Anda di halaman 1dari 24

PETUNJUK PELAKSANAAN PEMETAAN RUPABUMI SKALA 1:5000

TAHAPAN STEREOPLOTTING

BAB I
PENDAHULUAN

H. Umum
Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim Badan Informasi Geospasial (PPRT
BIG) memiliki tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan dan membina program
pemetaan rupabumi dan toponim, yang salah satu bentuknya adalah
penyelenggaraan pemetaan rupabumi Indonesia. Peta Rupabumi Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a UU IG diselenggarakan pada skala
kecil (1:1.000.000, 1:500.000, dan 1:250.000), skala menengah (1:100.000,
1:50.000, dan 1:25.000), serta skala besar (1:10.000, 1:5.000, 1:2.500, dan
1:1.000). Oleh karena itu, pada tahun anggaran 2016, PPRT BIG melaksanakan
pekerjaan pembuatan unsur peta rupabumi Indonesia skala besar yang
diprioritaskan pada daerah Depok, Kabupaten Bogor, Tarakan, Tanjung Selor,
Jayapura, Sebagian Jayapura dan Biak, Sofifi, Tanggamus, Mandor, dan Lombok
Timur.
Kegiatan tersebut terdiri dari sepuluh tahapan pekerjaan yang meliputi
persiapan, penyiapan data, stereokompilasi, pembentukan topologi dan
pembangunan poligon, pembentukan Digital Terrain Model (DTM) dan kontur,
pembentukan kontur dan spotheight, persiapan survei, survei kelengkapan
lapangan, penyelarasan data, pembuatan metadata, penyajian hasil pekerjaan,
pelaporan.
Tahapan stereokompilasi adalah tahapan dimana dilakukan ekstraksi data dari
sumber data berupa data radar menjadi data vektor yang dilakukan dengan cara
digitasi 3 dimensi secara stereoskopis. Pada tahap ini operator dituntut keahliannya
dalam menempatkan titik apung (floating mark) tepat berada pada permukaan tanah
(terrain) atau melakukan interpretasi unsur rupabumi. Oleh karena itu diperlukan
petunjuk pelaksanaan sebagai acuan untuk menjamin hasil pekerjaan pada tahapan
ini dapat memenuhi spesifikasi teknis yang telah ditentukan.

I. Maksud dan Tujuan


Maksud dari penyusunan petunjuk pelaksanaan ini untuk mendapatkan hasil
pekerjaan stereoplotting yang memenuhi spesifikasi teknis.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan petunjuk pelaksanaan ini
adalah:
1. Tersedianya acuan atau pedoman teknis pelaksanaan tahapan
stereoplotting untuk pekerjaan pembuatan unsur peta rupabumi Indonesia
skala menengah.
2. Terbentuknya kesamaan pemahaman terhadap hasil yang hendak dicapai
dalam tahapan pekerjaan stereoplotting.
3. Menetapkan tolak ukur yang harus dipenuhi untuk tahapan stereoplotting.

J. Ruang Lingkup
Petunjuk pelaksanaan tahapan stereoplotting ini dibatasi penggunaannya
pada pekerjaan:
1. Penyiapan personil dan peralatan
2. Pembentukan stereomodel
3. Pelaksaan stereoplotting
4. Kesalahan-Kesalahan yang sering terjadi pada tahapan stereoplotting
5. Kontrol kualitas stereoplotting

K. Pengertian
Istilah yang sering digunakan dalam petunjuk pelaksanaan ini diantaranya:
Stereoplotting
Stereomodel
Orthofoto

BAB II
PELAKSANAAN

Pelaksanaan tahapan stereoplotting terdiri dari subtahapan pekerjaan yang


masing-masing akan diuraikan sebagai berikut:

A. Penyiapan Personil dan Peralatan


Penyiapan personil dan peralatan adalah pekerjaan pertama yang harus
dilakukan pada setiap awal pekerjaan oleh koordinator pekerjaan dengan
melakukan pengisian formulir pengecekan personil dan peralatan. Hasil ini
dimaksudkan untuk menjamin bahwa personil dan peralatan yang digunakan telah
sesuai dengan rencana detil pekerjaan yang dibuat pada tahapan persiapan.
Pekerjaan ini termasuk pemberian pemahaman dan pembagian kerja kepada
operator, pengumpulan bahan dan peralatan, serta perencanaan kegiatan
stereoplotting.
Personil yang harus disiapkan pada tahapan ini terdiri dari koordinator
pekerjaan, chief operator dan operator stereoploting dengan spesifikasi teknis
sesuai dengan kontrak. Adapun pembagian kerja untuk masing-masing personil
adalah sebagai berikut:
1. Koordinator
a. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tahapan pekerjaan
sesuai bidang tugasnya.
b. Memberikan arahan kepada tim pelaksana dibawah koordinasinya
terkait pelaksanaan tahapan pekerjaan yang menjadi bidang
tugasnya.
c. Mengoordinasikan Tim Pelaksana (para operator) sesuai bidang
tugasnya.
d. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh para
Operator.
e. Melaksanakan monitoring dan evaluasi internal tim pelaksana
sekurang-kurangnya satu kali dalam satu minggu.
f. Membantu Ketua Tim Pelaksana dalam melaksanakan koordinasi
teknis dengan Tim Supervisi BIG selama pelaksanaan pekerjaan.
g. Melaksanakan kontrol kualitas internal terhadap hasil pekerjaan
yang dilaksanakan oleh operator.
h. Melaksanakan penyiapan bahan untuk penyusunan laporan
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan bidang tugasnya.
i. Bertanggung jawab kepada Ketua Tim Pelaksana.

