Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PERCOBAAN PRAKTIKUM PENENTUAN

KOEFISIEN PARTISI ASAM BORAT DAN ASAM BENZOAT

Disusun Oleh : Punjung Widagdo (1617684)


PENENTUAN KOEFISIEN PARTISI ASAM BORAT DAN ASAM
BENZOAT

I. Tujuan Percobaan
1) Mengetahui dan memahami cara penentuan koefisien partisi suatu zat di dalam
dua pelarut yang saling tidak bercampur.
2) Menentukan koefisien partisi asam borat dan asam benzoat dalam pelarut air serta
dalam pelarut minyak kelapa yang tidak saling bercampur.

II. Prinsip percobaan

Penentuan koefisien distribusi asam benzoat dan asam borat dalam pelarut air dan
minyak kelapa berdasarkan perbandingan kelarutan suatu zat dalam dua pelarut yang tidak
saling bercampur berdasarkan reaksi netralisasi di mana sampel dititrasi dengan larutan
baku NaOH 0,05 N dengan menggunakan indikator phenolptalein hingga terjadi perubahan
warna dari tidak berwarna menjadi merah muda.

III. Reaksi
1. Standarisasi NaOH

(COOH)2(aq)+ 2NaOH(aq)→ (COONa)2(aq) + 2H2O(l)

( Harjadi, W . 1986 )(9)

2. Asam borat

H3BO3(aq) + H2O(l)  HBO2(aq) + 2H2O(l)

H3BO3(aq) + 3NaOH(aq)  Na3BO3(aq) + 3H2O(l)

H3BO3(aq) + ROR’  3H+(aq) + BO33-(aq)

( Irawan, Candra . 2009 )(6)


3. Asam benzoat

COOH COO -

+ H2O(l)  + H3O+

COOH COONa

+ NaOH  + H2

COOH COO ̄

+ ROR’  + H+

( Irawan, Candra . 2009 )(6)

IV. Dasar Teori

Asam Benzoat, C6H5COOH adalah zat padat putih, kristalis; titik leburnya adalah
121oC, asam ini sangat sedikit larut dalam air dingin, tatpi lebih larut dalam air panas
dimana ia akan mengkristal setelah didinginkan. Larut dalam alkohol dan eter. (6) (G
Svehla,1985;402)
Asam borat, juga disebut hidrogen borat, asam boraks, asam ortoborat dan acidum

boricum, adalah monobasa asam Lewis boron lemah yang sering digunakan sebagai

antiseptik, insektisida, penghambat nyala, penyerap neutron, atau prekursor untuk senyawa

kimia lainnya. Senyawa ini memiliki rumus kimia H3BO3 (kadang-kadang ditulis

B(OH)3), dan ada dalam bentuk kristal tidak berwarna atau serbuk putih yang larut dalam

air. Ketika berbentuk mineral, senyawa ini disebut sasolit.(8) (anonim 2014).

Ektraksi pelarut adalah suatu metode pemisahan berdasarkan transfer suatu zat
terlarut dari suatu pelarut kedalam pelarut lain yang tidak saling bercampur. Menurut
Nerst, zat terlarut akan terdistribusi pada kedua solven sehingga perbandingan konsentrasi
pada kedua solven tersebut tetap untuk tekanan dan suhu yang tetap. (6) (G Shevla,
1985;139)

Ekstraksi pelarut terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara


destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena
kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi
cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaltu pencampuran secara intensif bahan
ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin.(6)
(Shevla, 1985;139)

Mekanisme ekstraksi dengan proses distribusi dari zat yang terekstraksi ke fase
organik, tergantung pada bermacam faktor,antara lain: kebasaan ligan, faktor stereokimia
dan adanya garam pada sistem ekstraksi. Kelarutan kompleks logam selain ditetapkan oleh
perbandingan koefisien distribusinya juga ditentukan oleh perubahan aktivitas zat terlarut
pada masing-masing fase. (Khopkar, 2008;90)

Pengaruh adanya pelarut lain yang tercampur pada pelarut pertama dapat
menambah kelarutannya bila pelarut keduatersebut bereaksi dengan zat terlarut. Jenis
ikatan mempengaruhi kelarutan kompleks pada fase organik. Kelarutan elektrolit pada
medium yang sangat polar akan bertambah dengan gaya elektrostatik. Kelarutan zat pada
air atau alkohol lebih ditentukan oleh kemampuan zat tersebut membentuk ikatan hidrogen.
Kelarutan zat-zat aromatik pada fase organik sebanding dengan kerapatan elektron pada
inti aromatik dari senyawa-senyawa tersebut. Garam-garam logam tidak dapat larut sebab
bersifat sebagai elektrolit kuat. Sifat kelarutan khelat atau asosiasi ion sangat penting pada
mekanisme ekstraksi. (Khopkar, 2008;92)

