Anda di halaman 1dari 1

10

menambahkan NH4OH. Proses detoksifikasi tersebut dilakukan dengan


menambahkan larutan NH4OH 25% sehingga hidrolisat mencapai pH 5 maka
hidrolisat dapat digunakan sebagai substrat fermentasi dan mampu menghilangkan
senyawa-senyawa toksik yang mengganggu proses fermentasi.
Pada jurnal tesebut bahan yang digunakan yaitu standar glukosa sehingga
tidak memerlukan enzim amilase sebagai pemecah karbohidrat menjadi glukosa
atau molekul-molekul yang lebih sederhana. Proses pembuatan bioetanol tersebut
menggunakan ragi tape merk NKL, karena menurut Dwijoseputro (2005) ragi tape
merupakan campuran populasi, dimana terdapat spesies-spesies dari genus
Aspergillus, Saccharomyces, Candida dan Hansenua. Mikroorganisme yang
ditemukan didalam ragi tape yaitu khamir (Saccharomyces cerevisiae). Fermentasi
menggunakan ragi tape bisa mempermudah masyarakat dalam mempoduksi
etanol, karena ragi tape sangat mudah diperoleh di pasaran. Pada proses fermentasi
tersebut di katalis oleh enzim aldolase.

4.3 Dampak Positif Limbah Kulit Kentang sebagai Bioetanol


a. Bagi Masyarakat
Kebanyakan orang membuang kulit kentang begitu saja. Limbah kulit kentang
yang dibuat menjadi bioetanol, maka akan meningkatkan nilai ekonomis
produsen tersebut. Kemudian, dapat memberikan sumber energi yang baru bagi
masyarakat. Pembuatan pabrik bioetanol dari limbah kulit kentang dapat
membuka lapangan kerja, dan mengurangi penganguran.
b. Bagi Lingkungan
Dampak positif dari inovasi pembuatatan bioetanol dari kulit kentang adalah
dapat mengurangi limbah kulit kentang yang semakin menumpuk di Indonesia,
jika limbah tersebut menumpuk kemudian menghasilkan bau maka akan
menimbulkan pencemaran udara. Jika limbah tersebut dibuang tidak pada
tempatnya, seperti ke sungai atau ke tanah, maka limbah tersebut akan
pencemaran air sungai dan pencemaran air tanah dan tanah.