2. Operator
a. Melaksanakan pekerjaan pada masing-masing tahapan sesuai
bidang tugasnya, berdasarkan petunjuk teknis dan arahan teknis
dari Koordinator.
b. Menguasai teknis pelaksanaan pada tahapan pekerjaan yang
dilakukan.
c. Mengisi personal log book dalam setiap pelaksanaan pekerjaan.
d. Bertanggung jawab kepada Koordinator.

Sedangkan peralatan utama dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan


pekerjaan ini yaitu:
1. Perangkat lunak yang digunakan adalah software stereoplotting dalam hal ini
sebagai contoh digunakan summit evolution dan perangkat keras yaitu komputer
workstation yang mendukung tampilan stereo 3D dilengkapi dengan mouse dan
kacamata 3D.

L. Pelaksaan Stereoplotting
1.1 Ketentuan Umum
Pada tahap stereoploting ini, ada beberapa hal penting yang harus selalu
diperhatikan oleh operator dan koordinator stereoploting selama tahapan ini
dilaksanakan:
1. Semua unsur peta rupabumi yang terekam dalam format vektor 3 Dimensi (3D).
IG dasar unsur peta RBI yang direkam mencakup unsur-unsur titik (point) dan
garis (line) dari Hipsografi, Perairan, Transportasi, Jembatan, Terowongan,
Utilitas, Bangunan, dan Vegetasi Lahan Terbuka.
2. Sistem koordinat yang digunakan adalah: SRGI 2013 sebagai sistem refrensi
geospasial mencakup datum horizontal dan vertikal.
3. Semua detil planimetris dengan ukuran lebih besar dari 2.5 m x 2.5 m harus
diplotting sebagai objek terpisah. Berikut adalah tabel kesesuaian geometri
terhadap skala.

No Ukuran Objek Rupabumi


Skala Peta
, Point (Titik) Line (Garis) Area (Luasan)
1 1 : 1.000.000 500 meter lebar 500 meter > 500 x 500 meter
2 1 : 500.000 250 meter lebar 250 meter > 250 x 250 meter
3 1 : 250.000 125 meter lebar 125 meter > 125 x 125 meter
1 : 100.000 50 meter lebar 50 meter > 50 x 50 meter
4 1 : 50.000 25 meter lebar 25 meter > 25 x 25 meter
5 1 : 25.000 12.5 meter lebar 12.5 meter > 12,5 x 12,5 meter
6 1 : 10.000 5 meter lebar 5 meter > 5 x 5 meter
7 1: 5.000 2,5 meter lebar 2,5 meter > 2,5 x 2,5 meter
8 1 : 2.500 1,25 meter lebar 1,25 meter > 1,25 x 1,25 meter
9 1 : 1.000 0,5 meter lebar 0,5 meter > 0,5 x 0,5 meter

4. Unsur garis yang berpotongan dan membentuk node topologi harus memiliki
verteks dengan ketinggian yang sama
5. Kode unsur (FCODE) dan nama unsur (remarks) sesuai dengan Daftar Kode
Unsur Rupabumi Indonesia yang ditetapkan oleh Pemberi Kerja. Dalam hal
terdapat unsur yang belum ada padanannya dalam daftar tersebut, Penyedia
Jasa dapat mengusulkan kepada tim Supervisi BIG untuk disetujui.
6. Dalam melakukan proses stereoplotting sebaiknya menggunakan kode unsur
FCODE dalam pendefinisian unsur supaya proses migrasi ke geodatabase lebih
mudah dilakukan
7. Unsur perairan (garis pantai) wajib diselesaikan terlebih dahulu baru kemudian
dilanjutkan dengan (secara berurutan) unsur perairan lainnya, unsur hipsografi
break line, unsur hipsografi mass point, baru kemudian unsur planimetris lainnya
(transportasi, utilitas, vegetasi , jembatan, terowongan).
8. Posisi floatingmark pada saat penarikan harus ditempatkan secara benar, tidak
Table 1 Kesesuaian Geometri Terhadap Skala
boleh mengapung atau tenggelam tetapi harus tepat di permukaan
tanah/terrain (bare earth/terrain).
9. Posisi Floatingmark pada saat penarikan bangunan ditempatkan secara benar,
tidak boleh mengapung atau tenggelam tetapi harus tepat di atap dari bangunan
10. Semua unsur harus diploting secara lengkap.
1.2 UNSUR PERAIRAN
Unsur perairan yang diploting adalah semua data yang berhubungan dengan
perairan, seperti sungai, garis pantai, danau, empang, dll. Semua ploting garis
perairan harus dalam 3D-polyline.

