Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH LEADERSHIP

GAYA-GAYA KEPEMIMPINAN NEGARA


VENEZUELA

OLEH
KELOMPOK 1

1. RESKI JANUARI PUTRI


2. INDRIANI
3. EMILIA MELING
4. MULIATI
5. JULKIFLI
6. KAMAL

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2010
Kata Pengantar

Segala puji hanya milikmu ya Rabb.Betapa tidak,sebuah makalah


berisi materi tentang Psikologi Umum Perhatian dan Pengamatan telah kami
rampung dengan baik. Oleh karena itu tiada henti kami mengucapkan rasa
syukur hanya kepadaMu ya Rabb, atas tiupan kekuatan motifasi, kesehatan,
dan juga kelapangan jiwa bagi kami untuk menyusun makalah ini.
Dalam makalah ini telah dikemukakan gaya-gaya kepemimpinan
Negara Venezuela.
Makalah ini kami susun tidak berarti tanpa hambatan,oleh karena itu
kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Dosen
pembimbing yang telah memberikan bimbingan mengenai penyusunan
makalah ini.
Akhirnya,semua kata yang terucap sudah milik orang lain, semua
kebenaran hanya milik Allah, semua salah dan keliru dalam penyajian
makalah ini adalah milik kami sebagai seorang penulis atau penyusun
makalah ini.

Makassar, Mei 2010

Tim penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................... i


Daftar isi ................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................. 1
A. Latar belakang .............................................................. 1
B. Rumusan Masalah......................................................... 2
C. Tujuan............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................... 3
A. Kepemimpinan Presiden Hugo Chaves .........................3
B. Kepemimpinan Perdana Menteri Fidel Castro............... 9
C. Kepemimpinan Menteri Luar Negeri Ali Rodriguez.......11
BAB III PENUTUP.............................................................................
A. Kesimpulan.....................................................................
B. Saran..............................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Beberapa negara telah meninggalkan cara lama (neoliberalisme)


dalam menempuh kebijakan ekonomi-politiknya. Penulis memotret secara
komprehensif apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh Hugo
Chavez di Venezuela yang kini gaungnya semakin kuat dalam kepolitikan
global. Penulis begitu elaboratif dalam menunjukkan kebuntuan kapitalisme,
potensi bagi adanya sistem alternatif, dan munculnya tatanan lainnya di
berbagai negara. Buku ini menggali sosok dan pola kepemimpinan Hugo
Chavez. Bagaimana, sang presiden pernah di coba di kudeta olah kelompok
"kaum" pemodal. Karena mereka merasa, jika Hugo Chavez memimpin
terus dengan ide-ide sosialis maka kehidupan mereka akan terancam.
Sepak terjang sang presiden sangat memihak kaum miskin, terbukti
banyak perusahaan negara yang dulu di kuasai oleh pihak asing kini di
nasionalisasikan. Selain itu, peraturan dan undang-undang yang di jalankan
di sana berdasarkan sistem referendum. Hugo Chavez, memiliki program di
televisi nasional (baca: Indonesia semacam TVRI) Hallo President. Dalam
acara ini, rakyat bisa menyampaikan pendapatnya "masalah" kepada
president, selain itu acara ini juga mengambarkan aktivitas sang president
selama satu minggu. Selain itu, untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat,
maka dibuatlah misi-misi khusus yang bertugas menangani bidang-bidang
publik yang bertujuan untuk memfokuskan kerja pada bidang masing-
masing. Misalnya: Mission Robinson I, yaitu pemberantasan buta huruf bagi
mereka yang terpaksa drop-out karena miskin mampu untuk dijalankan.
Program ini adalah program pemerantasan buta huruf .
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah sistem Pemerintahan Presiden Hugo Chaves itu
sendiri?
2. Apa sajakah yang dilakukan Fidel castro dalam kepemimpinannya?
3. Bgaimanakah peran Ali Rodriguez dalam kepemimpinannya di
Negara Venezuela?

