Anda di halaman 1dari 13

KOPERASI DAN UMKM

“SAP 6: Kebijaksanaan Pemerintah dalam Pembangunan Koperasi di Indonesia”

Tugas ini bertujuan untuk memenuhi kewajiban dalam perkuliahan Koperasi dan UMKM
Dosen: Drs. I Made Dana, M.M.

OLEH KELOMPOK 5

Ketut Memi Wulandari 1506305032 ( 07 )

Ketut Ita Diantari 1506305043 ( 12 )

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2018
DAFTAR ISI

PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 1

6.1 Pembangunan Koperasi dan Perundang-undangan .......................................................... 1

6.2 Tantangan, Kendala dan Peluang dalam Pembangunan Koperasi ................................... 2

6.2.1 Tantangan dalam Pembangunan Koperasi ................................................................ 2

6.2.2 Kendala dalam Pembangunan Koperasi .................................................................... 4

6.2.3 Peluang dalam Pembangunan Koperasi .................................................................... 5

6.3 Arahan, Sasaran dan Kebijaksanaan Pembangunan Koperasi ......................................... 6

6.3.1 Arahan Pembangunan Koperasi ................................................................................ 6

6.3.2 Sasaran Pembangunan Koperasi ................................................................................ 6

6.3.3 Kebijaksanaan Pembangunan Koperasi ..................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 11

i
PEMBAHASAN

6.1 Pembangunan Koperasi dan Perundang-undangan


Koperasi sesuai dengan watak sosialnya adalah wadah ekonomi untuk menanggulangi
kemiskinan dan keterbelakangan dalam upaya untuk menciptakan pembangunan yang
berkeadilan. Selain itu, koperasi juga merupakan organisasi ekonomi yang paling banyak
melibatkan peran serta rakyat. Oleh karena itu, koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat perlu
lebih banyak diikutsertakan dalam upaya pembangunan, untuk mewujudkan pembangunan yang
lebih merata, tumbuh dari bawah, berakar di masyarakat dan mendapat dukungan luas dari
rakyat. Pembangunan koperasi dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I) telah
menunjukkan berbagai keberhasilan yang sangat berarti, baik ditinjau dari jumlah koperasi,
jumlah anggota koperasi, maupun nilai usaha koperasi.
Koperasi juga telah berperan aktif dalam kegiatan ekonomi rakyat dan sekaligus mulai
dapat meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. Keadaan tersebut tercermin, antara lain
dari peningkatan jumlah dan ragam koperasi, jumlah dan ragam dalam bidang koperasi, jumlah
simpanan anggota, jumlah modal usaha, serta jumlah nilai usaha koperasi. Kemajuan
pembangunan koperasi ini cukup menggembirakan karena telah menunjukkan bahwa koperasi
sebagai gerakan ekonomi rakyat dan badan usaha semakin berperan aktif dan terlibat lebih luas
dalam berbagai kegiatan ekonomi serta sekaligus telah meningkatkan kesejahteraan para
anggotanya yang pada umumnya masih terbatas kemampuan ekonominya.
Sesuai dengan tahapan pembangunan nasional dalam Pembangunan Jangka Panjang
Pertama, peranan pemerintah dalam pembangunan koperasi pada masa itu masih besar,
terutama ada kegiatan yang bersifat perintis dan kegiatan perekonomian lainnya yang belum
sepenuhnya mampu dilaksanakan sendiri oleh gerakan koperasi. Kebijaksanaan pembinaan
usaha koperasi sejak Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama, yang diprioritaskan untuk
mendukung keberhasilan program pengadaan pangan nasional melalui Koperasi Unit Desa,
didukung dengan pemberian kredit pengadaan pangan beserta penyediaan jaminan kreditnya
yang kemudian telah memberikan sumbangan besar bagi tercapainya swasembada beras sejak
tahun 1984.
Sejalan dengan perkembangan pembangunan nasional yang ditandai oleh kemajuan
yang pesat di berbagai sektor di luar sektor pertanian, bidang usaha koperasi juga turut
berkembang. Dewasa ini, lingkup bidang usaha koperasi mencakup baik usaha pertanian
maupun usaha non-pertanian, seperti industri pangan, penyaluran pupuk, pemasaran kopra,
pemasaran cengkeh, pemasaran susu, pemasaran hasil perikanan, petemakan, pertambangan

