Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PEDOMAN
PELAKSANA AUDIT

A. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Dalam rangka upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di


wilayah Sidoarjo, Rumah Sakit Islam Siti Hajar secara bertahap dan
sistematis serta terus menerus meningkatkan keberadaannya, baik dari
segi pelayanan kepada masyarakat maupun segi manajemen Rumah Sakit.
Berkaitan dengan semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan
tehnologi khususnya dibidang pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, maka
dipandang perlu adanya suatu lembaga pengawasan terhadap sumber daya
yang ada di Rumah Sakit Siti Hajar dalam melayani masyarakat agar Visi,
Misi dan Tujuan serta harapan Rumah Sakit dapat terwujud dan tercapai
dengan baik dan profesional. SPI merupakan salah satu lembaga/unit yang
senantiasa mengawasi keberadaan dan kinerja SDM yang ada dilingkup
Rumah Sakit agar dapat terlaksananya fungsi pelayanan kepada
masyarakat secara baik, terarah dan lebih terencana.
Tugas Auditor Rumah Sakit diatas harus dilaksanakan sesuai dengan
kaidah Good Coorporate Governance(GCG) yang meliputi transparansi,
kemandirian, akuntabilitas dan pertanggungjawaban serta kewajaran
sesuai dengan prinsip Good Coorporate Governance yang sehat serta taat
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Suatu mekanisme dan suatu system pengendalian internal merupakan
salah satu sarana utama untuk dapat memastikan bahwa pengelolaan
Rumah Sakit telah dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip Good
Coorporate Governance diatas.

1
2. TUJUAN
Pedoman pelaksanaan ini merupakan salah satu bagian dari pedoman
pelaksanaan Good Coorporate Governance yang disusun untuk menjadi
norma-norma acuan kerja bagi unit Satuan Pengawas Intern (SPI).
Pedoman ini dimaksudkan agar anggota SPI dapat bekerja secara
profesional sesuai dengan tujuan penugasannya dan sekaligus sebagai
sarana komunikasi agar kinerja unit SPI dapat diterima dan didukung
oleh unit kerja lainnya.

B. SATUAN PENGAWAS INTERN ( SPI )


1. FUNGSI
a. SPI adalah unit internal yang bersifat independen dan berfungsi dalam :
1. Penyelenggaraan penilaian pelaksanaan sistem pengendalian
internal dan sistem pengendalian manajemen Rumah Sakit.
2. Penyelenggaraan pemeriksaan keuangan dan operasional Rumah
Sakit.
3. Penyelenggaraan dokumentasi Laporan Hasil Pemeriksaan dan
tindak lanjut temuan pemeriksaan serta ketatausahaan.
4. Pendorong pelaksanaan pengawasan melekat yang lebih efektif,
efisien dan ekonomi di Rumah Sakit.
5. Pendorong penerapan Good Coorporate Governance.
6. Sebagai mitra kerja dari Komite Audit dan pemeriksa Eksternal
dalam mengawasi pengelolaan Rumah Sakit.
7. Pelaksanaan program kerja dan menyelenggarakan penerapan
Sistem Informasi Manajemen dilingkungan Rumah Sakit.
b. Dalam menjalankan fungsinya SPI bertanggung jawab langsung pada
Direktur Rumah Sakit.

2
2. TUGAS DAN WEWENANG
a. Tugas SPI adalah :
1. Membantu Direktur Rumah Sakit dalam melakukan penilaian
secara independen atas sistem pengendalian pengelolaan di Rumah
Sakit.
2. Melakukan penilaian atas pelaksanaan pengelolaan melalui
pemeriksaan keuangan dan operasional pada bidang/bagian/unit
kerja sebagai berikut :
a. Bagian Pelayanan dan pengembangan.
b. Bagian pemasaran dan pengembangan
c. Bagian operasional dan tehnik/ sistem pelaksanaan
d. Bagian Keuangan
e. Bagian Kesekretariatan dan HRD.
f. Bagian Umum
g. Unit Logistik Farmasi , Inventaris & RT dan
h. Unit kerja lainnya dilingkungan Rumah Sakit
3. Melakukan kajian terhadap Rencana Investasi Rumah Sakit
khususnya sejauhmana prosedur pengkajian dan pengelolaan
resiko telah dilaksanakan oleh unit yang bersangkutan.
4. Melakukan pemeriksaan dan pemantauan mengenai sistem
pengendalian informasi dan komunikasi untuk memastikan bahwa:
a. Informasi penting Rumah Sakit terjamin keamanannya
b. Fungsi Sekretariat Rumah Sakit dalam pengendalian informasi
dapat berjalan dengan efektif.
c. Penyajian laporan-laporan Rumah Sakit dan kegiatan-kegiatan
Rumah Sakit memenuhi peraturan perundang-undangan.
5. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6. Melaksanakan tugas khusus dalam lingkup pengendalian intern
yang ditugaskan oleh Direktur Rumah Sakit.

