Anda di halaman 1dari 45

KIMIA ANALISA 2

CONTOH PERHITUNGAN ARGENTOMETRI

Disusun Oleh :

Kelompok 3

1. Irma Kurnia Sari (122017001)

2. Jul(122015012)

Dosen Pembimbing :

Ir. Hj. Ummi Kalsum, MT

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2017 / 2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas ridho dan
bimbingannya jugalah Makalah Contoh Perhitungan Argentometri ini dapat
diselesaikan. Contoh perhitungan argentometri ini dibuat dengan tujuan untuk
memenuhi tugas pada mata kuliah Kimia Analisa 2.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


membantu terlaksananya pembuatan Makalah contoh perhitungan Argentometri
ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat semua mahasiswa sebagai referansi
dalam materi untuk pembahasan argentometri khususnya contoh perhitungan
argentometri.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, untuk


itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari
pembaca.

Palembang, 10 Maret 2018

Penulis

ii
ARGENTOMETRI

1.1 Definisi Argentometri

Argentometri berasal dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak.


Pengertian Argentometri adalah titrasi pengendapan sample yang dianalisis dengan
menggunakan ion perak. Biasanya, ion-ion yang ditentukan dalam titrasi ini adalah
ion halida (Cl-, Br-, I-), atau untuk lebih jelas yang di maksud pada titrasi
argentometri yaitu suatu analisa volumetri yang didasarkan pada
reaksi pengendapan dengan AgNO3 sebagai larutan standar. Penentuan khalor,
brom dapat dilakukan dengan mentitrasi halogenida tersebut dengan AgNO3
dengan menggunakan indikator kalium khromat, ion khromat akan bereaksi dengan
ion perak, bila seluruh Cl telah diendapkan secara kuantitatif oleh ion Ag sehingga
titik akhir titrasi ditandainya dengan terbentuknya endapan merah dari
Ag2CrO4.Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil tirasinya
merupakan endapan atau garam yang sukar larut.Prinsip dasarnya adalah reaksi
pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan dan untuk mendapatkan hasil
pada titik akhir titrasi maka perlu di tambahkan indikator. Titrasi yang melibatkan
reaksi pengendapan hampir tak sebanyak titrasi yang melibatkan reaksi asam basa
dalam analisis titrimetri. Presipitimetri adalah cara titrasi dimana terjadi endapan.

Contoh : AgNO3 + NaCl  AgCl + NaNO3

Argentometri merupakan metode umum untuk menetapkan kadar halogenida dan


senyawa-senyawa lain yang membentuk endapan dengan perak nitrat (AgNO3)
pada suasana tertentu. Metode argentometri disebut juga metode pengendapan
karena pada argentometri memerlukan pembentukan senyawa yang relatif tidak
larut atau endapan. Reaksi yang mendasari titrasi argentometri adalah:

AgNO3 + Cl-  AgCl(s) +NO3-

Sebagai indikator, dapat digunakan kalium kromat yang menghasilkan warna


merah dengan adanya kelebihan ion Ag+. (Gandjar dan Rohman, 2007)

1
Argentometri dimana terbentuk endapan (ada juga argentometri yang tergolong
pembentukan kompleks) dibedakan menjadi tiga macam cara berdasarkan indikator
yang digunakan untuk penentuan titik akhir, yaitu cara atau metode Mohr, metode
Volhard, dan metode Fajans. Tiga macam cara dasar indikator yang dipakai untuk
penentuan titik akhir yaitu pada cara Mohr; indikator K2CrO4, titrant adalah
AgNO3, cara Volhard; indikator Fe3+, titrant KSCN atau NH4SCN dan cara Fajans
indikatornya ialah salah satu indikator adsorpsi menurut macam anion yang
diendapkan oleh Ag+, titrant AgNO3, pH tergantung dari macam anion dan
indikator yang dipakai.

Agentomentri atau Titrasi pengendapan adalah penetapan kadar zat yang


didasarkan atas reaksi pembentukan endapan dari komponen zat uji dengan titran
larutan titer perak nitrat. Pada argentometri, ion perak memegang peranan penting
dalam pembentukan endapan cara ini dipakai untuk penetapan kadar ion haliuda,
anion yang dapat membentuk endapan garam perak, atau untuk penetapan kadar
perak tersebut.
Reaksi yang menghasilkan endapan dapat digunakan untuk analisis secara
titrasi jika reaksinya berlangsung cepat, dan kuantitatif serta titik akhir dapat
dideteksi. Beberapa reaksi pengendapan berlangsung lambat dan mengalami
keadaan lewat jenuh. Tidak seperti gravimetri, titrasi pengendapan tidak dapat
menunggu sampai pengendapan berlangsung sempurna . hal yang penting juga
adalah hasil kali kelarutan harus cukup kecil sehingga pengendapan bersifat
kuantitatif dalam batas kesalahan eksperimen.
Reaksi samping tidak boleh terjadi demikian juga kopresipitasi. Keterbatasan
pemakaian cara ini disebabkan sedikit sekali indikator yang sesuai. Semua jenis
reaksi diklasifikasi berdasarkan tipe indikator yang digunakan untuk melihat titik
akhir .

2
1.2 Titrasi Pengendapan Argentometri

Kondisi titrasi
 Larutan yang dititrasi harus bereaksi netral ( pH = 6- 8 ).
 Dalam suasana asam konsentrasi ion CrO42- akan berkurang karena reaksi
2CrO42- + 2H+  2HCrO4-  Cr2O72- + H2O
 Dalam suasana basa akan terbentuk endapan peroksida :
2 Ag+ + OH-  2AgOH  AgO2 coklat + H2O
 Konsentrasi ion Cr2O42- harus tepat (0,01 M).

Bila konsentrasi Cr2O42- > 0,01 M titik akhir titrasi akan terjadi sebelum titik
ekivalensi. Bila konsentrasi ion Cr2O42- < 0,01 M maka titik akhir titrasi akan
terlambat ( melampaui titik ekivalensi ).

Titrasi metode ini digunakan untuk menentukan ion perak secara langsung atau
ion klorida secara tidak langsung. Kepada larutan klorida ditambahkan dengan
larutan AgNO3 berlebihan, kemudian kelebihan AgNO3 dititrasi dengan larutan
standar KSCN
Ag+ + Cl-  AgCl putih

Ag+sisa + CNS-  AgCNS putih

CNS- + Fe3+  Fe (CNS)2+ merah

Titrasi Volhard harus dilakukan dalam suasana asam nitrat untuk mencegah
hidrolisis indikator (ion Fe3+ ). Khusus pada penentuan klorida kita mempunya dua
kesetimbangan selama pentitrasian :
Ag+ + Cl-  AgCl
Ag+ + CNS-  AgCNS
Kelarutan AgCl > kelarutan AgCNS, sehingga terjadi reaksi :
AgCl + CNS  AgCNS + Cl-

3
Reaksi ini terjadi apabila titik akhir titrasi menyebabkan kadar Cl- rendah.
Untuk mencegah kesalahan pada saat menentukan kadar laruan yang akan dititrasi
maka dapat dilakukan hal – hal sebagai berikut :
 Endapan AgCl disaring
 Endapan AgCl dikoagulasi dengan pemanasan, setelah dingin disaring baru
dititrasi
 Menambahkan notro benzena. ( R.A.DAY Underwood. Analisis kimia
kuantitatif)

1.3 Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Pengendapan

a. Temperatur, kelarutan bertambah dengan naiknya temperatur.


b. Sifat pelarut. Garam anorganik lebih larut dalam air, berkurangnya
kelarutan di dalam pelarut organik dapat digunakan sebagai dasar
pemisahan dua zat.
c. Efek ion sejenis. Kelarutan endapan dalam air berkurang, jika larutan
tersebut mengandung satu dari ion-ion penyusun endapan.
d. Efek ion-ion lain. Endapan berrtambah kelarutannya bila dalam larutan
terdapat garam-garam yang berbeda dengan endapan.
e. Pengaruh pH. Larutan garam dari asam lemah tergantung pada pH larutan.
f. Pengaruh hidrolisis. Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air, akan
menghasilkan perubahan (H+), kation dari spesies garam mengalami
hidrolisis sehingga menambah kelarutannya.
g. Pengaruh kompleks. Kelarutan garam yang sedikit larut merupakan fungsi
konsentrasi zat lain yang membentuk kompleks dengan kation garam
tersebut.

