Anda di halaman 1dari 27

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS

Laporan Kasus Portofolio


untuk memenuhi persyaratan
Program Internsip Dokter Indonesia

Oleh :
dr. Irawati Hajar Kikuko

Pembimbing :
dr. Yunita Eka Wati,Sp.P

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG KABUPATEN MALANG


KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
2018

1
LEMBAR PERSETUJUAN

Nama Peserta:
dr. Irawati Hajar Kikuko
Wahana:
RSUD Lawang, Malang
Topik:
Penyakit Paru Obstruktif Kronis
Tanggal Kasus:
21 Desember 2017
No. RM:
022480
Nama Pembimbing Kasus:
dr. Yunita Eka Wati, SpP
Deskripsi:
Penyakit Paru Obstruktif Kronis eksaserbasi akut
Tujuan:
Memahami lebih dalam mengatasi kegawatan,diagnosis dan tatalaksana
pada penyakit paru obstruktif kronis eksaserbasi akut.

Telah disetujui,

Pendamping Pendamping

dr. Sylvia Medyawati dr. Yunita Eka Wati, SpP

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan hidayahnya kepada penulis,
sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan kasus portofolio tentang
“Penyakit Paru Obstruktif Kronis” dengan sebaik-baiknya. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Yunita Eka Wati,dr., SpP selaku dokter penanggung jawab pasien
bidang Paru RSUD Lawang yang selalu membimbing dan
membantu penulis dalam menyelesaikan laporan kasus portofolio
ini,
2. Sylvia Medyawati, dr. dan Yunita Eka Wati, dr., SpP selaku
pendamping Program Internsip Dokter Indonesia di RSUD Lawang,
3. Mahendrajaya, drg., MM, Sp.KG selaku Direktur RSUD Lawang,
4. Nur Rochmah, dr., MMRS, selaku Kepala Bidang Pelayanan Medik
RSUD Lawang,
5. Staf medis fungsional RSUD Lawang,
6. Pasien RSUD Lawang selaku subyek kasus portofolio, dan
7. Teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas
pertolongannya dalam pengerjaan laporan kasus portofolio ini.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus portofolio ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari segi isi maupun penyusunannya. Penulis
mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun dari para pembaca
demi kesempurnaan karya selanjutnya. Semoga karya ini bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Malang, Januari 2018

Penulis

3
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ....................................................................... 2


KATA PENGANTAR ................................................................................ 3
DAFTAR ISI .............................................................................................. 4
BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................... 5
BAB 2 KASUS ......................................................................................... 6
BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 13
BAB 4 PEMBAHASAN ........................................................................... 23
BAB 5 PENUTUP .................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... ....... 27

4
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan penyakit yang
sering dijumpai, dapat dicegah, dan dapat diobati. Penyakit ini ditandai dengan
adanya gejala respiratorik dan limitasi aliran udara dikarenakan adanya
abnormalitas alveolar yang diakibatkan oleh kontak dengan partikel atau gas
yang berbahaya/merusak. Limitasi aliran udara yang kronis dari PPOK
disebabkan oleh kumpulan penyakit saluran nafas kecil (contoh : bronkiolitis
obstruktif) dan destruksi parenkim paru (emfisema), dimana hal tersebut
bervariasi dari tiap individu (GOLD, 2017)
PPOK merupakan salah satu penyakit yang memilki beban kesehatan
tertinggi. World Health Organization (WHO) dalam Global Status of Non-
communicable Diseases tahun 2010 mengkategorikan PPOK ke dalam empat
besar penyakit tidak menular yang memiliki angka kematian yang tinggi
setelah penyakit kardiovaskular, keganasan dan diabetes. GOLD Report 2014
menjelaskan bahwa biaya untuk kesehatan yang diakibatkan PPOK adalah
56% dari total biaya yang harus dibayar untuk penyakit respirasi. Bahaya yang
paling tinggi adalah diakibatkan kejadian eksaserbasi dari penyakit ini adalah
kematian.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Laporan portofolio ini memiliki tujuan umum untuk memaparkan
kasus pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis eksaserbasi
akut.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi, etiologi, patogenesis, dan manajemen
penyakit paru obstruktif kronis eksaserbasi akut.
2. Mengetahui strategi penegakan diagnosis, pengobatan, dan
monitoring pasien penyakit paru obstruktif kronis eksaserbasi akut
untuk mencegah bertambah tingkat keparahan penyakit.

