Anda di halaman 1dari 8

TEMU ILMIAH IPLBI 2013

Perancangan Lanskap Koridor Sungai Pute di Kawasan Karst


Rammang-Rammang sebagai Kawasan Geowisata
Ira Prayuni R.A

Program Studi Magister Arsitektur Lanskap, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.

Abstrak

Kawasan Karst Rammang-rammang berada dalam zona pengembangan ekonomi Kabupaten Maros
yang identik dengan potensi eksploitasi hasil pertambangan. Pemanfaatan kawasan karst sebagai
area pertambangan akan menyisakan kawasan yang rusak dan tidak dapat dimanfaatkan lagi.
Padahal kawasan karst juga memiliki nilai-nilai ekonomi non-tambang, seperti kekayaan fenomena
alam, keanekaragaman geologi, keanekaragaman hayati, dan keanekaragaman budaya. Jika
dikembangkan sebagai jasa lingkungan, maka seluruh nilai ekonomi non-tambang tersebut akan
tetap ada dan berkelanjutan. Salah satu unsur penting dalam perancangan lanskap kawasan karst
sebagai kawasan geowisata adalah mengidentifikasi objek dan fenomena geologi sebagai daya tarik
wisata. Untuk melakukan klasifikasi dan mendapatkan signifikansi objek geologi tersebut dibutuhkan
analisis deduktif geologi dan analisis deskriptif kualitas visual lanskap. Dari hasil analisis tersebut
dihasilkan konsep pengembangan jalur geowisata dan fasilitas yang dibutuhkan berdasarkan jenis
wisatawan yang akan berkunjung dengan meminimalkan intervensi pada lanskap alami Kawasan
Karst Rammang-rammang.

Kata-kunci : analisis deduktif geologi, analisis kualitas visual, geowisata, konsep intervensi minimum, Sungai
Pute.

Pendahuluan Kawasan Karst Quilin dan Kawasan Karst Ram-


mang-rammang.
Kawasan Karst Rammang-rammang terletak di
Desa Salenrang, Kabupaten Maros, Sulawesi Koridor Sungai Pute dipilih sebagai objek pe-
Selatan. Kawasan karst tersebut merupakan rancangan lanksap dengan pertimbangan, anta-
bagian dari Kawasan Karst Maros Pangkep yang ra lain :
memiliki luas ±42.000 ha. Kawasan Karst Maros
Pangkep dikenal sebagai kawasan karst menara 1. Sungai Pute merupakan akses utama menu-
terbesar dan terindah kedua di dunia. Jenis ju Gugusan Karst Rammang-Rammang, dan
karst pada kawasan ini adalah karst menara akses termudah untuk menjangkau beberapa
yang hanya ada tiga di dunia, yakni di Guilin, komponen geologi yang ada.
Cina; Maros Pangkep, Indonesia; dan Halong 2. Atraksi menyusuri sungai memberi penga-
Bay, Vietnam (BLH Maros, 2011). laman otentik yang membedakan dengan
objek wisata karst yang ada di Indonesia,
Pada umumnya, kawasan karst identik dengan bahkan di dunia.
bentang alam yang kering dan gersang. Namun,
kondisi bentang alam di Kawasan Karst Ram- 3. Sungai Pute merupakan koridor yang mema-
merkan keanekaragaman geologi (Gambar
mang-rammang cukup subur dan terdapat aliran
1), keanekaragaman hayati dan keaneka-
Sungai Pute yang memiliki lebar ±2 meter
ragaman budaya di Kawasan Karst Ram-
sampai ±40 meter. Kawasan karst menara yang
mang-rammang.
dialiri oleh sungai hanya ada dua di dunia, yakni