4
1.4 Prinsip-Prinsip yang Mempengaruhi Pengendapan
a. Reaksi pengendapan merupakan reaksi yang salah satu produknya
berbentuk endapan. Endapan terjadi karena zat yang terjadi tidak sukar larut
di dalam air atau pelarutnya.
b. Kesetimbangan adalah keadaan dimana dua proses yang berlawanan terjadi
laju yang sama, akibatnya tidak terjadi perubahan bersih dalam system
kesetimbangan.
Prinsip dari argentometri adalah reaksi pembentukan endapan (precipítate =
presipitat) Titrasi pengendapan = Presipitumetri. Reaksi yang terjadi pada titrasi
tipe ini adalah reaksi-reaksi dimana terbentuk senyawa yang tidak larut. Meskipun
reaksi-reaksi dimana terbentuk senyawa yang tidak mudah larut banyak sekali,
tetapi yang dapat digunakan dalam analisa sedikit sekali. reaksi-reaksi tersebut
harus memenui syarat-syarat :
1. Endapan yang terbentuk praktis tidak larut
2. Proses terbentuknya endapan harus cepat (terbentuknya larutan lewat jenuh harus
tidak berpengaruh pada proses terbentuknya endapan).
3. Hasil titrasi tidak boleh dipengaruhi oleh proses adsorbs dan kopresipitasi.
4. Titik ekivalen dari titrasi harus dapat ditentukan.
Salah satu permasalahan titrasi pengendapan adalah menemukan indikator
yang cocok. dalam titrasi-titrasi yang meliabatkan garam-garam perak ada tiga
indikator yang telah sukses dikembangkan selama ini. Metode Mohr menggunakan
ion kromat untuk mengendapkan Ag2CrO4. Metode Volhard menggunakan ion Fe3+
untuk membentuk kompleks yang berwarba dengan tiosianat SCN‾. Dan metoda
Fajans menggunakan indikator – indikator adsorbsi.
T.a.t dapat ditentukan dengan cara :
1. Terbentuknya endapan yang berwarna (cara Mohr)
2. Terbentuknya senyawa berwarna yang larut (cara Volhard)
3. Menggunakan indicator absrobsi (cara Fajans)

5
1.5 Jenis Indikator Argentometri
Indikator adalah senyawa organik (umumnya) atau anorganik yang digunakan
dalam titrasi untuk menentukan dan menunjukkan titik akhir suatu titrasi. Dalam
pemakaiannya, indikator ada memberikan warna pada larutan misalnya pada
Kompleksometri atau juga berupa suatu endapan ini pada titrasi Argentometri.

a. Indikator kalium kromat K2CrO4


Titrasi argentometri dengan menggunakan indicator ini biasa disebut
sebagai argentoetri dengan metode Mohr. Ini merupakan titrasi langsung titrant
dengan menggunakan larutan standar AgNO3. Titik akhir titrasi diamati dengan
terbentuknya endapan Ag2CrO4 yang brwarna kecoklatan.

b. Indikator Fe3+
Titrasi argentometri dengan indicator ini disebut sebagai titrasi argentometri
dengan metode volhard. Titrasi ini merupakan titrasi tidak langsung dimana larutan
standar AgNO3 ditambahkan secara berlebih dan kelebihan ini dititrasi dengan
larutan standart SCN-.

c. Indikator adsorbsi
Titrasi argentometri dengan indicator adsorbsi disebut sebagai titrasi
argentometri dengan menggunakan metode Fajans. Indikator yang dipakai adalah
indicator adsorbsi Dimana indicator ini akan berubah warnanya jika teradsorbsi
pada permukaan endapan.
Selain menggunakan teknik diatas maka titrasi argentometri juga dapat
dilakukan dengan menggunakan indicator yang berupa indicator electrode. Plot
antara Esel dengan jumlah titran akan dapat diperoleh kurva titrasi dengan grafik
ini maka kita nantinya dapat menentukan titik akhir titrasi.

d. Indikator Adsorbsi Pada Titrasi Argentometri

Pada titrasi argentometri dengan metode Fajans, Jika AgNO3 ditambahkan


pada larutanNaCl yang mengandung flourescein maka titik akhir titrasi akan
diamati dengan perubahan warna dari kuning cerah ke merah muda. Warna endapan
yang terlihat akan tampak berwarna sedangkan larutannya tampak tidak berwarna

6
hal ini disebabkan adanya indikator adsorbsi yang teradsorb pada permukaan
endapan AgCl.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan indikator:

1. Ikatan antara indikator dengan ion logam haruslah lebih lemah dari ikatan
antara ion logam dengan EDTA misalnya (antara ion dalam larutan titran
dan ion dalam larutan titrat).
2. Indikator harus sensitif, misalnya dengan adanya kelebihan sedikit dari ion
larutan titran maka dapat segera bereaksi.
3. Indikator harus memberikan warna spesifik yang perubahan warna
nantinya juga harus tampak tajam dan jelas, sehingga TA dapat diamati
dengan baik.
4. Reaksi substitusi juga harus berjalan dengan cepat agar TA dapat
mendekati nilai TE.

1.6 Macam Macam Metode Argentometri

Tergantung dari tujuan penetapan kadar, maka dikenal 3 macam metoda


argentometri, yaitu : metode Mohr, metode Volhard, dan metode Fajans.

1.6.1 Metode Mohr


Titrasi Mohr terbatas untuk larutan dengan nilai pH antara 6 – 10. Dalam
larutan yang lebih basa perak oksida akan mengendap. Dalam larutan asam
konsentrasi ion kromat akan sangat dikurangi, karena HCrO4 hanya terionisasi
sedikit sekali. Lagi pula hidrogen kromat berada dalam kesetimbangan dengan
dikromat :
2H+ + 2CrO42-2HCrO4  Cr2O72- + H2O

Mengecilnya konsentrasi ion kromat akan menyebabkan perlunya menambah ion


perak dengan sangat berlebih untuk mengendapkan perak kromat, dan karenanya
menimbulkan galat yang besar. Pada umumnya garam dikromat cukup dapat larut
(Svehla, 1990).

7
Metode Mohr dapat juga diterapkan untuk titrasi ion bromida dengan perak,
dan juga ion sianida dalam larutan yang sedikit agak basa. Efek adsorpsi
menyebabkan titrasi ion iodida dan tiosianat tidak layak. Perak tak dapat dititrasi
langsung dengan ion klorida, dengan menggunakan indikator kromat. Endapan
perak kromat yang telah ada sejak awal, pada titik kesetaraan melarut kembali
dengan lambat. Tetapi, orang dapat menambahkan larutan klorida standar secara
berlebih, dan kemudian menitrasi balik, dengan menggunakan indikator kromat.
Metode Mohr biasanya digunakan untuk menitrasi ion halide seperti NaCl,
dengan AgNO3 sebagai titran dan K2CrO4 sebagai indikator. Titik akhir titrasi
ditandai dengan adanya perubahan warna suspensi dari kuning menjadi kuning
coklat. Perubahan warna tersebut terjadi karena timbulnya Ag2CrO4 saat hamper
mencapai titik ekivalen, semua ion Cl- hampir berikatan menjadi AgCl. Laruta
standar yang digunakan dalam metode ini, yaitu AgNO3, memiliki normalitas 0,1
N dan 0,05 N.
Indikator menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan titran,
sehingga terbentuk endapan yang berwarna merah bata, yang menunjukkan titik
akhir karena warnanya berbeda dari warna endapan analat dengan Ag+.

Pada analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi :

Ag+(aq) + Cl-(aq)  AgCl(s)

Sedang pada titik akhir, titran juga bereaksi menurut reaksi :

2Ag+(aq) + CrO42-(aq)  Ag2CrO4(s)

Pengaturan pH sangat perlu, agar tidak terlalu rendah ataupun tinggi. Bila
terlalu tinggi, dapat terbentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi
Ag2O sehingga titran terlalu banyak terpakai.