5
BAB 2
KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. S
No. RM : 02.84.80
Alamat : Purwodadi
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 87th
Pekerjaan : Supir
Agama : Islam
Suku : Jawa
Bangsa : Indonesia
Tanggal MRS : 21 Desember 2017
Tanggal KRS : 24 Desember 2017

2.2 Anamnesis
2.2.1 Keluhan Utama
Sesak nafas
2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan sesak napas. Sesak sudah dialami
pasien sejak 2 bulan yang lalu memberat 3 hari terakhir. Sesak
muncul pada saat aktivitas sehari-hari, tidak berkurang dengan
perubahan posisi. Pasien juga mengalami batuk selama 1 bulan,
batuk berdahak bening, tidak berbau, tidak didapatkan darah.
Pasien sering mengalami keringat malam, penurunan berat badan
dan nafsu makan berkurang.
BAB BAK pasien normal. Pasien tidak mengalami mual dan
muntah. Pasien tidak demam.

6
2.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu
Alergi (-) Asma (-) DM (-) HT (-) , Pengobatan TBC selama 6 bulan (-).
Pasien rutin kontrol poli paru dan jantung.

2.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga


HT (-) DM (-) Stroke (-) Ca (-) PJK (-) asma (-) tidak ada keluarga yg
memiliki sakit yg sama

2.2.5 Riwayat pengobatan


pengobatan selama 6 bulan (-), riwayat minum Salbutamol 3 x 2
tab, riwayat nebul dengan combivent dan pulmicort, candesartan 0-
0-8mg, amlodipin 10-0-0

2.2.6 Riwayat Kebiasaan


Pasien perokok sejak usia 15 tahun, 1 pack/hari. Pasien sudah
berhenti merokok sejak 2 bulan terakhir. Alkohol (-)

2.3 Pemeriksaan Fisik


• KU : Lemah, Kes: Compos Mentis GCS = E4V5M6
• VS : TD = 90/60 mmHg RR = 30x/m
Nadi = 98 x/m Sp.O2 = 96% (NC 3 lpm)
T= 36,7OC
• Kepala
An -/-, Ict -/-, Cyan -/- ,dips (+) retraksi supasternal (+)
• Leher
Pembesaran KGB (-), JVP dbn, deviasi trachea (-)
• Thorax
• Inspeksi : Bentuk dada simetris, barrel chest (+), iga datar (+), ruang
antar iga melebar(+), benjolan(-), +
• Palpasi : Deviasi trakhea (-), fremitus menurun pada seluruh lapangan
paru

7
• Perkusi:
s | s
s | s
s | s
• Auskultasi: Suara vesikuler menurun disertai ekspirasi memanjang,
• wh +|+, rh - |-
+|+ -|-
+|+ +|+
• Cor: S1 S2 tunggal, gallop (-), murmur(-)
• Abdomen : flat, soepel, benjolan (-), Nyeri tekan (-), Hepar dan lien tidak
teraba, Supel, bising usung (+) normal
• Genetalia : Tidak dievaluasi
• Extremitas : Ekstremitas : Akral hangat +|+ Edema -|-
+|+ -|-
Capilarry reffil time <2 detik

