Anda di halaman 1dari 6

1.

FAKTOR-FAKTOR KEPRILAKUAN

Definisi Penyusunan Anggaran Modal

Penyusunan anggaran modal dapat didefinisikan sebagai proses pengalokasian dana


untuk proyek atau pembelian jangka panjang. Keputusan penyusunan anggaran modal dibuat
ketika kebutuhan untuk itu muncul dan melibatkan jumlah uang yang relative besar
komitmen dana jangka panjang dan ketidakpastian yang disebabkan oleh panjangnya waktu
yang telibat dan kesulitan dalam mengestimasikan variable-variabel pengambilan keputusan
(jumlah arus kas, penentuan waktu, dan seterusnya).

Jenis dan Pentingnya Faktor-Faktor Keprilakuan dari Penyusunan Anggaran Modal

Identifikasi dan spesifikasi atas proyek potensial memerlukan kreativitas dan


kemampuan untuk mengubah ide yang bagus menjadi suatu proyek yang praktis. Menurut
pemikiran, keputusan yang telah dipilih tersebut akan benar-benar objektif, tetapi hal tersebut
benar-benar tidak mungkin terjadi. Ketidakpastian yang melekat dalam data yang
menggambarkan suatu proyek (seperti mengestimasikan waktu dari arus kas atau nilai sisa)
tidak memungkinkan penerapan teknis seleksi untuk dapat sepenuhnya objektif. Karena hasil
dari teknis analisis harus diinterpretasikan dengan hati-hati maka kemampuan manusia untuk
mempertimbangkan dan menilai adalah factor yang penting.

Masalah dalam Mengidentifikasi Proyek Potensial

Ketika proyek tersebut telah didefinisikan dengan memadai, sehigga proses


pertimbangan dapat terjadi. Jika variable keputusan penting tidak didefinisikan maka
pengambilan keputusan mengenai adopsi proyek potensial sebaiknya tidak dicoba. Penting
untuk diperhatikan bahawa selalu terdapat minat yang besar dalam mengevaluasi
keberhasilan dari proyek yang dipilih.

Masalah Prediksi yang Disebabkan Oleh Perilaku Manusia

Memproyeksikan kemulusan dan kesusuaian dari aktivitas individual maupun


kelompok aktivitas untuk suatu periode selama lima sampai dua puluh tahun adalah tindakan
yang berbahaya. Sebagi contoh, sementara keputusan penyusunan anggaran dapat disusun
untuk manajemen proyek seseorang, orang tersebut dapat meninggalkan perusahaan atau
ditransfer dan digantikan oleh orang yang benar-benar berbeda, sehingga dengan demikian
memengaruhi akurasi dari estimasi data. Secara serupa, kemungkinan adanya keresahan

1
tenaga kerha dan politik yang terjadi dalam proyek modal yang melibatkan otomasi atas
tugas-tugas klerikal yang tidak memerlukan keterampilan sebaiknya dipertimbangkan dalam
memprediksikan data untuk seleksi proyek.

Masalah Manajer dan Ukuran Kinerja Jangka Pendek

Aspek keprilakuan lain dari prosedur seleksi proyek adalah bahwa metode peninjauan
kinerja adalah tidak konsisten dengan metode seleksi proyek. Penilaian dan kompensasi
kinerja cenderung bersifat jangka pendek biasanya untuk tahun kuartal atau bulan lalu.
Dengan demikian focus dari manajemen tingkat bawah dan sampai tingkat tertentu,
manajemen tingkat menengah tentu saja akan berupa kinerja jangka pendek yang sering kali
diukur dengan tingkat pengembalian akuntansi. Proyek dengan kinerja yang tidak dimulai
selama beberapa periode kurang menjadi perhatian manejer tingkat bawah. Manajemen
puncak sebaiknya menyadari biar alami ini yang disebabkan oleh proses peninjuan kinerja.
Karena jarang terhadap hubungan satu banding satu antar manajer dan proyek, maka manajer
individual akan mengambil alih proyek-proyek dari pendahulu mereka dan memulai beberapa
proyek mereka sendiri. Manajemen puncak harus mempertimbangkan siklus ini dalam
prosedur seleksi proyek dan sebaiknya mengevaluasi sampai sejauh mana masalah tersebut
dapat terjadi dan bagaimana hal itu akan memengaruhi usulan tertentu.