2Ag+(aq) + 2OH-(aq)  2AgOH(s) Ag2O(s) + H2O(l)

8
Bila pH terlalu rendah ion CrO42- sebagian akan berubah menjadi Cr2O72-
karena reaksi :

2H+(aq) + 2CrO42-(aq)  Cr2O72- + H2O(l)

Yang mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak timbul


endapannya atau sangat terlambat.
Selama titrasi Mohr, larutan harus diaduk dengan baik. Bila tidak, maka
secara local akan terjadi kelebihan titran yang menyebabkan indikator mengendap
sebelum titik ekivalen tercapai, dan dioklusi oleh endapan AgCl yang terbentuk
kemudian, akibatnya ialah bahwa titik akhir menjadi tidak tajam.

1.6.2 Metode Volhard

Titrasi Ag dengan NH4CNS dengan garam Fe(III) sebagai indikator adalah


contoh metode Volhard, yaitu pembentukan zat berwarna di dalam larutan. Selama
titrasi, Ag(CNS) terbentuk sedangkan titik akhir tercapai bila NH4CNS yang
berlebih bereaksi dengan Fe(III) membentuk warna merah gelap (FeCNS)++.
Jumlah thiosianat yang menghasilkan warna harus sangat kecil. Jadi kesalahan pada
titik akhir harus sangat kecil, dengan cara mengocok larutan dengan kuat pada titik
akhir tercapai, agar Ag yang teradsorpsi pada endapan dapat didesorpsi.
Pada metode Volhard untuk menentukan ion klorida, suasana haruslah asam
karena pada suasana basa Fe3+ akan terhidrolisis. AgNO3 yang ditambahkan
berlebih ke larutan klorida tentunya tidak bereaksi. Larutan Ag tersebut kemudian
di titrasi balik dengan menggunakan Fe(III) sebagai indikator, tetapi cara ini
menghasilkan suatu kesalahan karena AgCNS kurang larut dibandingkan AgCl.
Sehingga :
AgCl + CNS- AgCNS + Cl-

Akibatnya lebih banyak NH4CSN diperlukan sehingga kandungan Cl- seakan-akan


lebih rendah. Kesalahan ini dapat dikurangi dengan mengeluarkan endapan AgCl
sebelum titrasi balik berlangsung atau menambahkan sedikit nitrobenzen, sehingga
melindungi AgCl dari reaksi dengan thiosianat tetapi nitrobenzen akan

9
memperlambat reaksi. Hal ini dapat dihindari jika Fe(NO3)3 dan sedikit NH4CSN
yang diketahui ditambahkan dulu ke larutan bersama-sama HNO3, kemudian
campuran tersebut dititrasi dengan AgNO3 sampai warna merah hilang (Khopkar,
1990) Metode Volhard menggunakan NH4SCN atau KSCN sebagai titran, dan
larutan Fe3+ sebagai indikator. Sampai dengan titik ekivalen harus terjadi reaksi
antara titran dan Ag, membentuk endapan putih.

Ag+(aq) + SCN-(aq)  AgSCN(s) (putih)

Sedikit kelebihan titran kemudian bereaksi dengan indikator, membentuk ion


kompleks yang sangat kuat warnanya (merah).

SCN-(aq) + Fe3+(aq)  FeSCN2+(aq)

Yang larut dan mewarnai larutan yang semula tidak berwarna.


Karena titrannya SCN- dan reaksinya berlangsung dengan Ag+, maka dengan
cara Volhard titrasi langsung hanya dapat digunakan untuk penentuan Ag+ dan
SCN- sedang anion-anion lain harus ditempuh cara titrasi kembali. Pada larutan X-
ditambahkan Ag+ berlebih yang diketahui pasti jumlah seluruhnya, lalu ditititrasi
untuk menentukan kelebihan Ag+. Maka titran selain dengan bereaksi dengan Ag+
tersebut, mungkin bereaksi pula dengan endapan AgX.

Ag+(aq) (berlebih) + X-(aq)  AgX(s)

Ag+(aq) (berlebih) + SCN-(aq) (titran)  AgSCN(s)

SCN-(aq) + AgX(s)  X-(aq) + AgSCN(aq)

Bila hal ini terjadi, tentu saja terdapat kelebihan titran yang bereaksi dan juga titik
akhirnya melemah (warna berkurang).
Konsentrasi indikator dalam titrasi Volhard juga tidak boleh sembarang,
karena titran bereaksi dengan titrat maupun dengan indikator, sehingga kedua reaksi
saling mempengaruhi.
Penerapan terpenting cara Volhard ialah untuk penentuan secara tidak
langsung ion-ion halogenida. Perak nitrat standar berlebih yang diketahui

10
jumlahnya ditambahkan sebagai contoh, dan kelebihannya ditentukan dengan titrasi
kembali dengan tiosianat baku. Keadaan larutan yang harus asam sebagai syarat
titrasi Volhard merupakan keuntungan dibandingkan dengan cara-cara lain.
Penentuan ion halogenida karena ion-ion karbonat, oksalat, dan arsenat tidak
mengganggu sebab garamnya larut dalam keadaan asam.

1.6.3 Metode Fajans

Metode ini dipakai untuk penetapan kadar halida dengan menggunakan


indikator adsobsi. Jika AgNO3 ditambahkan ke NaCl yang mengandung zat
berpendar fluor, titik akhir ditentukan dengan berubahnya warna dari kuning
menjadi merah jingga. Jika didiamkan, tampak endapan berwarna, sedangkan
larutan tidak berwarna disebabkan adanya adsobsi indikator pada endapan AgCl.
Warna zat yang terbentuk dapat berubah akibat adsorpsi pada permukaan (Harjadi,
1993).
Metode ini adalah suatu halogen dengan AgNO3 membentuk endapan perak
halogenida yang pada titik equivalen dapat mengabsorpsi berbagai zat
warna,dengan demikian terjadi perubahan warna. Klorida dapat dititrasi dengan
indicator flouresen bromida,iodide dan thiosianat dapat dititrasi dalam suasana
asam lemah.(Prof.Dr.Ibnu Gholib Gandjar,DEA.,Apt,2009)
Kurva titrasi.
Bila kita alurkan volume titransebagai absis dan pAg atau pX (X =anion yang
di endapkan oleh Ag+) sebagai ordinat,maka akan diperoleh kurva titrasi. Di situ
titrant ialah AgNO3 dan yang di titrasi adalah NaCl. Perhitungan koordina adalah
sebagai berikut :
a) Awal : pCl = -log [NaCl] ; misal [NaCl]= 0,1 maka pCl = 0,1
b) Sebelum titik akhir : Ag+ + Cl- ↔ AgCl
Y (a – n) + y n–y
Di mana a = mmol Cl- semula (jumlah analitis)
n = mmol Ag+ yang telah di tambahkan
y = mmol Ag+ yang tak terendapkan sebagai akibat
kesetimbangannya;

11
Maka jumlah AgCl yang terendap (tanpa kesetimbangan)ialah n mmol. Boleh
dibayangkan,bahwa kemudian y mmol AgCl larut kembali untuk memenuhi hokum
kesetimbangan ,dengan membentuk kembali y mmol Ag+dan Cl-. Maka dalam
keadaan setimbang terdapat y mmol Ag+ dan (a – n) + y mmol Cl-,sehingga :
. = Ksp AgCl (W.Harjadi, 1993)
Indicator adsorbs pada titrasi pengendapan
Jika AgNO3 ditambahkan pada NaCl yang mengandung zat berpendar
flour,titik akhir di tentukan dengan berubahnya warna dari kuning menjadi merah
jingga. Jika didiamkan,tampak endapan berwarna,sedangkan larutan tidak
berwarna disebabkan adanya adsorbsi indicator pada endapan AgCl. Warna yang
terbentuk dapat berubah akibat adsorbs pada permukaan. Dengan indicator
anion,reaksi tersebut :
Jika Cl yang berlebih :(AgCl)Cl- + FL tidak bereaksi (jika FL =C20H11O5 yaitu zat
berpendapat flour)Jika Ag+ yang berlebihan (AgCl)
Ag+ +FL (AgCl)(AgFL)adsorbsi
(S.M.Khopkar, 2007)
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikena ladalah
melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion
perak. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu
titrasi penentuananalit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan
menggunakan larutan standart perak nitrat AgNO3. Titras iargentometr itidak hanya
dapat digunakan untuk menentukan ion halide akan tetapi juga dapat dipaka iuntuk
menentukan merkaptan (thioalkohol), asamlemak, dan beberapa anion divalent
seperti ion fosfat PO43- dan ion arsenat AsO43-.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah
larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi
penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dar ianalit
membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl :
Ag(NO3)(aq) + NaCl(aq)  AgCl(s) + NaNO3(aq)
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan
bereaksi dengan indicator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat
CrO42- dimanadengan indicator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna

12
coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Inikator lain yang bisa
dipakai adalah tiosianida dan indicator adsorbsi. Berdasarkan jenis indicator dan
teknik titrasi yang dipakai maka titrasi argentometri dapat di bedakan atas
Argentometri dengan metode Mohr,Volhard,atau Fajans. Selain menggunakan jenis
indicator diatas maka kita juga dapat menggunakan metode potensi ometri untuk
menentukan titik ekuivalen.
Dalam titrasi Fajans digunakan indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi adalah
zat yang dapat diserap pada permukaan endapan (diadsorpsi) dan menyebabkan
timbulnya warna. Penyerapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekivalen, antara
lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH.
Cara kerja indikator adsorpsi ialah sebagai berikut : indikator ini ialah asam
lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak.
Misalnya fluoresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan,
fluoresein akan mengion (untuk mudahnya ditulis HFI saja).