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013 | C - 7


Perancangan Lanskap Pada Kawasan Karst Rammang-rammang Dengan Pendekatan Geowisata
Dengan menjadikan sebagai kawasan geo-
wisata, Kawasan Karst Rammang-rammang
diharapkan mampu untuk mengkonservasi ke-
anekaragaman yang dimilikinya, memberi sum-
bangan terhadap ilmu pengetahuan dan menja-
lankan fungsinya sebagai pengembang ekonomi.
Karakteristik daerah yang unik, fenomena alam,
dan komunitas masyarakat yang ada di dalam-
nya, merupakan potensi sekaligus tantangan
dalam kegiatan perancangan geowisata di Ka-
Gambar 1. Singkapan Karst di Badan Sungai Pute
wasan Karst Rammang-rammang.
Fenomena geologi yang pernah terjadi di Ka-
Tujuan Perancangan
wasan Karst Rammang-rammang, secara tidak
langsung mempengaruhi keanekaragaman kom- Perancangan lanskap ini bertujuan untuk mela-
ponen geologi dan keberadaan flora fauna kukan kegiatan konservasi dan kegiatan pe-
langka yang hidup di kawasan karst ini. Keka- ngembangan ekonomi di Kawasan Karst Ram-
yaan geodiversitas dan biodiversitas tersebut mang-rammang sebagai objek dan fenomena
merupakan sumber ilmu pengetahuan yang geologi kawasan geowisata. Dengan kegiatan
sangat penting sehingga harus dilestarikan dan analisis yang dilakukan dalam perancangan ini
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. dapat dihasilkan kriteria perancangan objek geo-
wisata karst yang sesuai dengan prinsip geo-
Saat ini, keberadaan Kawasan Karst Rammang-
wisata dan mengedepankan kualitas visual lan-
rammang sedang terancam oleh kegiatan per-
skap, sehingga memberi pengetahuan dan
tambangan. Ancaman tersebut bermula dari
pengalaman berwisata yang otentik. Di samping
letak Gugusan Karst Rammang-rammang yang
itu, kriteria perancangan dalam tesis ini dapat
terpisah dari Gugusan Karst Inti Maros Pangkep.
bermanfaat sebagai panduan pengembangan
Kondisi ini membuat Kawasan Karst Rammang-
kawasan karst di Indonesia, yang berbasis kon-
Rammang tidak masuk dalam zona Taman
servasi dan pengembangan ekonomi.
Nasional Bantimurung Bulusaraung, melainkan
masuk ke dalam zona pengembangan ekonomi. Kajian Pustaka
Posisinya yang berada di zona pengembangan
ekonomi, menyebabkan Kawasan Karst Ram- Kawasan karst merupakan bentang alam de-
mang-Rammang memiliki fungsi yang tumpang ngan kondisi hidrologi yang khas. Kondisi terse-
tindih, yakni sebagai pengembang ekonomi dan but sebagai akibat dari batugamping yang
sebagai kawasan konservasi. mudah larut dan mempunyai porositas sekunder
yang berkembang dengan baik (Ford dan
Pemahaman potensi kawasan karst sebagai Williams, 1992).
pengembang ekonomi, masih terbatas pada
potensi pertambangan. Padahal, kawasan karst Kawasan karst memiliki beberapa nilai penting
kaya akan nilai-nilai ekonomi non tambang, (Day, 2011 dalam Budiyanto, 2012), yakni
antara lain kekayaan fenomena alam, keaneka- sebagai habitat bagi beberapa flora dan fauna,
ragaman geologi, keanekaragaman hayati, dan memiliki mineral langka seperti gamping,
keanekaragaman budaya. Jika kawasan karst memiliki nilai yang penting bagi pengembangan
dikembangkan sebagai jasa lingkungan, maka berbagai ilmu pengetahuan, membantu mema-
seluruh nilai ekonomi non tambang tersebut hami kondisi hidrologis regional, dan sebagai
akan tetap ada dan berkelanjutan. tempat berwisata yang memiliki nilai tinggi.