Bilamana suatu zat seperti asam oleat, dituangkan di atas permukaan air, maka ia
akan menyebar sebagai lapisan jika gaya adhesif antara molekul-molekul asam oleat dan
molekul-molekul air lebih besar daripada gaya kohesif di antara molekul-molekul asam
oleat sendiri. Yang dimaksud dengan lapisan di sini adalah lapisan dupleks, untuk
membedakannya dengan lapisan monomolekular. Lapisan dupleks adalah cukup tebal
sehingga permukaannya (batas antara asam oleat dan udara) terpisah dari antarmukanya
(batas antara air dan asam oleat). (3) (Martin, Alfred, 1990;116)
kelebihan cairan atau zat padat ditambahkan ke dalam campuran dari dua cairan
yang tidak bercampur, zat itu akan mendistribusikan diri di antara kedua fase sehingga
masing-masing menjadi jenuh. Jika zat itu ditambahkan ke dalam pelarut tidak tercampur
dalam jumlah yang tidak cukup untuk menjenuhkan larutan maka zat tersebut tetap
berdistribusi di antara kedua lapisan dengan perbandingan konsentrasi tertentu. (3) (Martin,
Alfred, 1990;622)

Dengan melihat penyebaran minyak pada permukaan air, Harkins menyatakan, jika
minyak lebih suka pada dirinya sendiri daripada air, maka minyak tidak akan menyebar,
sedangkan jika ia lebih suka pada air dibandingkan dirinya sendiri, maka minyak akan
menyebar melapisi permukaan. Dengan perkataan lain, penyebaran terjadi jika kerja dari
adhesi (suatu ukuran gaya tarik menarik antara minyak dengan air) lebih besar dari kerja
kohesi. Dinyatakan dengan cara lain, jika Wa-Wc nilainya positif, atau ditulis secara
matematis, jika Wa-Wc>0, minyak akan menyebar melapisi permukaan air. Selisih
tersebut dikenal sebagai koefisien penyebaran .(4) (Moechtar, 1989;118)

Jika C1 dan C2 adalah konsentrasi kesetimbangan zat dalam pelarut 1 dan pelarut
2, persamaan kesetimbangan menjadi:

C1
K = C2

Tetapan kesetimbangan K dikenal sebagai perbandingan distribusi, koefisien


distribusi atau koefisien partisi. C1 dan C2 adalah konsentrasi masing masing solute,
masing-masing dalam solvent 1 dan solvent. Persamaan yang dikenal dengan hukum
distribusi, Dan satu hal yang penting untuk di ingat bahwa Hukum Distribusi tersebut
hanya dapat ditrapkan pada zat-zat yang tak mengalami disosiasi dan asosiasi serta tidak
bereaksi dengan solvent. (3) (Martin, Alfred, 1990;622

Suatu zat dapat larut dalam dua macam pelarut yang keduanya tidak saling
bercampur. Jika ada kelebihan cairan atau suatu zat padat ditambahkan kedalam campuran
dari dua cairan tidak bercampur, zat itu akan mendistribusikan diri diantara dua fase
sehingga masing-masing menjadi jenuh. Jika zat itu ditambahkan kedalam pelarut tidak
bercampur dalam jumlah yang tidak cukup untuk menjenuhkan larutan, maka zat tersebut
akan didistribusikan diantara kedua lapisan dengan konsentrasi tertentu (5) (Mirawati,
2011)

V. Alat dan Bahan

a) Bahan
1. Asam Borat
2. Asam Benzoat
3. Minyak Kelapa
4. Air
5. NaOH 0,05 N
6. Indikator Phenolphtalein
b) Peralatan
1. Erlemeyer 250 mL
2. Beker gelas 250 mL dan 500 mL
3. Gelas ukur 100 mL
4. Pipet volumetric 25 mL
5. Pipet tetes
6. Buret semimikro
7. Corong pemisah
8. Batang pengaduk
9. Botol semprot
10. Statif dan klem
11. Neraca analitik
12. Kaca arloji

VI. Prosedur Kerja


V.II. Standarisasi NaOH 0,05N
masukkan ke LT 100
mL larutkan dengan
ditimbang asam pipet 25 mL asam
aquadest sampai
oksalat ±0,63 gram oksalat
tanfa tera dan
homogenkan

catat volume masukkan ke


denganTitik akhir erlenmeyer dan
dititar dengan larutan
ditandai dengan
NaOH 0,05 N (+) indikator PP 2-3
perubahan warna
menjadi merah muda tetes
V.II penentuan koefisien partisi Asam Borat

masukkan ke LT 100 mL
ditimbang teliti 0,1 gram dilarutkan dengan dipipet 25 mL sampel ke
Asam Borat aquadest sampai tera dan corong pemisah
homogenkan

