Anda di halaman 1dari 63

METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T.

Dundu, MAgr

BAB I
KONSTRUKSI BANGUNAN SIPIL

A. KONSTRUKSI BANGUNAN

Konstruksi Bangunan terdiri dari dua suku kata yaitu konstruksi


(construction) yang berarti membangun, sedangkan bangunan yang
berarti suatu benda yang dibangun atau didirikan untuk kepentingan
manusia dengan tujuan, biaya dan waktu tertentu. Konstruksi bangunan
berarti suatu cara atau teknik membuat/mendirikan bangunan agar
memenuhi syarat kekuatan, keawetan, keindahan, fungsional dan
ekonomis.
Konstruksi Bangunan merupakan bahan bangunan yang disusun
sedemikian rupa sehingga dapat menahan beban dan menentukan pola
bangunan.
Untuk membuat sebuah bangunan dibutuhkan struktur bangunan yaitu
bagaimana membuatkonsep dasar dari sebuah bangunan yang satu sama
lain saling terkait dan memberikan kontribusi terhadap apa yang
dibebankan.
Konstruksi bangunanditerapkan sebaik mungkin karena hal ini menjamin
kekuatan, estetika danumur sebuah bangunan. Dengan konstruksi
bangunan yang kokoh maka menjamin umur bangunan tersebut lama dan
yang terpenting adalah aman untuk digunakan.
Secara umum konstruksi bangunan harus memenuhi 5 syarat yaitu:
1. Kuat dan awet, dalam arti tidak mudah rusak sehingga biaya
pemeliharaan relatif menjadi murah.
2. Fungsional, dalam arti bentuk, ukuran dan organisasi ruangan memenuhi
kebutuhan sesuai dengan fungsinya.
1
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

3. Indah, dalam arti bentuknya enak dipandang mata .


4. Hygienis, dalam arti sirkulasi udara dan cahayanya cukup sehingga
penghuninya merasa nyaman dan sehat.
5. Ekonomis, dalam arti tidak terdapat pemborosan sehingga pembiayaan
menjadi relatif efisien dan efektif.
Bangunan adalah suatu lingkungan buatan atau lingkungan binaan
yang dibuat oleh manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup
sehari-hari seperti sebagai tempat istirahat, berkumpul bersama keluarga,
tempat rekreasi, dan juga sebagai tempat mencari nafkah. Berkaitan
dengan bangunan sebagai lingkungan buatan maka untuk mempercepat
proses pembuatan suatu bangunan dibutuhkan suatu cara/metoda yang
disebut dengan metoda konstruksi.
Metoda konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan pelaksanaan
konstruksi yang mengikuti prosedur serta telah dirancang sesuai dengan
pengetahuan atau standar yang telah diuji cobakan. Cara atau metoda
tersebut tidak terlepas dari penggunaan teknologi sebagai pendukung dan
mempercepat proses pembuatan suatu bangunan, agar kegiatan
pembangunan dapat berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan yang
diharapkan dan lebih ekonomis dalam biaya pemakain bahan, misalnya
bahan bangunan yang umum dipakai pada struktur bangunan gedung
adalah beton dan baja, kemajuan teknologi pada proses pembuatan baja
dan beton berdampak pada peningkatan kekuatan kedua bahan ini yaitu
beton dan baja seperti pembuatan kabel baja bermutu tinggi yang
selanjutnya digunakan dalam peningkatan teknologi beton pratekan yang
lebih ekonomis.
Berkaitan dengan bangunan sebagai lingkungan buatan, teknologi
dibutuhkan agar berbagai kegiatan pembangunan dapat berjalan secara
effisien dan effektif, Juga dengan teknologi akan didapat produk yang lebih

2
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

berkualitas atau lebih sesuai dengan kebutuhan pemakai bangunan dan


lebih ekonomis dalam biaya, pemakaian bahan, dan sebagainya.
Berbagai aspek yang mempengaruhi metode konstruksi dapat
digambarkan dalam gambar berikut.

Gambar 1. Proses yang mempengaruhi Metode Konstruksi

Dalam inovasi teknologi pelaksanaan pembangunan adalah aspek


metoda konstruksi yaitu adalah rangkaian kegiatan dan urutan kegiatan
membangun yang dipadukan dengan persyaratan kontrak (gambar,
spesifikasi, jadwal penyelesaian), ketersediaan tenaga kerja dan kondisi
lingkungan yang dipilih (seperti cuaca, kondisi tanah, dan lain-lain).
Metoda konstruksi merupakan suatu aspek inovasi teknologi yang
dibutuhkan/disyaratkan oleh persyaratan kontrak.
Metoda konstruksi yang dipilih harus disesuaikan dengan berbagai
kondisi lingkungan proyek. Metoda konstruksi dipengaruhi oleh ketersediaan
sumber daya. Misal untuk menguraikan metoda konstruksi pada pembuatan
pondasi di casting yard (tempat fabrikasi) sampai dengan pemasangan

3
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

pondasi, perlu dipertimbangkan seluruh aspek kegiatan sejak dpersiapkan


sampai dengan pemasangannya, antara lain:
a. Kegiatan ditempat pembuatan ( FABRIKASI )
 penyiapan lahan
 penyiapan peralatan
 penyiapan pembuatannya
 penyiapan pengangkutannya
b. Kegiatan transportasi
 Penyiapan alat transportasi
 Penyiapan dari alat tranportasi ke lokasi pelaksanaan
c. Kegiatan di lokasi pelaksanaan
 Penyiapan tempat
 Penyiapan peralatan untuk pemasangan/ penurunan
 Penyiapan pengawasan pelaksanaan dan seterusnya

Proyek konstruksi adalah rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan


upaya pembangunan sesuatu bangunan umumnya mencakup pekerjaan
pokok dalam bidang teknik sipil dan arsitektur, meskipun tidak jarang juga
melibatkan disiplin lain seperti teknik industri, mesin, elektro, geoteknik,
maupun lansekap.
Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun
prasarana. Dalam bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga
dikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada suatu atau pada
beberapa area. Suatu pekerjaan konstruksi merupakan gabungan atau
rangkaian dari banyak pekerjaan.
Pekerjaan konstruksi umumnya diatur oleh seorang manajer konstruksi
(construction manager), serta dilaksanakan dan diawasi oleh manajer
proyek, tenaga teknik perancangan (design engineer) atau arsitek
lapangan (project architect).

4
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

B. MAKSUD DAN TUJUAN PEMBUATAN BANGUNAN

Maksud dan tujuan pembuatan bangunan adalah untuk mengetahui


secara jelas bagaimana cara merencanakan, melaksanakan pembuatan
bangunan dan memperbaikinya agar bangunan itu kuat, awet, sehat, nyaman
ketika digunakan dan harganya murah atau terjangkau.

C. JENIS-JENIS BANGUNAN

Bangunan sebagai suatu benda hasil karya orang umumnya besar dan
mempunyai bobot yang tinggi serta dikerjakan oleh orang banyak. Mengingat
banyaknya macam bangunan dalam bidang teknik, maka dapat dibedakan
menjadi jenis-jenis sebagai berikut :
1. Bangunan kering, yang diantaranya adalah gedung, rumah, jalan, pabrik,
tempat ibadah , dan lain-lain.
2. Bangunan basah, yang diantaranya adalah saluran air, menara air,
dermaga, pelabuhan, bendungan, saluran irigasi dan lain sebagainya.

5
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

BAB II
METODE PELAKSANAAN BANGUNAN GEDUNG

Bangunan adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu


dengan tempat kedudukan baik yang ada di atas, di bawah tanah dan/atau
di air. Bangunan biasanya dikonotasikan dengan rumah, gedung ataupun
segala sarana, prasarana atau infrastruktur dalam kebudayaan atau kehidupan
manusia dalam membangun peradabannya seperti halnya jembatan dan
konstruksinya serta rancangannya, jalan, sarana telekomunikasi, dan lain-lain.

Suatu benda dapat dikatakan sebagai bangunan bila benda tersebut


merupakan hasil karya orang dengan tujuan untuk kepentingan tertentu dari
seseorang atau lebih dan benda tersebut tidak dapat dipindahkan kecuali
dengan cara membongkar.

A. BAGIAN-BAGIAN BANGUNAN GEDUNG

Setiap bangunan merupakan susunan sesuatu yang terdiri dari komponen-


komponen yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya agar
mendapatkan konstruksi yang stabil.

Ditinjau dari sisi susunannya, bagunan gedung dapat dibagi menjadi 3 (tiga)
bagian yaitu sebagai berikut:

1. Bagian bawah

Yaitu bagian-bagian bangunan yang terletak dibawah permukaan lantai


atau bagian bangunan yang ada di dalam tanah, seperti balok beton (sloof),
kolom beton dan pondasi. Bangunan bagian bawah ini berfungsi untuk

6
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

menahan semua beban bangunan yang berada diatasnya termasuk beratnya


sendiri.

