Anda di halaman 1dari 46

Pengantar

Kehidupan dengan permasalahannya yang cenderung semakin kompleks telah


mendorong manusia secara terus menerus menemukan alternative terbaik untuk
mengatasinya dan menjawab semua persoalan yang ada. Masa lalu yang memberikan
kontribusi terhadap persoalan kekinian serta masa depan yang tidak pasti menuntut
manusia menemukan bukti-bukti dan hal-hal baru. Jika keingintahuan tersebut
ditindaklanjuti dengan melakukan pengamatan dan atau percobaan yang
diorganisasikan secara sistematis maka disebut dengan tindakan penelitian (ilmiah).
Mempelajari metodologi penelitian memberikan manfaat : pertama, agar
keputusan-keputusan yang dibuat dalam kehidupan lebih baik; kedua, melatih
manusia untuk berpikir ilmiah, bersikap skeptic, analitik dan kritis. Dalam prakteknya
banyak cara untuk mengungkapkan pertanyaan, juga banyak cara sistematis yang
dapat digunakan untuk menyelidiki pertanyaan itu. Demikian pula banyak
kemungkinan untuk memberikan interpretasi terhadap jawaban atas pertanyaan
tersebut. Dengan demikian tugas penelitian adalah bertanya dengan menggunakan
pertanyaan yang tepat, memilih strategi atau cara terbaik untuk mendapatakan
jawaban, dan menginterpretasikan temuannya sebagai dasar pembuatan keputusan.
Dua jenis pendekatan penelitian yang dikenal dalam penelitian, yaitu
pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif cocok
digunakan bila permasalahannya sudah jelas, datanya teramati dan terukur.
Sedangkan pendekatan kualitatif lebih cocok digunakan pada permasalahan yang
masing belum jelas, kompleks, dan dinamis. Metode kuantitatif dan kualitatif bisa
digunakan secara bersamaan dalam penelitian kebijakan meskipun paradigmanya
berbeda tetapi kedua metode dapat digunakan pada obyek yang sama dengan tujuan
berbeda. Beberapa sub-bidang studi kebijakan seperti kebijakan pendidikan,
kebijakan kesehatan, kebijakan perumahan & permukiman, kebijakan pengentasan
kemiskinan, serta kebijakan sosial ekonomi lainnya telah mempergunakannya metode
campuran tersebut.
Buku ini membahas secara singkat mengenai bagaimana sejarah munculnya
pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan campuran. Mengapa penelitian kebijakan harus
mempergunakan pendekatan campuran, ciri-ciri pendekatan kuantitatif dan kualitatif,
perbedaan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta analisis dan langkah-
langkahnya. Semoga tulisan singkat ini membawa manfaat bagi kita semua.

Semarang, Desember 2012

Penulis
I. Pendahuluan

1.1. Hakekat Penelitian (research)

Kata research secara etimologis berasal dari kata “re” yang berarti
kembali, lagi, berulang-ulang, dan “search” yang artinya mencari, menjelajahi,
menemukan makna. Kata research inilah yang diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia menjadi “riset’ dan disepadankan dengan “penelitian” yang dalam
bahasa Perancis disebut rechecher. Maka dilihat dari asal katanya riset
(penelitian) berarti mencari atau menemukan makna kembali secara berulang-
ulang.
Dalam kamus Oxford (1995) disebutkan bahwa research adalah tindakan
melakukan studi atau investigasi untuk mendapatkan fakta baru (new fact) atau
tambahan informasi dan sebagainya yang bersifat mendalam beragam, akan tetapi
tidak lazim sebagaimana biasanya. Pada kamus Webster (1966), riset diartikan
sebagai memeriksa, atau mencari kembali, penyelidikan dari suatu bidang ilmu
pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta baru atau prinsip-
prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematik. Dalam kamus besar bahasa
Indonesia, penelitian diberi pengertian : (1) pemeriksaan yang teliti; (2) kegiatan
pengumpulan, pengolahan, analisi dan penyajian data yang dilakukan secara
sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu
hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. Dengan demikian,
penelitian dapat juga disamakan dengan studi (study), investigasi (investigation)
untuk mencari atau menemukan kembali melalui pemeriksaan yang teliti, dengan
suatu metode tertentu yang terencana, sistematis dan obyektif.
Woody dalam Denin (2002) menulis bahwa penelitian merupakan metode
untuk menemukan kebenaran disamping merupakan sebuah pemikiran kritis.
Pearson dalam Whitney (1960) menulis, penelitian sebagai pencaharian atas
sesuatu secara sistematis dan dilakukan untuk memecahkan permasalahan.
Dalam eksiklopedia ekonomi, keuangan dan perdagangan, research diberi
pengertian sebagai suatu penyelidikan secara sistematis dan berdasarkan ilmu
pengetahuan mengenai sifat dari suatu kejadian atau keadaan dengan maksud
untuk menetapkan factor-faktor pokok atau untuk menemukan faham-faham baru
dalam mengembangkan metode-metode baru. Sementara Burn and Grove (1993)
menulis “more specially, research is diligent, systematic inquiry or investigation
to validate and refine existing knowledge and generate new knowledge”
Hadi (1973) mendefinisikan research sebagai usaha untuk menemukan,
mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha mana
dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Definisi lainnya
dikemukakan Penny (1975), penelitian merupakan pemikiran yang sistematik
mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan
dan penafsiran fakta-fakta. Berkaitan dengan itu, Hillway (1956) mendefinisikan
penelitian sebagai “method of study by which, trhough the careful and exhaustive
of all ascertainable evidence bearing upon a definable problem, we reach a
solution to the problem”. Selanjutnya Kerlinger (1986) mendefinisikan penelitian
sebagai suatu penyelidikan yang sistematis, terkendali, empiris dan kritis
mengenai fenomena-fenomena alam yang dibimbing oleh teori dan hipotesis-
hipotesis mengenai hubungan-hubungan yang diduga.
Dari beberapa definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa penelitian pada
dasarnya adalah upaya untuk menemukan fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan
cara mengumpulkan, mencatat dan manganalisa data dan informasi yang
dikerjakan dengan sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan.

1.2. Mengapa Harus Melakukan Penelitian


Alasan utama kenapa harus melakukan penelitian adalah karena dorongan
keinginan manusia secara benar. Alasan lainnya adalah semakin kompleks dan
beragamnya permasalahan yang dihadai manusia yang setiap saat memerlukan
penyelesaian dengan baik. Dengan kata lain, penelitian sangat strategis dalam
mengatasi persoalan hidup yang semakin kompleks dan dalam mewujudkan cita-
cita serta keinginan. Sebab hanya dengan penelitian akan diperoleh cara baru yang
terbaik dalam memecahkan permasalahan dan menjawab tantangan ke depan.
Dalam kompleksitas permasalahan yang semakin meningkat, semakin
besar pula resiko yang dihadapi dalam setiap pengambilan keputusan.
Implikasinya dibutuhkan data dan informasi yang kuat dan dapat
dipertanggungjawabkan. Ini artinya semakin banyak variabel yang harus
diperhatikan sebelum suatu keputusan diambil. Disinilah penelitian memegang
peranan yang amat penting dalam memberikan fondasi pengambilan keputusan
yang cepat, tepat dan akuntabel. Adalah sulit untuk dapat mendapatkan data dan
informasi yang dapat dipercaya yang dapat digunakan dalam proses pengambilan
keputusan tanpa melakukan penelitian melalui prosedur yang baik dan benar.
Sebaliknya adalah kekeliruan besar bila merumuskan suatu keputusan kemudian
mengimplementasikannya tanpa melalui serangkaian informasi yang akurat yang
diperoleh melalui suatu penelitian.
Melalui penelitian akan diperoleh informasi terbaru dalam menjawab
suatu permasalahan yang ada. Jika penelitian tidak pernah dilakukan serta
kenyataan-kenyataan tidak pernah diuji kebenarannya, bukan saja akan
mempersulit dalam pemecahan masalah riil yang dihadapi, tetapi akan
mempersulit pula dalam melakukan prediksi ke depan. Penelitian yang baik dan
benar membantu memecahkan permasalahan riil yang dihadapi manusia baik
jangka pendek maupun jangka panjang. Melalui penelitian dapat diperoleh
jawaban terbaik dalam mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi manusia di
berbagai bidang kehidupan. Melalui penelitian pula manusia dapat keluar dari
persoalan yang sedang dihadapi dan sekaligus sebagai antisipasi dalam
menghadapi persoalan yang akan datang.
Penelitian adalah sarana pertama dan utama dalam pengembangan ilmu
pengetahuan, mulai dari mendiskripsikan secara jelas dan cermat setiap
permasalahan, menerangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi, menyusun teori,
membuat estimasi, memprediksi dan mengestimasi, sampai pada kemampuannya
dalam membuat atau merancang tindakan antisipasi atau pengendalian atas gejala
yang ada atau yang mungkin terjadi. Dengan penelitian dimungkinkan
diketemukannya sesuatu yang baru ataupun menyempurnakan yang sudah ada.
1.3. Kriteria Penelitian Yang Baik dan Benar
Kriteria utama dari suatu penelitian yang baik dan benar adalah penelitian
yang menggunakan metode ilmiah. Meyer dab Greenwood (1980) dalam “The
Design of Social Policy Research” menyebut ada tiga ciri-ciri yang menonjol dari
penelitian ilmiah : pertama, empiris

1.4. Jenis-jenis Penelitian


Penggolongan jenis-jenis penelitian cukup beragam tergantung dari sudut
mana penggolongan tersebut dilihat. Namun demikian secara umum
penggolongan jenis-jenis penelitian yang dikemukakan para ahli lebih banyak
didasarkan pada tujuan umum ataupun pemakaian hasilnya.
Kline,D (1980) dalam bukunya “Research Methods of Educational
Planning” seperti diadaptasi oleh Danim (2002). Menjadi peneliti Kualitatif.
Pustaka Setia. Bandung) mengklasifikasikan tujuan penelitian menjadi tiga tipe,
yaitu : penelitian dasar (basic research); penelitian terapan (applied research) ;
dan penelitian evaluasi (evaluation research).
Penelitian dasar pada dasarnya mengembangkan teori atau prinsip dasar
yang disebut “pure’ atau “basic” atau “fundamental”. Penelitian dasar berguna
untuk mengembangkan ilmuu dan teknologi serta memecahkan permasalahan
secara mendasar sehingga dapat menjadi acuan penelitian lanjutan. Contoh dari
penelitian jenis ini misalnya, penelitian tentang kandungan gizi sebuah tanaman
untuk makanan ternak atau bayi, factor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
sebuah industri dan sebagainya. Penelitian dasar memang tidak dapat langsung
memberikan dampak terhadap pembangunan masyarakat maupun industry, tetapi
memerlukan aplikasi atau penelitian lanjutan di lapangan agar penelitian tersebut
bermanfaat.
Adapun penelitian terapan sebenarnya merupakan penelitian lanjutan dari
penelitian dasar yang dikembangkan untuk kepentingan tertentu secara praktis.

II. Sejarah Munculnya Metodologi Penelitian Kebijakan

Metode penelitian kebijakan mencoba memadukan paradigma positivis, post-


positivis dan naturalis. Paradigma sendiri bisa diartikan sebagai cara pandang atau
sistem keyakinan yang menjadi pedoman peneliti (Guba & Lincoln, 1994). Dalam
buku The Structure of Scientific Revolution, Thomas Kuhn (1970) berpendapat bahwa
pergulatan dan persaingan paradigma penelitian selalu ada dalam ilmu apa saja,
terlebih dalam ilmu yang masih belum matang. Paradigma positivis adalah dasar
konseptual apa yang disebut metode kuantitatif, sementara paradigm konstruktivis
mendasari apa yang disebut dengan metode kualitatif.
Positivisme berasal dari filsuf Perancis abad XIX, Augusto Comte. Lincoln
dan Guba (1985) menurunkan beberapa “aksioma” positivism sebagai berikut :
1. Sifat dasar realitas (ontology) mempercayai bahwa ada realitas tunggal.
2. Hubungan peneliti dengan obyek yang diteliti (epistemologi) berada dalam posisi
independen.
3. Penelitian ilmiah bebas nilai (aksiologi)
4. Generalisasi bebas dari ikatan waktu dan konteks
5. Ada sebab nyata yang kadang mendahului atau terjadi secara bersamaan dengan
akibat.
6. Hipotesis berdasar teori bukan fakta empiris (logika deduktif)
Ketidakpuasan atas aksioma positivism meluas dikalangan ilmuwan sosial selama
tahun 1950-1960 an sehingga menumbuhkan paham post-positivisme. Paham
positivism memuat filosofi, diantaranya : Pertama, penelitian selalu dipengaruhi oleh
tata nilai yang dimiliki penelitinya. Kedua, penelitian dipengaruhi oleh teori atau
hipotesis atau kerangka kerja yang digunakan oleh peneliti. Ketiga, pemahaman kita
tentang realitas adalah konstruktif. Sebagai contoh, psikolog eksperimental
Rosenthal (1976) telah mendiskusikan secara anjang lebar mengenai apa yang
disebutnya dampak dari seorang yang melakukan eksperimen. Cara pandang seorang
peneliti, perasaannya atau tindakannya tanpa sengaja memberikan pengaruh terhadap
hasil kajian.
Disamping menumbuhkan faham post-positivisme juga menumbuhkan faham
yang lebih radikal lagi yaitu faham konstruktivisme (naturalism). Faham naturalism
memiliki aksioma sebagai berikut :
1. Ada beragam realitas yang dikonstruksi (ontology)
2. Peneliti dan yang diteliti tidak terpisahkan (epistemologi0
3. Penyelidikan terikat dengan persolan nilai (aksiologi)
4. Generalisasi tidak terlepas dari waktu dan konteks
5. Mengenali sebab musabab dari akibat.
6. Teori berpijak pada data (grounded)
Pendekatan yang posistivis memposisikan hubungan subyek-obyek dalam
kategori subyek, sementara yang lain mengambil posisi subyek-subyek. Positivis
memisahkan fakta dan nilai, sementara yang lain melihatnya sebagai suatu yang tidak
mungkin. Positivis mencari hukum kenyataan, sedang yang lain mencari pemahaman.
Metode kuantitatif dan kualitatif sebenarnya bisa saling bertemu (lihat Howe,
1988). Terdapat cukup persamaan nilai pokok kuantitatif dan kualitatif untuk suatu
bentuk “kemitraan yang wajar” (Reichardt & Rallis, 1994). Persamaan nilai
fundamental tersebut termasuk kepercayaan pada keterkaitan nilai penyelidikan,
kepercayaan terhadap hubungan antara muatan teori dan fakta, kepercayaan bahwa
realitas itu beragam dan dikonstruksi, percaya pada kemungkinan adanya kesalahan
dari pengetahuan, dan percaya bahwa teori tidak bergantung sepenuhnya pada fakta.
Metode campuran memiliki empat desain (Creswell,1995) :
1. Kajian secara berurutan. Peneliti pertama-tama melakukan penelitian kualitatif
dan kemudian kuantitatif atau sebaliknya secara terpisah.
2. Kajian sejajar/berbarengan. Peneliti melakukan penelitian kualitatif dan
kuantitatif pada waktu yang sama dalam satu obyek penelitian.
3. Kajian dengan bentuk yang sepadan. Peneliti menggunakan pendekatan baik
kualitatif maupun kuantitatif guna memahami gejala.
4. Kajian dominan dan kurang dominan. Peneliti melakukan kajian dalam satu
paradigma dominan terhadap sebagian proses penelitian.

