Anda di halaman 1dari 19

PEMERINTAHAN

Kementerian Kesehatan Harus Lebih


Perhatikan Tenaga Medis untuk Ibu Hamil
24 APRIL 2017
A-AA+

Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia memiliki sejumlah masalah


yang terbilang sangat kompleks. Hal ini sangat wajar, mengingat sejumlah negara
lainnya yang sedang berkembang juga seringkali mengalami masalah yang sama.
Inilah tantangan sebuah negara yang sedang berkembang, di mana pada beberapa
bagian SDM yang ada, kerap belum memadai untuk memberikan pelayanan pada
masyarakat itu sendiri. Hal ini bisa saja menyebabkan berbagai kendala di dalam
pelayanan masyarakat, bahkan untuk beberapa pelayanan yang paling vital
sekalipun.

Bukan hanya terkait dengan masalah pangan dan juga pendidikan saja, namun
masalah kesehatan juga menjadi salah satu hal yang paling sering dibahas dan
menjadi sebuah pekerjaan rumah yang panjang bagi pihak pemerintah. Kesehatan
masyarakat masih jauh dari kata memadai, sehingga hal ini selalu menjadi masalah
serius yang pelik dan membutuhkan penanganan yang sangat kompleks. Bukan
perkara gampang, untuk mengadakan dan mengupayakan layanan kesehatan yang
baik bagi lebih dari 200 juta rakyat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah
nusantara.

Berbagai komponen di dalam pelayanan kesehatan memang sedang berbenah,


sehingga wajar saja jika pelayanan kesehatan memang masih jauh dari kata layak.
Beberapa wilayah bahkan belum memiliki sarana kesehatan sama sekali, bahkan
tenaga kesehatan yang bisa memberikan berbagai penyuluhan penting terkait
dengan standar pemeliharaan kesehatan yang baik bagi masyarakat itu sendiri.
Minimnya informasi ini tentu menjadi sebuah hal yang patut disayangkan,
mengingat untuk menjaga kesehatan masyarakat akan membutuhkan pelayanan
atau bahkan sekedar pengetahuan pribadi yang memadai terkait dengan kesehatan
itu sendiri.

Di antara sejumlah masalah kesehatan yang banyak terjadi, kematian ibu hamil dan
melahirkan menjadi angka yang terbilang paling besar. Bukan hanya ibu hamil yang
sedang hamil tua dan sedang menjelang kelahiran saja, usia kehamilan 2
bulan juga bisa menjadi salah satu pasien yang kerap membutuhkan pertolongan
medis. Pada usia kandungan yang masih muda ini, kondisi ibu hamil 2 bulan juga
janin di dalam kandungannya masih sangat rentan dan membutuhkan perawatan
yang ekstra, termasuk tambahan vitamin dan asupan makanan bergizi. Hal-hal
seperti inilah yang sangat perlu untuk diketahui oleh ibu yang akan atau sedang
hamil, sehingga mereka bisa mengupayakan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan
juga janin yang sedang dikandungnya.

Jika ibu atau calon ibu memiliki berbagai informasi yang memadai terkait dengan
kehamilan dan juga cara merawat kesehatan selama masa kehamilan hingga
melahirkan, maka angka kematian ibu di Indonesia dapat ditekan dengan baik. Hal
ini juga akan berdampak positif pada kesejahteraan keluarga yang bersangkutan,
mengingat dampak kematian seorang ibu akan sangat buruk bagi sebuah keluarga.

Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pihak Kementerian Kesehatan,
sebab hingga kini angka kematian ibu di Indonesia memang terbilang masih sangat
tinggi. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, maka masih akan banyak ibu-ibu
lainnya yang akan kehilangan nyawa di saat melahirkan. Memberikan
pendampingan sejak awal adalah langkah yang paling tepat bagi para calon ibu,
sehingga mereka memiliki pemahaman yang baik dan berbagai hal yang penting
untuk selalu diperhatikan selama masa kehamilan. Selain itu, ketersediaan tenaga
medis di di berbagai wilayah, bahkan pedalaman sekalipun, akan sangat membantu
masyarakat luas untuk tetap bisa hidup sehat dan mendapatkan pelayanan
kesehatan yang layak dan memadai.