2. Bagian tengah

Yaitu bagian-bagian bangunan yang terletak diatas balok beton (sloof),


seperti dinding, pintu dan jendela.

3. Bagian atas

Yaitu bagian-bagian bangunan yang terletak diatas dinding (pasangan


bata), seperti plafond, balok cincin (ring balk), rangka atap dan penutup atap.

B. LINGKUP PEKERJAAN

Dalam menyusun metode pelaksanaan pekerjaan pembangunan gedung


sangat dibutuhkan pengetahuan tentang lingkup pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
Lingkup pekerjaan sangat tergantung pada gambar dan rencana kerja
dan syarat-syarat (RKS).
Dalam pembangunan bangunan gedung yang sederhana biasanya
lingkup pekerjaan meliputi :

a) Pekerjaan Persiapan
 Pekerjaan Pembersihan Lahan
 Pekerjaan Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
 Pembuatan Direksi Keet dan Loss Kerja
 Mobilisasi

7
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

b) Pekerjaan Lantai I
 Pekerjaan Tanah dan Pondasi
 Pekerjaan Beton Bertulang
 Pekerjaan Pasangan dan Plasteran
 Pekerjaan Lantai
 Pekerjaan Atap dan Plafond
 Pekerjaan Pintu, Jendela dan Kunci
 Pekerjaan Pengecetan
 Pekerjaan Instalasi Listrik
 Pekerjaan Instalasi Air

c) Pekerjaan lantai II
 Pekerjaan Beton Bertulang
 Pekerjaan Pasangan dan Plasteran
 Pekerjaan Lantai
 Pekerjaan Atap dan Plafond
 Pekerjaan Pintu, Jendela dan Kunci
 Pekerjaan Pengecetan
 Pekerjaan Instalasi Listrik
 Pekerjaan Instalasi Air

d) Pekerjaan Akhir
 Pembersihan Akhir
 Demobilisasi

C. URAIAN PEKERJAAN DAN METODE PELAKSANAAN

1. Pekerjaan Persiapan

8
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Pekerjaan Persiapan adalah pekerjaan yang dilakukan untuk menyiapkan


lahan dimana bangunan akan dibangun.
Segala sesuatunya menyangkut kelancaran pekerjaan palaksanaan harus
telah disiapkan di lokasi sebelum melaksanakan pekerjaan.
Pekerjaan ini terdiri dari :
 Pekerjaan Pembersihan Lahan
Pekerjaan ini dilaksanakan untuk menjadikan lahan siap dibangun baik
itu mengenai tata letak maupun elevasi,
 Pekerjaan Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
Pekerjaan ini untuk menentukan titik-titik patokan dari bangunan agar
bagunan dibangun sesuai dengan gambar dan spesifikasi.
 Pembuatan Direksi Keet, Gudang dan Loss Kerja
Pekerjaan ini dilaksanakan untuk menunjang kegiatan yang berlangsung
selama pelaksanaan pekerjaan pembangunan. Pada direksi keet
ditempatkan gambar-gambar rencana dan gambar kerja, Jadwal
Pelaksanaan Pekerjaan baik itu berbentuk Kurva S maupun Network
Planning serta semua informasi dalam rangka pelaksanaan pekerjaan.
Gudang disediakan untuk menampung semua material yang tidak
dapat ditampung pada lapangan terbuka. Sedangkan Loss kerja
disiapkan untuk pekerjaan yang dapat dilakukan walaupun dalam
keadaan hujan seperti pekerjaan pembuatan kosen pintu dan jendela
serta daun pintu.
Demi kelancaran kegiatan sebelumnya kontraktor harus memperhatikan
penempatan bahan / material dan lalu lintas.
 Mobilisasi
Mobilisasi dapat berupa tenaga dan peralatan yang akan digunakan
dilokasi pelaksanaan selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung.

9
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

2. Pekerjaan Tanah dan Pondasi


Pekerjaan tanah terdiri dari Galian dan Timbunan tanah dan timbunan
pasir.
a. Penggalian tanah untuk pondasi setempat dilakukan secara hati-
hati serta harus mengetahui ukuran panjang, lebar dan kedalaman
pondasi.
b. Tebing dinding galian tanah pondasi dibuat dengan perbandingan
5 :1 untuk jenis tanah yang kurang baik dan untuk jenis tanah yang
stabil dapat dibuat dengan perbandingan 1 : 10 atau dapat juga
dibuat tegak lurus permukaan tanah tempat meletakkan pondasi.
c. dalamnya suatu galian tanah ditentukan oleh kedalamnya tanah
padat/tanah keras dengan daya dukung yang cukup kuat, min 0.5
kg/cm2.
d. bila tanah dasar masih jelek, dengan daya dukung yang kurang dari
0.5 kg/cm2, maka galian tanah harus diteruskan, sampai mencapai
kedalaman tanah yang cukup kuat, dengan daya dukung lebih dari
0.5 kg/cm2.
e. Lebar dasar galian tanah pondasi hendaknya dibuat lebih lebar dari
ukuran pondasi agar tukang lebih leluasa bekerjanya.
f. Semua galian tanah harus ditempatkan diluar dan agak jauh dari
pekerjaan penggalian agar tidak mengganggu pekerjaan.
g. Seluruh pekerjaan tanah dan pondasi ini harus sesuai dengan
volume pekerjaan, gambar kerja dan RKS.

3. Pekerjaan Beton Bertulang


Pekerjaan beton bertulang meliputi pekerjaan yang berhubungan
dengan pencetakan beton bertulang mulai dari merangkai pembesian,
cetakan, pengecoran beton dan pembukaan cetakan (bekesting).
Pekerjaan Beton Bertulang dalampembangunan gedung dapat berupa:

10
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

a. Pekerjaan Pondasi Telapak, Pondasi Tiang Pancang, Pondasi Sumuran,


atau Pondasi Bor.
b. Pekerjaan Sloof
c. Pekerjaan Kolom Beton
d. Pekerjaan Balok
e. Pekerjaan Balok Latei
f. Plat
g. Tangga

Komposisi/Campuran Beton/Mutu Beton

Komposisi/Campuran beton yang digunakan adalah sesuai sepsifikasi


yaitu : beton mutu K-225 dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr, atau sesuai
dengan gambar kerja. Mutu beton yang digunakan adalah berdasarkan
pada Mix Design dari laboratorium yang disepakati antara Kontraktor
dan Pengendali Kegiatan, Kecuali ditentukan lain, maka sebagai
pedoman tetap dipakai SK SNI T-15.1919.03.. Untuk lantai kerja
menggunakan beton mutu K-100.

Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Direksi/Konsultan


Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat didalam gambar
konstruksi dan gambar arsitektur.

Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat


pengecoran harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh
Direksi/Konsultan Pengawas, yaitu:

 Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan bahan.


 Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara
beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk
berbagai pekerjaan beton harus memenuhi SK SNI T-15.1919.03.

11
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Cetakan dan Acuan Beton

Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan harus bermutu baik
sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas
batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan
uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan harus memenuhi
ketentuan ketentuan didalam SK SNI T-15.1919.03.

Pengecoran

Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis


Direksi/Konsultan Pengawas. Selama pengecoran berlangsung pekerja
dilarang berdiri dan berjalan jalan diatas penulangan. Untuk dapat
sampai ketempat tempat yang sulit dicapai harus digunakan papan
papan berkaki yang tidak membebani tulangan. Kaki kaki tersebut harus
sudah dapat dicabut pada saat beton dicor.

Apabila pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat


penghentiannya harus disetujui oleh Direksi/Konsultan Pengawas. Untuk
melanjutkan bagian pekerjaan yang diputus tersebut, bagian
permukaan yang mengeras harus dibersihkan dan dibuat kasar
kemudian diberi additive yang memperlambat proses pengerasan.
Kecuali pada pengecoran kolom, adukan tidak boleh dicurahkan dari
ketinggian yang lebih tinggi dari 1,5 m.

Perawatan Beton

Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 14 (empat belas) hari. Untuk keperluan tersebut
ditetapkan cara sebagai berikut:

 Dipergunakan karung karung goni yang senantiasa basah sebagai


penutup beton.

12
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil,


permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya
pembesian pada permukaan beton, dan lain lain yang tidak
memenuhi syarat, harus dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya
menurut perintah Direksi/Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya
diganti atau diperbaiki segera atas resiko pemborong.