(+) indikator PP 2-3 tetes buka tutup corong (+) 25 mL minyak kelapa.
pemisah tampung cairan kocok 5 menit, diamkan
dititar dengan standar yang dibawah ke selama 10-15 menit
NaOH 0,05 N (titik akhir erlenmeyer 250 mL. dan hingga kedua cairan
berwarna merah muda) buang sisanya terpisah

Masukkan ke corong
Pipet 25 mL larutan Asam pemisah
Catat sebagai (VA)
borat
(+) 25 mL eter

(+) indikator PP 3 tetes, buka tutup corong,


Kocok sampel 5 menit
dititar dengan standar tampung cairan yang
diamkan 10-15 menit
NaOH 0,05 N (titik akhir dibawah erlenmeyer 250
hingga cairan memisah
berwarna merah muda) mL. buang cairan cairan

(+) indikator PP 2-3 tetes,


pipet 25 mL larutan asam
dititar dengan naOH 0,05
catat sebagai (VB) borat ke erlenmeyer 250
N (titik akhir berwarna
mL
merah muda)
V.III penentuan koefisien partisi Asam Benzoat

masukkan ke LT 100 mL
ditimbang teliti 0,1 gram dilarutkan dengan dipipet 25 mL sampel ke
Asam benzoat aquadest tera dan corong pemisah
homogenkan

(+) indikator PP 2-3 tetes buka tutup corong (+) 25 mL minyak kelapa.
pemisah tampung cairan kocok 5 menit, diamkan
dititar dengan standar yang dibawah ke selama 10-15 menit
NaOH 0,05 N (titik akhir erlenmeyer 250 mL. dan hingga kedua cairan
berwarna merah muda) buang sisanya terpisah

Masukkan ke corong
Pipet 25 mL larutan Asam pemisah
Catat sebagai (VA)
borat
(+) 25 mL eter

(+) indikator PP 3 tetes, buka tutup corong,


Kocok sampel 5 menit
dititar dengan standar tampung cairan yang
diamkan 10-15 menit
NaOH 0,05 N (titik akhir dibawah erlenmeyer 250
hingga cairan memisah
berwarna merah muda) mL. buang cairan cairan

(+) indikator PP 2-3 tetes,


pipet 25 mL larutan asam
dititar dengan naOH 0,05
catat sebagai (VB) borat ke erlenmeyer 250
N (titik akhir berwarna
mL
merah muda)
VII. Data Pengamatan
Nama : Punjung Widagdo
NIM : 1617684
Kelas : 2C
Kelompok : 05
Nama sampel uji : Asam Benzoat dan Asam Borat
Deskrisi Contoh Uji : padatan putih tak berbau, tak berwarna

VI.I Tabel data Kualitatif


NO Nama Bahan Rumus Molekul Sifat
1 Asam Borat H3BO3 Hablur, serbuk hablur
putih atau sisik
mengkilap tidak
berwarna; kasar; tidak
berbau; rasa agak asam
dan pahit kemudian
2 Asam Benzoat C7H6O2 Hablur halus dan
ringan; tidak berwarna;
tidak berbau.
3 Indikator Phenolphtalein C20H14O4 Serbuk hablur, putih
atau putih kekuningan
lemah; tidak berbau;
stabil di udara
4 Eter ROR’ Eter adalah cairan tidak
berwarna yang mudah
menguap dengan bau yang
khas
5 Minyak Kelapa C12H24O2 Cairan jernih, tidak
berwarna, kuning pucat
6 Natrium Hidroksida NaOH Sangat mudah larut
dalam air dan dalam
etanol, mudah meleleh
basah. Sangat alkalis
dan korosif.
7 Asam Oksalat C2H2O4 dalam keadaan murni
berupa senyawa kristal,
larut dalam air (8% pada
10o C) dan larut dalam
alkohol
(Dirjen POM, (1979)

VI.II Tabel pengamatan Kuantitatif Standarisasi NaOH 0,05 N

Baku Bobot Volume


primer baku NaOH FP Perhitungan Konsentrasi.
primer (mL)
(gram)
H2C2O4 0,3154 26,27 4 𝑁
𝑀𝑔 𝑂𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡
=
𝐵𝑀 𝑂𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 × 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 × 𝐹𝑃

315,4 𝑀𝑔
𝑁= = 0,047 3𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘/𝑚𝐿
63 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 26,27 𝑚𝐿 × 4
0,3154 26,63 4

315,4 𝑀𝑔
𝑁= = 0,0469 𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘/𝑚𝐿
63 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 26,63 𝑚𝐿 × 4
Konsentrasi rata-rata 0,047 𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄𝑚𝐿 + 0,0469 𝑚𝑟𝑒𝑘 𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄𝑚𝐿
̅=
𝑁
2
= 0,0476 𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘/𝑚𝐿
VI.III Tabel data kuantitatif sampel
NO Vol (mL) NaOH 0,0476 N pada lapisan (bawah
Setelah penambahan Setelah Tanpa penambahan
Bobot Sampel (gram) minyak kelapa (Va) penambahan Eter minyak kelapa dan eter
(Vb) (Vc)
1 0,1000 (Asam Borat) 2,13 mL 3,27 mL 2,23 mL
2 0,1002 (Asam Benzoat) 0,04 mL 0,40 mL 4,30 mL