2.4 Pemeriksaan Penunjang


 Darah Lengkap tanggal 21 Desember 2017
Laboratoris Hasil Nilai Rujukan Unit
Hb 15 14-18 g/dL
WBC 13.670 4.800-10.800 /µL
RBC 4.350.000 4.700.000-6.100.000 /µL
HCT 44.0 42-52 %
PLT 363.000 150.000-450.000 /µL
MCV 85,1 81-99 fL
MCH 28,7 27-31 pg
MCHC 33,8 33-37 g/dL
Ba/Eo/Net/Lym/Mo 0.1/0.7/76.3/13.8/1. 0-6/0-1/40-74/19- %
48/3-9
24

 Pemeriksaan Lab Lain


Laboratoris Hasil Nilai Rujukan Unit
GDA 89 70-140 mg/dL
Ureum 62,68 19-49 mg/dL
Kreatinin 1,28 0,68-1,24 mg/dL
SGOT 16,97 5-35 U/L

8
SGPT 12,59 5-40 U/L
Natrium 136,9 135-145 mmol/L
Kalium 4.05 3,5-5,2 mmol/L
Clorida 102,3 95-110 mmol/L

 Foto Thorax

Foto thorax PA 21 Desember 2017


Atas nama Tn. S / 87 th
Soft tissue : Tidak didapatkan kelainan
Parenkim paru : Emfisematus lung, corakan bronkovaskular di apex
dextra , hiperaerasi, pada sudut costovrenicus tajam
Diaphragma : Mendatar
Trakea : Dalam batas normal, Tidak ada deviasi trakea
Jantung : Pendulum
Kesimpulan : suspek TB dan emfisematus lung

9
EKG

Sinus takikardi 104 bpm, normal aksis dan didapatkan p pulmonal

2.5 Diagnosis
- COPD eksaserbasi akut
- Bronkitis
- Suspek TB
- Heart Failure

2.6 Diagnosis Banding


a. Asma attack

2.7 Planning

10
2.6.1 Monitoring
 Keluhan subjektif
 Keadaan umum

11
 Tanda vital
 Observasi tanda gagal nafas

2.6.2 Edukasi
 Menjelaskan bahwa penyakit pasien adalah penyakit paru menahun
akibat merokok.
 Menjelaskan pentingnya bahwa pasien minum obat dan kontrol rutin
agar tidak mudah kambuh.
 Jika pasien batuk agar memakai masker atau menutup mulutnya
agar tidak menular kepada orang lain.
 Jika pasien sesak memberat segera datang ke fasilitas kesehatan
terdekat.
 Tetap menjaga tubuh agar tetap fit dan tidak ada pantangan
makanan.

2.8 Follow-up

12
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi dan Epidemiologi PPOK


Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan penyakit yang
sering dijumpai, dapat dicegah, dan dapat diobati. Penyakit ini ditandai dengan
adanya gejala respiratorik dan limitasi aliran udara dikarenakan adanya
abnormalitas alveolar yang diakibatkan oleh kontak dengan partikel atau gas
yang berbahaya/merusak. Limitasi aliran udara yang kronis dari PPOK
disebabkan oleh kumpulan penyakit saluran nafas kecil (contoh : bronkiolitis
obstruktif) dan destruksi parenkim paru (emfisema), dimana hal tersebut
bervariasi dari tiap individu (GOLD, 2017)
Data di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013
(RISKESDAS), prevalensi PPOK Arto Yuwono Soeroto, Hendarsyah
Suryadinata 84 Ina J Chest Crit and Emerg Med | Vol. 1, No. 2 | June - August
2014 adalah sebesar 3,7%. Angka kejadian penyakit ini meningkat dengan
bertambahnya usia dan lebih tinggi pada laki-laki (4,2%) dibanding
perempuan(3,3%) (Indonesia KKR, 2013).
Saat ini PPOK menempati urutan ke 4 penyebab kematian di dunia, dan
diperkirakan akan menjadi peringkat ke 3 pada tahun 2020. Lebih dari 3 juta
orang meninggal akibat PPOK pada tahun 2012. (Lancet,2012)