C - 8 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013


Ira Prayuni R.A
Geowisata Sebagai Bentuk Konservasi 3. Aktivitas pengunjung dibatasi dan diken-
Geologi dalikan dengan peraturan kunjungan, se-
hingga dampak dari geowisata kecil.
Geowisata adalah suatu kegiatan wisata alam
4. Geowisata membutuhkan sarana dan prasa-
yang diselenggarakan secara bertanggung ja-
rana wisata yang didesain dan dibangun se-
wab terhadap suatu kawasan yang dilindungi
suai dengan kondisi lingkungan dan sosial
dengan memanfaatkan informasi geologi. Kegi-
setempat.
atan ini bertujuan untuk menjelaskan proses
pembentukan suatu keindahan, keunikan dan 5. Geowisata membutuhkan pemandu pakar
kelangkaan objek wisata alam. Agar dapat dipa- sesuai dengan tingkat kebutuhan pengun-
hami oleh masyarakat umum, maka informasi jung.
geologi dikemas secara sederhana dalam baha-
sa populer (Kusumabrata, 2012). Geowisata di Analisis Perancangan
kawasan karst, secara tidak langsung memupuk
kesadaran akan pentingnya keberadaan kawas- Analisis yang dilakukan dalam Perancangan Lan-
an karst, baik itu sebagai penopang fungsi eko- skap Kawasan Karst Rammang-Rammang De-
logi, maupun sebagai bukti otentik sejarah ngan Pendekatan Geowisata, antara lain: ana-
perkembangan bumi. lisis keterkaitan area perancangan dengan objek
wisata lain di sekitar kawasan perancangan,
Dalam geowisata berlangsung kegiatan sinergis analisis aksesibilitas dan sirkulasi, analisis objek
antara semua elemen alam dan karakter geo- dan daya tarik wisata, analisis fisik kawasan
grafis, untuk menciptakan pengalaman wisata perancangan, serta analisis kegiatan dan fasil-
dengan melibatkan masyarakat dan perekono- itas geowisata.
mian lokal. Di samping itu, kelompok-kelompok
masyarakat bergabung untuk memberikan pe- Analisis Keterkaitan Area Perancangan
ngalaman yang berkesan dan berbeda bagi Dengan Objek Wisata Lain Di Sekitar
wisatawan, memberikan manfaat ekonomis bagi Kawasan Perancangan
penduduk karena mempekerjakan pekerja lokal,
menggunakan layanan, produk, dan sumber da- Kawasan perancangan terletak berdekatan
ya alam di sekitarnya (Dowling, 2010). dengan tiga objek wisata andalan Kabupaten
Maros, yakni Air Terjun Bantimurung, Taman
Pola Geowisata Nasional Bantimurung Bulusaraung, dan Gua
Leang-leang. Ketiga destinasi tersebut telah
Dalam perkembangannya, geowisata memiliki
dikembangkan sebagai objek wisata. Keempat
pola khusus yang berbeda dengan jenis wisata
kawasan wisata ini memiliki keterkaitan sebagai
lain. Pola tersebut belum pernah dideskripsikan
satu alur cerita sejarah geologi dan arkeologi,
secara rinci, tetapi dengan berpedoman pada
yang berpotensi untuk digabungkan dalam satu
ekowisata, maka dapat disimpulkan bahwa pola
koridor wisata. Jika didukung oleh penyediaan
pada geowisata terdiri dari (Hidayat, 2002):
sarana dan prasarana yang baik, maka akan
1. Geowisata merupakan salah satu segmen menarik wisatawan domestik bahkan manca-
dari wisata alam yang mengutamakan kom- negara untuk berkunjung ke objek wisata
ponen geologi sebagai atraksi utama. tersebut.

2. Geowisata merupakan wisata minat khusus,


Analisis Aksesibilitas Dan Sirkulasi
berupa wisata petualangan di daerah ter-
pencil, dengan memanfaatkan kondisi alam Kawasan Karst Rammang-rammang dapat diak-
sebagai atraksi wisata. ses dengan kendaraan pribadi maupun angku-
tan umum melalui jalan poros Maros Pangkep.

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013 | C - 9


Perancangan Lanskap Pada Kawasan Karst Rammang-rammang Dengan Pendekatan Geowisata
Belum ada transportasi khusus yang di sediakan terangkat kemudian mengalami proses karsti-
untuk berkunjung ke Kawasan Karst Rammang- fikasi. Proses karstifikasi ini dikontrol oleh
rammang. struktur geologi dan sifat batuan itu sendiri.
Proses tersebut, menyisakan banyak komponen
Sungai Pute merupakan jalur sirkulasi utama di geologi yang menarik untuk dikunjungi, baik itu
kawasan ini. Pemandangan di jalur sirkulasi karena kandungan ilmu pengetahuan, keindah-
Sungai Pute sangat menarik, karena di sepan- an lanskap, maupun nilai religius dalam masya-
jang koridor sungai tersebar berbagai komponen rakat. Komponen geologi tersebut, yakni aliran
geologi yang unik. Jalur sirkulasi air ini memper- air permukaan, pinnacle karst, singkapan batu-
mudah dan mempercepat waktu tempuh untuk gamping, ceruk karst, messa karst, polje, telaga,
sampai di tempat tujuan. Sedangkan, untuk jembatan karst, gua karst, stalaktit, stalakmit,
jalur darat hanya ada satu jalan yang sudah tiang karst, menara karst (Gambar. 3), dan rawa
diolah untuk sirkulasi kendaraan. Jalur sirkulasi karst.
darat umumnya mengandalkan pematang saw-
ah dan area datar di antara bukit-bukit karst.

Analisis Objek Dan Daya Tarik Wisata

Objek dan daya tarik wisata dalam kawasan


geowisata adalah keindahan lanskap yang tersu-
sun dari komponen alami kawasan karst (geo-
logi, flora, dan fauna) serta komponen-kom-
ponen khusus buatan manusia. Oleh karena itu
Gambar 3. Menara Karst Rammang-Rammang
untuk mengidentifikasi objek dan daya tarik wi-
sata tersebut diperlukan analisis deduktif kom-
Analisis Deskriptif Kualitas Visual Lanskap
ponen geologi dan analisis deskriptif kualitas
visual lanskap. Dalam penilaian kualitas visual lanskap, semakin
banyak komponen yang terlihat maka semakin
Analisis Deduktif Komponen Geologi tinggi nilai kualitas visualnya. Penilaian yang
dilakukan hanya menunjukkan karakter visual
Dalam metoda deduktif diperlukan pemahaman
bukan kualitas komponen karst yang ada.
dan teori tentang fenomena geologi yang dilihat
di lapangan untuk diambil sebuah hipotesa awal Variabel analisis merupakan komponen penilaian
(Gambar. 2). dan variabel lanskap yang digunakan untuk
menilai kualitas visual pada daerah peran-
cangan. Komponen dipilih berdasarkan posisinya
sebagai objek dominan, daya tarik khas
kawasan, dan fenomena alam khas kawasan.
Variabel dalam analisis kualitas visual, antara
lain:

Gambar 2. Analisis deduktif komponen geologi


1. Komponen geologi (form)
pada spot pengamatan Di kawasan pengamatan terdapat tujuh belas
komponen geologi khas Kawasan Karst
Kawasan Karst Rammang-rammang terbentuk Rammang-rammang yang terlihat jelas dan
pada Zaman Tersier, Kala Eosen hingga Miosen, mempengaruhi penilaian terhadap visual
yakni sekitar enam puluh juta tahun yang lalu. lanskap. Ketika suatu spot terpilih memperlihat-
Pada kala tersebut kawasan karst Rammang- kan dua belas sampai tujuh belas komponen
rammang merupakan dasar laut dangkal yang karst, berarti spot tersebut memiliki nilai tinggi
C - 10 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013
Ira Prayuni R.A
(F1); memperlihatkan enam sampai sebelas ngan luas permukaan air yang kecil (B3).
komponen karst, berarti bernilai sedang (F2);
sedangkan jika memperlihatkan satu sampai Dalam penilaian tepi air, nilai tinggi diberikan
lima komponen karst, maka diberi nilai rendah pada tepi air yang masih alami yaitu tidak
terdapat intervensi manusia terhadap area tepi
(F3). Penilaian ini dilakukan untuk menentukan
air sungai (T1); nilai sedang diberikan pada
spot yang tepat sebagai spot pengamatan badan air yang intervensinya tidak dominan dan
komponen geologi. masih menggunakan material alami (T2);
sedangkan nilai rendah diberikan jika terdapat
2. Tingkat kealamian (Naturalness) intervensi yang dominan dan menggunakan
Penilaian terhadap tingkat kealamian dilakukan material atau konstruksi khusus seperti jem-
dengan mengidentifikasi fauna yang terlihat dan batan dengan struktur tertentu (T3).
mengidentifikasi intervensi yang dilakukan ma-
4. Kegiatan manusia (cultural)
nusia terhadap kondisi alami spot tersebut.
Penilaian kegiatan manusia merupakan penilaian
yang dilakukan terhadap tingkat naturalitas
Dalam konteks penilaian kualitas visual di Kawasan karakter lanskap yang dipengaruhi keberadaan
Rammang-rammang ini, jika tidak terlihat inter- aktivitas manusia yang terjadi pada spot terpilih.
vensi manusia, maka spot tersebut memiliki nilai
tinggi (N1); Jika terlihat intervensi berupa sawah Penilaian tinggi diberikan pada spot yang tidak
atau tambak, maka spot tersebut benilai sedang ada kegiatan manusia; nilai sedang diberikan
jika ada kegiatan bercocok tanam dan tambak;
(N2); Jika terlihat rumah atau jembatan, maka
sedangkan nilai rendah diberikan pada spot
spot tersebut bernilai rendah (N3). yang didominasi penggunaan lanskap yang
intensif untuk bermukim.
3. Badan air dan Tepi air
Penilaian kualitas visual badan air dan tepi air Tahapan Analisis Deskriptif Kualitas Visual
dilakukan untuk mengetahui karakter visual Lanskap
badan air dan tepi air pada Sungai Pute.
Penilaian kualitas visual badan air merupakan Tahapan dalam melakukan analisis deskriptif
visual lanskap adalah sebagai berikut :
penilaian dengan membandingkan luas permu-
1. Pemilihan Area Pengamatan
kaan air terhadap area penglihatan. Penilaian Pemilihan area pengamatan diawali dengan
kualitas visual tepi air dilakukan untuk menge- membagi area koridor ke dalam beberapa
tahui tingkat intervensi manusia yang dilakukan penggalan, tiap penggalan memiliki panjang
di tepi air Sungai Pute. ±400 meter. Dalam tiap penggalan dipilih
beberapa spot yang mewakili karakter lanskap
Dalam penilaian badan air, nilai tinggi diberikan yang ada pada penggalan tersebut.
pada spot dengan badan air yang mendominasi
2. Penilaian Spot
area penglihatan (B1); nilai sedang diberikan
Kegiatan penilaian kualitas visual suatu spot
pada spot yang memiliki perbandingan yang sa- dilakukan dengan melibatkan variabel komponen
ma antara badan air dan area penglihatan (B2); karst (form), tingkat kealamian (naturalnesss),
sedangkan nilai rendah diberikan pada spot de- badan air, tepi air, kegiatan manusia (cultural)

Tabel 1. Penilaian Kualitas Visual Lanskap Pada Spot Pengamatan

Komponen Tingkat Kegiatan Keterangan


Penggalan Spot Badan Air Tepi Air
Geologi Kealamian Manusia
A 1 Sedang Sedang Tinggi Sedang Rendah F2N2B1T2C3
2 Rendah Sedang Tinggi Tinggi Sedang F3N2B1T1C2
3 Rendah Sedang Tinggi Sedang Sedang F3N2B1C2
B 4 Rendah Sedang Tinggi Tinggi Sedang F3N2B1C2
5 Sedang Sedang Tinggi Tinggi Sedang F2N2B1C2
6 Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Sedang F2N2B1C2

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013 | C - 11


Perancangan Lanskap Pada Kawasan Karst Rammang-rammang Dengan Pendekatan Geowisata
(Tabel 1). Semua spot dalam penggalan akan Analisis Kegiatan Dan Fasilitas Geowisata
diidentifikasi dengan detail berdasarkan variabel
yang digunakan. Tahap ini juga bermanfaat Dalam analisis kegiatan dan fasilitas geowisata
untuk mempelajari kawasan secara utuh. dilakukan analisis jenis wisatawan yang kemu-
dian akan digunakan untuk menganalisis kegi-
3. Hasil Analisis atan dan kebutuhan fasilitas geowisata.
Berdasarkan hasil analisis kualitas visual lanskap Geowisata ditujukan kepada tiga jenis wisa-
ditemukan empat belas tipe karakter lanskap. tawan, antara lain:
Tipe karakter lanskap yang dominan adalah Tipe
E (F2, N2, B1, T1,C1) dan Tipe G (F3, N1, B1, 1. Ekspedisi dan Eksplorasi
T1, C1). Hasil identifikasi karakter akan Wisatawan tipe ini merupakan para ahli bidang
digunakan untuk menentukan potensi pengem- geologi maupun arkeologi yang memiliki tujuan
bangannya, baik sebagai zona terbangun, spot meneliti (geo-expert). Pada umumnya wisa-
pengamatan, spot foto maupun spot tawan jenis ini akan menghabiskan waktu yang
beristirahat. lama di kawasan geowisata.

Analisis Fisik Kawasan Perancangan 2. Ekskursi


Wisatawan tipe ini merupakan geo-amateur dan
Analisis fisik kawasan perancangan dilakukan interest visitor yang ingin menambah penge-
untuk mengetahui kondisi fisik kawasan yang tahuan tentang kawasan karst dan keunikan di
mempengaruhi kegiatan perancangan. Analisis dalamnya. Wisatawan ekskursi, antara lain siswa
fisik kawasan perancangan terdiri dari analisis yang ingin mempelajari geografi, mahasiswa
topografi, analisis tutupan lahan dan analisis geologi, dan arkeologi yang sedang melakukan
klimatologi. kunjungan lapangan.