Masalah yang Disebabkan Oleh Identifikasi Diri dengan Proyek

Manajemen puncak sebaiknya menyadari bahwa proses mencoba untuk membuat


proyek yang buruk terlihat bagus dapat menyiksa bahkan manajer yang terbaik sekalipun.
Sebaiknya, terdapat mekanisme yang elegan untuk “menyelamatkan” proyek sebelum
manajer yang sebenarnya sangat bagus meninggalkan perusahaan atau bertindak secara
disfungsional untuk menghindari keharusan untuk mengakui bahwa suatu protek yang
mereka usulkan tidak berhasil.

Pengembahangan Anggota dan Proyek Modal

Dalam proses seleksi proyek, manajemen puncak harus mempertimbangkan apakah


proyek yang diusulkan baik untuk pengembangan dari si pengusul proyek tersebut pada saat
ini. Proyek tersebut mungkin saja terlalu besar bagi orang atau divisi tersebut untuk diserap
tanpa membuat mereka menjadi putus asa. Di pihak lain, manajemen puncak dapat
mendorong divisi untuk terlibat dalam proyek-proyek yang secara ekonomi tidak menarik,

2
tetapi menawarkan manfaat pelatihan karyawan yang potensial di masa depan yang tidak
dapat dikuantifikasi.

Penyusunan Angggaran Modal sebagai Ritual

Ketika suatu priyek memperoleh persetujuan awal pada tingkat organisasi lebih
bawah, proyek tersebut biasanya harus melalui serangkaian peninjauan dan persetujuan ke
tingkat organisasi yang lebih tinggi. Ketika proses persetujuan atas proyek tersebut berjalan,
proyek tersebut memiliki momentum sulit untuk dihentikan. Ketika proyek tersebut telah
menerima persetujuan pada beberapa tingkatan bawah, para pembuat keputusan dan analisis
di tingkat atas biasanya tidak mau menolaknya. Asalahkan dana tersedia, proyek tersebut
biasanya disetujui karena pada saat itu, berbagai manajer dan analisis tingkat bawah telah
mengindikasikan persetujuan dan komitmen pribadi mereka berharap proyek tersebut.
Dengan demikian, manajer tingkat atas biasanya menolaj suatu proyek hanya jika terdapat
alasan yang sangat kuat untuk melakukannya.

Perilaku Mencari Risiko dan Menghindari Risiko

Individu bereaksi secara berbeda terhadap risiko. Beberapa orang tampaknya


menikmati pengambilan keputusan yang erisiko dan berada dalam situasi yang berisiko
sementara yang lain mencoba untuk menghindari hal-hal tersebut. Kondisi tertentu dari
tingkat penghindaran risiko oleh pengambil keputusan dalam penyusunan anggaran modal
akan memengaruhi bagaimana orang tersebut akan bereaksi terhadap proyek.

Membagi Kemiskinan

Fenomena “membagi kemiskinan” sering kali memiliki dampak yang penting dalam
proses penyusunan anggaran modal. Hal ini terjadi ketika tersedia lebih banyak proyek
anggaran modal yang potensial lebih menguntungkan dibandingkan dengan dana yang
tersedia untuk mendanainya, suatu kondisi yang disebut denan rasionalisasi modal.
Menghadapi keadaan ini, manajemen puncak kadang kala memilih untuk mengalokasikan
dana yang tersedia kepada sebanyak mungkin manajer, bahkan jika hal itu berarti
mengorbankan proyek yang lebih menguntungkan.

3
2. TAMPILAN RASIONAL

Faktor manusia sangat terlibat dalam proses penyusunan anggaran modal. Dalam
meninjau faktor-faktor ini, juga dicatat bahwa terdapat masalah-masalah yang ditimbulkan
oleh kesulitan dalam mengidentifikasikan dan memilih proyek modal dan kebutuhan akan
kreativitas dan penilaian manusia. Permasalahan yang disebabkan oleh kesulitan dalam
memprediksi perilaku manusia yang diperparah oleh sifat jangka panjang dari proyek modal.
Sementara terdapat banyak manajer yang cenderung untuk memiliki perspektif jangka pendek
karena evaluasi kinerja mereka biasanya didasarkan pada ukuran-ukuran jangka pendek yang
menghambat seleksi dan manajemen proyek modal yang memerlukan perspektif jangka
panjang.