3
7. SPI tidak bertanggung jawab atas aktifitas yang direview/ diaudit,
tetapi tanggung jawab SPI adalah pada Evaluasi dan Analisa atas
aktifitas tersebut.
8. Melakukan Assesmen secara objektif atas praktek-praktek
akuntansi dan sistem pengendalian intern.
9. Memberikan informasi tentang assesmen atas aktifitas sistem
pengendalian internal dalam mendukung terciptanya Good
Coorporate Governance dan akuntabilitas.
10. Mengevaluasi dan melaporkan kehandalan laporan keuangan dan
efektifitas dari pengendalian internal yang efektif.
11. Mendorong pelaksanaan pengawasan melekat yang lebih Efektif,
Efisien dan Ekonomis.
12. Melakukan pemantauan dan mengupayakan penerapan
pelaksanaan Good Coorporate Governance.
b. Wewenang SPI adalah :
1. Menyusun, mengubah dan melaksanakan kebijakan internal
termasuk antara lain menentukan prosedur dan lingkup
pelaksanaan pekerjaan audit.
2. Akses terhadap semua dokumen, pencatatan, personal fisik,
informasi atas objek audit yang dilaksanakannya, untuk
mendapatkan data dan informasi yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugasnya.
3. Melakukan verifikasi dan uji kehandalan terhadap informasi yang
diperolehnya dalam kaitan dengan penilaian efektifitas system
yang diauditnya.

3. LINGKUP KERJA
Lingkup kerja SPI mencakup audit dan evaluasi tentang kemampuan,
efektifitas ketaatan dan kualitas pelaksanaan tugas, yang terdiri dari
beberapa aspek di wilayah kerja lingkungan Rumah Sakit antara lain :
a. Aspek Kinerja, Aspek SDM

4
b. Aspek Pelayanan Rawat Inap, Rawat Jalan tingkat I dan tingkat II,
c. Penunjang yang meliputi Farmasi, Laboratorium, Radiologi, Gizi .
d. Bagian Umum serta objek/unit terkait yang ada di wilayah kerja
Rumah Sakit.
e. Pengawasan bidang khusus, kerja sama, lingkungan pengendalian
Internal (control environment), Sistem Mutu, Tehnologi Informasi,
Audit Investigasi pada unit.
f. Lingkup kerja SPI sebagaimana dimaksud diatas akan disesuaikan
setiap tahun oleh kepala SPI, sesuai dengan Program Kerja Tahunan
SPI.
Masing-masing objek terkait di unit mempunyai tugas menyiapkan
pembinaan tehnis pemeriksaan, menyusun dan melaksanakan program
kerja pemeriksaan keuangan dan operasional serta menyiapkan penilaian
atas pelaksanaan sistem pengendalian internal dan sistem pengendalian
manajemen.

C. STANDAR AUDIT
1. UMUM
Standar audit merupakan suatu patokan untuk melakukan audit terhadap
semua kegiatan Rumah Sakit, baik unit kerja struktural yang meliputi :
Bagian Keuangan, Kesekretariatan dan HRD, Keperawatan, Medik dan
Umum dan bidang operasional Rumah Sakit serta unit kerja terkait yang
ada di wilayah kerja Rumah Sakit.
Standart audit sangat menekankan tidak hanya terhadap pentingnya
kualitas profesional Auditor tetapi juga terhadap bagaimana Auditor
mengambil pertimbangan dan keputusan waktu melakukan audit dan
pelaporan.
Standar audit ini merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh unit SPI
dan Auditor Internal yang mencakup persyaratan mengenai :
a. Profesionalisme Auditor dan SPI.
b. Lingkup Kerja Audit

5
c. Pelaksanaaan dan Pelaporan Audit.
d. Pengelolaan Unit SPI.

