Anda di halaman 1dari 19

KECEPATAN REAKSI

UNMAS DENPASAR
OLEH

1. I MADE YANA PRIYATNA (1706122010052)


2. PUTU DEVITHA KUSUMA DEWI (1706122010054)
3. KADEK AYU DIAH UDIYANI (1706122010056)
4. PANNANDHIKA GOTAMA (1706122010051)
5. LUH PUTU KHARISMA YANI (1706122010048)
6. I MADE RESTA WIGUNA ARTHA (1706122010049)
7. NI PUTRI AYU VINANDHA (1706122010050)
8. NI PUTU OPPIE YUNITA DEWI (1706122010053)
9. PUTU DIAH VITALOKA (1706122010055)
10. AGNESIA LORENZA (1706122010057)
11. KOMANG AVIDHA SANATHA D (1706122010058)
12. NI PUTU TANIA NADYANTI T (1706122010059)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
2017/2018
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat, rahmat
dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “KECEPATAN REAKSI” ini untuk
memenuhi tugas mata kuliah Kimia Dasar.
Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu menyusun
makalah ini sehingga dapat selesai pada waktunya.
Makalah ini telah kami susun semaksimal mungkin, apabila terdapat kesalahan dalam
penulisan, kami mohon maaf.
Demikian makalah ini kami susun semoga bermanfaat bagi kami, dan para pembaca.
Kami sangat mengharapkan kritik dan saran agar dapat meningkatkan kualitas pembuatan
makalah kami di lain waktu.

Denpasar, 8 September 2017

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN MUKA.............................................................................................................i
KATA PENGANTAR..........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan.....................................................................................................................2
BAB II LANDASAN TEORI.............................................................................................3
BAB III PEMBAHASAN
A. Pengertian Laju Reaksi..........................................................................................4
B. Hubungan Waktu Paruh dengan Kecepatan Reaksi ..............................................6
C. Pengaruh Suhu dengan Kecepatan Reaksi.............................................................8
D. Pengaruh Katalisator Terhadap Kecepatan Reaksi..............................................10
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan..........................................................................................................14
B. Saran ....................................................................................................................15

Daftar Pustaka....................................................................................................................16

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Laju reaksi kimia terlihat dari perubahan konsentrasi molekul reaktan atau
konsentrasi molekul produk terhadap waktu. Laju reaksi tidak tetap melainkan berubah terus
menerus seiring dengan perubahan konsentrasi.
Laju (atau kecepatan) menunjukkan sesuatu yang terjadi persatuan waktu. Laju reaksi
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu konsentrasi, suhu, luas permukaan, dan katalis.
Konsentrasi adalah banyaknya zat terlarut di dalam sejumlah pelarut. Semakin
banyak zat terlarut, maka akan semakin besar pula konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan
konsentrasi tinggi mengandung partikel yang lebih banyak, jika dibandingkan dengan larutan
dengan konsentrasi yang lebih rendah. Pada konsentrasi tinggi, memungkinkan tumbukan
yang terjadi akan lebih banyak, sehingga membuka peluang semakin banyak tumbukan
efektif yang menyebabkan laju reaksi menjadi lebih cepat. Akibatnya, hasil reaksi akan lebih
cepat terbentuk.
Suhu. Peningkatan suhu meningkatkan fraksi molekul yang memiliki energi melebihi
energi aktivasi. Frekuensi tumbukan meningkat dengan meningkatnya suhu, dan diharapkan
hal tersebut sebagai faktor untuk mempercepat suatu reaksi kimia.
Luas permukaan memiliki peranan yang penting dalam laju reaksi. Apabila semakin
kecil luas permukaan, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga
laju reaksi semakin lambat. Begitupun sebaliknya. Karakteristik kepingan yang direaksikan
juga turut berpengaruh, yaitu semakin halus atau kecil kepingan itu, maka semakin cepat
waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi.
Katalis ialah zat yang mengambil bagian dalam reaksi kimia dan mempercepatnya,
tetapi ia sendiri tidak mengalami perubahan kimia yang permanen. Jadi, katalis tidak muncul
dalam persamaan kimia secara keseluruhan, tetapi kehadirannya sangat mempengaruhi
hukum laju, memodifikasi, dan mempercepat lintasan yang ada, atau lazimnya, membuat

1
lintasan yang sama sekali baru bagi kelangsungan reaksi. Katalis menimbulkan efek yang
nyata pada laju reaksi, meskipun dengan jumlah yang sangat sedkit.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai arti dari kecepatan reaksi, hubungan
waktu paruh dengan kecepatan reaksi, pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi dan
pengaruh katalisator dengan kecepatan reaksi.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang mendasari pembuatan makalah ini adalah
1. Apa itu kecepatan reaksi ?
2. Bagaimana hubungan waktu paruh dengan kecepatan reaksi ?
3. Bagaimana pengaruh suhu dengan kecepatan reaksi ?
4. Bagaimana pengaruh katalisator dengan kecepatan reaksi ?

C. TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui pengertian kecepatan reaksi
2. Untuk mengetahui hubungan waktu paruh dengan kecepatan reaksi
3. Untuk mengetahui pengaruh suhu dengan kecepatan reaksi dengan benar
4. Untuk mengetahui pengaruh katalisator dengan kecepatan reaksi dengan benar

BAB II
LANDASAN TEORI

2
Laju reaksi kimia terlihat dari perubahan konsentrasi molekul reaktan atau konsentrasi
molekul produk terhadap waktu. Laju reaksi tidak tetap melainkan berubah terus menerus seiring
dengan perubahan konsentrasi. (Chang, 2005)

Laju (atau kecepatan) menunjukkan sesuatu yang terjadi persatuan waktu. (Petrucci,
1987) Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu konsentrasi, suhu, luas permukaan, dan
katalis.

Konsentrasi adalah banyaknya zat terlarut di dalam sejumlah pelarut. Semakin banyak
zat terlarut, maka akan semakin besar pula konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi
tinggi mengandung partikel yang lebih banyak, jika dibandingkan dengan larutan dengan
konsentrasi yang lebih rendah. Pada konsentrasi tinggi, memungkinkan tumbukan yang terjadi
akan lebih banyak, sehingga membuka peluang semakin banyak tumbukan efektif yang
menyebabkan laju reaksi menjadi lebih cepat. Akibatnya, hasil reaksi akan lebih cepat terbentuk.

Peningkatan suhu meningkatkan fraksi molekul yang memiliki energi melebihi energi
aktivasi. Frekuensi tumbukan meningkat dengan meningkatnya suhu, dan diharapkan hal tersebut
sebagai faktor untuk mempercepat suatu reaksi kimia. (Petrucci, 1987)

Luas permukaan memiliki peranan yang penting dalam laju reaksi. Apabila semakin
kecil luas permukaan, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju
reaksi semakin lambat. Begitupun sebaliknya. Karakteristik kepingan yang direaksikan juga turut
berpengaruh, yaitu semakin halus atau kecil kepingan itu, maka semakin cepat waktu yang
dibutuhkan untuk bereaksi.

Katalis adalah zat yang mengambil bagian dalam reaksi kimia dan mempercepatnya,
tetapi ia sendiri tidak mengalami perubahan kimia yang permanen. Jadi, katalis tidak muncul
dalam persamaan kimia secara keseluruhan, tetapi kehadirannya sangat mempengaruhi hukum
laju, memodifikasi, dan mempercepat lintasan yang ada, atau lazimnya, membuat lintasan yang
sama sekali baru bagi kelangsungan reaksi. Katalis menimbulkan efek yang nyata pada laju
reaksi, meskipun dengan jumlah yang sangat sedkit. (Oxtoby, 2001)

BAB III

3
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN LAJU REAKSI

Kinetika Kimia (Chemical Kinetics) adalah salah satu cabang ilmu kimia yang
mengkaji mengenai seberapa cepat suatu reaksi kimia berlangsung. Dari berbagai jenis reaksi
kimia yang telah dipelajari para ilmuwan, ada yang berlangsung dalam waktu yang sangat
singkat (reaksi berlangsung cepat), seperti reaksi pembakaran gas metana. Di sisi lain, ada
pula reaksi yang berlangsung dalam waktu yang lama (reaksi berlangsung lambat), seperti
reaksi perkaratan (korosi) besi. Cepat lambatnya suatu reaksi kimia dapat dinyatakan dalam
besaran laju reaksi.

Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi reaktan atau produk per
satuan waktu. Satuan laju reaksi adalah M/s (Molar per detik). Sebagaimana yang kita
ketahui, reaksi kimia berlangsung dari arah reaktan menuju produk. Ini berarti, selama reaksi
kimia berlangsung, reaktan digunakan (dikonsumsi) bersamaan dengan pembentukan
sejumlah produk. Dengan demikian, laju reaksi dapat dikaji dari sisi pengurangan
konsentrasi reaktan maupun peningkatan konsentrasi produk.

Secara umum, laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan sederhana berikut :

A ———> B

laju reaksi = – ∆ [A] / ∆ t atau laju reaksi = + ∆ [B] / ∆ *t

4
Tanda – (negatif) menunjukkan pengurangan konsentrasi reaktan
Tanda + (positif) menunjukkan peningkatan konsentrasi produk

Laju reaksi berhubungan erat dengan koefisien reaksi. Untuk reaksi kimia dengan
koefisien reaksi yang bervariasi, laju reaksi harus disesuaikan dengan koefisien reaksi
masing-masing spesi. Sebagai contoh dalam reaksi :
2A ———> B
Terlihat bahwa dua mol A dikonsumsi untuk menghasilkan satu mol B. Hal ini menandakan
bahwa laju konsumsi spesi A adalah dua kali laju pembentukan spesi B. Dengan demikian,
laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
Laju reaksi = – 1 ∆ [A] / 2.∆ t atau laju reaksi = + ∆ [B] / ∆ t

Secara umum, untuk reaksi kimia dengan persamaan reaksi di bawah ini :
aA + bB ——> cC +dD
laju reaksi masing-masing spesi adalah sebagai berikut :

laju reaksi = – 1 ∆ [A] / a.∆ t = – 1 ∆ [B] / b.∆ t = + 1 ∆ [C] / c.∆ t = + 1 ∆ [D] / d.∆ t

Laju suatu reaksi kimia sangat dipengaruhi oleh besarnya konsentrasi reaktan yang
digunakan dalam reaksi. Semakin besar konsentrasi reaktan yang digunakan, laju reaksi akan
meningkat. Di samping itu, laju reaksi juga dipengaruhi oleh nilai konstanta laju reaksi (k).
Konstanta laju reaksi (k) adalah perbandingan antara laju reaksi dengan konsentrasi
reaktan. Nilai k akan semakin besar jika reaksi berlangsung cepat, walaupun dengan
konsentrasi reaktan dalam jumlah kecil. Nilai k hanya dapat diperoleh melalui analisis data
eksperimen, tidak berdasarkan stoikiometri maupun koefisien reaksi.

Hukum laju reaksi (The Rate Law) menunjukkan korelasi antara laju reaksi (v)
terhadap konstanta laju reaksi (k) dan konsentrasi reaktan yang dipangkatkan dengan
bilangan tertentu (orde reaksi).

5
Hukum laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :

aA + bB ———> cC + dD
v = k [A]x [B]y

x dan y adalah bilangan perpangkatan (orde reaksi) yang hanya dapat ditentukan
melalui eksperimen. Nilai x maupun y tidak sama dengan koefisien reaksi a dan b.
Bilangan perpangkatan x dan y memperlihatkan pengaruh konsentrasi reaktan A dan
B terhadap laju reaksi. Orde total (orde keseluruhan) atau tingkat reaksi adalah jumlah
orde reaksi reaktan secara keseluruhan. Dalam hal ini, orde total adalah x + y.

B. Hubungan Waktu Paruh dengan Kecepatan Keaksi

Waktu paruh adalah yang dibutuhkan untuk meluruh/hilangnya zat, menjadi


separuhnya. Hukum laju reaksi dapat digunakan untuk menghitung laju suatu reaksi melalui
data konstanta laju reaksi dan konsentrasi reaktan. Hukum laju reaksi juga dapat digunakan
untuk menentukan konsentrasi reaktan setiap saat selama reaksi kimia berlangsung. Kita akan
mempelajari laju reaksi dengan orde reaksi satu, dua, dan nol.

1. Reaksi Orde Satu


Reaksi dengan orde satu adalah reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi
reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan satu. Secara umum, reaksi dengan orde satu
dapat diwakili oleh persamaan reaksi berikut :
A ——-> Produk

Laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan : v = – ∆ [A]/∆ t


Laju reaksi juga dapat dinyatakan dalam persamaan : v = k [A]
Satuan k dapat diperoleh dari persamaan : k = v/[A] = M.s-1/M = s-1 atau 1/s
Dengan menggabungkan kedua persamaan laju reaksi : – ∆[A]/∆ t = k [A]
[A]0 = konsentrasi saat t = 0 (konsentrasi awal sebelum reaksi)
[A]t = konsentrasi saat t = t (konsentrasi setelah reaksi berlangsung selama t detik)

2. Reaksi Orde Dua


6
Reaksi dengan orde dua adalah reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi
satu reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan dua atau konsentrasi dua reaktan
berbeda yang masing-masing dipangkatkan dengan bilangan satu. Kita hanya akan
membahas tipe satu reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan dua. Persamaan reaksi
yang terjadi adalah sebagai berikut :
A ——-> Produk

Laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan : v = – ∆ [A]/∆ t


Laju reaksi juga dapat dinyatakan dalam persamaan : v = k [A]2
Satuan k dapat diperoleh dari persamaan : k = v / [A]2 = M.s-1/M2 = s-1/M atau 1/M.s
Dengan menggabungkan kedua persamaan laju reaksi : – ∆[A]/∆ t = k [A]2

3. Reaksi Orde Nol


Reaksi dengan orde nol adalah reaksi dimana laju tidak bergantung pada
konsentrasi reaktan. Penambahan maupun mengurangan konsentrasi reaktan tidak
mengubah laju reaksi. Persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
A ——> Produk

Laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan : v = – ∆ [A]/∆ t


Laju reaksi juga dapat dinyatakan dalam persamaan : v = k [A]0 atau v = k
Satuan k dapat diperoleh dari persamaan : k = v / [A]0 = v = M.s-1 atau M / s
Dengan menggabungkan kedua persamaan laju reaksi : – ∆[A]/∆ t = k [A]0
Dengan menggabungkan kedua persamaan laju reaksi : – ∆[A]/∆ t = k

Selama reaksi kimia berlangsung, konsentrasi reaktan berkurang seiring


peningkatan waktu reaksi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk membedakan
reaksi orde nol, orde satu, dan orde dua adalah melalui waktu paruh. Waktu paruh (t1/2)
adalah waktu yang dibutuhkan agar konsentrasi reaktan menjadi setengah dari
konsentrasi semula.

C. Pengaruh Suhu dengan Kecepatan Reaksi

7
Suhu dapat mempengaruhi laju reaksi, apabila suhu dinaikkan dari suhu awal maka
laju reaksi semakin besar. Hal ini disebabkan karena dengan menaikkan suhu reaksi akan
meningkatkan energi kinetik dari partikel zat rektan yang bertumbukan sehingga
menghasilkan zat produk yang makin besar, berarti laju reaksi makin besar.
Dapat juga dikatakan bahwa menaikkan suhu reaksi sama dengan meningkatkan
fraksi partikel yang memiliki energi melebihi energi aktivasi.
Ada kecenderungan bahwa pada suhu yang lebih tinggi, reaksi kimia berlangsung
lebih cepat. Dengan menggunakan teori tumbukan dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi
suhu, maka molekul-molekul yang mencapai energi aktivasi makin banyak. Energi aktivasi
bergantung pada jenis reaksi. Reaksi yang dapat berlangsung pada suhu rendah memiliki
energi aktivasi rendah. Demikian sebaliknya.
Suatu gas yang berada pada suhu rendah, molekul-molekulnya memiliki energi
kinetik lebih kecil daripada energi aktivasi. Sedangkan gas yang berada dalam suhu lebih
tinggi, molekul-molekulnya memiliki energi kinetik lebih besar daripada energi aktivasi.
Jadi, pada suhu yang tinggi, laju reaksi akan menjadi lebih besar.
Banyak reaksi berlangsung dua kali lebih cepat jika suhu dinaikkan 10 oC. Hal ini
menunjukkan bahwa jumlah molekul pereaksi yang mempunyai energi aktivasi menjadi dua
kali lebih banyak pada kenaikan suhu 10oC.
Reaksi kimia dapat terjadi jika energi minimal untuk bereaksi dipenuhi oleh zat-zat
yang akan bereaksi. Dalam sebuah reaksi kimia yang terjadi dalam wadah misalnya, setiap
molekul perekasi akan selalu bergerak ke segala arah. Gerakan ini memungkinkan terjadinya
interaksi antara molekul molekul perekasi. Interaksi ini dapat berupa tumbukan. Tumbukan
yang memiliki energi yang cukup akan membuat molekul molekul pereaksi saling berekasi.
Energi ini disebut energi aktivasi. Semakin banyak terjadi tumbukan, maka laju reaksi akan
semakin cepat.
Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi diantaranya. Suhu adalah bentuk energi
yang dapat diserap oleh masing-masing molekul perekasi. Ketika suhu zat zat yang akan
bereaksi ditingkatkan, maka energi partikel akan semakin besar. Energi ini digunakan oleh
molekul molekul pereaksi untuk bergerak lebih cepat. Jadi, adanya kenaikan suhu akan
mengakibatkan gerakan molekul pereaksi menjadi lebih cepat. Bayangkan saja dua mobil
yang melaju cepat pada kondisi lalu lintas yang ramai, maka resiko tabrakan yang terjadi

8
akan semakin besar. Tabrakkan yang terjadi juga akan menghancurkan kedua mobil karena
laju mereka yang cepat.
Hal ini juga berlaku pada molekul pereaksi. Peningkatan suhu akan mengakibatkan
energy kinetik partikel meningkat, akibatnya pergerakan molekul akan semakin cepat.
Gerakan molekul yang semakin cepat juga akan meningkatkan jumlah tumbukan yang terjadi
antar partikel. Jika terjadi tumbukan, maka energi tumbukan akan cukup besar untuk
memungkinkan terjadinya reaksi antara kedua molekul. Artinya tumbukan efektif akan
semakin banyak terjadi. Hal ini tentu akan mengakibatkan reaksi akan berlangsung lebih
cepat.
“Suhu tinggi = energy kinetic partikel meningkat = semakin banyak tumbukan efektif
yang terjadi antar partikel = laju reaksi meningkat”

Pada umumnya, setiap kenaikan suhu 100C, maka laju reaksi akan menjadi dua
kali lebih cepat. Dengan menggunakan hubungan ini, jika laju awal reaksi pada suhu
tertentu diketahui, maka kita dapat meramalkan berapa besar laju reaksi lain jika suhunya
ditingkatkan.

Rumusan :

Atau jika yang diketahui adalah waktu tempuh reaksi, kita dapat menggunakan rumus :

Keterangan :
V1 = laju reaksi awal (pada duhu T1)
V2 = laju reaksi akhir (pada suhu T2)
t1 = waktu reaksi awal (pada suhu T1)
t2 = waktu reaksi akhir (pada suhu T2)
n = kenaikan laju reaksi
∆T = Perubahan suhu = T2 – T1

9
Harga n terantung berapa kali kenaikan laju reaksinya. Jika pada soal tertulis dua kali
semula, maka harga n = 2, jika tiga kali semula maka harga n = 3, dan begitu seterusnya. Angka
10 pada pembagi perubahan suhu juga tergantung pada soal. Misalnya jika setiap kenaikan 10
derajat, maka angka 10 kita pakai. Tetapi jika dalam soal tertulis setiap kenaikan 20 derajat,
maka angka 20 yang kita pakai. Dan begitu seterusnya.

D. Pengaruh Katalisator Terhadap Kecepatan Keaksi

Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar
kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami perubahan
kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan
jumlah yang sama seperti sebelum reaksi. Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya
(mempercepat reaksi) dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-
tahap reaksi yang baru. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat
berlangsung lebih cepat.
Katalis merupakan zat yang dapat mempercepat laju reaksi tanpa mengalami
perubahan kimia secara permanen, sehingga di akhir reaksi zat tersebut dapat diperoleh
kembali. Pernyataan bahwa katalis tidak ikut bereaksi sebenarnya kurang tepat karena pada
kenyataannya katalis ikut serta dalam proses reaksi tetapi tidak mempengaruhi hasil
akhirnya.
Jadi, penting untuk diingat bahwa katalis berperan meningkatkan laju reaksi tetapi
pada akhir reaksi katalis tetap seperti keadaan awalnya. Karena itulah katalis seakan-akan
tidak ikut bereaksi. Proses menaikkan laju reaksi dengan cara menambahkan katalis disebut
proses katalisis. Berdasarkan fasenya, katalis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu katalis
homogen dan katalis heterogen.

1. Katalis Homogen
Katalis homogen adalah katalis yang satu fase dengan zat yang dikatalisis. Katalis
homogen sering disebut sebagai pembentuk senyawa antara. Katalis homogen umumnya
bereaksi dengan satu atau lebih pereaksi untuk membentuk suatu perantara kimia yang
bereaksi dan membentuk produk akhir, dalam suatu proses yang memulihkan katalis itu
sendiri.

10
2. Katalis Heterogen

Katalis heterogen adalah katalis yang tidak satu fase dengan zat-zat reaktan.
Katalis tersebut memiliki fase yang berbeda dengan zat pereaksi dalam reaksi yang
dikatalisis. Katalis heterogen biasanya digunakan biasanya digunakan pada suhu dan
tekanan yang tinggi. Katalis ini umumnya berupa zat padat yang terdiri dari logam dan
oksida logam.

Berdasarkan cara bereaksinya katalis dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Katalis Aktif

Katalis aktif merupakan katalis yang ikut terlibat langsung dalam reaksi dan pada
akhir reaksi katalis tersebut terbentuk kembali seperti awalnya.

2. Katalis pasif

Katalis pasif merupakan katalis yang tidak terlibat langsung dalam reaksi
melainkan hanya sebagai media reaksi saja dan akan tetap terbentuk pada akhir reaksi.

Katalis dapat menurunkan energi aktivasi sistem tetapi tidak mengubah energi asli
dari suatu reaktan atau produk. Karena itulah reaksi dapat berlangsung meskipun energi asli
suatu reaktan tidak melampaui energi aktivasinya. Reaksi dapat berlangsung karena energi
aktivasi turun akibat penambahan katalis sehingga energi asli reaktan lebih besar daripada
energi aktivasi.
Dengan kata lain, pengaruh katalis terhadap laju reaksi terletak pada perannya dalam
mengurangi energi aktivasi. Katalis dapat memperkecil energi aktivasi sehingga banyak
partikel yang memiliki energi kinetik lebih besar daripada energi aktivasi dan reaksipun
berlangsung lebih cepat.
Katalis memungkinkan berlangsungnya reaksi dengan lebih cepat dan pada suhu yang
relatif rendah karena katalis memicu perubahan terhadap pereaksi. Katalis menyediakan
suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah sehingga dengan pasokan energi
yang rendah, reaksi tetap dapat berlangsung lebih cepat.

11
Prinsip kerja katalis ialah dengan cara membentuk senyawa antara atau mengabsorpsi
zat yang direaksikan. Dengan cara tersebut, katalis dapat meningkatkan laju reaksi tanpa
mengalami perubahan kimia secara permanen. Untuk itu, katalis menempel pada bagian
substrat tertentu dan pada akhirnya dapat menurunkan energi pengaktifan dari reaksi,
sehingga reaksi berlangsung dengan cepat.
Berikut grafik perbandingan antara reaksi yang menggunakan katalis dengan reaksi
yang tidak menggunakan katalis.

Pada gambar di atas jelas terlihat bahwa proses reaksi pada reaksi yang menggunakan
katalis menjadi berbeda dengan reaksi yang tidak menggunakan katalis. Energi aktivasi pada
reaksi yang menggunakan enzim juga lebih rendah.

Dengan demikian dapat kita simpulkan satu konsep penting yang dapat menerangkan
pengaruh katalis terhadap laju reaksi yaitu katalis menurunkan energi aktivasi suatu reaksi
dengan cara membentuk tahap-tahap reaksi yang baru.

Berikut ini merupakan skema umum reaksi katalitik, di mana C melambangkan katalisnya:

A + C → AC (1)
B + AC → AB + C (2)

Meskipun katalis (C) termakan oleh reaksi 1, namun selanjutnya dihasilkan kembali oleh
reaksi 2, sehingga untuk reaksi keseluruhannya menjadi :

