Anda di halaman 1dari 9

Tugas Rutin 2

NAMA :RIFKA E SIANTURI


NIM :5173311012
M.K :KONTRUKSI KAYU

KANDUNGAN KAYU DAN JENIS-JENIS KAYU

1.Kandungan Kayu
Komponen kimia kayu di dalam kayu mempunyai arti yang penting, karena menentukan
kegunaan sesuatu jenis kayu. Juga dengan mengetahuinya, kita dapat membedakan jenis-jenis
kayu. Susunan kimia kayu digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap serangan
makhluk perusak kayu. Selain itu dapat pula menentukan pengerjaan dan pengolahan kayu,
sehingga didapat hasil yang maksimal. Pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan kayu
daun jarum terdiri dari 3 unsur (Novianto, 2009) :
 Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa
 Unsur non- karbohidrat terdiri dari lignin
 Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat ekstraktif
(Novianto, 2009).
Distribusi komponen kimia tersebut dalam dinding sel kayu tidak merata. Kadar selulosa dan
hemiselulosa banyak terdapat dalam dinding sekunder. Sedangkan lignin banyak terdapat dalam
dinding primer dan lamella tengah. Zat ekstraktif terdapat di luar dinding sel kayu (Novianto,
2009).
Komponen penyusun dinding sel adalah komponen kimia yang menyatu dalam dinding
sel. Tersusun atas banyak komponen yang tergabung dalam karbohidrat dan lignin. Karbohidrat
yang telah terbebas dari lignin dan ekstraktif disebut holoselulosa. Holoselulosa sebagian besar
tersusun atas selulosa dan hemiselulosa. Selulosa merupakan komponen terbesar dan paling
bermanfaat dari kayu. Jumlah zat selulosa mayoritas 40 %, hemiselulosa sekitar 23% dan lignin
kurang dari 34 % (Batubara, 2002).
1. Selulosa
Selulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel tanaman dan hampir tidak
pernah ditemui dalam keadaan murni di alam melainkan berkaitan dengan lignin dan hemiselulosa
membentuk lignoselulosa (Lynd et al., 2002). Ditambahkan oleh Lee et al. (2009) yang
menerangkan bahwa Selulosa adalah polimer dari rantai unit α-D-1-4 anhidroglukosa (C6H12O6)n,
sebanyak 40-60 % yang terdapat dalam dinding sel pada tumbuhan berkayu. Beberapa ciri-ciri
dari struktur selulosa yang berdasarkan pada karakteristik kimia yang dimiliki adalah dapat
mengembang dalam air, berbentuk kristalin, adanya kelompok fungsional yang spesifik dan dapat
bereaksi dengan enzim selulolitik (Sierra et al., 2007).
Selulosa merupakan polimer glukosa dengan ikatan β -1,4 glukosida dalam rantai
lurus. Bangun dasar selulosa berupa suatu selobiosa yaitu dimer dari glukosa. Selulosa terdiri atas
15-14.000 unit molekul glukosa Rantai panjang selulosa terhubung secara bersama melalui ikatan
hidrogen dan gaya van der Waals (Coughlan, 1989). Panjang molekul selulosa ditentukan oleh
jumlah unit glukan di dalam polimer, disebut dengan derajat polimerisasi. Derajat polimerasi (DP)
selulosa tergantung pada jenis tanaman dan umumnya dalam kisaran 2.000-27.000 unit
glukan. Selulosa terdiri dari daerah kristalin dan daerah amorf (non- kristalin) yang membentuk
suatu struktur dengan kekuatan tegangan tinggi, yang pada umumnya tahan terhadap hidrolisis
enzimatik terutama pada daerah kristalin. Selulosa tidak larut dalam air dingin maupun air panas
serta asam panas dan alkali panas.
2. Lignin
Lignin adalah zat yang bersama-sama dengan selulosa adalah salah satu sel yang terdapat
dalam kayu. Lignin merupakan suatu makromolekul kompleks, suatu polimer aromatik alami
yang bercabang–cabang dan mempunyai struktur tiga dimensi yang terbuat dari fenil propanoid
yang saling terhubung dengan ikatan yang bervariasi. Lignin membentuk matriks yang
mengelilingi selulosa dan hemiselulosa, penyedia kekuatan pohon dan pelindung dari
biodegradasi. Lignin sangat resisten terhadap degradasi, baik secara biologi, enzimatis, maupun
kimia (Isroi, 2008a).
Menurut Batubara (2002) Lignin merupakan zat yang keras, lengket, kaku dan mudah
mengalami oksidasi. Ditambahkan pula oleh Ibrahim et al., (2005) dalam Misson et al., (2009)
yang mengemukakan bahwa Lignin merupakan rantai dengan karbon-karbon terikat dan ikatan
lainnya yang terdiri dari jaringan yang dihubungkan dengan polisakarida yang terdapat di dalam
dinding sel. Lignin banyak pada kelompok kayu daun jarum yaitu diatas 26 % sedangkan pada
kayu daun lebar biasanya kurang dari 26 %.
3. Hemiselulosa
Hemiselulosa mirip dengan selulosa yang merupakan polimer gula. Namun, berbeda
dengan selulosa yang hanya tersusun dari glukosa, hemiselulosa tersusun dari bermacam-macam
jenis gula. Monomer gula penyusun hemiselulosa terdiri dari monomer gula berkarbon 5 (C-5)
dan 6 (C-6), misalnya: xylosa, mannose, glukosa, galaktosa, arabinosa, dan sejumlah kecil
ramnosa, asam glukoroat, asam metal glukoronat, dan asam galaturonat. Xylosa adalah salah satu
gula C-5 dan merupakan gula terbanyak kedua di biosfer setelah glukosa. Kandungan
hemiselulosa di dalam biomassa lignoselulosa berkisar antara 11 % hingga 37 % (berat kering
biomassa).
Struktur hemiselulosa dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan komposisi rantai
utamanya yaitu (1) D- xilan yaitu 1-4β xilosa; (2) D- manan yaitu (1–4)β -D-mannosa; (3) D-
xiloglukan dan (4) D-galaktan yaitu 1-3β -D-galaktosa. Hemiselulosa mudah disubtitusi dengan
berbagai karbohidrat lain atau residu non karbohidrat. Karena berbagai rantai cabang yang tidak
seragam menyebabkan senyawa ini secara parsial larut air. Perbedaan selulosa dengan
hemiselulosa yaitu hemiselulosa mempunyai derajat polimerisasi rendah (50-200 unit) dan mudah
larut dalam alkali, tetapi sukar larut dalam asam, sedangkan selulosa sebaliknya (Isroi, 2008b).
Kandungan hemiselulosa di dalam biomassa lignoselulosa berkisar antara 11 % hinga 37 %
(berat kering tanur). Hemiselulosa lebih mudah dihidrolisis daripada selulosa, tetapi gula C-5
lebih sulit difermentasi menjadi etanol daripada gula C-6 (Isroi, 2008b).