2. PERSYARATAN PROFESIONALISME AUDITOR DAN SPI


a. Standart Independensi :
Dalam melaksanakan tugasnya, unit organisasi SPI maupun
auditornya haruslah independen dari aktifitas yang diauditnya.
Untuk dapat melakukan hal ini, maka unit organisasi SPI dan
auditornya , sebagai berikut :
1. Unit Organisasi SPI berada langsung dibawah Direktur dan
bertanggung jawab langsung kepada Direktur Rumah Sakit.
Semua jajaran dalam Rumah Sakit dan unit kerja lainnya
berkewajiban untuk kerjasama dengan unit SPI, sehingga
memungkinkan pelaksanaan tanggung jawab audit.
2. Bersikap independen yaitu dapat melaksanakan tugas auditnya
dengan bebas baik secara organisasi maupun secara pribadi
terhadap Auditee maupun organisasinya. Dengan demikian ia
dapat memberikan pendapat penting yang tidak memihak dan
tidak berprasangka dalam pelaksanaan dan pelaporan hasil
Auditnya.
3. Bersikap objektif yaitu jujur terhadap diri sendiri serta yakin
bahwa hasil kerjanya dapat dihandalkan, dapat dipercaya dan
bebas dari pengaruh pihak - pihak lain. Untuk itu ia tidak boleh
mengesampingkan pertimbangan - pertimbangan objektif yang
ditemani dalam tugas auditnya.
4. Menjaga integritas yaitu tidak memanfaatkan informasi yang
diperoleh untuk kepentingan atau keuntungan pribadi atau hal-hal
lain yang patut diduga dapat disalahgunakan baik oleh dirinya
sendiri atau oleh pihak lainnya yang tidak berhak.

6
b. Standart Keahlian
Audit internal haruslah dilaksanakan oleh auditor Internal yang baik
secara individu ataupun secara kolektif mempunyai kecakapan
professional yang memadai dengan kualifikasi Qualified Internal
Auditor ( QIA ) atau antara lainnya dan kecermatan yang seksama
untuk bidang tugasnya.
1. Tanggung jawab SPI untuk memenuhi standart kecakapan
profesionalisme ( sertifikasi ) meliputi :
a. Rekruitmen, seleksi dan penugasan tenaga auditor internal
yang memenuhi syarat tuntutan tugas audit baik dari segi
pendidikan, kemampuan tehnis, luas cakupan dan
kompleksitas tugas audit tersebut.
b. Pemenuhan kebutuhan tenaga-tenaga auditor yang mempunyai
kecakapan sesuai dengan variasi bidang kerja dan disiplin ilmu
yang menjadi tugas dari unit SPI, bila perlu dapat dilaksanakan
melalui tenaga ahli dari luar ( Outsourching).
c. Menugaskan seorang Ketua Tim Auditor yang berpengalaman
dan ahli sehingga terlaksana supervisi yang baik, mulai dari
perencanaan audit, pelaksanaan audit, pelaporan hingga
pemantauan tindak lanjut hasil audit. Supervisi ini
dilaksanakan secara seksama dan terdokumentasi dengan baik,
serta dapat diuji efektifitasnya.
2. Tanggung jawab Auditor Internal mengenai kecakapan
profesionalnya ( sertifikasi ) meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Kepatuhan kepada Standart Audit dan Kode Etik Satuan
Pengawas Intern.
b. Penguasaan atas pengetahuan (teori) dan kecakapan ( praktek)
disiplin ilmu tertentu yang berkaitan dengan tugas auditnya.
Kecakapan ini haruslah dapat diterapkan dalam bentuk
Standart Prosedur dan Tehnik audit dalam praktek bisnis yang
sehat.

7
c. Meningkatkan kemampuan komunikasi lisan dan tertulis
sehingga dapat berkomunikasi secara efektif dengan auditee
dan manajemen Rumah Sakit.
d. Memelihara kemampuan tehnis auditnya melalui pembelajaran
baik melalui training, seminar ataupun buku, sehingga tetap
mengikuti perkembangan standart, prosedur dan tehnik audit
Rumah Sakit, termasuk perkembangan pelayanan di Rumah
Sakit.
e. Menjaga dan meningkatkan kemampuan dan kecermatan
profesionalnya dengan memperhatikan :
1. Cakupan kerja unit audit yang harus dilaksanakan sehingga
sasaran audit dapat dicapai.
2. Materialitas atau signifikasi permasalahan yang ditemui.
3. Standart Operasional yang ada, apakah dapat diterima/
dipatuhi oleh auditee.
4. Tingkat kehandalan dan efektifitas pengendalian sistem
operasional yang ada.
5. Biaya audit dibandingkan dengan potensi manfaat yang
diperoleh.
f. Menjaga tingkat kecermatan dan kewaspadaan terhadap
kemungkinan penyimpangan, pemborosan, ketidak-efektifan
dan kelemahan pengendalian internal, dengan melakukan
pengujian dan verifikasi yang memadai dan dapat
mempertanggungjawabkan tanpa harus melakukannya untuk
seluruh proses atau transaksi.

3. PERSYARATAN LINGKUP KERJA AUDIT


a. Lingkup Kerja Audit harus mengikuti pengujian dan penilaian.
1. Bidang Keuangan dan ketaatan pada peraturan perundang-
undangan, termasuk ketaatan terhadap Rencana Kerja dan
Anggaran Rumah Sakit yang telah ditetapkan.

8
2. Kehandalan dan efektifitas sistem pengendalian internal Rumah
Sakit dan kegiatan operasionalnya temasuk manajemen resiko
(Risk Managemen)
3. Kualitas kinerja pelaksanaan suatu kegiatan, khususnya analisa
terhadap manfaat dan biaya yang digunakan dalam kegiatan
tersebut.
b. SPI merupakan salah satu unit penting dalam pelaksanaan sistem
pengendalian internal / GCG Rumah Sakit yang mempunyai tujuan:
1. Efektifitas dan efisiensi operasional.
2. Kehandalan pelaporan keuangan
3. Kepatuhan terhadap peraturan perundangan-undangan yang
berlaku.
c. Pelaksanaan audit Intern harus memastikan terdapatnya :
1. Kehandalan dan kebenaran informasi keuangan dan operasional
Rumah Sakit Auditor Internal harus memeriksa cara yang
digunakan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengukur dan
melaporkan informasi – informasi tersebut, sehingga kehandalan
dan kebenarannya dapat dipastikan. Untuk itu penyajian laporan
keuangan dan operasional Rumah Sakit harus diuji, apakah telah
akurat, handal, tepat waktu, lengkap dan mengandung informasi
yang bermanfaat serta sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku.
2. Kepatuhan terhadap kebijakan, rencana kerja dan anggaran,
prosedur dan peraturan perundang-undangan. Untuk itu Auditor
Internal harus memeriksa dan meninjau apakah sistem yang
digunakan telah cukup memadai dan efektif dalam menilai apakah
aktivitas yang diaudit telah memenuhi ketentuan yang dimaksud.
3. Keamanan aset Rumah Sakit, termasuk memeriksa keberadaan
aset tersebut sesuai dengan prosedur yang benar.
4. Efisiensi pemakaian sumber daya Rumah Sakit, untuk ini Auditor
Internal harus memeriksa :

9
a. Standar Operasional telah dibuat sehingga mampu untuk
mengukur efisiensi dan penghematan yang dicapai.
b. Standart operasional yang digunakan dapat dipahami dengan
mudah dan baik serta dapat dilaksanakan secara efektif
c. Penyimpangan terhadap standart operasional dapat mudah
diidentifikasi, dianalisa dan dapat dilaporkan kepada
penanggung jawab kegiatan untuk diambil langkah perbaikan.
d. Terdapat kondisi dimana sarana yang digunakan dibawah
standart, kerja yang non-produktif, kelebihan / kekurangan
tenaga kerja, penggunaan sistem/ sarana yang kurang dapat
dipertanggung jawabkan dari segi biaya.
5. Hasil keluaran suatu kegiatan atau operasional sesuai dengan
sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Untuk ini auditor Internal
harus memeriksa apakah :
a. Program atau operasi tersebut dilaksanakan sesuai dengan
rencana,
b. Kriteria yang dipakai untuk mengukur hasil yang diperoleh
telah memadai dan sesuai dengan tujuannya.
c. Informasi dan data mengenai hasil yang diperoleh, memang
dapat dibandingkan dengan kriteria yang disusun dan sesuai
dengan tujuannya.
d. Temuan hasil audit secara terpadu (holistik) telah
dikomunikasikan kepada pimpinan unit terkait.