Topografi di kawasan perancangan sangat unik 3. Tur


karena topografinya landai dan dibatasi oleh Wisatawan tur terdiri dari masyarakat awam
menara karst yang tingginya bisa mencapai yang mengetahui tentang kawasan karst mau-
ratusan. Daerah dengan topografi yang landai pun yang sama sekali tidak memiliki pengeta-
dan mudah diakses dari luar kawasan peran- huan tentang kawasan karst. Wisatawan tipe ini
cangan berpotensi untuk dikembangkan menjadi berkunjung ke kawasan geowisata karena ingin
zona fasilitas. Zona fasilitas merupakan pusat menikmati keindahan alam semata dan belum
fasilitas pendukung geowisata. Sedangkan, mengetahui ilmu pengetahuan yang terdapat
daerah dengan topografi beragam berpotensi dalam kawasan geowisata.
untuk dikembangkan menjadi zona jelajah. Pada
zona jelajah terdapat jalur wisata yang akan Tiap jenis wisatawan memiliki kegiatan dan
dilalui ketika berwisata. kebutuhan fasilitas yang berbeda (Tabel 2).

Kawasan perancangan didominasi oleh gugusan Kriteria Umum Geowisata


karst menara dan sawah. Daerah persawahan
berpotensi untuk mewadahi fasilitas terbangun. 1. Tersedianya prasarana, berupa sumber air
Daerah komponen karst berpotensi sebagai ob- bersih, listrik dan transportasi yang baik.
jek daya tarik wisata. Sedangkan, daerah hutan 2. Tersedianya sarana, berupa penginapan, ru-
dan sungai berpotensi dikembangkan sebagai mah makan, sarana kesehatan, sarana infor-
jalur wisata. masi, dan sarana umum (ibadah dan mck).

Aliran angin Kawasan Karst Menara Rammang- 3. Pembangunan fisik pada zona perancangan
rammang mengikuti alur sungai. Namun pada atau jalur geowisata tidak dalam skala besar,
beberapa area, angin terhalang oleh bukit karst sehingga meminimalkan intervensi lahan.
sehingga pada area tersebut menjadi sangat 4. Memenuhi standar keselamatan terutama
panas. Hal ini sangat menghambat kegiatan untuk fasilitas yang disediakan di jalur
penelusuran melalui jalur darat, sehingga perlu geowisata, seperti standar perahu, jalur
disediakan beberapa area teduh untuk beristi- evakuasi dan sebagainya.
rahat. 5. Melibatkan masyarakat sekitar sebagai pe-
nyedia jasa fasilitas geowisata.