III. Metode Penelitian Kualitatif


3.1. Sejarah Penelitian Kualitatif
Setiap penelitian tidak hanya bertanggungjawab pada hasil akhir
penelitiannya, tetapi juga pada setiap langkah atau pilihan strategi yang digunakan
di dalam melaksanakan aktivitas penelitiannya. Oleh karena itu peneliti harus
secara sadar memahami beragam factor yang menjadi landasan ataupun
pendukung dari pilihan bentuk dan kerangka kerja setiap metode yang dipilihnya.
Faham positivisme selama ini telah menjadi dasar pandangan dan
pengembangan ilmu. Beragam bidang ilmu telah berkembang sangat pesat, lebih-
lebih lagi bidang ilmu fisika. Positivisme juga sangat mewarnai pola piker
metodologi penelitian yang dikenal secara tradisional sebagai metodologi
penelitian kuantitatif yang mendasarkan aktivitasnya dalam bentuk penelitian
eksperimental. Bahkan dalam perkembangannya, penelitian kuantitatif sempat
diyakini sebagai satu-satunya cara pendekatan penelitian yang benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara obyektif bagi semua cabang ilmu.
Pandangan tersebut ternyata semakin dirasakan sebagai pola pikir yang
menjebak para peneliti ilmu-ilmu sosial yang akhirnya banyak menghadapi
masalah yang tidak mampu dijawab secara tuntas. Mempelajari manusia sebagai
subyek dengan memaksakan ilmu obyektif jelas merupakan bias fundamental dan
bisa mengakibatkan kekeliruan fatal yang menjadi sumber krisis ilmu-ilmu sosial
dimasa kini. Permasalah pokok dalam ilmu alamiah didasarkan pada kenyataan
berbagai obyek yang dapat dilihat di luar diri kita dan terlepas bebas sebagai fakta
obyektif. Hal itu sangat berbeda halnya dengan ilmu sosial budaya yang
memusatkan studinya pada realitas sebagai produk pikir manusia dengan segala
subyektivitas emosi dan nilai-nilai yang dianutnya.
Untuk memahami kerangka dasar metodologi penelitian perlu difahami
paradigma ilmu yang dilihat dari sejarah perkembangan ilmu. Paradigma ilmu
terbagi menjadi tiga tahapan, meliputi : era prapositivisme, positivisme dan pasca
positivisme.
Lincoln dan Guba di dalam bukunya yang berjudul Naturalistic Inquiry
(1985. Naturalistic Inquiry. Beverly Hills, CA : Sage Publication) secara ringkas
menjelaskan bahwa usaha pemahaman manusia terhadap dunia ini sangat
berkaitan dengan keyakinan manusia tentang konsep kebenaran yang pada
dasarnya sukar ditangkap. Paling sedikit terdapat emapt kenis kebenaran, meliputi
: (1) kebenaran empiris yang sangat dikenal oleh ilmuwan sebagai suatu bentuk
pernyataan yang konsisten dengan “alam” yang secara nyata dapat ditangkap
dengan indera kita; (2) kebenaran logis, suatu pernyataan yang secara logis
sitematis konsisten dengan beberapa pernyataan lain yang telah dinyatakan
sebagai yang benar; (3) kebenaran etis, yaitu suatu pernyataan yang menunjukan
peran sejalan dengan moral atau standar pelaksanaan yang professional; dan
akhirnya (4) kebenaran metafisis yang berbeda dengan kebenaran yang telah
disebutkan , yang tidak dapat diuji kebenarannya dengan norma-norma eksternal
seperti kesejajaran dengan alam, deduksi logis atau pengerjaan sesuai dengan
standar professional. Kebenaran ini menggambarkan suatu sisi yang sangat hakiki
yang berbeda dengan segala hal yang telah teruji (tidak bisa diuji), dan merupakan
suatu keseluruhan yang sangat fundamental diyakini sebagai keyakinan dasar.
Seperangkat ketakinan metafisis tertentu semacam itu sering membentuk
suatu sistem gagasan yang memberikan kepada kita suatu penilaian mengenai
alam realitas atau suatu alasan yang mendasari kita bagaimana kita berbuat dan
memahami sesuatu. Kita menyebut seperangkat keyakinan yang sistematik
bersamaan dengan metode-metodenya sebagai suatu paradigma. Paradigma
menggambarkan penyulingan mengenai apa yang kita piker mengenai dunia
(mesti tidak bisa dibuktikan). Aktivitas kita didunia, termasuk kegiatan yang kita
nyatakan sebagai penelitian tidak akan bisa terjadi tanpa acuan pada paradigm
tersebut (“As we think, so do we act”)
Paradigma merupakan suatu pandangan dunia, suatu perspektif umum,
cara mengurai kerumitan dunia nyata. Dengan demikian paradigma secara
mendalam terpancang di dalam sosialisasi penganutnya dan para praktisi.
Paradigma mengarahkan kepada mereka apa yang penting, sah dan beralasan.
Paradigma juga bersifat normative, menyarankan para praktisi apa yang harus
dilakukan tanpa perlu keberadaan yang berkepanjangan atau konsiderasi
epistemologis. Aspek paradigm inilah yang membentuk kekuatan maupun
kelemahan mereka. Kekuatannya adalah memungkinkan aksi terjadi, dan
kelemahannya adalah alasan aksi yang tetap tersembunyi di dalam asumsi
paradigm yang tidak bisa dibuktikan (Patton,M.Q. 1980. Qualitative Evaluation
Methods. Beverly Hills, CA : Sage Publication.)
Dalam setiap era paradigm (prapositivisme, positivism, dan pasca
positivism) tersebut di depan keyakinan dasar tertentu membimbing aktivitas
penelitian dalam cara yang sangat berbeda-beda. Begitu suatu paradigma baru
muncul, maka diperlukan keyakinan baru untuk menyusun paradigma penelitian
yang baru yang sesuai. Yang paling kurang menarik dari perspektif modern
adalah pra positivism karena karakteristiknya yang mendasarkan pada
pengamatan pasif. Ada keyakinan dalam gerakan alamiah yang bilamana ada
intervensi manusia maka akan mengakibatkan gerakan yang tidak natural, dan
gerakan tidak natural tersebut merupakan cara yang tidak sesuai dengan kehendak
Tuhan. Akibatnya pemahaman mengenai dunia menjadi sangat lamban.
Pada saat para ilmuwan mulai dengan pengamatan aktif dengan mencoba
beragam gagasan yang bisa dilakukan, maka perkembangan ilmu pengetahuan
memasuki era baru yaitu positivism yang melawan keyakinan dasar pada era
sebelumnya. Positivisme bisa dinyatakan sebagai suatu aliran filsafat yang
ditandai dengan evaluasi ilmu pengetahuan dan metode ilmiah yang bersifat
ekstrim positif. Sebenarnya pengikut awalnya memandang hal ini sebagai gerakan
yang sangat potensial bagi reformasi beragam bidang seperti etika, agama, politik,
dan juga filsafat. Sebagai filsafat, gerakan ini dimulai pada awal abad 19 di Eropa.
Namun pada akhirnya dampaknya yang utama tidak pada bidang etika, agama,
politik atau filsafat, tetapi justru pada metode ilmiah.
Perkembangan faham positivism semakin mantap mempengaruhi beragam
aktivitas ilmiah di semua cabang ilmu. Dua karakteristik yang menonjol adalah
logis dan empirisisme. Teori adalah seperangkat tata logis dari hukum-hukum.
Peranan hukum-hukum adalah untuk memfasilitasi prediksi mengenai
pengalaman indera di masa yang akan datang. Akibatnya, beragam teori
disederhanakan menjadi suatu apparatus logis yang diperlukan bagi kegiatan
prediksi.
Didalam proses pengalaman pengembangan ilmu, banyak ilmuwan yang
ternyata semakin menemukan kelemahan paham positivism dan mengakibatkan
timbulnya ketidakpuasan pada keyakinan tersebut. Tantangan dan kritik tajam
telah semakin banyak dilontarkan dalam menghadapi ketidakmampuan positivism
untuk menemukan jalan pemecahan berbagai dilemma dalam perkembangan ilmu
pengetahuan masa kini (Lincoln & Guba, 1985). Hal ini mengakibatkan
timbulnya pola pikir baru di dalam ilmu dan mulai berkembang paradigma baru
sebagai paradigm alternative yang memiliki pandangan atas dasar keyakinan yang
baru yang dirasakan lebih memadai di dalam menjawab beragam permasalahan
yang selama itu belum bisa dijawab secara tuntas, dan mulailah era pasca
positivisme. Konsekuensi dari kritik-kritik tersebut cukup menjelaskan kelemahan
positivism, dan peneliti mulai beralih pada pola pemikiran tradisional kuantitatif
dan menerima faham baru dengan warna penelitian yang bersifat kualitatif.
Kini riset kualitatif (naturalistic) semakin banyak digunakan dalam
beragam bidang ilmu dalam bentuk riset dasar maupun terapan, bidang kebijakan,
ilmu politik, administrasi, psikologi, organisasi dan manajemen, serta
perencanaan kota dan regional. Strategi riset ini telah banyak sekali digunakan
untuk menyususn tesis atau disertasi dalam bentuk studi kasus bagi ilmu-ilmu
sosial (Yin. 1987. Case Study Research : Desain and Methods. Beverly Hills, CA
: Sage Publication). Bahkan riset pendidikan yang semula hanya didasarkan pada
pengukuran kuntitatif, definisi operasional dan menekankan pada fakta empiris,
sekarang semakin berubah arah dengan memberikan tempat yang sentral pada
riset kualitatif yang lebih menekankan pada analisis induktif dengan deskripsi
yang kaya nuansa dan studi tentang persepsi manusia (Bogdan & Biklen. 1982.
Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods.
Boston,Mass : Allyn and Bacon, Inc.)
Pandangan pascapositivisme telah memberi semangat para peneliti sosial
untuk keluar dari ketersesatan keyakinan faham positivism tersebut. Pandangan
baru ini menyajikan kebenaran realitas subyektif (internal) dsn menentang
kebenaran realitas obyektif (eksternal) yang bersifat tunggal. Dilthey dalam
Smith, J.K. 1984. The Problem of Criteria for Judging Interpretive Inquiry.
Educational Evaluation and Policy Analysis. ). Smith & Heshusius, 1986. Closing
Down The Conversation : The End of The Qualitative-Quantitative Debate
Among Educational Inquirers. Educational Researcher. January, 4-12)
menyatakan dengan tegas bahwa suatu kesalahan bila positivism berusaha
memaksakan serta membuat hokum-hukum alamiah sebagai tujuan pokok dalam
penelitian sosial. Masalahh sosial yang rumit tidak memungkinkan untuk
membuat hokum-hukum seperti itu. Fenomena sosial dan tingkah laku manusia
pada dasarnya hanya ada dalam pikiran manusia. Realitas itu selalu terikat oleh
interaksi dialektika dari subyek dan obyeknya, maka terjadi banyak realitas,
sebanyak manusianya yang terlibat. Orang boleh membentuk realitas dirinya atau
realitas sosialnya menurut pandangan mereka sendiri dengan cara yang berbeda.
Dalam waktu dan tempat yang berbeda pula.
Bergner, J. 1981. The Origins of Formalism in Social Science. University
of Chicago Press.) menyatakan bahwa realitas sosial sebagai hasil kehendak
manusia secara sadar, tidak mungkin dapat dipisahkan dari kekhususan hubungan
antar manusianya yang terlibat, termasuk para penelitinya yang mengambil bagian
di dalamnya serta memberikan tafsir mengenai realitas yang dihadapinya. Dengan
kondisi demikian, maka penelitian kualitatif menjadi sangat tepat bagi penelitian
tentang manusia dengan pandangan dan perilakunya.
Seperti yang telah dinyatakan diatas, paradigma ilmu menjadi dasar
keyakinan dan memacu timbulnya beragam gagasan yang selanjutnya membentuk
teori-teori. Teori-teori tersebut selanjutnya menjadi penunjang dan mewarnai
aktivitas keilmuan termasuk juga aktivitas penelitian yang sangat berperan di
dalam pengembangan ilmu selanjutnya. Oleh karena itu pemahaman mengenai
metodologi penelitian kualitatif yang menjadi inti pengembangan ilmu sosial
budaya akan menjadi kuat bila kita memahami beragam teori penunjangnya.
Beberapa teori yang secara menonjol menunjang metodologi penelitian kualitatif
adalah fenomenologi, hermeneutic, interaksi simbolik, etnometodologi, dan teori
budaya. Teori-teori tersebut pada dasarnya saling terkait dan saling mendukung
sehingga secara keseluruhan mewarnai dan memantapkan keluasan
perkembangan metodologi penelitian kualitatif.
Perspektif fenomenologi memiliki kedudukan sentral dalam penelitian
kualitatif sehingga sering penelitian ini disebut sebagai penelitian fenomenologis.
Apa yang dicari oleh peneliti dan bagaimana ia melakukan kegiatan dalam situasi
risetnya serta bagaimana peneliti mentafsir hasil risetnya semuanya tergantung
pada perspektif teori yang digunakannya (Bogdan & Taylor. 1975. Introduction to
Qualitative Research Methods. New York,N.Y : John Willey & Sons)
Fenomenologis memandang perilaku manusia, yang dikatakan dan
dilakukan adalah sebagai produk bagaimana orang melakukan tafsir terhadap
dunia mereka sendiri. Tugas peneliti adalah menangkap proses tersebut dan
untukk itu diperlukan apa yang disebut Weber “vertehen” atau pemahaman
emapatik (merasa berada di dalam diri orang lain), yang memerlukan kemampuan
untuk mereproduksi diri dalam pikiran orang, perasaan, dan motif yang menjadi
latar belakang kegiatannya. Dengan kata lain, untuk menangkap makna perilaku
seseorang, peneliti harus berusaha melihat segalanya dari pandangan orang
tersebut. Untuk itu diperlukan sikap terbuka dan siap menerima segala
kemungkinan yang berbeda dengan dirinya dan selanjutnya untuk membentuk
kebenaran, peneliti selalu melihat sesuatu dari pandangan yang bersifat
multiperspektif, yang dalam aplikasinya mengarah pada pelaksanaan teknik
triangulasi (sumber, metode, teori dan peneliti). Pendekatan ini berusaha
memahami makna berbagai peristiwa dan interaksi manusia dalam situasinya
yang khusus. Realitas diyakininya sebagai terbentuk dari interaksi sosial (social
constructed)
Hermeneutik mengarah pada penafsiran ekspresi yang penuh makna dan
dilakukan secara sengaja oleh manusia didalam suatu konteks. Melakukan
interpretasi atas interpretasi yang telah dilakukan oleh pribadi atau kelompok
manusia terhadap situasi mereka sendiri. Interpretasi atas interpretasi ini
merupakan proses tanpa awal dan akhir dengan perkembangan penciptaan makna-
makna baru (Gadamer.1976. Philosophical Hermeneutics. D.Linge (trans).
Berkeley, C.A : University of California Press). Makna ekspresi manusia selalu
terikat dengan konteksnya, maka untuk memahami suatu ekspresi orang harus
memahami ekspresi-ekspresi individu.
Hermeneutik mensyaratkan aktivitas konstan dari interpretasi antara
bagian dan keseluruhannya yang merupakan proses awal dan tanpa akhir. Oleh
karena itu peneliti kualitatif hanya bisa menyajikan suatu interpretasi (yang
didasarkan pada niali, minat, dan tujuan) atas interpretasi orang lain (subyek yang
diteliti) yang juga didasarkan pada nilai, minat, dan tujuan mereka sendiri.
Hubungan antara peneliti dengan yang diteliti bersifat dialektik dan tak pernah
menganggap bahwa setiap deskripsi definitive. Validitas keputusan mengenai
sesuatu dapat diwujudkan dalam deskripsinya yang tegas, bersama dengan
pengalaman orang lain dalam suatu konteks antar subjektif. Kesimpulan makna
yang kaya selalu merupakan hasil interaksi tafsir yang bersifat antar subjektif
dalam suatu konteks dengan sikap keterbukaan.
Interaksi simbolik yang membentuk aliran dalam sosiologi didasari
pandangan bahwa pengalaman manusia diperoleh lewat interaksi. Obyek, situasi,
orang dan peristiwa tidaklah memiliki maknanya sendiri. Adanya makna dari
berbagai hal tersebut karena “diberi” berdasarkan interpretasi. Manusia secara
konstan berada didalam proses interpretasi dan definisi selama mereka bergerak
dari satu situasi ke situasi yang lain. Setiap situasi aspek-aspeknya didefinisikan
secara berbeda berdasar atas sejumlah alasan tertentu. Salah satu alasan adalah
bahwa setiap pelaku selalu membawa serta masa lampau yang unik dan cara
tertentu dalam menginterpretasikan yang mereka alami. Dari perspektif ini semua
organisasi sosial terdiri dari para pelaku yang mengembangkan definisi tentang
situasi atau perspektif lewat interpretasi dan selanjutnya mereka bertindak sesuai
dengan makna tersebut.
Etnometodologi merupakan kegiatan riset yang telah dikembangkan oleh
universitas Chicago dan Harvard yang mengarah pada penolakan terhadap
sosiaologi tradisional. Ia merupakan studi tentang bagaimana orang mencipta dan
memahami kehidupannya sehari-hari atau metode pencapaian dalam kehidupan
sehari-hari mereka. Para peneliti berusaha memahami bagaimana orang
memandang dan merumuskan struktur di dunia kehidupannya sendiri sehari-hari.
Sasaran riset ini berbeda dengan metode etnografis tradisional yang lebih
menekankan sasaran studi pada masyarakat lain (asing) dari kehidupan
masyarakat penelitinya.
Budaya merupakan pengetahuan yang diperoleh seseorang dan
diguanakan untuk menginterpretasikan pengalaman yang menghasilkan perilaku
(Spradley, J.P. 1980. Participant Observation. New York, N.Y : Holt, Rinehart
and Winston) . Perilaku selalu didasarkan pada makna sebagai hasil persepsi
terhadap kehidupan para pelakunya. Apa yang dilakukan dan mengapa seseorang
melakukan berbagai hal selalu didasarkan pada definisi menurut pendapatnya
sendiri yang dipengaruhi oleh latar belakang budayanya yang khusus. Budaya
yang berbeda melatih orang secara berbeda pula dalam menangkap makna
persepsi. Budaya merupakan cara khusus dalam membentuk pikiran dan
pandangan manusia. Kondisi kehidupan budaya seseorang sangat mempengaruhi
persepsi penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial, yang dalam setiap
kehidupan sosial selalu melibatkan hubungan antar subjective dan pembentukan
makna.
Dari berbagai teori penunjang metodologi tersebut terbentuk metode
penelitian kualitatif dengan karakteristiknya yang menonjol yang sangat berbeda
dan dalam banyak hal bahkan bertentangan dengan karakteristik penelitian
kuantitatif. Karakteristik yang menonjol dari penelitian kualitatif diantaranya
adalah sifatnya yang natural setting (tidak menggunakan perlakuan atau
treatment), holistic (tidak bersifat partial), makna bagian hanya utuh dalam
kaitannya dengan keseluruhan, analisis induktif (empirico inductive bertentangan
hypothetico deductive), melaksanakan analisis bersamaan dengan proses
pengumpulan data seperti dinyatakan oleh Miles & Huberman. 1984. Qualitative
Data Analysis : A Sourcebook of New Methods. Beverly Hills, C,A : Sage
Publications., desain lentur dan terbuka (disesuaikan dengan kondisi nyata
lapangan), memfokuskan pada makna (proses lebih penting daripada produk),
bersifat emik (participant’s point of view), dan human instrument (peneliti
sebagai instrument utamanya), memanfaatkan tacit knowledge (data dari perasaan
dan intuisi), memusatkan pada deskripsi (bukan bahasa defacto seperti
pernyataan), dan laporan dalam bentuk studi kasus (dengan struktur bervariasi
lentur menurut isinya). Karakteristik ini wajib difahami oleh setiap peneliti agar
bentuk dan alur penelitiannya tidak tercemar (tersesat) oleh paradigm peneltian
lain. Didalam pelaksanaannya secara teknis penelitian kualitatif wajib selalu
berada dalam kerangka teori dasar dan karakteristiknya yang baku.