VIII. Rumus perhitungan dan perhitungan


VII.I Perhitungan koefisien distribusi (minyak terhadap air)

𝑉 (𝑁𝑎𝑂𝐻) × 𝑁 (𝑁𝑎𝑂𝐻) × 𝐵𝐸 (𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑛𝑧𝑜𝑎𝑡)


% 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑛𝑧𝑜𝑎𝑡 = × 𝑓𝑝 × 100%
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑉 (𝑁𝑎𝑂𝐻) × 𝑁 (𝑁𝑎𝑂𝐻) × 𝐵𝐸(𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑜𝑟𝑎𝑡


% 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑜𝑟𝑎𝑡 = × 𝑓𝑝 × 100%
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

Ca = % Kadar Asam Borat/Asam Benzoat dengan penambahan minyak kelapa


Cb = % Kadar Asam Borat/Asam benzoate dengan penambahan eter
Cc = % Kadar Asam Borat/Asam Benzoat tanpa penambahan minyak kelapa dan eter

(𝐶𝑐 − 𝐶𝑎)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) =
𝐶𝑎

(𝐶𝑐 − 𝐶𝑏)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) =
𝐶𝑏
 Asam Borat

𝑉 (𝑁𝑎𝑂𝐻) × 𝑁 (𝑁𝑎𝑂𝐻) × 𝐵𝐸 (𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑜𝑟𝑎𝑡)


% 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑜𝑟𝑎𝑡 = × 𝑓𝑝 × 100%
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑜𝑟𝑎𝑡

2,13 𝑚𝐿 × 0,0473 𝑚𝑔⁄𝑚𝐿 × 61,83 𝑚𝑔⁄𝑚𝐿


% 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑜𝑟𝑎𝑡 = × 4 × 100%
100,0 𝑚𝑔
= 24,92 % 𝑏⁄𝑏

3,27 𝑚𝐿 × 0,0473 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 61,83 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘


% 𝐶𝑏 = × 4 × 100%
100,0 𝑚𝑔
= 38,25 % 𝑏⁄𝑏

2,23 𝑚𝐿 × 0,047 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 61,83 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘


% 𝐶𝑐 = × 4 × 100%
100,0 𝑚𝑔
= 26,09 % 𝑏⁄𝑏

(𝐶𝑐 − 𝐶𝑎)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) =
𝐶𝑎

(26,09 % − 24,92 %)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑚𝑖𝑦𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) = = 0,05 %
29,92%

(𝐶𝑐 − 𝐶𝑏)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) =
𝐶𝑏

(26,90% − 38,25%)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) = = −0,32%
38,25%
 Asam Benzoat

𝑉 (𝑁𝑎𝑂𝐻) × 𝑁 (𝑁𝑎𝑂𝐻) × 𝐵𝐸 (𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑛𝑧𝑜𝑎𝑡)


% 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑛𝑧𝑜𝑎𝑡 = × 𝑓𝑝 × 100%
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑛𝑧𝑜𝑎𝑡

0,40 𝑚𝐿 × 0,0473 𝑚𝑔⁄𝑚𝐿 × 122,12 𝑚𝑔⁄𝑚𝐿


% 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑛𝑧𝑜𝑎𝑡 = × 4 × 100%
100,2 𝑚𝑔
= 9,22 % 𝑏⁄𝑏

0,40 𝑚𝐿 × 0,0473 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 122,12 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘


% 𝐶𝑏 = × 4 × 100%
100,2 𝑚𝑔
= 9,22 % 𝑏⁄𝑏

4,30 𝑚𝐿 × 0,047 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘 × 122,2 𝑚𝑔⁄𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘


% 𝐶𝑐 = × 4 × 100%
100,0 𝑚𝑔
= 99,15 % 𝑏⁄𝑏

(𝐶𝑐 − 𝐶𝑎)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) =
𝐶𝑎

(99,15 % − 9,22 %)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑚𝑖𝑦𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) = = 9,75 %
9,22%

(𝐶𝑐 − 𝐶𝑏)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) =
𝐶𝑏

(99,15% − 9,22%)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 (𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟) = = 9,75 %
9,22%
IX. Pembahasan

Bila zat padat atau zat cair dicampur ke dalam dua pelarut yang berbeda atau tidak saling

bercampur, maka zat tersebut akan terdistribusi ke dalam dua pelarut dengan kemampuan

kelarutannya. Koefisien distribusi adalah perbandingan konsentrasi kesetimbangan zat dalam dua

pelarut yang berbeda yang tidak bercampur. Faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi adalah

konsentrasi zat terlarut dalam pelarut 1 dan pelarut 2, dirumuskan :

(𝐶1)
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 =
(𝐶2)

Fenomena distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi suatu senyawa antara dua fase

cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada interaksi fisik dan kimia antara pelarut dan

senyawa terlarut dalam dua fase yaitu struktur molekul.