C - 12 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013


Ira Prayuni R.A
6. Tiap kegiatan akan didampingi oleh peman- Jalur Ilmu Pengetahuan merupakan jalur geo-
du wisata. wisata yang disediakan untuk para wisatawan
7. Basis kegiatan wisata yang dilakukan adalah yang ingin mempelajari ilmu geologi maupun
berwisata sambil belajar. arkelogi secara mendalam. Terdapat dua pro-
gram geowisata yakni jalur karst menara dan
8. Program wisata dirancang berdasarkan jenis jalur taman batu. Jalur karst menara ditujukan
dan kegiatan wisatawan bagi para geo-expert dan mahasiswa yang ingin
melakukan penelitian terhadap kawasan karst
Konsep Utama sehingga membutuhkan waktu lebih dari sehari,
sedangkan jalur taman batu ditujukan untuk
Konsep utama dari perancangan kawasan kegiatan ekskursi dimana fokus pembelajaran
geowisata ini adalah konsep intervensi mini- adalah pinnacle karst.
mum. Sebagai kawasan wisata minat khusus,
kawasan geowisata ini tidak menyediakan ba- 2. Jalur Petualangan (Geoadventure)
nyak fasilitas buatan dengan intervensi yang Jalur petualangan merupakan jalur geowisata
berlebih, karena interaksi dan kedekatan dengan yang ditujukan bagi wisatawan yang menyukai
alam yang masih natural menjadi objek utama petualangan dan tantangan. Terdapat dua pili-
yang dijual kepada wisatawan. Intervensi han berwisata pada jalur ini, yakni jalur pen-
minimum yang diberikan bertujuan hanya untuk dakian dan jalur kayak. Kegiatan yang dilakukan
membantu menampilkan ilmu pengetahuan pada jalur pendakian membutuhkan ketang-
geologi dengan menarik, sehingga ikut menya- guhan dan keterampilan yang baik, sedangkan
darkan para wisatawan akan pentingnya men- jalur kayak merupakan penyusuran sungai de-
jaga kelestarian alam kawasan karst. Kegiatan ngan menggunakan kayak.
yang dapat dilakukan di kawasan ini bersifat
petualangan, seperti trekking, hiking, dan ber- 3. Jalur Bersantai (Geoleisure)
perahu. Terdapat lima prinsip utama yang Jalur Bersantai diperuntukkan bagi wisatawan
menjadi landasan dalam perancangan tesis ini, yang datang dengan tujuan menikmati kein-
yakni berbasis geologi, berkelanjutan, edukatif, dahan bentang alam karst. Oleh karena itu,
bermanfaat bagi masyarakat lokal dan memberi pada jalur bersantai wisatawan akan diberi
kepuasan berwisata (Dowling, 2009). informasi tentang sejarah terbentuknya kawasan
karst. Jalur tersebut juga dilengkapi beberapa
Konsep Program Geowisata informasi tentang objek-objek yang memiliki
keindahan dari segi fotografi. Para wisatawan
Konsep program geowisata diperoleh dari diberi pengetahuan tentang komposisi kom-
analisis jenis dan kegiatan wisatawan. Program ponen geologi dan komponen biotik yang
wisata dikemas ke dalam tiga tema jalur mempengaruhi scene tersebut sehingga terlihat
geowisata, antara lain: menarik.
1. Jalur Ilmu Pengetahuan (Geoscience)
Tabel 2. Kegiatan dan Fasilitas Geowisata
No Kegiatan Fasilitas
Spot pengamatan, papan informasi, peta
Mempelajari geodiversitas dan biodiversitas yang ada di
jalur sesuai tingkat kedalaman ilmu, peta
1 kawasan karst dengan pengamatan langsung maupun
informasi komponen geologi, dan
melalui sarana lain yang juga menyenangkan.
museum mini.
Mengabadikan foto komponen geologi dan bentang Spot foto, papan informasi, peta
2
alam. persebaran spot foto.
Jalur wisata, moda transportasi, peta
3 Melintasi alam kawasan karst.
jalur wisata, papan
4 Beristirahat Spot istirahat, mck, restoran, penginapan
Membeli cinderamata. Dalam geowisata tidak
diperbolehkan memberi atau menjual cinderamata yang Toko cinderamata, cinderamata berupa
berasal dari kawasan karst, baik itu komponen geologi buku, dan video rekaman perjalanan
5
maupun hewan yang dianggap langkah. Oleh karena itu berwisata.
diperlukan cinderamata bentuk lain yang juga berguna
dalam usaha konservasi kawasan karst

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013 | C - 13


Perancangan Lanskap Pada Kawasan Karst Rammang-rammang Dengan Pendekatan Geowisata

Gambar 4. Master plan jalur petualangan

Daftar Pustaka

Badan Lingkungan Hidup Daerah Sulawesi Selatan


(2011). Rencana Aksi Pengelolaan Ekosistem Karst
Maros Pangkep. Makassar.
Dowling, R.K (2009). The Growth Of Global Tourism,
New Challenges With Geotourism, Proceedings Of
The VIII European Geoparks Conferences. Portugal.
Dowling, R.K. (2010). Geotourism’s Global Growth,
Original Article Geoheritage DOI 10.1007/s12371-
010-0024-7. Springer-Verlag.
(http://www.changemakers.com/sites/default/files/g
lobal_geotourism.pdf, diakses 27 Juni 2013)
Ford, D., dan Williams, P. (1992). Karst
Geomorphology and Hydrology. London: Chapman
and Hall.
Hidayat, N. (2002). Analisis Pengelolaan Kawasan
Eksokarst Gunung Kidul sebagai Kawasan
Geowisata. Tesis Program Pasca Sarjana. Institut
Pertanian Bogor.
Kusumahbrata, Y. (2012) : Konservasi Geologi dan
Geowisata : Alternatif Pengembangan Potensi
Sumber Daya Geologi Secara Berkesinambungan.
Bandung: Museum Geologi Bandung.
(http://www.scribd.com/doc/97833800/Konservasi-
Geologi-Dan-Geowisata).

C - 14 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013