Anda di halaman 1dari 6

ITEM RESPONSE THEORY

A. Pengertian dan Tujuan


Analisis butir soal secara modern yaitu penelaahan butir soal dengan
menggunakan Item Response Theory (IRT) atau teori jawaban butir soal.
Teori ini merupakan salah satu cara untuk menilai kelayakan butir dengan
membandingkan rerata penampilan butir terhadap tampilan bukti kemampuan
kelompok yang diramalkan oleh model. Tujuan utama pengembangan teori
respons butir adalah untuk mengatasi kelemahan teori tes klasik yang tidak
independent terhadap kelompok peserta yang mengerjakan tes maupun
terhadap tes yang diujikan.
Menurut Hambleton dan Swaminathan dalam Depdiknas (2007: 19)
menyatakan bahwa tujuan utama IRT adalah memberikan kesamaan antara
statistik soal dan estimasi kemampuan peserta didik. Teori respon butir
atau Item Response Theory (IRT) yang dikembangkan untuk memperbaiki
keterbatasan-keterbatasan teori tes klasik ini biasa disebut juga teori sifat
laten (latent trait theory). Konsep dasar Teori Respon Butir adalah: (1)
performansi subjek pada suatu tes dapat diprediksi atau dijelaskan oleh
seperangkat faktor yang disebut traits, latent traits atau abilitas, dan (2)
hubungan antara performansi subjek pada suatu butir dan seperangkat
kemampuan laten yang mendasarinya dapat digambarkan oleh suatu fungsi
yang menaik secara monoton yang disebut sebagai kurva karakteristik butir
(Item characteristic curve-ICC) (Hambleton, Swaminathan, & Rogers, 1991).
Bagian penting dari teori respons butir adalah probabilitas jawaban
benar peserta tes, parameter butir dan parameter peserta tes dihubungkan
melalui suatu fungsi matematik atau model formula matematik. Dalam
formula ini, nilai kemungkinan peserta tes menjawab soal dipahami sebagai
fungsi logistik perbedaan parameter yang dimasukkan ke dalam model. Nama
lain IRT adalah Latent Trait Theory (LTT), atau Characteristics Curve Theory
(ICC) (Depdiknas, 2010: 17).
B. Asumsi dalam Teori Respon Butir
Setidaknya terdapat tiga asumsi dasar dalam Teori Respon Butir
yang harus dipenuhi. Asumsi-asumsi tersebut adalah asumsi unidimensi,
independensi lokal, dan ketepatan kurva karakteristik butir (Hambleton,
dkk, 1991).
1. Asumsi unidimensi
Asumsi ini merujuk pada abilitas yang diukur dalam suatu perangkat soal
adalah tunggal. Idealnya, setiap butir tes yang dibuat hanya mengukur
salah satu dari kemampuan peserta tes, bukan mengukur dua atau lebih
kemampuan peserta tes. Jika suatu butir mengukur hal yang bersifat
multidimensi, maka skor pada butir tersebut merupakan kombinasi dari
berbagai kemampuan subjek. Meskipun begitu pada praktiknya asumsi
unidimensi ini tidak dapat secara ketat diterapkan karena adanya faktor-
faktor yang mempengaruhi seperti kognitif, kepribadian, dan faktor yang
berkaitan dengan aspek administrasi tes. Hal yang paling penting dalam
asumsi ini adalah adanya satu komponen dominan yang mempengaruhi
performasi subjek.
2. Asumsi independensi lokal (local independence)
Asumsi ini merujuk apabila kemampuan-kemampuan yang mempengaruhi
performansi tes dijadikan konstan, maka respons subjek terhadap butir
manapun akan independen secara statistik. Independensi lokal terhadap
butir dapat diartikan bahwa respon subjek pada butir satu tidak
berpengaruh terhadap respon pada butir lain atau secara sederhana dapat
dikatakan bahwa asumsi indepensi lokal akan terpenuhi apabila jawaban
peserta terhadap suatu butir soal tidak bergantung pada jawaban peserta
terhadap butir soal yang lain. Ada independensi lokal responden terhadap
butir dan ada independensi lokal butir terhadap responden. Pada peserta
tes di lokasi yang sama, probabilitas menjawab betul P(q) untuk butir
berbeda adalah independen satu terhadap lainnya. Misalkan responden
yang memiliki kemampuan yang sama mengerjakan butir X1, X2, X3, …,
XN, maka sesuai dengan rumus independensi pada probabilitas, berlaku
Independensi lokal butir terhadap responden. Pada butir di lokal yang
sama, probabilitas menjawab betul P(q) untuk responden berbeda adalah
independen satu terhadap lainnya. Independensi lokal dapat diuji dengan
dua cara, yaitu: secara eksak melalui rumus probabilitas, dan secara
statistika melalui uji ketergantungan khi-kuadrat.

Pengujian melalui rumus probabilitas. Independensi lokal tercapai apabila


data memenuhi rumus independensi pada probabilitas. Berikut contoh
pengujian melalui rumus probabilitas:Responden mengerjakan butir ke-1
dan ke-2 dengan probabilitas jawaban

Butir ke-2
1 0
Butir 1 0,086 0,420 0,506
ke-1 0 0,083 0,411 0,494
0,169 0,831 1

Apakah terdapat independensi lokal? Berdasarkan data di atas maka


perhitungan probabilitasnya adalah sebagai berikut:
P(11) = 0,086 P1(1)P2(1) = (0,506)(0,169) = 0,086
P(10) = 0,420 P1(1)P2(0) = (0,506)(0,831) = 0,420
P(01) = 0,083 P1(0)P2(1) = (0,494)(0,169) = 0,083
P(00) = 0,411 P1(0)P2(0) = (0,494)(0,831) = 0,411

Jadi, terdapat kecocokan sehingga mereka adalah independen secara lokal.


Pengujian secara statistika. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi
tertentu melalui hipotesis:H0: ada independensi lokal.H1: tidak ada
independensi lokal. Distribusi probabilias pensampelan adalah distribusi
probabilias khi-kuadrat dan statistik uji c2 adalah:
Butir ke-2
1 0
Butir 1 A B A+B
ke-1 0 C D C+D
A+C B+D N

Statistik uji adalah menggunakan persamaan berikut:


dengan banyaknya responden, dan A, B, C, D = frekuensi. Dengan
kriteria pengujian adalah: Tolak H0 jika c2 > c2(a)(n). Terima
H0 jika c2 £ c2(a)(n).

Prinsip independensi lokal dinyatakan oleh asumsi bahwa secara formal,


probabilitas (sukses pada butir i yang diberikan ) sama dengan
probabilitas (sukses pada butir i yang diberikan q dan juga diberikan
kinerjanya pada butir j, k, …). Jika atau 1 menyatakan sekor butir ke-i,
maka dapat ditulis dengan : Menurut Lord (1990: 19) secara matematika
pernyataan indepensi lokal berarti bahwa probabilitas sukses seluruh butir
tes sama dengan perkalian dari bagian-bagian probabilitas sukses tersebut.
Sebagai contoh, ada tiga butir tes i, j, dan k, maka :

Independensi lokal menginginkan setiap dua butir tidak berkorelasi apabila


q adalah tetap. Secara definisi tidak diinginkan butir-butir tidak berkorelasi
dalam kelompok, dimana q bervariasi. Dalam hal tertentu, independensi
lokal secara otomatis mengikuti keunidimensian.

Menurut Crocker dan Algina (1986: 342), dalam teori responsi butir secara
bersama-sama digunakan konsep-konsep yang lebih umum terhadap
keterikatan dan kebebasan statistik untuk menyatakan tentang hubungan
antara varaiabel-variabel. Untuk dua sekor butir dikotomi konsep-konsep
tersebut dapat diilustrasikan secara numerik sebagai berikut. Bila diketahui
responsi dari 40 responden pada suatu butir soal hasil akhirnya adalah
sebagai berikut.

Tabel 1. Responsi jawaban siswa sejumlah 40 responden

Butir Responsi responden


1 00000 11000 00011 00010 00100 00000 11001 10101
2 01100 00011 10000 11111 11111 11100 00110 01111

Atau peluang jawaban tersebut dibentuk sebagai berikut:

Tabel 2. Peluang jawaban butir 1 dan butir 2

1 0
1 0,100 0,200 0,300
0 0,500 0,200 0,700
0,600 0,400

Dari tabel 2 tersebut dapat dihitung besar perkalian setiap peluang sebagai
berikut:

P(11) = 0,10

P(10) = 0,20

P(01) = 0,50

P(00) = 0,20

Dari hasil perkalian peluang-peluang tersebut dapat disimpulkan bahwa


tidak terdapat independensi lokal, karena tidak memenuhi syarat
independensi lokal (Nitko, 1992: 23).

Keempat kondisi persamaan tersebut mengatakan bahwa skor-skor butir


adalah bebas jika masing-masing peluang susunan jawaban untuk kedua
butir sedemikian rupa sehingga peluang pada ruas kiri dari persamaan
dapat dihitung dengan mengetahui hanya peluang jawaban benar dan salah
untuk masing-masing butir tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa sebuah tes adalah unidimensional jika butir-butir tes tersebut secara
statistik adalah tidak bebas di dalam populasi yang dilibatkan.

3. Asumsi Invariansi
Kurva karakteristik butir haruslah merefleksikan secara benar hubungan
antara variabel yang tidak terobservasi dan variabel yang terobservasi.
Fungsi ini haruslah bersifat tetap dan tidak berubah. Karakteristik butir
tetap atau tidak berubah sekalipun subpopulasi peserta tes yang menjawab
butir yang sama itu berubah-ubah. Untuk kelompok yang sama, ciri
mereka adalah tetap sekalipun butir yang mereka jawab itu berubah-ubah.
Sifat ini disebut juga sebagai invariansi.

Sumber: http://teoribagus.com/teori-tes-klasik-dan-tes-modern
Azwar, S. (2015). Dasar-dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar