Anda di halaman 1dari 23

BAB II

2.1 Definisi ISPA


Menurut Depkes (2004) infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan istilah
yang diadaptasi dari istilah bahasa inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Infeksi akut
adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan
proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses
ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
Menurut Depkes RI (2005) ISPA adalah penyakit Infeksi akut yang menyerang salah
satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan
pleura.
Menurut Depkes RI (1996) istilah ISPA mengandung tiga unsur, yaitu infeksi, saluran
pernafasan dan akut. Pengertian atau batasan masing-masing unsur adalah sebagai berikut:
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan
berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernapasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ
adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Dengan demikian
ISPA secara otomatis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan
bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan.
Dengan batasan ini maka jaringan paru-paru termasuk dalam saluran pernafasan
(respiratory tract).
3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari ini. Batas 14 hari
ini diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang
dapat digolongakan ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari
(Suhandayani, 2007).

2. 2 PATOFISIOLOGI
Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran mukosa
bersilia, udara yang masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan dan dilembutkan.
Partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut yang terdapat dalam hidung, sedangkan
partikel debu yang halus akan terjerat dalam membran mukosa. Gerakan silia mendorong
membran mukosa ke posterior ke rongga hidung dan ke arah superior menuju faring.
Penyebaran melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda yang telah dicemari virus
dan bakteri penyebab ISPA (hand to hand transmission) dan dapat juga ditularkan melalui
udara tercemar (air borne disease) pada penderita ISPA yang kebetulan mengandung bibit
penyakit melalui sekresi berupa saliva atau sputum, bibit penyakit masuk kedalam tubuh
melalui pernapasan (Depkes, 2007).
Mikroorganisme penyebab ISPA ditularkan melalui udara. mikroorganisme yang ada
diudara akan masuk kedalam tubuh melalui saluran pernapasan dan menimbulkan infeksi dan
penyakit ISPA. Selain itu mikroorganisme penyebab ISPA berasal dari penderita yang
kebetulan terinfeksi, baik yang sedang jatuh sakit maupun yang membawa mikroorganisme di
dalam tubuhnya (Hartono dan Rahmawati, 2012).
Mikroorganisme di udara umumnya berbentuk aerosol yakni suatu suspensi yang melayang
di udara, dapat seluruhnya berupa bibit penyakit atau hanya sebagian. Adapun bentuk aerosol
dari penyebab penyakit ISPA tersebut yakni droplet nuclei dan dust. Droplet nuclei adalah
partikel yang sangat kecil sebagai sisa dari sekresi saluran pernapasan yang mengering dan
melayang di udara. Pembentukannya melalui evaporasi droplet yang dibatukkan atau
dibersinkan ke udara, karena ukuran sangat kecil, dapat bertahan diudara untuk waktu yang
cukup lama dan dapat dihirup pada waktu bernapas dan masuk ke saluran pernapasan. Dust
adalah partikel dengan berbagai ukuran sebagai hasil dari resuspensi partikel yang menempel
di lantai, di tempat tidur serta dapat tertiup angin bersama debu lantai/tanah
2.3 PENYEBAB
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
Penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pnemococcus, Hemofilus,
Bordetella dan Corinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Mixovirus,
Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus (Depkes RI, 2000).
Klasifikasi penyebab ISPA berdasarkan umur (Depkes RI, 2010):

a. Bayi baru lahir


ISPA pada bayi baru lahir seringkali terjadi karena aspirasi, infeksi virus Varicella-
zoster dan infeksi berbagai bakteri gram negatif seperta bakteri Coli, torch,
Streptococus dan Pneumococus.
b. Balita dan anak pra-sekolah
ISPA pada balita dan anak pra-sekolah sering kali disebabkan oleh virus, yaitu:
Adeno, Parainfluenza, Influenza A or B, dan berbagai bakteri yaitu: S. pneumoniae,
Hemophilus influenzae, Streptococci A. Staphylococcus aureus, dan Chlamydia.
c. Anak usia sekolah dan remaja
ISPA pada anak usia sekolah dan remaja biasanya disebabkan oleh virus, yaitu Adeno,
Parainfluenza, Influenza A or B, dan berbagai bakteri, yaitu S. pneumoniae,
Streptococcus A dan Mycoplasma.
Gambaran klinis infeksi saluran pernafasan akut bergantung pada tempat infeksi serta
mikroorganisme penyebab infeksi. Semua manifestasi klinis terjadi akibat proses peradangan
dan adanya kerusakan langsung akibat mikroorganisme.

