Anda di halaman 1dari 7

Nama : MARYATI

NIM : 030290413
UPBJJ : Yogyakarta
TUGAS 1
HUKUM PAJAK

1. Jelaskan pemahaman saudara tentang


a. Sejarah Pemungutan Pajak
Sejarah pemungutan pajak mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan negara baik dibidang kenegaraan maupun
dibidang sosial dan ekonomi. Pada mulanya pajak belum merupakan suatu pungutan,
tetapi hanya merupakan pemberian suka rela oleh rakyat kepada Raja dalam
memelihara kepentingan negara seperti menjaga keamanan negara terhadap serangan
musuh dari luar, membuat jalanan umum, membayar pegawai kerajaan dan
sebagainya. Bagi penduduk tidak melakukan penyetoran, akan tetapi diwajibkan
melakukan pekerjaan untuk kepentingan umum beberapa hari lamanya dalam satu
tahun. Orang-orang yang memiliki status sosial yang tinggi termasuk orang kaya,
dapat dibebaskan dari kewajiban melakukan pekerjaan dengan cara ganti rugi (
membayar orang lain yang menggantikan melakukan pekerjaan tersebut). Kerajaan-
kerajaan di Jawa sekitar abad XIX, juga melakukan hal semacam ini. Tenaga dari
rakyat ditarik sebagai pajak oleh Raja dengan istilah kerja bakti dan kadang-kadang
gotong royong.Baru setelah terbentuknya negara-negara nasional dan tercapainya
pemisahan antara rumah tangga negara dengan rumah tangga pribadi raja pada akhir
abad pertengahan, pajak mendapat tempat yang lebih mantap di antara berbagai
pendapatan negara, Dengan bertambah luasnya tugas-tugas negara utamanya untuk
mempertahankan hukum, ketertiban dan pertanahan negara harus memperkerjakan
sejumlah besar pegawai-pegawai seperti tentara, polisi, hakim dan pegawai sipil
lainnya, dan karena timbulnya peperangan antar negara dengan sendirinya negara
memerlukan biaya yang cukup besar. Sehubungan dengan itu maka pemberian yang
bersifat sukarela ini berubah menjadi pemberian yang ditetapkan secara sepihak oleh
negara dan dapat dipaksakan.

Penetapan jenis objek pajak dalam bentuk peraturan perundang-undangan


dibawah undang-undang merupakan delegasi pengaturannya, sumbernya legalitas
Undang-undang.Pajak adalah soal negara dan juga merupakan soal rakyat, sehingga ia
merupakan bagian dari hukum publik yang mengatur hubungan antara negara dan
orang-orang atau badan hukum yang berkewajiban membayar pajak supaya,
pemasukan kepada kas negara dengan tujuan untuk pembangunan dan kegiatan
pemerintahan dapat berhasil.Uang yang masuk tersebut digunakan untuk kepentungan
umum dan sumbernya dari orang-orang dan badan hukum serta penghasilan negara
berdasarkan pada pasal 1 ayat 3 UUD 1945 menegaskan Negara Republik Indonesia
adalah negara hukum. Pasal 33 UUD 1945 menentukan bumi, air, dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
kemakmuran rakyat. Pengertian menguasai ialah mengatur dan menyelenggarakan
peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaannya, menentukan dan mengatur
yang dapat dipunyai dalam hubungan hukum antara subyek hukum dan perbuatan-
perbuatan hukum yang mengenai bumi,air dan ruang angkasa serta kekayaan alam
yang terkandung didalamnya.