4. PERSYARATAN PELAKSANAAN DAN PELAPORAN AUDIT


Pelaksanaan Audit harus meliputi perencanaan audit, pelaksanaan audit
dilapangan, evaluasi temuan data dan informasi, pengkomunikasian hasil
audit, rekomendasi tindak lanjut dan pemantauan pelaksanaan tindak
lanjut.

10
a. Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab SPI, maka perlu
disusun rencana kegiatan yang konsisten dan sesuai dengan program
dan sasaran Rumah Sakit yang antara lain meliputi :
1. Rencana jangka panjang Audit untuk jangka 5 ( lima ) tahun yang
disesuaikan dengan Rencana Jangka Panjang Rumah Sakit
( Coorporate Plan).
2. Program Kerja Pemeriksaan Tahunan (PKPT) untuk tahun
berikutnya yang dijabarkan dalam Rencana Kerja dan Rencana
Anggaran Rumah Sakit secara rutin dan Program Pemeriksaan
Khusus untuk yang non-rutin. Termasuk dalam rencana ini adalah
jadwal kerja audit dan sasarannya, rencana pengembangan dan
pemenuhan tenaga audit yang profesional.
b. Auditor internal harus merencanakan setiap pelaksanaan audit dengan
sebaik-baiknya. Untuk itu Auditor Internal haruslah
mendokumentasikan rencana kerja audit dengan memperhatikan hal
-hal sebagai berikut :
1. Jenis dan luasnya cakupan kerja audit yang akan dilaksanakan.
2. Informasi dan latar belakang mengenai objek audit. Bila perlu
dilakukan peninjauan setempat, guna memperoleh informasi
mengenai operasional dan praktek objek yang akan di audit. Bila
pernah dilakukan audit, maka perlu diperiksa bagaimana hasil
pelaksanaan tindaklanjut yang pernah disarankan, dan bagaimana
dampaknya terhadap audit yang akan dilakukan.
3. Sasaran audit harus dinyatakan dengan jelas, sehingga auditor
dapat mengetahui dengan tepat masalah-masalah khusus yang
menjadi prioritas pemeriksaan.
4. Penentuan prosedur dan tehnik audit yang akan digunakan untuk
memastikan bahwa audit dapat mencapai sasarannya, tanpa
menghalangi kemungkinan pertimbangan lain berdasarkan
keahlian Auditor.

11
5. Kebutuhan sumber daya pelaksanaan audit, yang meliputi jumlah
auditor dan bidang keahlian yang diperlukan, tingkat pengalaman
yang diinginkan dan bila perlu menggunakan konsultan / tenaga
ahli luar, sasaran kerja yang dibutuhkan serta biaya pelaksanaan
audit.
6. Mengkomunikasikan rencana audit dengan pihak-pihak terkait
terutama mengenai bentuk aktivitas, jadwal kegiatan, sumber daya
yang diperlukan, dan bila diperlukan, rencana survei awal sebelum
audit dilaksanakan. Survei awal ini dimaksudkan untuk
mengurangi resiko audit dan hal-hal rawan yang perlu diantisipasi
atau pendalaman lebih lanjut.
7. Format dan rencana susunan laporan hasil audit dan rencana
kepada siapa saja laporan tersebut didistribusikan serta cara
mengkomunikasikannya.
8. Mendapatkan persetujuan pimpinan SPI sebelum audit dimulai.
c. Dalam melaksanakan audit, auditor internal harus menggunakan
prosedur tehnik yang memadai dalam melakukan pengumpulan,
pemeriksaan, evaluasi dan analisa informasi serta
mendokumentasikan hasil kerjanya sedemikian rupa sehingga :
1 Semua informasi yang terkait dengan tujuan dan ruang lingkup
audit beserta bukti faktual yang diperoleh memenuhi kebutuhan
audit.
2 Kepastian apakah prosedur dan tehnik audit yang dipakai,
termasuk metoda sampling, metoda pengklasifikasian hingga
penarikan kesimpulan hasil temuan sesuai dengan sasaran audit.
3 Objektifitas mulai dari pengumpulan informasi sampai dengan
penarikan kesimpulan hasil temuan tetap terjaga.
4 Format kertas kerja dan pelaporan hasil temuan cukup komunikatif
baik bagi tim audit sendiri dan terutama bagi auditee. Beberapa
ketentuan mengenai kertas kerja ini antara lain adalah :
a. Cakupannya lengkap dan teliti.