HFI(aq)  H+(aq) + FI-(aq)

Ion FI- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan endapan
berwarna merah muda. Karena penyerapan terjadi pada permukaan, dalam titrasi
ini diusahakan agar permukaan endapan itu seluas mungkin supaya perubahan
warna yang tampak jelas, maka endapan harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi
apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif, dengan kata lain setelah sedikit
kelebihan titran (ion Ag+).
Pada tahap-tahap pertama dalam titrasi, endapan terdapat dalam lingkungan
dimana masih ada kelebihan ion X- dibanding dengan Ag+, maka endapan menyerap
ion-ion X- sehingga butiran-butiran koloid menjadi bermuatan negatif. Karena
muatan FI- bermuatan negatif maka FI- tidak dapat ditarik atau diserap oleh butiran-
butiran koloid tersebut. Makin lanjut titrasi dilakukan, makin kurang kelebihan ion
X-, menjelang titik ekivalen, ion X- yang terserap endapan akan lepas kembali
karena bereaksi dengan titran yang ditambah saat itu, sehingga muatan koloid
makin berkurang negatif. Pada titik ekivalen tidak ada kelebihan X- maupun Ag+,
jadi koloid menjadi netral. Setetes titran kemudian menyebabkan kelebihan Ag+.
Ion-ion Ag+ yang diserap oleh koloid yang menjadi positif dan selanjutnya dapat

13
menarik ion FI- dan menyebabkan warna endapan berubah mendadak menjadi
merah muda. Pada waktu bersamaan sering juga terjadi penggumpalan koloid,
maka larutan yang tadinya berwarna keruh juga menjadi jernih atau lebih jernih.
Fluoresein sendiri dalam larutan berwarna hijau kuning sehingga titik akhir dalam
titrasi ini diketahui berdasarkan ketiga macam perubahan di atas, yaitu :
a. Endapan yang semula putih menjadi merah muda dan endapan kelihatan
menggumpal.
b. Larutan yang semula keruh menjadi lebih jernih.
c. Larutan yang semula kuning hijau hampir-hampir tidak berwarna lagi.
Suatu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi ialah, bahwa banyak
diantara zat warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka terhadap cahaya
(fotosensifitasi) dan menyebabkan endapan terurai.
Titrasi menggunakan indikator adsorpsi biasanya cepat, akurat dan
terpercaya. Sebaliknya penerapannya agak terbatas karena memerlukan endapan
berbentuk koloid yang juga harus bisa terbentuk dengan cepat.
Suatu reaksi pengendapan dapat dikatakan berkesudahan, jika kelarutan
endapannya cukup kecil. Di dekat titik ekivalensinya, konsentrasi ion-ion yang
dititrasi akan mengalami perubahan-perubahan besar. Permasalahan yang mungkin
dihadapi adalah pemilihan indikator yang baik.
Ada beberapa cara untuk menentukan saat tercapai titik ekivalen pada titrasi
pengendapan:
1. Dengan pembentukan endapan berwarna (cara Mohr)
2. Dengan pembentukan persenyawaan berwarna yang larut (cara Volhard)
3. Dengan indikator adsorbs (cara Fajans)
Pada proses disinfeksi air, sering digunakan klor, karena harganya murah dan
mempunyai daya disinfeksikan sampai beberapa jam setelah pembubuhan (residu
klor). Selama proses tersebut klor direduksi hingga menjadi klorida (Cl-) yang tidak
mempunyai daya disinfektan, disamping klor juga bereaksi dalam keadaan bebas
(Cl2, OCl-, HOCl) dan keadaan terikat (NH4Cl, NHCl2, NCl3). Klor terikat
mempunyai daya disinfektan yang tidak seefisian klor bebas.
Pada titrasi dengan pembentukan endapan berwarna (cara Mohr) akan
terbentuk endapan baru yang berwarna. Metode Mohr dapat digunakan untuk

14
menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral dengan larutan standar
AgNO3 dan penambahan K2CHO4 sebagai indikator. Pada titrasi ion Ag yang
berlebih akan diendapkan dengan warna merah bata. Larutan bersifat nitrat atau
sedikit basa, tetapi tidak boleh terlalu basa. Pada kondisi yang cocok, metode Mohr
cukup akurat dan dapat digunakan pada konsentrasi klorida yang rendah. Pada jenis
titrasi ini, endapan indikator berwarna harus lebih larut dibanding endapan warna
yang terbentuk selama titrasi. Titrasi dengan cara ini harus dilakukan dalam suasana
netral atau dengan sedikit alkalis, pH 6,5 – 9,0. Dalam suasana asam, perak kromat
larut karena terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan terbentuk endapan
perak hidroksida.
Reaksi yang terjadi adalah :
Asam : 2CrO42-+ 2H- ↔ CrO72- + H2O
Basa : 2 Ag+ + 2 OH- ↔ 2 AgOH + 2AgOH ↔ Ag2O + H2O
Sesama larutan dapat diukur dengan natrium bikorbonat atau kalsium
karbonat. Larutan alkalis diasamkan dulu dengan asam asetat atau asam borat
sebelum dinetralkan dengan kalsium karbonat. Meskipun menurut hasil kali
kelarutan iodida dan tiosianat mungkin untuk ditetapkan kadarnya dengan cara ini.
Namun oleh karena perak lodida maupun tiosanat sangat kuat menyerang kromat,
maka hasilnya tidak memuaskan. Perak juga tidak dapat ditetapkan dengan titrasi
menggunakan NaCl sebagai titran karena endapan perak kromat yang mula-mula
terbentuk sukar bereaksi pada titik akhir. Larutan klorida atau bromida dalam
suasana netral atau agak katalis dititrasi dengan larutan titer perak nitrat
menggunakan indikator kromat. Apabila ion klorida atau bromida telah habis
diendapkan oleh ion perak, maka ion kromat akan bereaksi membentuk endapan
perak kromat yang berwarna coklat/merah bata sebagai titik akhir titrasi. Sebagai
indikator digunakan larutan kromat K2CrO4 0,003M atau 0,005M yang dengan ion
perak akan membentuk endapan coklat merah dalam suasana netral atau agak
alkalis. Kelebihan indikator yang berwarna kuning akan menganggu warna, ini
dapat diatasi dengan melarutkan blanko indikator suatu titrasi tanpa zat uji dengan
penambaan kalsium karbonat sebagai pengganti endapan AgCl.
Pada titrasi dengan pembentukan persenyawaan berwarna yang larut (cara
Volhard) kesalahan pada titik akhir sangat kecil, tetapi larutan harus dikocok

15
dengan kuat pada titik akhir, agar Ag+ yang teradsorpsi pada endapan dapat
diadsorpsi. Metode Volhard didasari oleh pengendapan dari perak tiosianat dalam
asam nitrit, dengan ion besi (III) dipergunakan untuk mendeteksi kelebihan ion
tiosianat. Metode Volhard dipergunakan secara luas untuk perak dan klorida
mengingat titrasinya dapat dijalankan dalam larutan asam. Merkurium merupakan
kation yang lazim mengganggu dalam metode Volhard.
Pada titrasi dengan indikator adsorpsi (cara Fajans) diketahui jika AgNO3
ditambahkan ke NaCl yang mengandung zat berpendar fluor, titik akhir ditentukan
dengan berubahnya warna dari kuning menjadi merah jingga. Jika didiamkan,
tampak endapan berwarna, sedangkan larutan tidak berwarna disebabkan adanya
adsorpsi indikator pada endapan AgCl. Warna zat yang terbentuk dapat berubah
akibat adsorpsi pada permukaan. Kelebihan dari indikator adsorpsi adalah
memberikan kesalahan yang kecil pada penentuan titik akhir titrasi. Perubahan
warna yang disebabkan adsorpsi indikator biasanya tajam. Adsorpsi pada
permukaan berjalan baik jika endapan memiliki luas permukaan yang besar. Warna
adsorpsi tidak begitu jelas jika endapan terkoagulasi, misalnya dengan adanya
muatan ion yang besar.