Suatu zat dapat larut dalam dua macam pelarut yang keduanya tidak saling bercampur. Jika

kelebihan campuran atau zat padat ditambahkan ke dalam cairan yang tidak saling bercampur

tersebut maka zat tersebut akan mendistribusi diri di antara dua fase sehingga masing-masing

menjadi jenuh.

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam larutan yaitu larutan jenuh, larutan tidak jenuh

dan larutan lewat jenuh. Larutan jenuh adalah suatu larutan di mana zat terlarut berada dalam

kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut), larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu

larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan

sempurna pada temperatur tertentu, sedangkan larutan lewat jenuh adalah larutan yang
mengandung jumlah zat terlarut dalam konsentrasi yang lebih banyak daripada yang seharusnya

pada temperatur tertentu.

Untuk asam borat, diketahui kelarutannya adalah dapat larut dalam 20 bagian air, dalam 3

bagian air mendidih, dalam 16 bagian etanol serta dalam 5 bagian gliserol. Jadi, asam borat

memiliki kelarutan yang cukup baik dalam beberapa pelarut organic. Sementara untuk asam

benzoat, dapat larut dalam air sebanyak ±350 bagian, dalam etanol, kloroform serta dalam eter

juga melarut dengan perbandingan tertentu. Terlihat bahwa asam benzoat memiliki kelarutan yang

kurang/lebih kecil daripada asam borat.

Dalam percobaan ini kita menggunakan dua sampel yaitu asam borat dan asam benzoat.

Mula-mula dilakukan standarisasi NaOH dengan asam oksalat ditimbang 0,3154 g. Selanjutnya

dilarutkan dengan 100 mL aquadest di labu takar 100 mL. Larutan asam oksalat dipipet sebanyak

25 ml menggunakan pipet volume lalu dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan dititrasi dengan

larutan baku NaOH 0,05 N menggunakan indikator pp.

CARA MENGGUNAKAN CORONG PISAH

Corong pisah adalah alat yang paling umum digunakan dalam pekerjaan ekstraksi rutin

dalam kimia organik. Akan tetapi alat ini juga paling sering ditangani secara salah di dalam

laboratorium kimia organik. Untuk penanganan yang benar, harus memperhatikan secara seksama

semua fase proses ekstraksi dan pemisahan. Ada aturan-aturan dasar yang seharusnya diikuti

dalam melakukan ekstraksi.


Penyiapan Corong Pisah Corong pisah

biasanya terbuat dari gelas tipis dan karenanya seharusnya ditangani dengan hati-hati.

Bagian terpenting dari alat ini adalah kran yang terbuat dari gelas atau teplon. Kran gelas sebaiknya

diolesi dengan vaselin sebelum corong digunakan. Gunakan vaselin secukupnya agar kran mudah

diputar, penggunaan vaselin yang berlebih akan dapat menyumbat lubang kran atau mengotori

larutan organik. Kran yang terbuat dari bahan teflon lebih baik daripada bahan gelas karena

mempunyai koefisien gesekan yang rendah, dan tidak perlu vaselin. Akan tetapi teflon sangat

lembut dan rusak oleh pemanasan atau tekanan. Corong pisah dengan kran pada posisi tertutup,

ditempatkan di atas klem cincin besi. Idealnya cincin harus dibalut dengan plastik untuk mencegah

kontak langsung dengan gelas dan mengurangi bahaya keretakan corong. Letakkan Erlenmeyer

atau gelas piala di bawah corong. Hal ini sangat berguna ketika corong diisi cairan dan terjadi

kebocoran. Rangkaian lengkap alat ini dapat dilihat dalam Gambar 3.2

Pastikan bahwa penutup benar-benar cocok dengan leher corong pisah. Pertimbangkan

apakah perlu atau tidak perlu menggunakan vaselin penutup. Penggunaan vaselin akan

memudahkan pelepasan penutup, akan tetapi mengandung resiko kontaminasi vaselin terhadap
larutan organik, terutama pelarut yang dapat merembes masuk ke celah penutup. Basahi dengan

air penutup yang tidak bervaselin untuk mencegah perembesan pelarut ke dalam celah penutup.

Pengocokan

Untuk mengefisienkan ekstraksi, fase air dan fase organik harus bercampur secara

keseluruhan. Tujuan ini dicapai dengan cara penggoyangan memutar (swirling) dan pengocokan

(shaking) corong pisah. Setelah memasukkan cairan ke dalam corong pisah dan sebelum

memasang penutup, sebaiknya corong digoyang memutar secara pelan-pelan terlebih dahulu.