13
3.2 Patogenesis PPOK

Etiologi
Perokok, Polusi udara dan Faktor Host

Pathobiologi
1. Gangguan pertumbuhan paru
2. Kerusakan pada paru
3.. inflamasi sistemik dan lokal pada paru

Pathologi
1. gangguan pada saluran nafas bawah
2. Emphysema
3. Efek sistemik

limitasi aliran
manifestasi klinis :
udara
gejala, eksaserbasi
dan penyakit
komorbid

(GOLD, 2017)

Keterbatasan Aliran Udara dan Air Trapping


Tingkat peradangan, fibrosis, dan eksudat luminal dalam saluran udara
kecil berkorelasi dengan penurunan FEV dan rasio FEV/FVC. Penurunan FEV
merupakan gejala yang khas pada PPOK, obstruksi jalan napas perifer ini
menyebabkan udara terperangkap dan mengakibatkan hiperinflasi. Meskipun
emfisema lebih dikaitkan dengan kelainan pertukaran gas dibandingkan
dengan FEV berkurang, hal ini berkontribusi juga pada udara yang
terperangkap yang terutama terjadi pada alveolar. Ataupun saluran napas
kecil akan menjadi hancur ketika penyakit menjadi lebih parah.

14
Hiperinflasi mengurangi kapasitas inspirasi seperti peningkatan
kapasitas residual fungsional, khususnya selama latihan (bila kelainan ini
dikenal sebagai hiperinflasi dinamis), yang terlihat sebagai dyspnea dan
keterbatasan kapasitas latihan. Hiperinflasi yang berkembang pada awal
penyakit merupakan mekanisme utama timbulnya dyspnea pada aktivitas.
Bronkodilator yang bekerja pada saluran napas perifer mengurangi perangkap
udara, sehingga mengurangi volume paru residu dan gejala serta
meningkatkan dan kapasitas berolahraga.

Eksaserbasi
Eksaserbasi merupakan amplifikasi lebih lanjut dari respon inflamasi
dalam saluran napas pasien PPOK, dapat dipicu oleh infeksi bakteri atau virus
atau oleh polusi lingkungan. Mekanisme inflamasi yang mengakibatkan
eksaserbasi PPOK, masih banyak yang belum diketahui. Dalam eksaserbasi
ringan dan sedang terdapat peningkatan neutrophil, beberapa studi lainnya
juga menemukan eosinofil dalam dahak dan dinding saluran napas. Selama
eksaserbasi terlihat peningkatan hiperinflasi dan terperangkapnya udara,
dengan aliran ekspirasi berkurang, sehingga terjadi sesak napas yang
meningkat. Terdapat juga memburuknya abnormalitas VA/Q yang
mengakibatkan hipoksemia berat (PDPI, 2011)

3.3 Faktor Risiko PPOK


1. Asap rokok
Kebiasaan merokok adalah satu-satunya penyebab kausal yang
terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya. Asap rokok
mempunyai prevalensi yang tinggi sebagai penyebab gejala respirasi
dan gangguan fungsi paru. (GOLD, 2017)
Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan:
a. Riwayat merokok
 Perokok aktif
 Perokok pasif
 Bekas perokok

15
b. Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman(IB), yaitu perkalian
jumlah rata-rata batang rokok yang dihisap sehari dikalikan lama
merokok dalam tahun :
 Ringan : 0-200
 Sedang : 200-600
 Berat : > 600

2. Polusi Udara
Berbagai macam partike dan gas yang terdapat di udara sekitar dapat
menjadi penyebab terjadinya polusi udara. polusi udara terbagi menjadi
:
 Polusi di dalam ruangan
- Asap rokok
- Asap kompor. Kejadian polusi di dalam ruangan dari asap
kompor dan pemanas ruangan dengan ventilasi kurang baik
merupakan faktor risiko terpenting timbulnya PPOK,terutama
pada perempuan bukan perokok dinegara berkembang (Case
control studies).
 Polusi di luar ruangan
- Gas buang kendaraan bermotor
- Debu jalanan
 Polusi tempat kerja (bahan kimia, zat iritasi, gas beracun)