Semua beton yang dimintakan untuk pekerjaan dalam spesifikasi ini


sudah tercakup dalam harga yang ditawarkan dalam Daftar Volume
Pekerjaan, harga satuan yang ditawarkan untuk pekerjaan ini mencakup
biaya-biaya bekisting, air, pasir, kerikil, semen, pemeliharaan, pengujian
beton, serta semua pekerjaan-pekerjaan lainnya sesuai dengan
persyaratan dan keperluan yang termaksud diatas.

4. Pekerjaan Pasangan dan Plesteran


Yang termasuk dalam Pekerjaan Pasangan adalah:
 Pasangan Batu Kali untuk Pondasi Jalur
 Pasangan Batu Kali untuk Tembok penahan
 Pasangan Batu Bata
 Pasangan Batu Hias

Campuran pada pekerjaan Pasangan


Pekerjaan dinding mempunyai 3 (tiga) macam campuran, yaitu :
capuran 1 Pc : 3 Ps. campuran 1 Pc : 4 Ps dan campuran 1 Pc : 5 Ps.
Pasangan batu bata dinding keliling bangunan dipasang ½ batu, dinding
dimulai dari permukaan sloof hingga peil 20 cm diatas permukaan lantai
dipasang bata ttrasram ½ bata dengan campuran 1 semen banding 2
pasir. Untuk dinding kamar mandi/toilet dipasang batu bata transram 1
Pc : 3 Ps setinggi 1,5 meter dari permukaan lantai. Sedangkan dinding

13
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

lainnya dipasang pasangan bata bata 1Pc : 4Ps dengan campuran 1


semen banding 4 pasir sesuai dengan gambar bestek.

Cara Pemasangan
Cara pemasangan dari pekerjaan pasangan batu bata dan plesteran
sebagai berikut:
 Semua pasangan batu bata sebelum dikerjakan terlebih dahulu
direndam dalam air hingga jenuh.
 Seluruh bata yang digunakan bermutu baik, bentuk seragam, siku
dengan tekstur yang sama, warna merah tua, tanpa retak, tahan
terhadap air dan tidak rapuh.
 Adukan pasangan harus dibuat secara hati hati, diaduk didalam bak
kayu yang memenuhi syarat. Mencampur semen dengan pasir harus
dalam keadaan kering yang kemudian diberi air sampai didapat
campuran yang plastis. Adukan yang telah mengering akibat tidak
habis digunakan sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi dengan
adukan yang baru.
 Semua pasangan dinding harus rata (horizontal), dan pengukuran
harus dilakukan dengan benang.
 Lapisan bata yang satu dengan lapisan bata diatasnya harus
berbeda setengah panjang bata. Bata setengah tidak dibenarkan
digunakan ditengah pasangan bata, kecuali pasangan pada sudut.
 Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga
menurun dan tidak tegak bergigi untuk menghindari retak dikemudian
hari. Pada tempat tempat tertentu sesuai gambar diberi kolom kolom
praktis yang ukurannya disesuaikan dengan tebal dinding.
 Lubang untuk alat alat listrik dan pipa yang ditanam didalam dinding,
harus dibuat pahatan secukupnya pada pasangan bata (sebelum
diplester ). Pahatan tersebut setelah dipasang pipa/alat, harus ditutup

14
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

dengan adukan plasteran yang dilaksanakan secara sempurna,


dikerjakan bersama-sama dengan plasteran seluruh bidang tembok.
 Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu
hujan lebat harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas
dari tembok dengan sesuatu penutup yang sesuai (plastik). Dinding
yang telah terpasang harus diberi perawatan dengan cara
membasahinya secara terus menerus paling sedikit 7 hari setelah
pemasangannya.
 Pekerjaan plesteran yang lainnya dilakukan pada permukaan beton,
kolom, sloof, dan ring balk atau sesuai dengan gambar atau petunjuk
Direksi/Konsultan Pengawas.
 Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, pada bidang-bidang dinding
yang akan diplester harus disiram, dibasahi dengan air bersih, bebas
dari kotoran dan lain-lain atau sesuai dengan petunjuk
Direksi/Konsultan Pengawas, permukaan plesteran harus rapid an
rata.
 Pekerjaan plesteran dilakukan pasir yang halus dengan permukaan
yang rapi dan tidak bergelombang.

5. Pekerjaan Lantai
Pekerjaan lantai dapat dibedakan menurut penutup lantainya. Pekerjaan
ini sudah termasuk dengan lapisan dibawah penutup lantai.
Penutup lantai dapat terdiri dari :
 Lantai keramik
 Lantai Granit
 Lantai Marmer
 Lantai Teraso

15
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Lantai Beton yang di floor dan dibuat modif dengan peralatan


seadanya.

Pelaksanaan
 Pelaksanaan pekerjaan ini dimulai dengan perataan dan pemadatan
tanah dibawah lantai, penghamparan pasir, dan pengecoran
dengan campuran 1:3:5.
 Menggukur ruangan yang akan dipasang keramik.
 Membuat gambar kerja pasangan keramik bedasarkan hasil
pengukuran sehingga dapat ditentukan pemotongan pada pinggir
ruangan sehingga keramik yang terbuang lebih sedikit.
 Membuat garis bantu kedataran dan ketegakan dengan benang
ukur. Membuat kepalaan keramik bedasarkan ukuran gambar kerja
yang sudah dibuat.
 Pemasangan dengan mengikuti patokan sudah dibuat.
 Mengisi antara keramik dengan bahan yang ditentukan dalam RKS.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan


 Pada saat membeli keramik dari toko material sebelumnya dipisahkan
dahulu keramik yang sewarna, meskipun dengan type keramik yang
sama, jika waktu pembakarannya berbeda akan meyebabkan
perbedaan warna hal ini akan menggurangi keindahan pasangan
keramik.
 Keramik mempuyai ukuran kualitas yang biasa disimbolkan dengan
KW 1, KW 2, KW 3. KW 1 adalah keramik dengan kualitas terbaik disusul
dengan KW 2 dan KW 3.

16
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Untuk jenis keramik tertentu biasanya direndam sampai basah jenuh,


sehingga dalam proses pemasangan nantinya tidak meyerap air
semen.
 Meyelesaikan pekerjaan pipa yang akan ditanam didalam keramik,
agar nantinya tidak terjdi bongkar pasang.

6. Pekerjaan Atap dan Plafond

Pekerjaan atap adalah pekerjaan untuk melindungi bangunan dari


pengaruh panas dan hujan. Sedangkan pekerjaan Plafond adalah pekerjaan
untuk menutup bagian langit-langit yang terlihat tidak rapih. Pekerjaan atap
terdiri dari pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:

 Kuda-kuda
 Gording
 Reng dan Kaso
 Penutup Atap

a. Pekerjaan Kuda-kuda
Pekerjaan Kuda-kuda ini sangat tergantung dari jenis material yang
digunakan dan gambar. Bahan untuk Kuda-kuda yang sering digunakan
adalah:
 Kayu
 Baja
 Baja ringan
Biasanya pekerjaan merangkai kuda-kuda ini dilakukan dibagian bawah
setelah siap dipasang barulah diangkat (erection).

17
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 2. Kuda-kuda Kayu

18
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 3. Kuda-kuda Baja Profil Siku

Gambar 4. Kuda-kuda Baja Ringan

19
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

b. Pekerjaan Gording
Pekerjaan Gording dilakukan setelah pekerjaan kuda-kuda dilaksanakan
atau terpasang. Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk mengikat kuda-kuda
yang satu dengan lainnya serta tempat untuk menempatkan reng dan
kaso. Material yang digunakan biasanya mengikuti material yang
digunakan pada kuda-kuda.

Gambar 5. Gording Kayu

Gambar 6. Gording Baja Profil

20
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 7. Gording Baja Ringan

c. Pekerjaan Reng dan Kaso

Pekerjaan Reng dan Kaso adalah pekerjaan yang bertumpuh pada


gording. Pekerjaan ini dilaksanakan dengan jarak yang sesuai penutup atap
yang akan digunakan.

d. Penutup Atap
Pekerjaan akhir dari pekerjaan atap adalah penutup atap. Penutup atap
terbuat dari berbagai jenis material dan ukuran, baik dari beton, tanah liat,
seng, dan material lain.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah pekerjaan kaso dan reng selesai dibuat.
Namun untuk konstruksi dengan menggunakan baja ringan biasanya

21
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

langsung dipasang setelah gording terpasang. Hal ini dimungkinkan karena


jarak antar gording sudah diatur sesuai dengan jenis penutup atap yang
akan digunakan.

7. Pekerjaan Pintu, Jendela dan Ventilasi


Pekerjaan ini biasanya menggunakan material kayu atau aluminium.
Ukuran dan dimensi dari setiap jenis dari pekerjaan ini sesuai dengan
gambar sedangkan material yang digunakan sesuai dengan spesifikasi
teknis.
Pintu dan jendela biasanya dikelompokkan sesuai dengan bagaimana
bukaannya, hal ini juga sangat erat hubungannya dengan jenis perangkat
alat penggantung dan pengunci yang akan dipakai untuk melekatkan
daun pintu/jendela pada rangkanya dalam manajemen proyek.
Dilihat dari cara membukanya daun pintu, pintu dibedakan menjadi:
 Pintu sorong (slide a door) yang membukanya didorong horisontal ke
kiri/kanan atau vertikal ke sisi atas, daun-daun pintu ini ditempatkan
pada belakang rangka atau pada alat/rel, bagian jendela dapat
dibuka penuh.
 Pintu lipat, yang membukanya dengan cara didorong dan melipat di
kanan/kiri, daun-daun pintu diletakan/digantung pada alat/rel,
bagian pintu dapat dibuka ± 90%.
 Pintu Gulung (roll a door), yang membukanya dengan cara digulung
di atas, daun-daun pintu digulung pada alat, bagian pintu dapat
dibuka penuh.
 Pintu sayap tunggal/ganda, daun pintu digatung pada sisi dalam/luar
rangka dengan alat/engsel. Pintu ini dibedakan menjadi pintu
kiri/pintu kanan. Untuk mengetahui perbedaan ini dengan cara pada
saat kita berdiri dan punggung menempel pada alat penggantung,
apabila bukaan daun pintu sesuai dengan gerakan membuka

22
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

tangan kiri maka pintu tersebut adalah pintu kiri demikian juga untuk
pintu kanan. Bagian pintu dapat dibuka penuh.
Jendela biasanya dikelompokkan sesuai dengan bukaanya, jendela
yang terpasangnya mati tidak terbuka sama sekali, akan memberikan
tingkat kekedapan terhadap cuaca paling besar. Jendela yang terbuka
untuk ventilasi, pembersihan dan jalan keluar darurat mempunyai daun-
daun jendela yang membukanya dengan cara disorong, diayun atau
diputar.
Berikut ini adalah jenis-jenis utama bekerjanya jendela:
 Jendela gantung ganda, mempunyai daun-daun jendela yang
didorong secara vertikal. Daun-daun jendela ini ditempatkan pada alur
depan rangka atau pada alat/rel. Bagian jendela dapat dibuka ± 50%.
 Jendela gantung ganda, mempunyai daun-daun jendela yang
didorong secara horisontal. Daun-daun jendela ini ditempatkan pada
alur depan rangka atau pada alat/rel. Bagian jendela dapat dibuka ±
50%.
 Jendela sayap, mempunyai daun-daun jendela yang digantung pada
ambang atas/bawah atau pada tiang. Daun-daun jendela ini
ditempatkan pada engsel depan/belakang. Bagian jendela dapat
dibuka penuh.
Untuk meletakkan daun pintu atau daun jendela pada dinding,
dipasang rangka yang disebut kusen, kusen untuk tempat tinggal terbuat
dari kayu atau logam. Kusen kayu memberikan penampilan yang hangat
dan indah dari tampilan tekstur serat-serat kayu yang dimilikinya,
mempunyai nilai penyekat panas yang baik dan pada umumnya tahan
terhadap pengaruh cuaca. Rangka jenis ini dapat berupa produk pabrik
yang telah diselesaikan dengan pelapisan cat, pewarnaan atau masih
berupa kayu asli tanpa pelapisan. Kusen dari bahan logam berbeda dari
kayu, kusen logam tidak terpengaruh bila basah, kusen logam ini tidak

23
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

memiliki kehangatan dalam penampilan dan memberikan daya tahan


yang kecil terhadap perpindahan panas. Kusen logam dapat terbuat dari
alumunium, baja atau baja tak berkarat (stainless-steel), warna alami
logam dapat ditutup dengan lapisan cat dan dirawat dengan baik untuk
mencegah korosi.
Cara pemasangan kusen pintu adalah sebagai berikut dalam
manajemen proyek;
 Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah
dijangkau.
 Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal kusen terhadap as
bouwplank untuk menentukan kedudukan kusen.
 Pasang angker pada kusen secukupnya.
 Dirikan kusen dan tentukan tinggi kedudukan kusen pintu yaitu 2 meter
dari tinggi bouwplank.
 Setel kedudukan kusen pintu sehingga berdiri tegak dengan
menggunakan unting-unting.
 Pasang skur sehingga kedudukannya stabil dan kokoh.
 Pasang patok untuk diikat bersama dengan skur sehingga kedudukan
menjadi kokoh.
 Cek kembali kedudukan kusen pintu, apakah sudah sesuai pada
tempatnya, ketinggian dan ketegakan dari kusen.
 Bersihkan tempat sekelilingnya.

Sedangkan cara pemasangan Kusen Jendela adalah sebagai berikut:

 Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah
dijangkau.
 Rentangkan benang selebar setengah ukuran batu bata dari as
bouwplank.
 Pasang bata setengah batu setinggi dasar kusen jendela .

24
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Rentangkan benang setinggi 2 meter dari bouwplank.


 Pasang kusen jendela setinggi benang tersebut.
 Pasang kusen jendela sampai betul-betul tegak dengan pertolongan
unting-unting.
 Pasang skur agar kedudukannya stabil dan kuat.
 Cek kembali posisi kusen jendela sampai terpasang pada keadaan
yang benar.
 Bersihkan tempat sekelilingnya.
Pintu terdiri dari kusen atau gawang dan daun pintu. Kusen dipasang tetap
atau mati di dalam tembok, sedang daunnya digantungkan pada kusen
dengan menggunakan engsel sehingga dapat berputar pada engsel,
berputar ke kiri atau ke kanan. Namun, daun pintu ada yang tidak berputar
pada engsel, melainkan bergeser di depan kusennya. Pintu tersebur
dinamakan dengan pintu geser. Kedudukan daun pintu pada saat ditutup
melekat dengan sponing pada kusen pintu, kecuali pada bagian bawah,
kedudukannya dibuat beberapa cm di atas lantai dalam manajemen
proyek. Cara pemasangannya adalah:
 Ukur lebar dan tinggi kusen pintu.
 Ukur lebar dan tinggi daun pintu.
 Ketam dan potong daun pintu (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi).
 Masukkan/pasang daun pintu pada kusennya, stel sampai masuk
dengan toleransi kelonggaran 3 – 5 mm, baik ke arah lebar maupun
kearah tinggi.
 Lepaskan daun pintu, pasang/tanam engsel daun pintu pada tiang
daun pintu (sisi tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah 30 cm, dan
dari sisi bagian atas 25 cm (untuk pintu dengan 2 engsel), dan pada
bagian tengah (untuk pintu dengan 3 engsel)

25
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Masukkan/pasang lagi daun pintu pada kusennya, stel sampai baik


kedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang kusen pintu tempat
engsel yang sesuai dengan engsel pada daun pintu.
 Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun pintu dengan cara
melepas pennya, kemudian pasang/tanam pada tiang kusen
 Pasang kembali daun pintu pada kusennya dengan memasangkan
engselnya, kemudian masukkan pennya sampai pas, sehingga
terpasanglah daun pintu pada kusen pintunya.
 Coba daun pintu dengan cara membuka dan menutup.
 Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun pintu dengan cara
melepaskan pen.
 Stel lagi sampai daun pintu dapat membuka dan menutup dengan
baik, rata dan lurus dengan kusen.
Sedangkan untuk pemasangan daun pintu adalah sebagai berikut :
 Ukur lebar dan tinggi kusen jendela.
 Ukur lebar dan tinggi daun jendela.
 Ketam dan potong daun jendela (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi).
 Masukkan/pasang daun jendela pada kusennya, stel sampai masuk
dengan toleransi kelonggaran 3 – 5 mm, baik ke arah lebar maupun
kearah tinggi.
 Lepaskan daun jendela, pasang/tanam engsel daun jendela pada
tiang daun jendela (sisi tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah 15-20
cm dari bagian tepi (untuk putaran horizontal) atau engsel ditanam
pada bagian ambang atas daun jendela dengan jarak 15-20 cm dari
bagian tepi (untuk putaran vertikal).
 Masukkan/pasang lagi daun jendela pada kusennya, stel sampai baik
kedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang/ambang atas jendela
tempat engsel yang sesuai dengan engsel pada daun jendela.

26
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun jendela dengan cara


melepas pennya, kemudian pasang/tanam pada tiang/ambang atas
kusen
 Pasang kembali daun jendela pada kusennya dengan memasangkan
engselnya, kemudian masukkan pennya sampai pas, sehingga
terpasanglah daun jendela pada kusen jendelanya.
 Coba daun jendela dengan cara membuka dan menutup.
 Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun jendela dengan cara
melepaskan pen.
 Stel lagi sampai daun jendela dapat membuka dan menutup dengan
baik, rata dan lurus dengan kusen.

