.F.Warrouw (ex
Komandan ALRI Divisi VI)

Kahar Mudzakkar dan pasukannya asal Sulawesi Selatan menolak.


Mereka tidak menerima dan tidak bersedia dipimpin orang Minahasa.
Kahar perintahkan Mas'ud memimpin satu kompi pasukan menangkap
Kolonel Limbong dan menahannya di Klaten. JKM 68

Perundingan pimpinan Angkatan Darat dengan Kahar Mudzakkar


yang juga melibatkan Presiden Soekarno mencapai persetujuan.
Kolonel Limbong dibebaskan dengan syarat tidak ditempatkan
sebagai atasan Kahar Mudzakkar dengan kata lain dimutasi ke
kesatuan lain. JKM 71
Kemudian turun Surat Keputusan penggantian komandan Brigade
XVI. Letkol J.F.Warrouw sebagai komandan Brigade XVI
menggantikan Kolonel Limbong, sedang Kahar Mudzakkar sebagai
Wakil Komandan Brigade XVI. JKM 71
Kahar Mudzakkar dengan pasukannya yang terbanyak (dominan)
dalam Brigade XVI tetap menolak selama Komandan Brigade XVI
tidak diserahkan kepada Kahar Mudzakkar. Penolakan itu
disampaikan kepada Kolonel Bambang Supeno.
Hanya disayangkan, Kolonel Bambang Supeno tidak didukung
perwira lainnya. Masih lebih banyak yang berpendapoat kalau yang
harus memimpin Brigade XVI adalah orang yang mempunyai latar
belakang pengalaman tempur secara formal.JKM 74
Qahhar Mudzakkar tidak memiliki pengetahuan teknis militer melalui
pendidikan formal sebagaimana yang dimiliki oleh rekan-rekannya
dari Minahasa itu. AGG 102

Dalam suasana tidak ada kepastian kepemimpinan Brigade XVI,


terjadi penyerangan Belanda (Agresi ke-2) terhadap pemerintah RI
pada 18 Desember 1948. yang membuat para pasukan TNI bersatu
melawan Belanda.
Dalam suasana tidak ada kepastian kepemimpinan Brigade XVI,
terjadi penyerangan Belanda (Agresi ke-2) terhadap pemerintah RI
pada 18 Desember 1948. yang membuat para pasukan TNI bersatu
melawan Belanda.
Para anggota Brigade XVI yang baru saja dibentuk menjadi kocar
kacir ketika Belanda menyerang ibu kota RI. Satuan-satuan yang
sudah seharusnya digabungkan terpisah saling berjauhan. Yang
mengakibatkan terjadinya komando kembar.
- Letkol J.F.Warrouw di Jawa Timur memimpin pasukan bertempur
melawan pasukan Belanda.
- Letkol Kahar Mudzakkar di wilayah Jogya mendampingi Panglima
Besar Jend Sudirman. Ia memegang kendali atas sisa-sisa
pasukan Brigade XVI. Ventje Semual dipercaya sebagai
Komandan Yogyakarta bagian barat.
Pada Srangan Umum 11 Maret 1949 yang dipimpin oleh Letkol
Suharto, Pasukan Brigade XVI punya peranan besar. Abdul
Qahhar Mudzakkar memimpin langsung pasukannya (Brigade
XVI). AGG 118
79 KGS (Komando Groep Seberang)
Setelah penyerangan agresi ke-2, Abdul Qahhar Mudzakkar
melepaskan jabatannya sebagai wkil Komandan Brigade XVI. Pada
Bulan Oktober 1949 Abdul Qahhar Mudzakkar kemudian diberi tugas
oleh Kolonel Bambang Supeno untuk membentuk Komando
Seberang yang meliputi Kalimantan, Sunda Kecil, Maluku dan
Sulawesi. AGG 102
Abdul Qahhar Mudzakkar ditunjuk sebagai Komandan Komando
Groep Seberang dengan tugas mempersiapkan tenaga-tenaga terlatih
yang menjadi kader-kader militer untuk tugas teritorial di daerah-
daerah seberang.
Kahar Mudzakkar mengutus dua orang anak buahnya (Lettu Saleh
Syahban dan Kopral Bahar Mattaliu) ke Sulawesi Selatan untuk
melakukan infiltrasi terhadap Belanda dan melakukan hubungan
dengan para gerilyawan pro Republik. JKM 76 dan AGG 94
Pada Bulan Agustus 1949 dalam suatu konperensi komandan-
komandan kelasykaran yang dilakukan di Maros, terbentuklah KGSS.
Dalam Konperensi Maros itu mereka mengajukan usul kepada
pemerintah RI agar KGSS dijelmakan menjadi Divisi Hasanuddin
dengan menetapkan Overste Kahar Mudzakkar sebagai Komandan
Divisi. AGG 94
Didalam perkembangan selanjutnya, Komando Groep Seberang yang
dipimpinya dihapuskan. Hal ini dilatar belakangi oleh karena:
- Rencana reorganisasi di bidang militer.
- Adanya persaingan intern pimpinan APRI di Markas Besar antara
Kolonel Bambang Supeno cs dan Kolonel A.H.Nasution cs
- Untuk menghidari kerancuan tugas antara Komando Groep
Seberang (KGS) dengan Brigade XVI.
Sejak itu Letnan Kolonel Abdul Qahar Mudzakkar menjadi perwira
tanpa jabatan dan makin terisolasi dari lingkungan pimpinan APRI
sampai saat ia dikirimkan ke Sulawesi Selatan oleh Markas Besar
APRI pada tahun 1950. AGG 103