3. Faktor Genetik
Pada orang yang mengalami defisiensi alpha 1 antripsin

4. Usia dan Jenis Kelamin


Usia tua dan wanita memeiliki risiko terkena PPOK lebih tinggi

5. Sosial ekonomi
PPOK sering terjadi pada masyarakat dnegan status sosial ekonomi
yang rendah

6. Asma

7. Chronik Bronkitis
Memicu timbalnya eksaserbasi

8. Infeksi

16
Riwayat pada saat anak – anak sering menderita infeksi saluran nafas
maka dapat mengurangi fungsi paru.

3.4 Diagnosis PPOK

Tabel 3.1 Indikator Diagnosis PPOK

Klasifikasi PPOK berdasarkan hasil pengukuran FEV1 dan FVC


dengan spirometri setelah pemberian bronkodilator dibagi menjadi GOLD 1, 2,
3, dan 4. Pengukuran spirometri harus memenuhi kapasitas udara yang
dikeluarkan secara paksa dari titik inspirasi maksimal (Forced Vital Capacity
(FVC)), kapasitas udara yang dikeluarkan pada detik pertama (Forced
Expiratory Volume in one second (FEV1)), dan rasio kedua pengukuran
tersebut (FEV1/FVC). Pada tabel 3.2 diperlihatkan klasifikasi tingkat
keparahan keterbatasan aliran udara pada pasien PPOK (Vestbo, et al., 2014)

17
Tabel 3.2 Klasifikasi Tingkat Keparahan GOLD Berdasarkan Hasil
Pengukuran Spirometri

3.5 Diagnosis Banding


Tabel 3.3 Diagnosis Banding PPOK
Diagnosis Gejala
PPOK Onset pada usia pertengahan.
Gejala progresif lambat.
Lamanya riwayat merokok.
Sesak saat aktivitas
Sebagian besar hambatan aliran udara ireversibel.
Asma Onset awal sering pada anak.
Gejala bervariasi dari hari ke hari.
Gejala pada malam / menjelang pagi.
Disertai alergi, rinitis atau eksim .
Riwayat keluarga dengan asma.
Sebagian besar keterbatasan aliran udara
reversibel
Gagal Jantung Auskultasi, terdengar ronchi halus di bagian basal.
Kongestif Foto torakstampak jantung membesar, edema
paru.
Uji fungsi paru menunjukkan restriksi bukan
obstruksi.
Bronkiektasis Sputum produktif dan purulen.
Umumnya terkait dengan infeksi bakteri.
Auskultasi terdengar ronki kasar

18
Foto toraks/CT-scan toraks menunjukkan
pelebaran dan penebalan bronkus.
Tuberkulosis Onset segala usia
Foto toraks menunjukkan infiltrat diparu.
Konfirmasi mikrobiologi (sputum BTA)
Prevalensi tuberkulosis tinggi di daerah endemis
Bronkiolitis Obliterans Onset pada usia muda, bukan perokok.
Mungkin memiliki riwayat rheumatoid arthritis atau
pajanan asap.
CT-scantoraks pada ekspirasi menunjukkan
daerah hypodense
Panbronkiolitis Difusa Lebih banyak pada laki-laki bukan perokok.
Hampir semua menderita sinusitis kronis.
Foto toraks dan HRCT toraks menunjukkan nodul
opak menyebar kecil dicentrilobular dan gambaran
hiperinflasi

3.6 Tatalaksana PPOK


1. Tatalaksana Preventif
Berhenti Merokok
Merokok adalah faktor risiko utama terjadinya PPOK. Pada studi yang telah
dilakukan, konseling terhadap pasien perokok untuk menghentikan rokok
dinilai sangat efektif menurunkan kecanduan rokok (GOLD, 2017)
Strategi untuk membantu pasien berhenti merokok 5A:
a. Ask (Tanyakan) : Mengidentifikasi semua perokok pada setiap
kunjungan.
b. Advise (Nasihati) : Dorongan kuat pada semua perokok untuk berhenti
merokok.
c. Assess (Nilai) : Keinginan untuk usaha berhenti merokok (misal: dalam
30 hari ke depan).

19
d. Assist (Bimbing) : Bantu pasien dengan rencana berhenti merokok,
menyediakan konseling praktis, merekomendasikan penggunaan
farmakoterapi.
e. Arrange (Atur) : Buat jadwal kontak lebih lanjut

2. Tatalaksana Eksaserbasi
Eksaserbasi didefinisikan sebagai perburukan akut gejala saluran nafas
sehingga membutuhkan terapi tambahan untuk mengatasi. Eksaserbasi dapat
disebabkan infeksi atau faktor lainnya seperti polusi udara, kelelahan atau
timbulnya komplikasi. Gejala eksaserbasi berupa :
 Sesak bertambah
 Produksi sputum meningkat
 Perubahan warna sputum (sputum menjadi purulent)
Klasifikasi eksaserbasi terbagi tiga :
 Tipe I (eksaserbasi berat), memiliki 3 gejala di atas
 Tipe II (eksaserbasi sedang), memiliki 2 gejala di atas.
 Tipe III (eksaserbasi ringan), memiliki 1 gejala di atas ditambah infeksi
saluran napas atas lebih dari 5 hari, demam tanpa sebab lain, peningkatan
batuk, peningkatan mengi atau peningkatan frekuensi pernapasan > 20%
baseline, atau frekuensi nadi > 20% baseline.
Terapi awal yang direkomendasikan adalah menggunakan inhalasi
SABA (short-acting beta2-agonists) dengan atau tanpa antikolinergik.
Kortikosteroid sistemik dapat meningkatkan fungsi paru (FEV1), oksigenasi,
dan mempercepat durasi pemulihan dan rawat inap. Penggunaan
kortikosteroid tidak boleh lebih dari 5-7 hari. Penggunaan antibiotik jika
terdapat indikasi, dapat mempercepat durasi pemulihan, menurunkan risiko
kekambuhan, kegagalan terapi, dan durasi rawat inap. Durasi terapi antibiotik
harus 5-7 hari (GOLD, 2017)
Terapi berdasarkan tipe eksaserbasi menurut GOLD 2017 adalah:
 Eksaserbasi ringan : hanya menggunakan SABA dan/atau SAMA
 Eksaserbasi sedang : menggunakan SABA dan/atau SAMA ditambah
dengan antibiotik dan/atau kortikosteroid oral

20
 Eksaserbasi berat : pasien perlu rawat inap, beri terapi oksigen, beri inhalasi
bronkodilator kerja cepat dengan meningkatkan dosis dan frekuensi
pemberian. Kortikosteroid inhalasi atau oral atau intravena dapat
dipertimbangkan. Pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan dimana
sebagian besar eksaserbasi dipicu oleh infeksi
Methylxanthine tidak direkomendasikan karena efek samping yang
tinggi. Penggunaan LABA dimulai segera sebelum pemulangan pasien.
Ventilasi mekanik non-invasif perlu digunakan pada pasien PPOK dengan
gagal nafas tanpa kontraindikasi absolut untuk meningkatkan pertukaran gas,
pengurangan beban kerja saat bernapas, dan adanya indikasi intubasi untuk
meningkatkan survival rate (GOLD, 2017)

3.7 Komplikasi
Komplikasi pada PPOK merupakan bentuk perjalanan penyakit yang
progresif dan tidak sepenuhnya reversibel seperti:
1. Gagal napas kronik
Hasil analisis gas darah PO2 < 60 mmHg dan Pco2 > 60 mmHg, dan pH
normal, penatalaksanaan :
 Jaga keseimbangan PO2 dan PCO2
 Bronkodilator adekuat
 Terapi oksigen yang adekuat terutama waktu aktiviti atau waktu
tidur
 Antioksidan
 Latihan pernapasan dengan pursed lips breathing
2. Gagal napas akut pada gagal napas kronik, ditandai oleh :
 Sesak napas dengan atau tanpa sianosis
 Sputum bertambah dan purulen
 Demam
3. Kesadaran menurun
Pada pasien PPOK produksi sputum yang berlebihan menyebabkan
terbentuk koloni kuman, hal ini memudahkan terjadinya infeksi berulang,