12
b. Tampilannya rapi, jelas dan ringkas.
c. Sistematikanya mudah dibaca dan dimengerti.
d. Informasi yang disampaikan relevan dan sesuai dengan tujuan
Audit.
d. Auditor internal harus melaporkan hasil kerja audit mereka kepada
Auditee dan pemberi tugas.
Dalam menyampaikan laporan hasil audit, auditor internal harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Draft laporan hasil audit yang berisi hasil temuan, butir-butir
kesimpulan dan butir-butir rekomendasi haruslah direview, dan
didiskusikan dengan pimpinan auditee dan stafnya untuk
menghindari kesalahpahaman.
2. Laporan hasil audit harus mengungkapkan tujuan, lingkup kerja,
hasil temuan dan kesimpulan yang berupa auditor terhadap
dampak temuan terhadap aktivitas yang diaudit.
3. Laporan temuan antara lain harus bersifat :
a. Objektif, tidak memihak dan bebas dari prasangka dan bebas
dari kekeliruan.
b. Jelas, mudah dimengerti, logis, lugas dan sederhana serta
menghindari bahasa tehnis yang terlalu rumit.
c. Singkat, langsung ke inti masalah.
d. Konstruktif, lebih membantu auditee kearah perbaikan dari
pada kritik.
4. Laporan hasil audit sebaiknya juga mengungkapkan hal-hal
sebagai berikut :
a. Hal-hal yang masih merupakan masalah dan belum dapat
terselesaikan hingga saat audit berakhir.
b. Pengakuan terhadap prestasi kerja auditee, hasil perbaikan
yang telah dilaksanakan dan terutama bila perbaikan ini dapat
diterapkan pada bagian lain.

13
c. Rekomendasi tindak lanjut bila memang ada hal-hal yang perlu
dilakukan perbaikan pada proses kerja auditee.
5. Dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara pimpinan auditee
dan auditor internal mengenai hasil temuan dan kesimpulan hasil
audit, maka perbedaan pendapat ini harus juga diungkapkan dalam
laporan hasil audit.
6. Pimpinan SPI harus mereview dan menyetujui laporan hasil audit
sebelum menerbitkan dan mendistribusian laporan tersebut.
e. SPI harus memonitor tindak lanjut laporan audit untuk mendapatkan
kepastian bahwa langkah yang tepat atas hasil temuan audit telah
dilaksanakan. Jika pimpinan unit kerja yang bersangkutan
memutuskan untuk tidak mengikuti saran tidak lanjut atas dasar suatu
pertimbangan tertentu, maka SPI harus melaporkan hal tersebut
kepada Direktur Rumah Sakit.

5. PERSYARATAN PENGELOLAAN SPI


Kepala SPI beserta para Auditornya wajib berusaha secara terus menerus
melakukan supervise dan pemberdayaan, agar organisasi SPI dapat
berfungsi sesuai dengan tugas dan wewenangnya.
Untuk dapat melaksanakan hal tersebut , maka :
a. SPI harus mempunyai uraian tertulis tujuan, tugas, wewenang dan
tanggung jawab yang dibuat dalam bentuk Pedoman Pelaksanaan SPI
( Internal Audit Charter) yang disahkan oleh Direktur.
b. Kepala SPI harus menerbitkan buku pedoman kerja unit SPI yang
antara lain berisikan :
1. Buku Rencana Kerja unit SPI yang berisikan rencana kerja SPI
jangka panjang (5 Tahun) maupun jangka pendek (tahunan).
Rencana Kerja ini harus mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Tujuan, jenis dan macam kegiatan/ program, jadwal
pelaksanaan dan pelaporannya serta lokasinya.