3.2. Mengapa Menggunakan Metode Kualitatif?


Ada banyak fenomena atau permasalahan factual di lapangan yang yang
memerlukan “pemotretan” yang utuh dan apa adanya, yang melihat latar
penelitian secara alami. Ada banyak permasalahan ataupun fenomena yang
membutuhkan “penggalian” yang mendalam dan luas, yang menginginkan hasil
spesifik.Ada banyak permasalahan atau fenomena yang meminta “kontak
langsung” peneliti dan subyek yang diteliti untuk bisa menangkap data dan
informasi yang diperlukan. Terlalu banyak fenomena atau gejala yang
“tersembunyi” yang meminta teknik tersendiri untuk mengungkapkannya. Metode
peneltian kualitatif member “arahan” untuk semua itu.
Strauss dan Corbin (1990. Basic of Qualitative Research : Grounded
Theory Procedures and Techniques. Sage Publication. Baverly Hills. SA.
Mengemukakan beberapa ketrampilan yang diperlukan dalam melakukan
penelitian kualitatif, yaitu : agar waspada menganalisa situasi secara kritis,
mengenal dan menghindarkan dari prasangka-prasangka mendapatkan data-data
yang betul-betul reliable dan valid, serta berpikir secara abstrak. Untuk
melakukan ketrampilan tersebut, seseorang penelti membutuhkan atau
memerlukan suatu teori atau kepekaan sosial, kemampuan untuk mempertahankan
jarak analisis ketika pada saat yang bersamaan dalam menggunakan pengalaman-
pengalaman masa lalu dan juga pengalaman serta teoritis untuk
menginterpretasikan apa yang telah di lihatnya. Begitu pula kemampuan
mengobservasi secara tajam dan kemampuan dalam berinteraksi yang baik.
Perkembangan metode penelitian kualitatif hanya dapat kita pahami
dengan benar kalau kita tempatkan dalam konteks perkembangan yang
berlangsung pada ilmu-ilmu sosial. Ada dua motif yang pantas dicermati dan
ditelusuri lebih lanjut karena sangat menentukan bagi tumbuh danberkembangnya
penelitian kualitatif. Pertama, adanya hasrat yang kuat dari para ilmuwan sosial
untuk memantapkan posisi ilmu-ilmu sosial itu sebagai peranmgkat pengetahuan
deskriptif dan eksplanatoris yang handal, sehingga mampu mencapai status
epistemologis seperti yang telah dinikmati oleh kebanyakan ilmu-ilmu alam dan
manpu mengembangkan, serta menggunakan metodologi analogis. Sebab selama
ini ilmu-ilmu sosial termasuk analisis kebijakan dianggap tidak pantas
menyandang atribut ilmiah. Namun sejak dasawarsa 1950-an dan dasawarsa
selanjutnya, pandangan diatas dikritik habis-hanisan, terutama menyangkut
relevansi model ilmu alam itu dalam konteks apa penelitian atau analisis sosial
dilakukan (Hayek, 1952; Trauss, 1953; Louch, 1966). Menurut Alkinson dan
Hammersley (1994), positivisme ditampik oleh para ilmuwan sosial karena
pandangan akademiknya yang arogan sekaligus deterministic, bahwa : “social
reserarches should adopt scientific method, that this method is exemplified in the
work of modern physicists, and that it concists of the rigorous testing of
hypotheses by means of data that take from of quantitative measurements”
Kedua, tumbuhnya hasrat untuk menjadikan ilmu sosial bukan saja
memiliki manfaat praktis tapi juga memiliki sebuah basis yang bersifat normative.
Artinya, tujuan untuk mengembangkan ilmu-ilmu sosial yang dapat dimanfaatkan
sebagai sarana rekayasa sosial (social engineering). Inilah hasrat yang
sebelumnya pernah digagas oleh penganjur positivism sekaligus pelopor sosiologi
modern August Comte (1798-1857). Hasrat agar ilmu sosial mengemban tujuan
kemanusiaan (human Objective) seperti usianya, bahkan setua disiplin ilmu sosial
itu sendiri. (Schrijvers, 1995).
Sprenkle (1995) menyatakan bahwa metodologi penelitian kualitatif
sangat cocok untuk “descaribing complex phenomena, defining new constructs,
discovering new relationship among variables, trying to answer why question,
and grappling with theoretical questions about meaning understanding,
perceptions…” Cronbach dkk (1980) menyatakan bahwa metode penelitian
kualitatif juga cocok untuk digunakan dalam upaya memperoleh gambaran
menyeluruh mengenai hasil-hasil evaluasi kebijakan, serta untuk menambah
kejelasan pemahaman akan situasi yang dihadapi. Lebih lanjut metode ini cocok
untuk mengevaluasi sejumlah isu yang kompleks seperti lazimnya pada program-
program lingkungan hidup, kesehatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan
program sosial pada umumnya. Sejalan dengan Cronbach, Lincoln dan Guba juga
menyatakan bahwa penelitian kualitatif memang paling tepat untuk melaksanakan
evaluasi kebijakan.

3.3. Karakteristik Penelitian Kualitatif


Penelitian kualitatif memiliki beberapa cirri yang membedakan dengan
penelitian yang lainnya. Pendekatan kualitatif tidak menolak angka dan teknik
statistic untuk penyajian data dan analisisnya. Pendekatan kualitatif yang
mendalam dapat menggunakan statistic untuk mengkonstruksi hubungan antar
fenomena tersebut. Statistik disini tidak digunakan untuk menguji hipotesis.
Perbedaan ini menurut David D.William. dalam Sanapiah. (1990. Penelitian
Kualitatif, dasar-dasar dan Aplikasi. YA3, Malang) ada tiga hal pokok, yaitu : (1)
pandangan-pandangan dasar (axiom) tentang sifat realitas, hubungan peneliti dan
yang diteliti, posibilitas penarikan generalisasi, posibilitas dalam membangun
jalinan hubungan kausal, serta peranan nilai dalam penelitian; (2) karakteristik
pendekatan penelitian kualitatif itu sendiri; dan (3) proses yang diikuti untuk
melaksanakan penelitian kualitatif.
(1) Aksioma
Axiom adalah pandangan dasar. Perbedaan aksioma penelitian kuantitatif
dan kualitatif meliputi aksioma tentang realitas, hubungan penelitia dengan
yang diteliti, hubungan veriabel, kemungkinan generalisasi, dan peranan nilai.
Dalam metode kuantitatif, realitas dipandang sesuatu yang konkrit, dapat
diamati oleh panca indera, dapat dikategorikan menurut jenis, bentuk, warna
dan perilaku, tidak berubah dan dapat diverifikasi, sehingga peneliti dapat
membuat instrument untuk mengukurnya. Pada penelitian kualitatif, realitas
tidak dapat dilihat secara parsial. Obyek dipandang sebagai sesuatu yang
dinamis, hasil konstruksi pemikiran dan utuh (holistic) karena setiap aspek
dari obyek mempunyai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Realitas
dalam penelitian kualitatif tidak hanya yang tampak, tetapi sampai dibalik
yang tampak tersebut. Misalnya melihat prestasi belajar anak menurun,
peneliti kuantitatif akan menganggap bahwa anak tersebut malas belajar,
sedangkan peneliti kkualitatif akan melihat lebih dalam mengapa prestasi anak
menurun. Kemungkinan yang bisa terjadi karena ia membantu orangtuanya
bekerja, tidak ada fasilitas belajar yang memadai atau stress.
Dalam pendekatan kuantitatif hubungan antara peneliti dengan yang
diteliti bersifat independen. Dengan mempergunakan kuesioner peneliti
kuantitatif hampir tidak mengenal siapa yang memberikan data. Sementara
dalam pendekatan kualitatif, peneliti bertindak sebagai human instrument
sehingga dengan teknik participant observation dan indepth interview peneliti
harus berinteraksi dengan sumber data. Peneliti kuantitatif melihat hubungan
variable terhadap obyek yang diteliti lebih bersifatt hubungan sebab akibat.
Sedangkan peneliti kualitatif melihatnya lebih holistic dan lebih menekankan
pada proses, maka pendekatan kualitatif melihat hubungan antar variable
bersifat interaktif yaitu saling mempengaruhi (reciprocal). Pendekatan
kuantitatif lebih menekankan pada keluasan informasi (bukan kedalaman)
sehingga metode ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan
variable terbatas. Sedangkan pendekatan kualititif tidak melakukan
generalisasi tetapi lebih menekankan kedalaman informasi, sehingga sampai
pada tingkat makna. Generalisasi dalam penelitian kualitatif disebut
transferability atau keteralihan. Artinya bahwa hasil penelitian dapat
ditransfer di tempat lain manakala kondisi tempat lain tersebut tidak jauh
berbada dengan tempat penelitian.
(2) Karakteristik Penelitian Kualitatif
Beberapa karakteristik penelitian kualitatif diungkapkan oleh Bogdan
dan Biklen (1982) dalam : Qualitative Research for Education : An
Introduction to Theory and Methoods sebagai berikut :
- Qualitative research has the natural setting as the direct source of data
and researcher is the key instrument
- Qualitative research is descriptive. The data collected is in the form of
words of pictures rather than number
- Qualitative research are concerned with process rather than simply with
outcomes or products
- Qualitative research tend to analyze their data inductively
- “Meaning” is of essential to the qualitative approach
Sementara Newman (1994) dalam Social Research Methods”; menyebutkan
ada enam ciri utama penelitian kualitatif, yaitu :
- The context is critical, yaitu mengutamakan konteks sosial. Makna suatu
tindakan sangat tergantung sekali pada konteks dimana tindakan sosial
terjadi. Bila suatu peristiwa atau tindakan sosial itu dipisahkan dari
konteks sosialnya atau konteks sosialnya diabaikan, maka makna dan arti
sosialnya menjadi rusak, hilang atau berbeda.
- The value of the case study, yaitu pendekatan studi kasus. Peneliti
mengumpulkan sejumlah besar informasi hanya pada suatu atau beberapa
kasus, tetapi masuk kedalam dan mendetail agar dapat diketemukan dan
digambarkan pola-pola kehidupan, tidakan, sikap, persaan, kata-kata dari
orang-orang di dalam konteks sosialnya secara utuh dan menyeluruh.
- Researcher Integirity, yaitu mengutamakan integritas peneliti. Hubungan
yang dekat antara peneliti dengan subyek penelitiannya mengharuskan
peneliti kualitatif menjaga integritas dirinya agar hasil penelitiannya tetap
obyektif dan tidak bias.
- Grounded Theory, yaitu membangun teori dari data. Penelitian kualitatif
tidak berangkat dari teori hipotesis, tetapi dari masdalah penelitian
(research question). Penelitian ini tidak bersifat deduktif melainkan
induktif, artinya teori dibangun dari data atau mendasar (grounded) di
dalam data.
- Proceess and Sequence, yaitu mencermati proses dan sekuen. Peneliti
kualitatif dengan cermat selalu mengamati proses dan urutan peristiwa
dari kasus yang dipelajari setiap saat agar dapat melihat perkembvangan
yang terjadi pada kasus tersebut terus menerus. Hal ini membutuhkan
waktu yang relative lama.
- Interpretation, yaitu interpretasinya kaya dan mendalam. Interpretasi data
dalam penelitian kualitatif dilakukan mulai dari : (a) the first order
interpretation, yaitu menginterpretasikan data dengan cara menemukan
bagaimanakah orang-orang yang sedang di telitinya itu melihat dan
member makna atas dunia mereka sendiri; (b) the second order
interpretation, yaitu peneliti kemudian merekomendasi makna (meaning)
dalam kaitnannya dengan perkembangan konteksnya. Jadi menempatkan
tindakan orang-orang yang ditelitinya dalam stream of behavior; (c) the
third order of interpretation, yaitu peneliti bergerak lebih jauh yaitu
menghubungkan the second order interpretation dengan teori umum
(general theory)
Lincoln and Guba (1985) dalam : Naturalistic Inquiry”menyebut ada 14
karakteristik daripenelitian kualitatif, yaitu : (1) natural setting; (2) human
instrument; (3) utilization of tacit knowledge; (4) qualitative methods; (5)
purposive sampling; (6) inductive data analysis; (7) grounded theory; (8)
emergent design; (9) negotiated outcomes; (10) case study reporting mode;
(11) idiographic interpretation; (12) tentative application; (13) focus
determined boundaries; dan (14) special criteria for trustworthiness.
Selanjutnya untuk memahami secara lebih jelas dan rinci tentang
pendekatan kualitatif, maka perlu memahami perbedaan antar keduanya
sebagai berikut :
Ciri-ciri Penelitian Kualitatif dan kuantitatif
Qualitative Quantitative
Phrases Associated with the Approach Phrases Associated with the Approach
-ethnographic - participant -experimental - positivist
-field work - observation -hard data - social fact
-soft data -phenomenological -outer perspective - statistical
-symbolic interaction - Chicago scholl -empirical
-inner perspective - documentary
-Naturalistic - life history
-ethnomethodological- case study
-descriptive - ecological
Name Associated with the Approach Name Associated with the Approach
-Max Weber - W.I Thomas -Emile Durkhem - Fred Kerlinger
-Charles H. Cooley - Everet Hughes -Lee Cronbach - E. Thorndhike
-Harold Garfinkel - Erving Goffman -L.Guttman - Fred Mc.Donald
-Margaret Mead - Harry Wolcott -Gene Glass - David Kratwohl
-Anselm Strauss - Rosalie Wax -Robert Travers - Donald Cambel
-Eleanor Leacock - George H.Mead -Robert Bales - Peter Rossi
-Herbert Blumer - Barney Glaser
Key Concepts Associated with the Approach Key Concepts Associated with the
-Meaning - Understanding Approach
-Commonsense - Process -Variable - Validity
-Understanding - Negotiated order -Operasionalize - Statistically
-Bracketing - For all practical -Realibility - Significant
-Definition of situation purpose -Hypothesis - Replication
-Everyday life -Social construction
Theoritical Affiliation Theoritical Affiliation
-Symbolic interaction - Culture -Structural functionalism
-Ethnomethodology - Idealism -Realism,positivism-Logical empiricism
-Phenomenology -Behavioralism -System theory
Academic Affiliation Academic Affiliation
-Sociology - Anthropology -Psychology - Sociology
-Hystory -Economics - Political science
Goals Goals
-Develop sensitizing - Grounded theory -Theory testing - Show relationship
-Concepts - Develop understanding -Establish the facts - between variable
-Describe multiple realities -Statistical description - prediction
Design Design
-Evolving,flexible, general -Structure, predetermined, formal,
-Design is a hunch as to how you might specific
proceed - design is detailed plan of operation
Written Research Proposal Written Research Proposal
-Brief - Speculatif -Extensive
-Suggest areas research may be relevant to -Detailed and specific in focus
-Often written after some data has been -Detailed and specific in procedures
collected -Throuhg review of substantive literature
-Not extensive in substantive literature revies -Written prior to data collection
- General statement of approach -Hypotheses stated
Data Data
-Description - People own words -Quantitative - Operational variables
-Personal document - Official documents -Quantitative coding
-Field notes and other articles -Counts, measure
-Photograph -Statistical
Sampel Sampel
-Small - Theoritical sampling -Large - Random selection
-Non representative -Stratifield - Control group
-Control for extraneous variables
-Precise
Technical or Methods Technical or Methods
-Observation - Participant -Experiment - Quasi experiment
-Reviewing various documents and artefacts -Survey research - Structure observation
-Structured interviewing
-Data sets
Relationship with Subjects Relationship with Subjects
-Empathy - Intense contact -Circumscribed short term - Distant
-Emphasis on trust - Subject as friend -Stay detached - Subject researcher
-Equalitarian
Instrument andToolls Instrument andToolls
-Tape recorder - Ransctiber -Inventories - Computer
-Questionaires - Scales
-Indexes - Test scores
Data Analysis Data Analysis
-On going - Analytical induction -Deductive - Statistical
-Models, Themes - Concepts -Occurs at clonclution of data collection
- Constant comparative method
-Induvtive
Problems is Using the Approach Problems is Using the Approach
-Time consuming - Data reduction -Controlling other variables
-Reability -Reification - Validity
-Procedures not standardizized -Obtrusiveness
-Difficult studying large populations

Mengenai jenis dan tipe informasi yang lebih atau kurang sesuai
dipecahkan dengan penelitian kualitatif, David William dalam Sanapiah
(1990) mengusulkan seperti pada daftar berikut :
Tipe-tipe Informasi yang Lebih atau Kurang Sesuai Dipecahkan
Dengan Penelitian Kualitatif
Lebih Sesuai Dengan Menggunakan Kurang Sesuai Dengan
Penelitian Kualitatif Menggunakan Penelitian Kualiatif
Memahami makna yang mendasari tingkah Untuk mengetahui tingkah laku yang
laku partisipan terobservasi
Untuk mendeskripsikan latar dan interaksi Untuk mensintesis dan
yang kompleks dari partisipan mengikhtisarkan mana variable
terpenting pengaruhnya
Eksplorasi untuk mengidentifikasi tipe-tipe Meringkas ikhtisar-ikhtisar dari apa
informasi baru yang hendak dikumpulkan yang telah diketahui
Untuk memahami keadaan yang terbatas Untuk memahami banyak keadaan
jumlahnya dengan focus yang mendalam dengan focus yang luas
dan rinci
Untuk mendeskripsikan fenomena guna Untuk mendeskripsikan fenomena
melahirkan suatu teori dalam latar yang dikendalikan guna
pengujian teori
Mempersoalkan variable-variabel menurut Mempersoalkan variable-variabel
pandangan dan definisi partisipan menurut pandangan dan definisi
peneliti
Menghendaki deskripsi dan klonklusi yang Menghendaki generalisasi yang bebas
kaya tentang konteks konteks
Menghendaki terfokus pada interaksi Menghendaki terfokus pada produk
manusia dan proses-proses yang mereka dan hasil yang diperoleh.
gunakan

(3) Proses Penelitian


Penelitian kuantitatif bertolak dari studi pendahuluan dari obyek yang
diteliti (preliminary study) untuk mendapatkan masalah. Selanjutnya peneliti
berusaha menguasai teori melalui berbagai referensi untuk mendapatkan
hipotesis. Untuk menguji hipotesis, peneliti dapat memilih
metode/strategi/pendekatan/desain penelitian yang sesuai. Dalam penelitian
kuantitatif metode penelitian yang dapat dipergunakan adalah metode survey,
ex post facto, ekesperimen, evaluasi, action research, policy research. Setelah
metode dipilih, maka peneliti menyusun instrument sebagai alat pengumpul
data. Bentuknya dapat test, angket/kuesioner, yang sebelum digunakan harus
terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Setelah data terkumpul
selanjutnya dianalisis untuk menguji hipotesis yang diajukan. Penggunaan
konsep,teori untuk membahas hasil penelitian merupakan aspek logika
(logico-hypothetico). Berdasarkan proses-proses tersebut, maka proses
penelitian kuantitatif bersifat linier.
Rancangan penelitian kualitatif diibaratkan oleh Bogdan seperti mau
piknik. Peneliti baru tahu tempat yang akan dituju, tetapi tidak tahu disitu ada
apa. Ia akan tahu setelah memasuki obyek dengan cara membaca berbagai
informasi, gambar-gambar, berfikir dan melihat aktivitas orang yang ada
disekelilingnya, melakukan dialog dan sebagainya. Peneliti baru mengenal
serba sepintas dari informasi yang diperolehnya. Pada tahap ini disebut tahap
orientasi atau deskripsi (grand tour question). Tahap selanjutnya adalah tahap
reduksi dimana peneliti menyortir data dengan cara memilih data yang
penting, relevan, berguna dan baru. Data yang tidak dipakai disingkitkan.
Data-data tersebut selanjutnya dikelompokan menjadi kategori yang
ditetapkan sebagai focus penelitian. Pada tahap berikutnya, peneliti
menguraikan focus penelitiannya lebih rinci. Ibarat pohon, kalau focus baru
pada aspek cabang, maka tahap selection peneliti sudah harus menguraikan
sampai ranting, daun dan buahnya. Hasil akhir dari penelitian kualitatif bukan
sekedar data atau informasi, tetapi juga harus mampu menghasilkan informasi
yang bermakna dengan cara mengkonstruksikan data menjadi bangunan
hipotesis atau teori baru. Proses memperoleh data atau informasi pada setiap
tahapan (deskripsi, reduksi, seleksi) tersebut dilakukan secara sirkuler dan
berulang-ulang.