C. Tujuan
1. Untuk meningkatkan kedaulatan politik dan meningkatkan ekonomi
rakyat serta menentang gerakan Israel ke Palestina.
2. Untuk melawan dominasi Amerika Serikat.
3. Untuk meningkatkan perekonomian khususnya dibidang
perminyakan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kepemimpinan Presiden Hugo Chaves


Naiknya kepemimpinan Hugo Chaves di Venezuela didukung oleh
63% suara dalam pemilu. Kepemimpinan baru ini telah diikuti oleh lahirnya
Konstitusi Bolivarian pada tahun 1999 yang menjadi dasar utama bagi
seluruh kebijakan pemerintahan dalam banyak bidang. Pembaharuan-
pembaharuan yang dijalankan di atas dasar konstitusi ini oleh karenanya
lebih akrab disebut sebagai perubahan revolusioner bolivarian. Perubahan
revolusioner bolivarian ini ditandai oleh visi kerakyatan yang diamanatkan
oleh konstitusi 1999 yakni tegaknya kedaulatan politik dan ekonomi rakyat
Venezuela yang anti imperialisme, demokrasi partisipatif yang membuka
ruang luas bagi keterlibatan politis akar rumput, swadaya ekonomi, distribusi
yang adil dari pendapatan pertambangan minyak Venezuela dan
penghapusan tindakan korupsi.
Visi kerakyatan itu oleh pemerintahan Chaves diwujudkan dalam
beragam program kesejahteraan sosial yang meliputi pengadaan
transportasi gratis untuk rakyat yang sangat membutuhkan namun tak
mampu membayar, penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat yang
berkualitas dan gratis, perlindungan hak-hak komunitas lokal yang selama
ini terpinggirkan oleh kebudayaan dominan, pelayanan perumahan gratis
bagi mereka yang miskin, upaya pengadaan kedaulatan pangan yang
murah, berkualitas, organik dan bersifat lokal untuk membuka akses nutrisi
bagi masyarakat yang tak mampu dan seabrek program lain yang
memprioritaskan mayoritas rakyat miskin Venezuela yang selama ini selalu
berada di pinggiran kebijakan. Sangat jelas di sini bagaimana kedaulatan
dan kesejahteraan rakyat menjadi visi dasar seluruh kebijakan. Tentu saja
kebijakan semacam ini sangat menggoncang kemapanan segelintir orang
yang telah menuai banyak keuntungan sebelumnya.