84 Kahar diperintahkan ke Sulawesi untuk membenahi Gerilyawan

di Sulsel 86 Dewan Sulawesi Selatan dipimpin Andi Burhanuddin

87 KTT-IT (Komando Territorium Tentara Indonesia Timur


89 KGSS (Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan)

CTN

TKR

TII

AGG 91 Komperensi Paccakke tanggal 20 Januari 1947


Berhasil membentuk TRI-Persiapan Sulawesi.
MASA HAYAT (HIDUP) BEBERAPA PEMIMPIN

T a n g g a l
No. Nama Keterangan
Lahir Wafat Usia

1 Ir. Djuanda 07-11-1963


2 Abdul Qahhar Mudzakkar 24-03-1921 03-02-1965 44 tahun Cakka lahir 11-11-1964
3 Andi Jemma (Datu Luwu) 15-01-1901 23-02-1965 64 tahun
4 Ir.Soekarno (Bung Karno) 01-06-1901 21-06-1970 69 tahun
5 Dr. Moh,Hatta (Bung Hatta) 12-08-1902 14-03-1980 78 tahun
6 Hamka (Buya Hamka) 17-02-1908 24-07-1981 73 tahun
7 Sri Sultan Hamengkubuwono IX 12-04-1912 02-10-1988 76 tahun
8 Abdul Haris Nasution 03-12-1918 06-09-2000 82 tahun
9 H.M.Soeharto 08-06-1921 27-01-2008 87 tahun

Penuturan Usman (Bpkna Manni) pada Bulan Maret 2013 bertempat di Masjid Al-Iman Pattedong sesudah
shalat Maghrib menunggu shalat Isya.
Pada awal tahun 1963 saya melihat Qahar Mudzakkar di antar oleh Gerungan bersama serombongan
kecil pasukannya lewat di depan rumah tempat tinggalnya di Pongngera menuju ke arah Pantai Teluk
Bone untuk seterusnya menyeberang ke Sulawesi Tenggara.
Berselang 2 atau 3 hari kemudian Gerungan kembali, di perkirakan Qahar Mudzakkar sudah menyeberang
ke Sulawesi Tenggara.
Februari 1963 Idl Fitri di Oronganna
April 1963 Qahar Mudzakkar lewat di Pongngera menuiju Pantai Teluk Bone
Jumat 14 Febr 1964 Idl Fitri di Salukaliki
Febr 1964 = 9 bulan Ketika itu Kahar Mudzakkar sudah di wilayah Sulawesi Tenggara.
Kamis, 23 April 1964 Idl Adha 1383 H di Masjid Biring Salu (baru keluar dari hutan)
Rabu, 03 Febr 1965 Idl Fitri di Pattedong. Kahar Mudzakkar tertembak mati di Lasolo
Kelahiran ANDI MUDZAKKAR

