Anda di halaman 1dari 5

BAB VII KATALIS

A. Pendahuluan
1. Deskripsi Materi Katalis
Katalis adalah suatu zat yang memperbesar laju reaksi, tidak berubah, dan
dapat diperoleh kembali pada akhir reaksi. Namun pada hal – hal tertentu
misalnya katalis AlCl3 tidak ditemukan lagi pada akhir reaksi sintesa organik,
tetapi ditemukan dalambentuk Al(OH)3. Jika suatu zat memperlambat suatu
reaksi
Disebut inhibilita atau katalis negatif. Proses percepatan reaksi melalui
penambahan katali disebut sebagai proses katalisis. Katalis telah luas
pemanfaatannya dalam produksi komersial seperti bahan bakar, bahan – bahan
kimia, makanan, dan obat – obatan. Katalis juga memiliki peranan penting dalam
proses – proses alam seperti fiksasi nitrogen, metabolisme, dan fotosintesis.
Berbeda dengan kenaikkan suhu yang tak bersifat khas artinya semua
reaksi akan dipercepat oleh kenaikkan suhu, maka proses katalisis adalah khas.
Suatu zat yang dapat berperan sebagai katalis untuk suatu reaksi, atau jenis
reaksi tertentu, mungkin tak berpengaruh atau bahkan menghambat pada reaksi
lain. Sebagai contoh, disamping adanya reaksi – reaksi yang bertambah cepat bila
suasana makin asam, dapula yang dipercepat dalam suasana basa.
2. Tujuan Pembelajaran