Sumber : https://jurnalpolitik.com/2017/04/24/kementerian-kesehatan-harus-lebih-perhatikan-
tenaga-medis-untuk-ibu-hamil/
1. BERA NDA

2. B E R I TA

Ribuan korban tragedi 1965


tak punya akses layanan
kesehatan
Oleh : Bonardo Maulana Wahono
| 17:03 WIB - Rabu, 29 Maret 2017

154SEBARAN

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL


Ilustrasi orang lanjut usia korban Tragedi 1965. Sabar, pria dalam foto ini, pernah
dipenjara tanpa proses pengadilan karena menjadi anggota anak organisasi PKI.©
Dita Alangkara /AP Photo

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membahas kondisi


pemenuhan hak atas kesehatan di Indonesia dengan Pelapor Khusus Hak
atas Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dainius Puras, Jumat
(24/3).

Isu dipaparkan dalam pertemuan yang turut dihadiri Ketua dan Komisioner
Komnas Perempuan dan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) terkait hak atas kesehatan terhadap kelompok rentan dan
terpinggirkan.

Menurut Komisioner Komnas HAM, Sandrayati Moniaga, salah satu lubang


dalam dalam pemenuhan hak itu berkenaan dengan belum
terpenuhinya akses kesehatan terhadap korban tragedi 1965.

Dilansir CNNIndonesia.com, Komnas HAM dan Lembaga Perlindungan


Saksi dan Korban (LPSK) mengidentifikasi setidaknya ada 1.623 korban
pelanggaran HAM berat dalam tragedi 1965 dan Mei 1998 tidak
mendapatkan akses kesehatan dengan baik.

"Kebanyakan dari mereka adalah lansia, memiliki kondisi kesehatan dan


kualitas hidup yang buruk," demikian catatan resmi dua lembaga tersebut
dikutipCNNIndonesia.com, Rabu (29/3).

Satu masalah mengganjal bagi para korban adalah trauma


berkepanjangan. Akses pelayanan kesehatan dipandang penting bagi
mereka demi menggerus guncangan tersebut.

Pasal 28 H Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa "Setiap


orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan."

Kemudian, Undang-Undang No.36/2009 tentang Kesehatan pun dalam


Pasal 138 ayat 1 dan 2 mengatur berharganya "pemeliharaan kesehatan
bagi lanjut usia" dan kewajiban "pemerintah wajib menjamin ketersediaan
fasilitas pelayanan kesehatan dan memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk
dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomis."

Namun, dalam berita lain yang ditulis CNNIndonesia.com, Yayasan


Penelitian Korban Pembunuhan tahun 1965-1966 (YPKP 65) mengoreksi
data Komnas HAM.

YPKP 65 menyatakan korban pelanggaran HAM pada 1965 yang belum


menerima hak kesehatan sekitar 3.000 orang.

"Yang belum sekitar 3.000-an. Yang sudah mendapat perlindungan dan


pelayanan kesehatan sekitar 1.600-an," ujar Bedjo Untung, Ketua YPKP
65, Rabu (29/3).

Korban terbanyak belum menerima pelayanan berada di Sumatera Barat,


lalu menyusul Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Di Sumatera Barat itu seperti Pariaman dan Padang Panjang banyak
sekali. Kalau di Jawa Tengah paling banyak di daerah Pekalongan,
Pemalang, dan Pati," kata Bedjo.

Akan hal rentang usia, kisarannya 60-90 tahun.

Salah satu sosok dalam kategori demikian adalah Bronto

Di masa lalu, ia pernah menjadi anggota Brigade Infanteri VI Surakarta,


Jawa Tengah. Bronto, seperti ditulis Rappler.com, diringkus karena
mendukung Presiden Sukarno dan dituding simpatisan Partai Komunis
Indonesia (PKI).

Ketika Rappler.com menuliskan kisahnya pada 1 Oktober 2015, Bronto


dilukiskan sudah terbaring sakit selama sebulan. Namun, di tengah kondisi
tersebut, dia tak menerima bantuan layanan kesehatan.

Langkah berbeda pihak berwenang pernah diambil Rusdy Mastura, Wali


Kota Palu dengan masa jabatan 2005 hingga 2015.

Laman Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) 1965 mewartakan bahwa


pejabat daerah itu memungkinkan korban kasus pembunuhan massal
Tragedi 1965 untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis bagi
korban--selain menyerahkan beasiswa atau memberikan pendidikan gratis
bagi anak-anak dan para cucu korban.

Kebijakan demikian terlontar setelah ia lebih dulu meminta maaf kepada


para korban pada Maret 2012.