2.4 GEJALA KLINIS


Penyakit saluran pernapasan atas dapat memberikan gejala klinik yang beragam,
antara lain:
1. Gejala koriza (coryzal syndrome), yaitu penegeluaran cairan (discharge) nasal yang
berlebihan, bersin, obstruksi nasal, mata berair, konjungtivitis ringan. Sakit
tenggorokan (sore throat), rasa kering pada bagian posterior palatum mole dan uvula,
sakit kepala, malaise, nyeri otot, lesu serta rasa kedinginan (chilliness), demam jarang
terjadi.
2. Gejala faringeal, yaitu sakit tenggorokan yang ringan sampai berat. Peradangan pada
faring, tonsil dan pembesaran kelenjar adenoid yang dapat menyebabkan obstruksi
nasal, batuk sering terjadi, tetapi gejala koriza jarang. Gejala umum seperti rasa
kedinginan, malaise, rasa sakit di seluruh badan, sakit kepala, demam ringan, dan
parau (hoarseness).
3. Gejala faringokonjungtival yang merupakan varian dari gejala faringeal. Gejala
faringeal sering disusul oleh konjungtivitis yang disertai fotofobia dan sering pula
disertai rasa sakit pada bola mata. Kadang-kadang konjungtivitis timbul terlebih
dahulu dan hilang setelah seminggu sampai dua minggu, dan setelah gejala lain
hilang, sering terjadi epidemi.
4. Gejala influenza yang dapat merupakan kondisi sakit yang berat. Demam, menggigil,
lesu, sakit kepala, nyeri otot menyeluruh, malaise, anoreksia yang timbul tiba-tiba,
batuk, sakit tenggorokan, dan nyeri retrosternal. Keadaan ini dapat menjadi berat.
Dapat terjadi pandemi yang hebat dan ditumpangi oleh infeksi bakterial.
5. Gejala herpangina yang sering menyerang anak-anak, yaitu sakit beberapa hari yang
disebabkan oleh virus Coxsackie A. Sering menimbulkan vesikel faringeal, oral dan
gingival yang berubah menjadi ulkus.
6. Gejala obstruksi laringotrakeobronkitis akut (cruop), yaitu suatu kondisi serius yang
mengenai anak-anak ditandai dengan batuk, dispnea, dan stridor inspirasi yang
disertai sianosis (Djojodibroto, 2009).

a. Gejala dari ISPA ringan


Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-
gejala sebagai berikut :
1. Batuk
2. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (pada waktu
berbicara atau menangis)
3. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
4. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37°C.

b. Gejala dari ISPA sedang


Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan
disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
1. Pernapasan cepat (fast breathing) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur kurang
dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih untuk umur 2-<12 bulan dan
40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan - < 5 tahun.
2. Suhu tubuh lebih dari 39°C
3. Tenggorokan berwarna merah
4. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
5. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
6. Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)

c. Gejala dari ISPA Berat


Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan
atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
1. Bibir atau kulit membiru
2. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
3. Pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
4. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas
5. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
6. Tenggorokan berwarna merah.
2. 5 KLASIFIKASI ISPA
a. Berdasarkan lokasi anatomik
Menurut Depkes (2004) penyakit ISPA dapat dibagi dua berdasarkan lokasi anatominya,
yaitu: ISPA atas (ISPaA) dan ISPA bawah (ISPbA). Contoh ISPA atas adalah batuk pilek
(Common cold), Pharingitis, Otitis, Flusalesma, Sinusitis, dan lain-lain. ISPA bawah
diantaranya Bronchiolitis dan Pneumonia yang sangat berbahaya karena dapat
mengakibatkan kematian

b. Berdasarkan golongan Umur


Depkes (2004) mengklasifikasikan ISPA berdasarkan kelompok umur sebagai berikut:
1. Kelompok umur <2 bulan, pneumonia berat dan bukan pneumonia. Pneumonia berat
ditandai dengan adanya napas cepat, yaitu pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau
lebih, atau adanya tarikan dinding dada yang kuat pada dinding dada bagian bawah
ke dalam (severe chest indrawing), sedangkan bukan pneumonia bila tidak ditemukan
tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas cepat.
2. Kelompok umur 2 bulan - <5 tahun, pneumonia berat, pneumonia dan bukan
pneumonia. Pneumonia berat, bila disertai nafas sesak yaitu adanya tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik napas. Pneumonia didasarkan
pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya nafas cepat sesuai
umur, yaitu 40 kali per menit atau lebih. Bukan pneumonia, bila tidak ditemukan
tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas cepat.