Perbedaan metode Mohr , Volhard, dan Fajans

Metode Mohr Metode volhard Metode fajans

Pinsip dasar titrasi larutan ion Larutan sampel Cl- Larutan sampel
Cl- oleh larutan , Br-, I-/SCN- Cl-, Br-, I-/SCN
baku AgNO3, diperlakuan dititrasai dengan
indicator K2CrO4 dengan larutan larutan baku
baku AgNO3 AgNO3
berlebih.
Kelebihan dititrasi
kembali dengan
KSCN

16
Indicator Larutan K2CrO4, larutan Fe3+/larutan Indicator adsorbs
(titran ialah AgNO3) Fe(II), (titran ialah seperti cosin
KSCN atau fluorosein,
NH4SCN) difluorosein

Persamaan Ag++ Cl- AgCl  Ag++ X- AgX  Ag++ X- AgX


reaksi
Ag+ + CrO4-  Ag+ + SCN-  AgX//Ag+ +
Ag2CrO4  (coklat Ag2SCN (putih) cosin, AgX/Ag-
kemerahan) cosinat (biru
Fe3+ + SCN-
kemerahan).
Fe(SCN)2+ merah
darah

Syarat [CrO4-] = 1.1 x 10-2 Dalam suasana Adsorbs harus


M asam nitrat. khusus terjadi sesudah
penentuan I- TE. Tida ada
[CrO4-] > 1.1 x 10-2
indicator baru garam lain yang
M
diberikaan setelah menyebabkan
Terjadi sebelum TE ion I- mengendap koagulasi. Dapat
dan sebaliknya. semua, karena I- digunaan pada
pH=6-8 dapat pH=4. Endapan
dioksidasikan oleh berupa koloidal.
Jika pH<6 [CrO4-]
Fe3+
berkurang.

2H+ + CrO4-
2HCrO4-

Cr2O72- + H+. Jika


pH > 10 akan
membentuk AgOH /
Ag2O

17
Penggunaan Penentuan Cl- atau Penentuan Cl-, Br-, Penentuan Cl-,
Br-, I- tak dapat I-, SCN- Br-, I-, SCN-
ditentukan karena I-
terabsorbsi kuat
oleh endapan, sama
untuk SCN.

1.7 Aplikasi Argentometri Dalam Analisis Obat dan Bahan Obat Beserta
Contoh Obatnya

Dalam dunia farmasi, metode argentometri dapat digunakan dalam


penetapan kadar suatu sediian obat. Contohnya ammonium klorida , fenderol
hidrobromida , kalium klorida , klorbutanol , meftalen , dan sediaan tablet lainnya.

1. Penetapan kadar amonium klorida (NH4Cl) dengan metode argentometri

Ditimbang seksama ±100 mg sampel ,larutkan dalam 100ml air,dipipet


10ml larutan kedalam erlenmeyer 250 ml ,ditambahkan larutan sampel dengan
0,5-1ml larutan K2CrO4 5%,dititrasi larutan dengan larutan AgNO3 0,1 N hingga
titik akhir tercapai,dihitung kadar amonium klorida.

2.Penetapan Kadar Efedrin HCL Metode Pengendapan (Argentometri)

Ditimbang 250 mg efedrin HCl ,Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 250


ml,Dipipet 20 ml larutan Efedrin HCl ,Ditambahkan 3 tetes indikator K2CrO4
,Dititrasi dengan larutan AgNO3 hingga terjadi perubahan warna dari kuning
sampai terbentuk endapan merah bata.

3. Penetapan Papaverin HCL Dengan Metode Argentometri

Ditimbang seksama sempel papaverin HCL yang setara dengan 10ml


AgNO3 0,1 N ,larutkan dengan 100ml air suling ,tambhkan indikator K2CrO4
0,005 M dan titrasi dengan AgNO3 0,1 N. Titik akhir titrasi ditandai dengan
perubahan warna dari kuning menjadi merah coklat atau merah bata.

18
1.8 Contoh Perhitungan

1.8.1 Contoh Metode Mohr

1. Akan ditentukan kemurnian (kadar) NaCl dalam garam dapur. Seberat 1,0
g sampel garam

dilarutkan dalam air sampai 100,0 mL . Sebanyak 10,0 mL larutan tersebut


dititrasi dengan larutan baku AgNO3 0,1100 N dengan cara Mohr. Untuk
larutan sampel membutuhkan pentiter 9,60 mL

sedangakan untuk blangko 0,10 mL . jika Mr. NaCl = 58,5 tentukan kadar
NaCl dalam sampel garam tersebut dalam % b/b

JAWAB

Vol. Pentiter yang diperlukan = 9,60 – 0,10 = 9,50 mL

Dari rumus di atas , maka : [Cl-] = N = 0,1056 M

Jadi kadar NaCl = [Cl-] = 0,1056 M = 0,1056 mol /L, atau dalam 100 ml sampel
mengandung

NaCl = 100/1000 x 0,1056 mol = 0,01056 mol = 0,01056 x 58,5 g = 0, 62 g

= 0,62 / 1,0 x 100 % = 62 %

19
2. Tabel Data.

NaCl (gr) AgNO (ml) indikator Perubahan warna

0,057 9,2 ml
Kuning menjadi
0,054 10 ml K2CrO4 merah
K2CrO4

Reaksi :

Cara Mohr
NaCl + AgNO3 AgCl + NaNO3
(endapan putih)

2AgNO3 + K2CrO4 Ag2CrO4 + 2 KNO3


(endapan merah)

 Diketahui :
Massa NaCl = 57 mg

Konsentrasi NaCl = 0,0954 N

Volume AgNO3 = 9,2 ml

m grek NaCl setara dengan m grek AgNO3

Ditanya : % NaCl = .....?

Jawab :
% kadar NaCl = V x N x Bst x 100 %
Bs x Fk

= 9,2 ml x 0,0954 N x 5,844 mg x 100 %


57 mg x 0,1

20
= 5,0176 x 100 %

5,7

= 92,9218 %

 Diketahui :
Massa NaCl = 54 mg
Konsentrasi NaCl = 0,0954 N
Volume AgNO3 = 10 ml

Ditanya : % Kadar NaCl = ....?

Jawab :
% kadar NaCl = V x N x Bst x 100 %
Bs x Fk

= 10 ml x 0,0954 N x 5,844 mg x 100 %


54 mg x 0,1

= 5,575176 x 100 %
5,4

=103,244 %

21
Pembahasan :

Pada metode argentometri cara Mohr ini sample yang digunakan yaitu NaCL.
Cara ini biasanya digunakan terutama dalam penentuan klorida dan bromide.
Digunakan 2 berat (massa) NaCl yang berbeda yaitu 57 mg dan 54 mg. pertama-
tama NaCl ditimbang dengan neraca analitik, setelah itu dilarutkan dalam 10 ml
air suling. Sampel larut dalam air suling. Setelah itu ditambahkan 3 tetes kalium
kromat (K2CrO4) sebagai indicator, warna larutan menjadi kuning. Kemudian
dititrasi dengan AgNO3 sambil dokocok/digoyang sampai tepat membentuk
endapan merah bata. Untuk NaCl 57 mg digunakan AgNO3sebanyak 10 ml dan
9,2 ml untuk NaCl 54 mg.