"Saya minta maaf atas nama Pemerintah Kota Palu kepada seluruh korban
peristiwa 1965 di Kota Palu dan di Sulawesi Tengah," ucapnya kala
itu sembari mengakui bahwa dirinya besar dengan didikan bapaknya yang
aktivis Masyumi --rival politik PKI, organisasi yang dilekatkan dengan
peristiwa 1965.

Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/ribuan-korban-tragedi-1965-tak-punya-akses-layanan-
kesehatan
Buruknya Pelayanan Kesehatan
Terhadap Masyarakat Miskin
Oleh: Saziya Ulfa
Kamis, 17 November 2016 | 12:53

Dipakai Bersama9

FOTO RIAU.GO,ID

Berita Terkait:
Ada Apa dengan APBD Kuansing Tahun 2017?

Agama dan Politik Dipisah, Bentuk Pembelaan Terhadap Penista Agama

Pendidikan Sekuler Lahirkan Murid Cacat Moral

Modul Pembelajaran "Islam Damai" Bentuk Sekulerisasi Pendidikan

Kesabaran dalam Mempersatukan Umat

BELAKANGAN ini kita sering mendengar ataupun membaca kasus-kasus yang berhubungan
dengan pelayanan yang ada di negara kita ini. Pelayanan di negara kita ini sangatlah tidak
sesuai dengan apa yang kita inginkan. Banyak masyarakat yang tidak terlayani dengan baik.
Misalnya saja dalam hal pelayanan masyarakat dibidang kesehatan. Pelayanan kesehatan
adalah setiap upaya yang di selenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan
penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat.
Dalam undang-undang dasar negara Indonesia diamanatkan bahwa kesehatan merupakan
salah satu dari hak asasi manusia yang tercantum dalam pasal 28 H ayat 1"setiap orang berhak
hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan tempat tinggal yang baik
dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.pembangunan kesehatan di
Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai
perwujudan kesejahteraan umum sebagai yang dimaksud dalam pembukaan undang-undang
dasar 1945.

Pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan dengan berdasarkan Sistem Kesehatan


Nasional (SKN) yaitu suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara
terpadu dan saling mendukung guna menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Sebagai pelaku dari pada penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah harus saling bahu membahu secara sinergis melaksanakan
pembangunan kesehatan yang terencana, terpadu, berkesinambungan dalam upaya bersama-
sama mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Pelayanan masyarakat sangatlah diperlukan oleh semua lapisan masyarakat. Sudah banyak
negara-negara lain yang mengakses berbagai cara agar masyarakatnya dapat terlayani dengan
cepat dan baik. Sedangkan di negara kita pemerintah masih membedakan lapisan-lapisan yang
ada dalam masyarakat. Mereka lebih mendahulukan para kalangan atas sedangkan dalam hal
kesehatan ini tidak ada kalangan atas maupun bawah karena kita semua sama-sama
membutuhkan yang namanya kesehatan. Hal ini terjadi karena para orang kaya tersebut
menyogok sehingga apapun masalah yang mereka alami dapat diselesaikan dengan cepat, lain
halnya dengan orang miskin atau kalngan bawah.

Baru-baru ini muncul berita yang lagi-lagi berhubungan dengan pelayanan kesehatan di negara
kita ini yaitu di daerah jember lantaran tidak memiliki dana persalinan sebesar 3,7 juta rupiah
seorang bayi harus ditahan dirumah sakit hingga 17 hari. Upaya sang keluarga untuk mencicil
pun ditolak oleh pihak rumah sakit. Betapa ironisnya pelayanan kesehatan di negara kita ini. Bayi
yang seharusnya berda disamping seorang ibu harus ditahan dirumah sakit. Yang lebih anehnya
pada masalah ini pihak rumah sakit tidak menerima cicilan yang diberikan. Kalau terus seperti itu
maka biaya pun semakin membengkak lantaran bayi masih berada dirumah sakit. Padahal di
dalam sila ke 5 keadailan bagi seluruh rakyat Indonesia bukan hanya untuk orang kaya saja.
Tetapi kita tidak bisa menyalahkan pihak rumah sakit sepenuhnya, bisa saja karena pemerintah
pusat lebih mementingkan hal-hal lain sehingga pelayanan kesehatan masyarakat terabaikan.
Adapun buruknya pelayanan kesehatan di negara kita ini juga disebabkan oleh sistem
pelayanan kesehatan yang ada belum memadai, pelayanan kesehatan yang masih lamban,
tenaga kesehatan yang kurang professional dan biaya yang terlalu mahal. Bagi warga miskin
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memuaskan adalah hal yang sangat sulit.
Mereka harus memenuhi syarat dari pihak rumah sakit. Upaya pemerintah untuk memberikan
pelayanan kesehatan terhadap warga miskin melalui jamkesmas masih belum terisolasi dengan
baik, masih banyak pasien yang menggunakan jamkesmas dipersulit dengan urusan
administrasi.