14
b. Ketentuan mengenai ukuran keberhasilan kinerja dan indikator
kinerja kuncinya dari tiap kegiatan/ program.
c. Uraian rinci dari setiap kegiatan/ program yang terkait dan
sumber daya yang diperlukannya.
d. Rincian sumber daya yang diperlukan meliputi antara lain
budget/dana, waktu, jumlah personalnya dan peralatan lainnya.
2. Buku Pegangan Audit (Audit Manual) yang berisikan kebijakan
dan prosedur audit mulai dari persiapan pemeriksaan sampai
dengan penyelesaian laporan hasil audit dan pemantauan hasil
tindak lanjut.
c. Kepala SPI harus mempunyai program untuk pemenuhan kebutuhan
sumber daya manusia dan program pengembangannya yang meliputi :
1. Uraian tugas setiap jenjang auditor.
2. Persyaratan kualifikasi dan kemampuan individu dari tiap jenjang
tersebut.
3. Program pelatihan dan pengembangan bagi setiap auditor.
4. Penilaian kinerja, coaching dan conseling bagi tiap auditor sebagai
bagian dari proses pengembangan profesionalisme mereka.
d. Kepala SPI harus mengadakan koordinasi dengan komite audit dan
auditor External untuk menghindari tumpang tindih (over lapping)
pemeriksaan dan memperkecil kemungkinan duplikasi kegiatan audit,
Hal ini dapat dilakukan melalui :
1. Rapat periodik dengan Komite Audit dan Auditor Eksternal untuk
membahas kepentingan bersama rencana audit.
2. Penyelarasan program audit dan akses timbal balik terhadap
program audit dan kertas kerja masing-masing.
3. Pertukaran laporan hasil audit dan managemen letter dari Kantor
Akuntan Publik (KAP) yang telah ditunjuk sebagai Auditor
Eksternal.
4. Persamaan persepsi mengenai tehnik, metoda dan terminologi
audit sehingga bisa diperoleh keseragaman dalam penggunaannya.

15
e. Kepala SPI harus mempunyai program dan melakukan program
jaminan mutu untuk dapat mengevaluasi kinerja unitnya dengan
tujuan agar memperoleh keyakinan yang memadai bahwa kinerja SPI
telah sesuai dengan Internal Audit Charter dan tujuan Rumah Sakit.
Untuk itu Kepala SPI haruslah :
1. Melakukan supervise dan pemberdayaan terus menerus sejak tahap
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pelaporan, hingga pemantauan
tindak lanjut.
2. Melakukan review internal secara berkala bersama pimpinan dan
staf atau tim lain yang independen, untuk menilai efektifitas audit,
kepatuhan Auditor terhadap Standart Audit, Kode Etik serta
ketentuan dan kebijakan lain.
3. Melakukan review eksternal oleh Komite Audit atau tim atau
individu yang mampu, independen dan tidak mempunyai konflik
kepentingan dengan Rumah Sakit, untuk memberikan penilaian
dan opini terhadap efektifitas SPI terhadap standar audit, Internal
Audit Charter, tujuan Rumah Sakit dan ketentuan lainnya.
f. Kepala SPI wajib meningkatkan peran organisasi SPI dengan
melakukan review terhadap kebijakan audit sebagai berikut :
1. Independensi
2. Rekruitmen dan penugasan staf SPI.
3. Kompetensi dan personil
4. Pelatihan untuk personil
5. Quality Assurance Review (jaminan mutu) terhadap audit.
6. Supervisi terhadap pekerjaan
7. Pendistribusian laporan audit.
8. Ketaatan terhadap standar profesi.
9. Kerahasiaan informasi yang diperoleh SPI.
10. Metode yang diterapkan untuk menangani kekeliruan dan
ketidakberesan di tingkat Managemen.
11. Penanganan terhadap Kertas Kerja Audit ( KKA).

16
Maksud review kebijakan audit tersebut diatas adalah untuk
mendukung independensi, efektifitas dan kualitas SPI dalam
melaksanakan peran dan tanggung jawabnya.
g. Dalam menunjang tercapainya tujuan Rumah Sakit dengan sukses,
harus disadari bahwa peran profesional Auditor, antara lain :
1. Dapat menjadi pembicara ( Communicator ) sekaligus sebagai
pendengar ( Communicant ) yang baik dan efisien.
2. Dapat mencari dan menemukan peluang untuk terus menerus
selalu mengembangkan kemampuan dirinya (Individual Learning).
3. Dapat menimbulkan dan mendorong timbulnya kebersamaan arah
dan cita-cita ( Shared Vision ) sehingga dapat menyatu padukan
ide.
4. Kreatifitas dan semangat yang membentuk kesatuan tim yang
tangguh ( Team Learning ).
5. Peran sebagai Internal Consultant.