Pegang bagian atas corong, angkat dan goyang memutar pelan-pelan. Hal ini sangat penting jika

ekstraksi melepaskan gas karbondioksida, seperti ekstrasi yang melibatkan larutan karbonat atau

bikarbonat, atau netralisasi asam. setelah pemutaran, letakkan corong di atas klem cincin dan

tutup rapat-rapat. Selanjutnya perlu penggoyangan memutar atau pengocokan yang lebih keras

untuk membuat kedua fase saling bercampur seluruhnya. Setiap orang mempunyai metode

tersendiri memegang corong, salah satu cara memegang corong diperlihatkan dalam Gambar 3.3.

Kapan saja melakukan ekstraksi maka perlu mengingat hal-hal sebagai berikut.

1. Pegang corong dengan kedua tangan.

2. Dengan tangan yang satu, pegang corong dengan satu jari tetap di atas penutup.

3. Pengan corong disekitar kran dengan tangan yang satu untuk menjaga agar kran tetap
berada pada posisinya, yang lebih penting lagi agar anda dapat membukatutup kran
dengan cepat.

4. Jika Anda masih ragu, lakukan hal ini dengan corong yang masing kosong.
Dalam percobaan ini kita menggunakan dua sampel yaitu asam borat dan asam benzoat.

Mula-mula sampel asam borat dan asam benzoat masing-masing ditimbang asam borat sebanyak

0,100 gram dan asam benzoat sebanyak 0,1002 gram. Selanjutnya sampel dilarutkan dengan 100

mL aquadest di labu takar 100 mL. Larutan asam benzoat dan asam borat dipipet sebanyak 25 ml

lalu dimasukkan ke dalam corong pisah dan kemudian ditambahkan dengan 25 ml minyak kelapa

dan diakukan pengocokan kuat dan dilakukan selama 5 menit. Pengocokan dilakukan dengan

maksud untuk mendistribusikan zat terlarut ke dalam pelarut dengan perbandingan konsentrasi

tertentu. Setelah pengocokan dilakukan, maka dibiarkan beberapa saat selama 10-15 menit, dengan

tujuan untuk memisahkan antara kedua pelarut bisa sempurna. Ketidakcampuran antara air dan

minyak ini disebabkan oleh sifat fisikanya yang berbeda yaitu perbedaan bobot jenis, perbedaan

tegangan permukaan dan tingkat kepolaran dimana air bersifat polar dibandingkan dengan minyak

kelapa. Hal ini disebabkan karena pada minyak kelapa terdapat atom karbon sehingga

menyebabkan bentuk stereokimianya simetris sehingga tidak memiliki momen dipol. Momen

dipol inilah yang menentukan kepolaran dari suatu zat.


Setelah memisah, lapisan air yang berada di bawah ditampung dalam Erlenmeyer,

sedangkan lapisan minyaknya dibuang. Hal ini dikarenakan lapisan air dari pengocokan akan

digunakan sebagai zat sampel yang akan dititrasi untuk ditentukan kadarnya. Apabila lapisan

minyak yang digunakan sebagai sampel dititrasi maka akan terjadi saponofikasi atau penyabunan

sehingga titik akhir titrasinya tidak jelas. Lapisan air yang telah ditampung kemudian dititrasi

dengan NaOH 0,05 jhkjN menggunakan indikator pp catat volume sebagai (Va). Hal yang sama

diberlakukan saat penambahan pelarut eter di dalam corong pemisah dan catat volume titik akhir

titrasi sebagai (Vb)

Metode titrasi yang dilakukan pada percobaan ini adalah metode alkalimetri yaitu suatu

metode penentuan kadar suatu sampel asam menggunakan larutan baku basa dan indikator yang

digunakan yaitu indikator pp dengan tryek pH 8,3-10 (indikator basa).

Pada titrasi alkalimetri menggunakan indikator pp, titik akhir titrasi diperoleh jika terjadi

perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Mekanisme terjadinya perubahan

warna tersebut yaitu pada saat larutan pentiter mulai diteteskan dari atas buret maka akan terjadi

reaksi antara analit yang bersifat asam, dalam hal ini digunakan asam benzoat dan asam borat dan

pentiter yang bersifat basa, yaitu NaOH membentuk suatu larutan garam. Periatiwa ini terjadi terus

menerus hingga larutan asam tepat habis bereaksi dengan NaOH yang disebut dengan titik

ekuivalen. Pada titik ekuivalen, perubahan warna belum terjadi. Kelebihan satu tetes saja dari

larutan NaOH akan menyebabkan perubahan warna larutan dari tidak berwarna menjadi merah

muda. Perubahan warna ini berasal dari reaksi antara kelebihan basa dengan indikator pp.

Berdasarkan hasil percobaan dan perhitungan, diperoleh koefisien distribusi untuk masing-

masing sampel yakni asam borat memiliki koefisien distribusi 0,05% untuk minyak terhadap eter
dan -0,32% untuk eter terhadap air sedangkan asam benzoat 4,75 % untuk minyakterhadap air dan

4,75 % untuk eter terhaap air.

