Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

PERSILANGAN PADA LALAT BUAH (Drosophila melanogaster)

Tanggal praktikum: 22 September 2017


Tanggal pengumpulan: 13 Oktober 2017

Disusun oleh:
Eprilia Monica Hasanah
10616004
Kelompok 15

Asisten:
Galih Ganiyasa S.
10614034

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Bidang sains yang mempelajari tentang mekanisme pewarisan sifat dari induk
kepada keturunannya, serta hereditas dan variasi herediter disebut genetika. Unit
hereditas yang dipindahkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya disebut
gen. Gen adalah unit pewarisan sifat yang mempunyai ciri-ciri tersendiri yang
mempengaruh karakter fenotipe (Campbell et, al. 2002). Perkembangan dalam
dunia genetika telah berlangsung sangat pesat. Untuk mendapatkan spesies yang
lebih unggul, maka dilakukan persilangan. Hal ini dapat dilihat dari semakin
banyaknya penemuan dalam bidang genetika. Riset mengenai genetika. Aplikasi
dari rekayasa genetika telah mempermudah dan menguntungkan kehidupan
manusia. Salah satu aplikasinya adalah dengan melakukan persilangan antar
organisme untuk menemukan varietas spesies baru yang lebih unggul (Apriati,
2014)
Dalam perkembangan ilmu genetika spesies Drosophila melanogaster
sebagai objek percobaan yang sering digunakan. Drosophila melanogaster sering
digunakna karena memiliki karakteristik yang sangat sesuai objek riset genetika.
Penelitian menggunakan Drosophila melanogaster telah menghasilkan
pemahaman dasar mengenai pola penurunan sifat pada makhluk hidup yang
berpengaruh besar dalam perkembangan genetika (Kusumaningsari et al., 2012)

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Menentukan perbandingan F2 pada persilangan lalat buah (Drosophila
melanogaster)
2. Menentukan analisis X2 dari perbandingan F2 hasil persilangan
3. Menentukan keberhasilan persilangan sesuai hukum Mendel berdasarkan
analisis X2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah penemuan prinsip pewarisan sifat oleh Gregor Mendel


Pada tahun 1842 seorang ilmuan dari Cekoslovakia menemukan prinsip dasar
pewarisan melalui percobaan dalam persilangan silang. Mendel melakukan
percobaan persilangan pada tanaman ercis dan berhasil mengamati karakter yang
diturunkan dari generasi ke generasi. Kemudian Mendel berhasil membuat
perhitungan tentang sifat genetis karakter yang ditampilkan. Karya Mendel
tentang pola pewarisan sifat dipublikasikan pada tahun 1866 dan dijuluki sebagai
bapak genetika (Peter, 1989)
Pada tahun 1900 terdapat tiga orang ahli botani yaitu yaitu Hugo de Vries di
Belanda, Carl Correns di Jerman dan Eric von Tschermak-Seysenegg di Austria,
melihat bukti kebenaran prinsip Mendel pada penelitian mereka. Sejak saat itu
berbagai percobaan persilangan menggunakan dasar prinsip Mendel yang sangat
mendominasi penelitian genetik yang menandai suatu era yaitu genetika klasik.
Pada awal abad ke-20 dan tahun 1940-an terbukti bahwa senyawa kimia materi
genetika adalah DNA. Dengan ditemukan model DNA tersebut oleh Watson dan
Crick maka dimulai era baru yaitu genetika molekular (Peter, 1989).
Pada tahun 1970-an dikenal teknologi manipulasi molekul DNA dengan
sebutan rekayasa genetika. Banyak rekayasa genetika yang telah dilakukan,
contohnya rekayasa dengan teknik kloning untuk hewan seperti domba. Pada
manusia telah dilakukan pemetaan seluruh genom yang dikenal dengan istilah
Human Genome Project yang diluncurkan pada tahun 1990 (Aminullah, 2009).