3.4. Bilamana Pendekatan Kualitatif Digunakan ?


Metode kualitatif cocok digunakan untuk meneliti hal-hal sebagai berikut :
(1) Bila penelitian belum jelas duduk persoalannya, sehingga diperlukan
penjelajahan dengan grant tour question.
(2) Memaknai fenomena yang muncul dipermukaan. Misalnya gejala sosial
sering tidak dapat dipahami berdasarkan apa yang nampak ataupun diucapkan.
Seseorang mencuri , bukan berarti gemar mengambil milik orang lain tetapi
dimungkinkan tuntutan kebutuhan perut dan sebagainya.
(3) Mengembangkan teori yang dibangun melalui data lapangan (grounded teory)
(4) Meneliti sejarah perkembangan. Misalnya perkembangan budaya suku Asmat,
sejarah kehidupan tokoh dan sebagainya.
Dengan karakteristik seperti disebutkan diatas, maka penelitian kualitatif
memerlukan waktu yang cukup lama seperti yang dikatakan Susan Stainback,
bahwa “There is no way to give easy to how long it takes to do a qualitative
research study. The typical study probably last about a year. But the actual length
or duration depends on the resources, interest and purposes of the investigator. It
also depends on the size of the study and how much time the researcher puts into
the study each day or week” (Sugiyono, 2009. Memahami Penelitian Kualitatif.
Bandung : CV.Afabeta)
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah : (1) apakah kedua penelitian
itu dapat menghasilkan temuan-temuan yang sama mengenai subyek yang sama,
dan (2) apakah penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif dapat digunakan
bersama-sama? Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita lebih dulu harus
mengingat akan adanya variasi minat para peneliti, adanya perbedaan tekanan
tinjauan dan latar belakang para peneliti. Pertanyaan tersebut berkenaan dengan
konsep reliabilitas dalam penelitian kuantitatif . Sedangkan para peneliti kualitatif
kepedulian utamanya adalah pada ketepatan dan kekomprehensifan data yang
dikumpulkan. Mereka lebih cenderung mengartikan reliabilitas sebagai kecocokan
antara data yang diperoleh dengan apa yang terjadi, tidak mengartikannya secara
harafiah seperti biasanya dilakukan peneliti kuantitatif.
Jawaban Kedua, keduanya dapat digunakan secara bersama-sama dalam
artian untuk saling melengkapi dalam mengkaji suatu keadaan, tetapi bukan
dalam arti satu untuk menguji yang lain. Peneliti kuantitatif kadang-kadang tidak
puas dengan hasil analisis statistic yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan
antara dua atau lebih peubah yang sedang diteliti. Jika peneliti itu meragukan
hasil itu dan kemudian melakukanwawancara yang mendalam (indepth interview)
untuk melengkapi penelitiannya, maka itu berarti bahwa penelti itu menggunakan
teknik kulitatif. Di pihak lain, peneliti kulitatif sering juga menggunakan data
kuantitatif untuk melengkapi keterangan kualitatif yang dibuatnya. Dalam
pengertian seperti itu penelitian kulitatif dan kuantitatif digunakan bersama-sama,
yang satu merupakan teknik utama dan yang lain sebagai pelengkap.
3.5. Jenis-jenis Penelitian kualitatif
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk penelitian kualitatif yang
sekaligus dapat menjadi dasar dalam mengelompokan jenis-jenis penelitian
kualitatif, yaitu :
(1) Penelitian Perkembangan (development research), adalah penelitian yang
bertujuan mempelajari pola pertumbuhan atau perkembangan subyek tertentu
baik secara terus menerus atau secara periodik secara lebih mendalam dengan
maksud untuk mengadakan penyempurnaan atau perbaikan .
(2) Penelitian Evaluasi (evaluasi research), adalah penelitian yang dimaksudkan
untuk mengukur suatu program, produk atau aktivitas tertentu.
(3) Penelitian Deskriptif (descriptive research), adalah penelitian yang
dimaksudkan untuk mengungkap suatu masalah atau keadaan tertentu
sebagaimana adanya sehingga dapat memberikan gambaran secara tepat
tentang keadaan sebenarnya dari obyek yang diselidiki .
(4) Penelitian Tindakan (action research), adalah penelitian yang dilakukan
dengan maksud untuk deskripsi, konsepsi, pengambilan keputusan secara
kritis berdasarkan rekaman pemantauan dan evaluasi atas tindakan dan hasil
tindakan.
(5) Penelitian Fenomenologis (Phenomenological research), adalah yang
bertujuan memahami respons dari unit tertentu secara utuh termasuk
interaksinya dengan lingkungan sekitar.
(6) Penelitian Historis (historical research), adalah penelitian yang dimaksudkan
untuk merekonstruksi kondisi masa lampau secara obyektif, sistematis, dan
akurat dan mendapatkan kesimpulan yang kuat.
(7) Penelitian Lapangan/Kancah (field research), adalah penelitian yang
dilakukan secara langsung di lokasi penelitian untuk memahami secara
mendalam lingkungan masyarakat atau obyek pengamatan.
(8) Penelitian Kasus (case research), adalah penelitian yang tujuannya
mempelajari suatu fenomena tertentu sehingga diperoleh gambaran yang
menyeluruh dan utuh secara apa adanya.
(9) Penelitian Etnografi (etnografical research), adalah penelitian yang
dimaksudkan untuk memahami aspek sosial budaya dalam kehidupan
masyarakat tertentu.
(10) Interaksionisme Simbolik , adalah penelitian yang dimaksudkan untuk
memahami makna perilaku, motif, wawasan, serta internalisasi nilai-nilai
manusia dalam kehidupan.
(11) Penelitian Grounded (grounded research), adalah penelitian yang
dimaksudkan untuk memahami fenomena tertentu dalam rangka menyusun,
mengembangkan, dan merekonstruksi teori berdasarkan data yang digali dari
lapangan (induktif).

IV. Desain Penelitian Kualitatif

4.1. Merumuskan Permasalahan


Istilah “permasalahan penelitian” (problem research) dan “pertanyaan
penelitian” (research question) sering dipertukarkan pemakaiannya. Kalau dilihat
dari makna kata, kedua istilah tersebut memang dapat dipertkarkan. Permasalahan
(set of problem) berasal dari kata masalah (problem) dan dalam bahasa Inggris
disebut complication atau question. Dalam kamus Oxford (1995), problem berarti
“a thing that is difficult to deal with or understand; a question to be answered or
solved, esp by reasoning or calculating”. Kamus Besar bahasa Indonesia (2001),
masalah diartikan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan . Sedangkan
“permasalahan” berarti hal yang menjadikan masalah, hal yang dipermasalahkan.
Adapun “pertanyaan” (question) yang asal katanya “tanya” berarti sesuatu
yang ditanyakan; permintaan keterangan. Ini menunjukan bahwa kata
permasalahan atau problem bisa berarti pertanyaan (question). Walaupun
keduanya dapat disinonimkan dlam tulisan ini, penulis akan menggunakan istilah
permasalahan penelitian (research problem) bukan pertanyaan penelitian
(research question) dengan alasan bahwa permasalahan penelitian memiliki
makna lebih luas dibandingkan pertanyaan penelitian.
Apa itu permasalahan? Secara sederhana permasalahan dapat diartikan ada
kesenjangan (gap) antara das Sollen dan das Sein; ada perbedaan antara apa yang
seharusnya dan apa yang terjadi, antara apa yang diperlukan dan yang tersedia,
antara harapan dan kenyataan. Dengan demikian permasalahan adalah persoalan
yang muncul untuk diteliti dan diharapkan dapat dipecahkan atau paling tidak
dapat memperkecil gap yang ada melalui serangkaian proses penelitian yang
dapat dipertanggungjawabkan.
Bagaimana memilih permasalahan dalam penelitian? Ada banyak
permasalahan yang dihadapi dan sekaligus meminta penyelesaian. Namun tidak
semua permasalahan tersebut dapat diangkat sebagai permasalahan penelitian
karena memang tidak harus melalui penelitian khusus atau karena memang
masalahnya tidak dapat dijawab melalui penelitian. Tugas peneliti dalam hal ini
adalah mengidentifikasi setiap permasalahan yang ada dilapangan, kemudian
memilihnya dan merumuskannya. Kegiatan ini tentunya memerlukan latihan dan
membutuhkan pengalaman yang panjang untuk bisa menemukan permasalahan
dari sumber-sumbernya.
Ada beberapa sumber permasalahan yang dapat kita lacak dalam
melakukan identifikasi permasalahan, yaitu : (1) dari literature atau bahan bacaan,
terutama laporan penelitian yang relevan. Untuk melacaknya biasanya dengan
melihat rekomendasi tindak lanjut dari hasil penelitian tersebut; (2) dari seminar,
diskusi, dan pertemuan ilmiah lainnya; (3) dari pernyataan pemegang otoritas; (4)
dari pengamatan sepintas peneliti ketika menyaksikan suatu fenomena kejadian
teretntu; (5) dari pengalaman pribadi atau instituisi yang muncul tiba-tiba dan
menimbulkan pertanyaann besar dalam dirinya.
Terlepas dari semua itu, yang paling penting dalam memilih permasalahan
penelitian adalah bagaimana melihat permasalahan dengan jelas dalam
konteksnya yang asli (natural), dan melakukan identifikasi terhadap semua
permasalahan yang ada. Artinya, peneliti perlu mengumpulkan data awal
mengapa permaslahan tersebut muncul, dan mengidentifikasi masalah tersebut
dengan seksama sehingga ia dapat mencarikan kemungkinan jalan keluarnya.
Langkah berikutnya setelah permasalahan teridentifikasi, adalah pemilihan
masalah yang akan diteliti. Sebab tidak semua masalah yang sudah teridentifikasi
harus diteliti, harus dipertimbangkan manfaatnya bagi keperluan praktis atau
pengembangan ilmu. Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan
permasalahan penelitian, yaitu : pertama, pertimbangan dari sudut ilmiah dan non
ilmiah. Dari dusut ilmiah, pakah permasalahan tersebut dapat diteliti secara
ilmiah, apakah penelitian tersebut juga memberikan manfaat bagi pengembangan
ilmu, apakah realitasnya dapat teramati, dan apakah datanya tersedia?. Dari sudut
non ilmiah, apakah penelitian tersebut memberikan manfaat praktis, apakah
tersebut dapat berdampak buruk bagi masyarakat?. Kedua, pertimbangan dari
sudut idealisme peneliti. Idealisme disini diartikan sebagai minat dan
keberpihakan peneliti, penguasaan teori dan metodologi, serta kemmpuasn
peneliti.
Setelah permasalahan dipilih atau ditentukan, langkah berikutnya adalah
perumusan masalah penelitian, yaitu mendiskripsikan dan menyederhanakan
masalah yang rumit dan kompleks menjadi permasalahan yang dapat diteliti.
Berkaitan dengan perumusan masalah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yaitu : (1) rumusan masalah dinyatakan secara singkat, jelas dan padat; (2)
walaupun tidak selalu kalimat tanya, rumusan masalah akan lebih baik dengan
menggunakan kalimat tanya; (3) rumusan masalah akan lebih baik jika bersifat
menghubungkan dua atau lebih focus/variabel penelitian; (4) rumusan masalah
hendaknya berisi implikasi adanya data untuk pemecahan masalah; dan (5)
rumusan masalah hendaknya relevan dengan judul dan perlakukan yangakan
diteliti.
Namun yang perlu diingat berkaitan dengan perumusan masalah dalam
penelitian kualitatif adalah bahwa rumusan masalah bersifat tentative. Artinya
rumusan hanya sebagai arahan atau acuan awal yang kemudian dapat berubah dan
disempurnakan pada saat peneliti berada di lapangan. Hal ini disebabkan karena
dalam penelitian kualitatif permasalahan itu ada di lapangan (kancah penelitian)
dan perumusan masalah didasarkan pada upaya untuk menemukan teori dasar
(grounded theory). Karena itu rumusan masalah dalam penelitian kualitatif sering
disebut “focus penelitian”. Dalam penelitian kualitatif akan terjadi tiga
kemungkinan berkenaan dengan “masalah”. Pertama, masalah yang dibawa oleh
peneliti bersifat tetap dari awal hingga akhir penelitian. Kedua, masalah yang
dibawa peneliti berkembang, dan dengan demikian memerlukan penyempurnaan.
Ketiga, masalah yang dibawa peneliti setelah memasuki lapangan berubah total.
Peneliti kualitatif yang masalahnya berubah setelah memasuki lapangan
merupakan peneliti yang baik, karena dipandang mampu melepaskan apa yang
dipikirkan sebelumnya dan mampu melihat fenomena secara luas dan mendalam
sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.

4.2.Fokus dan Lokus penelitian


Asumsi dasar dalam penelitian kuantitatif adalah bahwa gejala dari suatu
obyek itu bersifat parsial. Dengan demikian berdasarkan gejala tersebut peneliti
kuantitatif dapat menentukan variabel-variabel yang akan diteliti. Dalam
pandangan peneliti kualitatif, gejala itu bersifat holistic (menyeluruh, tidak dapat
dipisah-pisahkan), sehingga peneliti tidak akan menetapkan penelitiannya hanya
berdasarkan variable penelitian tetapi keseluruhan situasi sosial. Batasan masalah
dalam penelitian kualitatif disebut dengan focus.
Spradley menyatakan bahwa “focused refer to a single cultural domain or a
few related domains”. Artinya, focus adalah merupakan domain tunggal atau
beberapa domain yang terkait dengan situasi sosial. (Spradley James.1980.
Participant Observation, Holt, Rinehart and Winston). Fokus didasarkan pada
tingkat kebaharuan informasi yang akan diperoleh dari grand tour observation
dan grand tour question. Berikut ini diberikan contoh rumusan masalah yang
bertemakan ekonomi pembangunan dalam penelitian kualitatif :
1. Bagaimanakan pola kehidupan masyarakat miskin pada setting daerah
tertentu?
2. Adakah berbedaan dengan pola kehidupan masyarakat miskin di daerah lain?
3. Bagaimana upaya dan kendala pemerintah mengatasi kemiskinan ?
4. Bagaimana mengembangkan potensi unggulan yang ada di suatu wilayah?
5. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu
wilayah?
6. Bagaimana model pemberdayaan yang seharusnya diterapkan?
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi “social
situation” yang terdiri atas tiga elemen yaitu : tempat (place), pelaku (actor), dan
aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Penelitian kualitatif
berangkat dari kasus tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke
populasi tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi yang memiliki kesamaan
karakteristik. Situasi sosial tersebut dapat di rumah berikut keluarga beserta
aktivitasnya, atau segerombolan orang di sudut jalan, di kota atau desa, atau
wilayah suatu negara. Berikut contoh perbedaan desain penelitian kuantitatif dan
kualitatif :

Populasi
Reduksi Transferabilitas 2 5

Sampel 1 3
6
4
Generalisasi

Model : Kuantitatif Model : Kualitatif


Pada penelitian kualitatif, penentuan sumber data atau orang yang
diwawancarai dilakukan secara purposive yaitu dipilih dengan pertimbangan dan
tujuan tertentu, atau snowball yaitu dari sumber data pertama menggelinding ke
sumber data ke dua dan seterusnya sampai diperoleh data yang jenuh dan
menjawab tujuan. Oleh karena itu Lincoln dan Guba (1985) mengatakan bahwa
penelitian naturalistic spesifikasi sampel tidak dapat ditentukan sebelumnya. Ciri-
ciri khusus sampel purposive adalah : (1) sementara (emergent sampling design);
(2) seperti bola salju (snowball); (3) disesuaikan dengan kebutuhan (continous
adjustment or focusing of the sample); (4) dipilih sampai jenuh (selection to the
point of redundancy).
Sampling dalam penelitian kualitatif sering juga dinyatakan sebagai internal
sampling yang berlawanan dengan sifat sampel dalam penelitian kuantitativ yang
dinyatakan sebagai eksternal sampling. Sampling internal diambil untuk mewakili
informasinya dengan kelengkapan dan kedalamannya tidak selalu ditentukan oleh
jumlah sumbernya, tetapi ditentukan oleh sejauh mana informasi yang ada
mengarah pada kemungkinan generalisasi teoris. Sementara sampling eksternal
diambil sebagai wakil populasi agar cukup mantap untuk memenuhi upaya
generalisasi populasinya.
Penelitian kualitatif juga mengenal istilah time sampling dan snowball
sampling (Yin,R.K. 1987.Case Study Research : Design and Methods. SAGE
Publications. Baverly Hills.C.A). Time sampling berkaitan dengan sampling
waktu yang dipandang tepat untuk pengumpulan informasi sesuai dengan
permadalahan yang dikaji. Artinya, diperlukan ketepatan waktu pengamatan.
Snowball sampling digunakan apabila peneliti ingin mengumpulkan informasi
dalam satu lokasi tetapi tidak tahu siapa yang tepat untuk dipilih. Untuk itu
peneliti bisa secara langsung memasuki lokasi dan bertanya kepada siapapun yang
dijumpai pertama. Disini peneliti kemungkinan hanya akan mendapatkan
informasi yang sangat terbatas. Namun dari informan pertama dapat diketahui
informan berikutnya. Proses bertanya secara teru menerus dalam rangka
menemukan informan yang paling dibutuhkan diumpamakan seperti bola salju
yang terus menggelinding yang diawali informasi yang sangat kecil dan kemudian
semakinn besar dan padat.

