Anda di halaman 1dari 12

Mk.

Budidaya makanan alami

Dosen : Muhammad Haritza Laitte, S.Pi., M.Si

Moina sp

TUTI PARASSA
G02156004
BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS FAPETKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
TAHUN AJARAN 2016/2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pakan alami sangat diperlukan dalam budidaya ikan dan pembenihan,karena
akan menunjang kelangsungan hidup benih ikan. Pada saat telur ikan baru menetas
maka setelah makanan cadangan habis, benih ikan membutuhkan pakan yang sesuai
dengan ukuran tubuhnya. Pemberian pakan yang berlebihan atau tidak sesuai dengan
kondisi ikan berakibat kualitas air media sangat rendah. Disamping air media cepat
kotor dan berbau amis, berakibat pula kematian benih ikan sangat tinggi sampai
sekitar 60- 70%.
Pakan alami merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan produksi benih
ikan hias maupun ikan konsumsi. Budidaya pakan alami yang dilakukan sendiri oleh
petani menjanjikan sejumlah keuntungan, disamping kualitas kebersihan pakan
terjamin, pakan alami produksi sendiri juga menghasilkan jenis pakan/kutu air seperti
yang diharapkan. Penghematan waktu,tenaga dan biaya juga akan diraih apabila
produksi pakan alami dilakukan dengan baik.

B. Tujuan
1) Memberikan pengertian dan pemahaman mengenai proses kultur
Zooplankton utamanya untuk Moina sp.
2) Memberikan pengertian dan pemahaman cara-cara serta teknik yang
digunakan dalam kultur Moina sp mulai dari persiapan media hingga
pemanenan.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Klasifikasi Miona sp
Mudjiman (2008), mengklasifikasikan Moina sp adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Branchiopoda
Order : Cladocera
Family : Moinidae
Genus : Moina
Spesies : Moina sp.

Klasifikasi dalam biologi membedakan plankton dalam dua kategori utama yaitu
fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton meliputi semua tumbuhan yang
berukuran kecil seperti spirulina, chorella, sedangkan yang termasuk dalam
zooplankton adalah semua organisme renik yang meliputi hewan yang umumnya
renik. Zooplankton, disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya
mengapung, atau melayang dalam air. Kemampuan renangnya sangat terbatas
hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya (Nontji,
2005).
Pada phylum Arthropoda, jenis Moina sp, banyak terdapat di perairan tawar
karena pada sungai banyak terdapat makanan Moina sp yaitu fitoplankton dan juga
terdapat banyak zat hara yang terbawa oleh arus (Juwana, 2001).