2.2 Hukum I dan II Mendel


Hukum Mendel I menyatakan tentang pemisahan gen se alel atau lebih seirng
didengar dengan “segregation”. Peristiwa pemisahan alel ini terlihat ketika
pembuatan gamet individu yang memiliki genotipe heterozigot sehingga tiap
gamet mengandng salah satu alel tersebut. Pembentukan gamet terjadi secara
meiosis dimana pasangan homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi
atau terjadi pemisahan alel suatu gen secara bebas dari diploid menjadi haploid.
Dengan demikian setiap sel gamet hanya mengandung satu gen dari alelnya
Fenomena ini dapat diamati pada persilangan monohybrid, yaitu persilangan satu
karakter dengan dua sifat beda (Snustad, 2012)
Hukum Mendel II yaitu pengelompokan gen secara bebas atau lebih dikenal
dengan istilah “Independent Assortment of Genes”. Gen dapat berpasangan secara
bebas dengan gen lain, namun gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada gen
untuk sifat yang lain yang bukan termasuk alelnya (Campbell, 2008). Hukum ini
berlaku ketika pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke
masing-masing kutub ketika meiosis. Pembuktian hukum ini dipakai pada
Dihibrid atau Polihibrid yaitu persilangan dari individu yang memiliki 2 atau
lebih karakter berbeda (Yatim, 2003)
Selain melakukan percobaan dengan pewarisan satu sifat beda, Mendel juga
melakukan percobaan dengan melakukan persilangan dengan dua sifat beda.
Prinsip segregasi kromosom homolog. Mendel menyilangkan tanaman yang
mempunyai dua macam alel yang berbeda yaitu tanaman ercis warna kuning dan
biji bulat dengan tanaman ercis warna hijau dan biji keriput. Kalau hasil
penyilangan terdiri atas kacang ercis berbiji kuning bulat semua, artinya karakter
kuning bulat dominan terhadap hijau keriput. Jika F1 mengalami penyerbukan
sendiri dan menghasilkan F2 dengan 4 kelas fenotipe yaitu kuning-bulat, kuning-
keriput, hijau-bulat, dan hijau-keriput maka perbandingan rasio fenotipe pada F2
adalaha 9:3:3:1 (Yatim, 2003).

2.3 Jenis-jenis persilangan


Ada tiga jenis persilangan, yaitu:

1. Persilangan Monohibrid
Persilangan dua individu dengan satu sifat berbeda. Persilangan
ini dibagi menjadi dua macam yaitu persilangan monohibrid dominan
dan monohibrid intermediet. Persilangan monohibrid berkaitan dengan
hukum Mendel I yaitu segregasi bebas (Pierce, 2008)
2. Persilangan Dihibrid
Persilangan antara dua individu sejenis yang melibatkan dua sifat
berbeda. Persilangan dihibrid sangat berhubungan dengan hukum Mendel
II yaitu independent assortment of genes (Suryo, 1996)

3. Persilangan gen terpaut seks


Gen terpaut kelamin adalah ekspresi fenotipik dari sebuah alel
yang berkaitan dengan kromosom kelamin suatu individu. Pewarisan
sifat ini berbeda dengan pewarisan sifat pada kromosom autosom karena
kedua jenis kelamin memiliki probabilitas yang sama dari pewarisan
tersebut. Wanita atau betina adalah kelamin homozigot (XX) sedangkan
pria atau jantan adalah kelamin heterozigot (XY). Gen pada kromosom X
atau Y disebut gen yang terpaut kelamin (Pierce, 2008).

2.4 Analisis X2
Metode Chi-kudrat adalah cara yang dapat dipakai untuk membandingkan
data percobaan yang diperoleh dari persilangan-persilangan dengan hasil atau
angka – angka yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Teknik ini
biasa digunakan untuk perhitungan hasil percobaan genetika. Chi-kuadrat adalah
uji nyata apakah data yang diperoleh benar menyimpang dari yang diharapkan,
tidak secara kebetulan. Perbandingan yang diharapkan (hipotesis) berdasarkan
pemisahan alel secara bebas, pembuahan gamet secara rambang dan terjadi
segregasi sempurna (Strickberger, 1962).
BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum terdapat dalam tabel 3.1

Tabel 3.1 Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum


Alat Bahan
 Botol biakan A  Eter
 Botol biakan B  Lalat buah A
 Botol media baru  Lalat buah B
 Botol pembius etherizer  Air deterjen
 Retherizer
 Botol isi air deterjen (morgue)
 Kuas
 Bantalan