b. Tarif Pemungutan Pajak

Salah satu syarat pemungutan pajak adalah keadilan, baik keadilan dalam
prinsip maupun keadilan dalam pelaksanaannya. Dengan adanya keadilan, pemerintah
dapat menciptakan keseimbangan sosial, yang sangat penting untuk kesejahteraan
masyarakat pada umumnya. Penentuan tarif pajak merupakan salah satu cara untuk
mencapai keadilan. Tarif yang dikenal dan diterapkan selama ini dapat dibedakan
menjadi empat, adalah sebagai berikut :
1. Tarif Tetap
2. Tarif proporsional atau sebanding
3. Tarif progresif
4. Tarif degresif

a. Tarif Tetap
Tarif tetap adalah tarif pajak yang jumlah nominalnya tetap walaupun dasar
pengenaan pajaknya berbeda/berubah, sehingga jumlah pajak yang terutang adalah
tetap. Tarif ini diterapkan dalam undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea
Materai (BM). Dalam undang-undang Bea Materai, tarif digunakan adalah Bea
Materai dengan nilai nominal sebesar Rp 500 dan Rp 1.000. Nilai nominal dalam
perkembangannya selalu berubah-ubah. Berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1995 tarif
Bea Materai diatas dinaikkan menjadi Rp 1.000 dan Rp 2.000 yang selanjutnya
dengan PP Nomor 24 Tahun 2000 tarifnya dinaikkan lagi menjadi Rp 3.000
dan Rp 6.000.

b. Tarif Proporsional
Tarif proporsional atau sebanding adalah tarif pemungutan pajak yang
menggunakan persentase tetap tanpa memperhatikan jumlah yang dijadikan dasar
pengenaan pajak, sehingga jumlah pajak yang terutang akan berubah secara
proporsional/sebanding dengan dasar pengenaan pajaknya. Dengan demikian semakin
besar jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak, akan semakin besar pula jumlah
pajak terutang (yang harus dibayar).

Contoh : Tarif PPN 10%


Dasar Pengenaan Pajak Tarif Pajak Jumlah Pajak
Rp 10.000.000,00 10% Rp 1.000.000,00
Rp 20.000.000,00 10% Rp 2.000.000,00
Rp 30.000.000,00 10% Rp 3.000.000,00
Rp 40.000.000,00 10% Rp 4.000.000,00
c. Tarif Progresif
Tarif progresif adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin
besar bila jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak juga semakin besar, sehingga
jumlah pajak yang terutang akan berubah sesuai dengan perubahan tarif dan
perubahan dasar pengenaan pajaknya.
Contoh :
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Untuk penghasilan s/d Rp. 25.000.000 5%
Di atas Rp. 25.000.000 s/d Rp. 50.000.000 10%
Di atas Rp. 50.000.000 s/d Rp. 100.000.000 15%
Di atas Rp. 100.000.000 s/d Rp. 200.000.000 25%
Di atas Rp. 200.000.000 35% 35%

d. Tarif Degresif
Tarif Degresif adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin
kecil bila jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak semakin besar. Sekalipun
persentasenya semakin kecil, tidak berarti jumlah pajak yang terutang menjadi kecil,
tetapi bisa menjadi besar karena jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajaknya
juga semakin besar. Tarif ini tidak pernah dipergunakan dalam praktik perundang-
undangan perpajakan.

c. Penagihan Utang Pajak


Ada lima tahap yang bisa dilakukan juru sita pajak untuk melaksanakanan
penagihan pajak, yaitu:

1) Penagihan Seketika dan Sekaligus.Penagihan seketika dan sekaligus adalah


tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan juru sita pajak kepada penaggung pajak
tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayar. Kata “SEKETIKA” mengandung arti
bahwa penagihan pajak dilakukan saat itu juga tanpa menunggu tanggal jatuh tempo.
Kata “SEKALIGUS” mengandung arti bahwa penagihan pajak meliputi seluruh utang
pajak dari semua jenis pajak, masa pajak, tahun pajak. Jadi, juru sita pajak akan
melaksanakan penagihan atas utang pajak sebelum surat tagihan pajak atau surat
ketetapan pajak jatuh tempo. Tujuannya adalah mencegah terjadinya utang pajak yang
tidak dapat ditagih. Apabila saat dilakukan penagihan seketika dan sekaligus
penanggung pajak belum membayar maka juru sita pajak akan menunggu pembayaran
sampai dengan tanggal jatuh tempo.