2. Ciri – ciri dan morfologi Moina sp


Mudjiman (2008), menyatakan bahwa Moina sp merupakan kelompok udang
renik yang termasuk dalam filum Crustacea, kelas Entomostraca, ordo Phylopoda,
dan subordo Cladocera. Ukuran Moina sp berkisar antara 500-1.000 mikron. Ciri
khas dari Moina sp adalah bentuk tubuh pipih ke samping, dinding tubuh bagian
punggung membentuk suatu lipatan sehingga menutupi bagian tubuh beserta
anggota-anggota tubuh pada kedua sisinya. Bentuk tubuh Moina sp tampak seperti
sebuah cangkang kerang-kerangan. Cangkang di bagian belakang membentuk
sebuah kantong yang berguna sebagai tempat penampungan dan perkembangan
telur.
Ciri-ciri morfologi Moina sp adalah berwarna merah karena mengandung
haemoglobin, bergerak aktif, bentuk tubuh Moina sp membulat,
perkembangbiakannya secara sexual dan parthenogenesis, bentuk tubuhnya bulat,
segmen badan tidak terlihat. Pada bagian ventral kepala terdapat paruh. Pada bagian
kepala terdapat lima pasang apendik atau alat tambahan, yang pertama disebut
antena pertama (antennule), yang kedua disebut antenna kedua yang mempunyai
fungsi utama sebagai alat gerak. Sedangkan tiga pasang alat tambahan lainnya
merupakan alat tambahan yang merupakan bagian-bagian dari mulut. Tubuh Moina
sp ditutupi oleh cangkang dari kutikula yang mengandung khitin yang transparan,
dibagian dorsal (punggung) bersatu tetapi dibagian ventral (perut)
berongga/terbuka dan terdapat lima pasang kaki yang tertutup oleh cangkang.
Ruang antara cangkang dan tubuh bagian dorsal merupakan tempat pengeraman
telur. Pada ujung post abdomen terdapat dua kuku yang berduri kecil-kecil
(Mudjiman, 2008).
3. Habitat Moina sp.
Moina sp biasa hidup pada perairan yang tercemar bahan organik, seperti pada
kolam dan rawa. Pada perairan yang banyak terdapat kayu busuk dan kotoran
hewan, Moina sp akan tumbuh dengan baik pada perairan yang mempunyai kisaran
suhu antara 14-30 ° C dan pH antara 6,5 – 9. Jenis makanan yang baik untuk
pertumbuhan Moina sp adalah bakteri. Untuk menangkap mangsa, Moina sp akan
menggerakan alat tambahan pada bagian mulut, yang menyebabkan makanan
terbawa bersama aliran air ke dalam mulut (Menurut Pennak, 1989)
.
4. Ekologi Moina sp
Moina sp merupakan zooplankton air tawar yang dapat hidup di sungai, parit,
rawa-rawa, dan air tergenang. Plankton ini tersebar luas yang di sebabkan oleh
aliran air dan terbawa oleh binatang lainnya.Hal ini di mungkinkan karena telur
Moina sp tersebut mampu bertahan pada kondisi perairan yang sangat buruk,
bahkan perairan yang sedikit berair. Apabila kondisi perairan telah memenuhi
persyaratan untuk kehidupannya, maka telur-telur tersebut akan menetas (Alam
Ikan 7). Selanjutnya dijelaskan bahwa lingkungan yang mendukung pertumbuhan
Moina sp adalah pada kisaran suhu 22 – 31 oC dan pH antara 6,6 – 7,4.

5. Reproduksi Moina sp
Moina sp berkembang biak secara partenogenetik (telur berkembang tanpa
dibuahi). Pada umumnya perkembangbiakan yang demikian akan menghasilkan
telur sebanyak 10-20 butir, apabila lingkungan mendukung telur akan menetas
menjadi hewan betina. Selain itu Moina sp dapat juga berkembang biak secara
kawin. Dengan cara ini hewan betina akan menghasilkan telur sebanyak 1 – 2 butir.
Perkembangan secara demikian terjadi apabila individu jantan terdapat dalam
jumlah yang banyak bila di banding dengan individu betina, atau juga bisa terjadi
apabila kondisi perairan tidak mendukung hewan betina untuk menghasilkan dan
menetaskan telurnya sendiri.
Mudjiman., 2008, menyatakan bahwa telur-telur yang di hasilkan oleh induk
betina ditampung di dalam kantung telur yang terletak di atas punggung. Di dalam
kantong telur, embrio berkembang terus sehingga ketika dikeluarkan sudah
setengah dewasa. Selanjutnya dikatakan bahwa Moina sp akan menjadi dewasa
dalam waktu 5 hari dari total umurnya yaitu 30 hari. Setiap dua hari sekali, Moina
sp mampu menghasilkan anak sebanyak 33 ekor. Dengan demikian, keturunan yang
di hasilkan selama hidupnya sebanyak 500 ekor.
Selanjutnya dikatakan bahwa di daerah beriklim dingin perkembang
biakannya akan menghasilkan individu-individu jantan, sedangkan di daerah
beriklim panas juga sering terjadi pergantian sistem perkembangbiakan dan dapat
terjadi lebih dari satu kali perkembangbiakan secara kawin.

6. Kultur Moina sp
a) Persiapan wadah kultur
Menurut Darmanto (2000), Sebelum digunakan wadah kultur pakan
alami Moina sp, terlebih dahulu dibersihkan dan dikeringkan. Tujuannya
adalah untuk membasmi hama penyakit yang bersarang dalam wadah
tersebut. Wadah yang digunakan terbuat dari akuarium dengan ukuran 50 x
65 x 50 cm. Kemudian di isi dengan air sampai dengan ketinggian 40 cm
untuk menjaga kestabilan suhu maka diberikan aerasi untuk mensuplai
oxigen, kemudian permukaan wadah kultur Moina sp ditutup dengan
menggunakan waring untuk mencegah masuknya hama pengganggu dan
predator lainnya.
b) Penyediaan bibit Moina sp
Bibit Moina sp dapat diambil dari perairan tawar seperti saluran pada
irigasi, selokan dan comberan. Untuk mengetahui populasi (gerombolan)
kutu air ini dapat diamati dengan menggunakan alat berbentuk lempengan
putih. Alat ini dibenamkan sampai dasar atau dikait dengan tali agar bisa
melayang (mengambang) pada kedalaman tertentu. Pengamatan dilakukan
dengan memantau air di sekitar atau di atas lempeng. Jika pada perairan
tersebut terdapat kutu air akan tampak gumpalan putih (kelabu) yang
bergerak seperti awan (Priyambodo, 2009). Sebelum bibit Moina sp
diambil, terlebih dahulu menyiapkan media pembibitannya. Untuk
budidaya Moina sp digunakan wadah berupa akuarium. Wadah diletakkan
di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung. Selanjutnya, wadah
diisi air tawar setinggi 40 cm dan diaerasi dengan 1 – 2 buah batu aerasi.
Suhunya diusahakan konstan dalam kisaran 27 – 30C (Priyambodo, 2009).
Ke dalam wadah ini dimasukkan air tawar dan pupuk kandang (kotoran
ayam) sebanyak 0,2 gr/liter. Kemudian media ini diaerasi selama 2 minggu.
Warna air akan berubah menjadi coklat jika ditumbuhi oleh phytoplankton,
khususnya Diatomae. Jika Diatomae belum tumbuh, aerasi dilanjutkan
selama 1 minggu lagi. Selanjutnya wadah ini disaring dengan kain blacu
atau trilin. Air saringan dimasukkan ke dalam wadah lain dalam keadaan
tetap diaerasi. Sehari kemudian bibit Moina sp yang diambil dari perairan
atau dari balai pembibitan langsung dimasukkan kedalamnya. Dalam proses
penangkaran, air media diberikan pupuk susulan berupa sari pupuk kandang
yang dibuat dari pelumatan 0,2 kg pupuk kandang dalam 1 liter air.
Pemupukan susulan ini sekaligus sebagai upaya penambahan volume air
media.
c) Penebaran bibit Moina sp
Pemasukan bibit dilakukan selang 18 – 24 jam setelah pemupukan
awal. Hal ini dimaksudkan supaya tidak terlalu banyak bibit yang mati.
Padat penebarannya sekitar 30 ekor/l. Apabila padat penebarannya kurang
maka perkembangannya akan kurang pesat. Sebaliknya jika padat
penebarannya lebih tinggi akan terjadi pemborosan penggunaan bibit.
Moina sp yang digunakan sebagai bibit dipilih yang berukuran lebih dari
500 mikron. Sehat, tidak lemah, dan tidak sedang bertelur. Moina sp yang
lemah ditandai oleh warna tubuhnya yang pucat. Sebelum ditebarkan, bibit
Moina sp perlu dicuci terlebih dahulu dengan kain saringan halus dan
disemprot dengan air bersih. Dengan demikian, kotoran-kotorannya akan
lolos, sedangkan bibit Moina sp tetap tinggal di atas saringan. Bibit Moina
sp yang akan digunakan sebaiknya jangan diambil dari bak pemeliharaan
yang kepadatannya rendah, atau dari tempat yang banyak ditumbuhi oleh
organisme penyaing, misalnya Brachionus (Priyambodo, 2009).
d) Pemeliharaan Moina sp
Mudjiman (2008), menyatakan bahwa dalam masa pemeliharaan,
kepadatan Moina sp perlu diamati secara teratur. Pengamatan dapat
dilakukan melalui pengambilan contoh (sampling). Pengambilan contoh air
media dilakukan dengan mengaduk air media secara merata. Pengambilan
contoh air media dilakukan tiga kali dengan sebuah gelas piala kecil ukuran
100 ml. Pakan alami hidup bebas di berbagai perairan, baik perairan tawar,
payau maupun laut yang mampu berkembang biak secara cepat. Pakan
alami ikan ini dapat diproduksi secara massal pada lingkungan yang
terkendali dan memiliki daya penyesuaian diri (toleransi) yang tinggi
terhadap perubahan lingkungan. Pakan alami memiliki kandungan gizi
yang cukup tinggi. Disamping itu, juga memiliki bentuk dan ukuran yang
sesuai dengan lebar bukaan mulut larva ikan. Seperti contoh pakan alami
jenis Moina sp yang memiliki sel padat, tetapi dindingnya tipis serta tidak
beracun. Moina sp merupakan organisme renik yang hidup diperairan tawar.
Moina sp dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan dengan suhu antara