Pada percobaan ini terdapat beberapa kesalahan dimana hasil yang diperoleh tidak sesuai

dengan literatur. Hal ini mungkin disebabkan karena

 Sampel tidak terdispersi dengan baik dalam kedua pelarut.

 Larutan dalan corong pisah belum berpisah dengan baik saat pengambilan fasa air untuk

titrasi.

 Kesalahan dalam menitrasi.

 Pada saat pengambilan fase air dari campuran larutan dan minyak menggunakan pipet tetes

dalam Erlenmeyer, masih ada bagian minyak yang ikut bersama dengan fase air sehingga

mempengaruhi titik akhir titrasi.

 Kelarutan sampel yang tidak sempurna.

X. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan penentuan koefisien partisi Asam Borat dan Asam Benzoat yang

telah dilakukan dapat disimpulkan koefisien distribusi untuk masing-masing sampel yakni asam

borat memiliki koefisien distribusi 0,05% untuk minyak terhadap eter dan -0,32% untuk eter

terhadap air sedangkan asam benzoat 4,75 % untuk minyakterhadap air dan 4,75 % untuk eter

terhaap air.
DAFTAR PUSTAKA

1. Dirjen POM, (1979), ”Farmakope Indonesia, Edisi Ketiga”, Departemen Kesehatah RI,
Jakarta.
2. Dirjen POM, (1995), ”Farmakope Indonesia, Edisi Keempat”, Departemen Kesehatah RI,
Jakarta.
3. Martin, Alfred, (1990), ” Farmasi Fisik, Dasar-Dasar Kimia Fisik Dalam Ilmu Farmasetik”,
UIP Press, Jakarta.
4. Moechtar, (1989), ” Farmasi Fisika, Bagian Larutan dan Sistem Dispersi”, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
5. Mirawati. 2011. “Penuntun Praktikum Farmasi Fisika I”. Universitas Muslim Indonesia :
Makassar
6. Svehla, G. (1985). VOGEL : “Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro” , Bagian 1, Edisi V, PT. Kalma Media Pustaka, Jakarta.
7. Khopkar, S.M., 2008, “Konsep Dasar Kimia Analitik”, UI Press, Jakarta, Hal. 90-111
8. https://wawasanilmukimia.wordpress.com/2014/01/08/asam-borat-dan-kegunaannya/
(diakses pada tanggal 06 maret 2018 pada Pk 11.02 WIB)
9. Harjadi W. 1986. “Ilmu Kimia Analitik Dasar”. Jakarta: Gramedia.
10. Irawan, Candra . 2009. “Buku pengantar Kimia Organik 1”.
LAMPIRAN 1

Asam Benzoat

Rumus Bangun COOH

Nama IUPAC Karboksibenzena


Nama Lain Asam benzenakarboksilat,
Karboksibenzena
Rumus molekul C7H6O2
Berat molekul 122,12 g mol−1
sifat
Wujud dan sifat fisika Hablur halus dan ringan, tidak
berwarna, tidak berbau
Titik didih 249 °C (522 K)
Densitas 1,32 g/cm3, padat
Kelarutan dalam air Terlarutkan (air panas)
3,4 g/l (25 °C)
Kelarutan dalam THF, etanol, metanol THF 3,37 M, etanol 2,52 M, metanol
Keasaman (pKa) 2,82 M
PH 4,21
Asam Borat

Rumus Bangun

Nama IUPAC Trihydrooxidoboron


Nama Lain Asam ortoborat,
Asam boraks,
Rumus molekul H3BO3
Berat molekul 61.83 g mol−1
sifat
Wujud dan sifat fisika Hablur, serbuk hablur putih atau sisik
mengkilap, tidak berwarna, tidak
berbau,
Titik didih 300 °C (573 K)
Densitas 1,435 g/cm3
Kelarutan dalam air 2,52 g/100 mL (0 °C); 3,49 g/100 mL
(10 °C); 4,72 g/100 mL (20 °C); 6,23
g/100 mL (30 °C); 19,10 g/100 mL
(80 °C); 27,53 g/100 mL (100 °C)
Kelarutan dalam pelarutnya Sedikit larut dalam alkohol
cukup larut dalam piridina
sangat sedikit larut dalam aseton
PH 9,24
Fenolftalein

Rumus Bangun O

O
OH

OH

Nama IUPAC 3,3-bis (4-hidroksifenil)


isobenzofuran-1
Nama Lain Fenolftalein
Rumus molekul C20H14O4
Berat molekul 318.32 g mol−1
sifat
Wujud dan sifat fisika Serbuk hablur, putih atau putih
kekuningan lemah, tidak berbau,
stabil di udara
Titik didih 260°C
Densitas 1,277 g/cm3
Kelarutan dalam air Mudah larut dalam air
Kelarutan dalam pelarutnya Tidak larut dalam benzena atau
heksana, sangat mudah larut dalam
etanol dan eter, sedikit larut dalam
DMSO
PH 8,3 – 10,0
Natrium Hidroksida

Rumus Bangun Na O H
Nama IUPAC Sodium hydroxide
Nama Lain Soda Kaustik
Rumus molekul NaOH
Berat molekul 40,00g mol−1
sifat
Wujud dan sifat fisika Bentuk batang, butiran, massa hablur
atau keping, kering, keras, rapuh,
putih, mudah meleleh basah, sangat
alkalis dan korosif, segera menyerap
CO2
Titik didih 1390 °C (1663 K)
Densitas 2,1 g/cm³, padat
Kelarutan dalam air 111 g/100 ml (20 °C)
Kelarutan dalam pelarutnya Larut dalam Air, Methanol,Ethanol,
larutan Ammonia dan Eter
PH -2,43
Minyak Kelapa

Rumus Bangun

Nama IUPAC Sodium hydroxide


Nama Lain Soda Kaustik
Rumus molekul CH3(CH2)13COOH
Berat molekul 40,00g mol−1
sifat
Wujud dan sifat fisika Cairan jernih, tidak berwarna, kuning
pucat,
Titik didih 351-352 °C
Densitas 0.853 g/cm3 at 62 °C
Kelarutan dalam air Tidak larut
Kelarutan dalam pelarutnya Larut dalam 2 bagian etanol (95 %) P,
sangat mudah larut dalam kloroform
P dan dalam eter
PH 5,0
Air Suling

Rumus Bangun H O H
Nama IUPAC dihidrogen monoksida
Nama Lain Aquades, dihidrogen monoksida
Rumus molekul H2O
Berat molekul 18,0153 g/mol
sifat
Wujud dan sifat fisika Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, dan tidak berasa
Titik didih 100 °C (373.15 K) (212 °F)
Densitas 0.998 g/cm³ (cariran pada 20 °C
Kelarutan dalam air Tidak larut
Kelarutan dalam pelarutnya Air dapat melarutkan zat-zat yang
bersifat ionik atau bersifat polar
PH 7,0
Eter
Rumus Bangun R O R’
Nama IUPAC metoksimetana
Nama Lain dimetileter
Rumus molekul C2H6O
Berat molekul 8 g/mol
sifat
Wujud dan sifat fisika Berupa suatu cairan dengan titik
didih rendah dan mudah terbakar.
Sebagian besar eter bereaksi lambat
dengan oksigen melalui suatu reaksi
radikal yang disebut auto-oksidasi
membentuk hidroperoksida dan
peroksida (ekplosif
Titik didih -23,0
Densitas 713 kg/m³
Kelarutan dalam air 70 g. etercenderung bersifat non polar,
sehingga kelarutannya dalam air
sangat kecil
Kelarutan dalam pelarutnya Eter memiliki kelarutan dalam air
yang sebanding dengan alkohol
dengan berat molekul yang sama.
PH
STANDARISASI NaOH 0.05 N

Ditimbang Dilarutan larutan Titik Akhir


Padatan Oksalat Oksalat dengan Titrasi dengan
0,3154gram aquadesr lalu dititar NaOH 0.05 N
dengan NAOH 0.05 N

ASAM BORAT

Masukkan Larutan
Di timbang
Asam Borat ke
Padatan Asam dilarutkan Asam Borat Larutan dipipet
corong pemisah
Borat 0,1000 gram dengan aquadest sampai 25 ml
tanda tera lalu homogenkan

Asam Borat +
Penurunan
Ekstraksi Asam Penambahan Eter setelah
Borat dengan Lapisan bawah
Indikator PP Titrasi dengan
setelah ekstraksi
Eter NaOH 0.05 N
Penambahan Asam Ekstraksi Asam Asam Borat + Minyak
Borat + Minyak Borat + Minyak setelah Titrasi
dengan NaOH 0.05 N

Asam Borat + Air


Titrasi Asam setelah Titrasi
Borat + Air dengan NaOH 0.05 N

ASAM BENZOAT

Ditimbang Padatan Asam dilarutkan Asam Benzoat Larutan dipipet


Benzoat 0,1002 gram dengan aquadest sampai 25 ml
Masukkan Larutan
tanda tera lalu
Asam Benzoat ke
homogenkan
corong pemisah
Ekstraksi Asam Penurunan Penambahan Asam Benzoat +
Benzoat dengan Eter Lapisan bawah Indikator PP Eter setelah
setelah ekstraksi Titrasi dengan
NaOH 0.05 N

Asam Benzoat + Asam Benzoat + Air


Minyak setelah setelah Titrasi
Titrasi dengan NaOH dengan NaOH 0.05 N
0.05 N