Anda di halaman 1dari 42

PENGUJIAN KETAHANAN PERMUKAAN TERHADAP PEMBASAHAN (UJI SIRAM)

SNI ISO 4920:2010

1. Ruang lingkup
Standar nasional ini menetapkan cara uji siram untuk menentukan ketahanan semua jenis kain
yang tidak atau sudah diproses penyempurnaan tahan air atau tolak air terhadap pembasahan
permukaan oleh air.
Metoda ini tidak dimaksudkan untuk memperkirakan ketahanan kain terhadap perembesan air
hujan, karena cara ini tidak mengukur perembesan air menembus kain.

2. Tujuan
Melakukan pengujian ketahanan terhadap pembasahan permukaan (uji siram) untuk
mengetahui daya ketahanan kain payung terhadap pembasahan permukaan.

3. Teori Dasar
Daya tolak air dari bahan tekstil adalah kemampuan suatu serat tekstil, benang atau kain untuk
menahan pembasahan. Kain tahan air (water-proof) merupakan kain yang dilapisi dengan lemak, wax
atau karet untuk mencegah menyerapnya air kedalam kain. Penambahan zat anti air dapat dilakukan
dengan melapisi permukaan kain secara mekanis atau juga dapat secara reaksi antara serat dan zat
penyempurnaan. Sifat khusus dari kain anti air adalah daya tembus udara yang rendah. Kain tolak air
(water – repellant) merupakan kain yang tidak menyebarkan butiran air keseluruh permukaan kain.
Karena kain yang anti air biasanya tidak tembus udara, maka sifatnya menjadi kurang nyaman dipakai
sebagai bahan pakaian.
Pengujian ketahanan permukaan terhadap pembasahan dapat digunakan pada semua jenis kain
yang tidak maupun sudah diberi penyempurnaan tahan air atau tolak air. Cara ini terutama sesuai untuk
menilai kebaikan penyempurnaan tolak air yang telah diberikan pada kain, khususnya kain dengan
anyaman polos karena alatnya sederhana dan mudah dibawa serta cara pengujian yang singkat dan
sederhana, maka cara ini sangat sesuai untuk pengendalian mutu dalam pabrik. Hasil yang diperoleh
dengan cara ini terutama bergantung pada ketahanan terhadap pembasahan atau daya tolak air serat-
serat dan benang-benang dalam kain dan tidak pada konstruksi kain.
Penilaian uji siram adalah sebagai berikut :
- 100 (ISO 5) : Tidak ada penempelan atau yang pembasahan di permukaan kain atas.
- 90 (ISO 4) : Sedikit adanya penempelanatau pembasahan secara acak di permukaan atas.
- 80 (ISO 3) : Pembasahan di permukaan atas pada titik siraman.
- 70 (ISO 2) : Pembasahan sebagian pada seluruh permukaan atas.
- 50 (ISO 1) : Pembasahan sempurna pada permukaan atas.
Syarat Mutu Kain Tenun Untuk Payung Hujan
No. Jenis Uji Satuan Persyaratan Keterangan
1 Kekuatan tarik
1.1 Kering N 154
Kg 15,7
Minimum
1.2 Basah N 108
Kg 11,0
2 Kekuatan sobek N 10
Minimum
Kg 1,02
3 Ketahanan selip benang N 67
pada jahitan bukaan 6 Minimum
Kg 6,83
mm
4 Tahan air (uji siram) - 80 Minimum
5 Tolak air (alat jenis
Bundesman)
5.1 Penyerapan % 20
Maksimum
5.2 Perembesan ml 15
6 Ketahanan luntur warna
terhadap:
6.1 air
6.1.1 Perubahan warna1) - 4 Minimum
6.2 Gosokan
6.2.1 Kering2) - 4
Minimum
6.2.2 Basah2) - 4
6.3 Sinar3) - 4 Minimum
7 Perubahan dimensi % 3 Minimum
Keterangan:
1)
Skala abu - abu
2)
Skala penodaan
3)
.Standar wol biru
Sumber: SNI 1517:2008

4. Alat dan Bahan yang Digunakan

Corong kaca Ø 150 12 lubang Ø 0,9 pada


lingkaran Ø 21,14
Cincin penyangga
6 lubang Ø 0,9 pada
lingkaran Ø 10
Pipa karet 1 lubang Ø 0,9 pada
Corong siram pusat lingkaran
Tiang penyangga

Contoh uji

Pemegang contoh

Penyangga
(contohnya kayu)
Alat uji siram Corog siram
- Jarak antara permukaan atas corong dengan bagian bawah corong siram adalah 190 nm.
- Waktu aliran air dengan volume 250 mL yang dituangkan dari corong harus antara 25 detikdan
30 detik.
- Pemegang contoh uji, terdiri atas dua buah lingkaran kayu atau logam yang terpasang tepat satu
sama lain.
- Air suling atau air deionisasi (dalam praktikum digunakan air keran)
- Contoh Uji berukuran 180 mm x 180 mm

5. Prinsip
Air suling atau air deionisasi dengan volume tertentu disiramkan pada permukaan contoh uji yang
telah dipasang pada alat pemegang contoh uji berbentuk cincin yang ditempatkan membentuk sudut 45o
sehingga posisi bagian pusat contoh uji berada pada jarak tertentu di bawah corong siram. Penilaian
siram ditentukan dengan membandingkan kenampakan contoh uji terhadap standar berupa uraian dan
foto.

6. Langkah Kerja
- Pengkondisian dan pengujian harus dilakukan sesuai SNI ISO 4920:2010.
Apabila disepakati pengkondisian dan pengujian boleh dilakukan sesuai kesepakatan bersama
(consensus).
- Contoh uji dipasangkan dengan kuat pada pemegang contoh dan pasang pada penyangga dengan
permukaan kain menghadap ke atas.
- 250 ml air dituangkan ke dalam corong siram.
- Setelah siraman berhenti, pemegang contoh diketukkan pada benda yang keras dua kali.
- Penilaian contoh uji dilakukan menurut skala uraian atau skala foto yang dapat menunjukkan tingkat
kebasahan yang paling sesuai.
- Tidak boleh memberikan nilai tengah.

7. Pengamatan
Contoh Uji ISO Nilai Pembasahan
1 3 80
2 3 80

8. Evaluasi
Uji siram 80 (AATCC) ~ ISO 3, terbasahi pada permukaan yang disiram hanya pada area-area
kecil yang terpisah.

9. Diskusi
Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan diperoleh nilai uji siram 80 (AATCC) ~ ISO 3, yaitu
terbasahi pada permukaan yang disiram hanya pada area-area kecil yang terpisah. Hal ini menunjukkan
bahwa bahan contoh uji memenuhi syarat mutu kain tenun untuk payung hujan, karena syarat mutu kain
tenun untuk payung hujan menurut SNI 1517:2008 harus memiliki nilai pengujian minimum 80
(AATCC) ~ ISO 3. Jika tujuan akhir kain contoh uji (end use) adalah untuk dijadikan bahan payung,
maka bahan payung yang di uji siram ini memenuhi syarat.
10. Kesimpulan
Kain contoh uji memiliki nilai uji siram 80 (AATCC) ~ ISO 3 dan berdasarkan SNI 1517:2008
mengenai persyaratan mutu kain tenun untuk payung maka kain dapat dijadikan sebagai kain tenun
untuk payung.
LAMPIRAN
Skala foto ISO
(Lampiran ini merupakan bagian dari standar)
Skala nilai ISO dengan keterangan sama dengan skala1) foto AATCC sebagai berikut :
ISO 1 = AATCC 50
ISO 2 = AATCC 70
ISO 3 = AATCC 80
ISO 4 = AATCC 90
ISO 5 = AATCC 100
Standar Nilai Uji Siram

ISO 5 : Tidak ada penempelan atau ISO 2 : Pembasahan sebagian pada


pembasahan di permu kaan seluruh permukaan atas.
atas.
ISO 4 : Sedikit adanya penempelan ISO 1 : Pembasahan sempurna
atau pembasahan secara pada permukaan atas.
acak di permukaan atas.
ISO 3 : Pembasahan di permukaan
Atas pada titik siraman.

Air berwarna digunakan untuk memberikan efek pada foto


Nilai Uji Siram ISO berdasarkan skala foto AATCC
PENGUJIAN DAYA TOLAK AIR KAIN (ALAT UJI BUNDESMAN)
SNI 08-0278-1989

1. Ruang Lingkup
Standar nasional ini menetapkan cara uji daya tolak air untuk menentukan ketahanan semua
jenis kain kain yang mempunyai daya tolak air.
Metoda ini dimaksudkan untuk memperkirakan ketahanan kain terhadap perembesan air hujan
karena cara ini juga mengukur perembesan air menembus kain.

2. Tujuan
Melakukan pengujian daya tolak air kain melalui banyaknya perembesan dan penyerapan air
dengan menggunakan alat uji Bundesman.

