Anda di halaman 1dari 5

1

GAMBARAN FAKTOR MAKANAN DAN AKTIVITAS PADA


PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
TEMBUKU I TAHUN 2017

Oleh :

I Gede Mahardika (1202006179)


Putu Ayu Paramitha Saraswaty (1202006192)
Thivyaroobini Ramah (1302006228)

Pembimbing :
Dr. Komang Ayu Kartika Sari, MPH

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS/ILMU KEDOKTERAN


PENCEGAHAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi dikatakan masih menjadi masalah kesehatan yang serius secara global.
Selain angka prevalensi yang tinggi dan semakin hari kejadiannya semakin meningkat,
hipertensi menjadi penyebab kematian tersering di dunia. Hipertensi disebut juga
sebagai silent killer atau pembunuh secara terselubung yang asimtomatik atau tidak
menimbulkan gejala seperti penyakit-penyakit lain. Pada umumnya, hampir seluruh
penderita di dunia tidak mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi atau tekananan
darah tinggi oleh karena sering secara kebetulan diketahui oleh dokter saat pemeriksaan
penyakit lain (WHO, 2013). Hipertensi merupakan faktor risiko dari penyakit
kardiovaskuler dan kejadian stroke akibat dari faktor-faktor yang berkontribusi
(IFPMA, 2016).
Hampir seluruh negara di dunia, hipertensi menempati peringkat pertama sebagai
penyakit yang sering ditemukan. Hipertensi(tekanan darah tinggi) didefinisikan
sebagai peningkatan tekanan darah dalam arteri dimana tekanan darah persisten di atas
nilai normal yaitu, tekanan darah sistolik sama dengan atau diatas 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik sama dengan atau diatas 90 mmHg (SHEPS, 2005). Tekanan
sistolik pada saat jantung kuat berkontraksi sedangkan tekanan diastolik pada saat
jantung lemah berkontraksi (IFPMA, 2016). Angka proportional mortality rate di
seluruh dunia akibat hipertensi setiap tahunnya mencapai 13% atau 8 juta kematian
(Mahmood SE, dkk, 2013).
Menurut World Health Association (2013), sekitar satu milyar orang di dunia
menderita hipertensi dan dua pertiga diantaranya ditemukan di negara berkembang
yang penghasilannya rendah hingga sedang. Prevalensi hipertensi kemungkinan setiap
tahun akan terus meningkat dan diperikirakan pada tahun 2015 sebanyak 29% orang
dewasa diseluruh dunia menderita hipertensi, sedangkan di Indonesia angkanya
mencapai 31,7%. Pada tahun 2012, berdasarkan statistik kesehatan dunia menyebutkan
bahwa satu dari tiga orang dewasa di setiap negara menderita hipertensi (Depkes RI,
2006). Angka kejadian hipertensi cenderung meningkat, dari sekitar 600 juta orang di
tahun 1980 menjadi 1 milyar orang yang menderita hipertensi pada tahun 2008 (WHO,
2013).
3

Di Indonesia, berdasarkan Riskesdas 2013 terdapat 25,8% penduduk Indonesia


menderita penyakit hipertensi. Bila dihitung jika saat ini penduduk Indonesia sebesar
252.124.458 jiwa maka terdapat 65.048.110 jiwa yang menderita hipertensi. Ini artinya
prevalensi hipertensi di Indonesia masih cukup tinggi. Prevalensi hipertensi pada
penduduk berumur 18 tahun ke atas di Indonesia tahun 2013berdasarkan diagnosis
tenaga kesehatan sebesar 9,4%, dan pengukuran tekanan darah sebesar 25,8%.
Berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan, prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi
Sulawesi Utara, sementara itu berdasarkan pengukuran, prevalensi tertinggi terdapat
pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 30,9%. Prevalensi terendah
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan maupun pengukuranterdapat pada Provinsi
Papua, yaitu sebesar 16,8%. Provinsi di Pulau Sulawesi dan Kalimantan merupakan
provinsi dengan prevalensi hipertensi cukup tinggi, selain penyakit jantung koroner,
gagal jantung dan stroke. Di Bali, prevalensi hipertensi berumur 18 tahun ke atas
sebesar 20,0% berdasarkan pengukuran dan 9,0% berdasarkan diagnosis tenaga medis.
Puskesmas Tembuku I merupakan salah satu puskesmas yang terletak di Bangli,
dengan laporan angka kejadian hipertensi yang cenderung meningkat di Bali.
Berdasarkan data kunjungan pada bulan Januari hingga Desember tahun 2016,
hipertensi termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Tembuku
I, yaitu menempati urutan ke lima dengan total jumlah kunjungan 584 kasus yang
berkunjung ke Puskesmas Tembuku I. Data yang diperoleh dari Puskesmas Tembuku I
merupakan data pasien yang mengunjungi puskesmas karena sudah mengalami
keluhan. Dengan jumlah pasien laki-laki sebanyak 241 orang dan perempuan 343
orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2015 berdasarkan data yang
tersedia di Puskesmas Tembuku I pada tahun 2015 dengan total jumlah kunjungan 292
kasus. Seperti yang diketahui hipertensi merupakan silent killer, sehingga terdapat
masyarakat yang sebenarnya menderita hipertensi akan tetapi tidak berkunjung ke
puskesmas karena belum mengalami keluhan. Hal tersebut mengakibatkan pihak
puskesmas kesulitan memiliki data lengkap kasus hipertensi di masyarakat.
Berbagai upaya pemerintah untuk menurunkan angka kejadian penyakit
hipertensi, salah satunya seperti meningkatkan deteksi awal dan manajemen kesehatan
yang efektif. Kegiatan identifikasi faktor risiko merupakan salah satu cara yang
diharapkan mampu mendeteksi kasus hipertensi secara efektif. Saat ini penyebab
hipertensi secara pasti masih belum diketahui dengan jelas. Terdapat banyak faktor
risiko penyebab hipertensi. Beberapa faktor resiko yang termasuk dalam faktor resiko
4

