Anda di halaman 1dari 4

Pembinaan ketahanan Nasional

Ketahanan nasional suatu bangsa dan Negara akan kuat dan kokoh, jika di lakukan upaya
pembinaan/pengembangan terhadap setiap getra (bidang)nya secara terencana, terpadu dan
berkesinambungan. Sehubungan dengan hal ini, pembinaan ketahanan nasional menggunakan
pendekatan asta gatra (8 aspek) yang merupakan keseluruhan dari aspek-aspek kehidupan bangsa dan
Negara. Pembinaan terhadap astra gatra tersebut dapa di jelaskan sebagai berikut :

1. Pembinaan gatra ideologi


Pengertian ideology
Secara sederhana ideology dapat diartikan dengan impian seseorang (sekelompok orang)
tentang masa depan. Karena itu, suatu ideology ada yang baik dan ada juga yang kurang/tidak
baik. Menurut Dr. alvian (mantan ketua LIPI), suatu ideology yang baik setidaknya 3 (tiga) aspek
nilai, yakni :
1) Aspek idealisme,: artinya ideology tersebut harus bertujuan baik.
2) Aspek realita,: artinya tujuan ideology tersebut harus bersifat realistis (mungkin
diwujudkan)
3) Aspek fleksibilitas,: artinya nilai yang di miliki ideology tersebut harus fleksibel (terbuka),
sehingga dapat menyelesaikan diri dengan perubhan yang terjadi dengan masyarakat
penganutnya.

Jika suatu ideology memenuhi ketiga aspek di atas berarti ideology tersebut di katakana
ideology yang baik, maju dan modern. Komunisme misalnya jelas bukan ideology yang baik,
karena tidak memenuhi ketiga aspek nilai di atas. Sebaliknya pancasila diyakini memiliki ketiga
aspek nilai di atas.

Ancaman yang dihadapi


Ancaman terhadap ketahanan bidang ideology dapat dihadapkan baik pada nilai dasar
(fundamental) pada nilai instrumental dan pada nilai pengalaman (fraksis). Ancaman terhadap
nilai dasar ideology pancasila berarti ancaman terhadap dalil-dalil pokok pancasila tersebut,
seperti dalil ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan social. Kemudian
ancaman terhadap nilai instrumental, berarti jika sarana dan lembaga-lembaga yang
memungkinkan terlaksananya nilai-nilai dasar tidak sesuai atau bertentangan dengan
nilai-nilai dasar pancasila tersebut. Misalnya masih di gunakannya sebagian aturan hukum
produk colonial (belanda) saat ini yang sebagian besar bertentangan dengan nilai dasar
pancasila, terutama dengan nilai ketuhanan (Agama).

Selanjutnya ancaman terhadap nilai fraksi adalah kendatipan nilai-nilai instrumentalnya juga
telah di sesuaikan dengan nilai dasar, akan tetapi tidak di laksanakan dalam praktik (kenyataan).
Misalnya dalam hal penanggulangan korupsi di Indonesia, begitu juga halnya dengan
perkembangan koperasi yang di katakana sebagai “sokoguru” ekonomi nasional.

Pembinaan yang harus di lakukan


Terhadap ancaman nilai dasar, maka pembinaan yang harus di lakukan adalah semua nilai dasar
pancasila harus di rumuskan kembali maknanya secara jernih dan sistematis, sehingga dapat
menangkal setiap ancaman dari nilai-nilai ideology lain yang saat ini sangat mudah masuk ke
dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Kemudian terdapat ancaman pada nilai instrumental, maka pembinaan yang harus dilakukan
adalh bahwa semua konsesus nasional sejak 1945 sampai “jatuh”nya rezim order baru tahun
1989 harus di tinjau kembali dan di sesuaikan kembali dengan nilai dasar idiologi pancasila,
sehingga dapat sesuai dengan perkembangan dan tantangan masyarakat serta dapat di wariskan
nantinya pada generasi-generasi berikutnya.

Sedangkan ancaman terhadap nilai pengalaman (fraksis), maka semua nilai-nilai dasar yang
telah disesuaikan dengan pancasila tersebut harus di laksanakan dalam kenyataan kehidupan
sehari-hari terutama oleh pemimpin bangsa baik formal mau pun informal di semua tingkatan
masyarakat.

b. pembinaan gtra politik

pengertian politik

secara etimologi, kata politik (politics) berasal dari kata yunani kuno, yakni “polis” yang berarti
Negara (kota) dan “tain” yang berarti urusan. Jadi politik adalah segala hal yang berurusan
(berhubungan) dengan kekuasaan/Negara. Namun secara umum politik di artikan dengan cara
(usaha) untuk mewujudkan cita-cita atau idiologi (soelistyati ismail gani, 1987:12). Dalam
pembahasaan ini karena politik di artikan dengan ketahanan, maka yang di maksud adalah
ketahanan system politik.

Ketahanan pada (system) politik di artikan sebagai kondisi dinamika kehidupan politik bangsa
yang berisi keuletan, tantangan dan hambatan serta gangguan yang dapat membahayakan
kelangsungan hidup politik bangsa dan Negara RI berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Ancaman gatra politik

Ancaman terjadi jika system politik yang berlaku tidak dapat melaksanakan fungsi-fungsi
pokoknya yakni fungsi integrasi dan fungsi adaptasi. Fungsi integrasi di artikan mempersatukan
di antara komponen-komponen politik yang ada terutama antara pemerintah dnegan
masyarakat sedangkan fungsi adaptasi adalah menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
yang terjadi di dalam masyarakat.