3. Teori Dasar
Pengujian tahan air cara bundesment ini biasanya dilakukan untuk bahan-bahan yang sudah
dilakuakan proses penyempurnaan untuk mendapatkan sifat yang tidak tembus air tapi udara masih bisa
masuk atau tembus, seperti bahan terpal/tenda. Menurut Baxser dan Cassie, kekuatan air hujan dari alat
jenis Bundesmann adalah 5,8 kali tembusan awan, 91 kali kekuatan tetesan hujan lewat, 480 kali tetesan
hujan biasa dan 21000 kali kekuatan hujan ringan.
Penyiraman air hujan dipasang diatas keempat tabung yang dipasang pada alas yang berputar
dengan kecepatan tertentu. Pada saat kain yang dipasang pada tabung berputar dibawah curahan air
hujan buatan, alat penggosok yang berada didalam tabung akan menggosok kain bagian dalam untuk
meniru gosokan mekanis yang ditimbulkan oleh pemakai jas hujan didalam pemakaian sebenarnya.
Gerakan menggosok kain ini akan membantu penetrasi air kedalam kain. Setelah curah hujan
disiramkan, penyiraman dihentikan dan penilaian dilakukan berdasarkan penetrasi air dan besarnya
penyerapan air oleh bahan contoh uji.
- Penetrasi air
Air yang tertampung didalam tabung diukur jumlahnya dan volume rata-rata diperhitungkan
sebagai ketelitian 1 ml.
- Penyerapan
Dari berat contoh ujis ebelum dan sesudah pengujian apat diukur banyaknya air yang tertinggal
pada setiap contoh uji dan diperhitungkan sebagai % air yang terserap oleh kain.
- Kondisi Pengujian
Untuk mendapatkan hasil uji yang serba sama dan dapat diulang-ulang, maka perlu dicatat kondisi
pengujian berikut ini:
 Suhu air hujan buatan yaitu 18-20o C.
 pH air 6-8
 Kecepatan siraman air = 62-68 ml/menit untuk setiap tabung
 Tetesan air yang jatuh harus sama besar dengan berat rata-rata antara 0,075 ± 0,005 g
 Sebelum pengujian contoh uji dikondisikan didalam atmosfir standar selama 24 jam, kemudian
ditimbang didalam botol timbang.

4. Alat dan Bahan yang Digunakan


- Bundesman.
- Gunting
- Pemeras pusingan tanpa lipatan
- Stop watch.
- Neraca ketelitian 0,01 gram.
- Contoh uji berbentuk bulat dengan diameter 14,1 cm.

5. Prinsip
Empat buah contoh uji bersama-sama diletakkan di bawah hujan buatan yang dapat diatur, dan
pada saat bersamaan permukaan bawah tiap contoh uji digosok-gosok. Pertambahan berat contoh uji
akibat hujan buatan dihitung dan air yang menembus kain ditampung dan diukur banyaknya. (Pada
praktikum hanya dilakukan pengujian pada 1 contoh uji).

6. Langkah Kerja
- Pengkondisian dan pengujian harus dilakukan sesuai SNI 08-0278-1989
- Apabila disepakati pengkondisian dan pengujian boleh dilakukan sesuai kesepakatan bersama
(consensus).
- Contoh uji ditimbang sampai ketelitian 0,01 gram.
- Persiapan hujan buatan. Air yang dipergunakan untuk pengujain harus memenuhi persyaratan sbb:
- Suhu air tidak boleh kurang dari 25 0C dan tidak lebih dari 29 0C.
- pH air tidak boleh kurang dari 6,0 dan tidak boleh lebih dari 8,0.
- Kecepatan aliran air hujan tidak boleh kurang dari 62 ml per menit per tabung dan tidak lebih dari
68 ml per menit per tabung.
- Pemasangan Contoh uji
- Contoh uji dihujani.
- Motor penggerak penggosok permukaan kain bawah dijalankan selama 10 menit.
- Contoh uji diperas tanpa lipatan 15 detik.
- Contoh uji ditimbang.
- Air yang tembus dan tertampung dalam tabung diukur.
7. Evaluasi
- Perembesan
Jumlah air yang tertampung didalam tabung (ada empat tabung) dirata-ratakan dan
hasilnya dibulatkan sampai 1 mL.
- Penyerapan
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙
% Penyerapan = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙
𝑥 100%

% penyerapan adalah harga % penyerapan rata-rata dari 4 contoh uji (dalam praktikum
hanya dilakukan pada 1 contoh uji.

8. Pengamatan dan Perhitungan


- Berat Awal : 6,31 g
- Berat Akhir : 7,21 g
- Perembesan : 0 ml/10 menit
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙
- % Penyerapan = 𝑥 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙
7,21−6,31
= 7,21
𝑥 100%

= 14,263 %

9. Diskusi
Dari data percobaan dan perhitungan diperoleh nilai perembesan sebanyak 5 mL/10 menit dan
penyerapan air oleh contoh uji sebesar 14,263 %. Hal ini menunjukkan bahwa bahan contoh uji tidak
dapat ditembus oleh air (tahan air dan tolak air).
Jika tujuan akhir kain contoh uji (end use) adalah untuk dijadikan bahan tenda, maka bahan tenda
yang di uji Bundesman ini memenuhi syarat mutu kain tenun untuk tenda, karena syarat mutu kain
tenun untuk tenda menurut SNI 08-0278-1989 harus memiliki persyaratan nilai penyerapan maksimal
20% dan perembesan maksimal 15 ml/10 menit. Karena kain contoh nilai perembesannya sebesar 0
mL/10 menit (0 mL/menit) dan penyerapan air oleh contoh uji sebesar 14,263% maka bahan contoh uji
dapat dijadikan kain tenda.

10. Kesimpulan
Contoh uji memiliki daya tahan air yang kurang, dengan % penyerapan 14,263% dengan
penyerapan 0,5 ml/menit sehingga tidak memenuhi syarat mutu untuk dijadikan kain tenda.
PENGUJIAN DAYA SERAP BAHAN TEKSTIL CARA UJI TETES

SNI 08-0279-1998

1. Ruang Lingkup
Standar ini meliputi cara uji daya serap bahan tekstil untuk segala macam tekstil permukaan
yang rata dan tidak berbulu.

2. Tujuan
Melakukan pengujian daya serap kain tidak berbulu untuk mengetahui kemampuan kain
menyerap air melalui waktu serap kain.

3. Teori Dasar
Kebanyakan kain memiliki permukaan rata dan relative halus, tetapi untuk keperluan tertentu
seperti handuk mempunyai permukaan berbulu, baik bulu yang dipotong atau yang masih berbentuk
lengkungan. Perbedaan permukaan tersebut memerlukan cara pengujian daya serap yang berbeda pula.
Cara uji perlu dilakukan untuk kain-kain yang akan dicelup karena kerataan hasil pencelupannya
bergantung pada daya serap kain. Demikian pula untuk kain yang akan dikerjakan dengan resin atau
zat-zat penyempurnaan lain, daya serap merupakan suatu faktor yang harus dipertimbangkan. Daya
basah atau daya serap bahan tekstil yang berupa kain tenun maupun benang dapat ditentukan dengan
cara ini.
Yang dimaksud dengan waktu pembasahan adalah waktu dari saat air diteteskan hingga air hilang
terserap. Daya serap adalah salah satu faktor yang menentukan kegunaan dan untuk tujuan tertentu
misalnya kain pembalut, kain handuk dan lain-lain. Beberapa kain harus mempunyai kemampuan untuk
menyerap air atau cairan secara cepat atau mudah terbasahi. Jika daya serapnya baik maka kain akan
nyaman untuk digunakan karena dapat menyerap keringat dengan baik. Makin rendah waktu
pembasahan rata-rata maka besar daya serap bahan tekstil tersebut. Waktu pembasahan kurang dari 5
sekon menyatakan daya serap bahan tekstil tersebut baik. Daya serap rata-rata dari kapas yang sudah
diputihkan kurang dari 2,5 sekon.

4. Alat dan Bahan


- Lingkaran penyulam (simpai sulam / embriodery hoop) dengan diameter 150 mm atau lebih.
- Buret dengan jumlah tetesan 15-25 per ml.
- Stop watch.
- Contoh uji berupa kain yang dapat ditegangkan pada simpai bordir.
5. Prinsip
Setetes air diteteskan dari ketinggian tertentu pada permukaan contoh uji yang ditegangkan.
Waktu menghilangnya pantulan langsung dari tetesan air, diukur dan dicatat sebagai waktu
pembasahan.

6. Langkah Kerja
- Kain dipasang pada simpai border sehingga permukaan kain bebas dari kerutan-kerutan tetapi
tanpa merubah struktur kain.
- Simpai border diletakkan dibawah buret dengan jarak 10 ± 1 mm dari ujung buret.
- Setetes air diteteskan pada permukaan kain.
- Ukur waktu yang diperukan hingga pantulan cahaya tetesan hilang menggunakan stopwatch.
- Jika waktu basah melebihi 60 detik, pengukuran waktu dihentikan dan waktu basah dilaporkan
>60 detik.

7. Evaluasi
Percobaan waktu pembasahan dilakukan 10 kali dan dirata-ratakan (pada praktikum hanya
dilakukan 3 kali). Makin rendah waktu pembasahan rata-rata maka besar daya serap bahan tekstil
tersebut. Waktu pembasahan kurang dari 5 sekon menyatakan daya serap bahan tekstil tersebut baik.
Daya serap rata-rata dari kapas yang sudah diputihkan kurang dari 2,5 sekon.

8. Pengamatan dan Perhitungan


No Waktu (detik) ±0,05
pengujian
1 1,9
2 1,9
3 1,7

1,9+1,9+1,7
Rata-rata waktu daya serap = 3
= 1,83 detik.