a. Plotting perairan diawali dari unsur garis tepi pantai (FCODE: DB016000)
 Garis tepi pantai nol (0 meter) (FCODE: DB016002)
 Garis batas darat dan laut
 Penarikan unsur garis pantai pada saat laut pasang hanya mengikuti
garis pantai yang terlihat pada foto
 Penarikan garis pantai pada saat laut surut, mengikuti garis pantai yang
terlihat pada foto dan menarik garis kontur dengan nilai ketinggian 0.
b. Plotting unsur sungai penarikannya dilaksanakan dari hulu ke muara sesuai
dengan arah aliran sungai.
c. Penarikan sungai dimulai dari segmen yang terpanjang dan tidak terputus-
putus (harus satu segmen).
d. Jarak antar node pada ploting sungai disesuaikan dengan konidisi terrain,
semakin bervariasi maka jarak antar node semakin rapat.
e. Ploting unsur sungai dimulai dari Garis Tepi Sungai (DA028008) & Sungai
(DA028000) kemudian Sungai Satu Garis (DA028002), dilanjutkan dengan Alur
Sungai (DA028006) dan saluran Irigasi/Drainase (DA012000).
 Sungai dengan lebar > 2,5 m digambarkan sebagai Sungai Dua Garis
menggunakan unsur Sungai (DA028000) sebagai as sungai dengan
Garis Tepi Sungai (DA028008). untuk unsur irigasi dengan lebar > 2,5 m,
digambarkan sebagai Saluran irigasi (DA012000) dengan garis tepi
perairan buatan lainnya (DF002008)
 Sungai harus terhubung satu sama lain dan membentuk jaringan (Setiap
pertemuan unsur sungai, harus snap ke center line, bukan snap ke garis
tepi perairannya dengan elevasi yang sama.

Gambar 1 Penarikan unsur sungai dan irigasi dengan lebar lebih dari 2.5 m

f. Tidak boleh ada sungai yang menggantung. Pada wilayah tertentu mungkin
ditemui sungai menggantung karena aliran sungai masuk ke dalam tanah
kemudian muncul lagi di daerah lain sehingga terkesan alur sungai terputus.
Kasus sungai menggantung ini banyak ditemui pada wilayah pegunungan
Karst.
g. Pada plotting garis tepi sungai (DA028008), setiap vertex kiri kanan sungai
harus memiliki elevasi/ketinggian yang relatif sama, untuk menghindari kontur
masuk ke sungai karena perbedaan ketinggian.
h. Plotting pulau/delta dalam sungai ketinggiannya harus sama dengan ketinggian
kiri dan kanan sungai, menggunakan unsur garis tepi pantai/pulau (DB016000).
i. Plotting sungai harus memperhatikan ketinggian DEM/terrain di kiri dan kanan
sungai agar hasil plotting sungai tidak lebih tinggi dari daerah sekitarnya.
j. Setiap ploting garis tepi perairan (perairan tergenang, seperti danau, air
tambak, air rawa, dll) harus mempunyai elevasi yang sama pada setiap
vertex-nya.
k. Pada penarikan unsur perairan harus memperhatikan shadow (bayangan),
tekstur dan pattern (pola) secara stereo sehingga batas perairan sesuai dengan
kondisi sesungguhnya.
l. Pada setiap perpotongan/pertemuan unsur perairan harus snap dan
mempunyai vertex dengan elevasi yang sama.
m. Unsur Garis Tepi Perairan (DF002004) digunakan untuk garis tepi perairan, yang
tidak ada dalam kode unsur rupabumi.
n. Unsur mata air, air terjun, jeram, dan batu karang di plot sebagai titik (point)
atau garis sesuai ketentuan ukuran. Kode unsur masing-masing unsur dapat
dilihat di tabel kode unsur RBI.
o. Unsur batu karang di plot sesuai ketentuan ukuran pemetaan RBI skala 1:5000.
Kode unsur dapat dilihat di tabel kode unsur RBI.
p. Setiap objek yang terploting dan akan dibentuk area/poligon, harus diberikan
label sesuai dengan unsur tersebut, misalkan label AD untuk unsur Danau,
label AE untuk air Empang, label AS untuk Air Sungai, dll. Label dapat dilihat
selelngkapnya pada tabel Daftar Kode Unsur RBI
q. Area-area/Poligon yang dibentuk dari unsur garis perairan, dimasukkan ke
dalam Kelas Fitur PERAIRANAR, tidak lagi masuk ke Kelas Fitur
PENUTUPLAHANAR.

1.3 UNSUR HIPSOGRAFI


Unsur Hipsografi terdapat pada Dataset Fitur Hipsografi. Di dalam Dataset Fitur
Hipsografi terdapat kelas fitur BUKITBATU (AR/LN/PT), CAKUPANDEMLN,
GALIANLN, LEMBAHLN, PATAHANLN, PUNCAKLEMBAHPT, KONTURLN,
PUNGGUNGBUKITLN, SPOTHEIGHTPT, TITIKDEMLAINPT, TITIKDEMPT. Untuk
melihat unsur apa saja yang masuk ke dalam masing-masing kelas fitur dapat dilihat
di Tabel Kode Unsur RBI.