Tak dapat pula disangkal bahwa kebijakan pemerintahan Chaves


tentang media selalu harus mendasarkan diri pada Konstitusi Bolivarian
tahun 1999. Konstitusi ini mendorong persyaratan yang sangat tegas
berkaitan dengan penyelenggaraan lembaga media, terutama oleh
lembaga-lembaga swasta. Undang-undang tentang Pertanggungjawaban
Media yang berlaku di Venezuela, biasa disebut Ley Resorte, sangat tegas
dalam menuntut tanggung jawab sosial dari para penyelenggara media
radio dan televisi, dan berorientasi kepada komitmen yang sangat kuat
terhadap dua hal mendasar yakni “hak-hak anak” dan “meningkatnya jumlah
program siaran yang diproduksi sendiri secara nasional maupun lokal”.
Salah satu hal penting yang dibangun oleh pemerintahan baru dalam
kepemimpinan Hugo Chaves adalah dibukanya ruang-ruang pendidikan
populer hak-hak rakyat.
Mayoritas kaum miskin Venezuela yang selama ini tak pernah
mendapatkan bagian dari kue keuntungan kekayaan negara ini menjadi
subjek pertama yang dipertimbangkan oleh kebijakan sosialisme demokratis
Venezuela. Merekalah harta utama bagi gerakan-gerakan pembaharuan
populis negeri Venezuela. Apabila gelombang siaran yang selama ini
dikuasai oleh sekelompok kecil pemilik saham perusahaan swasta itu
ditawarkan kepada 63% rakyat pendukung Chaves yang senyatanya
berasal dari beragam latar belakang, bukankah itu berarti membuka keran
bagi mereka yang selama ini tak pernah mendapatkan saluran untuk
bersuara, mengemukakan cara berpikir sesuai dengan konteksnya,
memandang permasalahan sosial real yang dihadapi dari kacamata mereka
sendiri, dan tidak didekte oleh sekelompok kecil juragan media pemegang
hak gelombang siaran.
Sejak Chavez terpilih tahun 1998, Venezuela memulai revolusi
Bolivarian melalui Konstitusi Republik Kelima yang diakui sebagai konstitusi
terbaik di dunia setelah Magna Charta dalam melindungi hak-hak ekonomi,
sosial, politik, dan budaya rakyat miskin. Nasionalisasi perusahaan minyak
PDVSA --Petroleos de Venezuela—dengan kapasitas produksi tidak kurang
dari tiga juta barel per hari pada akhir 2001 dianggap sebagai penyulut
"perang" terbuka melawan "imperialisme" Amerika Serikat (AS). Inilah
perang tanpa senjata pertama di abad 21 terhadap kebijakan neoliberalisme
AS.
Perlu dicatat bahwa cadangan minyak mentah Venezuela adalah
kelima terbesar di dunia dan eksportir minyak utama untuk AS. Kenyataan
itu begitu penting dan besar pengaruhnya untuk bisa memahami Venezuela
karena kekayaan minyaklah yang membentuk setiap aspek kehidupan
negeri itu; sejarah, ekonomi, politik, termasuk budayanya.Sebelum Chavez
berkuasa, 70% dari hampir 26 juta jiwa rakyatnya hidup miskin. Kebijakan
neoliberalisme yang dijalankan pemerintah sejak 1970-an membuat
kekayaan minyak dikuasai oleh pemodal-pemodal Chevron Corp., Royal
Dutch Shell, Repsol, dan Exxon. Akibatnya pendapatan minyak paling besar
masuk ke pundi-pundi pemodal dan pejabat di sekeliling partai berkuasa
COPEI-Kristen Demokrat dan Action Democratica (AD). Situasi itu antara
lain menyebabkan pemberontakan menolak kenaikan harga Caracazo, 27
Februari 1989, dan pemberontakan militer progresif di bawah kepemimpinan
Kolonel Hugo Chavez Frias (1992). Walau pemberontakan itu gagal, inilah
awal kemenangan Chavez dalam merebut hati rakyat yang rindu
perubahan.PermusuhanAS jadi tetangga "tidak ramah" bagi Venezuela.
Sejak 1977, sekira 50 persen perusahaan-perusahaan raksasa di
Venezuela memiliki "ikatan" dengan modal AS.
Akibatnya, sungguh penting bagi AS untuk memelihara negeri-
negeri di Amerika Latin untuk tetap berada di jalur-jalur "Washington
Consencus". Namun, sejak pemerintahan Hugo Chavez melancarkan
perang terbuka terhadap kebijakan neoliberal, melalui berbagai skenario,
AS mendukung bahkan mensponsori peristiwa-peristiwa politik menjatuhkan
Chavez. Misalnya, boikot produksi minyak 2001, kudeta April 2002 oleh
oposisi yang tidak senang atas kebijakan sosial Chavez dan kedekatannya
dengan Kuba, referendum "pemecatan Chavez" pada Agustus 2004.
Bahkan, belum lama ini seruan pembunuhan terhadap Chavez oleh seorang
pendeta terkemuka di AS dan seruan membentuk fron dunia anti-Hugo
Chavez. Tiga peristiwa pertama gagal dimenangkan oleh kubu pro-AS
bahkan kecintaan rakyat pada Chavez dan Revolusi Bolivarian tidak
surut.Kesejahteraan rakyatKecintaan rakyat disebabkan oleh dua hal yaitu,
dimulainya Demokrasi Partisipasi dan diakhirinya demokrasi Punto Fijo
(puntofijismo)-kesepakatan pembagian kekuasaan antara AD dan COPEI;
serta penggunaan kekayaan negeri untuk kesejahteraan rakyat miskin
(Endogeneous Development).
Di antara negara-negara di dunia yang bersimpati terhadap
Palestina, negara Venezuela lah yang paling tegas. Venezuela selain
berani mengusir duta besar Israel, ribuan rakyat di negeri pimpinan Hugo
Chavez itu meluapkan kemarahannya kepada negeri zionis. Lebih dari
seribu warga Venezuela, menggelar aksi di depan Kedubes Israel di
Caracas.