9. Diskusi
Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan diperoleh waktu daya serap rata-rata sebesar 1,83
detik. Air masuk/terserap oleh bahan sesaat setelah diteteskan diatas bahan. Hal ini menunjukkan bahan
contoh uji memiliki daya serap yang baik (kurang dari 5 detik). Bahan contoh uji yang dilakukan
pengujian daya serap ini telah berwarna, hal ini menunjukkan bahwa bahan/kain telah mengalami
pencelupan sehingga bahan telah dipastikan sudah mengalami proses persiapan yang baik (daya
serapnya baik) dan tidak mengandung kanji. Seperti yang kita ketahui bahwa bahan yang akan dicelup
harus memiliki daya serap yang baik. Kecuali jika bahan yang digunakan hidrofobik, namun umumnya
bahan yang akan dijadikan bahan kaos pakaian (kain rajut untuk kaos) biasanya memiliki daya serap
terhadap air yang baik agar pada pemakaiannya memberikan rasa nyaman.
Jika tujuan akhir kain contoh uji (end use) adalah untuk dijadikan bahan sandang (pakaian seperti
kaos), maka bahan rajut yang di uji daya serap cara uji tetes ini memenuhi syarat mutu kain rajut untuk
pakaian karena daya serapnya kurang dari 5 detik.

10. Kesimpulan
Contoh uji memiliki daya serap sebesar 1,83 detik sehingga dapat digunakan untuk bahan
sandang karena daya serapnya baik dan memenuhi standar mutu daya serap kain rajut untuk sandang.
PENGUJIAN PERUBAHAN DIMENSI BAHAN TEKSTIL DALAM PROSES PENCUCIAN
DAN PENGERINGAN
SNI ISO 5077:2011

1. Ruang Lingkup
Standar ini digunakan untuk kain, pakaian jadi (garmen), dan produk tekstil lainnya yang akan
mengalami kombinasi proses pencucian dan pengeringan dalam rumah tangga.

2. Tujuan
Melakukan pengujian perubahan dimensi bahan tekstil dalam proses pencucian dan
pengeringan pada bahan tenun dan rajut.

3. Teori Dasar
Perubahan dimensi adalah perubahan ukuran kain ke arah panjang atau ke arah lebar yang
disebabkan oleh suatu kondisi tertentu. Perubahan dimensi dinyatakan dalam persen perubahan
ukuran ke arah panjang atau ke arah lebar. Mulur adalah pertambahan panjang suatu contoh uji baik
ke arah panjang maupun ke arah lebar. Mengkeret adalah pengurangan panjang suatu contoh uji baik
ke arah panjang maupun ke arah lebar.
Kain tenun atau rajut apabila telah mengalami pemakaian dan pencucian akan mengalami
perubahan dimensi baik kearah lusi ataupun pakan, ataupun arah course dan arah wales pada kain
rajut. Apabila perubahan ini terjadi maka, kondisi tersebut harus dipulihkan kembali denagan cara
Tension Presser, Knit Shrinkage Gauge, dan Hand iron.
Pada pengujian ini kondisi pencuciannya dengan menggunakan sabun netral pada suhu 400 C
selama 30 menit. Untuk pemulihannya pada kain tenun dengan menggunakan Knit Shrinkage gauge,
tetapi pada percobaan ini tidak dilakukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian stabilitas
dimensi ialah proses pencucian, proses pengeringan, dan proses pemulihan/penyetrikaan.
Kain yang tidak mengalami perubahan dimensi setalah pemakaian sehari-hari termasuk kain
yang mutu kainnya baik. Penyebab utama dari dari perubahan dimensi kain adalah mengkeret setelah
pencucian. Kadang-kadang orang membeli baju dengan ukuran sedikit lebih longgar dengan
harapan apabila dicuci akan mengkeret dan ukurannya sesuai. Ada dua jenis medngkeret yaitu
mengkeret karena teganngan mekanis pada waktu proses pertenunan dan penyempurnaan.
Menyebabkan kain tertarik untuk sementara dan waktu pencucian akan relaxation ke bentuk semula.
Dan jenis mengkeret lain, karena adanya kemampuan serat untuk menggumpal (felting) dalam
pencucian. misalnya serat wol yang cenderung untuk mengkeret dan menggumpal dalam keadaan
basah.
Persyaratan Mutu Kain Tenun Untuk Kemeja
No. Jenis Uji Satuan Persyaratan Keterangan
1 Kekuatan tarik kain per 2,5 cm1) N 107,9
Minimum
Kg 11,0
2 Kekuatan sobek1) N 6,9
Minimum
Kg 0,7
3 Tahan selip benang dalam kain pada jahitan N 78,5
(bukaan 6 mm)1) Minimum
Kg 8,0
4 Perubahan dimensi1)
4.1 Setelah pencucian dan pengeringan % 2,0 Maksimum
4.2 Setelah pencucian kering2) % 2,0 Maksimum
5 Kenampakan kain setelah pencucian
Berulang3) DP 3,5 Minimum
6 Ketahanan luntur warna terhadap:4)
6.1 Pencucian 40oC
- Perubahan warna5) 4 Minimum
- Penodaan6) 3-4
6.2 Pencucian kering2)
- Perubahan warna 4 Minimum
6.3 Keringat asam dan basa
- Perubahan warna5) 4 Minimum
- Penodaan6) 3-4
6.4 Gosokan
- Kering6) 4 Minimum
- Basah6) 3-4
6.5 Sinar7) 4
7 Kandungan formaldehida bebas
- Dewasa ppm 75 Maksimum
- Anak-anak ppm 20
1) Berlaku untuk arah lusi dan pakan;
2) Berlaku untuk kain yang mengalami pencucian kering;
3) Berlaku untuk kain tekan-awet (durable-press);
4) Berlaku untuk kain yang berwarna;
5) Skala abu-abu;
6) Skala penodaan;
7) Standar wol biru
Sumber: SNI 0051:2008, Badan Standardisasi nasional.

Persyaratan Mutu Kain Rajut Polos Kapas


Persyaratan
Jenis Uji Satuan Keterangan
No. Kasar Sedang Halus
Berat kain per meter
1. g 150 125 110 Minimum
persegi
Nomor benang Tex 32,8 - 23,6 22,7-17,4 ≤ 13,1
2.
(Ne1) 18-25 26-34 ≥ 35
Perbandingan
3. course/cm terhadap 1,2 1,2 1,2 Minimum
wale/cm
Perubahan dimensi
4.
setelah pencucian:
- Arah wale % 5 5 5 Maksimum
- Arah couse % 5 5 5 Maksimum
5. Kadar kanji % 3 3 3 Maksimum
6. Kekuatan jebol Kg/cm2 5 5 5 Minimum
Ketahanan luntur
7.
warna terhadap1)
7.1 Pencucian
- Perubahan warna2) 4 4 4 Minimum
- Penodaan warna3) 3-4 3-4 3-4 Minimum
7.2 Gosokan
- Basah 3-4 3-4 3-4 Minimum
- Kering 3-4 3-4 3-4 Minimum
7.3 Keringat asam
- Perubahan warna2) 4 4 4 Minimum
- Penodaan warna3) 4 4 4 Minimum
7.4 Sinar4) 4 4 4 Minimum
8 Derajat putih, Z+ % 80 80 80 Minimum
Kadar formaldehida
bebas
9 ppm Maksimum
- dewasa 75 75 75
ppm Maksimum
- anak-anak 20 20 20
Keterangan:
1)
Untuk kain rajut polos kapas celup
2)
Skala abu-abu (grey scale)
3)
Skala penodaan (staining scale)
4)
Standar wol biru
Sumber: SNI 0561:2008

4. Alat dan Bahan yang Digunakan


- Mistar atau alat ukur baja tahan karat.
- Pena dengan tinta yang tidak hilang/luntur pada pencucian.
- Meja datar untuk membentangkan contoh uji yang diletakkan dalam ruangan standar.
- Mesin cuci otomatis dengan spesifikasi :
 Mesin tipe A1, silinder pencuci horizontal pintu pemasukan dari depan.
 Kedudukan silinder pencuci horizontal dengan pintu pemasukan dari depan.
 Diameter silinder dalam (51,5 ± 0,5) cm
 Kedalaman silinder dalam (33,5 ± 0,5) cm
 Jarak antara silinder luar dengan silinder dalam 2,8 cm.
- Contoh uji kain tenun dan rajut. Ukuran kain 50x50 cm, bagian pinggir dijahit/diobras. Buat 3
pasang tanda masing-masing sejajar arah lusi dan pakan atau course dan wales.
- Deterjen tanpa pemutih optic yang sesuai dengan standar AATCC untuk mesin tipe B
- Deterjen ECE tanpa pemutih optic untuk semua tipe mesin cuci.
- Deterjen IEC dengan pemutih optic untuk semua tipe mesin cuci, perubahan warna tidak diamati.
- Natrium perborat tetrahidrat (NaBO3.4H2O)
- Kain pemberat 2 lembar dijahit seluruh pinggir kain sampai berat mencapai 2 kg.

5. Prinsip
Kondisikan contoh uji yang telah diberi tanda dalam ruang kondisi, kemudian ukur, cuci, dan
keringkan sesuai dengan cara yang dipilih. Kondisikan kembali dan ukur kembali. Hitung perubahan
dimensinya.