1
rakyat, kerajinan rakyat, penyaluran BBM, dan lain sebagainya. Sumbangan koperasi secara
nasional dalam pengadaan maupun penyaluran beberapa komoditas penting cukup besar.
Gerakan koperasi Indonesia juga telah memiliki organisasi tunggal, yaitu Dewan Koperasi
Indonesia (Dekopin) yang berfungsi sebagai wadah perjuangan dan pembawaan aspirasi bagi
kepentingan gerakan koperasi. Selain itu, selama PJP I juga telah terbentuk prasarana
penunjang bagi PJP II. Prasarana penunjang tersebut di antaranya adalah Institut Manajemen
Koperasi Indonesia (Ikopin) dan Akademi Koperasi (Akop) sebagai lembaga pendidikan
pencetak sarjana dan kader pembangunan koperasi yang ahli di bidang manajemen koperasi.
Pada saat itu, telah berdiri pula Koperasi Jasa Audit (KJA) yang tersebar di dua puluh
provinsi dan berfungsi sebagai pusat pelayanan jasa audit, jasa bimbingan dan manajemen,
serta jasa pelatihan. Di bidang asuransi, gerakan Koperasi juga telah memiliki Koperasi
Asuransi Indonesia (KAI). Di bidang keuangan, telah dibentuk Perusahaan Umum
Pengembangan Keuangan Koperasi (Perum PKK) yang merupakan penyempurnaan dari
Lembaga Jaminan Kredit Koperasi (LJKK) dan berfungsi memberikan jaminan atas kredit
kepada koperasi yang diberikan oleh bank.
Modal penting lainnya dalam pengembangan koperasi pada Pembangunan Jangka Panjang
Kedua adalah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang
memberikan landasan hukum yang kuat bagi pembangunan koperasi yang selaras dengan
pembangunan di sektor-sektor lainnya dalam upaya membangun koperasi yang maju dan
mandiri. Pada prinsipnya, undang-undang perkoperasian yang baru memberikan keleluasaan
yang lebih besar kepada gerakan koperasi untuk menentukan arah pengembangan usaha agar
makin sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan para anggota. Di samping itu, pemerintah
tetap memberikan bimbingan, kemudahan, dan perlindungan dalam rangka memandirikan
koperasi.

6.2 Tantangan, Kendala dan Peluang dalam Pembangunan Koperasi


6.2.1 Tantangan dalam Pembangunan Koperasi
Meskipun banyak hasil yang telah dicapai dalam pembangunan koperasi selama
Pembangunan Jangka Panjang Pertama, masih banyak pula masalah yang belum
terselesaikan, yang harus dilanjutkan dan ditingkatkan penanganannya dalam
Pembangunan Jangka Panjang Kedua, sebagai tantangan untuk mewujudkan cita-cita
perkoperasian seperti yang diamanat-kan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Hingga saat
ini, karena berbagai alasan ekonomi dan nonekonomi, koperasi pada umumnya belum
dapat melaksanakan sepenuhnya prinsip koperasi sebagaimana yang telah dicita-citakan,