27
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 8. Kusen Pintu dan Jendela

28
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

8. Pekerjaan Pengecatan
Pekerjaan pengecatan digunakan untuk pengecatan dinding tembok dan
plafond Plywood serta pengecatan bidang kayu. Pengecatan meliputi
seluruh permukaan dinding sebelah dalam dan sebelah luar tembok. Cat
yang digunakan adalah cat tembok jadi, berkualitas baik sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditentukan. Sebelum pengecatan dimulai, permukaan
dinding yang akan dicat harus dibersihkan, sisa-sisa tonjolan spesi bekas
pemasangan bata harus diratakan, lubang-lubang yang ada harus ditutup
dan diplamir pada bagian tertentu di amplas sehingga permukaan dinding
yang akan dicat benar-benar rata. Warna cat yang diinginkan adalah
sesuai dengan petunjuk RKS atau petunjuk Direksi/Konsultan Pengawas.
Semua permukaan pengecatan harus rata dan semua ketebalan yang
sama dengan 3 kali pengulangan pengecatan. Semua permukaan baik
beton dan kayu sebelum dicat didempul atau digosok dengan kertas
amplas. Pencampuran kekentalan cat, baik cat tembok maupun cat kilat
kayu disesuaikan dengan arahan pabrik atau petunjuk direksi/konsultan
pengawas. Sebelum dilakukan pelaksanaan pekerjaan, kontraktor akan
menunjukan contoh warna dan merk yang akan digunakan dan dimintai
persetujuan direksi/konsultan pengawas.

9. Pekerjaan Instalasi Listrik

Pekerjaan ini dilakukan terutama memasang pipa-pipa kabel listrik yang


ditanam didalam beton, kabel yang dipakai adal NYa 3 x 2.5 mm, dilakukan
pemasangan pitting, baik sakelar, stop kontak, dan titik api, serta instalasi
jaringan baik didalam pipa maupun di atas plafon. Pemasangan jaringan
listrik mengikuti petunjuk pemasangan dari PLN.

29
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

10. Pekerjaan Lainnya

Sebelum diadakan Serah Terima-1 (Pertama) Pekerjaan, Kontraktoer pelaksana


wajib membersihkan semua bagian Pekerjaan, terutama pada atap, lantai
dinding, pintu/jendela, plafond dan lain-lain. Kontraktor Pelaksana juga harus
membersihkan barang bekas/peralatan yang diperlukan. Semua sisa
materialyang digunakan lagi harus dibawa ke luar dari lingkungan pekerjaan,
sehingga halaman benar-benar bersih dan rapih.

30
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

BAB III
METODE PELAKSANAAN BANGUNAN JEMBATAN

Tipe jembatan mengalami perkembangan yang sejalan dengan sejarah


peradaban manusia, dari tipe yang sederhana sampai dengan tipe yang
kompleks, dengan material yang sederhana sampai dengan material yang
modern. Jenis jembatan yang terus berkembang dan beraneka ragam
mengakibatkan seorang perencana harus tepat memilih jenis jembatan yang
sesuai dengan tempat tertentu.

Jembatan merupakan suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan


jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya
jalan lain (jalan alus atau jalan lalu lintas biasa). Adanya jembatan, transportasi
darat yang terputus oleh sungai (floodway) dapat diatasi. Jembatan memiliki
arti penting bagi setiap orang, dengan tingkat kepentingan yang berbeda-
beda tiap orangnya. Jembatan bukan hanya kontruksi yang berfungsi
menghubungkan suatu tempat ke tempat lain akibat terhalangnya suatu
rintangan, namun jembatan merupakan suatu sistem transportasi, jika jembatan
runtuh maka sistem akan lumpuh.

Gambar 9. Konstruksi Jembatan

31
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Perencanaan sebuah jembatan menjadi hal yang penting, terutama


dalam menentukan jenis jembatan apa yang tepat untuk dibangun di tempat
tertentu dan metode pelaksanaan apa yang akan digunakan. Penggunaan
metode yang tepat, praktis, cepat dan aman, sangat membantu dalam
penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi.

JENIS-JENIS JEMBATAN:
1.Jembatan diatas sungai
2.Jembatan diatas saluran sungai irigasi/ drainase
3.Jembatan diatas lembah
4.Jembatan diatas jalan yang ada / viaduct

BAGIAN-BAGIAN KONSTRUKSI JEMBATAN


Bagian-bagian Konstruksi Jembatan terdiri dari :
1. Konstruksi Bangunan Atas (Superstructures)
Konstruksi bagian atas jembatan meliputi :
•Trotoir : - Sandaran + tiang sandaran
-Peninggian trotoir / kerb
-Konstruksi trotoir
•Lantai kendaraan + perkerasan
•Balok diafragma / ikatan melintang
•Balok gelagar
•Ikatan pengaku (ikatan angin, ikatan rem,ikatan tumbukan)
•Perletakan (rol dan sendi)
2. Konstruksi Bangunan Bawah (Substructures) Konstruksi bagian bawah
jembatan meliuputi :
 Pangkal jembatan / abutment + pondasi
 Pilar / pier + pondasi
Pada umumnya suatu bangunan jembatan terdiri dari enam bagian pokok,
yaitu :

32
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

1. Bangunan atas
2. Landasan
3. Bangunan bawah
4. Pondasi
5. Oprit
6. Bangunan pengaman jembatan.

KLASIFIKASI JEMBATAN
Klasifikasi Jembatan menurut kegunaannya :
1. Jembatan jalan raya (highway brigde)
2. Jembatan pejalan kaki (foot path)
3. Jembatan kereta api (railway brigde)
4. jembatan jalan air
5. jembatan militer
6. jembatan penyebrangan

Klasifikasi Jembatan menurut jenis materialnya :


1. jembatan kayu
2. jembatan baja
3. jembatan beton bertulang dan pratekan
4. jembatan komposit.

Pengertian jembatan baja :


Jembatan baja yaitu jembatan yang mayoritas bahannya dari baja.sedangkan
konstruksinya dipertimbangkan pada kebutuhan bentang,bisa berbentuk
rangka bisa hanya merupakan baja propil menerus.

Kelebihan Jembatan Rangka Batang


 Gaya batang utama merupakan gaya aksial

33
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Dengan sistem badan terbuka (open web) pada rangka batang


dimungkinkan menggunakan tinggi maksimal dibandingkan dengan
jembatan balok tanpa rongga.

Kelemahan Jembatan Rangka batang


Efisiensi rangka batang tergantung dari panjang bentangnya, artinya jika
jembatan rangka batang dibuat semakin panjang,maka ukuran dari rangka
batang itu sendiri juga harus diperbesar atau dibuat lebih tinggi dengan sudut
yang lebih besar untuk menjaga kekakuannya, sampai rangka batang itu
mencapai titik dimana berat sendiri jembatan terlalu besar ,sehingga rangka
batang tidak mampu lagi mendukung beban tersebut.

Keuntungan dan Kerugian memakai material besi/baja dari beton

Keuntungan:
 Besi baja mempunyai kuat tarik dan kuat tekan yang tinggi, sehingga
dengan material yang sedikit bisa memenuhi kebutuhan struktur.
 Keuntungan lain bisa menghemat tenaga kerja karena besi baja diproduksi
di pabrikan dilapangan hanya memasang saja.
 Setelah selesai masa layan, besi baja bisa dibongkar dengan mudah dan
dipindahkan ke tempat lain, setelah masa layan, jembatan baja bisa
dengan mudah diperbaiki dari karat.
 Pemasangan jembatan baja di lapangan lebih cepat dibandingkan
dengan jembatan beton.

Kerugian
 Bisa berkarat
 Lebih berisik jika dilewati beban seperti kereta api

34
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Klasifikasi Jembatan menurut letak lantai jembatan :


 Jembatan Lantai Atas yaitu jembatan dimana posisi lantai jembatan
(sebagai tempat lalu lintas kendaraan) terletak disisi atas struktur utama
jembatan
 Jembatan Lantai Bawah yaitu jembatan dimana posisi lantai jembatan
(sebagai tempat lalu lintas kendaraan) terletak disisi bawah struktur utama
jembatan
 Jembatan Lantai Tengah yaitu jembatan dimana posisi lantai jembatan
(sebagai tempat lalu lintas kendaraan) terletak disisi tengah struktur utama
jembatan
 Jembatan Lantai Ganda yaitu jembatan dimana sisi atas dan sisi bawah
dari jembatan digunakan untuk lalu lintas kendaraan

Bagian-bagian struktur utama dari konstruksi jembatan adalah struktur


pondasi, struktur abutment, struktur pilar, struktur lantai jembatan, struktur kabel,
dan struktur oprit.
Adapun metoda konstruksi terpenting dalam konstruksi jembatan juga
sangat bervariasi dan sangat ditentukan oleh banyak pertimbangan, antara
lain:
 Kondisi medan,
 Tipe alat yang telah dimiliki,
 Kondisi akses menuju ke lokasi proyek,
 Pertimbangan lalu lintas lama,
 Tipe material dan struktur jembatan yang digunakan, apakah baja atau
beton.
 Pertimbangan waktu pelaksanaan

35
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Bagian metoda konstruksi terpenting dalam konstruksi jembatan adalah


proses erection lantai jembatan, dimana banyak metoda dimungkinkan untuk
melakukan erection tersebut.