6. Langkah Kerja
- Contoh uji dikondisikan sesuai SNI ISO 5077:2011.
Apabila disepakati pengkondisian dan pengujian boleh dilakukan sesuai kesepakatan bersama
(consensus).
- Contoh uji diberi tanda dan diukur 50 cm x 50 cm.
- Kain contoh uji diproses pencucian
Suhu pencucian mesin A 40 oC
Waktu pencucian 15 menit
Tinggi air 10 cm
- Proses pembilasan
Bilas 1 (3 menit, tinggi air 13 cm)
Bilas 2 (3 menit, tinggi air 13 cm)
Bilas 3 (2 menit, tinggi air 13 cm)
Bilas 4 (2 menit, tinggi air 13 cm)
Peras putar 5 menit
- Proses pengeringan dengan tumble dryer
- Evaluasi

7. Evaluasi
SNI ISO 5077:2011 Cara Uji Perubahan Dimensi pada Pencucian dan Pengeringan (ISO
5077:2007)
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟−𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑤𝑎𝑙
% mulur = 𝑥 100%
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑤𝑎𝑙
8. Pengamatan dan Perhitungan
Kain tenun Sebelum Sesudah Mulur Mulur rata-rata
(35,4 ± 0,05) cm (35,9 ± 0,05) cm 1.41 %
Lusi (35,1 ± 0,05) cm (35,7 ± 0,05) cm 1.13 % 1,13 %
(35,1 ± 0,05) cm (35,9 ± 0,05) cm 1.41 %
(35,2 ± 0,05) cm (35,7 ± 0,05) cm 1.41 %
Pakan (35,2 ± 0,05) cm (35,6 ± 0,05) cm 1.13 % 1.41 %
(35,2 ± 0,05) cm (35,8 ± 0,05) cm 1.7 %

Kain Rajut Sebelum Sesudah Mulur Mulur rata-rata


(35,1 ± 0,05) cm (35,7 ± 0,05) cm 1.7 %
Wales (35,3 ± 0,05) cm (35,9 ± 0,05) cm 1.69 % 1,69 %
(35,1 ± 0,05) cm (35,7 ± 0,05) cm 1.7 %
(35,2 ± 0,05) cm (35,5 ± 0,05) cm 1.41 %
Course (35,1 ± 0,05) cm (35,7 ± 0,05) cm 1.13 % 1.51 %
(35,1 ± 0,05) cm (35,8 ± 0,05) cm 1.99 %

9. Diskusi
Saat praktikum pengujian perubahan dimensi bahan tekstil dalam proses pencucian dan
pengeringan terdapat prosedur-prosedur yang tidak sesuai dengan standar SNI ISO 5077:2011 ataupun
consensus, seperti pengerjaan pada mesin pencuci yang waktu pengerjaannya jauh melebihi yang telah
ditetapkan. Hal ini akan mempengaruhi nilai perubahan dimensi pada kain contoh uji. Jika waktu
pencucian lebih lama maka kemungkinan perubahan dimensi pada kain contoh uji akan semakin besar
karena gaya mekanik yang terjadi akan lebih lama.
Kain tenun.
Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan mulur kain setelah pencucian diperoleh hasil %
mulur yang bernilai negative, baik pakan maupun lusinya. Hal ini menunjukkan bahwa bahan setelah
pencucian dan pengeringan mengalami pemengkeretan kea rah lusi dan pakan (luas bahan menjadi lebih
kecil). Mengkeret lusi lebih besar daripada mengkeret pakan. Kain contoh uji merupakan kain dengan
jenis anyaman polos sehingga pada konstruksinya diketahui bahwa benang lusinya akan banyak
mengalami perlakuan sebelum di tenun seperti penganjian sampai akhirnya dihilangkan kanjinya serta
tekanan (ketekan) saat ditenun menjadikan benang lusi lebih beresiko untuk mengkeret. Mengkeret juga
dapat disebabkan proses pemantapan dimensi pada kain belum dikerjakan (pada bahan kapas dikenal
dengan merserisasi).
Dilihat dari motif kain dapat diketahui jika end use dari kain tersebut adalah untuk pakaian anak-
anak seperti kemeja anak, baju tidur anak, atau juga untuk dijadikan seprei tempat tidur anak. Jika bahan
tersebut digunakan untuk bahan pakaian (sandang) seperti kemeja, maka perubahan dimensi setelh
pencucian dan pengeringan untuk arah lusi dan pakannya tidak memenuhi syarat mutu kain tenun untuk
kemeja karena % perubahan dimensinya jauh lebih kecil dari 2% (toleransi -2% sampai 2% perubahan
dimensi) yaitu ke arah lusi sebesar -5,57% dan ke arah pakan -0,79 % menjadikan bahan akan
bertambah sempit saat digunakan karena pakaian biasanya dilakukan pencucian yang berulang.
Kain rajut.
Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan mulur kain setelah pencucian diperoleh hasil %
mulur ke arah wales sebesar -6,93% dan ke arah course sebesar 1,2%. Hal ini menunjukkan bahwa kain
rajut mengkeret ke arah wales dan mulur ke arah course setelah dilakukan pencucian dan pengeringan.
Jika tujuan akhir kain rajut polos contoh uji (end use) adalah untuk digunakan sebagai sandang
seperti pakaian kaos maka kain contoh uji tersebut tidak memenuhi syarat mutu kain rajut polos yang
menghendaki perubahan dimensi maksimum 5% kearah wale dan course. Pada arah course perubahan
dimensi memanga memenuhi atandar mutu namun tidak pada arah wales. Perubahan dimensi yang besar
seperti pada wales (mengkeret banyak) dapat menimbulkan masalah-masalah pada pemakaian bahan
seperti pakaian yang terbuat dari bahan rajut ini akan menyempit setelah dicuci.

10. Kesimpulan
Kain contoh uji tenun mengalami perubahan dimensi setelah pencucian dan pengeringan yaitu
mengkeret ke arah lusi dan pakannya masing-masing sebesar 5,57% dan 0,79% sehingga tidak
memenuhi standar mutu kain tenun untuk kemeja menurut SNI 0051:2008.
Kain contoh uji rajut mengalami perubahan dimensi setelah pencucian dan pengeringan yaitu
mengkeret ke arah wales sebesar 6,93% dan mulur ke arah course sebesar 1,2% sehingga tidak
memenuhi standar mutu kain rajut polos menurut SNI 0561:2008.
PENGUJIAN DAYA SERAP KAIN CARA KERANJANG
SNI 08-0404-1989

1. Ruang Lingkup
Standar ini meliputi cara uji daya serap bahan tekstil untuk segala macam tekstil permukaan
yang berbulu.

2. Tujuan
Melakukan pengujian daya serap kain (berbulu) cara keranjang melalui perbandingan berat
basah dan berat kering.

3. Teori Dasar
Daya serap dapat dinyatakan dalam dua cara evaluasi yaiut waktu serap dan atau kapasitas serap.
Daya serap adalah kemampuan kain menyerap air. Daya serap merupakan salah satu faktor yang
menentukan kegunaan kain untuk tujuan tertentu. Waktu serap adalah waktu yang diperlukan untuk
pembasahan sempurna seluruh contoh uji dinyatakan dalam sekon. Basah sempurna adalah keadaan
pada saat contoh uji tepat mulai tenggelam. Kapasitas serap adalah 80 sekon.
Pengujian daya serap sangat penting untuk dilakukan yaitu untuk mengendalikan mutu kain yang
khusus dibuat dengan daya serap besar. Kain yang membutuhkan daya serap besar adalah kain handuk.
Kualitas kain handuk ini ditentukan oleh kemampuannya dalam hal daya serap terhadap air yang
mungkin tergantung dari sifat serat atau konstruksi handuk tersebut.
Dalam uji ini, daya serap dinyatakan dalam dua cara yaitu waktu serap dan kapasitas serap. Daya
serap adalah kemampuan kain menyerap air, sedangkan waktu serap adalah waktu yang diperlukan
untuk pembasahan sempurna seluruh contoh uji yang dinyatakan dalam detik, basah sempurna yang
dimaksud adalah pada saat contoh uji tepat mulai tenggelam.
Persyaratan Mutu Handuk Mandi
No. Jenis Uji Satuan Persyaratan
1 Kekuatan tarik1)
1.1 Arah lusi N (kg) Min 178 (18,1)
1.2 Arah pakan N (kg) Min 133 (13,6)
2 Kekuatan jebol2) Kg/cm2 Min 4,7
3 Perubahan dimensi setelah
pencucian dan pengeringan
3.1 Arah panjang % Maks 10
3.1 Arah lebar % Maks 5
4 Lengkungan dan kemiringan Maks 6
5 Ketahanan luntur terhadap3):
5.1 Pencucian 40oC
5.1.1 Perubahan warna4) Min 4
5.1.2 Penodaan 5) Min 4
5.2 Pencucian kering
5.2.1 Perubahan warna Min 4
5.3 Gosokan
5.3.1 Kering5) Min 4
5.3.2 Basah5) Min 3 – 4
5.4 Sinar6) Min 4
6 Daya serap
6.1 Waktu serap S Maks. 20
6.2 Kapasitas serap % Min. 500

Keterangan :
1. Berlaku untuk handuk tenun
2. Berlaku untuk handuk rajut
3. Berlaku untuk kain berwarna
4. Standar skala abu-abu
5. Standar skala penodaan
6. Standar wol biru
Sumber: SNI 08-0055-2002

4. Alat dan Bahan yang Digunakan


- Piala gelas 250 ml
- Keranjang kawat tembaga, berbentuk silinder dengan ukuran tinggi 5 cm, diameter 3 cm, berat
3 g, berlubang 1,5 cm x 1,5 cm, dengan salah satu ujungnya terbuka (lihat gambar 1).
- Stopwatch.
- Bejana dengan tinggi minimum 25 cm
- Bahan yang digunakan:
- Contoh uji dipotong miring 45o dengan ukuran lebar 7,5 cm (panjang tidak ditentukan) sampai
kain 5 gram. Jumlah contoh uji yang diperiksa sekurang-kurangnya 5 buah.
- Apabila disepakati pengkondisian dan pengujian boleh dilakukan sesuai kesepakatan bersama
(consensus). Saat praktikum ukuran lebar kain handuk 7 cm, contoh uji berjumlah 2.
5. Prinsip
Contoh uji dimasukkan ke dalam air dan diukur waktu serapnya sampai terjadi pembasahan
sempurna. Kapasitas serap ditentukan dengan menghitung perbandingan berat basah dan berat semula
setelah contoh uji terendam selama 10 sekon.