Bila suatu larutan klorida dititrasi dengan larutan AgNO3 maka akan terjadi reaksi
Ag+ + Cl– AgCl
Titik akhir titrasi dapat dinyatakan dengan indicator larutan K2CrO4 yang dengan
ion Ag+berlebih menghasilkanendapan AgCl yang berwarna putih mulai berubah
menjadi kemerah-merahan. Titrasi harus dilakukan dalam suasana netral atau basa
lemah dengan pH antara 6,5 – 9, dengan begitu garam perak kromat tidak akan
terbentuk.
Dari hasil perhitungan diperoleh kadar NaCl yaitu 98,0829%. Berdasarkan
literatur, kadar tersebut tidak sesuai yaitu seharusnya tidak kurang dari 99% dan
tidak lebih dari 101,0%. Hal ini mungkin terjadi karena NaCl yang ditimbang
tidak dalam keadaan kering. Atau kurang teliti dalam menentukan titik akhir
titrasi serta penambahan indikatornya tidak secara seksama, sehingga akan
mempengaruhi hasil titrasi

22
3. Tabel Data

Berat sampel Vol. larutan baku


No sampel
(MgCl2) AgNO3

I 50,3 mg 6,7 ml

II 50,9 mg 7,9 ml

Perubahan warna Kuning Merah bata

Reaksi
MgCl2 + K2CrO4 Mg2CrO4 + 2 KCl (Kuning)
MgCl2 + 2AgNO3 2AgCl + Mg(NO3)2 (Putih kekuningan)
AgNO3 + K2CrO4 Ag2CrO4 + 2 KNO3 (Merah bata)

Perhitungan
% kadar = V x N x berat setara x 100%
Berat sampel

 Untuk MgCl2 berat Sampel 50,3 mg

% kadar = V x N x Bst x 100 %


Berat sampel
= 6,7 x 0,1492 x 47,605 x 100 %
50,3
= 47,58 x 100 %
50,3
= 94,5 %

 Untuk MgCl2 berat Sampel 50,9 mg

23
% kadar = V x N x Bst x 100 %
Berat sampel
= 6,9 x 0,1492 x 47,605 x 100 %
50,9
= 51,13 x 100 %
50,9
= 101,6 %

Kadar rata-rata :
K = ( K1 + K2 ) / 2

= ( 94,5 % + 101,6 % ) / 2

= ( 196,1 % ) / 2

= 98,05 %

Pembahasan :
Argentometri merupakan analisis volumetri berdasarkan atas reaksi
pengendapan dengan menggunakan larutan standar argentum. Atau dapat
juga diartikan sebagai cara pengendapan atau pengendapan kadar ion
halida atau kadar Ag+ itu sendiri dari reaksi terbentuknya endapan dan zat
uji dengan titran AgNO3.
Pada metode titrasi ditambahkan larutan indikator pada zat
uji.Indikator adalah suatu senyawa organik yang kompleks yang
digunakan untuk menentukan titik akhir suatu reaksi. Titik akhir titrasi
adalah suatu keadaan dimana penambahan satu tetes larutan baku dapat
menyebabkan perubahan warna pada indikator. Indikator memiliki rentang
pH tertentu dan dapat berubah warna dengan adanya perubahan pH dari
larutan uji. Pada percobaan inin digunakan indikator K2CrO4.

24
Standarisasi larutan AgNO3 dengan NaCl merupakan titrasi yang
termasuk dalam presipitimetri jenis argentometri. Cara pengendapan yang
digunkan dalam percobaan ini adalah cara mohr karena dipakai dalam
penentuan clorida yaitu MgCl2. Pada cara mohr nantinya akan terlihat
endapan merah bata yang larutannya dititrasi dengan larutan baku AgNO3.
Pada percobaan argentometri ini ditimbang sampel MgCl2sebanyak
50,3 mg dan 50,9 mg. Titrasi dilakukan secara diplo (dua kali percobaan)
agar dapat diketahui jumlah larutan baku (titran) yang digunakan pada
percobaan pertama dan kedua yang nantinya kan dibandingkan bahwa
apakah jarak (selisih) antara titrasi kedua dan pertama lebih sedikit atau
cukup besar. Sampel yang telah ditmbang kemudian dilarutkan dengan
aquadest sebanyak 10 ml lalu ditambahkan 3 tetes indikator K2CrO4,
alasan penggunaan indikator ini adalah untuk mengetahui titik akhir titrasi
saat dilakukannya penitrasian. Kemudian sampel dititrasi menggunakan
larutan baku AgNO3 dimana, dengan ion perak yang berlebih maka akan
terbentuk endapan berwarna merah bata.
Larutan AgNO3 dan larutan MgCl2, pada awalnya masing-masing
merupakan larutan yang jernih dan tidak berwarna.Larutan kemudian
berubah menjadi kuning mengikuti warna K2CrO4 yang merupakan
indikator pada percobaan ini.
Setelah dititrasi dengan AgNO3, awalnya terbentuk endapan
berwarna putih yang merupakan AgCl.Ketika MgCl2 sudah habis bereaksi
dengan AgNO3, sementara jumlah AgNO3 masih ada, maka
AgNO3 kemudian bereaksi dengan indikator K2CrO4 membentuk endapan
Ag2CrO4 yang berwarna merah bata.
Dalam titrasi ini, titrasi perlu dilakukan secara cepat dan
pengocokan harus juga dilakukan secara kuat agar Ag+ tidak teroksidasi
menjadi AgO yang menyebabkan titik akhir titrasi menjadi sulit tercapai.
Setelah terjadi perubahan warna merah bata, maka titrasi
dihentikan, sehingga diperoleh data volume AgNO3 untuk masing –
masing percobaan adalah sebagai berikut :
1. MgCl2 dengan berat 50,3 mg

25
Volume AgNO3 sebanyak 6,7 ml
2. MgCl2 dengan berat 50,9 mg
Volume AgNO3 sebanyak 7,9 ml
Setelah itu dihitung kadar MgCl2 dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :

% kadar = V x N x Bst x 100 %


Berat sampel

Hasil perhitungan dari kadar MgCl2 untuk setiap sampel, yaitu :


1. MgCl2 dengan berat 50,3 mg , Volume AgNO3 sebanyak 6,7 ml
Kadar = 94,5 %
2. MgCl2 dengan berat 50,9 mg, Volume AgNO3 sebanyak 7,9 ml
Kadar = 101,6 %
Sehingga diperoleh hasil perhitungan kadar rata-rata MgCl2 yaitu 98,05 %.

4. Tabel Data

Labu V V N V rata- Perubahan Warna


NaCl AgNO3 AgNO3 rata Endapan
AgNO3
awal akhir

1 25 ml 44,2 mL 0,1 N (44,2 + Kuning Putih pucat


44) merah bata

2 25 ml 44 mL 0,1 N 44,1 mL Kuning Putih pucat


merah bata

Diketahui :

V AgNO3 = 44,1 mL
N AgNO3 = 0,1 N
V NaCl = 25 mL
BE NaCl = 58,44 gr/mol
Mg contoh = 1gr = 1000 mg

26
Ditanya :

a. Standarisasi AgNO3 dengan NaCl (indikator K2CrO4)


b. Penentuan NaCl dalam garam dapur (cara Mohr)

Jawab :

a. Standarisasi AgNO3 dengan NaCl (indikator K2CrO4)


AgNO3 Ag+ + NO3-

𝑉1+𝑉2
V AgNO3 = 2

44,2+44 𝑚𝐿
= 2

= 44,1 mL

N NaCl . V NaCl = N AgNO3. V AgNO3


𝑁 AgNO3 . VAgNO3
N NaCl = 𝑉 𝑁𝑎𝐶𝑙
0,1 𝑁 𝑥 44,1 𝑚𝐿
= 25 𝑚𝐿

= 0,1764 N

b. Penentuan NaCl dalam garam dapur (cara Mohr)


NaCl Na+ + Cl-

𝑉 AgNO3 x NAgNO3 x BE NaCl


Kadar NaCl = x 100 %
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ
44,1 𝑚𝐿 𝑥 0,1 𝑁 𝑥 58,44 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙
= x 100%
1 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑙
0,0441 𝐿 𝑥 0,1 𝑥 58,44 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙
𝑒𝑘
= x 100%
1 𝑔𝑟𝑎𝑚

27
= 25,77 %

Jadi, kadar banyaknya NaCl sebanyak 25,77%

5. Menghitung galat pada metode mohr


Diketahui :
N (praktik) AgNO3 : 0,00739 N
N (teori) AgNO3 : 0,01 N

Ditanya : Galat …?