Agustus 1958

1 awal 1963

2 Fabr 1964

3 Fabr 1964

4 12-04-1964

5 11-09-1964

6 11-11-1964

7 31-01-1965

8 03-02-1965

04-02-1965
05-02-1965
Kelahiran ANDI MUDZAKKAR

Andi Haliah, isteri Qahhar Mudzakkar datang memberi penerangan di Kampubbaru kepada
penduduk Pattedong yang baru masuk hutan

Kahar tinggalkan Wilayah Sulawesi Selatan ke Sulawesi Tenggara. (Info Usman R)


Pencarian Qahhar Mudzakkar di sekitar Gunung Latimojong dilakukan TNI secara besar-
besaran namun tidak berhasil. KKM 30

Dari dokumen DI/TII yang ditemukan ditambah keterangan gerombolan DI/TII yang
ditangkap dan informasi intelijen TNI dan petunjuk rakyat berhasil disimpulkan kalau Kahar
Mudzakkar sudah tidak berada di Wilayah Sulawesi Selatan, sudah lama meninggalkan
kawasan kaki Gunung Latimojong, menuju wilayah Sulawesi Tenggara..KKM 31

Memasuki tahun 1964, TNI mulai memusatkan perhatian operasi ke Wilayah Sulawesi
Tenggara karena informasi tentang keberadaan Kahar Mudzakkar semakin jelas.KKM 33

TNI dari Batalyoin 323 Siliwangi menduduki Biringsalu dipinggir Sungai Noling.
yaitu 6 tahun sesudah TNI dari Kesatuan Brawijaya meninggalkan Pattedong.

Pertemuan terakhir Qahhar Mudzakkar dengan Andi Haliah (ibunda Andi Mudzakkar) ?
Ketika itu Kahar Mudzakkar sudah di wilayah Sulawesi Tenggara.

Lebaran Idul Adha 1383 H di Masjid, di Biringsalu. Ibunda Watiha masih di dalam hutan
di To'balo.

Corry bersama anaknya Abdullah berpisah dengan Kahar Mudzakkar di Bukit Kambiasu.
KKM 42. Corry memilih pindah ke kampung Sumilling, Masamba, Luwu Utara (Fajar :
Minggu 2 April 2006).

Cakka lahir, yaitu pada saat menjelang 9 bulan dari dari Bulan Februari 1964
(Februari 1964 - November 1964 = 9 bulan), yaitu 2 bulan, 23 hari sebelum Qahhar
Mudzakkar ditembak mati di Lasolo.

Informasi yang akurat diperoleh TNI dari Mayor Kadir Yunus, Wakil I Kombad II bahwa
Kahar Mudzakkar dan pasukannya yang tersisa , tengah menelusuri Sungai Lasolo menuju
hilir Laut Banda. Dari sana kemungkinan Kahar Mudzakkar akan menyeberang ke lain
tempat.KKM 66

Peltu Umar yang masih berada di hutan mencari jejak Kahar Mudzakkar mendapat pesan
melalui radio. Ia diperintahkan oleh Kapten Djaya dari Lawali supaya bergerak menuju
kampung Kaburulaonde dan selanjutnya menyulusuri Sungai Lasolo ke hilir. KKM 67

Penyergapan Kahar Mudzakkar dilakukan pada jam 05.30.yang menewaskan Kahar


Mudzakkar. Jumlah mayat yang dikumpulkan 18 0rang. Ada juga mayat yang hanyut jatuh
ke sungai, yang lainnya dapat meloloskan diri termasuk Mansyur dan Sitti Hudayah, istri
Kahar Mudzakkar yang luka terkena peluru pada bagian pantatnya. KKM 75-90