Terkait dengan masalah pelayanan kesehatan yang ada di negara ini, kita dapat melakukan
berbagai cara untuk mengatasi hal tersebut agar masyarakat mendapat pelayanan yang lebih
baik. Kebijakan-kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah pemerintah seperti menjalankan
program BPJS, memperluas jangkauan pelayanan kesehatan seperti membangun puskesmas-
puskesmas sampai ke pelosok desa, meningkatkan kualiatas dan kuantitas tenaga kerja.selain.
selain pemerintah kita sebagai masyarakat juga harus berperan serta berpartisipasi agar
masalah pelayanan kesehatan dinegara ini bisa menjadi lebih baik lagi. Partispasi itu dapat kita
wujudkan dengan ikut serta dalam menjadi kader posyandu yang diadakan di desa kita masing-
masing dan selalu berpartisipasi terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan pihak puskesmas di
desa kita.***

Ditulis Oleh: Saziya Ulfa

Penulis adalah Mahasiswi UIN Suska Riau

Fakultas Ekonomi dan Sosial Jurusan Ilmu Administrasi Negara

Sumber : http://riaugreen.com/view/Ruang-Opini/22486/Buruknya-Pelayanan-Kesehatan-Terhadap-
Masyarakat-Miskin.html#.WP8pfkXyizc
Warga Keluhkan
Lambannya Proses E-
KTP
Senin, 10 April 2017 01:03

surya/achmad zaimul haq

LAYANAN NORMAL - Warga melakukan perekaman E-KTP di Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil
(Dispendukcapil) di Gedung Siola, Rabu (15/2/2017). Warga Kota Surabaya masih mengeluhkan lamanya proses
pembuatan KTP elektronik (e-KTP).

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Warga Kota Surabaya masih mengeluhkan


lamanya proses pembuatan KTP elektronik (e-KTP).
Hingga saat ini warga masih harus berulang kali melakukan perekaman e-
KTP. Bahkan sudah ada yang tiga kali melakukan perekaman akan tapi belum
juga mendapatkan surat keterangan pengganti KTP elektronik.
Salah satu warga yang mengeluhkan kondisi tersebut adalah Maryamah (43).
Warga berasal dari Ambengan ini menyebutkan sudah tiga kali melakukan
perekaman di Siola. Akan tetapi ia masih dipanggil dan diminta untuk rekam
ulang.
“Saya awalnya sudah rekam iris mata sama sidik jari, sekitar tiga tahun yang
lalu. Namun karena KTP saya hilang, maka saya mau ngurus lagi, sejak tahun
2016 lalu saya ngurus tapi masih bolak-balik harus rekam lagi,” ucap
Maryamah.
Ibu dua anak ini menyebutkan, penjelasan dari petugas Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) KTP nya masih berdata ganda. Dan
terdata di luar Kota Surabaya yaitu Mojokerto. Padahal ia mengaku tidak
pernah tinggal di Mojokerto ataupun membuat KTP Mojokerto.
“Namun saya ya nurut saja, cuman saya itu butuh cepat, namun masih belum
surat keterangan pengganti e-KTP,” ujarnya.
Menurutnya, jika memang tidak bisa melakukan perekaman, sebaiknya ada
pengganti surat keterangan yang tetap bisa digunakan untuk mengurus
dokumen resmi dari instansi yang ada di Surabaya.
“Saya daftar BPJS itu juga masih belum bisa, katanya NIK saya tidak
terdaftar,” ucapnya.
Keluhan soal e-KTP ini juga dikeluhkan oleh Asri Wilujeng (39). Ia adalah
warga Sememi. Ia mengaku datanya tercatat ganda di Surabaya dan di
Semarang.
Meski sudah rekam dua tahun yang lalu, ia belum mendapatkan panggilan
untuk pencetakan e-KTP.
"Saya dua kali ngecek di Siola menanayakan e-KTP saya apa sudah bisa
dicetak malah diminta untuk rekam ulang. Lalu yang kemarin sudah direkam
itu dibuat apa," tandasnya.
Kepala Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk Dispendukcapil Kota
Surabaya Ferry Jocom mengatakan sistem
penunggalan Dispendukcapil memang sedang bermasalah.
Terhitung sudah dua pekan Dispendukcapil belum bisa konek dengan data
server di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
"Gara-gara itu memang kita nggak bisa mengecek data kependudukan di
server di Kemendagri. Padahal sistem perekaman e-KTP itu butuh verifikasi
dengan data di server pusat," ucap Ferry.
Lantaran tidak bisa konek tersebut akhirnya warga yang rekam ke Siola belum
bisa ditunggalkan. Dan penyimpanan datanya hanya di server milik Pemkot
saja.
"Kita juga menunggu. Karena permasalahannya bukan
di Dispendukcapil Surabaya melainkan dari pusat," katanya.
Menurutnya dalam proses pembuatan eKTP setelah rekam ada dua jalur.
Harus ada verifikasi biometri data pengaju. Kalau tidak begitu data mereka
tidak bisa Print Ready Record (PRR).
"Kalau data sudah dicek adalah tunggal maka sudah disebut PRR dan bisa
mendapatkan surat keterangan," pungkasnya. Sehingga proses itu harus
menunggu perbaikan koneksi dengan server pusat.
Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2017/04/10/warga-keluhkan-lambannya-proses-e-kpt?
page=2
Warga Keluhkan
Pengurusan e-KTP di
Surabaya; Rekam Data
Setahun Hilang, Diminta
Rekam Ulang
Jumat, 16 September 2016 23:02