METODE PELAKSANAAN
A. STRUKTUR PONDASI
Struktur pondasi yang digunakan dalam pembangunan jembatan sangat
tergantung pada kondisi tanah, kondisi medan dan ketersediaan peralatan.
Dalam Buku ini hanya akan dijelaskan salah satu jenis pondasi dan metode
pelaksanaannya yaitu pondasi bored pile.

1. Spesifikasi Teknis
Berikut ikhtisar spesifikasi teknis pondasi bored pile :
(1) Platform dan Steel Casing
(a) Platform menumpu pada Steel Casing harus dalam kondisi stabil
dan mampu memikul semua beban operasional (beban mati dan
beban hidup) selama pelaksanaan pekerjaan pondasi bored pile.
Persyaratan lainnya sebagai berikut :
(i) Elevasi permukaan Platform harus flat dan aman terhadap muka
air laut pada saat pasang.
(ii) Platform terlindung dari benturan boat dan kapal. Pada malam
hari dilengkapi dengan lampu peringatan dan di sekitarnya
terpasang rambu navigasi.
(b) Setting steel casing
(i) Diameter dalam casing > 200mm s/d 400mm dari diameter
rencana bored pile.
(ii) Casing dapat dipancang menggunakan static compaction,
vibrasi dan hammering Chomaedhi

36
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

(iii) Permukaan atas casing > 1.5 s/d 2.0 m dari permukaan
maksimum air laut untuk kestabilan tekanan air di dalam casing.
(iv) Kedalaman casing di bawah Sea Bed ditentukan atas dasar hasil
perhitungan untuk kebutuhan stabilitas casing terhadap beban
vertikal dan gaya-gaya lateral serta pengaruh kedalaman local
scouring.

Gambar 10. Steel Casing


Steel Casing D =270 cm terpasang

Gambar 11. Pemancangan Steel Casing

37
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 12. Platform batching plant

(2) Pelaksanaan Pengeboran


a. Sebelum drilling machine diletakkan pada posisinya, semua
persiapan kerja harus dicheck.
b. Drilling machine dan slurry yang sesuai harus digunakan.
c. Dasar bawah dan atas dari drilling machine setelah diinstall harus flat
dan stabil.
d. Selama pengeboran, tidak boleh terjadi displacement atau
settlement.
e. Selama pengeboran, harus dibuat catatan pelaksanaan
pengeboran.
f. Tanah yang ada dalam casing harus dibersihkan setelah mencapai
dasar casing.
3. Persyaratan pembersihan lubang
a. Setelah kedalaman elevasi dasar lubang bored tercapai, maka
kedalaman dan diameter lubang harus dicheck oleh engineer.
b. Lubang bor harus dibersihkan.

38
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

c. Setelah pemasangan reinforcement cage pada lubang bor,


sebelum dilakukan pengecoran perlu dilakukan pengecekan ulang
indek kinerja slurry pada lubang bor dan ketebalan endapan
(deposit) pada dasar lubang.
d. Pembersihan lubang tidak dapat dilakukan dengan menambah
kedalaman bored pile.

B. TEKNOLOGI PENGEBORAN PONDASI BORED PILE


Metode pembuatan lubang bor yang digunakan biasanya ditentukan oleh
kontraktor dengan mempertimbangkan berbagai faktor yaitu kondisi lokasi
proyek terutama lokasi di air atau di darat, jenis tanah, dan efisiensi.
Ada 3 metode pelaksanaan pembuatan lubang bor yang umum
digunakan yaitu :
(1) Dry Method
Metode ini digunakan jika muka air tanah rendah dan tanah
cukup cohesive, pada Stiff Clay, Soft and Hard Rock, sand with
cohesive material.
(2) Casing Method
Metode ini digunakan pada tanah yang ”self-restraining” atau
tanah yang rawan terhadap ”over breaking”.
(3). Wet/Slurry Method
Metode ini digunakan jika pengeboran dilaksanakan dilokasi
dimana kondisi tanahnya rawan terhadap “over break”,
kondisi dibawah muka air, dan pada kedalaman yang tidak
memungkinkan menggunakan casing.

C. PERALATAN PENGEBORAN PONDASI BORED PILE


Ada dua aktivitas utama dalam pengeboran yaitu bagaimana membuat
lubang bor dan bagaimana membuang material hasil pengeboran.

39
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Pemilihan peralatan pengeboran umumnya didasarkan atas jenis tanah


atau batuan yang akan digali dan bukan ditentukan oleh kondisi air tanah.
Masing masing kontraktor dan ahli bor dapat memilih peralatan yang
berbeda untuk lokasi yang sama dan masing-masing akan memiliki metode
berbeda dalam mensetting dan mengoperasikan peralatan tersebut.

1. Drilling Auger dengan Open Helix atau Flight


Peralatan pengeboran ini merupakan yang paling sederhana yang
penggunaannya dengan memberikan torsi pada batang torsi yang disebut
”kelly bar”. Pada pengeboran yang dalam, proses pengeluaran material
dilakukan dengan mengangkat peralatan pengeboran keatas. Jika hal ini
dilakukan pada kondisi berair, maka pada saat peralatan diangkat akan
terjadi ”pumping-in” di bawah peralatan mata bor yang akan berpotensi
menyebabkan kelongsoran lubang.

2. Drilling Auger dengan Drilling Bucket


Drilling bucket digunakan jika alur yang ada pada peralatan pengeboran
”open helix” tidak dapat secara efekti mengeluarkan tanah. Misalnya pada
tanah tidak kohesif. Tanah yang telah digali oleh peralatan pengeboran
akan dipaksa masuk kedalam ”bucket” dan dicegah keluar bucket. Setelah
Drilling Bucket penuh, maka drilling bucket harus diangkat keatas untuk
mengeluarkan meterial hasil pengeboran. Pengaruh ”pumping-in” juga
akan terjadi pada kasus Drilling bucket. Untuk mengurangi pengaruh
tersebut, metode yang digunakan adalah dengan membuat saluran khusus
pada Drilling bucket untuk menyalurkan air yang berada di atas bucket ke
bawah.
3. Air/Water Lift Drilling / Reverse Circulation Drilling (RCD) System

40
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Peralatan pengeboran ini menggunakan tekanan udara atau dapat juga


tekanan air yang diberikan pada lokasi sedikit diatas mata bor yang
berfungsi untuk mengeluarkan material hasil pengeboran ke atas.

D. ERECTION
Bagian metoda konstruksi terpenting dalam konstruksi jembatan adalah
proses erection lantai jembatan, dimana banyak metoda dimungkinkan
untuk melakukan erection tersebut.
Beberapa tipe metoda erection lantai jembatan yang umumnya digunakan
untuk berbagai konstruksi jembatan :
 Sistem Perancah
 Sistem Service Crane
 Sistem Launching Truss
 Sistem Penggunaan Counter Weight dan Link-set
 Sistem Launching Gantry
 Sistem Traveller atau Heavy Gantry

1. Sistem Perancah
Keuntungan sistem perancah adalah:
 Minimnya alat angkat berat (service crane atau gantry) yang
diperlukan, mengingat pengecoran yang dilakukan adalah ditempat
 Lebih minimnya biaya erection akibat tidak terlibatnya alat angkat
berat, khususnya bila tipe ini telah dimiliki (heavy duty shoring)
Kerugian sistem perancah adalah:
 Produktivitas yang relatif rendah, karena pekerjaan cor ditempat
menuntut waktu yang lebih lama untuk proses persiapan (formwork
dan peracah) dan proses setting beton.
 Menurut tipe tanah yang harus baik, dan bila tanah yang ada untuk
dudukan perancah kurang baik maka akan berakibat perlunya

41
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

struktur pondasi khusus (luasan telapak yang lebar atau penggunaan


pondasi dalam).

Gambar 13. Sistem Perancah

2. Sistem Service Crane


Keuntungan sistem servis crane adalah
 Produktivitas erection yang tinggi.
 Tidak terpengaruh kepada tipe tanah yang ada dibawah lantai
jembatan (sebatas mampu dilewati untuk manuver alat berat).
Kerugian sistem servis crane adalah
 Umumnya penggunaan alat berat seperti ini menuntut biaya tinggi
mengingat biaya sewa crane dengan kapasitas angkat tinggi adalah
relative mahal.
 Perlunya access road yang memadai untuk memobilisasi service
crane.