4.3. Landasan Teori


Penelitian bersifat ilmiah. Oleh karena itu semua penelitian harus berbekal
teori.Teori adalah seperangkat konstruk (konsep) dan proposisi yang tersusun
secara sistematik melalui sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan
meramalkan fenomena. Dalam penelitian kualitatif, teori bersifat sementara dan
akan berkembang di lapangan. Teori bersifat holistic dan jauh lebih banyak
karena berfungsi sebagai bekal untuk dapat memahami konteks sosial ekonomi
secara lebih luas dan mendalam. Walaupun peneliti kualitatif dituntut untuk
menguasai teori yang luas dan mendalam, namun dalam melaksanakan penelitian
kualitatif peneliti harus mampu melepaskan teori yang dimiliki tersebut dalam
menyusun instrument maupun wawancara.
Peneliti kualitatif dituntut untuk dapat menggali data berdasarkan apa yang
diucapkan, dirasakan dan dilakukan partisipan atau sumber data. Peneliti harus
bersifat “perspektive emic”, artinya memperoleh data “sebagaimana mestinya”
bukan berdasarkan apa yang dipikirkan peneliti, tetapi berdasarkan sebagaimana
adanya yang terjadi, yang dirasakan dan dipikirkan oleh partisipan. Oleh karena
itu penelitian kualitatif jauh lebih sulit karena harus berbekal teori yang luas
sehingga menjadi “human instrument” yang baik. Dalam hal ini Borg and Gall
menyatakan bahwa “qualitative research is much more difficult to do well than
quantitative research because the data collected are ususlly subjective and the
main measurement tool for collecting data is the investigator himself”. (Borg,
Walter R and Gall Meredith D, 1989. Educational Research. Longman.)
Cooper and Schindler (2003) menyatakan bahwa teori berguna sebagai :
1. Theory narrows the range of fact we need to study
2. Theory suggest which research approaches are likely to yield the greatest
meaning
3. Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify
them in the most meaningful way
4. Theory summarizes what is known about object of study and states the
uniformities that lie beyond immediate observation
5. Theory can be used to predict further fact that should be found.
Peneliti kualitatif dituntut mampu mengorganisasikan semua teori yang
dibaca. Landasan teori yang ditulis dalam proposal lebih berfungsi menunjukaan
seberapa jauh peneliti memahami permasalahan yang diteliti. Oleh karena itu
landasan teori yang dikemukakan tidak merupakan harga mati, tetapi bersifat
sementara. Penelitii kualitatif justru dituntut melakukan grounded research, yaitu
menemukan teori berdasarkan data lapangan.

4.4. Tehnik Pengumpulan Data


Instrumen penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri. Oleh karena itu peneliti
sebagai instrument juga harus divalidasi seberapa jauh peneliti siap memasuki
lapangan. Validasi meliputi pemahaman atas metode penelitian, wawasan
terhadap bidang yang diteliti, dan kesiapan logistic.
Data dalam penelitian kualitatif biasanya berupa kata-kata atau potongan
kalimat. Data dalam penelitian kualitatif merupakan gambaran yang rinci tentang
situasi, interaksi, peristiwa, orang dan perilaku yang teramati, atau nukilan-
nukilan langsung dari seseorang tentang pengalaman, pikiran, sikap, dan
keyakinannya atau petikan-petikan dokumen, surat, dan rekaman-rekaman
lainnya. Data dikumpulkan melalui tehnik wawancara mendalam, observasi
berperan serta, dan studi dokumentasi. Dengan pemahaman yang demikian, data
dalam penelitian kualitatif lebih tepat disebut informasi.
Secara umum data dan informasi dapat disinonimkan. Namun dalam beberapa
hal memiliki perbedaan. Kata “data´yang berasal dari bahasa Latin merupakan
bentuk jamak dari “datum” yang berarti saji-sajian. Dalam kamus Oxford (19950
data disebut sebagai “fact or information used in deciding or discussing”. Dalam
kamus Webster (1966) data sebagai bentuk plural dari datum dan diartikan
sebagai “something that is given either from being experientially encountered or
from being admitted or assumed for specific purpose”. Sedangkan dalam kamus
besar Bahasa Indonesia (2001), data diberi pengertian sebagai keterangan yang
benar dan nyata, keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian.
Data dengan demikian adalah informasi factual yang digunakan sebagai dasar
untuk penalaran, diskusi, atau perhitungan. Data adalah kenyataan murni yang
belum ditafsirkan, diubah, atau dimanipulasi yang dapat dijadikan sebagai bahan
dasar suatu analisis.
Sementara itu kata “informasi” yang berasal dari bahasa Latin “information”
atau dalam bahasa Inggris, information dapat diartikan sebagai kumpulan data
yang telah memiliki makna atau yang menyatakan sesuatu mengenai hubungan-
buhungan data. Dalam kamus Oxford (1995) disebut sebagai “facts told, heard or
discoveredabout; knowledge. Sedangkan dalam kamus Webster (1966),
disasrtikan sebagai : “something received obtained through informating; the
process by which the form of an objectof knowledge is impressed upon the
apprechending mind so as to bring about the state of knowing”.
Dari pengertian tersebut member petunjuk bahwa informasi tidak hanya
sekedar data, dengan kata lain informasi jauh lebih luas maknanya dari sekedar
data. Karena itu dalam tulisan ini, walaupun tetap menggunakan istilah data, yang
dimaksud sesungguhnya adalah informasi sebagai cirri khusus data penelitian
kualitatif. Hal ini dapat dijelaskan bahwa data pada penelitian kualitatif
ditempatkan bukan sebagai alat dasar pembuktian tetapi sebagai modal dasar bagi
pemahaman. Dengan demikian, proses pengumpulan data dalam penelitian
kualitatif merupakan kegiatan yang lebih dinamis. Seperti dikatakan Kirk dan
Miller (1986.Reability and Validity in Qualitative Research. SAGE Publication.
Baverly Hills. CA), beragam data yang dikaji sama sekali tidak ditentukan oleh
teori prediktif dengan kerangka pemikiran yang pasti, tetapi berdiri sebagai
realita yang merupakan elemen dasar dalam membentuk teori.
Dalam penelitian kualitatif dikenal dua jenis data yang dikumpulkan, yaitu
data yang berkaitan dengan angka-angka (kuantitatif) dan data yang berkaitan
dengan kata-kata, uraian, informasi (data kualitatif). Data kualitatif lebih
diutamakan dan menjadi focus perhatiankarena kaya makna. Sedangkan dsata
kuantitatif tetap dipandang sebagai entitas yang harus diolah dan tidak dipaksakan
untuk dianalisis secara kualitatif. Data kualitatif digunakan sebagai fenomena
pendukung analisis kualitatif yang diharapkan dapat memperkuat penarikan
kesimpulan.
Pemahaman mengenai sumber data sangat penting dalam penelitian kualitatif
karena akan menentukann ketepatan dan kekayaan data yang diperoleh. Dalam
kaitan ini sumber data bisa dari manusia atau nukilan-nukilan langsung dari
seseorang tentang pengalaman, pikiran, sikap, dan keyakinannya yang dapat
dikumpulkan dengan menggunakan tehnik wawancara mendalam. Deskripsi
lokasi tentang situasi, interaksi, perilaku orang yang teramati dapat dikumpulkan
melalui tehnik observasi berperan serta, dan bisa juga dari sumber tertulis yang
sudah terlebih dahulu ada dari petikan-petikan dokumen, surat, dan rekaman-
rekaman lainnya.
Dari segi interpretasinya, data dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu : (1) data
yang bersifat factual, adalah data yang diperoleh dari subyek berdasar anggapan
bahwa memang subyeknya lebih mengetahui keadaan sebenarnya dan peneliti
berasumsi bahwa data yang diberikan oleh subyek adalah benar; (2) data yang
tidak factual, yaitu data mengenai subyek penelitian yang digalii secara tidak
langsung lewat cara-cara pengukuran dikarenakan subyek penelitian tidak
mengetahui faktanya. Untuk jelasnya, sumber data dalam penelitian kualitatif
dapat dikelompokan menjadi empat sumber, yaitu : (dari informan; (20 dari
peristiwa yang teramati secara langsung; (3) dari tempat kejadian peristiwa; dan
(4) dari dokumen.
Sumber data dari informan merupakan sumber data utama dari penelitian
kualitatif. Penggunaan istilah informan dan bukan responden dikarenakan peneliti
dan narasumber memiliki posisi yang sama. Kesetaraan atau kesejajaran ini
sangat penting karena akan sangat membantu dalam mengungkap data dan
informasi yang sebanyak-banyaknya, narasumber memberikan tanggapan yang
diminta peneliti, dan peneliti bisa lebih memilih arah dan selera dalam
menyajikan informasi yang ia miliki.
Pertanyaannya sekarang siapa yang berhak menjadi informan atau
narasumber? Satu hal yang perlu dicatat, bahwa individu sebagai narasumber
(informan) adalah individu yang diharapkan menjadi mitra peneliti dengan
segenap keberagamannya. Dengan keberagaman tersebut, maka beragam pula
jumlah dan kualitas informasi yang tersedia. Mereka bisa datang dari pelaku
kegiatan, pengamat, individu yang langsung mengelola, atau masyarakat penerim
perlakuan. Karena itu didalam memilih siapa yang akan menjadi informan,
peneliti wajib memahami keberagaman tersebut dan dengan akurat menentukan
sumber informasi sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Gejala atau peristiwa yang teramati merupakan sumber informasi yang sangat
penting pula. Sebab dengan mengamati suatu peristiwa tertentu secara langsung,
peneliti bisa memahami secara detail dan utuh setiap kejadian. Persoalannya
adalah tidak semua peristiwa bisa diamati secara langsung, kecuali kejadian
tersebut masih berlangsung pada saat penelitian. Namun terhadap permasalahan
yang memang memerlukan pemahaman lewat pengamatan langsung, observasi
merupakan keharusan. Dengan mendatangi tempat kejadian peneliti bisa
memetakan lokasi kejadian maupun lingkungannya secara tepat.
Sementara dokumen merupakan petunjuk penting yang dapat dijadikan
sumber informasi oleh peneliti. Dengan kata lain dokumen merupakan barang
bukti. Dokumen biasanya berupa bahan tertulis yang berhubungan erat dengan
suatu peristiwa atau aktivitas tertentu. Bentuknya bisa berupa benda peninggalan,
rekaman, gambar.
Adapun strategi pengumpulan data dalam penelitian kualitatif secara umum
dapat dikelompokan kedalam dua cara, yaitu metode interaktif dan non interaktif
(Goetz dan Le Commte). Metode interaktif meliputi :
(1) Wawancara mendalam (indepth interviewing). Tujuan utama melakukan
wawancara adalah untuk menyajikan konstruksi saat sekarang dalam
suatu konteks mengenai pribadi, peristiwa, aktivitas, organisasi, perasaan,
motivasi, keterlibatan, dan sebagainya. Dua jenis wawancara mendalam
yang biasa kita kenal dalam penelitian, yaitu wawancara tidak terstruktur
dan wawancara terfokus. Dalam wawancar terstruktur substansi
ditentukan oleh peneliti sebelum wawancara dilakukan. Pertanyaannya
telah diformulasikan dan informannya diharapkan menjawab dalam
bentuk yang sesuai dengan kerangka kerja pewawancara. Biasanya
wawancara seperti ini dilakukan dalam situasi lebih formal. Sedangkan
wawancara yang tidak terstruktur pertanyaan dan jawabannya tergantung
proses pewawancaraan. Dengan demikian wawancara dilakukan dengan
pertanyaan open ended dan mengarah kepada pendalaman informasi serta
dilakukan tidak formal. Didalam melakukan wawancara mendalam situasi
yang akrab harus dikembangkan oleh peneliti. Artinya peneliti jangan
lengsung mengajukan pertanyaan yang pokok agar bisa dihindari situasi
tanya jawab seperti proses interogasi. Cara berbicara yang menyangkut
berbagai hal yang umum dan menyenangkan tersebut biasanya disebut
dengan istilah “grand tour question”
(2) Observasi. Dua tehnik observasi, yaitu observasi langsung dan observasi
tidak langsung. Observasi langsung adalah cara mengumpulkan informasi
melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gehala yang Nampak pada
tempat dimana peristiwa berlangsung. Observasi tidak angsung adalah
cara mengumpulkan informasi melalui pengamatan dan pencatatan gejala
yang nampak lewat media. Sparadley, JP. (1980. Participan Observation.
Holt, Rinehart and Winston. New York.) menjelaskan bahwa peran dalam
observasi bentuknya ada empat, yaitu tak berperan sama sekali, berperan
pasif, berperan aktif dan berperan penuh dalam arti benar-benar menjadi
warga yang sedang diamati. Dalam observasi tak berperan kehadiran
peneliti tidak diketahui oleh subyek yang diamati. Observasi jenis ini bisa
dilakukan dengan menggunakan kaca “one way mirror’ atau
menggunakan teropong jarak jauh. Pengamatan semacam ini dapat juga
dilakukan dengan melihat rekaman video. Observasi berperan pasif dapat
dilakukan baik secara formal maupun informal. Secara formal dapat
diamati misalnya dengan menghadiri pertemuan, kegiatan kelas dan
sebagainya. Secara informal pengamatan dapat dilakukan selama
kunjungan, misalnya mengamati kondidi bangunan, situasi kerja dan
sebagainya. Guna menjaga reliabilitas studi, observasi sebaiknya
dilakukan tidak hanya sekali, baik secara formal maupun informal.
Sedangkan pada observasi berperan aktif , peneliti benar-benar
memainkan berbagai peran yang berkaitan dengan penelitiannya. Peneliti
bisa mengarahkan pada aktivitas yang sedang dipelajarinya. Misalnya,
peneliti bisa berperan sebagai salah satu penduduk baru yang tinggal di
desa atau sebagai pengurus organisasi di lingkungan tersebut, atau bahkan
sebagai tokoh yang membuat keputusan dalam organisasi masyarakat
disitu. Peran sebenarnya sebagai oeneliti hendaknya tidak diberitahukan.
Tehnik observasi berperan aktif sering dilakukan oleh antropolog.
(3) Focus group discussion. Tehnik ini banyak digunakan oleh beragam
perusahaan dalam membuat berbagai prduk, terutama dalam penelitian
pemasaran. Dalam perkembangannya tehnik ini banyak digunakan oleh
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terutama dalam menemukan
masalah dan penegambangan program yang ada di masyarakat. Peserta
diskusi posisinya sejajar, tidak boleh ada pemegang otoritas agar
pembahasan bisa bebas dan terbuka
Sedangkan yang non interaktif meliputi:
(1) Kuesioner. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan, yang dalam
pelaksanaannya dapat dilakukan secara lisan atau tertulis. Apabila
dilakukan secara lisan berarti peneliti membacakan pertanyaan untuk
responden. Hal ini sering dipakai untuk responden yang butahuruf.
Sedangkan kuesioner yang disajikan secara tertulis biasanya dikirim dan
kemudia responden mengisinya sendiri. Namun didalam penelitian
kualitatif, kuesioner jarang dipakai karena tidak cukup baik untuk
menggali data kualitas, lebih-lebih yang menyangkut pandangan dan
sikap subyek yang diteliti. Penggunaan kuesioner dalam penelitin
kualitatif sering dikarenakan peneliti ingin mandapatkan data garis besar
secara cepata berkaitan dengan gambaran umum. Kuesioner selalu
bersifat terbuka (open ended), artinya setiap pertanyaan diberi alternative
jawaban namun pada bagian bawah selalu disediakan ruang yang cukup
memberikan peluang jawaban lain.
(2) Mencatat dokumen dan arsip. Dokumen bisa beragam bentuk, dari
tulisan sedrhana sampai yang lebih lengkap dan bahkan berupa benda-
benda peninggalan masa lampau. Mencatat dokumen oleh Yin,R.K
(1987. Case Study Research : Design and Methods. SAGE Publication.
Baverly Hills. C.A) sebagai content analysis, yaitu peneliti tidak sekedar
mencatat isi yang tersurat tetapi juga maknanya yang tersirat. Oleh
karena itu dalam menghadapi beragam arsip/dokumen peneliti harus
bersikap kritis dan teliti. Bahkan dalam penelitian historis dokumen yang
ditemukan wajib dikaji kebenarannya, karena ada pepatah yang
mengatakan “sejarah” adalah milik pemenang.
Informasi dalam penelitian kualitatif biasanya sebagian besar berupa
deskripsi dalam bentuk kalimat (fieldnote) atau catatan lapangan. Catatan
lapangan terdiri dari dua bagian penting (Bogdan dan Biklen, 1982), yaitu :
(1) Bagian deskriptif. Pengembangan deskriptif dalam penelitian kualitatif
dilakukan dengan pendekatan fenomenologi. Artinya peneliti didalam
membuat penegertian-pengertian dilandasi pengalaman dialektik seperti yang
dinyatakan Spiegelberg (1960), bahwa deskripsi mensyaratkan suatu usaha
dengan keterbukaan pikir untuk merumuskan obyek yang sedang dipelajari.
Dalam hal ini perlu penelusuran obyek untuk menemukan dan menafsirkan
berbagai hubungan tanpa memisahkannya dari berbagai struktur utama
konteksnya. Lewat refleksi (renungan), berbagai citra diteliti danditafsirkan
berbagai makna kontekstualnya. Oleh karena itu, deskripsi fenomenologis
seperti halnya juga pengamatan yang didasarkan atas cara fenomenologi
selalu dibebani oleh penemuan makna. Bagian deskripsi ini meliputi potret
subyek, rekonstruksi dialog, keadaan fisik, serta catatan tentang berbagai
peristiwa khusus, gerak-gerik misalnya. Menyadari bahwa semuanya tidak
mungkin ditangkap secara lengkap, maka peneliti lebih baik menggunakan
istilah yang mereka pakai dan menghindari kata-kata abstrak.
(2) Bagian refleksi. Bagian ini merupakan catatan subyektif proses perjalanan
peneliti. Dengan demikian tekanannya pada spekulasi, perasaan, pikiran-
pikiran, kesan dan bahkan juga prasangka peneliti. Bagian refleksi dalam
catatan data bisa meliputi beberapa jenis, yaitu : pertama, refleksi analisis,
berupa spekulasi tentang apa yang sebenarnya dihadapi, pola yang dapat
dihadirkan, hubungan antar bagian data: kedua, refleksi metode berupa
prosedur dan strategi yang digunakan misalnya perubahan desain penelitian;
ketiga, refleksi masalah etis dan konflik berisi cerminan tentang masalah etis,
khususnya perlindungan informan atau subyek yang diteliti atas informasi
yang diberikan; keempat, refleksi kerangka pikir peneliti. Walaupun dalam
penelitian kualitatif sering dihindari adanya kerangka piker awal, namun
kenyataannya hal ini sulit dihindari dan diabaikan. Maka apabial ada kerangka
pikir sebelumnya sebaiknya tidak dipegang kuat dan dijadikan patokan cara
pandang agar tidak mengaburkan keadan yang sebenarnya terjadi di lokasi.
(3) Pokok-pokok penjelasan. Bagian ini berisi tambahan catatan sebagai
penjelasan yang diperlukan, bahkan koreksi atas kesalahan.
Dari semua informasi yang ada dalam fieldnote yang sudah dimantapkan
dengan proses reflektifnya, maka peneliti perlu membuat kode (coding). Coding
menggambarkan operasi data dengan memilah, dikonsepsualisasikan dan kemudia
dibeberkan bersama dalam cara lain. Selanjutnya bisa dilakukan dengan
pembahasan tiga komponen utama analisis yang meliputi reduksi data, sajian data
dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

