Anda di halaman 1dari 4

2.

TANTANGAN, KENDALA, DAN PELUANG PEMBANGUNAN KOPERASI

Pembangunan koperasi pada PJP I telah berhasil meningkatkan perannya dalam perekonomian
nasional. Hal ini terlihat antara lain dengan semakin tumbuhnya koperasi mandiri dan semakin
tumbuhnya kesadaran masyarakat mengenai koperasi. Memasuki PJP II perlu lebih
dikenali adanya berbagai tantangan yang akan dihadapi. Dengan memanfaatkan peluang dan
mengatasi kendala yang ada, diharapkan pembangunan koperasi pada PJP II akan lebih
berhasil.

1. Tantangan

Meskipun banyak hasil yang telah dicapai dalam pembangunan koperasi selama PJP I, masih
banyak pula masalah yang belum terselesaikan, yang harus dilanjutkan dan
ditingkatkan penanganannya dalam PJP II, sebagai tantangan untuk mewujudkan cita-
cita perkoperasian seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Hingga saat ini karena
berbagai alasan ekonomi dan non ekonomi, koperasi pada umumnya belum dapat
melaksanakan sepenuhnya prinsip koperasi sebagaimana yang dicita-citakan, sehinagga koperasi
sebagai badan usaha dan gerakan ekonomi rakyat belum dapat mengembangkan
sepenuhnya potensi dan kemampuannya dalam memajukan perekonomian nasional dan
meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. Di samping itu berbagai kondisi struktural dan
sistem yang ada masih menghambat koperasi untuk sepenuhnya dapat menerapkan kaidah
ekonomi untuk meraih dan memanfaatkan berbagai kesempatan ekonomi secara optimal.
Sementara itu dengan terbukanya perekonomian nasional terhadap perkembangan perekonomian
dunia, akan menghadirkan perubahan-perubahan besar dalam kehidupan ekonomi nasional.
Persaingan usaha akan makin ketat, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi
meningkat, tuntutan akan sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu
mengantisipasi dan merencanakan masa depan meningkat pula. Kedudukan dan keberadaan
koperasi akan makin mantap apabila koperasi makin terintegrasi dan berperan
menentukan ke dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, tantangan dalam pembangunan
koperasi adalah mengembangkan koperasi menjadi badan usaha yang sehat, kuat,
maju, dan mandiri serta memiliki daya saing sehingga mampu meningkatkan
perannya dalam perekonomian nasional sekaligus kesejahteraan anggotanya. Dengan
memperhatikan kedudukan koperasi, baik sebagai sokoguru perekonomian nasional
maupun sebagai bagian integral tata perekonomian nasional, peran koperasi sangat
penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat. Dalam hal
ini, koperasi sebenarnya memiliki ruang gerak dan kesempatan usaha yang luas
terutama dalam hal yang menyangkut kepentingan kehidupan ekonomi rakyat. Dalam
kenyataannya, koperasi masih menghadapi berbagai hambatan struktural dan sistem
untuk dapat berfungsi dan berperan sebagaimana yang diharapkan, antara lain dalam
memperkukuh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional. Dengan demikian, yang menjadi tantangan adalah mewujudkan
koperasi, baik sebagai badan usaha maupun sebagai gerakan ekonomi rakyat agar
mampu berperan secara nyata dalam kegiatan ekonomi rakyat. Inti kekuatan koperasi terletak
pada anggota yang berpartisipa-si aktif dalam organisasi koperasi, dan kesadaran masyarakat
untuk bergabung dalam wadah koperasi. Sementara itu, kepercayaan masyarakat terhadap
koperasi makin meningkat, tetapi belum cukup memadai antara lain disebabkan oleh
masih adanya berbagai hambatan untuk meningkatkan manfaat koperasi bagi anggotanya. Hal
ini antara lain telah menyebabkan lambatnya koperasi meng-akar dalam masyarakat.
Sebagai gerakan ekonomi rakyat, koperasi masih harus meningkatkan kemampuannya
dalam menggerakkan dan menampung peran serta masyarakat secara luas. Oleh karena itu,
mewujudkan koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berakar kuat dalam
masyarakat juga merupakan tantangan pemba-ngunan koperasi dalam PJP II.

2. Kendala

Pengalaman pembangunan koperasi dalam PJP I telah memberikan petunjuk bahwa


untuk menjawab berbagai tantangan dalam PJP II, masih terdapat beberapa kendala
yang membutuhkan perha-tian dalam rangka menggariskan kebijaksanaan dan
menyusun program untuk mencapai sasaran yang dikehendaki. Kendala utama yang dihadapi,
yang juga merupakan kendala bagi dunia usaha pada umumnya, adalah tingkat kemampuan dan
profesionalisme sumber daya manusia koperasi yang umumnya belum memadai. Kendala ini
menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan koperasi dalam menjalankan fungsi dan
peranannya dan berakibat antara lain pada kurang efektif dan efisiennya orga-nisasi dan
manajemen koperasi. Hal ini tercermin pada pengelolaan koperasi dan tingkat partisipasi
anggota yang belum optimal. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan dan profesionalisme antara lain melalui berbagai pela¬tihan, hasilnya
masih jauh dari memadai. Berkaitan dengan kendala utama tersebut, terdapat pula kenda-la lain
yang lebih spesifik, yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembangunan koperasi.
Kendala tersebut adalah lemahnya struktur permodalan koperasi, rendahnya usaha
pemupukan permodalan dari anggota dan dari dalam koperasi, serta terbatasnya akses
koperasi ke sumber permodalan dari luar. Meskipun permodalan bukan faktor utama yang
menentukan keberhasilan koperasi, kelemahan permodalan ditambah dengan kendala lainnya
akan menghambat perkembangan dan pertumbuhan koperasi. Kendala penting lainnya adalah
terbatasnya penyebaran dan penyediaan teknologi secara nasional bagi koperasi, yang
berpengaruh antara lain pada rendahnya kemampuan koperasi untuk meningkatkan efisiensi
dan produktivitas usahanya, sehingga menyebabkan pula terbatasnya daya saing koperasi.
Mekanisme kelembagaan dan sistem koperasi yang seharusnya berpijak pada prinsip koperasi,
belum berjalan dengan baik. Hal ini antara lain disebabkan oleh kurangnya kesadaran anggota
akan hak dan kewajibannya, serta belum berfungsinya secara penuh meka-nisme
kerja antarpengurus dan antara pengurus dengan pengelola koperasi. Masih kurangnya
kepercayaan untuk saling bekerja sama, merupakan kendala pula bagi terwujudnya
kerja sama dan terben-tuknya jaringan usaha antara koperasi dengan pelaku ekonomi
lainnya. Kurang memadainya prasarana dan sarana yang tersedia di wilayah tertentu,
terutama kelembagaan keuangan baik bank rnaupun bukan bank, produksi dan pemasaran,
khususnya di daerah tertinggal, turut pula menjadi kendala bagi pengembangan koperasi di
daerah tersebut. Kurang efektifnya koordinasi dan sinkronisasi dalam pelaksanaan program
pembinaan koperasi antarsektor dan antardaerah merupakan kendala pula bagi pembangunan
koperasi. Kendala lainnya adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang
koperasi, serta kurangnya kepedulian dan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi, yang
tercermin dari masih rendahnya peran serta dan dukungan masyarakat dalam pem¬bangunan
koperasi.

3. Peluang

Selaras dengan perkembangan pembangunan yang dinamis dan pertumbuhan ekonomi, dalam
Repelita VI terbuka berbagai pelu¬-ang usaha yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan
koperasi. Pembangunan nasional dalam PJP II khususnya Repelita VI yang mendahulukan aspek
pemerataan akan membuka peluang yang lebih besar bagi pembangunan koperasi. Undang-
Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian sebagai landasan hukum baru, juga
memberikan peluang yang diharapkan akan mampu mendorong koperasi agar dapat tumbuh dan
berkembang menjadi lebih kuat dan mandiri. Koperasi primer yang berskala kecil
agar berhimpun dalam koperasi sekunder secara lebih mantap sehingga lebih terkonsolidasi
menjadi kekuatan ekonomi yang besar dan tangguh serta mampu memanfaatkan
peluang keterbukaan perekonomian Indonesia terhadap perekonomian dunia.

Selain itu, terdapat juga berbagai peluang lainnya dalam pembangunan koperasi dalam Repelita
VI, di antaranya adalah kemauan politik yang kuat dari Pemerintah dan berkembangnya tuntutan
masyarakat untuk lebih membangun koperasi dalam rangka mewujudkan demokrasi
ekonomi yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
sebagai hasil pembangunan yang berkelanjutan sejak PJP I juga akan menciptakan
peluang bagi berkembangnya usaha koperasi di masa depan.

Sementara itu, makin terbukanya perekonomian dunia turut pula menciptakan berbagai peluang
baru bagi koperasi, di antara-nya adalah makin terbukanya pasar internasional bagi hasil produk-
si koperasi Indonesia, serta makin terbukanya kesempatan kerja sama internasional antargerakan

koperasi di berbagai bidang. Perubahan struktur perekonomian nasional menciptakan


peluang untuk lebih berkembangnya koperasi di perdesaan/KUD yang berusaha di
bidang agrobisnis, agroindustri, dan industri perdesaan lainnya. Sementara itu, Undang-
Undang No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman akan mendorong diversi-fikasi
usaha koperasi sesuai dengan kepentingan masyarakat se-tempat.

Dalam PJP II tuntutan terhadap perlindungan dan jaminan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi
tenaga kerja, yang telah mulai dirasakan pada saat ini, diperkirakan akan semakin mening-kat. Di
samping itu, diperkirakan pula terjadi pertumbuhan yang pesat di sektor industri
yang akan meningkatkan jumlah dan jenis perusahaan. Keadaan ini menciptakan peluang bagi
tumbuhnya koperasi karyawan baru. Berbagai tantangan, kendala, dan peluang tersebut
akan mempengaruhi keberhasilan pembangunan koperasi dalam PJP II. Untuk
menjawab berbagai tantangan, dan mengatasi kendala terse-but serta memanfaatkan peluang
yang tersedia, disusun berbagai kebijaksanaan dan program dalam rangka pencapaian
sasaran pembangunan koperasi dalam PJP II, khususnya Repelita VI.