B. Materi
Sebagai halnya dengan perubahan suhu, pada umumnya proses katalisis
tercermin dalam persamaan laju melalui perubahan dari harga tetapan laju, k.
dalam beberapa reaksi terdapat hubungan yang jelas antara besar tetappan laju
dengan konsentrasi katalis. Sebagai contoh adalah penguraian terkatalisis dari
H2O2 dalam suasana asam, dengan katalis ion iodide, I-. dengan cara mengikuti
volum gas O2 yang dihasilkan oleh reaksi:
1
H2O2 = H2O + O2 . . . . (11. 1)
2
Dapat ditunjukkan bahwa reaksi ini berorde satu, yaitu:
𝑑[𝐻2 𝑂2 ]
− 𝑑𝑡
= 𝑘[𝐻2 𝑂2 ] . . . . (11. 2)
Tetapi besar tetapan laju k ternyata berbanding langsung baik dengan
konsentrasi I- maupun dengan konsentrasi H3O+. dengan demikian k dapat
ditulis dalam bentuk:
K = k’ [I-][H3O+] . . . . (11. 3)
Dengan k’ suatu tetapan baru. Ini berarti bahwa bila digunakan konsentrasi
katalis yang dua kkali lebih besar, laju reaksi menjadi dua kali lebih besar pula.
Hal serupa juga berlaku bagi ketergantungannya pada [H3O]+. Tetapi karena
dalam satu campuran reaksi penguraian tertentu, baik [I-] maupun [H3O+] tak
berubah harga atau dijaga tetap konsentrasinya, maka harga k tetap berupa
tetapan dalam persamaan laju 11. 2.
Berdasar fasanya katalis dapat dibedakan antara katalis homogeny dan
katalis heterogen. Katalis homogeny adalah katalis yang mempunyai fasa sama
dengan pereaksi, semuanya gas, cair yang dapat bercampur atau semuanya dalam
larutan. Contoh katalis homogeny dapat ditunjukkan seperti berikut:
a. Dalam fasa gas:
2 SO2 + O2 2 SO3
b. Dalam fasa cair:
C12H22O11 + H2O C6H12O6 + C6H12O6
glukosa fruktosa
Katalis heterogen adalah katalis yang fasanya tidak sama dengan fasa pereaksi.
Pada umumnya katalis adalah padatan, sedangkan pereaksi terbanyak adalah gas
dan adakalanya cair. Sebagai contoh proses katalisis demikian ini adalah:
a. Prose Haber dalam pembuatan ammonia
N2 + 3 H2 2 NH3
Dengan promoter M0
b. Proses kontak pada pembuatan asam sulfat:
2 SO2 + O2 2 SO3
Terdapat dua teori tentang katalis, yakni: Teori senyawa antara
(diterapkan terutama untuk gas), dan teori adsorpsi (diterapkan terutama untuk
katalis heterogen).
Teori senyawa antara yang dimaksud disini adalah suatu tinjauan yang
menghubungkan peranan katalis dengan teori reaksi kimia, khususnya teori
keadaan transisi (teori laju reaksi absolute). Dalam hubungan ini, peranan suatu
katalis dapat dilihat sebagai suatu zat yang memperkecil energi pengaktifan,
sehingga pada suhu yang sama akan lebih banyak molekul yang dapat mencapai
keadaan peralihan. Peranan ini terlaksana karena kehadiran katalis dalam system
reaksi memberikan jalan atau mekanisme reaksi lain yang memiliki energi
pengaktifan yang lebih rendah. Untuk lebih memperjelas pengertian, perhatikan
reaksi tanpa adanya katalis (i), dan bila reaksi ini dikatalisiskan (ii), berikut:
(i) S S*  P
(ii) S + E ES  E + P
Dengan E = katalis, S = substrat, S* = keadaan trransisi daripada substrat, ES =
keadaan transisi daripada kompleks E dengan kompleks S, dan P = hasil reaksi.
Dalam hal ini katalis, E bergabung dengan reaktan, S sedemikian rupa sehingga
dihasilkan keadaan transisi ES yang mempunyai energi bebas lebih rendah
daripada keadaan transisi pereaksi tanpa katalis S*. akibat dari kenyataan ini,
maka reaksi (ii) lebih cepat disbanding reaksi (i). jadi, katalis member jalan baru
dalam suatu mechanism reaksi dengan energi bebas bagi keadaan transisi yang
lebih rendah.
Lebih lanjut, peran katalis yang memperkecil energi pengaktifan dapat
dikaitkan dengan hokum Arrhenius. Hukumm Arrhenius dapat ditulis dalam
bentuk:
𝐸𝑎
𝑙𝑛 𝑘 = 𝑙𝑛 𝐴 −
𝑅𝑇
Bila energi pengaktifan, Ea diperkecil sebagai akibat kehadiran katalis, maka
𝐸𝑎
faktor 𝑅𝑇 diperkecil pula pada suhu (T) yang sama. Akibatnya penuruna Ea diikuti
kenaikkan tetapan laju, k, atau laju reaksi menjadi lebih besar.
Tinjauan katalis meliputi teori adsorpsi adalah aplikasi pengetahuan
reaksi – reaksi heterogen pada pembahasan katalis. Tentunya untuk katalis
heterogen, misalnya katalis berfasa padat dan pereaksi berfasa gas. Ada beberapa
tahap reaksi heterogen,
1. Difusi pereaksi menuju permukaan.
2. Adsorpsi pereaksi oleh permukaan.
3. Reaksi di permukaan.
4. Desorpsi hasil reaksi dari permukaan.
5. Diffusi hasil reaksi menjauhi permukaan.
Mengingat perincian dari teori ini sangat sulit dipaparkan disini, maka sengaja
tidak dibahas pada buku ini.
Beberapa hal yang penting dicatat mengenai katalis adalah seperti
berikut:
1. Komposisi kimia dari katalis umumnya tidak berubah pada akhir reaksi.
2. Katalis yang diperlukan dalam suatu reaksi hanya dalam jumlah yang
sangat kecil, misalnya untuk penguraian 108 liter H2O2 hanya diperlukan 1
gram Pt.
3. Katalis tidak memulai suatu reaksi, tetapi mempengaruhi laju reaksi.
4. Katalis tidak mempengaruhi kesetimbangan.
5. Katalis bekerja sangat spesifik, artinya khas bagi suatu reaksi
C2H5OH C2H4 (g) + H2O (g)
HCOOH (g) 𝑍𝑛𝑂 → CO (g) + H2 (g)
HCOOH (g) 𝐴𝑙2 𝑂3 → CO (g) + H2O (g)
6. Katalis mempunyai temperature optimum.
7. Katalis dapat diracuni oleh suatu zat dalam jumlah yang sangat sedikit
yang disebut racun katalis.
reaksi katalis Racun katalis