2) Surat Teguran.Surat teguran atau surat peringatan adalah surat yang


diterbitkan pejabat (Pihak yang berwenang menerbitkan surat teguran dan surat lain
yang digunakan untuk melaksanakan penagihan pajak) apabila dalam waktu tujuh hari
setelah tanggal jatuh tempo surat ketetapan, penanggung pajak belum melunasi utang
pajaknya. Tujuan diterbitkannya surat teguran adalah memberi peringatan kepada
penanggung pajak agar segera melunasi utang pajak sehingga tidak perlu dilakukan
penagihan secara paksa.

3) Surat Paksa. Surat paksa adalah surat yang diterbitkan apabila 21 hari
setelah jatuh tempo surat teguran penanggung pajak tidak melunasi utang pajaknya.
Surat paksa ini harus dilunasi dalam waktu 2x24 jam.

4) Surat Sita.Surat sita adalah surat yang diterbitkan apabila dalam waktu 2x24
jam penanggung pajak belum membayar utang pajaknya. Penerbitan surat sita ini
dibebani biaya pelaksanaan sita sebesar Rp 75.000 (tujuh puluh lima ribu rupiah) dan
ditanggung penanggung pajak. Penyitaan ini tidak ditujukan untuk menjual barang
milik penanggung pajak, melainkan hanya digunakan sebagai jaminan agar
penanggung pajak melunasi utang pajaknya. Dengan demikian, penanggung pajak
masih memiliki kesempatan untuk melunasi utang pajaknya sampai dengan
dilakukannya penyitaan. Penyitaan dilaksanakan oleh juru sita pajak dengan
disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang yang telah dewasa, penduduk
Indonesia, dikenal oleh juru sita pajak, dan dapat dipercaya.

5) Lelang. Apabila dalam waktu 14 hari setelah dilakukan penyitaan utang


pajak belum dibayar maka akan dilakukan tindakan penyitaan. Dalam hal penanggung
pajak belum membayar biaya atas penagihan paksa dan pelaksanaan sita maka biaya
tersebut akan digabungkan dengan biaya iklan untuk pengumuan lelang dalam surat
kabar dan biaya pada saat pelelangan.

d. Hukum Pajak di Indonesia


Sumber hukum pajak yang sifatnya tertulis, terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23A. sebelum amandemen UUD 1945,
ketentuan mengenai pajak diatur pada Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 yang
menyebutkan, “segala pajak untuk keperluan negara harus berdasarkan undang-
undang”. Ketentuan ini mengandung asas legalitas yang melakukan kewenangan pada
negara untuk memungut pajak apabila negara membutuhkannya, tetapi dengan syarat
harus berdasarkan undang-undang. Tidak ada pajak tanpa persetujuan antara rakyat
melalui wakilnya di dalam Dewan Perwakilan Rakyat dengan pemerintah yang diatur
dengan undang-undang.

b. Perjanjian Perpajakan. Tiap negara memiliki peraturan pajak yang berbeda


dengan negara lain yang menyebabkan mudahnya terjadi pengenaan pajak ganda
internasional sehingga menimbulkan beban yang tinggi terhadap wajib pajak. Untuk
mengatasi hal tersebut, negara-negara yang berkepentingan mengadakan perjanjian
penghindaran pajak internasional agar wajib pajak dari setiap negara yang
bersangkutan tidak dikenakan pajak ganda. Selain itu, perjanjian perpajakan juga
dapat mencegah terjadinya penghindaran pajak (tax avoidance) dan penyeludupan
pajak (tax evasion).
c. Yurisprudensi Perpajakan. Yurisprudensi perpajakan adalah putusan
pengadilan mengenai perkara pajak, yang meliputi sengketa pajak dan tindak pidana
yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Putusan pengadilan yang berkaitan
dengan sengketa pajak adalah Putusan Pengadilan Pajak ataupun Mahkamah Agung
yang telah mempunyai kekuatan hukum mengikat para pihak yang bersengketa,
sedangkan putusan pengadilan yang berkaitan dengan tindak pidana pajak adalah
Putusan Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum ataupun Mahkamah Agung
yang telah mempunyai kekuatan hukum mengikat.