6. Langkah Kerja
a. Cara uji waktu serap
- Masing-masing contoh uji digulung kea rah panjang dan dimasukkan ke dalam keranjang
kawat tembaga, sehingga memenuhi keranjang tersebut.
- Keranjang tersebut dijatuhkan horizontal dengan ketinggian 2,5 cm dari permukaan air, dan
ditentukan serapnya
- Jika dalam waktu 90 detik bahan tidak tenggelam, maka bahan ditenggelamkan dengan alat
penjepit.
- Harga rata-rata dari hasil pengujian adalah harga waktu serap.
b. Cara Uji kapasitas serap
- Setelah waktu serap diketahui, keranjang kawat tembaga dibiarkan terendam dalam air selama
sepuluh sekon.
- Keranjang kawat diambil dengan memegangnya pada bagian yang terbuka dan dibiarkan
selama 10 sekon dengan bagian yang terbuka disebelah atas supaya airnya menetes.
- Keranjang kawat tembaga beserta contoh uji segera dimasukkan kedalam piala gelas dan
ditimbang dengan ketelitian 0,1 g.

7. Evaluasi
Berat Basah − Berat Kering
% Kapasitas serap = × 100%
Berat Contoh Uji

8. Data Percobaan dan Perhitungan

Waktu
Berat gelas Berat Berat contoh uji Berat kain akhir
No tenggelam
(g) kawat (g) (g) (g)
(detik)
1 5 68,43 >60
35,55 3
2 5 64,23 >60
Berat Basah − Berat Kering
% Kapasitas serap = × 100%
Berat Contoh Uji
68,43 − (35,33 + 3 + 5)
% Kapasitas serap 1 = × 100% = 531,71 %
5
64,23 − (35,33 + 3 + 5)
% Kapasitas serap 2 = × 100% = 464,39 %
5
531,72 + 464,39
% Kapasitas serap rata − rata = × 100% = 489,05 %
2

9. Diskusi
Dari data percobaan dan perhitungan diperoleh waktu tenggelam rata-rata contoh uji adalah >60
detik (cukup) karena masih dibawah 90 detik. % kapasitas serap rata-rata contoh uji adalah baik yaitu
sebesar 489,05. Untuk mendapatkan hasil pengamatan dan perhitungan yang akurat maka harus
diperhatikan cara pengambilan contoh uji bahan handuk dipotong miring 45o (diagonal), hal ini
bertujuan agar sampel dapat mewakili seluruh kain karena perbandingan lusi dan pakannya akan
seimbang.
Jika tujuan akhir kain contoh uji (end use) adalah untuk digunakan sebagai handuk maka kain
contoh uji tersebut tidak memenuhi syarat mutu handuk mandi menurut SNI 08-0055-2002 karena
memiliki waktu serap >20 detik walaupun % kapasitas serapnya mencapai 498,05% (diatas 500%).

10. Kesimpulan
Kain contoh uji tidak memenuhi syarat mutu handuk mandi menurut SNI 08-0055-2002 karena
memiliki waktu serap >20 detik dengan % kapasitas serapnya 498,05%.
PENGUJIAN TAHAN API CARA VERTIKAL
SNI 0989 – 2011

1. Tujuan
Melakukan pengujian tahan api pada bahan tekstil dengan cara vertical dengan menghitung
waktu ketahanan suatu bahan tekstil terhadap api melalui waktu nyala, bara, dan panjang arang.

2. Teori Dasar
Pakaian pelindung tahan api (flame resistance) yaitu sifat tidak meneruskan nyala api atau jika
api yang membakar diambil, nyala api segera padam dalam waktu yang sangat singkat (3 detik). Dalam
rumah tangga pakaian yang cepat meneruskan nyala api akan menimbulkan kecelakaan. Pengujian sifat
nyala api dan tahan api diperlukan untuk memperkirakan kemungkinan bahaya tersebut.
Faktor yang berpengaruh pada sifat nyala api atau tahan api adalah jenis serat dan berat kain.
Struktur benang dan struktur kain seperti kain tenun, kain rajut dan sebagainya tidak berpengaruh pada
sifat nyala api dan tahan api. Sifat nyala api sebagian ditentukan oleh jenis serat yang digunakan. Serat
selulosa seperti kapas, linen dan rayon mudah meneruskan pembakaran. Kain wol biasanya sulit
menyala. Nylon dan poliester mengerut dari nyala api dan sulit menyala, tetapi penyempurnaan yang
membuat kain kaku memungkinkan nylon dan poliester mudah menyala. Pada kain-kain yang
meneruskan nyala api, sifat tahan apinya bergantung pada berat kain dan kandungan seratnya. Untuk
kain dengan serat sama, makin berat kainnya, makin tahan api.
Untuk pakaian, pengujian yang banyak digunakan adalah uji sifat nyala api tekstil pakaian (cara
45) dan uji tahan api(cara vertikal). Prinsip uji sifat tahan api (cara vertikal) adalah membakar kain
yang dijepit rangka dan diletakkan vertikal selama waktu tertentu. Diukur waktu dari saat api diambil
sampai nyala padam, waktu dari saat nyala padam sampai bara padam dan panjang sobekan pada contoh
uji karena sobekan dengan gaya tertentu.
Pengujian ini terutama digunakan untuk kain kain yang telah disempurnakan tahan api atau kain
yang dibuat dari serat yang bersifat tahan api.
- Tahan api adalah kemampuan suatu bahan untuk menahan atu tidak meneruskan nyala api.
- Waktu nyala adalah lama contoh uji meneruskan nyala sejak nyala pembakar diambil atau
dipadamkan, dinyatakan dalam sekon.
- Waktu bara adalah lama contoh uji tetap membara sejak nyala api pada kain padam, dinyatakan
dalam sekon.
- Panjang arang adalah jarak dari ujunga contoh uji yang dikenai api sampai ujung atas daerah
terbakar, atau mengarang, yang dapat disobek oleh beban tertentu, dinyatakan dalam sentimeter.
3. Alat dan Bahan yang Digunakan
- Alat uji tahan api cara vertikal. Terdiri dari suatu kotak dari pintu kaca untuk melindungi nyala api
dari hembusan udara. Didalam alat terdapat tempat untuk memasang penjepit contoh uji sehingga
contoh uji vertikal. Di bagian bawah terdapat pembakar gas dengan diameter lubang 10 mm dan jika
diletakkan dibawah contoh uji berjarak 19 mm dari ujung bawah contoh uji
- Contoh uji dengan ukuran 76 mm x 300 mm, untuk arah panjang kain dan arah lebar kain,
dikondisikan dalam ruangan standar pengujian.
Apabila disepakati pengkondisian dan pengujian boleh dilakukan sesuai kesepakatan bersama
(consensus).

4. Prinsip
Prinsip uji sifat tahan api cara vertical adalah membakar kain yang dijepit rangka dan diletakkan
vertikal selama waktu tertentu. Diukur waktu dari saat api diambil sampai nyala padam, waktu dari saat
nyala padam sampai bara padam dan panjang sobekan pada contoh uji karena sobekan dengan gaya
tertentu.

5. Langkah Kerja
- Contoh uji diepit pada penjepit contoh uji dengan rata dan pasang pada tempat penjepit contoh uji
dalam Alat Uji Tahan Api.
- Nyala api diatur hingga tingginya 38 mm.
- Nyala api digeser ke bawah contoh uji dan membakar contoh uji selama 12  0,2 detik kemudian
ambil atau padamkan nyala api.
- Amati adanya lelehan atau tetesan.
- Waktu Nyala (After Flame Time) diukur, yaitu waktu sejak api diambil sampai nyala padam.
- Waktu Bara (After Glow Time) diukur, yaitu waktu sejak nyala padam sampai bara padam.
- Dinginkan contoh uji kemudian ukur Panjang Arang (Char Length) sebagai berikut
 Lubangi salah satu sudut dengan jarak 0,6 mm dari tepi bawah contoh uji, kemudian diberi
beban sesuai berat kain seperti tercantum pada Tabel 14.1 Pegang sudut sebelahnya dan angkat
ke atas sehingga bagian kain yang dibakar akan sobek.
 Ukur panjang sobekan tersebut sampai 3 mm terdekat.

Tabel Beban Untuk Menyobek Contoh Uji


Berat Kain, g/m Beban, g
68 – 203 100
203 – 508 200
508 – 780 300

780 475
6. Evaluasi
Untuk kain pelindung terhadap api , Waktu Nyala 0 detik Di Amerika Serikat, kain untuk pakaian
tidur anak-anak harus mempunyai sifat tahan api sampai batas tertentu. Untuk mengevaluasi apakah
sifat tahan api kain memenuhi syarat untuk pakaian tidur anak-anak, pengujian dilakukan menggunakan
cara ini tetapi waktu pembakaran dipersingkat hanya tiga titik, kemudian diukur Panjang Arang.
Panjang Arang rata-rata dari lima contoh uji tidak boleh lebih dari 17,8 mm dan Panjang Arang masing-
masing contoh uji tidak boleh lebih dari 25,4 mm.