4. Zat Ekstraktif
Zat ekstraktif terdiri dari berbagai jenis komponen senyawa organik seperti minyak yang
mudah menguap, terpen, asam lemak dan esternya, lilin, alkohol polihidrik, mono dan
polisakarida, alkaloid, dan komponen aromatik (asam, aldehid, alkohol, dimer fenilpropana,
stilbene, flavanoid, tannin dan quinon). Zat ekstraktif adalah komponen diluar dinding sel kayu
yang dapat dipisahkan dari dinding sel yang tidak larut menggunakan pelarut air atau organik
(Lewin dan Goldstein, 1991). Kayu teras secara khas mengandung zat ekstraktif jauh lebih banyak
dari pada kayu gubal. Kandungan zat ekstraktif dalam kayu biasanya kurang dari 10 % (SjÖstrÖm,
1995).
Kandungan dan komposisi zat ekstraktif berubah-ubah diantara spesies kayu, dan bahkan
terdapat juga variasi dalam satu spesies yang sama tergantung pada tapak geografi dan
musim. Sejumlah kayu mengandung senyawa-senyawa yang dapat diekstraksi yang bersifat racun
atau mencegah bakteri, jamur dan rayap. Selain itu zat ekstraktif juga dapat memberikan warna
dan bau pada kayu (Fengel dan Wegener, 1995).
5. Abu
Kayu juga mengandung komponen-komponen anorganik. Komponen ini diukur sebagai
kadar abu yang jumlahnya jarang melebihi 1% dari berat kering kayu. Abu ini berasal terutama
dari berbagai garam yang diendapkan dalam dinding sel dan lumen (Sjostrom, 1995). Fengel dan
Wegener (1995) menyatakan bahwa komponen abu utama dalam kayu adalah Ca (hingga 50%),
K dan Mg, yang diikuti oleh Mn, Na, P dan Cl. Selain itu juga masih terdapat unsur-unsur lain
yang disebut sebagai unsur runut dengan konsentrasi di dalam kayu tidak lebih dari 50
ppm. Mineral tidak hanya terikat dalam diding sel tetapi juga diendapkan dalam rongga sel
parenkim dan dalam serat libriform. Endapan mineral kebanyakan terdiri atas kalsium karbonat,
kalsium oksalat dan silikat yang mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Kristal yang muncul
dalam kayu setelah terserang oleh jamur atau bakteri disebabkan oleh hasil metabolik
mikroorganisme tersebut (Fengel dan Wegener, 1995).
Abu merupakan senyawa anorganik di dalam kayu yang dapat dianalisis dengan cara kayu
dibakar pada suhu 600-850°C. Komponen utama abu kayu adalah kalium, kalsium dan
magnesium maupun silikon dalam beberapa kayu tropika (Fengel dan Wegener, 1995). Diukur
sebagai abu yang jarang melebihi 1% dari berat kayu kering
2.Jenis-jenis Kayu