42
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 14. Sistem Service Crane

3. Sistem Launching Truss


Keuntungan sistem launching truss adalah Tidak terpengaruh kepada
kondisi dibawah lantai jembatan (katakanlah sepenuhnya sungai)
Kerugian sistem launching truss adalah:
 Umumnya penggunaan alat berat seperti ini juga menuntut biaya
tinggi.

43
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Diperlukan system booking alat yang memadai mengingat tipe ini


belum dimiliki banyak oleh sub kontraktor erection.
 Produktivitas relatif lebih rendah dibandingkan sistem service crane,
dimana perlu waktu extra untuk erection truss dan sistem angkat dan
menempatkan girder.

Gambar 15. Sistem Launching Truss


4. Sistem Penggunaan Counter Weight dan Link-set
Sistem counter weight akan diperlukan yang biasanya diambil dari
konstruksi rangka baja yang belum dipasang ditambah dengan extra
beban, agar erection dengan sistem cantilever dapat dilakukan.

44
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Penggunaan “link set” juga dapat dilakukan untuk menghubungkan satu


span rangka yang sudah jadi sebagai konstruksi counter weight bagi
konstruksi rangka di span selanjutnya.

Gambar 16. Sistem Penggunaan Counter Weight dan Link-set

5. Sistem Launching Gantry

Sistem ini digunakan untuk konstruksi jembatan dimana lantai


jembatannya berupa struktur beton precast segmental-box, maka
penggunaan alat launching gantry umumnya dapat digunakan, dimana
sistem ini mempunyai kecepatan erection tinggi yang didukung sistem
feeding segmental dari sisi belakang alat (tidak dari bawah karena
pertimbangan lalu lintas, misalnya).

45
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 17. Sistem Launching Gantry


6. Sistem Traveller
Sistem traveller umumnya digunakan untuk tipe jembatan balance box
cantilever, khususnya untuk lantai jembatan dengan beton cor ditempat.
Bila pada tipe jembatan tipe ini menggunakan beton precast box

46
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

segmental, maka sistem alat angkat gantry harus digunakan.


Sistem kedua alat angkat ini juga digunakan untuk konstruksi jembatan
kabel, khususnya untuk tipe cable stay, maka erection deck juga
memanfaatkan struktur kabel sebagai tumpuan baru sebelum nantinya
sistem traveler (bila beton adalah cast in place) atau heavy gantry (bila
beton adalah precast) akan maju ke segmen berikutnya.

Gambar 18. Sistem Traveller

47
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

BAB IV
METODE PELAKSANAAN BANGUNAN PENGAMAN PANTAI

Pantai merupakan daerah yang dinamis yang dipengaruhi oleh darat


dan laut. Pasang surut, angin dan gelombang merupakan factor yang sangat
mepengaruhi ke-dinamis-an suatu pantai.
Permasalahan yang sering terjadi didaerah pantai adalah erosi/abrasi
dan akresi. Erosi/abrasi merupakan berpindahnya material pantai dari suatu
tempat ke tempat lain yang mengakibatkan garis pantai berpindah semakin
kedarat. Jika hal ini terjadi dan pada tempat tersebut terdapat fasilitas
penunjang aktifitas manusia dan lahan pertanian, maka akan terjadi kerusakan.
Sedangkan Akresi merupakan penumpukan sedimen yang diakibatkan oleh
transport sedimen yang dapat menghalangi berbagai aktifitas seperti
pendangkalan pelabuhan, tertutupnya mulut sungai, dan lain sebagainya.
Permasalahan ini akan tetap berlangsung karena dinamika dari pantai itu
sendiri dimana pantai akan selalu menjaga keseimbangannya yaitu jika terjadi
erosi pada suatu pempat maka akan terjadi akresi ditempat yang lain
Bangunan pengaman pantai bertujuan untuk melindungi pantai dari
proses abrasi dan akresi pantai yang dapat merusak lingkungan pantai dimana
pada daerah tersebut sudah dibangun fasilitas seperti perumahan, transportasi
dan fasilitas public lainnya.

A. JENIS PANTAI
Secara sederhana, pantai dapat diklasifikasikan berdasarkan material
penyusunnya, yaitu menjadi:
1. Pantai Batu (rocky shore), yaitu pantai yang tersusun oleh batuan induk
yang keras seperti batuan beku atau sedimen yang keras.

48
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

2. Beach, yaitu pantai yang tersusun oleh material lepas. Pantai tipe ini
dapat dibedakan menjadi:
 Sandy beach (pantai pasir), yaitu bila pantai tersusun oleh endapan
pasir.
 Gravely beach (pantai gravel, pantai berbatu), yaitu bila pantai
tersusun oleh gravel atau batuan lepas. Seperti pantai kerakal.
3. Pantai bervegetasi, yaitu pantai yang ditumbuhi oleh vegetasi pantai. Di
daerah tropis, vegetasi pantai yang dijumpai tumbuh di sepanjang garis
pantai adalah mangrove, sehingga dapat disebut Pantai Mangrove.
Bila tipe-tipe pantai di atas kita lihat dari sudut pandang proses yang
bekerja membentuknya, maka pantai dapat dibedakan menjadi:
1. Pantai hasil proses erosi, yaitu pantai yang terbentuk terutama melalui
proses erosi yang bekerja di pantai. Termasuk dalam kategori ini adalah
pantai batu (rocky shore).
2. Pantai hasil proses sedimentasi, yaitu pantai yang terbentuk terutama
kerena prose sedimentasi yang bekerja di pantai. Termasuk kategori ini
adalah beach. Baik sandy beach maupun gravely beach.
3. Pantai hasil aktifitas organisme, yaitu pantai yang terbentuk karena
aktifitas organisme tumbuhan yang tumbuh di pantai. Termasuk kategori
ini adalah pantai mangrove.
Kemudian, bila dilihat dari sudut morfologinya, pantai dapat dibedakan
menjadi:
1. Pantai bertebing (cliffed coast), yaitu pantai yang memiliki tebing vertikal.
Keberadaan tebing ini menunjukkan bahwa pantai dalam kondisi
erosional. Tebing yang terbentuk dapat berupa tebing pada batuan
induk, maupun endapan pasir.
2. Pantai berlereng (non-cliffed coast), yaitu pantai dengan lereng pantai.
Pantai berlereng ini biasanya merupakan pantai pasir.

49
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Sedimen pantai adalah material sedimen yang diendapkan di pantai.


Berdasarkan ukuran butirnya, sedimen pantai dapat berkisar dari sedimen
berukuran butir lempung sampai gravel.
Berdasarkan pada tipe sedimennya, pantai dapat diklasifikasikan
menjadi:
1. Pantai gravel, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen berukuran
gravel (diameter butir > 2 mm).
2. Pantai pasir, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen berukuran pasir
(0,5 – 2 mm).
3. Pantai lumpur, bila pantai tersusun oleh endapan lumpur (material
berukuran lempung sampai lanau, diameter < 0,5 mm).
Daerah pantai yang masih mendapat pengaruh air laut dibedakan
menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Beach (daerah pantai), Yaitu daerah yang langsung mendapat
pengaruh air laut dan selalu dapat dicapai oleh pasang naik dan pasang
turun.
2. Shore line (garis pantai), Jalur pemisah yang relatif berbentuk baris dan
merupakan batas antara daerah yang dicapai air laut dan yang tidak
bisa dicapai.
3. Coast (pantai), Daerah yang berdekatan dengan laut dan masih
mendapat pengaruh air laut.

B. PENGAMAN PANTAI

Pengamanan pantai dimaksudkan untuk melakukan perlindungan dan


pengamanan terhadap:
1. Masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai dari ancaman gelombang
dan genangan pasang tinggi (rob), erosi serta abrasi;

50
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

2. Fasilitas umum, fasilitas sosial, kawasan yang mempunyai nilai ekonomis


tinggi dan nilai sejarah serta nilai strategis nasional yang berada di
sepanjang pantai;
3. Perairan pantai dari pencemaran dan kerusakan lingkungan yang
diakibatkan oleh limbah perkotaan, limbah industri, dan limbah-limbah
lainnya; dan
4. Pendangkalan muara sungaI.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 09/PRT/M/2010
tanggal tanggal 25 Agustus 2010, pengamanan pantai dilakukan berdasarkan
aspek umum dan aspek teknis.
Aspek umum meliputi:
1. studi kelayakan pengamanan pantai; dan
2. penyusunan program pengamanan pantai.
Aspek teknis meliputi:
1. Perencanaan detail pengamanan pantai;
2. pelaksanaan pengamanan pantai;
3. operasi dan pemeliharaan bangunan pengaman pantai
Pemilihan alternatif pengamanan pantai dapat berupa :
1. perlindungan buatan (artificial protection)
2. perlindungan alami (natural protection); dan
3. adaptasi.
Perlindungan buatan meliputi pembangunan:
1. struktur lunak (soft structures);
2. struktur keras (hard structure); dan
3. kombinasi antara struktur lunak dan struktur keras.
Perlindungan alami antara lain berupa perlindungan hutan/tanaman
mangrove, gumuk pasir (sand dunes), terumbu karang, dan cemara
pantai.