Penyusunan anggaran modal dapat menjadi ritual namun akhirnya gagal untuk
memanfaatkan teknik pengambilan keputusan yang rasional. Penerimaan atau penolakan
terhadap suatu proyek modal tergantung pada tingkat penghindaran risiko dari pribadi yang
mengambil keputusan. Berdasarkan kelompok data yang sama, dua pengambil keputusan
yang berbeda kemungkinan besar akan membuat keputusan yang berlawanan tergantung pada
perasaan mereka terhadap risiko. Disimpulkan dalam hal ini, tekanan politik dapat sangat
mempengaruhi penyusunan anggaran modal.

Kesimpulannya, seseorang dapat mengatakan bahwa proses penyusunan anggaran


memiliki tampak muka rasionalitas, terutama ketika model matematis yang rumit digunakan.
Model matematis tersebut memberikan atmosfir kepastian, logika, dan ilmu pengetahuan.
Tetapi, yang mendasari proses pengambilan keputusan adalah faktor-faktor keperilakuan
yang disebutkan diatas. Sayangnya, para pengambil keputusan mungkin tidak ingin mengakui
bahwa faktor-faktor manusia yang irasional mungkin menjadi faktor yang terpenting dalam
penerimaan atau penolakan terhadap suatu proyek tertentu.

3. SARAN-SARAN PERBAIKAN

Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh yang merugikan dari faktor-
faktor keperilakuan manusia terhadap proses penyusunan anggara modal? Pertama, adalah
penting bagi mereka yang terlibat dalam penyusunan anggaran modal menyadari faktor-
faktor keperilakuan yang melekat pada proses tersebut. Dimana mungkin, faktor-faktor ini
sebaiknya tidak diperbolehkan untuk mengaburkan data keputusan yang relevan dan yang
bersifat lebih rasional. Sementara itu, tidak mungkin untuk tidak sama sekali menghilangkan
4
faktor-faktor manusia, suatu pendekatan yang berhasil akan menekankan pada kesadaran
akan faktor-faktor tersebut dan usaha-usaha untuk mengendalikan dampaknya yang
disfungsional.

Audit pasca-implementasi yang disarankan sebaiknya dilakukan sebelum akhir dari


masa proyek modal tersebut dan sebaiknya mempertimbangkan kondisi-kondisi yang
berubah. Jika dilakukan dengan cara ini, maka mungkin secara objektif dapat menentukan
standar kerja untuk masing-masing manajer yang mengelola proyek modal , dimana ini
merupakan suatu pendekatan serupa dengan konsep penggunaan anggaran fleksibel. Dengan
demikian, konsep fleksibilitas dapat diperkenalkan ke dalam manajemen proyek modal.

Karena audit pasca-implementasi dapat dilakukan dari waktu ke waktu dan objektif
kinerja ditentukan secara periodik, sehingga memungkinkan untuk menetapkan ukuran-
ukuran kinerja jangka pendek untuk proyek modal yang konsisten dengan kinerja jangka
panjang dari proyek tersebut. Hal ini berdampak menghilangkan masalah-masalah yang
berkaitan dengan manajer jangka pendek yang dimana manajer benar-benar dievaluasi
dengan ukuran-ukuran kinerja jangka pendek dan bukan bauran antara ukuran jangka pendek
untuk operasi normal dan ukuran jangka panjang untuk proyek modal.

Kesimpulannya, disarankan bahwa mereka yang terlibat dalam proses penyusunan


anggaran modal dan dalam manajemen proyek modal sebaiknya paling tidak menyadari akan
faktor-faktor keperilakuan yang terlibat. Paling tidak, mereka sebaiknya mengambil langkah-
langkah aktif untuk memastikan bahwa faktor-faktor keperilakuan dari penyusunan anggaran
modal tidak menghasilkan keputusan yang suboptimal.

Daftar Rujukan

5
Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan. Edisi 2. Salemba Empat: Jakarta.

http://www.himakaunitri.com/2016/04/faktor-faktor-keperilakuan-pada.html (diakses tanggal


20 November 2017)

http://jurnal.stkippgritulungagung.ac.id/index.php/jupeko/article/view/224/106 (diakses
tanggal 20 November 2017)