1.Kayu Jati
Jenis kayu jati ini sering terkenal karena kekuatannya yang tinggi dibanding dengan kayu lain
pada ummnya. Selain itu, kayu ini mempunyai serat dan tekstur yang indah, tahan terhadap rayap,
jamur, dan serangga. Tipe kayu ini lebih sering digunakan untuk pekerjaan furniture seperti pintu,
jendela, dan meja kursi. Kini masyarakat sudah yang banyak mengetahui dan menggunakan untuk
keperluan interior mebel. Adapun ciri-ciri kayu jati adalah sebagai berikut.

1. Memiliki kekuatan dan keawetan yang sangat baik


2. Berwarna coklat muda hingga coklat tua
3. Mudah dipotong – potong dan mudah diolah menjadi banyak produk
4. tidak mudah berubah bentuk akibat perubahan cuaca.
5. Memiliki bobot yang berat dan kokoh

Jenis-jenis kayu untuk konstruksi biasanya mempunyai harga yang dipengaruhi dari asal, ukuran
dan kriteria batasan kualitas kayu yang ditoleransi, seperti: ada mata sehat, ada mata mati, ada
doreng, ada putih. Penentuan kualitas jenis kayu jati yang diinginkan seharusnya
mempertimbangkan type aplikasi finishing yang dipilih. Selain melindungi kayu dari kondisi luar,
finishing pada kayu tersebut diharapkan dapat memberikan nilai estetika pada kayu tersebut
dengan menonjolkan kelebihan dan kekurangan kualitas kayu tersebut.
Jenis Kayu jati berasal dari pohon jati yang memiliki ukuran yang besar, yang bisa tumbuh hingga
ketinggian 30-40 meter. Jati merupakan jenis pohon yang memiliki daun yang lebar-lebar dan
memiliki ciri khas, dengan daunnya yang gugur ketika mengering. Pohon jati sendiri merupakan
jenis pohon yang tumbuh pada daerah hutan hujan tropis yang bersuhu antara 27-37
derajat.Penggunaan untuk konstruksi bangunan diantaranya untuk bantalan kereta api dan
kontruksi kuda-kuda atap serta struktur jembatan pada jaman dahulu.

jenis kayu jati


2. Kayu Kelapa atau Glugu
Jenis-jenis kayu untuk konstruksi memang banyak sekali karena Indonesia sendiri kaya
akan hutan tropis yang terdapat berbagai macam variasi. Di jawa sendiri terdapat kayu glugu atau
kelapa yang sudah biasa digunakan untuk kontruksi bangunan seperti membat kanopi teras, bahkan
untuk rangka atap. Jenis kayu glugu ini sering digunakan pada proyek gedung untuk membuat
bekisting balok (gelagar, sekor, suri-suri).
Glugu memiliki serat dan tekstur yang berbeda dengan jenis-jenis kayu lainnya karena memiliki
serat yang jelas dan lurus. Jika anda berniat untuk menggunakan kayu glugu sebagai rangka kanopi
ekspos sebaiknya dilapisi dengan cat akrilik agar seratnya tetap terlihat. Pilihlah kayu glugu
dengan kelas no.1 sehingga lebih awet.

kayu glugu
3.Kayu Kamper
Jenis-jenis kayu yang lain untuk konstruksi bangunan adalah kayu kamper. kayu kamper
sering disebut dengan kayu borneo. jenis material alam ini mempunyai serat dan tekstur yang
indah. Biasa digunakan untuk pembuatan kusen pintu maupun jendela walaupun kekuatannya
tidak sebaik dengan kayu jati. Alasan sering digunakan untuk kusen adalah jenis kayu ini tidak
disukai rayap dan serangga lainnya sehingga sangat cocok digunakan sebagai material furniture.