yang tidak dapat dikontrol seperti genetik, usia, jenis kelamin dan ras. Sedangkan
faktor resiko yang dapat dikontrol berhubungan dengan faktor linkungan berupa
perilaku atau gaya hidup seperti obesitas, kurang aktivitas, stress dan konsumsi
makanan. Konsumsi makanan yang memicu terjadinya hipertensi diantaranya adalah,
konsumsi makanan asin, konsumsi makanan manis, konsumsi makanan berlemak dan
konsumsi minuman berkafein yaitu kopi atau teh. Faktor makanan disini merupakan
salah satu faktor yang cenderung menyebabkan hipertensi. Penelitian Patricia dan Julia
(2016) melaporkan di Indonesia, memiliki hubungan bermakna antara faktor makanan
terutamanya makanan asin dengan kejadian hipertensi. Apabila jenis makanan tidak
dititikberatkan dalam pola makan seseorang, maka potensi untuk menderita hipertensi
berganda seiring dengan konsumsi makanan yang beresiko menyebabkan hipertensi.
Selain dari faktor makanan, faktor lain yang mempengaruhi kejadian hipertensi adalah
aktivitas fisik. WHO menyatakan bahwa gaya hidup yang terus-menerus dalam bekerja
merupakan salah satu dari sepuluh penyebab kematian dan kesakitan, dan lebih dari dua
juta kematian setiap tahun disebabkan akibat kurangnya bergerak/aktivitas fisik.
Berdasarkan hasil pengamatan singkat dari peneliti melalui wawancara langsung pada
penderita hipertensi beberapa mengatakan mempunyai riwayat perilaku makan yang
kurang sehat dan aktivitas fisik yang beragam di wilayah kerja Puskesmas Tembuku I.
Oleh karena itu, perlu melakukan studi eksplorasi untuk melihat faktor makanan dan
aktivitas pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tembuku I tahun 2017.

1.2 Rumusan Masalah


a) Bagaimana gambaran faktor makanan penderita hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Tembuku I tahun 2017?
b) Bagaimana gambaran aktivitas penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas
Tembuku I tahun 2017?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
5

Mengetahui gambaran faktor makanan dan aktivitas pada penderita hipertensi di


wilayah kerja Puskesmas Tembuku I tahun 2017.

1.3.2 Tujuan Khusus


(a) Mengetahui gambaran faktor makanan berdasarkan jenis makanan pada penderita
hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tembuku I tahun 2017.
(b) Mengetahui gambaran aktivitas berdasarkan derajat berat aktivitas penderita
hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tembuku I tahun 2017.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat untuk Instansi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi atau masukan mengenai
gambaran faktor makanan dan aktivitas fisik pada penderita hipertensi nantinya dapat
meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam upaya preventif untuk
mengendalikan faktor risiko demi menurukan angka kejadian hipertensi melalui
edukasi dan promosi kesehatan.

1.4.2 Manfaat untuk Peneliti


Diharapkan peneliti selanjutnya melakukan penelitian tentang faktor risiko yang
berhubungan dengan kejadian hipertensi dan/atau motivasi masyarakat terhadap
pengendalian faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi.