Anda di halaman 1dari 6

TUGAS SURVEILANS KESEHATAN MASYARAKAT

“ RESUME MATERI ”

Disusun Oleh :
Yusuf Afif 25010116140134
B 2016

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018
SKRINING
Definisi
Menurut US Commiission on Chronic Illness (1951) – Identifikasi dugaan penyakit
yang tidak diketahui atau kelainan dengan penerapan tes (uji), pemeriksaan atau prosedur lain
yang dapat diterapkan secara cepat. Sumber yang lain menyatakan bahwa penyaringan adalah
suatu usaha mendeteksi atau menemukan penderita penyakit tertentu yang tanpa gejala (tidak
tampak) dalam suatu masyarakat atau penduduk tertentu melalui tes atau pemeriksaan secara
singkat dan sederhana untuk dapat memisahkan mereka yang betul-betul sehat terhadap
mereka yang kemungkinan besar menderita, yang selanjutnya diproses melalui diagnosis
pasti dan pengobatan
Tujuan
Menurut Morton (2009), tujuan skrining adalah mencegah penyakit atau akibat
penyakit dengan mengidentifikasi individu-individu pada suatu titik dalam riwayat alamiah
ketika proses penyakit dapat diubah melalui intervensi. Bustan (2006) memiliki pendapat
yang berbeda mengenai tujuan dilakukannya skrining yaitu :
 Mendapatkan mereka yang menderita sedini mungkin sehingga dapat dengan segera
memperoleh pengobatan,
 Mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat,
 Mendidik dan membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin,
 Mendidik dan memberikan gambaran kepada petugas kesehatan tentang sifat penyakit
dan selalu waspada melakukan pengamatan terhadap gejala dini,
 Mendapatkan keterangan epidemiologis yang berguna bagi klinisi dan peneliti.
Syarat – Syarat
Wilson dan Junger menganjurkan untuk memperhatikan persyaratan untuk
keberhasilan skrining sebagai berikut:
 Seharusnya ada pengobatan yang sesuai dan dapat diterima bila hasil pemeriksaan
positif,
 Fasilitas pengobatan dan diagnosis harus tersedia,
 Mengenal kelainan yang timbul tahap dini suatu penyakit,
 Harus ada tes atau pemeriksaan yang sesuai,
 Tes atau pemeriksaan harus diterima masyarakat,
 Riwayat alamiah yang di skrining harus dimengerti secara baik,
 Harus ada kebijakan yang disetujui untuk mengobati bila pasien positif terkena
penyakit,
 Biaya harus seimbang secara keseluruhan,
 Penemuan kasus harus merupakan proses berkelanjutan, tidak hanya berdasarkan
proyek,
 Test cukup sensitif dan spesifik,
 Penyakit atau masalah yang akan di skrining merupakan masalah yang cukup serius,
prevalensinya tinggi, merupakan masalah kesehatan masyarakat,
 Kebijakan intervensi atau pengobatan yang akan dilakukan setelah dilaksanakannya
skrining harus jelas.