Penyelesaian :

𝑁 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘−𝑛 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖
Galat = x 100%
𝑁 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘
0,00739−0,01
= x 100%
𝑜,00739

= 35,31%

Jadi pada metode mohr ini terdapat galat sebesar 35,31%

28
6. Standarisasi larutan perak nitrat dengan Natrium Klorida 0,01 N
Metode Mohr

Diketahui :
N Nacl : 0,01 N
V rata-rata AgNO3 : 16,9
V NaCl : 12,5

Ditanya : N AgNO3…?

Penyelesaian :

V1 x N1 = V2 x N2
12,5 x 0,01 = 16,9 x N2
N2 = 0,00739

Jadi, konsentrasi perak nitrat setelah dilakukan standarisasi adalah 0,00739


N

29
1.8.2 Contoh Metode Volhard

1. Seberat 0,10 g senyawa garam magnesium bromida berair kristal murni


( MgBr2 . n H2O )

dilarutkan dalam air sampai 10,0 mL. Seluruh larutan tersebut dititrasi secara
Argentometri dengan cara Volhard. Setelah ditambah 11,0 mL Ag+ 0,1020 N
lalu dititrasi dengan larutan standar KSCN , 0.0150 N ; ternyata dibutuhkan
1,50 ml . Hitung n Ar: Mg = 24 , Br = 73 H = 1 dan O = 16 ) ( Bantuan :
dalam air : MgBr2. n H2O → Mg2+ + 2 Br - + n H2O )

JAWAB :

Mr. MgBr2 . n H2O = 170 + 18 n

[ SCN - ] yang bereaksi dengan kelebihan Ag + = 0,1050 N x 1,50 mL =


0,1575 molek

Ag+ total untuk mentiter Br - dan SCN- = 0,1020 N x 11 mL = 1,1220


mmolek

Sehingga Ag+ untuk mentiter Br - = 1,1220 – 0,1575 = 0,9645 mmolek

Dari proses titrasi : mmolek Br - = mmolek Ag+ = 0,9645

Jadi [ Br -] dalam sampel = 0,9645 mmolek = 0,9645 mmol

Dari proses perurain zat dalam air : [ MgBr2 ] = ½ x [ Br -] = ½ x 0,9645 =


0,4823 mmol

Jadi berat zat = 0,4823 mmol x ( 170 + 18 n ) mg = ( 82 + 8,68 n ) mg

Berat sampel = 0,10 gram = 100 mg

Sehingga : 100 = ( 82 + 8,68 n ) ; maka n = = 2

30
2. Tabel Data :

KBr Perubahan
(gr) indikator warna
HNO3(ml) AgNO3(ml)

Bening
menjadi hijau
0,105 2 15 FeNH4- pucat
(SO4)2

Reaksi :

AgNO3 + KBr AgBr + KNO3


AgNO3 + KSCN AgSCN + KNO3
(endapan putih)

3AgSCN + Fe3+ Fe (SCN)3 + 3Ag+


( larutan merah)

Perhitungan:
Diketahui :
Massa KBr = 0,105 mg

V. AgNO3 = 15 ml

V. KSCN = 7,7 ml

N. AgNO3 = 0,0954 N

N. KSCN = 0,0929 N

m grek KBr setara dengan m grek AgNO3

KBr = m grek AgNO3 – m grek KSCN

31
BE

= ( 15 ml x 0,0954 ) – ( 7,7 ml x 0,0929)

= 1,4310 – 0,7153

= 0,7154

m grek = mg x Mr.KBr
BE

m KBr = 0,7154 x 119,01

= 42,5699 x 100%
100 ml

% Kemurnian = 42,69

Pembahasan :

Titrasi cara ini dilakukan secara tidak langsung, dimana ion halogen
diendapkan oleh ion Ag+ yang berlebihan. Kelebihan ion perak lalu dititrasi
dengan larutan KSCN. Titrasi harus dilakukan dalam suasana asam berlebih.
Pada percobaan ini, jumlah KBr yang digunakan yaitu0,105 gram. Kemudian
sample dilarutkan dalam air suling sebanyak 10 ml. sample larut dalam air
suling. Sample ditambah 2 ml asam nitrat, larutan tetap bening. Kemudian
sample ditambahkan 15 ml AgNO3 dan ditambahkan 3 tetes besi(III)
ammonium sulfat sebagai indicator, akan terbentuk endapan hijau pucat
dengan larutan berwarna bening
Setelah dihitung, kadar KBr didapatkan sebesar 42,5699%. Berdasarkan
literatur, kadar KBr yang seharusnya yaitu tidak kurang dari 98,5% KBr yang
ditimbang dari zat yang telah dikeringkan. Hal ini mungkin terjadi karena

32
KBr yang ditimbang tidak dalam keadaan kering. Atau kurang teliti dalam
menentukan titik akhir titrasi serta penambahan indikatornya tidak secara
seksama, sehingga akan mempengaruhi hasil titrasi

3. Penentuan NaCl dalam garam dapur (cara Volhard)

Lab V V N V rata-rata Perubahan Warna Endapan


u NaCL KSCN KSCN KSCN
Awal Akhir

1 25 mL 2,7 mL 01 N (2,7 + 2,6 Putih Putih


) bening

2 25 mL 2,6 mL 0,1 N 2,65 mL Putih Putih


bening

Diketahui :

V KSCN = 2,65 mL
N KSCN = 0,1 N
V NaCl = 25 mL
BE NaCl = 58,44 gr/mol
Mg contoh = 1gr = 1000 mg

33
Ditanya :

a. Standarisasi KSCN dengan NaCl


b. Kadar NaCl

Penyelesaian :
a. Standarisasi KSCN dengan NaCl
𝑉1 𝑥 𝑉2
V KSCN = 2

2,7+2,6 𝑚𝐿
= 2

= 2,65 mL

N NaCl . V NaCl = N KSCN .V KSCN


𝑁 𝐾𝑆𝐶𝑁 . 𝑉 𝐾𝑆𝐶𝑁
N NaCl = 𝑉 𝑁𝑎𝐶𝑙
0,1 𝑁 𝑥 2,65 𝑚𝐿
= 25 𝑚𝐿

= 0,011 mL

𝑉 𝐾𝑆𝐶𝑁 𝑥 𝑁 𝐾𝑆𝐶𝑁 𝑥 𝐵𝐸 𝑁𝑎𝐶𝑙


b. Kadar NaCl = 𝑥 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ

𝑔𝑟
2,65 𝑚𝐿 𝑥 0,1 𝑁 𝑥 58,44
𝑚𝑜𝑙
= x 100%
1 𝑔𝑟𝑎𝑚

𝐿
0,00265 𝐿 𝑥 0,1 𝑥 58,44 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙
𝑒𝑘
= x 100%
1 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 1,55 %

34
1.8.3 Contoh Metode Fajans

1. Diketahui :
N NaCl : 0,01 N
V rata-rata AgNO3 : 15,86
V NaCl : 12,5 mL

Ditanya : N AgNO3 …?

Penyelesaian :
V1xN1 = V2 x N2
12,5 x 0,01 = 15,86 x N2
0,125 = 15,86 x N2
0,00788 = N2

Jadi konsentrasi perak nitrat setelah dilakukan standarisasi adalah 0,00788


N

2. Menghitung galat pada metode fajans

Diketahui :
N (praktik ) AgNO3 : 0,00788 N
N (teori) AgNO3 : 0,,01 N
Ditanya : Galat …?

Penyelesaian :
𝑁 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘−𝑁 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖
Galat = x 100%
𝑁 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘
0,00788−0,01
= x 100%
0,00788

= 26,90 %
Jadi pada metode ini terdapat galat sebesar 26,90%

Contoh Soal :

35
Standardisasi larutan NaCl dengan menggunakan larutan standard AgNO3

Penambahan AgNO3
Tbg Perlakuan
Sebelum Setelah
Berwarna merah bata
I 10 mL larutan NaCl +
V AgNO3 = 9,13 mL
5 tetes indikator larutan K2CrO4 Berwarna kuning
II V AgNO3 = 9,10 mL
III V AgNO3 = 8,98 mL

1. Sebelum larutan NaCl sebanyak 10 mL yang sudah ditambahkan dengan 5 tetes larutan
indikator K2CrO4 dititrasi dengan larutan AgNO3, mula-mulanya larutan NaCl berwarna
kuning. Namun setelah dititrasi dengan larutan AgNO3, larutan NaCl akan berubah
warnanya dan menghasilkan larutan yang berwarna merah bata pada penambahan
volume larutan AgNO3 yang sama untuk 3 kali pengulangan.