4.5. Validasi Data


Untuk menguji kredibilitas data pada penelitian kualitatif digunakan tehnik
triangulasi. Tehnik triangulasi pada dasarnya ada dua, meliputi triangulasi tehnik
dan triangulasi sumber. Triangulasi tehnik dimaksudkan peneliti menggunakan
tehnik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber
yang sama. Peneliti dapat menggunakan observasi partisipatif, wawancara
mendalam dan dokumentasi untuk sumber data yang sama. Sedangkan triangulasi
sumber dimaksudkan peneliti mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda
dengan tehnik yang sama.

Observasi A
partisipatif

Wawancara Sumber Wawancara B


Mendalam data sama Mendalam

Dokumen C
tasi

Triangulasi Tehnik Triangulasi Sumber

Tujuan dari tehnik triangulasi bukan untuk mencari kebenaran, tetapi lebih
pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang ditemukan. Kelebihan
dari tehnik pengumpulan data dengan triangulasi adalah untuk mengetahui apakah
data yang diperoleh konvergen (meluas), tidak konsisten atau kontradiksi,
sehingga data yang diperoleh nantinya lebih konsisten, tuntas dan pasti.
Triangulasi akan lebih meningkatkan kekuatan data bila dibandingkan dengan
satu pendekatan.

4.6.Analisis Data
Data-data yang dikumpulkan melalui penelitian kualitatif terdiri dari catatan-
catatan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen , biografi, artikel dan
sebagainya. Dalam bentuk aslinya, data kasar/mentah itu belum dapat berbicara
apa-apa, belum memberikan gambaran yang jelas terhadap keseluruhan yang
diamati. Karena itu, tahap berikutnya setelah data terkumpul adalah melakukan
analisa terhadap data mentah tersebut. Analisis data merupakan suatu kegiatan
pemberian makna untuk menghasilkan kesimpulan.
Bogdan dan Taylor (1975), mendefinisikan analisis data sebagai suatu proses
yang memerinci secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis
berdasarkan data. Selain itu ada yang berpendapat bahwa analisis data adalah
suatu proses mengatur atau mengurutkan data, menata dan mengorganisasikannya
ke dalam suatu pola berdasarkan kategori atau satuan uraian dasar tertentu, atau
kode-kode yang diberikan pada data pengamatan.
Menurut penulis, analisis data tidak terbatas hanya pada pengorganisasian data
lalu menyajikan data. Pengorganisasian data merupakan tahap awal yang sangat
membantu peneliti untuk melakukan penafsiran dan atau pengujian hipotesis
sehingga bermakna dan memudahkan peneliti menarik kesimpulan. Analisis data
merupakan metode yang sistematis. Analisis dilakukan untuk memperoleh
gambaran yang jelas dari suatu hal yang samara tau bahkan sama sekali belum
diketahui, menentukan bagian-bagiannya, hubungan antar bagian, atau
hubungannya dengan keseluruhan.
Telah dijelaskan bahwa tujuan penelitian kualitatif pada umumnya adalah
menemukan teori dari informasi dan data, walaupun ada yang memanfaatkannya
sebagai sarana untuk menguji atau memverifikasi teori yang sedang berlaku. Hal
ini berarti bahwa analisis data merupakan suatu tahap yang memegang peran
penting, meskipun harus diingat hatap itu tak terpisahkan dari tahap-tahap
lainnya. Peneliti perlu memperhatikan keterkaitan satu tahap dengan tahap lainnya
agar tidak kehilangan makna. Analisi data dilakukan secara terus menerus
bersamaan dengan pengumpulan data dan informasi.
Strategi pendekatan pada penelitian kuantitatif (konvensional) bertolak dari
landasan-landasan teori atau konsep-konsep tertentu. Pada dasarnya strateginya
adalah pengubahan (transformasi) konsep dan hubungan antar kategori ke dalam
definisi-definisi kunatitas dan pencarian makna dilakukan melalui pengolahan
data secara statistic. Pengolahan dengan menggunakan teori statistic
menghasilkan ukuran-ukuran kuantitas seperti ukuran kecenderungan (rataan,
median, mode), ukuran lokasi/posisi (kuantil). Ukuran penyebaran (varian,
simpangan baku), ukuran hubungan (koefisien korelasi), fungsi kepadatan
peluang dan sebagainya. Strategi atau pendekatan demikian disebut deduktif-
verifikatif.
Berbeda dengan penelitian kualitatif, strategi pendekatannya adalah induktif-
konseptualisasi. Dengan strategi ini peneliti bertolak dari fakta atau informasi
empiris untuk membangunn suatu konsep, hipotesis dan teori. Dengan penelitian
kualitatif untuk sampai pada suatu konsep tidak mengkuantifikasi fakta dan
menghitungnya berdasar data yang telah ditabulasi, melainkan melali abstraksi
yang lebih tinggi. Melalui abstraksi, data yang telah terakumulasi dikembangkan
pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk definisi nominal, makna teoritis atau isi
substantive dari suatu konsep. Dengan pendekatan ini makna diperoleh dengan
tidak mengubah fakta kedalam ukuran kuantitas, tetapi berdasarkan fakta dan
inter-relasi dari kategori alamiahnya.
Ada lima jenis analisis data penelitian kualitatif (Sanapiah, Faisal.1990.
Penelitian Kualitatif, Dasar-dasar dan Aplikasi YA3. Malang) :
(1) Analisi domain, dilakukan untuk memperoleh gambaran umum dan realtif
menyeluruh tentang suatu pokok permasalahan yang sedang diteliti (domain).
Bangunan gedung, perguruan tinggi, atau tenaga kependidikan dapat
dipandang sebagai domain. Termasuk sebagai kategori symbol di dalam
tenaga kependidikan sebagai domain adalah guru, dosen, penilik, konselor,
perencana pendidikan, administrator pendidikan. Ada 9 domain yang dapat
ditelusuri dalam analisis domain, yaitu (a) jenis; (b) ruang/spasial; (c) sebab
akibat; (d) rasional; (e) lokasi untuk melakukan sesuatu; (f) cara menuju
tujuan; (g) fungsi; (h) urutan; dan (i) atribut atau karakteristik.
(2) Analisis taksonimis, merupakan analisis yang lebih rinci dan mendalam
setelah analisis permukaan, memumpunkan pada salah satu sub domain.
Misalnya, penelitian dipumpunkan pada domain “peranan/fungsi guru”. Pada
analisi domain tentunya sudah dirumuskan apa saja yang menjadi fungsi guru.
Dari setiap fungsi tersebut kemudian dirinci lagi sampai struktur internalnya.
Untuk mempermudah melakukan analisis taksonimi, hasil pengamatan atau
wawancara yang dicatat di lapangan kemudian dituangkan dalam suatu daftar
atau diagram. Banyaknya daftar atau diagram yang dibuat tentunya sebanyak
domain yang ditelaah secara rinci dan mendalam struktur internalnya. Analisis
taksonimis dilakukan untuk mengorganisasikan unsure-unsur yang memiliki
kemiripan dalam suatu domain yang diperoleh melalui pengamatan atau
wawancara terfokus.
(3) Analisis komponensial, dilakukan untuk mengorganisasikan kontras antar
unsure dalam domain yang diperoleh dari pengamatan atau wawancara
terseleksi. Setiap anggota atau kategori dalam suatu domain memiliki atribut
dan cirri-ciri khusus yang diasosiasikan kepadanya. Atribut-atribut khusus ini
merupakan kontras yang membedakan satu kategori dengan lainnya, dan
pembedaan itulah yang dikerjakan dalam analisis komponensial. Dalam
analisis komponensial ini diharapkan dapat merumuskan semua kontras yang
mungkin, dan menuangkannya dalam lembaran kerja. Setelah lembaran kerja
selesai diisi, dan setelah diberikan uraian secukupnya kemudian disajikan
sebagai laporan penelitian.
(4) Analisis tema cultural. Bertumpu pada anggapan bahwa keseluruhan itu bukan
hanya penggabungan bagian-bagiannya. Setiap situasi sosial dan budaya yang
diteliti, bukanlah hanya merupakan gabungan dari bagian-bagian kegiatan,
pelaku, tempat, dan fasilitas yang ada dalam situasi tersebut, tetapi merupakan
kesatuan yang memiliki suatu pola dalam keseluruahan (complex pattern).
Dalam keseluruahn yang bersifat kompleks itu terdapat tema-tema yang
menjadi orientasi kognitif bagi para pelakunya. Dalam penelitian kualitatif
akan semakin lengkap dan bersifat holistic apabila dari pokok permasalahan
yang diteliti ditemukan tema-tema yang menjadi orientasi kognitif bagi setiap
kelompok atau masyarakat. Pada kenyataannya setiap masyarakat memiliki
tema-tema utama yang begitu melekat sehingga menampakan diri dimanapun
dan kapanpun dalam masyarakat itu, tetapi ada pula tema-tema terbatas yang
tampil pada situasi dan kondisi teretntu saja.
(5) Analisis komparasi konstan (grounded theory research), dilakukan untuk
mendapatkan teori dengan cara memverifikasi teori yang ada dan menguji
data. Jadi analisis komparasi ini dilakukan untuk mengembangkan teori
berdasarkan data yang diamati. Dalam hal ini, sebelum membuat pernyataan-
pernyataan teoritis yang lebih umum, peneliti mengonsentrasikan diri untuk
memberikan gambaran yang rinci mengenai sifat dan ciri data yang diamati.
Setelah data dideskripsikan, peneliti kemudian mulai menghipotesiskan
jalinan hubungan antara fenomena-fenomena yang ada dan mengujinya. Pada
umumnya kegiatan yang dilakukan dalam analisis pengembangan teori dasar
itu adalah membuat catatan-catatan (note writing), mengidentifikasi konsep-
konsep (identification of concepts), dan mengembangkan batasan konsep dan
teori (development of concept definition and the elaboration of theory).
Pembuatan catatan yang memuat penjelasan yang lengkap, meliputi konteks
suatu kejadian, identifikasi semua informasi mengenai subyek, benda, tempat
dan kejadian-kejadian merupakan bagian awal yang akan sangat membantu
dalam analisi. Selanjutnya dengan melakukan abstraksi berdasarkan catatan-
catatan tersebut peneliti mulai mengembangkan konsep dan membuat batasan-
batasan konsep untuk kemudian menyusun teori. Dengan proses tersebut
peneliti bertujuan untuk mempresentasikan secara konseptual apa yang
dinyatakan oleh data secara empiris. Representasi konseptual yang lengkap
merupakan hasil dari suatu proses penemuan suatu teori. Sudah barang tentu
sebelum temuan itu dianggap final atau dinyatakan berlaku, perlu diuji
terlebih dulu.

Dalam paradigm naturalistic, data dan informasi tidak dipandang sebagai apa
yang diberikan alam, melainkan merupakan hasil interaksi antara peneliti dengan
sumber informasi. Interaksi disini mencakup juga pemberian interpretasi peneliti
terhadap apa yang telah diberikan alam. Karena itu analisis data dan informasi
pada dasarnya sudah dimulai sejak atau berbarengan dengan pengumpulannya,
sehingga dikenal dengan :
(1) Analisis Awal
Analisis awal dilakukan dengan apa yang disebut kegiatan reduksi data (data
reduction). Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan dan pemusatan
perhatian penelitian melalui seleksi yang ketat terhadap focus yang akan dikaji
lebih lanjut, penajaman focus, pembuatan ringkasan hasil, pengorganisasian data
sehingga siap untuk dianalisa lebih lanjut. Tujuan akhir dari analisis awal adalah
untuk memahami seluruh data yang telah dikumpulkan dan data yang belum
terjaring. Selain itu melalui kegiatan reduksi data tersebut dapat dipikirkan
peluang-peluang pengumpulan data yang lebih berkualitas dan menguji hipotesis-
hipotesis yang muncul selama pengumpulan data (Miles dan Hubermann, 1984)
Menurut Bogdan dan Biklen (1982) dalam “Methods of Social Research” ada
sembilan prinsip dasar dalam melakukan analisis data ketika peneliti masih berada
di lapangan, yaitu : (1) mengusahakan mempersempit lingkup studi; (2) menjaga
konsistensi kerja; (3) mengembangkan pertanyaan-pertanyaan analitik; (4)
memburu data secara runtut untuk memperluas dan mempertajam data; (5)
membuat komentar tertulis secara tajam atas ide-ide yang muncul; (6) membuat
ikhtisar secara akurat; (7) mengkonfirmasikan ide-ide dan tema pada subyek
penelitian; (8) mengeksplorasi literature seawall mungkin; dan (9) senantiasa
bermain dengan metafora, analogi, dan konsep-konsep. Kegiatan tersebut dapat
dilakukan secara integral melalui langkah-langkah sebagai berikut :
Pertama, pada setiap saat dan berakhir melakukan satu kali pengumpulann
data dibuatkan komentar dan memo penelitian. Komentar dan memo merupakan
refleksi terhadap proses pengumpulan data yang sedang dilakukan. Komentar dan
memo berisi temuan-temuan sementara, gagasan-gagasan yang muncul dan
rencana pengumpulan data berikutnya.
Kedua, setiap selesai dilakukan beberapa kali pengumpulan data semua
catatan lapangan (field note) dibaca, dipahami dan kemudian dibuatkan
ringkasannya. Ringkasan tersebut oleh Miles dan Hubermann disebut dengan
ringkasan kontak. Ringkasan kontak adalah selembar atau beberapa lembar kertas
yang berisikan uraian singkat hasil penelaahan semua catatan lapangan,
pemfokusan, dan pemecahan terhadap setiap rumusan masalah.
Ketiga, pada setiap tiga minggu atau satu bulan semua ringkasan kontak yang
telah berhasil dibuat dibaca lagi dan dibuatkan apa yang oleh Miles dan
Hubermann disebut sebagai ringkasan situs (ringkasan kasus) sementara.
Ringkasan situs adalah rangkuman hasil sementara yang menyatukan apa yang
telah diketahui tentang situs atau kasus dan menunjukan apa yang telah diketahui
tentang situs dan menunjukan apa yang masih harus dijaring lebih lanjut.