2
sehingga koperasi sebagai badan usaha dan gerakan ekonomi rakyat belum dapat
mengembangkan sepenuhnya potensi dan kemampuannya dalam memajukan
perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Di samping itu,
berbagai kondisi struktural dan sistem yang ada masih menghambat koperasi untuk
sepenuhnya dapat menerapkan kaidah ekonomi guna meraih dan memanfaatkan berbagai
kesempatan ekonomi secara optimal.
Sementara itu, terbukanya perekonomian nasional terhadap perkembang-an
perekonomian dunia diperkirakan akan menghadirkan perubahan-perubahan besar dalam
tatanan kehidupan ekonomi nasional. Persaingan usaha akan makin ketat, peranan ilmu
pengetahuan dan teknologi meningkat, tuntutan akan sumber daya manusia yang berkualitas
untuk mengantisipasi dan merencanakan masa depan meningkat pula. Kedudukan dan
keberadaan koperasi makin terintegrasi dan berperan menentukan ke dalam perekonomian
nasional. Oleh karena itu, tantangan dalam pembangunan koperasi adalah mengembangkan
koperasi menjadi badan usaha yang sehat, kuat, maju, mandiri, dan memiliki daya saing
sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya yang berujung pada
meningkatnya perekonomian nasional. Dengan memperhatikan kedudukan koperasi, baik
sebagai soko guru perekonomian nasional maupun sebagai bagian integral dari tatanan
perekonomian nasional, peran koperasi sangat penting dalam menumbuhkan dan
mengembangkan potensi ekonomi rakyat. Dalam hal ini, koperasi sebenarnya memiliki
ruang gerak dan kesempatan usaha yang luas, terutama dalam hal yang menyangkut
kepentingan kehidupan ekonomi rakyat. Namun dalam kenyataannya, koperasi masih
menghadapi beberapa hambatan struktural dan sistem untuk dapat berfungsi dan berperan
sebagaimana yang diharapkan, antara lain dalam memperkukuh perekonomian rakyat
sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional. Dengan demikian, yang
menjadi tantangan adalah mewujudkan koperasi, baik sebagai badan usaha maupun
sebagai gerakan ekonomi rakyat agar mampu berperan secara nyata dalam kegiatan
ekonomi rakyat. Inti kekuatan koperasi terletak pada anggota yang berpartisipasi aktif
dalam organisasi koperasi dan kesadaran masyarakat untuk bergabung dalam wadah
koperasi. Sebagai gerakan ekonomi rakyat, koperasi masih harus meningkatkan
kemampuannya dalam menggerakkan dan menampung peran serta masyarakat secara
luas. Oleh karena itu, mewujudkan koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berakar
dalam masyarakat juga merupakan tantangan dalam pembangunan koperasi di Indonesia.

3
6.2.2 Kendala dalam Pembangunan Koperasi
Pengalaman pembangunan koperasi dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama
telah memberikan petunjuk bahwa untuk menjawab berbagai tantangan dalam
Pembangunan Jangka Panjang Kedua, masih terdapat beberapa kendala yang membutuhkan
perhatian dalam rangka menggariskan kebijaksanaan dan menyusun program untuk
mencapai sasaran yang dikehendaki. Adapun kendala-kendala yang dimaksud, diantaranya
adalah sebagai berikut.
1) Tingkat kemampuan dan profesionalisme sumber daya manusia koperasi yang pada
umumnya belum memadai. Kendala ini menjadi faktor yang mempengaruhi
kemampuan koperasi dalam menjalankan fungsi dan peranannya yang berakibat pada
kurang efektif dan efisiennya organisasi dan manajemen koperasi. Hal ini tercermin
pada pengelolaan koperasi dan tingkat partisipasi anggota yang belum optimal.
2) Lemahnya struktur permodalan koperasi dan terbatasnya akses koperasi ke sumber
permodalan dari luar.
3) Terbatasnya penyebaran dan penyediaan teknologi secara nasional bagi koperasi,
yang berpengaruh pada rendahnya kemampuan koperasi untuk meningkatkan efisiensi
dan produktivitas usahanya sehingga menyebabkan pula terbatasnya daya saing
koperasi.
4) Mekanisme kelembagaan dan sistem koperasi yang belum berjalan dengan baik. Hal
ini disebabkan oleb kurangnya kesadaran anggota akan hak dan kewajibannya serta
belum berfungsinya mekanisme kerja antar pengurus dan antar pengurus dengan
pengelola koperasi secara menyeluruh.
5) Masih kurangnya kepercayaan dalam bekerja sama bagi terwujudnya jaringan usaha
antara koperasi dengan pelaku ekonomi lainnya.
6) Kurang memadainya sarana dan prasarana yang tersedia di wilayah tertentu, terutama
kelembagaan keuangan baik bank maupun bukan bank, produksi dan pemasaran,
khususnya di daerah tertinggal.
7) Kurang efektifnya koordinasi dan sinkronisasi dalam pelaksanaan program
pembinaan koperasi antarsektor dan antardaerah.
8) Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang koperasi, serta kurangnya
kepedulian dan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi, yang tercermin pada masih
rendahnya peran serta dan dukungan masyarakat dalam pembangunan koperasi.