Unsur Hipsografi yang nantinya akan digunakan untuk pembuatan DTM adalah
breakline (Garis) dan mass point (Titik). Penarikan hipsografi diawali dengan
breakline baru kemudian mass point. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat
ploting breakline dan mass point adalah sebagai berikut:
1.3.1 Breaklines
Breaklines adalah garis ketinggian yang digunakan untuk membatasi batas hight
relief dan depresi relief, contohnya: garis punggung bukit (ridgelines) dan batas
galian (lower area). Berikut adalah aturan dalam perekaman unsur hipsografi:
a. Unsur-unsur yang termasuk breakline yaitu : Garis Tepi Galian/timbunan
(EA006000), Garis Lembah (EA012000), Garis Patahan Tebing (EA016000),
Garis Punggung Bukit (EA022000)
b. Semua pola patahan, cekungan, galian, dan depresi harus ditarik sebagai
breakline, terutama di daerah pegunungan, perbukitan.
c. Di daerah datar tidak diperlukan pembuatan breakline, kecuali pada dinding kiri
dan kanan sungai dan irigasi yang besar serta pada tepi jalan yang besar
menggunakan unsur Garis Patahan Tebing (30212) supaya pada proses
pembentukan DTM terbentuk Terrain jalan.
d. Plotting breakline tidak boleh lebih rendah dari mass point disekitarnya. Mass
point yang lebih tinggi dari breakline akan menyebabkan kontur menjadi kasar.
e. Vertex dari setiap penarikan breakline harus ditempatkan di atas tanah (bare
earth/terrain).
f. Di daerah dengan perbedaan ketinggian ekstrem misalkan terasering dengan
ketinggian lebih dari 1 m, perlu ditambahkan breakline mengikuti pola terasering.

1.3.2 Mass Point


Masspoint adalah titik-titik ketinggian dipermukaan bumi dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Titik harus ditempatkan di atas tanah (bare earth/terrain) menggunakan unsur
Titik DEM (EA030000)
b. Titik diambil secara random menyesuaikan bentuk terrain dengan kerapatan 2-
20 m.

c. Pengambilan data secara Random adalah pengambilan data ketinggian


berdasarkan pola relief topografi
Gambar 2 Penarikan Mass Point secara random
d. Mass point tidak boleh terlalu dekat/berimpit dengan sungai atau breakline
karena akan merusak kontur.

Gambar 3 Mass Point yang terlalu dekat dengan breakline dan sungai akan
merusak kontur

e. Ploting mass point harus memperhatikan elevasi unsur sungai dan breakline
disekitarnya. Elevasi mas point harus lebih rendah daripada elevasi breakline
dan lebih tinggi daripada elevasi ploting unsur sungai.
f. Pada area perairan tidak boleh ada mass point.
g. Nilai ketinggian pada tabel atribut kolom elevasi harus sama dengan nilai z titik.
h. Nilai ketinggian tidak sama dengan nol atau bernilai lebih kecil dari nol kecuali
daerah cekungan/tambang yang dapat memiliki ketinggian minus.
i. Untuk area padat yang tertutup (misalkan bangunan atau vegatasi) tetap harus
ditambahkan mass point dengan elevasi mengikuti elevasi mass point sekitar
bangunan.
j. Spotheight diambil dari masspoint di setiap grid, dan dimasukkan ke dalam
unsur Spot Height (EA024000) pada kelas fitur SPOTHEIGHTPT.
k. Unsur Titik Puncak Lembah (EA018000) pada kelas fitur PUNCAKLEMBAHPT
diambil dari masspoint pada area tertinggi atau terendah.

1.4 UNSUR TRANSPORTASI


a. Penarikan jalan dimulai dari jalan arteri (CA008008) kemudian jalan kolektor
(CA008010), lokal (CA008012), lain (CA008014), dan setapak (CA008016).
Hal ini untuk memudahkan interpretasi saat ploting dan untuk membentuk
jaringan jalan.
b. Semua jalan harus terhubung satu sama lain dan membentuk suatu jaringan.
Untuk kondisi tertentu misalkan daerah pedalaman Kalimantan atau Papua ada
juga jalan yang tidak terhubung ke tempat lain karena daerah tersebut memang
terisolir, pada kondisi demikian antar jalan di daerah tersebut tetap harus
terhubung satu sama lain, tetapi biasanya tidak terhubung ketempat lain tetapi
berakhir di sungai atau lapangan terbang.
c. Semua jalan yang terlihat pada model harus di-plot dalam 3D-polyline.
d. Semua perpotongan garis harus memiliki verteks dengan ketinggian yang
sama.
e. Jalan dengan lebar lebih dari 2,5m digambarkan sebagai 2 garis, dengan
garis tepi jalan menggunakan unsur Garis Tepi Jaringan Transportasi Darat
(CA024000), sementara kode unsur center line jalan disesuaikan menurut
kelas jalan.