21
pada kondisi kronik ini imunitas menjadi lebih rendah, ditandai dengan
menurunnya kadar limfosit darah.
4. Kor pulmonal:
Ditandai oleh P pulmonal pada EKG, hematokrit > 50%, dapat disertai
gagal jantung kanan

22
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang, kasus
pada Tn. S usia 87 tahun didiagnosis dengan PPOK eksaserbasi akut.
Penegakan diagnosis didasari pada hal-hal berikut :
Kasus: Pasien datang dengan keluhan sesak napas. Sesak sudah dialami
pasien sejak 2 bulan yang lalu memberat 3 hari terakhir. Sesak muncul pada
saat aktivitas sehari-hari, tidak berkurang dengan perubahan posisi. Pasien
juga mengalami batuk selama 1 bulan, batuk berdahak bening, tidak berbau,
tidak didapatkan darah. Pasien sering mengalami keringat malam, penurunan
berat badan dan nafsu makan berkurang. Pasien telah berhenti merokok
selama 5 tahun terakhir. Sebelumnya pasien merokok sekitar 15-20 batang
perhari selama 50 tahun. Sehingga indeks brinkman pasien diatas 600.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 98 kali
/ menit, napas 30 kali / menit, suhu 36,7 ˚C, SaO2 96%. Dari inspeksi thorax
didapatkan Bentuk dada simetris, barrel chest (+), iga datar (+), ruang antar
iga melebar(+) auskultasi didapatkan wheezing di seluruh lapang paru.
Teori: Gejala yang paling sering terjadi pada pasien PPOK adalah sesak
napas. Batuk bisa muncul secara hilang timbul. Batuk kronis pada PPOK bisa
juga muncul tanpa adanya dahak. Faktor risiko PPOK berupa merokok,
genetik, paparan terhadap partikel berbahaya, usia, hiperreaktivitas bronkus,
status sosioekonomi, dan infeksi (GOLD, 2017)
Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman(IB), yaitu perkalian jumlah
rata-rata batang rokok yang dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam
tahun : Ringan : 0-200, Sedang : 200-600, Berat : > 600 . Pada pasien, IB
sebesar diatas 600, sehingga pasien merupakan perokok berat. Pada pasien

23
PPOK berat biasanya didapatkan bunyi mengi dan ekspirasi yang memanjang
pada pemeriksaan fisik. (GOLD, 2017)

Kasus: Dari pemeriksaan laboratoris didapatkan leukositosis 13.670 /µL.


Pada pemeriksaan foto toraks, Emfisematus lung, corakan bronkovaskular
meningkat di apex dextra , hiperaerasi, pada sudut costovrenicus tajam,
diaphragma mendatar
Teori: Adanya corakan bronkovesikular di foto toraks dan leukositosis dapat
mengindikasikan adanya bronkitis. Bronkitis sendiri sering menjadi pemicu
terjadinya eksaserbasi pada PPOK (PDPI, 2011). Adanya peningkatan
corakan bronkovaskular di apex dapat dicurigai adanya TB paru.

Kasus: Pada kasus tidak dilakukan pemeriksaan spirometri


Teori: Pemeriksaan spirometri dilakukan pada pasien PPOK stabil untuk
mendapatkan hasil yang lebih spesifik dan signifikan (GOLD, 2017)

Kasus: Pada kasus ini Tn. S mengalami sesak 2 bulan memberat 3 hari
terakhir. Sesak saat aktivitas sehari-hari, tidak berkurang dengan perubahan
posisi. Pasien rutin kontrol ke poli jantung.
Pada pemeriksaan EKG didapatkan Irama Sinus takikardi 104 kali per menit,
normo aksis, didapatkan p pulmunal.
Teori: pasien didiagnosa sebagai gagal jantung.