4
6.2.3 Peluang dalam Pembangunan Koperasi
Selaras dengan perkembangan pembangunan yang dinamis dan pertumbuhan
ekonomi dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam, terbuka berbagai peluang
usaha yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan koperasi. Pembangunan nasional
dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua khususnya Rencana Pembangunan Lima
Tahun Keenam yang mendahulukan aspek pemerataan akan membuka peluang yang lebih
besar bagi pembangunan koperasi. Undang-undang No. 25 Tahun 1992 tentang
Perkoperasian sebagai landasan hukum baru, juga memberikan peluang yang diharapkan
akan mampu mendorong koperasi agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih kuat
dan mandiri. Koperasi primer yang berskala kecil diharapkan berhimpun dalam koperasi
sekunder secara lebih mantap, sehingga lebih terkonsolidasi menjadi kekuatan ekonomi
yang besar dan tangguh serta mampu memanfaatkan peluang keterbukaan perekonomian
Indonesia terhadap perekonomian dunia. Selain itu, terdapat juga berbagai peluang
lainnya dalam pembangunan koperasi dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun
Keenam, di antaranya adalah kemauan politik yang kuat dari pemerintah dan
berkembangnya tuntutan masyarakat untuk lebih banyak membangun koperasi dalam
rangka mewujudkan perekonomian yang sehat yang berlandaskan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945.
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sebagai hasil pembangunan yang
berkelanjutan akan menciptakan peluang bagi berkembangnya usaha koperasi di masa
depan. Sementara itu, makin terbukanya perekonomian dunia turut pula menciptakan
berbagai peluang baru bagi koperasi, diantaranya adalah makin terbukanya pasar
internasional bagi hasil produksi koperasi Indonesia serta makin terbukanya kesempatan
kerja sama internasional antargerakan koperasi di berbagai bidang. Perubahan struktur
perekonomian nasional menciptakan peluang untuk lebih berkembangnya koperasi
pedesaan atau Koperasi Unit Desa (KUD) yang berusaha di bidang agrobisnis, agroindustri,
dan industri pedesaan lainnya. Sementara undang-undang tentang sistem budidaya
tanaman akan mendorong diversifikasi usaha koperasi sesuai dengan kepentingan
masyarakat setempat. Dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua, tuntutan terhadap
perlindungan dan jaminan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi tenaga kerja, yang telah
mulai dirasakan saat ini, diperkirakan akan semakin meningkat. Di samping itu, akan
diperkirakan pula terjadi pertumbuhan yang pesat di sektor industri yang akan
meningkatkan jumlah dan jenis perusahaan. Keadaan ini menciptakan peluang bagi
tumbuhnya peluang kerja bagi calon karyawan baru.