Sambil meneriakkan kecaman terhadap Israel, mereka


melempari kantor perwakilan negara Yahudi tersebut dengan sepatu dan
petasan. ’’Enyahlah kalian Israel!’’ teriak demonstran. Dua hari sebelum
protes masal itu dilangsungkan, Presiden Chavez sudah terlebih dahulu
mengumumkan pengusiran seluruh staf kedutaan besar Israel keluar dari
Venezuela.Dalam wawancara dengan stasiun televisi lokal, Chavez yang
terkenal sebagai rival abadi Presiden AS George W. Bush dan Israel itu
mengecam invasi Israel sebagai ’’Holocaust”. Tragedi Holocaust diklaim
sebagai mimpi buruk dalam sejarah bangsa Yahudi. Antara 1933-
1945,sang fuhrer, Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman kala itu, membabat
habis orang-orang Yahudi diaspora di Eropa demi pemurnian ras.

Namun sejak pemerintah Hugo Chavez melancarkan perang


terbuka terhadap kebijakan neoliberal, melalui berbagai skenario AS
mendukung bahkan mensponsori peristiwa-peristiwa politik menjatuhkan
Chavez, seperti, boikot produksi minyak 2001; kudeta April 2002 oleh
oposisi yg tidak senang dengan kebijakan sosial Chavez dan
kedekatannya dengan Kuba; referendum ‘pemecatan Chavez’ Agustus
2004; hingga belum lama ini seruan pembunuhan terhadap Chavez oleh
seorang pendeta terkemuka di AS dan seruan membentuk front dunia anti
Hugo Chavez.Tiga peristiwa pertama tidak berhasil dimenangkan oleh
kubu pro AS bahkan kecintaan rakyat pada Chavez dan Revolusi
Bolivarian tak bertambah surut.Revolusi Bolivarian untuk Kesejahteraan
Rakyat.

Kecintaan rakyat disebabkan oleh dua hal, yakni: dimulainya


Demokrasi Partisipasi dan diakhirinya demokrasi Punto Fijo (puntofijismo)-
kesepakatan pembagian kekuasaan antara AD dan Copei; serta
penggunaan kekayaan negeri untuk kesejahteraan rakyat miskin
(Endogeneous Developmen). Dana Pembangunan Khusus PDVSA 90%
diprioritaskan setiap tahun untuk proyek sosial seperti, agroindustri;
transportasi; pembangunan dan pembangunan budaya; serta pengadaan
listrik. Dalam anggaran 2006 ini, 41% (lebih besar 27% dari anggaran tahun
2005) dari total anggaran dialokasikan untuk program-program sosial.
Empat puluh tujuh persen dari total anggaran tersebut berasal dari
pemasukan minyak dan 53% dari pendapatan pajak perusahaan-
perusahaan besar. UNICEF dan Inter American Development Bank (IADB)
mengakui bahwa inilah program sosial yang terbesar dan paling
komprehensif di Amerika Latin dan dunia.

Program sosial diterapkan secara simultan dan komprehensif. Misi-


misi pendidikan dan kesehatan seperti Mission Robinson, Ribas, Sucre dan
Barrio Adentro dilaksanakan bekerjasama dengan lebih dari 30.000 tenaga
pengajar dan dokter dari Cuba-karena kaum oposisi memboikot
pelaksanaan program ini. Misi Robinson berhasil membebaskan Venezuela
dari buta huruf di tahun 2005 lalu (data UNICEF) dan meluluskan 900.000
orang yang drop out sekolah dasar di tahun 2004. Mission Ribas
menyekolahkan orang-orang yang drop out SLTA, dan Sucre memberi
beasiswa untuk orang miskin masuk ke Perguruan Tinggi. Secara simultan
juga membangun 200 Universitas Simon Bolivar di kota-kota. Selama 102
tahun rakyat tak pernah membayangkan program-program sosial ini dapat
dinikmati dengan gratis.

