Anda di halaman 1dari 5

Wilda Yanti Khoiriah/17130400551/HTNI

DAMPAK DAN AKIBAT DARI BEBASNYA BERPENDAPAT DI MEDIA


SOSIAL
Apa yang berkembang di media sosial belakangan ini mungkin dapat
disebut sebagai kecenderungan proses berkomunikasi dalam kategori anti
komunikasi. Penyampaian pesan, diskusi, dan silang pendapat tentang isu-isu
politik di media sosial tersebut telah sedemikian rupa mengabaikan hal-hal yang
fundamental dalam komunikasi: penghormatan kepada orang lain, empati kepada
lawan bicara, dan antisipasi atas dampak-dampak ujaran atau pernyataan. Pada
prinsipnya, praktik berkomunikasi di ruang publik mensyaratkan kemampuan
pengendalian diri, kedewasaan dalam bersikap, serta tanggung jawab atas setiap
ucapan yang hendak atau sedang disampaikan. Namun yang terjadi di media
sosial dewasa ini adalah tren yang sebaliknya.
Media baru alias media sosial sudah menjadi tempat mengungkapkan
amarah, kebencian, caci maki, penghinaan, cyber bullying, dan proses komunikasi
dalam kategori anti komunikasi lainnya. Tidak terbatas pada masalah politik dan
sosial, juga pada masalah agama, SARA, bahkan masalah pribadi sekalipun turut
meramaikan ruang di media sosial.
Padahal, media sosial sejatinya dapat menjadi wahana untuk mendudukkan
proses dialog yang sehat dalam berkomunikasi agar terwujud harmonisasi. Media
sosial sejatinya menempatkan proses dialog dalam berkomunikasi dan
menciptakan ruang untuk menciptakan diseminasi gagasan secara rasional dan
menyejukkan. Kemajuan teknologi internet memiliki berbagai dampak baik positif
maupun negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah munculnya perilaku yang
tidak mengedepankan moral, menghina, mencaci, dan menyakiti orang lain.
Seiring dengan perkembangan teknologi maka kebebasan berpendapat mulai
mengalami perubahan terutama dengan maraknya media sosial. Beberapa contoh
pelanggaran kebebasan berpendapat di media sosial adalah dengan mudahnya
tersebar konten-konten pornografi, pencemaran nama baik, dan beita-berita
bohong.
Menyadari akan berkembang teknologi yang berkembang pesat dan
digunakan masyarakat sebagai sarana menggunakan kebebasan berpendapatnya,
maka pemerintah melalui undang-undang ITE menetapkan pula batasan
berpendapat pada media elektronik berbasis internet sebagaimana di atur dalam
pasal 28 Undang-undang ITE tersebut.
Setiap orang dalam rangka menggunakan kebebasan berpendapat dalam
elektronik berbasis internet harus tunduk pada pembatasan yaitu larangan untuk
menyampaikan berita bohong yang dapat menimbulkan kerugian, serta larangan
untuk menyebarkan informasi dengan tujuan untuk menimbulkan rasa kebencian
atau permusuhan individu dan /atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan
isu-isu (SARA). Ketentuan mengenai pembatasan kebebasan berpendapat tersebut
selanjutnya juga ditanggapi oleh kepolisian selaku instituts penegak hukum
dengan adanya surat edaran Kapolri tentang Ujaran kebencian (SE Hate Specch).
SE Hate Speech tersebut merupakan aturan internal pada lembaga kepolisian yang
memberikan pedoman bagi seluruh anggota kepolisian dalam menangani kasus-
kasus ujaran kebencian terutama yang berpotensi memecah belah NKRI.
Adanya pembatasan kebebasan berpendapat juga tidak berarti bahwa
pemerintah mengabaikan perlindungan HAM rakyat dalam negara hukum
Indonesia, melainkan pembatasan tersebut diperlukan untuk melindungi HAM
milik orang lain. Negara tetap memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi warga
negara untuk menyampaikan pendapat yang bertanggung jawab dan tunduk
kepada aturan hukum. Selain melindungi HAM orang lain, pemerintah juga
melakukan perlindungan akan persatuan dan kesatuan negara dengan
menanggulangi upaya memecah belah bangsa melalui doktrinisasi dalam media
sosial. Instrumen hukum yang mengatur pembatasan atas penggunaan kebebasan
berpendapat memuat pula adanya sanksi yang diancamkan apabila terjadi
pelanggaran terhadap pembatasan yang ditetapkan undang-udang, sebagai bentuk
norma hukum sekundernya. Sanksi yang diancamkan tersebut terutama yang
berkaitan dengan penyebarluasan ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong
(Hoax).
Lalu apa hubungannya dengan Hate dan Hate Speech? Ternyata, 1 dari 10
anak pengguna media sosial Hate Speech. Jumlah itu sama dengan 800.000 anak,
atau sama besarnya dengan populasi di jakarta. 81% dari remaja tersebut
menganggap bahwa melakukan bully dan hate speech pada temannya secara
online jauh lebih mudah dilakukan ketimbang secara langsung di dunia nyata.
Bagaimana efek dari tindakan bully dan hate speech? Jika di dunia nyata, bisa
mengakibatkan tindakan membolos dari sekolah akibat takut dibully teman,
bahkan berimbas pada bunuh diri. Sebuah survei baru yang dilakukan oleh sebuah
situs diadakan di Inggris menunjukkan bahwa sekitar 5.43 juta anak-anak di
Inggris menjadi korban Cyber Bullying. Survei tersebut juga menyajikan fakta
bahwa anak-anak muda dua kali lebih mungkin untuk menjadi korban cyber
bullying di facebook dibanding dengan situs jejaring lainnya. Survei ini
merupakan survei terbesar yang pernah dilakukan untuk mengungkap cyber
bullying. Survei tersebut menunjukkan fakta 2 dari 3 orang yang disurvei yang
berusia antara 13 sampai dengan 22 tahun telah menjadi korban cyber bullying.
Ini artinya ada sekitar 5.43 juta yang pernah mengalami cyber bullying. Sebuah
angka yang cukup besar tentunya (ictwatcht.com)
Menurut survey Dicth the label, sebuah kegiatan amal anti bullying
nasional di Inggris mengkhawatirkan 69% dari 7000 orang yang disurvei telah
menjadi korban cyber bullying. Riset menemukan bahwa baik laki-laki maupun
perempuan memiliki risiko yang sama menjadi korban bullying dan diperkirakan
1,26 juta anak muda atau 1 dalam 5 orang telah menjadi korban cyber
bullyingekstrim setiap hari. (ictwatch.com)
Korban cyber bullying mengatakan bahwa efek terburuk dari cyber
bullying adalah adanya bencana pada harga diri mereka dan kehidupan sosial,
serta merusak prospek masa depan dengan cara menghancurkan optimisme
mereka. Fakta-fakta di atas tentunya harus menjadi perhatian semua orang. Sudah
seharusnya setiap orang menghindari perilaku cyber bullying. Cyber bullying
memilik efek yang sangat buruk bahkan bisa berujung pada kematian
korban.CYBER-bullying atau kekerasan dunia maya ternyata lebih menyakitkan
jika dibandingkan dengan kekerasan secara fisik. Penelitian yang dilakukan
ilmuwan dari National Institutes of Health (NIH) mengungkapkan kekerasan
melalui dunia maya efeknya lebih besar terhadap korban. Hal ini akan mendorong
tindakan bunuh diri pada remaja. Tindakan bunuh diri ini sering diakibatkan
karena membaca komentar yang menyakitkan beberapa hari sebelum dilakukan
tindakan tersebut (Kowalski, 2009). Korban biasanya berasal dari kalangan LGBT
(Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) sebanyak 54% remaja LGBT mengalami
kasus cyber bullying di Amerika, sedangkan Cyber bullying di Indonesia banyak
terjadi pada publik figure seperti politisi, selebriti maupun tokoh publik lainnya.