5
6.3 Arahan, Sasaran dan Kebijaksanaan Pembangunan Koperasi
6.3.1 Arahan Pembangunan Koperasi
Pembangunan koperasi sebagai wadah kegiatan ekonomi rakyat diarahkan agar
semakin memiliki kemampuan untuk menjadi badan usaha yang efisien serta menjadi
gerakan rakyat yang tangguh dan berakar dalam masyarakat agar mampu memajukan
kesejahteraan ekonomi anggotanya. Pembangunan koperasi juga diarahkan menjadi
gerakan ekonomi rakyat yang didukung oleh jiwa dan semangat yang tinggi dalam
mewujudkan demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Untuk mewujudkan hal tersebut, koperasi di pedesaan khususnya perlu dikembangkan
mutu dan kemampuannya serta ditingkatkan peranannya dalam kehidupan ekonomi di
pedesaan. Pelaksanaan fungsi dan peranan koperasi ditingkatkan melalui upaya peningkatan
semangat kebersamaan dan manajemen yang lebih profesional. Selain itu, peran aktif
masyarakat dalam menumbuhkembangkan koperasi juga perlu terus ditingkatkan dengan
meningkatkan kesadaran, kegairahan, dan kemampuan berkoperasi di seluruh lapisan
masyarakat melalui upaya penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan.
Fungsi dan peran koperasi juga menjadi tanggung jawab lembaga gerakan koperasi
sebagai wadah perjuangan kepentingan dan pembawa aspirasi gerakan koperasi yang
bekerja sama dengan pemerintah sebagai pembina dan pelindungnya. Pengembangan
koperasi didukung melalui pemberian kesempatan berusaha yang seluas-luasnya di segala
sektor kegiatan ekonomi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri dengan menciptakan
iklim usaha yang mendukung kemudahan memperoleh permodalan. Kerja sama antar
koperasi, antara koperasi dengan usaha negara dan usaha swasta sebagai mitra usaha
dikembangkan secara lebih nyata untuk mewujudkan semangat dan asas kekeluargaan,
kebersamaan, kemitraan usaha dan kesetiakawanan, serta saling mendukung dan saling
menguntungkan. Potensi koperasi untuk tumbuh menjadi usaha skala besar terus
ditingkatkan, antara lain melalui perluasan jaringan usaha koperasi, pemilikan saham,
serta keterkaitan usaha dengan usaha hulu dan usaha hilir, baik dalam usaha negara
maupun usaha swasta.

6.3.2 Sasaran Pembangunan Koperasi


Garis-garis Besar Haluan Negara 1993 menetapkan bahwa sasaran koperasi dalam
Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJPK II) adalah terwujudnya koperasi sebagai
badan usaha dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang sehat, tangguh, kuat,
dan mandiri serta sebagai soko guru perekonomian nasional yang merupakan wadah untuk

6
menggalang kemampuan ekonomi rakyat di semua kegiatan perekonomian nasional,
sehingga mampu berperan utama dalam meningkatkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan
rakyat.
Sasaran pembangunan di bidang ekonomi dalam Rencana Pembangunan Lima
Tahun Keenam (Repelita VI) di antaranya adalah tertata serta mantapnya
kelembagaan dan sistem koperasi agar koperasi makin efisien serta berperan utama
dal am perekonomian rakyat dan berakar dalam masyarakat. Sesuai dengan sasaran
tersebut di atas, maka pemerintah kemudian menetapkan sasaran operasional
pembangunan koperasi dalam Repelita VI, diantaranya adalah sebagai berikut.
1) Makin meningkatnya kualitas sumber daya manusia koperasi yang berdampak pada
makin meningkatnya kemampuan organisasi dan manajemen koperasi.
2) Makin meningkatnya pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan teknologi tepat
guna.
3) Makin kukuhnya struktur permodalan dan jaringan usaha koperasi secara horizontal
dan vertikal.
4) Makin berfungsi dan berperannya lembaga gerakan koperasi.