12
A + B + C → AB + C

Pengaruh Katalisator Terhadap Laju Reaksi adalah Peningkatan produk hasil reaksi
yang dilakukan melalui peningkatan temperatur, kadang- kadang tidak efektif, karena
mungkin saja hasil yang diharapkan tidak stabil pada temperatur tinggi. Beberapa penemuan
pada awal abad 19 menunjukkan ada sejumlah reaksi yang kecepatan reaksinya dipengaruhi
oleh adanya substansi yang tidak mengalami perubahan sampai akhir proses, contohnya
konversi pati menjadi gula yang dipengaruhi oleh asam atau dekomposisi amoniak dan
alkohol dengan adanya logam platinum substansi tersebut oleh Berzelius (1836) disebut
sebagai katalisator.
Oswald (1902) mendefinisikan katalis sebagai suatu substansi yang mengubah Iaju
suatu reaksi kimia tanpa terdapat sebagai produk akhir reaksi. Walaupun menurut definisi
jumlah katalisator tidak berubah pada akhir reaksi, tetapi tidak berlaku anggapan bahwa
katalisator tidak mengawali jalannya reaksi selama reaksi berlangsung. Katalisator akan
mengawali penggabungan senyawa kimia, akan terbentuk suatu kompleks antara substansi
tersebut dengan katalisator. Kompleksnya yang terbentuk hanya merupakan bentuk hasil
antara yang akan terurai kembali menjadi prodük reaksi dan molekül katalisator.
Katalisator tidak mengalami perubahan pada akhir reaksi, karena itü tidak
memberikan energi ke dalam sistem, tetapi katalis akan memberikan mekanisme reaksi
alternatif dengan energi pengaktifan yang lebih rendah dibandingkan dengan reaksi tanpa
katalis, sehingga adanya katalis akan meningkatkan laju reaksi.

BAB IV

PENUTUP

13
A. Kesimpulan

Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi reaktan atau produk per
satuan waktu. Satuan laju reaksi adalah M/s (Molar per detik). Laju suatu reaksi kimia sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

1. Konsentrasi reaktan atau produk

Semakin besar konsentrasi reaktan yang digunakan, laju reaksi akan meningkat. Di
samping itu, laju reaksi juga dipengaruhi oleh nilai konstanta laju reaksi (k). Hal ini
menyebabkan adanya Hukum laju reaksi (The Rate Law) yang menunjukkan korelasi
antara laju reaksi (v) terhadap konstanta laju reaksi (k) dan konsentrasi reaktan yang
dipangkatkan dengan bilangan tertentu (orde reaksi).

Hukum laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :

aA + bB ———> cC + dD
v = k [A]x [B]y

2. Waktu Paruh
Waktu paruh adalah yang dibutuhkan untuk meluruh/hilangnya zat, menjadi
separuhnya. Hukum laju reaksi dapat digunakan untuk menghitung laju suatu reaksi melalui
data konstanta laju reaksi dan konsentrasi reaktan. Hukum laju reaksi juga dapat digunakan
untuk menentukan konsentrasi reaktan setiap saat selama reaksi kimia berlangsung.

3. Suhu

Suhu dapat mempengaruhi laju reaksi, apabila suhu dinaikkan dari suhu awal maka
laju reaksi semakin besar. Dapat juga dikatakan bahwa menaikkan suhu reaksi sama dengan
meningkatkan fraksi partikel yang memiliki energi melebihi energi aktivasi. Banyak reaksi
berlangsung dua kali lebih cepat jika suhu dinaikkan 10oC.

4. Katalisator

14
Katalis merupakan zat yang dapat mempercepat laju reaksi tanpa mengalami
perubahan kimia secara permanen, sehingga di akhir reaksi zat tersebut dapat diperoleh
kembali. Pernyataan bahwa katalis tidak ikut bereaksi sebenarnya kurang tepat karena pada
kenyataannya katalis ikut serta dalam proses reaksi tetapi tidak mempengaruhi hasil
akhirnya. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi terletak pada perannya dalam mengurangi
energi aktivasi. Katalis dapat memperkecil energi aktivasi sehingga banyak partikel yang
memiliki energi kinetik lebih besar daripada energi aktivasi dan reaksi pun berlangsung lebih
cepat.

B. Saran
Melalui makalah ini penulis memberikan kritik beserta saran kepada pembaca
makalah ini yaitu sebagai berikut :
1. Makalah ini sebagai bahan untuk mengetahui dan memperluas pengetahuan
mengenai pengertian serta manfaat laju reaksi bagi kehidupan sehari- hari.
2. Penyusunan makalah ini masih perlu dilakukan perbaikan secara akurat agar
hasilnya lebih sempurna, maka kami meminta kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna lebih sempurnanya makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://kimdaslajureaksi.blogspot.co.id/2015/11/laju-reaksi.html

15
http://opensource.telkomspeedy.com/repo/abba/v12/sponsor/Sponsor-
Pendamping/Praweda/Kimia/0177%20Kim%201-5e.htm

http://imc.kimia.undip.ac.id/mata-kuliah/kimia-dasar-ii/bab-4-kinetika-reaksi-kimia/

16