Ada pula Mission Barrio Adentro yakni pengadaan pelayanan


kesehatan gratis dengan pusat-pusat diagnosa dan pengobatan bagi
penyakit kronis. Demikian pula mission Mercal-pengadaan dan distribusi
makanan lebih murah dari harga pasar di perkampungan miskin, dan
mission Vuelvan Caras-kredit tanpa bunga bagi petani. Bersamaan dengan
itu, pemerintah juga meredistribusi jutaan hektar tanah yang tak
menganggur untuk lahan pertanian bagi rakyat tak bertanah, serta
membangun Bank Perempuan (Banco La Mujer) yang memberikan kredit
bagi komunitas kaum perempuan miskin untuk berproduksi. Hingga jajak
pendapat bulan lalu, 60% rakyat masih menghendaki Chavez memimpin.
Walau, beberapa persoalan kemiskinan dan pengangguran masih tersisa,
namun rancangan program pemerintah tampak sudah memberi basis solusi
untuk itu. Seperti pepatah, tak semudah membalikkan telapak tangan.

B. Kepemimpinan Perdana Menteri Fidel Alejandro Castro Ruz

Fidel Alejandro Castro Ruz (lahir 13 Agustus 1926) adalah Presiden


Kuba sejak 1976 hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana
Menteri atas penunjukannya pada Februari 1959 setelah tampil sebagai
komandan revolusi yang gagal Presiden Dewan Negara merangkap jabatan
sebagai Dewan Menteri Fulgencio Batista pada tahun 1976. Castro tampil
sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (Communist Party of
Cuba) pada tahun 1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik
sosialis satu-partai. Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai
komandan Militer Kuba. Pada 31 Juli 2006, Castro menyerahkan jabatan
kepresidenannya kepada adiknya, Raúl untuk beberapa waktu.

Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik


Dominika Rafael Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena
adanya ancaman akan dihabisi lawan politiknya. Setelah meraih doktor di
bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin gerakan bawah
tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh
Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953. Ia memimpin serangan ke barak
militer Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Sebanyak 69 orang dari
111 orang yang ambil bagian dalam serbuan itu tewas dan ia dipenjara
selama15tahun.

Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei


1955, ia langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista.
Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955,
ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner Che Guevara.
Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba pada 2 Desember 1956 dan
melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan Sierra
Maestra.

Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan


dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya
Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita dan impiannya mulai diwujudkan
dengan bertemu Hugo Chávez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia.

Menjelang hari ulang tahunnya ke-80 yang jatuh pada 13 Agustus


2006, ia menyerahkan tampuk kepemimpinannya untuk sementara waktu
kepada adiknya. Praktis, Raúl merangkap jabatan, yakni sebagai Presiden
Kuba dan Menteri Pertahanan Kuba. Penyerahan kekuasaan ini merupakan
pertama kali sejak ia memerintah Kuba pada 1959. Castro juga meminta
perayaan ulang tahunnya yang ke-80 ditunda sampai 2 Desember 2006.
Padahal, pesta meriah selama empat hari di jalan-jalan utama Havana
sudah disiapkan, termasuk konser megah dari musisi dan penyanyi Amerika
Latin. Kesehatan Castro sempat menurun setelah jatuh ketika berpidato
pada 2004. Waktu itu, lutut kiri dan lengan kanannya terluka.

Setelah pembedahan organ pencernaan pada tahun 2006, dia


menyerahkan kekuasaan hari kepada saudara, Raul. Dia kemudian hanya
beberapa kali muncul dalam rekaman sebelum menyatakan diri mundur
padatahun2008.

Pada 19 Februari 2008, lima hari sebelum mandatnya berakhir,


Castro menyatakan tidak akan mencalonkan diri maupun menerima masa
bakti baru sebagai presiden atau komandan angkatan bersenjata Kuba.
Jabatannya digantikan oleh adiknya, Raul Castro.
C. Kepemimpinan Menteri Keuangan Ali Rodriguez

Ali Rodriguez Venezuela Araque adalah politikus Muslim,


pengacara, dan diplomat. Dia adalah pemimpin partai Patria Para Todos
("Tanah Air Untuk Semua") dan telah menduduki berbagai posisi di
pemerintahan Hugo Chavez, seperti penasehat minyak, sekretaris umum
OPEC, presiden Petroleos de Venezuela (PDVSA), Menteri Hubungan
Eksternal dan, terakhir, Duta Besar di Kuba.