Dengan demikian, diharapkan daya saing koperasi dan kesejahteraan anggota


koperasi makin meningkat. Selain sasaran operasional yang bersifat umum tersebut,
ditetapkan juga sasaran pengembangan koperasi di pedesaan dan perkotaan. Sasaran
pengembangan koperasi di pedesaan, diantaranya adalah sebagai berikut.
1) Makin berkembangnya koperasi di pedesaan atau Koperasi Unit Desa yang mampu
memberikan kesempatan dan menumbuhkan prakarsa masyarakat pedesaan untuk
meningkatkan usaha yang sesuai dengan kebutuhan dan sekaligus mampu
memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan.
2) Makin menyebarnya Koperasi Unit Desa yang mandiri di seluruh pelosok tanah air.
3) Makin meningkatnya kualitas Koperasi Unit Desa mandiri yang ada.
4) Makin meningkatnya kemampuan usaha dan peran koperasi di pedesaan atau
Koperasi Unit Desa untuk mendorong berkembangnya agribisnis, agroindustri,
industri pedesaan, jasa keuangan, dan jasa lainnya termasuk penyediaan kebutuhan
pokok.
5) Makin berkembangnya koperasi sekunder yang menangani komoditas tertentu,
terutama yang mempunyai nilai komersial tinggi untuk pasar dalam dan luar negeri
sesuai dengan potensi masyarakat setempat.

7
6) Makin meningkatnya kualitas pelayanan usaha koperasi di pedesaan atau Koperasi
Unit Desa kepada para anggotanya dan masyarakat di daerah tertinggal, terisolasi,
terpencil di perbatasan dan permukiman transmigrasi.
7) Makin luas dan kukuhnya jaringan kerja sama antar koperasi dan kemitraan usaha
dengan badan usaha lainnya.

Selanjutnya, yang menjadi sasaran pengembangan koperasi di perkotaan, diantaranya


adalah sebagai berikut.
1) Makin berkembangnya koperasi berbasis konsumen yang mampu melayani kebutuhan
pokok para anggota dan masyarakat di daerah permukiman rakyat.
2) Makin berkembangnya koperasi karyawan, koperasi pegawai negeri, dan koperasi di
lingkungan TNI atau Polri.
3) Makin berkembangnya koperasi simpan pinjam atau unit simpan pinjam koperasi dan
koperasi jasa keuangan lainnya.
4) Makin berkembangnya koperasi jasa di berbagai bidang.
5) Makin meningkatnya kualitas pelayanan koperasi kepada anggota dan masyarakat di
daerah perkotaan yang tertinggal.
6) Makin luas dan kukuhnya jaringan kerja sama antar koperasi dan kemitraan usaha
dengan badan usaha lainnya.

6.3.3 Kebijaksanaan Pembangunan Koperasi


Secara umum, kebijaksanaan umum pembangunan koperasi dalam Rencana Pembangunan
Lima Tahun Keenam adalah meningkatnya prakarsa, kemampuan, dan peran gerakan
koperasi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan, pengembangan,
serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan dan
memantapkan kelembagaan, usaha, dan sistem koperasi untuk mewujudkan peran utamanya di
segala bidang kehidupan ekonomi rakyat. Secara khusus, kebijaksanaan pembangunan
koperasi dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam adalah meningkatkan akses
dan pangsa pasar yang dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya adalah sebagai
berikut.
1) Meningkatkan keterkaitan usaha, kesempatan usaha dan kepastian usaha, memperluas
akses terhadap informasi usaha, mengadakan pencadangan usaha, membantu penyediaan
sarana dan prasarana usaha yang memadai, serta menyederhanakan perizinan. Upaya ini
ditunjang dengan menyusun berbagai peraturan perundang-undangan yang mendukung