Mayat Kahar Mudzakkar diangkut dari Lasolo ke Lawali dengan berjalan kaki sehari penuh
melalui hutan. KKM 86
Dari Lawali mayat diangkut menggunakan helikopter TNI AU H.202 ke PakuE. Diantar
langsung oleh Peltu Umar. Tiba di PakuE pukul 15 petang, tanggal 04 Februari 1965.
Mayat Kahar Mudzakkar diberangkatkan dari PakuE ke Makassar pada tanggal 5 Feb
1965 (pagi) menggunakan helikopter. Peltu Umar yang seharusnya berangkat pula tidak
jadi lantaran helikopter sudah penuh. KKM 87. Mayat tiba di Makassar langsung
dimasukkan ke kamar jenazah Rumah Sakit Polamonia.
Mendengar jenazah suaminya dibawa ke PakuE, Corry pun mengejar ke PakuE. Diikuti
juga orang tua dan saudaranya. Kami semua ingin sekali melihat jenazah Pak Kahar. Corry
berbicara dengan Panglima Kodan XIV Kasanuddin Kolonel M.Jusuf melalui radio talki
untuk bisa melihat mayat suaminya. Tapi Pak Jusuf bersikeras menolak dan tidak
memperkenankan kami melihat jenazahnya, Pak Jusuf berkata, "Apa perlunya lagi melihat
jenazah Kahar. Toh jenazahnya sedah diangkut dengan heli ke Makassar". Majalah SABILI
No.15 TH VIII 5 Januari 2001 M / 10 Syawal 1421 H, halaman 82

Beberapa keluarga dekat Kahar Mudzakkar dipanggil Pak Yusuf untuk melihat langsung
mayat tersebut. Farida dan suaminya Andi Semangat, Abdullah Ashal (19 Th) yang datang
dari Jakarta. Amir Adam yang berada di Makassar juga melihat jenazah itu dari dekat. Yang
memandikan jenazah itu adalah Letnan Husein yang diminta khusus oleh Pemerintah, Ia
seorang mantri kami dihutan dulu., kata Corry. Semua mereka yang melihat jenazah itu
membenarkan kalau itu jenazah Kahar Mudzakkar. "Saya sudah yakin bahwa suami saya
sudah syahid, kata Cory menegaskan" SABILI halaman 81-83.
Dimanakah Andi Haliah ketika itu ?

Apakah Andi Haliah ikut Qahar Mudzakkar


bergerilya di Sultra bersama isteri Qahar
lainnya (Corry dan Hudayah)
Andi Jemma (Datu Luwu)

15-01-1901 Lahir
23-02-1965 Wafat

Tahun1935 Naik Tahtamenggantikan ibundanya Andi Kambo

23-01-1946 Perang Palopo


02-02-1946 Datu bersama rombongan pindah ke Latow
02-06-1946 Datu ditamgkap KNIL di benteng Batu Putih
05-06-1946 Datu dengan dikawal KNIL tiba di Palopo
Dibawa ke Jongaya Makassar
Ditahan di Bonthain kemudia
di Selayar
05-07-1948 divonis diasingkan ke Ternate selama 20 tahun
27-12-1949 Pengakuan Kedaulatan RI di KMB di Denhaag
ditandatangani oleh Ratu Yuliana (Nas 2 hal 202)
27-12-1949 Datu bersama Andi Makkulau dinyatakan bebas
23-02-1950 Datu meninggalkan Ternate
Sementara Andi Ahmad bersama 4 orang rekannya
yang divonis mati dijemput Qahar Mudzakkar
di Cipinang
01-03-1950 Datu bersama keluarga tiba di Makassar, menginap
di rumah Andi Mappanyukki.
03-07-1626 sd
30-09-1644 sd
00-00-1649 sd
00-00-1664 sd
00-00-1684 sd
07-07-1693 sd
02-04-1694 sd
1939 Qahar kembali dari Solo membawa Istrinya Walina
03-07-1626 Syeh Yusuf, lahir (Abu Hamid, Syeh Yusuf hal)
23-05-1699 Syeh Yusuf, wafat (Abu Hamid, Syeh Yusuf hal)

20-09-1605 Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyonri bersama


kakaknya I Sambo Daeng Niasseng yaitu ibu kandung
Raja Gowa masuk Islam lalu bergelar Sultan Abdullah
Awwalul Islam (Ibid hal 73)
21-09-1605 Raja Gowa ke-14 I Manga'rangi Daeng Manrabia
masuk Islam pada usia 9 th yaitu setelah 2 th bertahta
dengan gelar Sultan Alauddin.
Tahun 1610 Laskar Gowa menundukkan Raja Sidenreng, Soppeng
dan Arung Matowa Wajo dan di Islamkan.
Tahun 1611 Kerajaan Bone menerima Islam setelah ditaklukkan
oleh Gowa

03-07-1626 Syeh Yusuf, lahir (Abu Hamid, Syeh Yusuf hal)