Indikasi adanya ancaman terhadap system politik, antara lain berkembangnya berbagai bentuk
ketidak percayaan/ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah, terjadi berbagai aksi
kerusakan dan sebagainya.

Pembinaan yang di lakukan


Kelemahan utama perkembangan system politik di Negara-negara berkembang teramasuk di
Indonesia adalah terlalau domain dan luasnya kekuasaan pemerintah (presiden) sehingga
melahirkan berbagai bentuk penyelewengan kekuasaan dan keuangan Negara (KKN). Hal ini
sesuai dengan aksioma politik dari Lord Acton yang menyatakan: power tands to corrupt
absolute power tands to corrupt absolutely.

Karena itu upaya pembinaan yang utaman terhadap gatra politik adalah bagaimana memberikan
pengaturan dan pembatasan yang tegas dan jelas terhadap wewenang dan kekuasaan presiden
serta memberdayakan kekuatan-kekuatan rakyat, seperti parpol, per, LSM, perguruan tinggi dan
sebagainya.sehingga jalannya kekuasaan Negara senantiasa dapat di control secara baik dan
efektif.

3.Pembinaan getra ekonomi


 Ancaman yang di hadapi
Getra ekonomi dapat di katakana sebagai gatra mata rantai paling lemah dari mata
rantai ketahanan nasional Indonesia secara keseluruhan saat ini. Kondisi tersebut terjadi
terutama di sebabkan kebijaksanaan pembangunan ekonomi nasional selama order
Baru yang terlalu berorientasi pada pembangunan ekonomi yang tinggi serta
peningkatan Gross Domestic Bruto (pendapatan perkapitan rata-rata nasional).
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut, maka pembangunan ekonomi
sangat diprioritaskan ekspor. Akibatnya adalah bahwa pertumbuhan ekonomi memang
melonjak serta pendapatan perkapitan nasional juga meningkat tajam, tetapi semua itu
ternyata terjadi karena munculnya para konglomerat-konglomeratyang sangat kaya.
Akhirnya yang terjadi adalah kesenjangan ekonomi yang sangat menyolok dan lemahnya
fundamental ekonomi nasional, karena sector riil yang menyangkut hajat hidup orang
banyak selama ini terbaik. Kemudian perkembangan ekonomi nasional juga ditandai
dengan utang luar negri yang sangat besar serta tidak seimbangnya neraca ekspor-
impor, yang akibatnya perkembangan ekonomi nasional sangat rentang terhadap
perkembangan moneter internasional.
 Pembinaan yang harus di lakukan
Sehingga dengan perkembangan ekonomi nasional yang sangat parah dan rapuh saat
ini, maka upaya pembinaan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan perubahan
mendasar terhadap paradigma membangunan ekonomi nasional dari pembangunan
ekonomi makro dan mengejar pertumbuhan ke pembangunan ekonomi kerakyatan
dengan berorientasi pada sector pertanian dan agro industry serta dengan lebih
mengacu aspek pemerataan hasil pembangunan dalam arti yang luas.
4. pembinaan gatra social dan budaya
 Pengertian
Social dan budaya (kebudayaan) adalah dua hal yang berbeda kendatipun saling terkait
erat. Sosial (society) diartikan dengan suatu kesatuan masyarakat yang hidup bersama
dan saling berinteraksi dalam waktu yang cukup lama, memiliki tujuan bersama serta
diikat oleh aturan-aturan khusus. Sedangkan kebudayaan secara umum diartikan
dengan hasil cipta, karya dan karsa manusia. Karena rumusan ini sangat luas, maka
dalam pembahasan ini kebudayaan diartikan dalam pengertian sempit yakni kebiasaan-
kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara berulang-ulang dalam
waktu yang cukup lama dan kebiasaan tersebut dianggap bernilai baik serta ingin
dipertahankan.
 Ancaman yang dihadapi
Seiring dengan era globalisasi, maka ancaman terhadap garta social budaya Indonesia
saat ini juga semakin besar. Apalagi sikap mental bangsa Indonesia yang umumnya
cenderung menilai segala yang datang dari barat itu selalu lebih unggul dan patut ditiru
(sikap mental replika). Lebih parah lagi adalah bahwa peniruan umumnya ditunjukkan
bukan pada inti budaya Barat (seperti hargai waktu, profesional dan lain-lain), akan
tetapi lebih pada akses dari budaya barat serta, liberal materialistik.
 Pembinaan yang dilakukan
Pembinaannya adalah terutama dengan meningkatkan pemahaman, kesadaran dan
penghargaan terhadap nilai-nilai bangsa sendiri. Yakni nilai luhur budaya Pancasila yang
selalu menjaga keseimbangan yang harmonis antara hubungan manusia dengan dirinya,
dengan masyarakat, dengan tuhan serta keseimbangan antara kemajuan fisik material
dengan kesejahteraan mental spiritual dan keseimbangan antara kepentingan dunia
dengan akhirat.

5. pembinaan gatra pertahanan dan keamanan


 Pengertian
Pertahanan dan keamanan adalah dua hal yang berbeda, tetapi saling terkait erat.
Pertahanan di artikan diartikan dengan upaya untuk menggagalkan dan meniadakan
setiap ancaman bangsa dan Negara terutama yang datang dari luar negeri. Strategi
Indonesia dalam bidang pertahanan ini bersifat defensive aktif, artinya Indonesia tidak
menunggu untuk diserang Negara lain. Tetapi secara aktif melakukan operasi (inteligen
dan militer) untuk menghancurkan