Jumat, 16 September 2016 23:02

surya/galih lintartika
Ombusdman RI dan Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji melakukan sidak Jumat (16/9/2016) pagi.

SURYA.co.id | SURABAYA - Pelayanan pengurusan e-KTP di Kota Surabaya


masih dikeluhkan sejumlah masyarakat. Faktanya, sejumlah orang merasa
dirugikan saat hendak mengambil e-KTP di Kantor Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surabaya.
Mereka terpaksa menahan hasrat untuk mengantongi e-KTP akibat data
rekam e-KTP yang bersangkutan di Dispendukcapil. Akibatnya, mereka harus
merekam ulang data baru.
"Saya sudah rekam itu setahun lalu, nah saya tanyakan apakah sudah
selesai. Ternyata data saya hilang dan disuruh rekam ulang, ini sistemnya
bagaimana sih," keluh Samsul Hadi saat diwawancarai, Jumat (16/9/2016)
pagi.
Pria asal Kecamatan Tandes ini mengatakan, jarak rumahnya
dengan Dispendukcapil itu sangat jauh. Ia mengaku sudah bolak - balik
Tandes ke Dispendukcapil untuk mengurus e-KTP.
"Belum lagi yang saya di ping - pong di kelurahan. Disarankan ke RT dan RW
dulu, surat pernyataan dan sebagainya. Seharusnya kalau deadlinenya mepet
ya jangan dipersulit seperti ini," terangnya.
Selain itu, tarmuji warga Bendul Merisi juga mengalami hal serupa. Ia
menjelaskan, sudah rekam e-KTP sejak tahun 2013 lalu. Namun, hingga saat
ini , e-KTP nya pun belum selesai.
"Sebenarnya saya juga khawatir kalau belum jadi kan tidak bisa mengurus
apa-apa. Alasannya sih karena data saya sudah tidak ada," jelasnya.
Sedang Ombusdman RI dan Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji melakukan
sidak Jumat (16/9/2016) pagi.
Mereka pun sangat menyesalkan keluhan masyarakat yang mereka
dengarkan secara langsung.
"Seharusnya disampaikan langsung, apa sih kendalannya. Jangan membuat
menunggu masyarakat dan menjanjikan seperti ini," terang salah satu
anggota ombudsman RI Ninik Rahayu.
Dia memaparkan, seharusnya Dispendukcapil ini menyimpan data secara rapi
agar tidak kehilangan. Ia mengatakan, hal sepele ini justru menghambat
percepatan pengurusan e-KTP.
"Harusnya ini tidak boleh terjadi, saya harap Dispendukcapil memperbaiki ke
depannya," tandasnya.
Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2016/09/16/warga-keluhkan-pengurusan-e-ktp-di-
surabaya-rekam-data-setahun-hilang-diminta-rekam-ulang
Jokowi Janji Segera
Bangun Fasilitas
Umum yang Rusak di
Pidie
FABIAN JANUARIUS KUWADO

Kompas.com - 09/12/2016, 17:17 WIB

Presiden Joko Widodo bernyanyi saat meninjau Masjid Atta Darut, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh,
Jumat (9/12/2016). Masjid itu merupakan lokasi kedua yang dikunjungi Presiden Joko Widodo.
Selanjutnya, Jokowi bertolak ke posko penampungan pengungsi di Kecamatan Meurah Dua,
Pidie Jaya dan terakhir, Presiden juga akan mengunjungi gedung Pesantren Mudi Mesra,
Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireun. (KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG)
BIREUEN, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo menggunakan
pengeras suara di masjid untuk menyampaikan maksud kedatangannya di
Aceh.