220-310C dengan pH antara 6,6 – 7,4. Pakan alami Moina sp menjadi
dewasa dalam waktu 5 hari dari total umurnya yaitu 30 hari. Berkembang
biak secara parthenogenesis, yaitu telur yang dihasilkan induk betina
ditampung dalam kantong telur yang terletak di punggung. Di dalam
kantong ini telur akan menetas tanpa harus dibuahi oleh induk jantan.
Perkembangan larva (nauplius) sampai dewasa sangat dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan. Setiap dua hari sekali, Moina sp mampu menghasilkan
anak sebanyak 33 ekor. Dengan demikian, keturunan yang dihasilkan
semasa hidupnya sebanyak 500 ekor. Moina sp memiliki ukuran sekitar
1000 – 5000 mikron.
Kesehatan Moina sp dapat dilihat dari warna tubuhnya. Moina sp yang
sehat berwarna coklat kemerahan dengan saluran pencernaan penuh berisi
makanan. Jika Moina sp menggerombol di permukaan atau banyak yang
sedang bertelur, menunjukkan bahwa kualitas air media sudah menurun.
Jika dalam keadaan seperti ini Moina sp tetap dipelihara maka hasilnya akan
jelek (Mudjiman, 2008). Dengan pemeliharaan yang baik, Moina sp dapat
mencapai puncak perkembangannya dalam waktu 7–10 hari. Kepadatan
pada puncak perkembangannya mencapai 3000–5000 ekor/l. Jika waktu
yang dibutuhkan untuk mencapai kepadatan 3000 ekor/l itu lebih dari 10
hari, berarti pemeliharaan kurang benar. Dalam kondisi seperti ini sebaiknya
Moina sp segera dipanen (Mudjiman, 2008).
Moina sp hidup pada perairan yang baik ialah pada suhu berkisar
antara 14-300C, pH berkisar 6,5-9,0, DO berada di kisaran 3-5 ppm
kecerahan 60-80 cm. Jenis makanan yang baik untuk pertumbuhannya
adalah bakteri dan phytoplankton (Mudjiman, 2008).
e) Pemanenan Moina sp
Anonim (2009), menyatakan jika kepadatan telah mencapai 4 ekor/ml
(4000 ekor/l), Moina sp harus segera dipanen karena jika terlambat dipanen,
Moina sp akan mati dan hilang dengan percuma. Pemanenan didahului
dengan mematikan aerasi air media. Setelah beberapa menit, kotoran-
kotoran akan mengendap dan Moina sp akan berkumpul di dekat permukaan
air. Selanjutnya Moina sp disedot dengan selang plastik kecil dan ditampung
di dalam sebuah ember yang dipasang kain saringan ukuran 200-250
mikron. Hasil tangkapan dipindahkan ke wadah lain yang diletakkan di
tempat yang teduh. Cara pemanenan seperti ini dapat dilakukan sampai
beberapa kali dan disesuaikan dengan keperluan. Jika dalam populasi Moina
sp yang dipanen terdapat jentik-jentik nyamuk maka jentik nyamuk tersebut
harus dipisahkan dengan menggunakan kain saringan 800 – 1000 mikron.
Dengan mata saringan tersebut, Moina sp akan lolos ke bawah sedangkan
jentik-jentik nyamuk akan tertahan di atas saringan. Jika hasil panen tidak
habis sekali pakai maka kelebihannya dapat disimpan di dalam freezer.
Keesokan hari atau lusanya Moina sp beku masih dapat digunakan lagi
untuk makanan hewan-hewan peliharaan. Keadaan Moina sp ini masih
segar meskipun sudah tidak dapat hidup lagi. Untuk menjaga kualitas
selama penyimpanan. Moina sp dibungkus dengan kantong plastik kedap
udara. Pemanenan dilakukan menggunakan plankton net dengan
menghentikan aerasi, juga dapat dilakukan dengan penyedotan dan
penyaringan medium dengan saringan ukuran 200 - 250 mikron dan 800-
1500 mikron untuk memisahkan Moina sp dengan jentik-jentik nyamuk
(Anonim, 2006). Pemanenan dapat dilakukan pada hari ke tujuh – sepuluh
jika populasinya sudah mencukupi. Pemanenan tersebut dilakukan dengan
cara menggunakan seser halus. Waktu pemanenan dilakukan pada pagi hari
disaat matahari terbit, pada waktu tersebut Moina sp akan banyak
berkumpul dibagian permukaan media untuk mencari sinar. Dengan
tingkahlakunya tersebut akan sangat mudah bagi para pembudidaya untuk
melakukan pemanenan. Moina sp yang baru dipanen tersebut dapat
digunakan langsung untuk konsumsi larva atau benih (Anonim, 2006).
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
a. bahwa Moina sp merupakan kelompok udang renik yang termasuk dalam
filum Crustacea, kelas Entomostraca, ordo Phylopoda, dan subordo
Cladocera. Ukuran Moina sp berkisar antara 500-1.000 mikron.
b. Moina sp berkembang biak secara partenogenetik (telur berkembang tanpa
dibuahi).
c. Moina sp biasa hidup pada perairan yang tercemar bahan organik, seperti pada
kolam dan rawa. Pada perairan yang banyak terdapat kayu busuk dan kotoran
hewan.
d. Moina sp akan tumbuh dengan baik pada perairan yang mempunyai kisaran
suhu antara 14-30 ° C dan pH antara 6,5 – 9.
DAFTAR PUSTAKA