d. Doktrin Perpajakan. Agar doktrin dapat menjadi sumber hukum pajak,


substansinya harus berada dalam konteks di bidang perpajakan yang dikemukakan
ahli hukum pajak karena substansi hukum yang terkandung dalam hukum pajak
memiliki perbedaan yang sangat prinsipiil dengan hukum lainnya.Pendapat ahli
hukum pajak, untuk saat ini belum dapat diharapkan untuk menunjang pengembangan
hukum pajak. Hal ini dikarenakan kelangkaan ahli hukum pajak yang dapat memberi
corak tersendiri dalam perkembangan hukum pajak.

e. Sanksi Pajak. Sanksi administrasi menurut UU KUP dibagi atas tiga macam,
yaitu denda, bunga dan kenaikan. Denda dikenakan terhadap pelanggaran peraturan
yang bersifat hukum publik. Dalam hal ini, sanksi administrasi dikenakan terhadap
pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang akibat
pelanggarannya pada umumnya tidak merugikan negara. Sanksi administrasi berupa
bunga sebesar 2% sebulan dikenakan terhadap wajib pajak yang membetulkan SPT,
dikenakan SKPKB ( Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ), tidak melunasi utang
pajak pada saat jatuh tempo, terlambat membayar SKPKB dan SKPKBT, mengangsur
atau menunda pembayaran pajak serta menunda penyampaian SPT. Adapun sanksi
administrasi berupa kenaikan (Kenaikan pajak atau tambahan pajak) dikenakan
terhadap pelanggaran ketentuan perundang-undangan perpajakan, yang akibat
pelanggaran itu negara dirugikan. Menurut Undang-Undang KUP tahun 2000,
kenaikan adalah sanksi administrasi yang menaikan jumlah pajak yang harus dibayar
wajib pajak dengan persentase antara 50-100% dari jumlah pajak yang tidak/kurang
bayar.

e. Hukum Pajak Internasional dan Sumber Hukum Pajak Internasional

Hukum pajak internasional adalah suatu kesatuan hukum yang mengupas


suatu persoalan yang diatur dalam UU Nasional mengenai pemajakan terhadap orang-
orang luar negeri, peraturan-peraturan nasional untuk menghindarkan pajak ganda dan
traktat-traktat.

Sumber-sumber hukum formal pajak internasional adalah :

1.Asas-asas yang terdapat dalam hukum antarnegara. Asas-asas ini dapat


disimpulkan dari peraturan-peraturan dari hukum antarnegara, baik yang tertulis
maupun yang tidak.

2.Peraturan-peraturan unilateral (sepihak) dari setiap negara yang maksudnya


tidak ditujukan pada negara lain, seperti pencegahan pengenaan pajak berganda.
3.Traktat-traktat (perjanjian) dengan negara lain seperti :

a.Untuk meniadakan/menghindarkan pajak berganda

b.Untuk mengatur pelakuan fiskal terhadap orang – orang asing

c.Untuk mengatur soal pemecahan laba (winstsplitsing), di dalam hal


suatu perusahaan/seseorang mempunyai cabang-cabang/sumber-
sumber pendapatan di negara asing.

d.Untuk saling memberi bantuan dalam pengenaan pajak lengkap


dengan pemungutannya, termasuk usaha untuk memberantas evasion
fiscale, yang dapat terjelma dengan saling memberikan keterangan-
keterangan tentang adanya Tatbestand dengan segala detailnya yang
diperlukan untuk penetapan pajaknya.

e.Untuk menetapkan tarif-tarif douane.