8
pengembangan koperasi dan menghapus peraturan perundang-undangan yang
menghambat perkembangan koperasi serta mengembangkan sistem pelayanan
informasi pasar, harga, produksi, dan distribusi yang memadai.
2) Memperluas akses terhadap sumber permodalan, memperkukuh struktur permodalan
dan meningkatkan kemampuan pemanfaatan modal koperasi, antara lain dengan
meningkatkan jumlah jenis pinjaman untuk koperasi, mendorong pemupukan dana
internal koperasi, menciptakan berbagai kemudahan untuk memperoleh pembiayaan dan
jaminan pembiayaan, mengembangkan sistem perkreditan yang mendukung dan sesuai
dengan kepentingan koperasi pada khususnya dan perekonomian rakyat pada umumnya,
mengembangkan sistem pembiayaan termasuk lembaga pengelola yang sesuai untuk itu,
dalam rangka menyebarkan dan mendayagunakan sumber dana yang tersedia bagi
koperasi dan gerakan koperasi, yaitu antara lain yang berasal dari penyisihan laba bersih
Badan Usaha Milik Negara, penyertaan modal pemerintah, imbalan jasa (fee) yang
diterima Koperasi Unit Desa dari pelaksanaan program pemerintah, serta dana lainnya
yang berasal dari gerakan koperasi, serta mengembangkan berbagai lembaga
keuangan yang mendukung gerakan koperasi, antara lain Perum PKK, lembaga
asuransi usaha koperasi, lembaga pembiayaan koperasi dan lembaga modal ventura,
agar makin mampu melayani kebutuhan keuangan untuk pengembangan usaha anggota
koperasi. Kebijaksanaan ini mencakup upaya pendayagunann lembaga-lembaga
keuangan lainnya yang sudah ada.
3) Meningkatkan kemampuan organisasi dan manajemen, antara lain dengan
meningkatkan kemampuan kewirausahaan dan profesionalisme para anggota,
pengurus, pengawas dan karyawan koperasi.
4) Mendorong koperasi agar benar-benar menerapkan prinsip koperasi dan kaidah
usaha ekonomi, mendorong proses pengembangan karier karyawan koperasi,
mendorong terwujudnya tertib organisasi dan tata hubungan kerja yang efektif,
mendorong berfungsinya perangkat organisasi koperasi, meningkatkan partisipasi
anggota, mendorong terwujudnya keterkaitan antar koperasi, baik secara vertikal
maupun horizontal dalam bidang informasi, usaha dan manajemen.
5) Meningkatkan kemampuan memperjuangkan kepentingan dan membawa aspirasi
koperasi dan meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai dan semangat koperasi
melalui peningkatan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan perkoperasian, baik bagi
anggota koperasi, pengelola koperasi maupun masyarakat.

9
6) Meningkatkan akses terhadap teknologi dan lainnya dengan meningkatkan kegiatan
penelitian dan pengembangan, pemanfaatan hasil penelitian atau pengkajian
lembaga lain, meningkatkan kegiatan alih teknologi, memberikan kemudahan
untuk modernisasi peralatan, serta mengembangkan dan melindungi teknologi yang
telah dikuasai oleh anggota koperasi secara turun-temurun.
7) Mengembangkan kemitraan, antara lain dengan mengembangkan kerja sama antar
koperasi, baik secara horizontal, vertikal maupun kerja sama internasional;
mendorong koperasi sekunder agar lebih mampu mengonsolidasi dan memperkukuh
jaringan keterkaitan dengan koperasi primer serta mendorong kemitraan usaha
dengan badan usaha lainnya, baik dengan bentuk dagang, subkontrak, usaha patungan
maupun bentuk kemitraan lainnya, yang dilandasi oleh prinsip yang saling
membutuhkan, saling menunjang, dan saling menguntungkan.
Mengingat lingkup pembangunan koperasi sangat luas dan terkait dengan berbagai
sektor pembangunan lainnya, maka pelaksanaan dan kebijaksanaan di atas hendaknya
dilakukan secara terpadu dan selaras dengan pelaksanaan kegiatan pembinaan dan
pengembangan perkoperasian di sektor tersebut.

10
DAFTAR PUSTAKA

Sitip, Aripin Haloman Tamba. 2001. Koperasi, Teori dan Praktek. Jakarta: Erlangga.

Damayana. 2016. Kebijaksanaan Pemerintah dalam Pembangunan Koperasi di Indonesia.


https://www.scribd.com/document/324654984/ Pembangunan Koperasi di Indonesia
Diakses Tgl 3 Maret 2018

11