Dalam pemanfaatan media sosial secara berkualitas, Saya menyimpulkan


beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menghindari permasalahan yang telah
diuraikan sebelumnya. Hal tersebut adalah proteksi informasi pribadi, etika dalam
berkomunikasi, hindari penyebaran SARA dan pornografi, memandang penting
hasil karya orang lain, membaca berita secara keseluruhan, jangan hanya menilai
dari judulnya, dan kroscek kebenaran berita atau informasi. Dalam media sosial,
konten yang bersifat pribadi dapat menjadi milik publik. Oleh karena itu harus
digunakan secara bijak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setiap
individu pengguna media sosial seharusnya memiliki kesadaran pribadi, bahwa
apapun yang diunggah ke dalam media sosial selain dapat mempengaruhi citra diri
sendiri, juga dapat mempengaruhi hubungan sosial dengan pihak lain. Keluasan
informasi hendaklah dipilah dengan bijaksana, mana saja yang dapat digunakan
dengan baik tanpa melanggar norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan
sosial. Kebebasan berekspresi harus tetap berpegang pada etika komunikasi dan
pengendalian diri yang baik.
REFERENSI

Karimah, Kismiyati, El., dan Wahyudin, Uud . (2016). Etika Komunikasi di


Media Sosial. Proseding Seminar Nasional Komunikasi.

Rahman, Fatur. 2016. Analisis meningkatnya kejahatan Cyberbullying dan hate


Speech menggunakan berbagai Media Sosial dan Metode Pencegahannya.
Sniptek

Anwar, Fahmi. 2017. Perubahan dan Permasalahan Media Sosial. Jurnal Muara
Ilmu Sosial. Humaniora dan Seni.

Antoni, Putu Eva Ditayani .2017. Tinjauan Yurids pembatasan Kebebasan


Berpendapat Pada Media Sosial di Indonesia. Jurnal Hukum Undiknas.

Rastati, Renny. 2016. Bentuk Perundingan Cyber di Media Sosial dan


Pencegahannya Bagi Korban dan Pelaku. Jurnal Sositeknologi.