4.2 Tatalaksana
Tatalaksana eksaserbasi akut PPOK yang direkomendasikan sebagai
terapi awal adalah menggunakan inhalasi SABA (short-acting beta2-agonists)
dengan atau tanpa antikolinergik. Kortikosteroid sistemik dapat meningkatkan
fungsi paru (FEV1), oksigenasi, dan mempercepat durasi pemulihan dan rawat
inap. Penggunaan kortikosteroid tidak boleh lebih dari 5-7 hari. Penggunaan
antibiotik jika terdapat indikasi, dapat mempercepat durasi pemulihan,
menurunkan risiko kekambuhan, kegagalan terapi, dan durasi rawat inap.
Durasi terapi antibiotik harus 5-7 hari (GOLD, 2017)

24
Terapi berdasarkan tipe eksaserbasi menurut GOLD 2017 adalah:
 Eksaserbasi ringan : hanya menggunakan SABA dan/atau SAMA
 Eksaserbasi sedang : menggunakan SABA dan/atau SAMA ditambah
dengan antibiotik dan/atau kortikosteroid oral
 Eksaserbasi berat : pasien perlu rawat inap, beri terapi oksigen, beri inhalasi
bronkodilator kerja cepat dengan meningkatkan dosis dan frekuensi
pemberian. Kortikosteroid inhalasi atau oral atau intravena dapat
dipertimbangkan. Pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan dimana
sebagian besar eksaserbasi dipicu oleh infeksi.
Pada pasien kasus ini, terapi awal yang diberikan adalah inhalasi
kombinasi antikolinergik dan kortikosteroid. Setelah tiga kali terapi inhalasi,
wheezing masih ada dan pasien masih terlihat sesak, maka diberikan
kortikosteroid intravena berupa metil prednisolon 3 x 62,5 mg dan antibiotik
intravena.

25
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasar pada pemaparan kasus, tinjauan pustaka, dan pembahasan,
dapat disimpulkan bahwa:
1. Pasien pada kasus portofolio ini merupakan seorang pasien laki-laki usia
87 tahun yang didiagnosis dengan PPOK eksaserbasi akut + Bronkitis +
gagal jantung.
2. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan penyakit yang
ditandai dengan adanya gejala respiratorik dan limitasi aliran udara
dikarenakan adanya abnormalitas alveolar yang diakibatkan oleh kontak
dengan partikel atau gas yang berbahaya/merusak.
3. Kebiasaan merokok adalah satu-satunya penyebab kausal yang
terpenting. Asap rokok mempunyai prevalensi yang tinggi sebagai
penyebab gejala respirasi dan gangguan fungsi paru.
4. Diagnosis didapat melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti berdasarkan hasil pemeriksaan
spirometri.
5. Tatalaksana berupa menghindari penyebab eksaserbasi, terapi
pemeliharaan, dan terapi saat terjadi eksaserbasi.
6. Komplikasi yang dapat terjadi harus dapat segera dikenali agar dapat
dilakukan tatalaksana yang sesuai untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas.

26
DAFTAR PUSTAKA

GOLD, 2017. Pocket Guide to COPD Diagnosis, Management, and


Prevention. 2017 penyunt. Alabama: GOLD.inc.
Indonesia KKR, 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. 2013 penyunt. Jakarta:
Kemenkes RI.
PDPI, 2011. PPOK : Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta: PDPI.
Lozano R, Naghavi M, et al. Global and regional mortality from 235 causes of death
for 20 age groups in 1990 and 2010: a systemic analysis for the Global Burden
of Disease Study 2010. Lancet 2012;380(9859): 2095-128.

27