(2) Analisis Lanjutan


Setelah seluruh data dan informasi yang diperlukan selesai dikumpulkan,
alangkah berikutnya adalah melaksanakan analisis lanjutan yang dilakukan
secara intensif. Analisis intensif mulai dilakukan dengan pengkodean (coding)
yang memenuhi kaidah-kaidah logika berpikir normal dan diberikan secara
konsisten. Langkah-langkah yang dapat ditempuh meliputi : (1) pengembangan
sistem kategori pengkodean; (2) penyortiran data; dan (3) penarikan kesimpulan.
Dalam mengembangkan sistem kategori pengkodean semua data yang
berwujud catatan lapangan, termasuk semua ringkasan kontak dan ringkasan
situs sementara yang pernah dibuat selama pengumpulan data dibaca daan
ditelaah kembali secara seksama. Berkaitan dengan pengkodean, Bogdan dan
Biklen (1982) mengklasifikasikan menjadi 11 kelompok, yaitu : (1) kode tata
situasi atau kode konteks, yaitu pengkodean informasi yang bersifat umum dari
situasi, topic atau jumlah subyek yang disortir atau dipilah; (20 kode definisi
situasi, yaitu menempatkan unit-unit data kualitatif pada tempat yang sesuai; (3)
kode perspektif yang dipegang oleh subyek, yaitu kelompok pengkodean yang
merujuk pada cara berpikir subyek; (4) kode tentangg cara berpikir subyek
tentang orang-orang dan objek-objek, yaitu untuk mengetahui bagaimana subyek
saling memahami diantara sesame mereka terhadap orang luar dan terhadap
objek-objek yang ada di sekitar mereka; (5) kode proses, yaitu mengacu pada
pengkategorian mengenai alur kehidupan seseorang secara sekuaensial; (6) kode
aktivitas, yaitu merujuk pada upaya melihat perilaku tertentu dari subyek tertentu
pula; (7) kode peristiwa, digunakan pada unit-unit data yang berkaitan dengan
aktivitas khusus yang terjadi pada situasi tertentu atau dalam kehidupan subyek
yang diwawancarai; (8) kode strategi, yaitu berdasarkan taktik, cara, makna satau
maneuver yang disenangi bersama atau cara lain yang disadari subyek dan
dilakukan untuk menyelesaikan beberapa hal; (9) kode struktur sosial dan
pergaulan, mengacu pada pola umum tingkah laku interaktif diantara
sekelompok orang; (10) kode metode, mangacu pada pemisahan bahan-bahan
yang relevan atau tidak relevan dikaitkan dengan prosedur penelitian; dan (11)
sistem kode yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu yang biasa digunakan pada
penelitian yang bersifat evaluative. Agar kode-kode dqapat berfungsi
sebagaimana mestinya, maka untuk setiap kode diberi batasan operasionalnya
berdasarkan cakupan maknanya.
Langkah berikutnya setelah selesai pengkodean adalah membuat daftar dan
memberikan tanda untuk setiap unit agar setiap unit data dapat dimasukan
kedalam suatu kategori. Setelah sistem kategori pengkodean dibuat, catatan
lapangan dibaca kembali, dan setiap satuan data yang tertera didalamnya diberi
kode yang sesuai. Satuan data adalah potongan-potongan catatan lapangan yang
biasanya berupa kalimat-kalimat atau alinea-akinea. Ada beberapa pendekatan
dalam menyortir atau mengelompokan data, diantaranya sebagai berikut :
Pertama, ”the cut-up and put-in foldres approach” (pendekatan gunting dan
lalu dimasukan kedalam map), dimana semua catatan yang telah diberi kode
digunting sehingga satuan-satuan datanya dapat dikelompokan didalam map-map
tersendiri. Pada setiap map diberi kode.
Kedua, “the file card system” (sistem kartu arsip), dimana semua satuan data
yang telah diberi code ditulis kembali pada kartu, kemudia kartu diletakan pad
asebuah rak. Pada setiap rak diberi kode-kode tertentu .
Dalam penelitian kualitatif dapat juga digunakan analisis data seperti Miles
dan Hubermann (1992),yaitu : (1) reduksi data); (2) penyajian data; dan (3)
penarikan kesimpulan/ verifikasi. Reduksi data
Gambar . Model Analisa Interaktif

Pengumpulan Data Penyajian Data

Reduksi Data Kesimpulan/Verifi


kasi

Sumber : Miles dan Heberman (1992)


Reduksi data adalah memilih-milih data, dirangkum, difokuskan pada hal-hal
yang pokok, data yang tidak relevan dibuang, dan kemudian dicari tema dan
polanya. Reduksi data berlangsung terus menerus selama proses penelitian
berlangsung. Penyajian data atau display data dimaksudkan agar memudahkan
peneliti melihat gambaran secara keseluruhan. Oleh karena itu dalam setiap
penelitian, peneliti akan menyajikan data dalam bentuk matriks, garfik, network
dan charts. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data,
peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang
dikumpulkan, yaitu mencari pola, tema, hubungan perasaan, hal-hal yangsering
timbul, hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang bersifat
tentative. Akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara
terus menerus, maka diperoleh kesimpulan yang bersifat grounded. Dengan kata
lain, setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian
berlangsung.

4.7. Validitas Data


Dalam penelitian kualitatif terdapat beberapa cara yang bisa dipilih untuk
pengembangan validitas (kesahihan) data penelitian. Cara-cara tersebut antara
lain adalah sebagai berikut :
(1) Triangulasi
Triangulasi merupakan cara yang paling umum digunakan bagi
peningkatan validitas penelitian kualitatif. Dalam kaitan ini Patton (1984)
menyatakan ada empat macam triangulasi, yaitu : pertama, triangulasi data
atau sumber. Peneliti wajib menggunakan beragam sumber data yang
tersedia. Artinya data yang sama atau sejenis akan lebih mantap
kebenarannya jika digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Kedua,
triangulasi metodologi. Triangulasi data ini dilakukan peneliti melalui
pengumpulan data sejenis dengan menggunakan tehnik pengmpulan data
yang berbeda. Ketiga, triangulasi peneliti, yaitu menguji validitas data
melalui beberapa peneliti dengan cara melakukan diskusi,
membandingkan data dan menyelenggarakan seminar. Keempat,
triangulasi teoritis. Tehnik inii dilakukan dengan menggunakan perspektif
lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji. Misalnya
suatu masalah dikaji dengan teori ekonomi, sosial dan politi. Dengan
berbagai kajian tersebut, kesimpulan yang didapat lebih komprehensif.
Triangulasi ini merupakan tehnik yang didasari pola pikir fenomenologis
yang bersifat multiperspektif. Artinya, untuk menarik kesimpulan yang
mantap diperlukan tidak hanya satu cara pandang. Dari beberapa cara
pandang tersebut akan bisa dipertimbangkan beragam fenomena yang
muncul, dan selanjutnya bisa ditarik kesimpulan yang lebih mantap dan
lebih bisa diterima kebenarannya.

Observasi A
partisipatif

Wawancara Sumber Wawancara B


Mendalam data sama Mendalam

Dokumen C
tasi

Triangulasi Tehnik Triangulasi Sumber

Tujuan dari tehnik triangulasi bukan untuk mencari kebenaran, tetapi


lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang ditemukan.
Kelebihan dari tehnik pengumpulan data dengan triangulasi adalah untuk
mengetahui apakah data yang diperoleh konvergen (meluas), tidak
konsisten atau kontradiksi, sehingga data yang diperoleh nantinya lebih
konsisten, tuntas dan pasti. Triangulasi akan lebih meningkatkan kekuatan
data bila dibandingkan dengan satu pendekatan.
(2) Review Informan
Pada waktu peneliti sudah mendapatkan data dan berusaha menyusun
sajian datanya, maka unit-unit lapoiran yang telah disusun perlu
dikomunikasikan kepada informannya. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui apakah laporan yang ditulis bisa disetujui. Didalam
pelaksanaannya diperlukan suatu diskusi agar kesamaan pemahaman dari
peneliti dan informannya tercapai. Hal yang perlu dipahami oleh peneliti
adalah memberikan rasa aman bagi informannya.
(3) Penyusunan Data Base
Merupakan bukti data yang telah dikumpulkan dalam segala bentuknya,
seperti deskripsi, gambar, skema, rekaman wawancara, matriks dan
sebagainya guna memudahkan review serta penelusuran kembali proses
penelitian bila diperlukan. Meskipun penelitian telah selesai disusun, data
base harus tetap tersimpan utuh selama kurun waktu tertentu.
(4) Menuntut Selalu Hadirnya Peneliti pada Lokasi Studinya.
Kehadiran peneliti di lapnagan dianggap salah satu cara terbaik untuk bisa
lebihh memahami konteks dengan berbagai ragam peristiwa di dalamnya.

4.8. Audit Hasil Analisis Data dan Informasi


Secara sederhana audit hasil analisis data dapat diartikan sebagai
proses pemeriksaan terhadap alur analisis data. Pemeriksanya disebut dengan
auditor. Jumlahnya bisa satu, dua, tiga orang atau lebih. Semakin banyak
auditornya semakin baik asal sesuai dengan situasi dan kondisi. Dalam banyak
penelitian seseorang yang ditunjuk sebagai auditor adalah konsultannya
sendiri. Auditor yang demikian ini disebut auditor internal. Namun bisa saja
ditunjuk auditor dari orang-orang yang secara formal tidak termasuk dalam
tim proyek penelitian yang disebut auditor eksternal.
Dalam mengaudit keabsahan data harus didasarkan pada criteria-
kriteria tertentu. Kriteria yang dimaksud dalam penelitian kualitatif adalah :
(1) derajat kepercayaan (credibility). Derajat kepercayaan dimaksudkan
sebagai pengganti konsep validitas internal dari penelitian. Beberapa cara
yang dapat dipakai menurut Nasution (1988), yaitu memperpanjang masa
observasi, triangulasi, peer debriefing, menganalisis kasus negative,
menggunakan referensi, dan mengadakan “member check”.
(2) keteralihan (transferability). Keteralihan berkenaan dengan pertanyaan
sejauh mana hasil penelitian dapat dipublikasikan atau digunakan dalam
situasi lain. Dalam hal ini peneliti harus perusaha memberikan diskripsi
yang rinci tentang bagaimana hasil penelitian bisa dicapai.
(3) ketergantungan (dependability) kepastian (confirmability). Untuk
menjamin ketergantungan dan kepastian hasil penelitian, maka cara yang
dipakai adalah “audit trail” (memeriksa dan melacak suatu kebenaran).
Proses ini dilakukan dengan mengikuti metodologi, desain strategi,
prosedur rasional dengan dukungan rekaman-rekaman, dokumen, hasil
sintesis

4.9. Mendesain dan Melaksanakan Penelitian Kualitatif


Setiap calon peneliti yang hendak melaksanakan suatu penelitian kualitatif
hendaknya terlebih dahulu mendalami 4 hal penting, yakni :
(1) Paradigma/teori, yakni serangkaian konsep yang bersifat eksplanatif
Contoh ; suatu penelitian yang berparadigma post positivism. “Interaksi
simbolik” mencoba mengkaji makna-makna sosial yang terbentuk karena
adanga hubungan-hubungan antar pribadi tentang sikap kaum perempuan
mengenai kuota 30% di lembaga legislative.
(2) Hipotesis, suatu proposisi yang bisa diuji/ dites kebenarannya. Hipotesis
yang diuji di kancah adalah: “semakin kuat tuntutan kaum perempuan di
kota X untuk masuk di lembaga legislative”
(3) Metodologi, suatu pendekatan umum untuk mengkaji suatu topic
penelitian
(4) Metode, yakni suatu teknik penelitian yang dipilih untuk melaksanakan
penelitian. Metode yang dapat diterapkan untuk kasus tersebut adalah
metode observasi, wawancara, analisis teks dan dokumentasi.
Desain penelitian menurut pandangan Lincoln & Guba (1985), penelitian
selalu diawali dengan : pertama, penetapan focus yang berupa masalah, hal-
hal yang akan dievaluasi, pilihan/opsi. Kedua, teori dimunculkan dari hasil
penelitian lapangan sehingga masalah dan metode pengumpulan data dapat
berubah sehubungan dengan penetapan teori di lapangan. Ketiga, sampel
penelitian bukanlah merupakan representasi dari populasi tetapi merupakan
cara untk memaksimalkan besaran informasi yang diinginkan (dalam konteks
penyusunan teori) sehingga bernuansa sampel teoritis (theoretical sampling)
yang pas/ cocok dan serial (contingent and serial). keempat, instrument
penelitian tidak bersifat eksternal (obyektif seperti lewat pertanyaan dengan
jawaban pilihan ganda yang ditetepkan terlebih dahulu), tetapi bersifat
internal (subyektif) dengan maksud agar peneliti mampu membaca, memotret
dan member makna atas fenomena yang akan dikaji. Kelima, analisis data
bersifat “open ended” dan “induktif” agar data yang dianalisis mempunyai
makna. Keenam, hasil penelitian sukar ditetapkan secara spesifik karena
selain hasilnya bersifat tentative ia juga bersifat substantive dan subyektif
(idiografis), yaitu menggambarkan secara mendalam “Tacit knowledge” dari
subyek penelitiannya secara alami. Generalisasi hasil penelitian hanya
dimungkinkan bila hasil uji terhadap keabsahan datanya (credibility,
transferability, dependability dan confirmability) menunjukan tingkat
kepercayaan hasil yang sangat tinggi (trustworthiness)
Unsur-unsur desain dan langkah-langkah penelitiannya adalah sebagai
berikut:
(1) Merancang dan menetapkan suatu focus penelitian yang berangkat dari
adanya masalah tertentu (problem), obyek penilaian (evaluand) dan
opsi kebijakan (policy option)
(2) Merancang dan menetapkan kecocokan paradigm penelitian dengan
focus penelitian. Walaupun tidak ada rumus baku untuk ini tetapi
sebelumnya perlu dijawab beberapa pertanyaan (aksioma paradigm
penelitian) sebagai berikut :
a. Apakah fenomena yang akan diteliti bersifat ganda atau tunggal?
b. Bagaimanakah bentuk hubungan antara peneliti dengan fenomena
yang hendak ditelitinya?
c. Sejauhmanakah tingkat ketergantungan konteks?
d. Apakah ada alasan yang cukup untuk menjelaskan hubungan
kausalitas terhadap unsure-unsur fenomena yang akan dikaji?
e. Sejauhmanakah nilai-nilai tertentu akan mempengaruhi hasil
penelitiannya (bebas nilai ataukah sarat nilai)?
(3) Merancang dan menetapkan kecocokan paradigm penelitian dengan
teori substantive yang akan dipilih untuk mengarahkan penelitiannya
(4) Menetapkan dan merancang sampel penelitian dimana dan dari siapa
data akan dikumpulkan (sampel bertujuan = purposive sample), data
diperoleh dari sampel yang bergulir terus (snowball sampling) sehingga
datanya jenuh (saturated data) atau sesuai dengan informasi yang
diinginkannya tercapai
(5) Merancang tahap/langkah penelitian :
a. Menetapkan proses penelitian pada latar yang alami (natural
setting) karena fenomena fisik, kimiawi, sosial, psikologi, biologi
itu akan mempunyai makna yang hakiki dalam konteks yang asli (in
situ not in vitro environments)
b. Menetapkan peneliti sebagai instrument utama karena mampu
mendengar, melihat, berbicara, membaca secara cermat
c. Memusatkan diri pada pengetahuan yang tak terkatakan (tacit
knowledge). Yang diperoleh dari pengalaman dengan obyek dan
peristiwa.
d. Menetapkan sampel bertujuan (purposive sampling) karena kaya
data
e. Menetapkan analisis data secara induktif, yaitu suatu proses
member makna atas data lapangan
f. Menyusun teori mendasar (grounded theory), yakni teori yang
disusun berdasarkan data yang diperoleh di kancah untuk
menggambarkan realitas ganda (multiple realities) karena
keteralihan hasil penelitian (transferability) sangat tergantung pada
factor-faktor yang ada di lokalnya.
g. Desain penelitian disusun sementara (emergent design) karena :
pertama, makna atas fenomena yang dikaji lebih banyak ditentukan
oleh konteks; kedua, eksistensi realitas yang bersifat ganda tidak
mungkin ditelaah lewat satu desain penelitian saja; ketiga, apa yang
akan dikaji pada satu situs senantiasa tergantung pada interaksi
antara peneliti dan obyek yang diteliti dan konteksnya dan interaksi
itu sangat sulit diramal; dan keempat, hakekat pemberian makna
secara bersama (mutual shapings) hanya dapat dilakukan setelah
fenomenanya disaksikan bersama (intersubjective meaning)
h. Hasil penelitian dinegosiasikan (negotiated out comes), artinya baik
fakta maupun interpretasi hasil dalam bentuk laporan khusus harus
dapat diteliti kebenarannya baik oleh informan sebagai sumber
informasi maupun orang lain yang menyukainya. Hal ini
dimaksudkan untuk lebih mengedepankan semangat “emic”
daripada “etic” karena penelitian kualitatif itu sarat nilai (value
bounded), maka “the value of the respondents must be considered “
dan ini sangat sesuai dengan semangat untuk memperoleh
trustworthiness
i. Laporan hasil penelitian dalam bentuk kajian khusus (the case
report) yang sangat sesuai dengan paradigm naturalistic, yakni
suatu penelaahan yang sangat intensif dan mendalam atas suatu
fakta, isu atau mungkin peristiwa yang terjadi pada suatu setting
sepanjang waktu. Tujuannya utamanya adalah : menberikan
gambaran mendalam (thick description) atas suatu fenomena
tertentu dalam situasi tertentu (a portrayal of a situation); kajian
kasus memenuhi 3 aksioma mendasar; sebagai sarana komunikasi
yang ideal dengan pengguna hasil penelitian.
j. Aplikasi hasil penelitian kualitatif bersifat sementara atau tentative
(tidak bertujuan untuk mencari generalisasi). Hasil penelitian yang
bersifat idiografis (tidak nomotetis) sangat terikat oleh nilai-nilai
kelokalan yang substantive dan subyektif. Penerapannya yang
bersifat agak “general” hanya bisa dilakukan pada ruang & waktu
yang sama atau paling tidak ada kemiripan.