7. Data Percobaan
Waktu nyala Waktu bara
Lusi 11 detik 13 detik
Pakan 15 detik 18 detik

8. Diskusi
Berdasarkan data pengamatan uji tahan api cara vertical diperoleh hasil waktu nyala arah lusi
adalah 11 detik dan arah pakan 15 detik. Waktu bara arah lusi adalah 13 detik dan arah pakan adalah
18 detik. Bahan contoh uji terbuat dari serat katun (kapas) sehingga jika tidak dilakukan pengerjaan
akhir anti api / tahan api maka bahan akan mudah terbakar dan cepat meneruskan pembakaran. Pada
arah lusi waktu nyala dan waktu bara sampai kain habis terbakar api memiliki waktu yang lebih lama
dari arah pakan, hal ini dikarenakan struktur kain atau kerapatan kain yaitu kerapatan / tetal antara lusi
dan pakan yang berbeda dalam satuan luas kain. Lusi biasanya lebih rapat dibandingkan pakan sehingga
waktu nyala dan waktu baranyapun menjadi lebih lama dibandingkan dengan pakannya. Pada pengujian
tahan api cara vertikal ini semua bahan terbakar, kecuali bahan yang ada dikedua pinggir atau sisi yang
terjepit oleh penjepit.
Jika tujuan akhir kain contoh uji (end use) adalah untuk digunakan sebagai bahan sandang (kain
tenun untuk kemeja) maka cara uji tahan api secara vertical aalah cara yang kurang tepat. Untuk bahan
sandang lebih tepat jika digunakan cara uji tahan api cara miring. Diketahui bahwa bahan yang terbuat
dari kapas akan mudah terbakar dan akan memeruskan pembakaran jika tidak dilakukan
penyempurnaan anti api terhadap bahan tersebut. Contoh uji merupakan bahan kapas yang tidak
dilakukan proses anti api karena api tidak padam dalam waktu yang singkat.

9. Kesimpulan
Waktu nyala arah lusi adalah 11 detik dan arah pakan 15 detik. Waktu bara arah lusi
adalah 13 detik dan arah pakan adalah 18 detik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sifat tahan api
kain contoh uji adalah buruk.
PENGUJIAN TAHAN LUNTUR WARNA TERHADAP PENCUCIAN
SNI ISO 105-C06:2010

1. Ruang Lingkup
SNI ISO 105 bagian ini menetapkan cara uji tahan luntur warna untuk segala macam dan bentuk
bahan tekstil berwarna terhadap pencucian rumah tangga atau pencucian komersial yang digunakan
untuk barang-barang rumah tangga. Barang-barang industri dan rumah sakit dapat dikerjakan dengan
cara pencucian khusus yang dalam beberapa aspek dapat lebih kuat.
Metoda ini tidak menggambarkan efek dari adanya pemutih optik dalam pencucian komersial.
Metoda ini dirancang untuk deterjen dan sistem pengelantangan tertentu.

2. Tujuan
Melakukan pengujian ketahanan luntur terhadap pencucian rumah tangga atau komersil pada kain
berwarna dengan menilai perubahan warna dan penodaan pada kain putih pelapis.

3. Teori Dasar
Cara pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian rumah tangga dan pencucian komersial
adalah metoda pengujian tahan luntur warna bahan tekstil dalam larutan pencuci dengan menggunakan
salah satu kondisi pencucian komersial yang dipilih untuk mendapatkan nilai perubahan warna dan
penodaan pada kain pelapis. Kondisi pencucian dapat dipilih sesuai keperluan dari 16 kondisi yang
disediakan.
SNI ISO 105 bagian ini menetapkan cara uji tahan luntur warna untuk segala macam dan bentuk
bahan tekstil berwarna terhadap pencucian rumah tangga atau pencucian komersial yang digunakan
untuk barang-barang rumah tangga. Barang-barang industri dan rumah sakit dapat dikerjakan dengan
cara pencucian khusus yang dalam beberapa aspek dapat lebih kuat.
Berkurangnya warna dan penodaan yang dihasilkan oleh desorpsi atau gesekan dalam satu uji
tunggal (S) kurang lebih sama dengan satu kali pencucian rumah tangga atau komersial. Hasil dari satu
pengujian ganda (M) hampir sama dengan lima kali pencucian komersial atau pencucian rumah tangga
pada suhu tidak lebih dari 70°C. Uji M lebih kuat dari uji S karena peningkatan gerakan-gerakan
mekanik.
Metoda ini tidak menggambarkan efek dari adanya pemutih optik dalam pencucian komersial.
Metoda ini dirancang untuk deterjen dan sistem pengelantangan tertentu. Deterjen-deterjen dan
sistem pengelantangan yang lain mungkin memerlukan kondisi dan tingkat komposisi yang berbeda.
Persyaratan Mutu Kain Tenun Untuk Kemeja
No. Jenis Uji Satuan Persyaratan Keterangan
1 Kekuatan tarik kain per 2,5 cm1) N 107,9
Minimum
Kg 11,0
2 Kekuatan sobek1) N 6,9
Minimum
Kg 0,7
3 Tahan selip benang dalam kain pada jahitan N 78,5
(bukaan 6 mm)1) Minimum
Kg 8,0
4 Perubahan dimensi1)
4.1 Setelah pencucian dan pengeringan % 2,0 Maksimum
4.2 Setelah pencucian kering2) % 2,0 Maksimum
5 Kenampakan kain setelah pencucian
Berulang3) DP 3,5 Minimum
6 Ketahanan luntur warna terhadap:4)
6.1 Pencucian 40oC
- Perubahan warna5) 4 Minimum
- Penodaan6) 3-4
6.2 Pencucian kering2)
- Perubahan warna 4 Minimum
6.3 Keringat asam dan basa
- Perubahan warna5) 4 Minimum
- Penodaan6) 3-4
6.4 Gosokan
- Kering6) 4 Minimum
- Basah6) 3-4
6.5 Sinar7) 4
7 Kandungan formaldehida bebas
- Dewasa ppm 75 Maksimum
- Anak-anak ppm 20
1) Berlaku untuk arah lusi dan pakan;
2) Berlaku untuk kain yang mengalami pencucian kering;
3) Berlaku untuk kain tekan-awet (durable-press);
4) Berlaku untuk kain yang berwarna;
5) Skala abu-abu;
6) Skala penodaan;
7) Standar wol biru
Sumber: SNI 0051:2008, Badan Standardisasi nasional.

4. Alat dan Bahan yang Digunakan


- Launder-O-Meter.
- Kelereng baja tahan karat, dengan diameter 6 mm.
- Kain pelapis, (lihat ISO 105-A01:1994, 8.2),. Salah satu dari kain pelapis tersebut harus terbuat dari
serat yang sejenis dengan contoh uji atau jenis serat yang paling dominan untuk kain campuran.
Kain pelapis kedua terbuat dari serat seperti yang tercantum pada tabel atau dalam hal serat
campuran sesuai dengan serat yang dominan kedua atau apabila ditentukan lain. Apabila
diperlukan, dapat digunakan kain yang tidak dapat dicelup (contoh polipropilena).
Kain Pelapis dan Pasangannya
Maka kain pelapis kedua
Bila kain pelapis pertama
Untuk Uji A dan B Untuk Uji C, D, dan E
Kapas Wol Viskosa
Wol Kapas -
Sutera Kapas -
Viskosa Wol Kapas
Asetat / triasetat Viskosa Viskosa
Poliamida Wol atau kapas Kapas
Poliester Wol atau kapas Kapas
Akrilat Wol atau kapas Kapas
Catatan :
 Jenis kain pelapis pertama adalah kain sejenis dengan jenis serat contoh uji
 Untuk contoh uji yang terbuat dari serat campuran, akain pelapis pertama dipakai kain pelapis
tunggal yang sejenis dengan jenis serat dominan, dan kain pelapis kedua adalah kain dengan
serat dominan kedua.

- Deterjen tanpa pemutih optik 4 g/L


- Standar skala abu-abu untuk perubahan warna
- Standar skala abu-abu untuk penodaan warna
- Contoh uji kain berukuran 40 x 100 mm diletakan diantara dua kain putih (poliester dan kapas)
dengan ukuran yang sama kemudian dijahit.

5. Prinsip
Contoh uji dilapisi dengan kain atau kain-kain pelapis tertentu, dicuci, dibilas dan dikeringkan.
Contoh uji dicuci dalam kondisi suhu alkalinitas pengelantangan dan gesekangesekan tertentu sehingga
diperoleh hasil dalam waktu yang sangat singkat. Gesekan-gesekan terjadi karena perbandingan larutan
yang rendah dan penggunaan sejumlah kelereng baja. Perubahan contoh uji dan penodaan pada kain
atau kain-kain pelapis dinilai dengan membandingkannya terhadap skala abu-abu.

6. Langkah Kerja
- Larutan pencuci disiapkan dengan melarutkan sabun 4 g/l ke dalam air suling.
- Larutan pencuci dimasukkan ke dalam tabung tahan karat sebanyak 150 ml. suhu diatur 40 ± 2 oC.
contoh uji dan 10 buah kelereng baja dimasukkan kemudian tabung ditutup dan mesin dijalankan
selama 30 menit.
- Contoh uji dikeluarkan, kemudian dibilas dua kali dengan 100 ml air suling selama 1 menit pada
suhu 40oC.
- Contoh uji dibilas dengan 100 ml larutan 2 g/l asam asetata glacial selama 1 menit pada suhu 30oC,
kemudian dibilas dengan 100 ml air suling selama 1 menit pada suhu 30oC, kemudian diperas.
- Contoh uji dikeringkan dengan cara digantung pada suhu tidak lebih dari 60oC dan dijaga agar kain
pelapis tidak kontak dengan contoh uji kecuali pada bagian jahitan.
- Kain contoh uji ditentukan nilai perubahan warnanya dengan Standar Skala Abu-abu dan nilai
penodaan warna pada kain pelapis dengan menggunakan Standar Skala Penodaan.