51
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Adaptasi merupakan penyesuaian terhadap perubahan alam,


penurunan risiko dampak yang mungkin terjadi, dan antisipasi terhadap
kemungkinan terjadinya bencana alam.

Gambar 19. Sistem Perlindungan Pantai

C. BANGUNAN PENGAMAN PANTAI


Alternatif pengamanan pantai berupa :
1. Perlindungan buatan (artificial protection)
Pelindungan buatan dibuat berdasarkan kondisi dan hal-hal yang
berpengaruh terhadap pantai tersebut dan dapat dibedakan atas:

52
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

 Memperkuat Tebing Pantai


Perkuatan tebing Pantai dapat dilakukan dengan konstruksi
Tembok laut, Revetment dan Grout Mattres
 Menahan transport sedimen sepanjang pantai
Konstruksi yang dilakukan untuk menahana sedimen sejara
pantai adalah Groin dan Jetty.
 Mengurangi energy gelombang yang masuk ke pantai
Untuk mengurangi energy gelombang dibangun konstruksi
Pemecah Gelombang (Breakwater).
Material yang digunakan dalam konstruksi ini dipilih dengan
mempertimbangkan ketersediaan bahan pada lokasi dan daerah
sekitarnya.

2. Perlindungan alami (natural protection);


Perlindungan alami dapat dilakukan dengan menanam kembali
mangrove/bakau atau jenis pohon yang dapat tumbuh diair laut.
Selain itu dengan mengisi pasir kembali pantai yang sudah tererosi
juga dapat dilakukan. Namun hal ini dapat berdampak pada
sumber material pengisi tersebut.

D. Metode Pelaksanaan Bangunan Pengaman Pantai


Dalam Pelaksanaan bangunan pengaman pantai yang perlu
diperhatikan adalah jenis konstruksi yang digunakan, lokasi pelaksanaan,
pasang surut laut, akses jalan untuk peralatan, dan ketersediaan gudang
dilokasi.
Dalam bahasan ini akan diambil salah satu contoh proyek pengamanan
pantai di Sulawesi Utara.

53
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 20. Bangunan Perlindungan Pantai

54
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Dari gambar 20 diatas dapat diidentifikasi jenis pekerjaan dalam proyek


ini adalah sebagai berikut:
1. Mobilisasi
2. Pembersihan Lokasi
3. Galian Tanah
4. Pekerjaan Pasangan Geotextil
5. Pasangan Batu Boulder
6. Pembuatan Kubus Beton
7. Pemasangan Kubus Beton
8. Pembersihan Akhir
9. Demobilisasi

a. Mobilisasi
Mobilisasi adalah pengadaan tenaga dan peralatan yang akan
digunakan dalam proyek. Peralatan yang digunakan dapat berupa
Excavator atau Loader atau kombinasi keduanya. Peralatan ini harus
didatangkan ke lokasi pekerjaan.
b. Pembersihan Lokasi
Pembersihan lokasi dilakukan untuk mengeluarkan hal-hal yang dapat
menghalangi pelaksanaan pekerjaan.
c. Galian Tanah
Pekerjaan ini dilakukan untuk mendapatkan posisi pemasangan
konstruksi bangunan diatasnya sesuai dengan gambar dan spesifikasi
teknis.
Pekerjaan Galian Tanah dilakukan setelah pekerjaan pembersihan
lokasi dan pengukuran serta pemasangan patokan (bouwplank).
Pekerjaan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan peralatan
Excavator atau Loader atau kombinasi keduanya.

55
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 21. Pelaksanaan Pekerjaan Galian Tanah

d. Pasangan Geotextile
Pekerjaan ini bertujuan untuk menahan material pasir keluar dan
masuk pada bagian bawah dari konstruksi yang dapat menyebabkan
ketidakstabilan pada konstruksi.

Gambar 22. Pelaksanaan Pasangan Geotextile

56
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

e. Pasangan Batu Boulder


Berdasarkan Gambar, pekerjaan ini diletakkan pada bagian utama
dari tembok laut yaitu diatas dari pasangan geotextil. Mengingat
ukuran dari batu boulder adalah besar, maka angkutan dan
pemasangan dilakukan oleh alat berat.

Gambar 23. Pemasangan Batu Boulder

f. Pembuatan Kubus Beton


Pembuatan Kubus beton dilakukan bersamaan dengan dengan
pekerjaan pembersihan. Hal ini disebabkan karena beton baru dapat
diangkut dan dipasang pada umur beton yang disyaratkan.
Pencetakan beton ini dapat juga digunakan bahan tambahan untuk
mempercepat waktu pengerasan beton sesuai dengan yang
disyaratkan.
Karena keadaan seperti itulah, maka pelaksanaan pencetakan beton
dapat dilakukan ditempat yang lain namun masih berdekatan
dengan lokasi dimana beton tersebut akan dipasang.

57
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Karena jumlah dari kubus beton tersebut banyak, maka perlu


dipertimbangkan ruang yang tersedia dan penggunaan cetakan
yang dapat digunakan hingga selesainya pekerjaan ini.

Gambar 24. Pencetakan Kubus Beton

g. Pemasangan Kubus Beton


Setelah Beton memenuhi syarat, maka kubus beton tersebut dapat
dipasang sesuai dengan gambar. Pengangutan dan pemasangan
dilakukan dengan menggunakan alat berat.

58
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Gambar 25. Pemasangan Kubus Beton

h. Pembersihan Akhir
Pekerjaan ini adalah untuk membersihan lokasi dari sisa-sisa akibat
pekerjaan yang tidak terpakai dan rusak.

i. Demobilisasi
Setelah semua pekerjaan selesai maka tenaga dan peralatan
dikembalikan kelokasi lainnya.

59
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

BAB V
METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JALAN

60
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

REFERENSI

Bambang Triatmodjo, 1999, Teknik Pantai, UGM, Yogyakarta.

Coastal Engineering Manual (CEM). 2005, “Engineering and Design Coastal


Engineering manual”, Department of The Army, US Army Corps of
Engineers, Washington DC.

Departemen Pekerjaan Umum, 1998, Pedoman Teknik Penanggulangan Pantai


Volume I, Badan Penelitian dan Pengembangan PU, Jakarta.

Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2003, Pedoman Umum


Pengamanan dan Penanganan Kerusakan Pantai, Direktorat Bina Teknik,
Jakarta.

Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2003, Perbaikan Muara


Sungai dengan Jeti, Direktorat Bina Teknik, Jakarta.

61
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2004, Pedoman Teknis


Perencanaan Tembok Laut, Revetment dan Krib Tegak Lurus Pantai,
Direktorat Bina Teknik, Jakarta.

http://bloginfotekniksipil.blogspot.com/2013/05/pengertian-konstruksi-
bangunan.html

http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND.TEKNIK_SIPIL/SITI_NURAISYIAH/Metod
a_Pelaksanaan_Konstruksi_Bangunan_Gedung.pdf

http://kampuzsipil.blogspot.com/2011/11/pengertian-dan-macam-
jembatan.html

Husaini Usman, 2002,Manajemen Konstruksi

Iman Soeharto, 1997, Manajemen Proyek dari Konseptual Sampai Operasional,


Erlangga, Jakarta.

Istimawan Dipohusodo , 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi jilid 1 dan jilid 2,
Kanisius Jakarta.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 09/PRT/M/2010 tanggal tanggal 25


Agustus 2010, Jakarta.

Rochany Natawidjana,Siti Nurasiyah, 2009, Bahan Kuliah Manajemen Proyek,


UPI.

Universitas Tarumanegara, 1998, Ilmu Manajemen Kontruksi untuk Perguruan


Tinggi, Jakarta.

Wulfram L Ervianto, 2004, Teori Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi, Andi


Yogyakarta

62
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI Ir. Mochtar Sibi dan Dr. Eng. Ir. A. K. T. Dundu, MAgr

Faqih Ma’arif, M.Eng., 2012, Diktat Mata Kuliah Konstruksi Jalan, Jurusan Teknik Sipil Dan
Perencanaan, UNY, Yogyakarta.

David TRAYNER, 2012, Bridge Construction Methods, Concrete Institute of


Australia

63