Usai blusukan ke lima lokasi terdampak gempa sepanjang Jumat


(9/12/2016) pagi hingga siang, Jokowi menunaikan ibadah shalat Jumat di
Masjid Besar Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Selepas shalat, Jokowi meraih mikrofon masjid lalu menyampaikan


pidatonya.

(baca: Jokowi: Mulai Besok, Masjid At Taarrub Dibersihkan dan Dibangun


Kembali)

Berikut pernyataan Jokowi itu :

"Saya datang ke Pidie, ke Pidie Jaya dan ke Bireuen, khususnya


Kecamatan Samalanga ini, ini kota santri. Saya ingin memastikan kepada
semuanya berada dalam keadaan baik."

"Ini cobaan Allah kepada kita dan marilah dengan cobaan yang diberikan
kepada kita ini, kita hadapi dengan rasa sabar, tabah, rasa tawakal dan
Insya Allah kita segera mencarikan solusi agar kita bisa kembali ke dalam
kehidupan yang normal kembali."

"Pemerintah pusat akan berusaha sekeras-kerasnya untuk segera


membangun kembali, terutama fasilitas-fasilitas umum, baik masjid,
pondok pesantren, sekolah-sekolah, dalam kurun waktu secepat-
cepatnya."

"Kemudian rumah masyarakat yang juga rusak juga akan diberikan


stimulan bantuan. Memang tidak banyak. Tapi semoga bisa mendorong
agar pembangunan kembali di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireun,
Kabupaten Pidie Jaya dan Pidie bisa normal kembali".

(baca: Keceriaan Anak-anak Korban Gempa Sambut Jokowi)

Selain tersambung ke perangkat pengeras suara di dalam masjid, mikrofon


Jokowi itu juga tersambung ke pengeras suara di atas menara masjid
setinggi kurang lebih 20 meter.

Oleh sebab itu, pesan Jokowi tidak hanya didengar oleh jamaah shalat
Jumat, tetapi juga didengar orang di kampung tersebut.
Seiring dengan itu, warga, terutama ibu-ibu lalu berbondong-bondong
mendatangi masjid sembari membawa anak-anak mereka. Mereka berebut
salam dan berfoto bersama dengan Presiden.
Advertisment

Masjid itu sendiri merupakan titik terakhir di lokasi gempa yang didatangi
Jokowi. Selepas shalat Jumat, Jokowi langsung terbang menggunakan
helikopter di lapangan dekat masjid menuju Banda Aceh.

(baca: Jenguk Korban Gempa di Aceh, Presiden Apresiasi Penanganan


Bencana)

Dari Banda Aceh, Jokowi bertolak ke Jakarta menggunakan pesawat


kepresidenan.

Sebelumnya, Presiden menjamin pemerintah akan membangun kembali


seluruh bangunan yang rusak akibat gempa di Aceh.

"Kerusakan, baik gedung sekolah, pesantren, kantor pemerintah dan


masjid, itu ditangani oleh Kementerian PU. Kalau sekolah, ditangani
Kemendikbud. Ini langsung dikerjakan," ujar Jokowi di sela meninjau posko
pengungsian di Kantor Bupati Pidie Jaya, Jumat pagi.

Sementara untuk rumah penduduk, pemerintah akan memberikan bantuan


berupa uang untuk pembangunan kembali.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah


setempat masih mendata, berapa rumah yang mengalami kerusakan.

Nantinya, besaran bantuan akan dikategorikan menjadi dua. Untuk rumah


yang dikategorikan rusak berat, diberikan bantuan sebesar Rp 40 juta.

Sementara, rumah yang dikategorikan rusak ringan akan diberikan bantuan


sebesar Rp 20 juta.

"Uang itu agar nantinya bisa dipakai untuk stimulan membangun kembali
rumah atau bangunan yang ada," ujar Jokowi.

Sumber :
http://nasional.kompas.com/read/2016/12/09/17172121/jokowi.janji.segera.bangun.fasilitas.umum.
yang.rusak.di.pidie