2. Jelaskan pemahaman saudara tentang reformasi pajak di Indonesia

Reformasi perpajakan adalah perubahan yang mendasar di segala aspek


perpajakan. Reformasi pajak dilakukan agar sistem perpajakan dapat lebih efektif dan
efisien, sejalan dengan perkembangan globalisasi yang menuntut daya saing tinggi
dengan negara lain. Tentu saja dengan memperhatikan prinsip-prinsip perpajakan
yang sehat seperti persamaan (equality), kesederhanaan (simplicity), dan keadilan
(fairness), sehingga tidak hanya berdampak terhadap peningkatan kapasitas fiskal,
melainkan juga terhadap perkembangan kondisi ekonomi makro.
Reformasi administrasi perpajakan adalah penyempurnaan atau perbaikan
kinerja administrasi, baik secara individu, kelompok, maupun kelembagaan agar lebih
efisien, ekonomis, dan cepat.
Adapun langkah-langkah reformasi perpajakan tersebut antara lain meliputi :
1. Langkah-langkah pembaruan kebijakan (tax policy reform); melalui
Perubahan UU PPh, Perubahan UU PPN dan PPnBM, Perubahan UU
PBB, Perubahan UU Bea Materai, serta UU Kepabeanan dan UU
cukai. Pada intinya Paket Amandemen Undang-Undang Perpajakan
ini lebih dititik-beratkan pada pemberian rasa keadilan dan kepastian
hukum di bidang perpajakan, yang bertujuan untuk mendorong
investasi, serta mengoptimalkan penerimaan perpajakan.
2. Langkah-langkah pembaruan administrasi perpajakan (tax
administrative reform); meliputi :
a. Penyempurnaan peraturan pelaksanaan undang-undang perpajakan;
b. Pembentukan dan perluasan kantor pelayanan pajak (kpp) khusus
wajib pajak (wp) besar (large taxpayer office, lto), diantaranya meliputi
pembentukan organisasi berdasarkan fungsi, pengembangan sistem
administrasi perpajakan yang terintegrasi dengan pendekatan fungsi, dan
implementasi dari prinsip-prinsip good corporate governance;
c. Pembangunan kpp khusus wp menengah, dan kpp khusus wp kecil
di kanwil vi direktorat jenderal pajak;
d. Pengembangan basis data, pembayaran pajak dan
penyampaian spt secara online;
e. Perbaikan manajemen pemeriksaan pajak; serta
f. Peningkatan efektivitas penerapan kode etik di jajaran
direktorat jenderal pajak dan komisi ombudsman nasional.

3. Jelaskan secara umum ketentuan perpajakan di Indonesia


Peraturan perundang-undangan perpajakan yang mengatur tentang “Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan” adalah UU No. 6 tahun 1983, sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 9 tahun 1994, dengan UU No. 16 tahun 2000, terakhir dengan
UU No. 28 tahun 2007. Undang-undang tentang “Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan” dilandasi falsafah Pancasila dan UUD 1945. UU No. 28 tahun 2007 pada
dasarnya mengatur hak dan kewajiban Wajib Pajak, wewenang dan kewajiban aparat
pemungut pajak, serta sanksi perpajakan.
Sistem perpajakan yang dianut di Indonesia adalah self assesment, yaitu Wajib Pajak
diberikan kepercayaan untuk mendaftarkan diri, menghitung pajak yang terutang,
menyetornya, serta melaporkan penghitungan dan penyetoran pajak tersebut,
sedangkan fungsi Direktorat Jenderal pajak adalah melakukan pengawasan atas sistem
self assesment tersebut agar Wajib Pajak melaksanakannya sesuai dengan ketentuan
undang-undang perpajakan. Penghitungan pajak yang terutang diatur dalam undang-
undang material perpajakan sebagaimana tersebut dalam UU PPh dan UU PPN.
Sementara itu pendaftaran, penyetoran, dan pelaporan pajak, serta wewenang
Direktorat Jenderal pajak diatur dalam undang-undang formal perpajakan
sebagaimana tercantum dalam UU No. 6 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir
dengan UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
(selanjutnya disebut UU KUP), yang mengatur tentang hak dan kewajiban Wajib
Pajak serta wewenang Direktorat Jenderal Pajak, termasuk sanksi perpajakan apabila
Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban perpajakan