23-05-1699 Syeh Yusuf, wafat (Abu Hamid, Syeh Yusuf hal)
22-09-1644 Syekh Yusuf (18 th) meninggalkan Gowa tujuan Makkah
pada masa Gowa diperintah oleh I Manuntungi Daeng
Mattola Karaeng Lakiung, gelar Sultan Malikussaid
(1636 - 1653) ibid hal 89
30-09-1644 Syekh Yusuf tiba di Banten, ketika itu Banten diperintah
oleh Sultan Abdul Mufahir Mahmus Abdul Kadir (1598 -
1650)
Syekh Yusuf tiba di Aceh, ketika itu Aceh pada masa
pemerintahan Sultana Tajul Alam (1641 - 1675)
Tahun 1649 Syekh Yusuf melanjutkan perjalanan ke Mekkah (tujuan
semula) untuk menunaikan haji dan menambah ilmu.
Syekh Yusuf berada di Makkah selama 15 tahun.
Tahun 1664 Syekh Yusuf kembali dari Makkah ke Banten, ketika itu
Banten diperintah oleh Sultan Abdul Fattah dengan gelar
Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) ibid hal 95
Syekh Yusuf dikawinkan dengan putri Sultan Ageng
dan diangkat sebagai mufti penasehat kerajaan.
18-11-1667 Perjanjian Bongaya
14-12-1683 Syekh Yusuf ditangkap di Aji Karang, sebelah timur
Cimandala. Dibawah ke Batavia & langsung dimasukkan
kedalam penjara benteng.
12-09-1684 Syekh Yusuf dibuang ke Ceylon pada usia 58 tahun.
ikut bersamanya 2 orang isteri, 2 orang pembantu wanita,
12 santri, beberapa orang anak dan murid-muridnya.
ibid hal 108
07-07-1693 Syekh Yusuf yang ketika berusia 68 tahun dipindahkan
pengasingannya dari Ceylon ke Kaap (Afrika Selatan)
dengan Kapal Voetboeg bersama 42 orang keluarganya
ibid 111
02-04-1694 Syekh Yusuf bersama robongannya tiba di pantai Afrika
Selatan setelah menempuh pelayaran selama 8 bln 23 hr
23-05-1699 Syeh Yusuf, wafat dalam usia 73 tahun
Syeh Yusuf, wafat (Abu Hamid, Syeh Yusuf hal)

22-09-1644 18 tahun di Gowa


00-00-1649 5 tahun di Banten dan Aceh
00-00-1664 15 tahun di Makaah, Madinah, Yaman, Damaskus
12-09-1684 20 tahun di Banten
07-07-1693 9 tahun di Sailon
02-04-1694 9 bulan dalam pelayaran dari Sailon ke Afrika Selatan
23-05-1699 5 tahun di Afrika Selatan
= 73 tahun (termasuk dalam perjalanan)
1 Batara Guru I

2 Batara Lattu +

3 Simpurusiang

4 Anakaji +

5 Tanpa Balusu

6 Tanra Balusu

7 ToappanangE

8 Batara Guru II

10 Datu Risaung Le'bi

11 ManinggoE ri Bajo

12 Tosangkawana

13 Datu Maoge

15 Patiarase (1580 - 1615

16 Pati Pasaung Sultan


23 Batari Toja Sultanat Sitti Sainab
Lapatau Matanna Tikka + Fatimah
(Rajan Bone)

Garis hubungan anak

Garis hubungan kemanakan

31 Iskandar Opu D
Sumber LAGALIGO

Datu Palinge + PATOTO'E GURU RI SELLENG


Penguasa di langit Rajaa Dunia Bawah
We Datu Sengeng

Batara Guru + We Nyili'timo

Batara Lattu
We Tappacina (Putri Majapahit)

I We Cudai + SAWERIGADING + I We Cimpau


(La Tenritappu) hal 61

Lagaligo Tenridio Tenribalobo We Tenriawaru

14 We Tenriawe

5 Patiarase (1580 - 1615) Raja Luwu Pertama masuk Islam

16 Pati Pasaung Sultan Abdullah matinroE ri Pattimang + Karaeng Balla Bugisi dari Gowa (1615 - 1637)

17 Petta MatinroE ri Gowa

18, 20 Sattiaraja 19 MatinroE ri Pilka

21 Topalaguna + We Patteketana Daeng Tanisanga (Datu Tanete XIII)


22 Batari Tungke Sultanat Fatimah

24, 26 We Tenrileleang 25 La Kaseng

27 La Tenripeppang

28 We Tenriawaru

29 La Oddampero

30 Pati patau To'appanyompa

31 Iskandar Opu Daeng Pali 32. Andi Kambo Opu Daeng Risompa 34 Andi Jelling

33, 35 ANDI JEMMA


La Patiware Opu To'appamene Wara-waraE
Pajung ri Luwu XXXIII
U RI SELLENG + Sinaung Toja
a Dunia Bawah

La Urampessi + We Padauleng

+ We Datu Senngeng We Adiluwu + I La Jiriu

I We Cimpau We TENRIABENG + Remmang ri Langi Pallawagau We Tenrirawe

We Tenriawaru
We Tenrirawe
SYEKH YUSUF, TUJUL KHALWATI HADIYATULLAH
(03-07-1626 sd 23-05-1699)

20-09-1605 Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyonri bersama kakaknya I Sambo Daeng Niasseng
(yaitu ibu kandung Raja Gowa) masuk Islam lalu bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam
21-09-1605 Raja Gowa ke-14 I Manga'rangi Daeng Manrabbia masuk Islam pada usia 9 tahun
yaitu setelah 2 tahun bertahta dengan gelar Sultan Alauddin.
Menurut Perhitungan WNGD, tanggal 21-09-1605 bertepatan dengan 06 J.Awal 1014 H
Tahun 1610 Laskar Gowa menundukkan Raja Sidenreng, Soppeng dan Arung Matowa Wajo kemudian
di Islamkan.
Tahun 1611 Kerajaan Bone menerima Islam setelah ditaklukkan oleh Gowa bersama raja-raja Bugis
03-07-1626 Syeh Yusuf, lahir (Abu Hamid, Syeh Yusuf hal)
22-09-1644 Syekh Yusuf (18 th) meninggalkan Gowa tujuan Makkah pada masa Gowa diperintah
oleh I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakkiung, gelar Sultan Malikussaid (hal 89)
30-09-1644 Syekh Yusuf tiba di Banten, ketika itu Banten diperintah oleh Abdul Mufahir Mahmud
Abdul Kadir (1598 - 1650)
00-00-0000 Syekh Yusuf tiba di Aceh, ketika itu masa pemerintahan Sultana Tujul Alam (1641 - 1675)
Keberangkatannya ke Aceh diduga ada kaitannya dengan masalah
dianggap sesat oleh Nuruddin ar-Raniri.
1) di Aceh, belajar Tarekat QADIRIYAH yang menyatukan antara Ilmu Syariat dan

Tahun 1649 Syekh Yusuf melanjutkan perjalanan ke Mekkah (sesuai tujuan semula) untuk tunaikan
ibadah haji dan menambah ilmu.
Syekh Yusuf ke Arab (Yaman, Makkah, Madinah, Syam) selama 15 tahun. Belajar pada :
2). di Yaman, belajar Tarekat NAQSYABANDIYAH pada

3) di Zubaid (Yaman), belajar Tarekat AL-BAALAWIYAH dari Syekh Maulana Sayed Ali.
4) di Madinah, belajar Tarekart SYATTARIYAH pada