Gambar 4 Contoh penarikan unsur jalan

f. Penarikan objek landas pacu, dermaga laut dan dermaga sungai mengikuti
kaidah penarikan objek jalan. kode unsur garis transportasi menyesuaikan
objek, lihat di lampiran kode unsur TRANSPORTASI untuk objek landas pacu,
dermaga sungai, dan dermaga laut
g. Setiap objek yang terploting dan akan dibentuk area/poligon, harus diberikan
label sesuai dengan unsur tersebut. Area-area yang dibentuk dari unsur garis
transportasi, dimasukkan ke dalam Kelas Fitur TRANSPORTASIAR, tidak lagi
masuk ke Kelas Fitur PENUTUPLAHANAR.
h. Objek Terminal, Pelabuhan, Pelabuhan Udara atau objek lain yang berkaitan
dengan transportasi (Daftar lengkapnya lihat di tabel kode unsur) yang areanya
terbentuk dari unsur Garis Tepi Bangunan (10000) masuk ke dalam kelas fitur
TRANSPORTASIAR, bukan masuk ke dalam kelas fitur BANGUNANFASUMAR
i. Semua jalan kereta api dan lori yang terlihat pada model harus di-plot.
1.5 UNSUR JEMBATAN
a. Semua objek jembatan masuk ke dalam kelas fitur JEMBATAN (AR/LN/PT).
b. Jembatan yang terlihat pada model harus di-plot. Bentuk dari jembatan
disesuaikan dengan bentuk jalan dan sungai yang saling berpotongan.

Bentuk fisik : Jalan Bentuk fisik: Sungai Bentuk fisik: Jembatan


Area Area Area
Garis Area Garis
Area Garis Titik
Garis Garis Titik
Table 2 Kesesuaian bentuk jembatan terhadap bentuk jalan dan perairan

Gambar 5 Jembatan berbentuk poligon

Gambar 6 Jembatan berbentuk garis


c. Pada penarikan jembatan Area, garis tepi jaringan jalan terputus pada tepi
jembatan, tetapi centerline dari jalan tetap diplot untuk pembentukan jaringan.

1.6 UNSUR TEROWONGAN


a. Semua objek terowongan masuk ke dalam kelas fitur TEROWONGAN
(AR/LN/PT)
b. Cara penarikan objek untuk terowongan sama dengan cara penarikan objek
Jembatan

1.7 UNSUR UTILITAS


a. Unsur-unsur yang masuk ke dalam kelas fitur utilitas adalah seluruh unsur yang
membentuk jaringan atau instalasi, misalkan jaringan listrik, telekomunikasi, air,
dan bahan bakar. Untuk mengetahui unsur apa saja yang masuk ke dalam
kelas fitur UTILITAS, dapat dilihat di tabel Kode Unsur RBI.
b. Unsur utilitas yang membentuk jaringan, misalkan jaringan listrik (menara
saluran udara tegangan ekstra tinggi/sutet, transmisi kabel listrik, dan gardu
listrik) yang terlihat di model harus di-plot, penarikan jaringan sutet berupa point
to point. Untuk penarikan gardu tergantung kepada ukuran gardu, bisa berupa
point atau area.
c. Jalur pipa air, pipa gas, tangki minyak yang terlihat dimodel harus di-plot,
penarikan jalur pipa berupa point to point. Tangki minyak diplot sebagai point
atau area bergantung pada luasannya mengacu ke tabel 1.
d. Tower/menara yang terlihat di model harus di-plot sebagai point dan area
bergantung kepada luasannya mengacu ke tabel 1.
e. Unsur Kantor PAM, SPBU, Kantor POS dan unsur lain yang berkaitan dengan
utilitas (Daftar lengkapnya lihat di tabel kode unsur) yang areanya terbentuk
dari unsur Garis Tepi Bangunan (10000) masuk ke dalam kelas fitur
UTILITASAR, bukan masuk ke dalam kelas fitur BANGUNANFASUMAR.
f. Unsur Gorong-gorong (HE012000) masuk ke dalam kelas fitur UTILITASPT
atau UTILITASLN. Kaidah penarikan unsur gorong-gorong mengikuti penarikan
unsur jembatan seperti pada tabel 2.

1.8 UNSUR VEGETASI LAHAN TERBUKA


a. Plotting terhadap unsur penutup lahan dilakukan dalam bentuk 3D polyline dan
harus snap terhadap jalan, sungai dengan elevasi yang sama.
Gambar 7 Penarikan unsur garis penutup lahan
b. Penarikan unsur Vegetasi dilakukan pada perbesaran 3x skala peta yang
dihasilkan (zoom level dilakukan pada skala ±1:1500 untuk peta skala 1:5000)
c. Interpretasi unsur vegetasi pada model harus memperhatikan perbedaan
bentuk, tekstur, dan pola pada tiap-tiap penutup lahan berdasarkan pada
penampakan yang terlihat dari model foto. Contohnya penutup lahan buatan
manusia seperti sawah dan perkebunan umumnya memiliki pola yang
beraturan.
d. Setiap polyline tertutup (snap 3D) di berikan label berupa anotasi jenis penutup
lahan sesuai dengan kenampakan objek pada foto/citra. Kode anotasi
mengikuti kode yang ada di tabel kode unsur RBI. Jika terdapat unsur yang
belum ada kode anotasi dalam daftar tersebut, Penyedia Jasa dapat
mengusulkan kepada tim Supervisi BIG untuk disetujui.
e. Kelas fitur VEGETASILATERAR (Area) dibentuk dari gabungan data jalan,
sungai, bangunan, dan batas vegetasi.
f. Untuk Area Jalan, perairan, dan bangunan yang terbentuk harus dihapus dari
kelas fitur VEGETASILATERAR pada akhir pekerjaan. Hal ini dilakukan untuk
mempermudah proses edgematching antar NLP maupun antar paket
pekerjaan.

1.9 UNSUR BANGUNAN DAN FASILITAS UMUM (Garis, Titik)


a. Setiap bangunan yang memiliki ukuran lebih dari 2.5m x 2.5m diplot sebagai
garis menggunakan unsur Garis Tepi Bangunan/Bangunan Terpencar/Gedung
(10000) membentuk polyline tertutup yang snap 3D antar titiknya.
b. Setiap objek bangunan yang terploting dan akan dibentuk area/poligon, harus
diberikan label sesuai dengan unsur tersebut.
c. Area-area/Poligon yang dibentuk dari unsur garis tepi bangunan, dimasukkan
ke dalam Kelas Fitur BANGUNANFASUMAR
d. Sharing boundary dilakukan untuk area bangunan yang berdempet antar
bangunan ataupun area padat dimana pada zoom level ±1:1500 sulit dilakukan
pemisahan antar bangunannya. Sharing Boundary dapat dilakukan dengan
catatan beda tinggi antar bangunan tidak lebih dari 1 meter.

Gambar 8 Aturan penarikan sharing boundary

1.10 Layer Batas Wilayah


Pada layer batas wilayah terdapat dua dua geometri layer, yaitu berupa line atau
area. Penarikan batas wilayah yang berupa garis, garis batas yang digunakan pada
peta RBI skala 1:5000 adalah garis batas administrasi terkecil yaitu garis batas desa
dan masuk ke unsur Batas Wilayah Administrasi (BA004000). Sedangkan Area
wilayah administrasi dibentuk dari unsur garis Batas Wilayah Administrasi mulai dari
wilayah administrasi keluarahan/desa (BA002000) sampai wilayah administrasi
provinsi (BA010000).

D. Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi pada tahapan stereoplotting


Pada KAK dan peunjuk pelaksanaan telah disebutkan mengenai spesifikasi
teknis untuk tahapan stereoplotting. Namun masih sering terjadi kesalahan dalam
penarikan objek. Berikut dijelaskan beberapa kesalahan dalam tahapan
stereoplotting untuk pekerjaan pemetaan Rupabumi skala 1:5000.

 Tidak dilakukan sharing boundary pada bangunan


Gambar 9 Tidak dilakukan Sharing Boundary

 Garis Tepi Jalan menggantung sehingga ketika pembentukan poligon penutup


lahan tidak sesuai.

Gambar 10 Poligon penutup lahan salah, karena kesalahan penarikan garis


tepi jalan
 Penarikan garis tidak snap ke center line sehingga jaringan jalan/sungai
terputus

Gambar 11 Jaringan tidak terbentuk (karena tidak snap)


 Penarikan jalan/perairan tidak sesuai dengan objek ukuran rupabumi
(seharusnya penarikan jalan/sungai menggunakan garis tepi dan terbentuk
area penutup lahan karena ukuran objek rupabumi memiliki lebar lebih dari
2,5 m)

Gambar 12 Penarikan garis tidak sesuai spesifikasi teknis


 Kesalahan penarikan bentuk jembatan (sesuaikan seperti pada tabel...

Gambar 13 Bentuk Jembatan tidak sesuai spesifikasi teknis


 Ketidaksesuaian kode unsur

Gambar 14 Kode unsur tidak sesuai (seharusnya menggunakan 60101 garis


tepi sungai)
 Penutup lahan salah unsur (Untuk area pemukiman pada skala 1:5000 tidak
perlu di blok area kemudian diplot sebagai penutup lahan unsur tanah kosong,
sesuaikan jenis penutup lahan dengan penampakan pada foto)

Gambar 15 Kesalahan penarikan garis penutup lahan

 Plotting mass point yang tidak merata dan tidak sesuai spesifikasi teknis

Gambar 16 Penarikan mass point tidak merata


M. Kontrol Kualitas Stereoplotting
Kontrol kualitas dilaksanakan oleh:
1. Internal dari pihak pelaksana sebelum diserahkan kepada pemberi kerja,
item-item yang diserahkan pihak pelaksana antara lain :
 Form hasil QC internal dari pihak pelaksana
 Catatan hasil QC (dalam format .shp)
 Data tahapan stereoplotting yang telah terbebas dari kesalahan
stereoplotting setelah dilakukan QC internal.
2. Pemberi kerja