Chumaidi dan Djajadireja, 1982. Kultur Massal Daphnia sp.di Dalam Kolam Dengan Menggunakan Pupuk
Kotoran Ayam. Bull. Pen.PD.1.3(2) : 17 – 20.
Chumaidi et. al. 1990. Petunjuk Teknis Budidaya Pakan Alami Ikan dan Udang
Puslitbangkan PHP\KAN\PT\12\Rep\1990. Jakarta
Darti,S., Darmanto, dan Adisha. 2000 Laporan Akhir Hasil Pengkajian Budidaya Pakan Alami untuk Benih
Ikan Ekonomis Penting. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta
Lingga, P. dan H. Susanto. 1989. Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta Hal. 17- 24.
Suprayitno, SH. 1986. Kultur Makanan Alami. Direktorat Jendral Perikanan dan
International Development Research Centre. INFIS Manual Seri no.34.35 pp of GiantGouramy
Larvae in Chorn Lim (eds) Fish ang feed Technology research inIndonesia- RIFCA. Ministry of
Agriculture Indonesia. P. 107 – 112
Rottermann, (2001),”Pakan alami pada industry budidaya air tawar “Thailand;Trims
Sachlan, (1980). “golongan udang renik Cladocera”, Moina weismani, ; M. reticulate
Mudjiman, (2008),”Moina sp mempunyai ukuran bentuk tubuh 500-1.000 mikron”,Romant,;2005
Priambodo, ( 2002), “bergerak aktif dengan alat geraknya yaitu kaki renang “Bogor ;Media Ilmu
Djarijah dalam Nurzaman, (2002). “Moina sp mempunyai perbedaan dengan jenis kutu air
lainnya”, Bogor ; Media Ilmu Perikanan.
Lingga dalam Nurzaman, (2002) “bahwa bentuk Moina sp pipih bening dan tembus pandang, sehingga
terlihat bentuk anggota bagian dalam termasuk telurnya”,Bogor ; Buku ilmu Perikanan.