5) di Damaskus, belajar Tarekat KHALWATIYAH pada

Tahun 1664 Syekh Yusuf kembali dari Makkah ke Banten,ketika itu Banten diperintah oleh sahabatnya
Sultan Abdul Fattah dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651 - 1682) , hal 95
Syekh Yusuf dikawinkan dengan putri Sultan Ageng Tirtayasa dan diangkat sebagai
Mufti penasehat kerajaan.
18-11-1667 Perjanjian Bongaya
14-12-1683 Syekh Yusuf ditangkap Kompeni Belanda di Aji Karang, sebelah timur Cimandala, dibawa
ke Cirebon lalu ke Batavia & langsung dimasukkan ke dalam penjara benteng.
23-01-1684 Pengikut Syekh Yusuf yang berasal dari orang-orang Makssar Bugis dikirim ke Makassar
dan tiba di Makassar pada tanggal 22-04-1684
12-09-1684 Syekh Yusuf dibuang ke Ceylon pada usia 58 tahun. Ikut bersamanya 2 orang isterinya,
2 orang pembantu wanita, 12 santri, beberapa orang anak dan murid-muridnya.
07-07-1693 Syekh Yusuf yang ketika berusia 68 tahun dipindahkan pengasingannya ke Kaap di
Afrika Selatan. Berangkat dengan Kapal Voetboeg bersama 42 orang keluarganya. hal 111
02-04-1694 Syekh Yusuf bersama robongan tiba di pantai Afrika Selatan setelah berlayar selama
selama 8 bln 23 hr. Mereka ditempatkan di Zandvliet, dekat muara Eerste River pada
tanggal 14-06-1694. daerah itu sekarang disebut Macassar Downs dan pantainya disebut
Macassar Beach.
23-05-1699 Syeh Yusuf wafat di Kaap pada usia 73 tahun

03-07-1626 sd 22-09-1644
30-09-1644 sd 00-00-1649
00-00-1649 sd 00-00-1664
00-00-1664 sd 12-09-1684
00-00-1684 sd 07-07-1693
07-07-1693 sd 02-04-1694
02-04-1694 sd 23-05-1699
SYEKH YUSUF, TUJUL KHALWATI HADIYATULLAH
(03-07-1626 sd 23-05-1699)

Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyonri bersama kakaknya I Sambo Daeng Niasseng
yaitu ibu kandung Raja Gowa) masuk Islam lalu bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam
Raja Gowa ke-14 I Manga'rangi Daeng Manrabbia masuk Islam pada usia 9 tahun
aitu setelah 2 tahun bertahta dengan gelar Sultan Alauddin.
Menurut Perhitungan WNGD, tanggal 21-09-1605 bertepatan dengan 06 J.Awal 1014 H
askar Gowa menundukkan Raja Sidenreng, Soppeng dan Arung Matowa Wajo kemudian
i Islamkan.
erajaan Bone menerima Islam setelah ditaklukkan oleh Gowa bersama raja-raja Bugis
yeh Yusuf, lahir (Abu Hamid, Syeh Yusuf hal)
yekh Yusuf (18 th) meninggalkan Gowa tujuan Makkah pada masa Gowa diperintah
leh I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakkiung, gelar Sultan Malikussaid (hal 89)
yekh Yusuf tiba di Banten, ketika itu Banten diperintah oleh Abdul Mufahir Mahmud
bdul Kadir (1598 - 1650)
yekh Yusuf tiba di Aceh, ketika itu masa pemerintahan Sultana Tujul Alam (1641 - 1675)
eberangkatannya ke Aceh diduga ada kaitannya dengan masalah Wujudyah yang
ianggap sesat oleh Nuruddin ar-Raniri.
) di Aceh, belajar Tarekat QADIRIYAH yang menyatukan antara Ilmu Syariat dan
Ilmu Hakekat pada
Syekh Nuruddin Hasanji bin Muhammad Hamid al-Quraisyi ar-Raniri
yekh Yusuf melanjutkan perjalanan ke Mekkah (sesuai tujuan semula) untuk tunaikan
badah haji dan menambah ilmu.
yekh Yusuf ke Arab (Yaman, Makkah, Madinah, Syam) selama 15 tahun. Belajar pada :
). di Yaman, belajar Tarekat NAQSYABANDIYAH pada
Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji
al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi.
) di Zubaid (Yaman), belajar Tarekat AL-BAALAWIYAH dari Syekh Maulana Sayed Ali.
) di Madinah, belajar Tarekart SYATTARIYAH pada
Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Syattariyah ( Mulla Ibrahim)
) di Damaskus, belajar Tarekat KHALWATIYAH pada
Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi.
yekh Yusuf kembali dari Makkah ke Banten,ketika itu Banten diperintah oleh sahabatnya
ultan Abdul Fattah dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651 - 1682) , hal 95
yekh Yusuf dikawinkan dengan putri Sultan Ageng Tirtayasa dan diangkat sebagai
Mufti penasehat kerajaan.
erjanjian Bongaya
yekh Yusuf ditangkap Kompeni Belanda di Aji Karang, sebelah timur Cimandala, dibawa
e Cirebon lalu ke Batavia & langsung dimasukkan ke dalam penjara benteng.
engikut Syekh Yusuf yang berasal dari orang-orang Makssar Bugis dikirim ke Makassar
an tiba di Makassar pada tanggal 22-04-1684
yekh Yusuf dibuang ke Ceylon pada usia 58 tahun. Ikut bersamanya 2 orang isterinya,
orang pembantu wanita, 12 santri, beberapa orang anak dan murid-muridnya.Ibid hal 108
yekh Yusuf yang ketika berusia 68 tahun dipindahkan pengasingannya ke Kaap di
frika Selatan. Berangkat dengan Kapal Voetboeg bersama 42 orang keluarganya. hal 111
yekh Yusuf bersama robongan tiba di pantai Afrika Selatan setelah berlayar selama
elama 8 bln 23 hr. Mereka ditempatkan di Zandvliet, dekat muara Eerste River pada
anggal 14-06-1694. daerah itu sekarang disebut Macassar Downs dan pantainya disebut
Macassar Beach.
yeh Yusuf wafat di Kaap pada usia 73 tahun

18 tahun di Gowa
5 tahun di Banten dan Aceh
15 tahun di Makkah, Madinah, Yaman, Damaskus
20 tahun di Banten
9 tahun di Sailon
9 bulan dalam pelayaran dari Sailon ke Afrika Selatan
5 tahun di Afrika Selatan
= 73 tahun (termasuk dalam perjalanan)

Penganugrahan gelar Pahlawan Nasional kepada Syeikh Yusuf oleh :


~ Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta pada tahun ...........
~ Pemerintah Afrika Selatan di Cape Town pada tahun 2009
SILSILAH KETURUNAN SYEKH YUSUF
Literatur : Abu Hamid, Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang, hal.129

I Tepukaraeng Daeng Parabbung,


Tunipasulu Sultan Abdul Mufahir
Mahmud Abdul Kadir
(1598 - 1650)
A Gallarang MoncongloE
I Manga'rangi hal 81-85
Daeng Manrabbia Abd Fathi Abd Fattah
B Sayed Ahmad Imam di Banten Sultan Giri (Sultan Alauddin) + Sitti Aminah + Abdullah Khaidir Imam Syafi Syekh Jeddah Sultan Agen Tirtayasa
dei Semarang (gelar) Raja Jawa di Semarang (1652 - 1692) (gelar) (gelar) (1651 - 1692)

C 7.Hafifah 5.Putri Tanpanama 6. Hafilah 1. Sitti Dg Nisanga SYEKH YUSUF AL-KHALWATI 2. Putri Hadijah 3.Putri Tanpanama 4.Putri Tanpanama Sultan Haji
Isteri ke-7 Isteri ke-5 Isteri ke-6 Isteri Pertama 03-07-1626 sd 23-05-1699 Isteri ke-2 Isteri ke-3 Isteri ke-4

D La Patau 8 Abdullah Tuan 5. Asyani + 7 Ince Daeng 1 Sitti Samang 2 Daengta Kare 3. Ratu Bagus Matoa 4. Ratu Bagus Malolo
Raja Bone ke-15 ri Dima (Bima) 6 Syekh Ahmad (Puang Ammang) Sitaba (Muhammad Jalal) (Daengta ri Lempong)

E 6. La Temmasongge + 4 Sitti Fatimah 7. Ratu Hayati + 8. Abdul Hamid 9. Tuan ri Beba 1 Dg Manggawongi 5. Sitti Labiba 2. Mappaurangi 3. Dg. Mangunjungi
Raja Bone ke-21 (1749-1775) dan Karaeng Karunrung (Habibah) (Sultan Sirajuddin)
Raja Gowa ke-28 (1770-1778) + 5. Sitti Labiba Mangkubumi Kerajaan Raja Gowa ke-23
( Sultan Abd Razak Zainuddin) (Habibah) Gowa pd masa pemerin- (1735 - 1737)
tahan Sultan Abd Jalil

F 1. Mallisujawa 2. Sayed Alwi


Daeng Riboko (dari Banten)
H.M.Djunaid
Disusun oleh : Sappo
Pada tanggal : 25 Februari 2015