3.2 Cara kerja

Mula - mula lalat jantan didalam botol biakan A dikawinkan dengan


lalat betina virgin dari botol biakan B. Lalat tersebut diamati
perkembangannya. Setelah muncul pupa F1, imago parental dipindahkan dari
botol biakan ke etherizer. Diteteskan cairan eter hingga lalat terbius dan
diletakkan di cawan petri. Lalat diamati fenotipenya. Dipilih lalat jantan dan
dimasukkan ke dalam botol media baru kemudian ditukarkan dengan teman
yang menjadi pasangan penyilangan lalat. Dipilih lalat betina yang masih
virgin lalu dimasukkan ke dalam botol medium baru bersama lalat jantan tadi.
Setelah pupa F1 sudah muncul, semua imago dikeluarkan. Dipindahkan ke
dalam etherizer dan diberi beberapa tetes eter. Imago yang mati dimasukkan
ke dalama morgue.
Fenotipe F1 diamati. Imago F1 dipindahkan ke botol media yang baru.
Ditulis NIM F1xF1, tanggal dan jenis persilangan. Setelah pupa F2 sudah
muncul, imago F1 dipindahkan ke dalametherizer dan diberi eter. imago yang
mati dimasukkan ke dalam morgue. Dicatat tanggal F2 pertama kali muncul.
Lalat dipindahkan ke dalam etherizer setiap satu atau dua hari. Dipindahkan
ke cawan petri dan dihitung jumlah lalat normal, mutan dan jumlah masing-
masing fenotipe lalat jantan dan betina. Lalat dimasukkan ke dalam morgue
setelah dihitung. Lalat dihitung sampai imago F2 lebih dari 300 ekor atau
setelah delapan hari sesudah imago F2 muncul pertama kali. Lalat ditentukan
jenis persilangannya. Kemudian dibuat diagram persilangan. Hasil
pengamatan dianalisis dengan chi-square (X2) untuk mengetahui hasil sesuai
perkiraan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Diagram Persilangan,


Parental : Mutan ♀Eyemissing >< Mutan ♂Miniature

P1 : ♀Eyemissing >< ♂Miniature


Gamet : XM XM e e Xm Y EE
XM e Xm E
YE

F1 : ♀ XM Xm Ee
♂ Xm Y Ee

F2 : Belum teramati

Dari diagram persilangan dapat dilihat bawah perkawinan antara lalat


mutan eyemissing betina dengan lalat mutan miniatur jantan akan
menghasilkan keturunan / anakan pada F1 100% berfenotip normal. Namun
hasil tersebut belum dapat dibuktikan karena sampai tanggal 13 Oktober 2017
hasil perkawinan nya baru mencapai tahap pupa dan belum menghasilkan
imago baru. F2 pun belum dapat dihitung karena kurangnya waktu
pengamatan.

4.1.2 Hasil Persilangan Drosophila


Hasil persilangan pada F2 belum dapat ditentukan karena belum terjadi
perkawinan antar F1 nya. F1 nya sendiri pun belum terbentuk dan masih
dalam tahap pupa. Hal ini diakibatkan karena kurangnya waktu pengamatan.
Pengamatan yang diberikan adalah sekitar 3 minggu. Namun pada dasarnya,
dapat kita ketahui proses perkawinan pada lalat sampai terbentuk imago baru
membutuhkan waktu 8-10. Sedangkan pada praktikum ini kita diharuskan
menyilangkan sesama F1 dan menghitung hasil F2 yang terbentuk. Untuk
mencapai F2 dibutuhkan waktu 16-20 hari jika normal tanpa ada kendala. Hal
ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor seperti suhu lingkungan yang terlalu
dingin karena pada suhu rendah, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
siklus hidupnya relatif lebih lama yaitu sekitar 18-20 hari. Hasil persilangan
Drosophila melanogaster terdapat pada Tabel 4.1.2 dibawah ini.

Tabel 4.1.2 Hasil pengamatan persilangan

Jumlah yang Jumlah


Fenotipe
teramati seharusnya
Miniatur jantan - -
Miniatur betina - -
Eyemissing jantan - -
Eyemissing betina - -
Eyemissing miniatur jantan - -
Eyemissing miniatur betina - -

4.1.3 Analisis X2
Hasil analisis X2 belum dapat ditentukan karena tidak adanya data yang
diperoleh dari hasil perkawinan.