Pandangan W.L Newman dalam social research methods (1994) tentang 6


karakteristik utama penelitian kualitatif :
(1) Mengutamakan konteks sosial
Makna suatu tindakan sosial sangat tergantung sekali pada konteks dimana
tindakan sosial itu terjadi. Bila suatu peristiwa atau tindakan sosial itu
dipisahkan dari konteks sosialnya atau diabaikannya maka makna dan arti
sosialnya menjadi rusak, hilang atau berbeda.
(2) Pendekatan studi kasus
Peneliti mengumpulkan sejumlah besar informasi hanya pada suatu atau
beberapa kasus tetapi ia masuk ke dalam dan mendetail agar dapat
ditemukan dan digambarkan pola-pola dalam kehidupan, tindakan, sikap,
perasaan, kata-kata dan kalimat dari orang-orang di dalam konteks
sosialnya secara utuh dan menyeluruh.
(3) Mengutamakan integritas peneliti
Hubungan yang dekat antara peneliti dengan subyek penelitiannya
mengharuskan peneliti kualitatif menjaga integritas dirinya agar hasil
penelitiannya tetap obyektif dan tidak bias
(4) Membangun teori dari data
Penelitian kualitatif tidak berangkat dari teori atau hipotesis, tetapi dari
masalah penelitian (research question), karena penelitian ini tidak bersifat
deduktif melainkan induktif, maka teori dibangun dari data atau menggali
data dasarnya (grounded research)
(5) Mencermati proses dan sekuen
Peneliti kualitatif dengan cermat selalu mengamati proses dan urutan
peristiwa dari kasus yang dipelajarinya setiap saat agar dapat melihat
perkembangan yang terjadi secara terus menerus.
(6) Interpretasi data penelitian kualitatif dilakukan mulai dari :
a. The first order interpretation, yaitu menginterpretasikan data dengan
cara menemukan bagaimanakah orang-orang yang sedang ditelitinya
itu melihat dan member makna atas dunia mereka sendiri
b. The second order interpretation, yaitu peneliti kemudian
merekonstruksi makna (meaning) tadi dalam kaitannya dengan
perkembangan konteksnya. Jadi ia menempatkan tindakan orang-orang
yang ditelitinya ke dalam stream of behavior
c. The third order interpretation, yaitu peneliti bergerak lebih jauh
dengan menghubungkan the second interpretation dengan teori umum
(general theory)

Melaksanakan penelitian kualitatif dengan menggunakan paradigm


naturalistic sebagaimana digagas Lincoln dan Guba (1985) memiliki langkah-
langkah sebagai berikut :
Langkah 1
(1) Tetapkan masalah penelitian (problema nyata, evaluasi tentang suatu hal,
alternative kebijakan dst)
(2) Susus tujuan penelitian sesuai dengan masalah yang hendak diangkat
Langkah 2
(1) Pilih dan tetapkan setting penelitian yang alamiah
(2) Persyaratan penetapan setting yang alami harus benar-benar menekankan
pada fenomena yang dikaji. Apapun bentuknya (fisik/biologis/ sosial/
kejiwaan/ sikap/perilaku/persepsi dst) harus berada dalam konteksnya
yang alami atau asli.
(3) Konstruksikan realitas yang hendak dikaji ketika ia berada di situsnya atau
sedang terjadi (dialaminya) dengan memperhatikan aspek konteks dan
waktu
(4) Laksanakan penelitian in situ bukan in vitro
Langkah 3
(1) Tetapkan instrument penelitiannya dan jangan lupa bahwa peneliti itu
sendiri adalah instrument yang paling penting
(2) Karena seringkali segala sesuatu terjadi secara tidak terduga atau tak
terbatas (indeterminate0, maka yakinkan diri bahwa peneliti adalah
instrument yang utama dan mampu mengatasi situasi yang tidak terduga
tersebut.
(3) Setiap peneliti harus mempersiapkan diri agar memiliki kemampuan untuk
: berinteraksi dengan lingkungannya, beradaptasi dengan situasi dan
kondisi yang ada, menangkap segala sesuatu secara utuh dsan menyeluruh,
memproses data dengan cepat, meringkas data, membuat klasifikasi dan
koreksi data, dan mengeksplorasi respon-respon yang tidak lazim (unik
guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
Langlah 4
(1) Kuasai penerapan metode penelitian kualitatif-naturalistik
(2) Pergunakan kemampuan metode kualitatif tersebut untuk mengungkap
pengetahuan yang tidak terkatakan (tacit knowledge)
(3) Hasil dari “to explicate hidden agenda” tadi kemudian interpretasikan,
beri makna, dan komunikasikan dengan orang lain supaya berubah
menjadi explicit knowledge
Langkah 5
(1) Tetapkan sampel penelitiannya dengan mempergunakan teknik sampel
bertujuan (purposive sampling)
(2) Kumpulkan data/informasi sebanyak-banyaknya dari sumber yang handal
(snowball sample) sesuai dengan konteksnya dan yang paling cocok untuk
menyusun teori
(3) Temukan data yang sarat dengan nilai teori (theory laden data)
Langkah 6
(1) Analaisa data secara induktif
(2) Susun hipotesa kerja local (local working hypotheses) untuk diuji
signifikansinya
(3) Kalau hipotesa kerjanya belum terbukti, lanjutkan mengumpulkan data
sampai datanta tersaturasi
(4) Lanjutkan proses analisis dengan membedah dan mengungkap
data/informasi sehingga menjadikannya eksplisit lewat kegiatan :
menstransformasikan dan mengagregasikan data mentah ke dalam unit-
unit sehingga dapat memberikan deskripsi yang tepat tentang karakteristik
fenomena yang dikaji (utilizing), mengorganisasikan data ke dalam
kategori-kategori yang membentuk informasi deskriptif dan inferensial
tentang konteks atau latar darimana data tersebut berasal (categorizing)
Langkah 7
(1) Sususn teori yang bersumber dari data
(2) Tetapkan konsep “fit” dan “work” sebagai kroteria untuk menilai apakah
suatu teori dapat dikategorikan ke dalam teori mendasar atau tidak.
Konsep “fit” berarti bahwa kategori yang dihasilkan dari proses analisis
data induktif harus selalu siap pakai dan berindikasi pada data yang
sedang dikajinya. Konsep “work” berarti bahwa kategori itu harus
mempunyai makna relevansi yang tinggi dan dapat menjelaskan fenomena
yang sedang dikaji
Langkah 8
(1) Susun desain penelitian sesuai dengan kondisi lapangan atau konteks.
Desain bisa muncul tiba-tiba (emergent) karena : “makna” ditentukan
oleh konteks, keberadaan realitas yang bersifat ganda akan membatasi
pengembangan, apa yang dikaji di suatu situs senantiasa tergantung pada
adanya interaksi antara peneliti dan konteks dan interaksi tersebut tidak
selalu dapat diramal secara penuh
(2) Berangkat ke lapangan jangan dengan tangan kosong (empty headed) dan
hampa teori/konsep, tetapi peneliti harus tetap terbuka mata hatinya (open
hearted) mencari, menemukan dan mengembangkan “tacid knowledge’
terus menerus sehingga semakin terfokus.
(3) Desain sementara terus diputar (iterated & Recursive), tetapkan sampel
bertujuan, analisis datanya secara induktif, kembangkan teori mendasar
dari data.
Langkah 9
(1) Proses iterasi terus dilanjutkan sampai datanya tersaturasi
(2) Temukan fakta, makna dan interpretasi dari fenomena atau obyek yang
ditelitinya
(3) Negosiasikan fakta, makna dan interpretasi data tadi dengan informan
untuk mencermati apakah fakta, makna dan interpretasi tadi benar atau
bisa diterima oleh subyek penelitian
(4) Selain itu orang lainpun bisa memberikan masukan terhadap fakta-fakta
agar rekonstruksi makna yang telah dibuat peneliti sesuai dengan
semangat ”emic” sis umber data bukannya semangat “etic”nya peneliti.
Langkah 10
(1) Menulis hasil penelitian ke dalam bentuk laporan kasus (case report) yang
berisi sajian atau deskripsi tebal (thick description) atau uraian mendalam
tentang realitas simbolik dari fenomena yang dikajinya yang memiliki
interpretasi idiografis yang utuh dan holistic
(2) Sajikan temuan-temuan yang berisi pernyataan-pernyataan idiografis yang
aplikasi utamanya pada konteks dimana penelitian dilakukan.
(3) Angkat temuan idiografis tersebut ke konteks yang lebih luas (mempunyai
nilai generalisasi= transferabilitas) atau yang memiliki tingkat kredibilitas
yang tinggi yang teruji lewat keabsahan data (credibility, transferability,
dependability, dan confirmability)

V. Laporan Penelitian Kualitatif

Buuroughs (1975) dalam “Design and Analysis in Educational Research” menulis


ada empat aturan penting dalam penulisan karya ilmiah, yaitu : pertama, penulis
harus memahami betul kepada siapa lapaoran itu ditujukan; kedua, penulis
laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti proses
penelitian. Oleh karena itu, langkah demi langkah harus dikemukakan secara jelas
termasuk alasan mengapa hal itu dilakukan. Ketiga, penulis laporan harus
menyadari bahwa latar belakang pengetahuan, pengalaman dan minat pembaca
laporan tidaklah sama.

5.1. Pengorganisasia Laporan


Bogdan dan Biklen (1982) menyarankan agar laporan itu diorganisasikan
dalam bentuk : introduksi, inti, dan kesimpulan. Bagian introduksi (pendahuluan
mengemukakan latar belakang umum yang diperlukan untuk memahami
pentingnya focus penelitian. Didalamnya tercakup pula konteks pustakanya dan
kadang-kadang juga memuat debat mutakhir tentang permasalahan tersebut,
disamping desain penelitian dan metode penelitian yang digunakan. Bagian inti
laporan adalah bagian yang paling banyak ditampilkan yang uraiannya
bersumber dan diarahkan oleh focus penelitian. Bagian inti terdiri dari beberapa
subbagian dan setiap sub bagian dapat diberikan jnudul. Bagian-bagian itu
sekaligus pula dikembangkan untuk analisis data yang telah dikode. Pada bagian
kesimpulan, focus penelitian kadang-kadang diungkapkan kembali naumun lebih
tajam disamping ungkapan argumentasi perneliti.Implikasi penelitian
dikembangkan pada bagian ini dan diakhiri dengan ajakan untuk melakukan
penelitian lanjutan.
Stainback dan Stainback (1988) mengemukakan bahwa sistematika
laporan penelitian hendaknya menampilkan hal-hal sebagai berikut :
(1) Kejelasan focus penelitian dan latar belakang peneliti.
Penjelasan singkat tentang latar belakang professional dan minat peneliti
akan membantu pembaca laporan untuk memahami perspektif peneliti.
Agar pembaca dapat ikut serta memasuki latar atau mean penelitian, maka
judul laporan hendaknya sudah merefleksikan focus penelitian. Lima cara
peneliti menetapkan focus laporan penelitiannya, yaitu : mengajukan tesis
yang akan diargumentasikan; mengemukakan tema atauu gagasan umum
yang akan dieksplorasi; mengidentifikasi topic atau unit spesifik dari
situasi untu dipikirkan; mengemukakan kemanfaatan atau keterlaksanaan
konsep di lapangan; dan menampilkan pertanyaan untuk dijawab.
Informasi latar belakang dapat dilakukan dengan tinjauan singkat yang
ditopang oleh sumber kepustakaan, teori mutakhir, kepedulian maupun isu
yang sedang berkembang di lapangan yang tentunya berkaitan dengan
focus penelitian.
(2) Metodologi
Taylor dan Bogdan (1984) mengemukakan, ada kecenderrungan di antara
sejumlah peneliti kualitatif untuk mengabaikn hal-hal yang spesifik dari
metodologinya. Jika kita membaca kajian mereka, kita tidak mengetahui
apakah temuan-temuan itu diperoleh dari pemahaman kebudayaan,
kerangka kerja dan teori sebelumnya, pengalaman pribadi atau kerja
lapangan yang sebenarnya, ataukah wawancara. Karena itu kita tidak
dapat memberikan pertimbangan terhadap kredibilitas dan validitas
laporan penelitian. Adapaun hal-hal yang cukup penting untuk
dikemukakan di dalam laporan berkaitan dengan metodologi yang ada
dalam laporan adalah: pertama, situs, latar dan partisipan harus
dideskripsikan, seperti siapa saja yang ada dalam latar dan dalam situasi
apa sebuah topic atau fenomena diteliti. Kedua, penjelasan mengenai garis
besar kerangka kerja teoritis penelitian penting juga untuk di
komunikasikan, yaitu mencakup kejelasan deskripsi pemikiran dan
persepsi peneliti selama tahapan penelitian dan setiap perubahan atau
modifikasii ketika penelitian dikerjakan dan analisis data dilakukan.
Ketiga, peran pandangan peneliti terhadap partisipan dan bagaimana
reaksi partisipan terhadap peneliti hendaknya juga dideskripsikan.
Termasuk dalam deskripsi itu adalah karakteristik fisik, sosial, dan tingkat
pendidikan, serta persepsi partisipan sendiri mengenai peneliti. Keempat,
teknik penelitian yang dikerjakan ketika memasuki lapangan penelitian,
pemilihan partisipan, pengumpulan dan pencatatan data penelitian perlu
dikomunikasikan.
(3) Temuan-temuan Penelitian
Erickson (1986) menyatakan bahwa temuan-temuan dalam laporan
penelitian kualitatif sedikitnya berisi tiga bentuk dasar informasi, yaitu :
deskripsi factual; deskripsi yang bersifat umum; dan komentar yang
bersifat interpretasi. Deskripsi factual merupakan bentuk informasi dalam
laporan yang mengulas mengenai apa yang ada dalam catatn lapangan
dan/atau dokumen dan bahan lainnya, misalnya perilaku partisipan,
komentar dll. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran atau sketsa
yang bersifat narasi. Deskripsi yang bersifat umum dimaksudkan untuk
menyampaikan synopsis atau ringkasan kepada pembaca. Dalam deskripsi
inii peneliti menampilkan ikhtisar kejadian atau peristiwa yang dianggap
kunci, melalui catatan lapangan, dokumen, peristiwa yang disukai maupun
tidak. Tujuan utamanya adalah mengemukakan synopsis dari berbagai
peristiwa sehingga kesemuanya dapat disajikan bersama dan di dalam
hubungan satu dengan lainnya. Komentar atau uraian yang bersifat
interpretative berisikan makna yang disajikan oleh peneliti. Tujuannya
adalah menyajikan kepada pembaca bagaimana analisis dan interpretasi
data dikerjakan oleh peneliti. Uraian yang bersifat penafsiran dapat
berbentuk diskusi (pembahasan0 mengenai makna praktis dari temuan.

5.2.Pendekatan Pengorganisasian
Mengutip pendapat Hammersley dan Akinson, Stainback dan Stainback (1988)
mengemukakan lima pendekatan pengorganisasian isi laporan penelitian
kualitatif, yaitu :
(1) Pendekatan kesejarahan (natural history), yaitu mendioranisasikan secara
berurutan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa secara berurutan.
Laporannya berkaitan secara langsung sesuai waktu yang digunakan oleh
peneliti di lapangan dan proses dimana penelitiannya dikembangkan.
(2) Pendekatan kronologis (chronology), yaitu memusatkan diri pada urutan pola
atau tahapan penemuan yang terdapat dalam data. Batang tubuh laporan
diorganisasikan sesuai dengan sub judul yang menunjukan kronologisnya.
Pendekatan ini memberikan keuntungan karena data dapat diatur dan
dihubungkan satu dengan lainnya. Berbeda dengan pendekatan kesejarahan
yang menampilkan urutan peristiwa-peristiwaselama penelitian.
(3) Pendekatan penciutan atau perluasan focus (narrowing or expending the
focus), yaitu diskusi yang digelar secara bertahap dimulai dari focus yang
sempit ke focus yang lebih luas atau sebaliknya. Hammersley dan Atkinson
(1983) menyamakan jenis pendekatan dengan tipe pengorganisasian bertahap
“lensa Zoom” (gerakan maju atau mundur). Namun harus diperhatikan bahwa
rasional teoritis atau analisis bertingkat seperti ini harus memelihara hubungan
yang logis.
(4) Pemisahan narasi dan analisis, yaitu mendeskripsikan situasi secara berurutan
dan berhubungan tanpa diselingi analisis laporan. Begitu juga dengan analisis
dan interpretasi situasi dapat disajikan tanpa diselingi bukti penunjang
peristiwa yang secara potensial dapat mengalihkan pembacanya dari konsep-
konsep dan gagasan-gagasan yang dikemukakan. Karene itu kehati-hatian
perlu dilakukan oleh peneliti jika menggunakan pendekatan ini untuk menjaga
interpretasi yang tidak di”grounded” atau yang didukung data.
(5) Pengorganisasi tematik atau topical, dilakukan dengan memasukan unsure-
unsur atau komponen-komponen maupun aspek-aspek yang dianggap penting.
Namun yang paling penting bahwa laporan penelitian harus mempunyai focus
yang jelas. Bogdan dan Biklen (1982) dalam Methods of Social research
mengemukakan ada tiga macam focus yang dapat dikembangkan dalam
penulisan karya ilmiah, yaitu : (a) focus tesis, artinya ada suatu preposisi yang
diajukan oleh peneliti yang dapat menggambarkan manfaat dari konsep atau
tema yang telah dikembangkan oleh orang lain; (b) focus tema, artinya ada
beberapa konsep atau teori yang muncul dari data penelitian termasuk
beberapa kecenderungan, konsep utama, atau perbedaan penting dan (c) focus
topic, artinya ada gambaran atau deskripsi yang jelas dari apa yang telah
diteliti atau dipelajari.

5.3. Format Laporan

DAFTAR PUSTAKA

Bogdan & Biklen. 1982. Qualitative Research for Education: An Introduction to


Theory and Methods. Boston,Mass : Allyn and Bacon, Inc.
Creswell, J.W. 1995. Research Design : Qualitative and Quantitative Approaches.
Thousand Oaks, CA : Sage
Gadamer.1976. Philosophical Hermeneutics. D.Linge (trans). Berkeley, C.A :
University of California Press
Hadi
Howe,E.R. 1988. Againts the quantitative-qualitative incompatibility thesis or
dogmas die hard. Educational Researcher, 17,10-16
Yin. 1987. Case Study Research : Desain and Methods. Beverly Hills, CA : Sage
Publication
Lincoln dan Guba. 1985. Naturalistic Inquiry.. Beverly Hills, CA : Sage Publication
Miles & Huberman. 1984. Qualitative Data Analysis : A Sourcebook of New
Methods. Beverly Hills, C,A : Sage Publications
Patton,M.Q. 1980. Qualitative Evaluation Methods. Beverly Hills, CA : Sage
Publication
Reichardt,C.S, & rallis, S.F. 1994. Qualitative ang Quantitative Inquiries are not
Incompaatible : A call for a new partnership. In C.S Reichardt & S.F.Rallis
(Ed). The Qualitative-Quantitative Debate : New Prespectives (pp.85-92). San
Francisco : Jossey-Bass.
Rosenthal,R. 1976. Experimenter Effects in Behavioral Research (enlarged ed). New
York : Irvington.
Sanapiah, Faisal.1990. Penelitian Kualitatif, Dasar-dasar dan Aplikasi YA3. Malang
Smith, J.K. 1984. The Problem of Criteria for Judging Interpretive Inquiry.
Educational Evaluation and Policy Analysis. .
Smith & Heshusius, 1986. Closing Down The Conversation : The End of The
Qualitative-Quantitative Debate Among Educational Inquirers. Educational
Researcher. January, 4-12)
Spradley, J.P. 1980. Participant Observation. New York, N.Y : Holt, Rinehart and
Winston
Strauss dan Corbin (1990. Basic of Qualitative Research : Grounded Theory
Procedures and Techniques. Sage Publication. Baverly Hills. SA.
Sugiyono, 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : CV.Afabeta