2 H2O2  2 H2O + O2 Pt HCN, HgCl2


2 SO2 + O2  2 SO3 Pt Senyawa arsen

8. Keaktifan katalis dapat diperbesar oleh suatu zat yang disebut pemercepat
katalis (promoter).
Untuk reaksi:
S2O32- (aq) + 2 I- (aq) = I2 (s) + 2 SO42- (aq)
Reaksi ini dikatalissis dengan FeSO4 3, 1 x 10-5 M.
Sebagai promoter CuSO4 4 x 10-7M.
Pada pembuatan ammonia dengan proses Haber efisiensi katalis
dipertinggi dengan menambah Fe2O3 dan Al2O3.
9. Salah satu hasil reaksi dapat berfungsi sebagai katalis untuk reaksi itu. Zat
ini disebut otokatalis.
CH3COOHCH3 + H2O = CH3COOH + CH3OH
2 AsH3 = 2 As + 3 H2
Sebagai otokatalis dalam contoh reaksi ini masing – masing adalah
CH3COOH dan As.
10. Banyak unsure atau senyawa transisi dapat berperan sebagai katalis.
reaksi Katalis

2 KClO3 = 2 KCl + 3 O2 MnO2


C2H4 + H2 = C2H6 Ni (serbuk halus)
2 SO2 + O2 = 2 SO3 Pt atau V2O5
CO + H2O = CO2 + H2 Fe2O3

11. Katalis yang memperlambat laju reaksi disebut katalis negative atau
inhibitor.
reaksi Inhibitor

2 H2O2 = 2 H2O + O2 Asam encer, gliserol


2 H2 + O2 = 2 H2O Iod, CO
H2SO3 + udara = H2SO4 Benzenol, timah (III) klorida

12. Enzim adalah biokatalis, suatu katalis organic yang rumit yang terdiri dari
protein. Enzim mempunyai peranan penting dalam metabolism manusia,
hewan, dan tumbuhan.
Sifat penting dari enzim antara lain:
a. Enzim sangat peka tehadap pengaruh pH.
b. Enzim termasuk katalis homogeny.
c. Ada temperature optimum untuk kegiatan enzimatik.
Hal ini disebabkan oleh:
- Jika suhu bertambah laju reaksi bertambah, tetapi,
- Jika suhu bertambah terjadi penguraian enzim sehingga
konsentrasi enzim berkurang.

Pertanyaan latihan:
1. Berikan definisi umum katalis.
2. Apa yang diketahui mengenai katalis ditinjau dari fasanya.
3. Apa yang dimaksud dengan inhibitor dan beri contoh.
4. Bagaimana fungsi katalis dalam kaitannya dengan mekanisme reaksi.
5. Katalis dapat mempercepat laju reaksi. Bagaimana hal ini dapat
dijelaskan dengan hokum Arrhenius.
6. Apa yang anda ketahui tentang enzim.
7. Apa yang anda ketahui tentang teori katalis.
DAFTAR BACAAN.

Achmad, Hiskia, Kinetika Kimia, Departemen Kimia, FMIPA ITB, Bandung, 1982

Benson, Sidney W., The Foundation of Chemical Kinetics, Mc Graw – Hill Book
Company, Inc. New York, 1960.

Castellan, Gilbert W., Physical Chemistry, Thisrd Edition, Addison Wesley


Publishing Company, Tokyo, 1983.

Frost, Arthus A., and Pearson, Ralph G., Kinetics and Mechanisms, second
edition, Topan Company, LTD, Tokyo, 1961.

Imam Rahajoe, Susanto, Kinetika Kimia, FMIPA – Kimia, ITB, Bandung, 1985.

Journal of Chemical Education, September 1988.

Laidler, Chemical Kinetics, TMH Edition, Tata Mc Graw – Hill Publishing


Company, LTD, New Delhi, 1980.

Wlkinson, Frank, Chemical Kinetics and Reaction Mehcanism, Van Nostrand


Reinold Company, New York, 1980.