7. Data Percobaan

Skala abu-abu Skala abu-abu penilaian penodaan


No perubahan
Kapas Polyester
warna
1 4 4/5 3/4
2 4 3/4 4/5

8. Diskusi
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh nilai perubahan warna contoh uji adalah 4. Penodaan
pada kapas 4/5 dan 3/4, sedangkan penodaan pada polyester adalah 3/4 dan 4/5. Dalam praktikum
digunakan kain pelapis polyester sedangkan bahan contoh uji berupa serat kapas, hal ini dilakukan
atas dasar consensus. Seharusnya bahan pelapis kedua berupa wol. Pada pengujian penodaan dengan
staining scale juga terjadi perbedaan nilai, hal ini dikarenakan bahan contoh uji merupakan bahan
tenun yang diwarnai dengan jalan printing sehingga kedua permukaannya tidak sama warna dan
motifnya mengakibatkan kain pelapis yang ada didepan motif contoh uji akan memiliki nilai staining
/ penodaan yang lebih besar karena berkontak langsung dengan pewarna kain contoh uji.
Jika tujuan akhir kain contoh uji (end use) adalah untuk digunakan sebagai bahan sandang
(kain tenun untuk kemeja) maka nilai perubahan warna dan penodaannya pada kain pelapis
memenuhi syarat mutu kain tenun unutk kemeja menurut SNI 0051:2008 yang menghendaki nilai
perubahan warna minimal 4 dan nilai penodaan warna minimal 3-4.
9. Kesimpulan
Contoh uji memiliki ketahanan luntur terhadap pencucian rumah tangga yang baik dengan nilai
perubahan warna dan penodaan warna pada kain pelapis sesuai dengan syarat mutu kain tenun untuk
kemeja menurut SNI 0051:2008.
LAMPIRAN

Penodaan warna
Sampel Perubahan warna
Kapas Polyester
PENGUJIAN TAHANAN LUNTUR WARNA TERHADAP GOSOKAN
SNI ISO 105-C06:2010

1. Ruang Lingkup
SNI ISO 105-C06:2010 bagian ini menetapkan persyaratan alat uji untuk uji tahan gosok kain.
Bagian ini dapat digunakan untuk alat untuk pengujian kain tenun dan kain rajut, kain berbulu yang
memiliki panjang bulu sampai 2 mm, dan kain tenun.

2. Tujuan
Melakukan pengujian ketahanan luntur terhadap gosokkan kering dan basah dengan menilai
penodaannya pada kain putih.

3. Teori Dasar
Pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan dilakukan dengan dua jenis gosokan, yaitu:
a. Gosokan kering
Disebut gosokan kering, karena kondisi kain penggosok dalam keadaan kering.dan yang perlu
diperhatikan adalah posisi anyaman kain penggosok (kain putih) harus miring terhadap arah
gosokan.
b. Gosokan basah
Kain penggosok dibasahi dengan air suling, dengan kertas saring diatur kadar air yang terdapat pada
kain contoh uji. Kadar air dalam kain diatur 65  5 % terhadap berat kain pada kondisi standar
kelembaban relatif 65  2 % dan suhu 27  2 0C. Pada saat pengujian ditekan seminimal mungkin
terjadinya penguapan.
Kain putih yang digunakan sebagai kain penggosok adalah kain kapas dengan kontruksi 100 x
96 / inchi2 dan berat 135,3 gram / m2 yang telah diputihkan, tidak dikanji dan tidak disempurnakan.
Penodaan pada kain putih dinilai dengan mempergunakan staining scale.
Nilai Tahan Luntur Warna
Nilai Tahan Luntur Warna Evaluasi Tahan Luntur Warna
5 Baik sekali
4–5 Baik
4 Baik
3–4 Cukup baik
3 Cukup
2–3 Kurang
2 Kurang
1–2 Jelek
1 Jelek

4. Alat dan Bahan yang Digunakan


- Crockmeter,
Penggosok diameter 1,6 ± 0,01 cm
Jarak gosok 10,4 cm
Gaya tekanan 900 gram.
- Staining Scale (SNI ISO 105-A03:2010)
- Kain contoh uji berukuran 5 x 15 cm dengan panjang miring terhadap lusi dan pakan
- Air suling
- Kain kapas yang telah diputihkan, ukuran 5 cm x 5 cm.

5. Prinsip
Contoh uji dipasangkan pada crockmeter, kemudian padanya digosokkan kain putih kering
dengan kondisi tertentu. Penggosokan ini diulangi dengan kain putih basah. Penodaan pada kain putih
dinilai dengan mempergunakan skala abu-abu untuk penodaan.

6. Langkah Kerja
a. Cara Uji Gosokan Kering
- Contoh uji diletakan rata diatas alat penguji dengan sisi panjang, searah dengan arah gosokan.
- Jari Crockmeter dibungkus dengan kain putih kering dengan anyamannya miring terhadap arah
gosokan.
- Kemudian digosokan 10 kali maju mundur (20 kali gosokan) dengan memutar alat pemutar 10
kali dengan kecepatan satu putaran per detik.
- Kain putih diambil dan dievaluasi dengan grey scale.
b. Cara Uji Gosokan Basah
- Kain putih dibasahi denganair suling, kemudian diperas diantara kertas saring, sehingga kadar
air dalam kain menjadi 65 ± 5 % terhadap berat kain pada kondisi standar kelembaban relatif
65 ± 2 % dan suhu 27 ± 2 oC.
- Kemudian dikerjakan eperti pada cara gosok kering secepat mungkkin untuk menghindari
penguapan. Kain putih dikeringkan diudara sebelum dievaluasi.

7. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan penodaan warna pada kain putih terhadap staining
Scale. Dalam membandingkan penodaan warna, kain penguji diberi atas tiga lapis kain putih yang
sama.
8. Data Percobaan
Skala abu-abu penilaian penodaan pada
No kapas
Gosok kering Gosok basah
1 4/5 4
2 4/5 4

9. Diskusi
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh niali tahan luntur warna kain contoh uji terhadap
gosokan kering adalah 4/5 sedangkan terhadap gosokan basah nilainya 4. Kain contoh uji yang berupa
kain kapas yang diduga dicap dengan zat warna pigmen, hal ini terlihat dari motif kain contoh uji yang
beragam warna dan ukuran (terdapat banyak garis-garis/motif-motif halus) serta permukaan kain yang
sedikit kaku. Ketahanan luntur zat warna pigmen terhadap gosokan basah adalah cukup karena zat
warna pigmen hanya berada dipermukaan serat dan membentuk lapisan film sehingga saat digosok akan
mudah luntur. Hal yang harus diperhatikan saat uji ketahanan luntur terhadap gosokan adalah cara
pengambilan sampel. Untuk mendapatkan hasil pengamatan yang akurat maka cara pengambilan contoh
uji dipotong miring 45o (diagonal), hal ini bertujuan agar sampel dapat mewakili seluruh kain karena
perbandingan lusi dan pakannya akan seimbang karena kemungkinan adnya perbedaan struktur lusi dan
pakan. Selain itu juga sampel harus mewakili semua warna yang ada dalam bahan.
Jika tujuan akhir kain contoh uji (end use) adalah untuk digunakan sebagai bahan sandang (kain
tenun untuk kemeja) maka nilai ketahanan luntur terhadap gosokan kering dan basah sudah memenuhi
syarat mutu kain tenun unutk kemeja menurut SNI 0051:2008 yang menghendaki nilai ketahanan luntur
terhadap gosokan kering minimal 4 dan nilai ketahanan luntur terhadap gosokan basah penodaan warna
minimal 3-4.

10. Kesimpulan
Contoh uji memiliki ketahanan luntur terhadap gosokan kering dan basah yang baik (4 untuk gosok
kering dan 4/5 untuk gosok basah) dan sesuai dengan syarat mutu kain tenun untuk kemeja menurut
SNI 0051:2008.
LAMPIRAN

Skala abu-abu penilaian Skala abu-abu penilaian


Sample penodaan pada kapas penodaan pada kapas
Gosok kering Gosok kering
PENGUJIAN TAHANAN LUNTUR WARNA TERHADAP KERINGAT
SNI ISO 105-E04:2010

1. Ruang Lingkup
SNI ISO 105 bagian ini menetapkan cara uji tahan luntur warna untuk segala macam dan bentuk
bahan tekstil berwarna terhadap keringat manusia.

2. Tujuan
Melakukan pengujian ketahanan luntur terhadap keringat asam dan basa dengan menilai
penodaannya pada kain putih.