Secara umum kayu kamper dibagi dalam 3 kategori yang dijual dipasaran. Pertama kayu
kamper samarinda kedua kayu kamper surabaya dan ketiga kayu kamper kruing dari sumatera. Hal
ini disebabkan karena kayu kamper menjadi komoditas penting penyangga perekonomian
masyarakat di Indonesia. Sehingga saat ini perkebunan Tanaman kamper hampir merata di seluruh
Indonesia. Mengingat manfaat perekonomian yang dihasilkan dari kayu kamper ini.

kayu kamper
4.Kayu Bengkirai
Jenis-jenis kayu untuk kontruksi bangunan memiliki harga yang berbeda-beda tergantung
dari tingkat kelas kayu. Salah satu jenis kayu yang lumayan kuat, awet, dan tahan cuaca adalah
bengkirai. Kayu bengkirai sering digunakan untuk material konstruksi bangunan seperti atap kayu.
karena kelebihannya yang kuat dan tahan lama sering dijadikan material eksterior seperti listplank,
decking dan sebagainya.

Pohon Bangkirai banyak ditemukan di hutan hujan tropis di pulau Kalimantan. Jenis kayu ini
berwarna kuning dan kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah disebut yellow balau. Perbedaan
antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas, dengan warna gubal lebih terang. Pada saat baru saja
dibelah/potong, bagian kayu teras kadang terlihat coklat kemerahan.

kayu bengkirai
5.Kayu Merbau
Jenis-jenis kayu untuk konstruksi yang kuat dan tahan terhadap serangga adalah kayu
merbau. Kayu merbau berwarna coklat kemerahan yang terkadang disertai dengan highlit kuning
dan tekstur serat garisnya terputus-putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Jenis
kayu ini termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Kayu merbau biasanya
difinishing dengan melamin warna gelap / tua. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus.
Jenis kayu ini tumbuh subur di Indonesia, terutama di pulau Irian / Papua.

Kayu Merbau
6.Kayu Ulin
Kayu Ulin merupakan jenis kayu untuk konstruksi bangunan yang terkenal sangat kuat.
Pohon ulin ini tumbuh subur di kalimantan. material alam ini banyak digunakan untuk bahan
bangunan rumah, kantor, gedung, serta bangunan lain. Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang
tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah
sampai ketinggian 400 m. Kayu Ulin berwarna gelap dan tahan terhadap air laut.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang pancang, sirap (atap kayu),
papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang
memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. Kayu ulin termasuk kayu kelas kuat I dan Kelas
Awet I.

kayu ulin
7.Kayu Gelam
Jenis-jenis kayu untuk konstruksi bangunan lainnya adalah kayu gelam. Material alam ini
sering digunakan pada proyek-proyek rumah, kayu bakar, pagar, dan tiang-tiang sementara. Selain
itu juga sering digunakan sebagai stager atau perancah saat pelaksanaan proyek. Pada beberapa
daerah jenis kayu ini digunakan untuk cerucuk pada pekerjaan sungai dan jembaran.

kayu gelam
8.Kayu Meranti
kayu meranti merah merupakan jenis kayu keras yang mempunyai warna merah muda tua
hingga merah muda pucat. Jenis kayu ini bertektur tidak terlalu halus. bahan alam ini sering
digunakan untuk membuat multiplek yang sering digunakan untuk bekisting. Pohon meranti sangat
mudah ditemui di hutan di pulau Kalimantan.
Kayu Meranti
9.Kayu Akasia
Kayu akasia adalah jenis kayu untuk konstruksi bangunan yang mempunyai nama
lain acacia mangium dengan berat jenis 0,75 sehingga pori-pori dan seratnya cukup rapat. Kelas
awetnya II, yang berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas
kuatnya II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat
desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah,
kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat lurus berpadu, maka jenis kayu ini
mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan
konstruksi maupun bahan meibel-furnitur.

kayu akasia
3.Kelas Kayu
Jenis kayu yang diperdagangkan adalah berdasarkan :
- tingkat kekuatan (kuat lentur dan kuat tekan)
- berat jenis
- kualitas/mutu
- jenis seratnya.
Kelas kayu terbagi atas :
A. Kelas I
>> untuk konstruksi berat, tidak terlindung, terkena tanah lembab
>> contoh : jati, sonokeling, belian
B. Kelas II
>> untuk konstruksi berat, tidak terlindung, tidak terkena tanah lembab
>> contoh : rasamala. Merawan
C. Kelas III
>> untuk konstruksi berat yang terlindung
>> contoh : kamper, keruwing, jamuju
D. Kelas IV
>> untuk konstruksi ringan yang terlindung (interior di dalam rumah)
>> contoh : meranti, suren
E. Kelas V
>> untuk konstruksi ringan bersifat sementara/darurat
>> contoh: kayu-kayu lunak dengan kekuatan di bawah Kayu kelas iv