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dibutuhkan betina virgin karena untuk memastikan
bahwa hasil F1 yang diharapkan pasti merupakan keturunan dari yang
disilangkan bukan dari parental sebelumnya. Selain itu karena lalat buah betina
memiliki spermateka yang berfungsi untuk menampung sperma. Betina akan
menyimpan sperma lalat jantan pada tubuhnya untuk dapat melakukan
pembuahan sendiri dalam kurun waktu tertentu (Geiger 2002).
Untuk menunjukkan apakah hasil pengamatan sesuai dengan hukum Mendel
maka hasil perhitungan X2 harus dibandingkan dengan tabel X2 dengan derajat
kebebasan. Namun pada praktikum kali ini tidak dapat dilakukan perhitungan
chi-square dikarenakan persilangan yang terjadi hanya sampai pada F1. Hasil
persilangan pada F2 belum dapat ditentukan karena belum terjadi perkawinan
antar F1 nya. F1 sendiri pun belum terbentuk dan masih dalam tahap pupa. Hal
ini diakibatkan karena kurangnya waktu pengamatan. Proses perkawinan lalat
dengan mutan lain pun terhambat karena tidak sama nya waktu senggang yang
dimiliki. Lalat baru dikawinkan sekitar 9 hari yang lalu dan mengalami kendala
karena selama 4 hari kedepan lalat yang ada dalam media baru terlihat sebagian
besar mati. Namun pada hari rabu tanggal 11 oktober 2017 saat diamati kembali
ternyata sudah terdapat banyak insar 3 dalam media tersebut.
Waktu pengamatan yang diberikan adalah sekitar 3 minggu. Namun pada
dasarnya, dapat kita ketahui proses perkawinan pada lalat sampai terbentuk
imago baru membutuhkan waktu 8-10. Sedangkan pada praktikum ini kita
diharuskan menyilangkan sesama F1 dan menghitung hasil F2 yang terbentuk.
Untuk mencapai F2 dibutuhkan waktu 16-20 hari jika normal tanpa ada kendala.
Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor seperti suhu lingkungan yang terlalu
dingin karena pada suhu rendah, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
siklus hidupnya relatif lebih lama yaitu sekitar 18-20 hari. Faktor lainnya juga
adalah pemberian ether yang berlebihan yang menyebabkan lalat tersebut mati
bukan pingsan, ketika pemindahan drosophila dari reetherizer menuju botol
media kondisi lalat belum sepenuhnya sadar dan menyebabkan ketika dimasukan
ke dalam botol media lalat belum dapat beradaptasi dengan botol media tersebut.
Botol morgue pada persilangan mutan Drosophila melanogaster berfungsi
untuk mematikan Drosophila serta mencegah terjadinya penyilangan di luar botol
media atau alam. Mutan lalat pada umumnya akan mengalami kesulitan untuk
bertahan hidup namun jika memungkinkan hidup maka mutan dapat berkembang
biak dan dapat mengganggu keberlangsungan hidup Drosophila melanogaster di
alam (Wolpert 2002).
BAB V
KESIMPULAN

Kesimpulan dari praktikum ini adalah:


1. Hasil perbandingan persilangan F2 pada persilangan Drosophila
melanogaster tidak dapat ditentukan karena belum ada data F2 yang
terbentuk
2. Hasil persilangan berdasarkan analisis X2 tidak dapat ditentukan karena
analisis chi-quare tidak dapat dilakukan karena tidak ada data F2 yang
terbentuk
3. Keberhasilan persilangan tidak dapat ditentukan apakah sesuai atau tidak
dengan hukum Mendel karena analisis chi-square pun tidak terbentuk
DAFTAR PUSTAKA

Aminullah, Erman. 2009. Perkembangan Penerapan Bioteknologi dan Rekayasa


Genetika Dalam Kesehatan. www.portalkable/files/cdk/html.diakses pada
tanggal 15 Oktober 2014.
Apriati, Prinka. 2014. Persilangan Drosophila melangogaster. Laporan
Praktikum Genetika (BI-2105). Bandung: ITB. hh. 2
Campbell, Neil A, et.al. 2002. BIOLOGY, Fifth Edition. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Geiger, Pete. 2002. Drosophila melanogaster – Introducing to The Unit.
http://biology.arizona.edu/sciconn/lessons2/lessons.html (Diakses pada 17
Oktober 2014).
Kusumaningsari, Brina et al., 2012. LALAT BUAH (Drosophila melanogaster).
Laporan akhir praktikum genetika. Fakultas Pertanian Peternakan:
Universitas Muhammadiyah. hh. 1
Peter J. Bowler, The Mendelian Revolution: The Emergency of Hereditarian
Concepts in Modern Science and Society (Baltimore: Johns Hopkins
University Press, 1989): chapters 2 & 3.
Pierce, Benjamin. 2008. Genetics. USA : W. H. Freeman.
Sisunandar, Ph.D. 2014. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto: UMP
Snustad, D. Peter. 2012. Principles of genetics Sixth Edition. USA: John Wiley &
Sons Inc.
Strickberger, M.W. 1962. Experiments in Genetics with Drosophila. John Wiley
and Sons. Inc., New York
Suryo, Ir. Genetika Manusia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta, 1990.
Wolpert, Lewis. 2002. Principles of Development 2nd Edition. New York: Oxford
University Press.
Yatim, Wildan. 2003. Genetika edisi ke 5. Bandung: Tarsito
LAMPIRAN

Data Compile Satu Kelompok


Nama Pariental Jumlah yang Jumlah Analisis X2
diamati (F1) seharusnya
Epril - - - -
Harfi Wildtype = 5 ekor Wildtype = 44 ekor 44 -
Taxi = 5 ekor
Dimas Wildtype = 5 ekor Wildtype = 43 ekor 43 -
Claret = 5 ekor
Tanti - - - -
Fiola - - - -