Komponen kualitas data yang ditekankan pada QC tahapan stereokompilasi


ini adalah mencakup kelengkapan data stereoplotting dan kualitas data hasil
stereoplotting. Untuk itu harus dilakukan tindakan korektif yang berkaitan dengan
operator dalam hal kelengkapan dan keakuratan strerokompilasi. Interpretasi pada
saat stereokompilasi dapat dibantu dengan data pre-interpretasi dari surveyor
pengukuran GCP dengan data berisi identifikasi objek di lapangan. Sehingga
prosedur tersebut dapat mengurangi kesalahan interpretasi selama proses
stereokompilasi dan dapat meningkatkan produktivitas.
Pada QC proses stereokompilasi, apabila ditemukan area yang yang
tersamarkan pada foto karena adanya bangunan, tertutup bayangan obyek atau
vegetasi. Objek yang kenampakan visualnya tidak jelas atau hasil interpretasinya
meragukan. Hal tersebut harus menjadi perhatian dan dicatat secara khusus untuk
kemudian dilakukan validasi pada saat survei kelengkapan lapangan.
Kontrol Kualitas (QC) tahapan stereoploting dilaksanakan secara bertahap
mengikuti item-item uji yang terdapat pada form QC. Untuk setiap NLP yang sudah
dinyatakan lulus QC dapat melanjutkan ke tahapan berikutnya.
Berikut adalah tabel parameter QC beserta cara melakukan Qcnya.
Parameter Cara Melakukan QC
1. Ketentuan Umum
a. Unsur Rupabumi hasil plotting dalam format 3D disimpan Cek di dalam attribut masing-masing layer di kolom (*shape).
dalam geodatabase dengan struktur/skema sesuai ketentuan Garis hasil ploting dalam format 3D bila atribut pada field
SHAPE* berupa Point/Polyline/Polygon ZM.

b. Datum Horizontal : WGS84/SRGI 2103 Cek di dalam properties di dalam opsi Coordinate System

c. Datum Vertikal : Geoid Cek di dalam properties di dalam opsi Coordinate System

d. Unsur garis yang saling berpotongan memiliki vertek dengan Melakukan pengecekan di setiap perpotongan garis yang
ketinggian yang sama berpotongan di dalam satu layer/feature class dengan
melihat nilai Z masing-masing vertex yang bertampalan dari
dua garis yang berpotongan.
Di dalam arcgis untuk melihat nilai Z masing-masing vertex
terdapat di opsi edit sketch properties.

e. Kode unsur sesuai dengan Daftar Kode Unsur Rupabumi Melakukan Query pada field nama unsur, jika terdapat
Indonesia, dan unsur berada pada kelas fitur yang sesuai. attribut yang tidak ada informasi kode unsurnya, maka
attribut tersebut belum terkoneksi dengan domain.

Selain itu terindikasi jika unsur dimasukkan ke kelas fitur


yang tidak sesuai
f. Kesesuaian kode unsur dan nama unsur dengan objek / unsur Dilakukan pengecekan visual tiap grid dengan melihat juga
yang diploting data orthofoto
2. Unsur Perairan
a. Sungai dengan lebar < 2,5 m digambar sebagai satu garis pada Dilakukan pengamatan lebar sungai dari data orthofoto
garis tengah sungai (centerline) apakah sungai yang diplot sebagai sungai satu garis lebarnya
kurang dari 2,5 m atau tidak

b. Sungai dengan lebar > 2,5 m digambar sebagai satu garis pada Dilakukan pengamatan lebar sungai dari data orthofoto,
garis tengah sungai (centerline) dan kedua garis tepi apakah sungai yang diplot sebagai sungai dua garis lebarnya
sungainya lebih dari 2,5 m atau tidak

c. Verteks kiri dan kanan pada garis tepi sungai harus memiliki Dilakukan pengecekan di stereomodel, atau dengan melihat
elevasi/ketinggian yang relatif sama DTM hasil pembentukan data vektor hasil proses
stereoplotting. Sungai yang bergerigi di tepinya terindikasi
memiliki nilai z yang berbeda pada verteks kiri dan kanan
pada unsur garis tepinya
d. Semua sungai harus terhubung satu sama lain (snap ke center Dilakukan pengecekan dengan cara menyusuri center line
line) dan membentuk suatu jaringan (network) dari sungai/perairan yang lebarnya lebih dari 2,5 m apakah
semua perairan yang terhubung sudah snap atau belum
dengan center line tersebut. Harus dibuka data orthofotonya
untuk memastikan jaringan sungai