Diketahui : Volume titrasi = 9,13 mL ; 9,10 mL ; 8,98 mL

N NaCl ( N1 ) = 0,01 N
Volume NaCl ( V1 ) = 10 mL

Jadi, yang perlu dicari adalah normalitas dari AgNO3. Persamaan yang
digunakan adalah :

 ek analit =  ek titran

 ek NaCl =  ek AgNO3

N1 . V1 = N2 . V2

Oleh sebab itu,berikut ini adalah perhitungan normalitas AgNO3 dari standarisasi dengan
NaCl.

a. Volume titrasi 9,13 mL


 ek NaCl =  ek AgNO3

36
N1 . V1 = N2 . V2

V1 10 mL
N2  x N1  x 0,01 N  0,01 N
V2 9,13 mL

b. Volume titrasi 9,10 mL


 ek NaCl =  ek AgNO3

N1 . V1 = N2 . V2

V1 10 mL
N2  x N1  x 0,01 N  0,01 N
V2 9,10 mL

c. Volume titrasi 8,98 mL


 ek NaCl =  ek AgNO3

N1 . V1 = N2 . V2

V1 10 mL
N2  x N1  x 0,01 N  0,01 N
V2 8,98 mL

Dari perhitungan normalitas AgNO3 -nya dapat dicari rerata normalitas AgNO3 -
nya dan standar deviasinya, yaitu :

 Rerata Normalitas AgNO3


N1  N 2  N 3 0,01  0,01  0,01 0,03
N     0,01 N
3 3 3

 Standar Deviasi

37
2
 (N i - N )
S 
n -1
(0,01 - 0,01) 2  (0,01 - 0,01) 2  (0,01 - 0,01) 2

3 -1
0  0  0 0
 
2 2
 0

Menetapkan kadar/kemurnian NaCl dalam garam dapur kotor dengan


menggunakan metode Mohr

Penambahan AgNO3
Tbg Perlakuan
Sebelum Setelah
10 mL larutan NaCl Berwarna merah bata
I
(garam dapur kotor) + V AgNO3 = 6,53 mL
Berwarna kuning
II 5 tetes indikator larutan K2CrO4 V AgNO3 = 6,48 mL
III V AgNO3 = 6,51 mL

2. . Mula-mula larutan garam dapur kotor yang sudah yang sudah diencerkan
diambil sebanyak 10 mL dari sampel larutan garam dapur kotor tersebut
dan ditambahkan dengan larutan indikator K2CrO4 sebanyak 5 tetes
adalah berwarna kuning. Namun setelah dititrasi dengan larutan AgNO3,
larutan garam kotor tersebut akan berubah warnanya dan menghasilkan
larutan yang berwarna merah bata pada penambahan volume larutan
AgNO3 yang berbeda-beda untuk 3 kali pengulangan.

Diketahui : Volume titrasi = 6,53 mL ; 6,48 mL ; 6,51 mL

BE NaCl dalam garam dapur kotor = Mr = 1 mol/ek .


58,5 g/mol = 58,5 g/ek

Berat cuplikan = 0,293 gram

38
N AgNO3 = 0,01 N

Jadi, yang perlu dicari adalah kadar/kemurnian dari NaCl dalam


garam dapur kotor. Persamaan yang digunakan adalah :

 mek analit =  mek titran

 ek NaCl =  ek AgNO3

berat NaCl 500 mL


x  V . N AgNO 3
BE 10 mL

Oleh sebab itu, berikut ini adalah perhitungan kadar/kemurnian dari NaCl
dalam garam dapur kotor.

a. Volume titrasi 6,53 mL = 6,53.10-3 L

 ek NaCl =  ek AgNO3

berat NaCl (g) 10 mL


x  V . N AgNO 3
BE 500 mL
berat NaCl
x 0,02  6,53.10 -3 L . 0,01 ek/L
58,5 g/ek
0,02 x berat NaCl
 6,53 .10 -5 ek
58,5 g/ek
6,53 . 10 -5 ek x 58,5 g/ek
berat NaCl 
0,02
3,82005.10 -3 g

0,02
 0,19 gram

berat NaCl
kemurnian (k) NaCl dalam garam dapur kotor  x 100%
berat sampel
0,19 gram
 x 100%
0,2 gram
 95 %

39
b. Volume titrasi 6,48 mL = 6,48.10-3 L

 ek NaCl =  ek AgNO3
berat NaCl (g) 10 mL
x  V . N AgNO 3
BE 500 mL
berat NaCl
x 0,02  6,48.10 -3 L . 0,01 ek/L
58,5 g/ek
0,02 x berat NaCl
 6,48 . 10 -5 ek
58,5 g/ek
6,48 . 10 -5 ek x 58,5 g/ek
berat NaCl 
0,02
3,7908.10 -3 g

0,02
 0,19 gram

berat NaCl
kemurnian (k) NaCl dalam garam dapur kotor  x 100%
berat sampel
0,19 gram
 x 100%
0,2 gram
 95 %

c. Volume titrasi 6,51 mL = 6,51.10-3 L

 ek NaCl =  ek AgNO3

40
berat NaCl (g) 10 mL
x  V . N AgNO 3
BE 500 mL
berat NaCl
x 0,02  6,51.10 -3 L . 0,01 ek/L
58,5 g/ek
0,02 x berat NaCl
 6,51 .10 -5 ek
58,5 g/ek
6,51 . 10 -5 ek x 58,5 g/ek
berat NaCl 
0,02
3,80835.10 -3 g

0,02
 0,19 gram

berat NaCl
kemurnian (k) NaCl dalam garam dapur kotor  x 100%
berat sampel
0,19 gram
 x 100%
0,2 gram
 95 %

Dari perhitungan dapat dicari rerata kadar/kemurnian dari NaCl dalam


garam dapur kotor, yaitu :

Rerata kemurnian kadar/kemurnian dari NaCl dalam garam dapur kotor.

k1  k 2  k 3 95%  95 %  95% 285%


 k     95%
3 3 3

41
1.9 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesalahan Argentometri

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi kesalahan pada saat praktikum


adalah :
a. Alat yang digunakan tidak steril
b. Bahan yang digunakan sudah terkontaminasi dengan zat yang lain
c. Kurangnya ketelitian praktikan pada saat melakukan percobaan baik pada saat
penimbangan maupun pada saat titrasi
d. Kurang teliti pada saat membaca volume titrasi

1.10 Kelebihan dan kekurangan titrasi argentometri

Titrasi pengendapan adalah anilisis titrimetri berdasarkan proses


terbentuknya endapan antara reagen dengan analit dan reagen dengan indikator
dengan warna yang berbeda. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi pengendapan
adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran
ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang menggangu titrasi, tetapi
ditambah dengan titik akhir titrasi yang mudah diamati.

Adapun dalam titrasi pengendapan terdapat kelebihan dan kekurangan yang


signifikan, diantaranya :

- Jumlah metode titrasi pengendapan tidak sebanyak titrasi asam-basa ataupun


titrasi reduksi-oksidasi (redoks).
- Kesulitan dalam mencari indikator yang sesuai dalam titrasi pengendapan.
Komposisi endapan pada titrasi pengendapan seringkali tidak diketahui
pasti, terutama jika terdapat efek kopresipitasi.

42
DAFTAR PUSTAKA

Underwood, A. L dan R. A. Day, JR. 1996. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi


Kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga.

indigomorie. 2009. Titrasi Pengendapan: Argentometri.


http://kimiaanalisa.web.id//Titrasi-Pengendapan-Argentometri.html.

Svehla,G. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi Ke Lima. PT.
Kalman Media Pusaka : Jakarta.

Harizul, Rivai. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Universitas Indonesia Press 22 :


Jakarta.

Husein. 2014. Argentometri. http://kampungilmu-fst12.web.unair.ac.id/


artikel_detail-92363-Kimia%20Analitik-ARGENTOMETRI.html, Diakses pada
tanggal 6 April 2016.

Wikipedia. 2014. Argentometri. http://wikipedia.com/argentometri.html. diakses


pada tanggal 10 April 2016

43