Ia belajar ekonomi, yang mengkhususkan diri dalam minyak


mentah, ia telah menulis beberapa karya mengenai sektor energi. Selama
1960-an dan awal 1970-an, dia memimpin partai Patria Para Todos ("Tanah
Air untuk semua") dan telah menduduki berbagai posisi dalam
pemerintahan Presiden Hugo Chaves, seperti penasehat, Sekretaris
Jenderal OPEC, Presiden Petroleos de Venezuela (PDVSA), Menteri
Hubungan Luar dan Duta Besar untuk Kuba.Ia diangkat sebagai Menteri
Keuangan pada Juni 2008.

Ia menerima sertifikasi hukum dari Universidad Central de


Venezuela di Caracas pada 196. Dia belajar ekonomi, yang
mengkhususkan diri dalam minyak mentah ia telah menulis beberapa karya
mengenai sektor energi.

Selama 1960-an dan awal 1970-an, ia aktif dalam Marxis gerilya


gerakan beroperasi di Venezuela. Dia dikenal sebagai “ komandan Fausto “
diduga bertindak sebagai ahli bahan peledak.a. Dia adalah salah satu
pejuang gerilya terakhir untuk meletakkan senjata, setelah "penenteraman
disebut" kebijakan sehingga (Pacificación) menandakan akhir
pemberontakan bersenjata. Dia diampuni dan menjadi terlibat dalam politik
parlemen, dan terpilih untuk kemudian Kongres Nasional. Ia memperoleh
reputasi sebagai negosiator dan pencari konsensus. Dia menteri energi
Venezuela dari 1999, ketika Chavez mengambil kantor, sampai tahun 2000.

Pada tahun 2000 ia terpilih sebagai sekertaris Jenderal dari OPEC


dan menjabat dari Januari 2001 sampai Juli 2002. Dia kemudian menjadi
presiden perusahaan minyak milik negara Venezuela, di mana ia
mendalangi penembakan lebih dari 20.000 pekerja sebagai pembalasan
atas sebuah serangan gagal. Dia tetap dalam posisi yang hingga November
2004 ketika Chavez menunjuk dia Menteri Luar Negeri dalam perombakan
kabinet. On September 1, 2006. Pada tanggal 1 September 2006,
Rodríguez diangkat sebagai Duta Besar Venezuela ke Kuba. Kemudian ia
menjabat beberapa waktu sebagai Wakil Presiden untuk wilayah Andean di
Venezuela sebelum ditunjuk sebagai Menteri Keuangan oleh Chavez pada
tanggal 15 Juni 2008.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Kepemimpinan Presiden Hugo Chaves

Bahwa dalam kepemimpinan Presiden Hugo Chaves ia


menitikberatkan pada kesejahteraan rakyat,pemenuhan kebutuhan
serta menginginkan kebebasan penderitaan Negara Palestina.

2. Kepemimpinan Perdana menteri Fidel castro

Bahwa dalam kepemimpinan Fidel castro, ia dengan sigap melawan


domonasi Negara Amerika Serikat diberbagai belahan dunia.

3. Kepemimpinan Menteri Keuangan Ali Rodriguez

Bahwa dalam kepemimpinannya, ia memperjuangkan pembebasan


dalam pemberontakan bersenjata.

B. Saran

Dalam menyelesaikan sebuah Makalah merupakan suatu usaha

yang membutuhkan intelektual tersendiri bagi para penyusun. Dan harapan

yang sangat kami inginkan yaitu agar para pembaca dapat mengambil dan

banyak mendapatkan ilmu tentang gaya-gaya Kepemimpinan dalam suatu

Negara terutama dalam pembahasan kami Negara Venezuela.


DAFTAR PUSTAKA

file://localhost/E:/reverensi%20venezuela/lampiran%201.htm

file://localhost/E:/reverensi%20venezuela/lampiran%202.htm

http://alicyasiahaan.blogspot.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Fidel_Castro