f. Ploting sungai dari hulu ke hilir Dengan melihat nilai Z dari tiap vertex dari menu edit sketch
properties (pada software arcgis) atau dengan mengganti
tampilan garis menggunakan arrow at end, Kemudian
lakukan pengecekan visual.
g. Ploting sungai tidak lebih tinggi dari terrain sekitar Dilakukan pengecekan visual di stereomodel atau dengan
melakukan pengecekan visual dari DTM hasil pembentukan
data vektor hasil proses stereoplotting
h. Garis tepi perairan tergenang (danau, tambak, rawa, dll) Dengan melihat nilai Z dari tiap vertex pembentuk garis tepi
mempunya elevasi yang sama pada setiap verteksnya perairan dengan menggunakan menu edit sketch properties
(pada software arcgis) atau dengan melakukan pengecekan
visual dari DTM hasil pembentukan data vektor hasil proses
stereoplotting
i. Kesesuaian jarak antar node dengan kondisi terrain Dilakukan pengecekan visual di stereomodel
3. Unsur Hipsografi
a. Mass point diambil secara random sesuai bentuk terrain Dilakukan pengamatan jarak antar masspoint
dengan kerapatan 2 – 20 m
b. Tidak ada mass point pada unsur perairan Terlebih dahulu dibentuk poligon perairan, kemudian
melakukan proses seleksi untuk mass point yang berada di
dalam poligon perairan.
c. Tidak ada mass point yang memiliki ketinggian lebih tinggi Dilakukan pengecekan visual di stereomodel atau melakukan
dari breakline di dekatnya pengecekan dari hasil pembentukan DTM
d. Tidak ada mass point yang memiliki ketinggian lebih rendah Dilakukan pengecekan visual di stereomodel atau melakukan
dari tepi perairan di dekatnya pengecekan dari hasil pembentukan DTM
e. Peletakan mass point tidak boleh terlalu dekat/berimpit Dilakukan pengecekan visual di stereomodel atau melakukan
dengan garis tepi perairan atau breakline pengecekan dari hasil pembentukan DTM
f. Nilai ketinggian/elevasi mass point harus > 0 (kecuali pada Melakukan proses sort ascending pada field elevasi pada
daerah galian/ tambang) feature class Hipsografi_DEM_PT, kemudian dilihat apakah
terdapat point yang memiliki nilai elevasi kurang dari 0 atau
tidak.
4. Unsur Transportasi dan Utilitas
a. Jalan dengan lebar <2,5 m digambar sebagai satu garis pada Dilakukan pengamatan lebar jalan dari data orthofoto
as jalan (centerline) apakah jalan yang diplot sebagai jalan satu garis lebarnya
kurang dari 2,5 m atau tidak
b. Jalan dengan lebar > 2,5 m digambar sebagai satu garis pada Dilakukan pengamatan lebar jalan dari data orthofoto
as jalan (centerline) dan kedua garis tepi jalan apakah jalan yang diplot sebagai sungai dua garis lebarnya
lebih dari 2,5 m atau tidak
c. Semua jalan harus terhubung satu sama lain (snap 3D) dan Dilakukan pengecekan dengan cara menyusuri center line
membentuk suatu jaringan (road network) dari jalan yang lebarnya lebih dari 2,5 m apakah semua jalan
yang terhubung sudah snap atau belum dengan center line
tersebut. Harus dibuka data orthofotonya untuk memastikan
jaringan jalan
d. Penarikan objek landas pacu, dermaga laut, dan dermaga Melakukan pengecekan visual untuk objek landas pacu,
sungai mengikuti kaidah penarikan objek jalan dermaga laut, dan dermaga sungai, dibantu dengan data
orthofoto
5. Unsur Jembatan
a. Keseuaian geomteri jembatan terhadap geometri jalan dan Untuk pengecekan jembatan area dan garis dapat dilakukan
geometri sungai pengecekan secara visual dengan menyusuri jalan dan sungai
dua garis ( memiliki lebar lebih dari 2.5 m).

6. Unsur Terowongan
a. Keseuaian geomteri terowongan terhadap geometri jalan dan Untuk pengecekan Terowongan area dan garis dapat
geometri sungai dilakukan pengecekan secara visual (dikarenakan jumlah
terowongan yang sedikit)

7. Unsur Utilitas
a. Penarikan Unsur Utilitas yang membetuk jaringan dengan Dilakukan pengecekan visual tiap grid dengan melihat ke
cara Point to Point di tiap pucuk menara. Dan ploting area data orthofoto
menaranya menggunakan unsur gardu induk listrik tegangan
tinggi jika luasnya lebih dari 2.5 m x 2.5 m
b. Tower/menara yang tidak membentuk jaringan terlihat di Dilakukan pengecekan visual tiap grid dengan melihat ke
model diplotting sebagai Point menyesuaikan jenis menara data orthofoto

8. Unsur Vegetasi Lahan Terbuka


a. Snap terhadap jalan dan sungai Dilakukan pengecekan visual tiap grid
b. Setiap luasan area vegetasi yang terbentuk diberi anotasi Dilakukan pembentukan poligon untuk penutup lahan Area,
point sesuai jenis penutup lahannya jika terdapat poligon yang attribut kode unsurnya "null"
maka terdeteksi belum diberikan anotasi pada close
Parameter ini berlaku juga untuk kelas fitur PERAIRAN AR, polylinenya.
TRANSPORTASI AR, BANGUNANFASUM AR

c. Kesesuaian intepretasi penutup lahan (labelling) dengan Dilakukan pengecekan visual tiap grid dengan melihat ke
kenampakan yang terlihat dari model foto data orthofoto
9. Unsur Bangunan dan Fasilitas Umum
a. Setiap bangunan yang memiliki ukuran lebih dari 2.5mx2.5 Dilakukan pengecekan visual tiap grid dengan melihat ke
diplot sebagai garis membentuk polyline tertutup yang snap data orthofoto
3D antar titiknya
b. Kebenaran sharing boundary untuk area bangunan yang Dilakukan pengecekan visual tiap grid dengan melihat ke
padat data orthofoto