3. Teori Dasar
Cara ini dimaksudkan untuk menentukan tahan luntur warna dari segala macam bentuk bahan
tekstil berwarna terhadap keringat. Contoh-contoh uji yang terpisah dari bahan tekstil berwarna
direndam dalam larutan keringat buatan bersifat asam dan basa, kemudian diberikan tekanan mekanik
tertentu dan dikeringkan perlahan-lahan pada suhu yang naik sedikit demi sedikit.
Beberapa zat warna sangat dipengaruhi oleh keringat, sehingga akan memberikan perubahan
terhadap intensitas warna pada bagian-bagian kain yang terkena keringat. Pengujian ini dimaksudkan
untuk menentukan tahan luntur warna dari segala macam dan bentuk bahan tekstil berwarna terhadap
keringat. Contoh uji yang terpisah dari bahan tekstil berwarna direndam dalam larutan keringat buatan
yang bersifat basa dan asam untuk kemudian diberi tekanan mekanik tertentu dan dikeringkan secara
perlahan pada suhu yang naik sedikit demi sedikit. Pada saat pengujian, contoh uji dipasangkan bersama
dua helai kain putih yang terdiri dari dua jenis serat yaitu serat yang sejenis dengan bahan yang diuji
serta bahan dari serat menurut pasangannya. Hasil pengujian diamati dari perubahan warna pada contoh
uji dan penodaannya terhadap kain putih menggunakan standar skala abu-abu dan standar penodaan.
Keterangan nalai skala abu-abu pada penilaian penodaan warna
Tidak ada penodaan warna seperti yang ditunjukan tingkat ke-5 dalam Staining
Nilai 5
Scale
Nilai 4 Penodaan warna ekivalen dengan tingkat ke - 4 dalam Staining Scale
Nilai 3 Penodaan warna ekivalen dengan tingkat ke - 3 dalam Staining Scale
Nilai 2 Penodaan warna ekivalen dengan tingkat ke - 2 dalam Staining Scale
Nilai 1 Penodaan warna ekivalen dengan tingkat ke - 1 dalam Staining Scale
4. Alat dan Bahan yang Digunakan
- Peralatan uji
- rangka baja tahan karat berat sekitar 5 kg
- landasan 60 mm x 115 mm
- contoh uji dengan ukuran 40 mm x 100 mm. Tempelkan contoh uji berukuran 40 mm x 100 mm
diantara dua helai kain pelapis berserat tunggal juga dengan ukuran 40 mm x 100 mm, kemudian
jahit pada salah satu sisi pendek.
- lempeng-lempeng kaca atau resin akrilik yang berukuran 60 mm x 115 mm x 1,5 mm
- beban tekanan 12,5 kPa.
- Oven, tanpa kipas sirkulasi udara yang dapat dijaga pada suhu 37°C±2oC.
- Skala abu-abu untuk penilaian perubahan warna (SNI ISO 105-A02:2010)
- Skala abu-abu untuk penilaian penodaan warna (SNI ISO 105-A03:2010)
- Larutan keringat alkali, disiapkan langsung, yang setiap liter mengandung:
L-histidin monohidroklorida monohidrat (C6H9O2N3.HCl.H2O) 0,5 g;
Natrium klorida (NaCl) 5 g;
Salah satu dari:
Dinatrium hidrogen ortofosfat dodekahidrat (Na2HPO4.12H2O) 5 g,
atau
Dinatrium hidrogen ortofosfat dihidrat (Na2HPO4.2H2O) 2,5 g
Larutan dibuat menjadi pH 8 dengan larutan narium hidroksida 0,1 mol/L.
- Larutan keringat asam, disiapkan langsung, yang setiap liter mengandung:
L-histidin monohidroklorida monohidrat (C6H9O2N3.HCl.H2O) 0,5 g;
Natrium klorida (NaCl) 5 g;
Dinatrium hidrogen ortofosfat dihidrat (Na2HPO4.2H2O) 2,2 g.
Larutan dibuat menjadi pH 5,5 dengan larutan natrium hidroksida 0,1 mol/L.
- Kain pelapis

4. Prinsip
Contoh uji dilapisi dengan kain pelapis diproses dalam dua larutan berbeda yang mengandung
histidin, ditiriskan dan ditempatkan diantara dua lempeng di bawah tekanan tertentu dalam alat uji.
Contoh uji dan kain pelapis dikeringkan secara terpisah. Perubahan warna masing-masing contoh uji
dan penodaan dari kain pelapis dinilai dengan membandingkan terhadap skala abu-abu.

5. Langkah Kerja
1. Contoh uji rendam dalam larutan keringat basa pada pH 8 (larutan keringat alkali) hingga basah.
2. Contoh uji dibiarkan dalam larutan tersebut selama 30 menit pada suhu kamar.
3. Apabila disepakati pengkondisian dan pengujian boleh dilakukan sesuai kesepakatan bersama
(consensus).
4. Contoh uji diperas contoh uji menggunakan dua batang pengaduk kaca untuk menghilangkan
larutan yang berlebih.
5. Contoh uji diletakkan secara merata diantara dua lempeng kaca atau resin akrilik, kemudian
pasang pada alat uji yang telah dipanaskan sebelumnya pada suhu pengujian, sehingga mendapat
tekanan 12,5 kPa.
6. Dengan prosedur yang sama, rendam contoh uji dalam larutan keringat asam pada pH 5,5
kemudian lakukan pengujian pada alat uji secara terpisah yang telah dipanaskan sebelumnya.
7. Letakkan alat uji yang berisi contoh uji ke dalam oven selama 4 jam pada suhu 37oC ± 2oC.
8. Keluarkan contoh uji dari alat uji (dengan membuka jahitannya kecuali satu jahitan pada sisi
pendek, bila diperlukan). Keringkan contoh uji dengan cara diangin-angin pada suhu tidak lebih
dari 60oC, sedemikian rupa, sehingga dua atau tiga helai kain tersebut tidak bersentuhan kecuali
di bagian jahitan.
9. Lakukan penilaian perubahan warna pada contoh uji dan penodaan pada kain pelapisnya dengan
cara membandingkan terhadap skala abu-abu.

6. Data Percobaan

Skala abu-abu Skala abu-abu penilaian penodaan


Keringat perubahan
Kapas Polyester
warna
4 3/4 4/5
Asam
4 4/5 4
4 4 4
Basa
4 3/4 4

7. Diskusi
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh nilai perubahan warna contoh uji adalah 4 untuk
keringat asam maupun keringat basa . Penodaan dengan keringat asam pada kapas 4/5 dan 3/4,
sedangkan penodaan pada polyester adalah 4 dan 4/5. Penodaan dengan keringat basa pada kapas 4 dan
3/4, sedangkan penodaan pada polyester adalah 4. Dalam praktikum digunakan kain pelapis polyester
sedangkan bahan contoh uji berupa serat kapas, hal ini dilakukan atas dasar consensus. Seharusnya
bahan pelapis kedua berupa wol. Pada pengujian penodaan dengan staining scale juga terjadi perbedaan
nilai, hal ini dikarenakan bahan contoh uji merupakan bahan tenun yang diwarnai dengan jalan printing
sehingga kedua permukaannya tidak sama warna dan motifnya mengakibatkan kain pelapis yang ada
didepan motif contoh uji akan memiliki nilai staining / penodaan yang lebih besar karena berkontak
langsung dengan pewarna kain contoh uji. Karena zat warna yang digunakan untuk printing motif pada
bahan contoh uji adalah zat warna pigmen yang tidak mudah luntur kecuali karena gosokan sehingga
diperoleh hasil uji ketahanan luntur terhadap keringat asam dan basa yang relative sama baiknya.
Jika tujuan akhir kain contoh uji (end use) adalah untuk digunakan sebagai bahan sandang (kain
tenun untuk kemeja) maka nilai perubahan warna dan penodaannya pada kain pelapis memenuhi syarat
mutu kain tenun untuk kemeja menurut SNI 0051:2008 yang menghendaki nilai perubahan warna
minimal 4 dan nilai penodaan warna minimal 3-4.

8. Kesimpulan
Contoh uji memiliki ketahanan luntur terhadap keringat asam dan basa yang baik dengan nilai
perubahan warna dan penodaan warna pada kain pelapis sesuai dengan syarat mutu kain tenun untuk
kemeja menurut SNI 0051:2008.
LAMPIRAN

Perubahan Warna
Sampel
Keringat Asam Keringat Basa

Penodaan Warna
Kapas Polyester Kapas Poliester
Laporan Praktikum

PENGUJIAN DAN EVALUASI TEKSTIL 3


BAGIAN KIMIA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Praktikum Pengujian Dan Evaluasi
Tekstil 3

Disusun oleh :
Nama : Muhammad Azhari
Npm : 16020099
Grup : K4
Dosen : Juju J, AT.,M.Si
Asisten : Kurniawan, S. Si., MT.
Ryan R., S. ST.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2018
DAFTAR PUSTAKA

Hitariat, Susyami N.M., dkk., “Bahan Ajar Praktek Evaluasi Kain”. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil,
2007.

SNI 0051:2008, “Kain tenun untuk kemeja”, Badan Standardisasi Nasional, 2008.

SNI 0288:2008, “Kain - Cara uji tahan luntur warna – Gosokan”, Badan Standardisasi Nasional, 2008.

SNI 0561:2008, “Kain rajut polos kapas”, Badan Standardisasi Nasional, 2008.

SNI 08-0055-2002, “Handuk mandi”, Badan Standardisasi Nasional, 2002.

SNI 08-0278-1989, “Cara Pengujian Daya Tolak Air Kain ( Alat Jenis Bundesman )”, Badan Standardisasi
Nasional, 1989.

SNI 08-0404-1989, “Cara Uji Serap Kain Terhadap Air (Cara Keranjang)”, Badan Standardisasi Nasional,
1989.

SNI 1517:2008, “ tenun untuk payung hujan”, Badan Standardisasi Nasional, 2008.

SNI ISO 105-A02:2010, “Tekstil – Cara Uji Tahan Luntur Warna – Bagian A02: Skala Abu-Abu Untuk
Penilaian Perubahan Warna”, Badan Standardisasi Nasional, 2010.

SNI ISO 105-A03:2010, “Tekstil - Cara Uji Tahan Luntur Warna - Bagian A03: Skala Abu-Abu Untuk
Penilaian Penodaan”, Badan Standardisasi Nasional, 2010.

SNI ISO 105-C06:2010, “Tekstil – Cara Uji Tahan Luntur Warna – Bagian C06: Tahan Luntur Warna
Terhadap Pencucian Rumah Tangga Dan Komersial”, Badan Standardisasi Nasional, 2010.

SNI ISO 105-E04:2010, “Tekstil – Cara Uji Tahan Luntur Warna – Bagian E04: Tahan Luntur Warna
Terhadap Keringat”, Badan Standardisasi Nasional, 2010.

SNI ISO 4920:2010, “Kain Tekstil - Cara Uji Ketahanan Terhadap Pembasahan Permukaan (Uji Siram)”,
Badan Standardisasi Nasional, 2010.