D. KODE ETIK
1. UMUM
Hasil kerja unit SPI sangat ditentukan oleh hasil kerja internal auditor.
Hasil kerja ini akan sangat bermanfaat bagi SPI dan terutama bagi Rumah
Sakit bila pemakai jasa pelayanan atau pelanggan, SPI yakin, tahu dan
merasakan bahwa pelaksanaan audit internal oleh SPI memang
memberikan nilai tambah bagi Rumah Sakit.
Untuk keperluan ini maka perlu disyaratkan suatu Kode Etik yang
mengatur perilaku dan kepatuhan para internal auditor lebih dari tuntutan
perundang-undangan. Kode Etik ini mengatur prinsip dasar perilaku yang
dalam pelaksanaannya memerlukan pertimbangan yang seksama dari
masing-masing auditor. Pelanggaran terhadap Kode Etik ini dapat
mengakibatkan yang bersangkutan mendapatkan peringatan dan bahkan
diberhentikan dari tugas audit atau tugas Rumah Sakit.

17
2. ATRIBUT INTERNAL PROFESIONAL
a. Auditor Internal yang profesional, yaitu :
1. Siap untuk bekerja keras.
2. Bekerja secara efisien, efektif dan ekonomi.
3. Menginginkan keberhasilan yang maksimal.
4. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam menyelesaikan
tugasnya.
b. Auditor Internal yang profesional adalah auditor internal yang
melakukan sesuatu pekerjaan dangan sepenuh hati dan
melaksanakannya secara ahli sesuai bidangnya.
c. Auditor yang profesional harus mampu untuk menciptakan hubungan
baik antara Auditor Internal dengan Auditee sehingga dapat dibangun
keyakinan sebagai berikut :
1. Semua masalah dapat dipecahkan bersama.
2. Bekerja sama lebih baik dari pada bersaing.
3. Setiap pihak memiliki nilai yang sama.
4. Masing-masing pihak menghargai kedudukan dan wewenangnya.
5. Perbedaan pendapat adalah baik.
6. Masing-masing pihak harus saling percaya.
7. Persaingan dapat dilakukan asal menuju kearah kerjasama yang
baik.
8. Sistem dan peraturan perilaku harus diberlakukan oleh masing-
masing pihak.

3. STANDART PERILAKU AUDITOR INTERNAL


Auditor Internal harus memegang teguh dan mematuhi Kode Etik sebagai
berikut :
a. Berperilaku dan bersikap jujur, objektif, dan cermat dalam
melaksanakan tugas.

18
b. Memiliki integritas dan loyalitas tinggi terhadap profesi, unit kerja SPI
dan Rumah Sakit.
c. Menghindari kegiatan atau perbuatan yang merugikan atau patut
diduga dapat merugikan profesi Audit Internal atau Rumah Sakit.
d. Menghindari aktifitas yang bertentangan dengan kepentingan Rumah
Sakit atau yang mengakibatkan tidak dapat melakukan tugas dan
kewajiban secara objektif.
e. Tidak menerima pemberian dalam bentuk apapun dan dari siapapun,
baik langsung maupun tidak langsung, termasuk dari auditee, Pasien,
pelanggan, pemasok, rekanan dan atau pihak yang berkepentingan
dengan Rumah Sakit yang mengganggu atau patut diduga dapat
mengganggu pertimbangan professional auditor.
f. Mematuhi sepenuhnya standart professional Auditor Internal,
Kebijakan Rumah Sakit dan peraturan perundangan.
g. Memelihara dan mempertahankan moral dan martabat internal auditor.
h. Tidak memanfaatkan informasi yang diperoleh untuk kepentingan atau
keuntungan pribadi atau hal lain yang menimbulkan atau patut diduga
dapat menimbulkan kerugian bagi Rumah Sakit dengan alasan apapun.
i. Melaporkan semua hasil audit material dengan mengungkapkan
kebenaran sesuai fakta yang ada dan tidak menyembunyikan hal yang
dapat merugikan Rumah Sakit dan atau dapat melanggar Hukum.

E. PENUTUP

Demikian buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Satuan Pengawas Intern Rumah


Sakit ( Audit Charter manual) ini kami buat yang merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Audit Charter adalah antara Kepala SPI dengan
Direktur Rumah Sakit, dan sesuai dengan tuntutan perkembangan dan
kebutuhan Rumah Sakit, maka Pedoman ini akan ditinjau dan diriview secara
berkala.

19
Dan buku panduan ini disusun untuk dijadikan acuan dalam penerapan
Pengawasan Internal di Lingkungan Kerja Rumah Sakit Islam Siti Hajar
Sidoarjo.

Terima Kasih.

20