Macam – Macam
Macam skrining dibagi berdasarkan sasaran atau populasi yang akan di
skrining yaitu sebagai berikut :
1. Mass screening Skrining yang dilakukan pada seluruh populasi. Misalnya, mass X-ray
survey atau blood pressure skrining pada seluruh masyarakat yang berkunjung pada
pelayanan kesehatan.
2. Selective screening Populasi tertentu menjadi sasaran dari jenis skrining ini, dengan
target populasi berdasarkan pada risiko tertentu. Tujuan selective screening pada
kelompok risiko tinggi untuk mengurangi dampak negatif dari skrining. Contohnya,
Pap’s smear skrining pada wanita usia > 40 tahun untuk mendeteksi Ca Cervix, atau
mammography skrining untuk wanita yang punya riwayat keluarga menderita Ca.
3. Single disease screening Jenis skrining yang hanya dilakukan untuk satu penyakit.
Misalnya, skrining terhadap penderita penyakit TBC, jadi lebih tertuju pada satu jenis
penyakit.
4. Case finding screening Case finding adalah upaya dokter atau tenagga kesehatan
untuk menyelidiki suatu kelainan yang tidak berhubungan dengan kelompok pasien
yang datang untuk kepentingan pemeriksaan kesehatan. Penderita yang datang dengan
keluhan diare kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap mamografi atau rongen
torax,
5. Multiphasic screening Pemeriksaan skrining untuk beberapa penyakit pada satu
kunjungan waktu tertentu. Jenis skrining ini sangat sederhana, mudah dan murah serta
diterima secara luas dengan berbagai tujuan seperti pada evaluasi kesehatan dan
asuransi. Sebagai contoh adalah pemeriksaan kanker disertai dengan pemeriksaan
tekanan darah, gula darah dan kolesterol.
Karaketeristik
Untuk keberhasilan suatu program skrining, ketersediaan tes skrining juga
diperlukan selain juga harus memiliki kriteria penyakit yang cocok untuk di skrining.
Tes skrining seharusnya juga tidak mahal, mudah dilaksanakan dan memberikan
ketidaknyamanan yang minimal pada pasien. Dan juga hasil skrining haruslah valid
dan konsisten (Sarwani, 2007).
a) Validitas Validitas adalah derajat yang menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang
hendak diukur (Sukardi, 2013). Sedangkan menurut Saifuddin Azwar (2014) bahwa
validitas mengacu sejauh mana akurasi suatu tes atau skala dalam menjalankan fungsi
pengukurannya. Sedangkan validitas dalam skrining adalah kemampuan dari suatu alat
untuk membedakan antara orang yang sakit dan orang yang tidak sakit. Validitas
mempunyai dua komponen yaitu :
1) Sensitivitas Kemampuan yang dimiliki oleh alat ukur untuk menunjukan secara
tepat individu-individu yang menderita penyakit atau besarnya probabilitas
seseorang yang sakit akan memberikan hasil tes positif pada tes diagnostik
tersebut. Sensitivitas merupakan true positive rate (TPR) dari suatu tes diagnostik
2) Spesifisitas Kemampuan yang dimiliki oleh alat ukur untuk menunjukan secara
tepat individu-individu yang tidak menderita sakit. Besarnya probabilitas
seseorang yang tidak sakit atau sehat akan memberikan hasil tes negatif pada tes
diagnostik. Sensitivitas merupakan true negative rate (TNR) dari suatu tes
diagnostik.
Sensitivitas dan spesifisitas merupakan komponen ukuran dalam validitas, selain
itu terdapat pula ukuran-ukuran lain dalam validitas yaitu :
 True positive, yang menunjuk pada banyaknya kasus yang benarbenar menderita
penyakit dengan hasil tes positif pula.
 False positive, yang menunjukkan pada banyaknya kasus yang sebenarnya tidak
sakit tetapi test menunjukkan hasil yang positif.
 True negative, menunjukkan pada banyaknya kasus yang tidak sakit dengan hasil
test yang negatif pula.
 False negative, yang menunjuk pada banyaknya kasus yang sebenarnya menderita
penyakit tetapi hasil test negatif.
b) Reliabilitas, Groth-Marnat (2008) mendefinisikan reliabilitas suatu test merujuk pada
derajat stabilitas, konsistensi, daya prediksi, dan akurasi. Ia melihat seberapa skor yang
diperoleh seseorang itu akan menjadi sama jika orang itu diperiksa ulang dengan tes yang
sama pada kesempatan berbeda. Reliabilitas skrining adalah ukuran konsistensi
berdasarkan orang dan waktu.

Kesehatan Haji
Penyelenggaraan kesehatan haji merupakan kegiatan pemeriksaan/skrining
dan pembinaan kesehatan haji yang dilaksanakan melalui pendekatan keluarga adalah
suatu upaya identifikasi masalah kesehatan keluarga/jemaah haji terhadap Penyakit
Tidak Menular, Penyakit Menular, Kesehatan Reproduksi, kepersertaan JKN,
penyehatan lingkungan, PHBS, dan aktivitas fisik yang kesemuanya merupakan
tindakan pengendalian faktor risiko dan pencegahan penyakit, agar jemaah haji
sebagai anggota keluarga, dapat mencapai istithaah kesehatan.
Kondisi istithaah kesehatan jemaah haji merupakan hubungan timbal balik
terhadap anggota keluarga yang sehat mandiri. Upaya pengendalian faktor risiko dan
pencegahan penyakit dapat dilaksanakan melalui UKBM seperti Pos Kesehatan Desa
(Poskesdes), Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu), atau Pos Upaya Kesehatan Keluarga
(UKK). Pelayanan kesehatan haji dengan rujukan yang diperlukan, dilaksanakan pada
fasilitas kesehatan yang merupakan jejaring BPJS kesehatan.

Bustan, M.N.2006 . PENGANTAR EPIDEMIOLOGI. Jakarta : PT. Rineka Cipta


Morton, Richard. 2009. PANDUAN STUDI EPIDEMIOLOGI DAN BIOSTATISTIK.
Jakarta: EGC.
KEMENKES. PEMERIKSAAN DAN PEMBINAAN KESEHATAN HAJI MENCAPAI
ISTITHAAH KESEHATAN JEMAAH HAJI UNTUK MENUJU KELUARGA SEHAT