2.6 KONDISI YANG DAPAT BERKEMBANG MENJADI ISPA


Beberapa kondisi yang dapat berkembang menjadi ISPA:
a. Influenza
Influenza merupakan infeksi primer yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak dan
penyakit ini biasanya cendrung berlangsung lebih berat karena infeksi mencakup daerah sinus
paranasal, telinga tengah, dan nasofaring disertai demam yang tinggi (Ngastiyah, 2005).
Influenza merupakan infeksi saluran pernafasan atas yang disebabkan oleh virus
haemophillus influenza tipe A, B dan C yang mempunyai tanda nyeri kepala yang hebat,
nyeri otot, demam, menggigil dan anoreksia (Soemantri, 2007).
b. Common Cold (Acute Viral Nasopharingitis)
Nasopharingitis Akut (setara dengan “common cold”) disebabkan oleh sejumlah virus
biasanya rhinoviruses, RSV, adenovirus, viruinflenza, atau parainfluenza (Hartono &
Rahmawati, 2012).

c. Acute Streptococcal Pharyngitis


Acute streptococcal pharingitis disebabkan oleh grup A B-hemolytic streptococcus
(GABHS). Infeksi saluran nafas bagian atas (radang tenggorokan) bukan merupakan panyakit
serius, tetapi efek bagi anak merupakan risiko serius (Hartono & Rahmawati, 2012).

d. Radang Amandel
Radang amandel sering terjadi bersamaan dengan pharyngitis. Karena melimpahnya kelenjar
getah bening dan frekuensi dari ISPA. Radang amandel adalah penyakit yang biasa
menyerang anak-anak, penyebabnya bisa dikarenakan oleh virus atau bakteri (Hartono &
Rahmawati, 2012).

e. Laringitis
Laringitis akut pada orang dewasa hanya penyakit ringan saja, tetapi pada anak berbeda
karena disertai batuk keras, suara serak sampai afoni, sesak nafas dan stridor. Penyebab
laringitis umumnya adalah streptococus hemolyticus, streptococcus viridans, pneumokokus,
staphylococcus hemolyticus. Proses radang pada laring dipermudah oleh trauma, bahan
kimia, radiasi, alergi dan pemakaian suara berlebihan (Ngastiyah, 2005).

f. Faringitis dan Tonsilofaringitis


Radang faring pada bayi dan anak hampir selalu melibatkan orang di sekitarnya, sehingga
infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil, sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis
akut dan kronik. Faringitis dan tonsilofaringitis mempunyai gejala seperti terdapat nyeri di
tenggorokan, mulut berbau, dan nyeri menelan. Kadang di sertai otalgia, demam tinggi dan
pembesaran kelenjar submandibular (Ngastiyah, 2005).

g. Otitis Media (OM)


OM adalah salah satu penyakit paling umum pada anak usia dini. Sekitar 80% anak memiliki
setidaknya satu episode dan hampir 50% telah memiliki tiga atau lebih espidoe dalam waktu
3 tahun. Kejadian tertinggi pada anak usia 6 bulan sampai 2 tahun. Kemudian secara bertahap
menurun sesuai dengan usia kecuali untuk peningkatan kecil pada usia 5 atau 6 tahun saat
masuk sekolah. Anak laki-laki usia prasekolah lebih sering terkena dibanding anak
perempuan usia prasekolah. Insiden otitis media akut paling tinggi dimusim dingin (Hartono
& Rahmawati, 2012).

h. Epiglotis Akut
Epiglotis akut adalah proses inflamasi obstruktif serius yang terjadi terutama pada anak-anak
antara 2-5 tahun tetapi dapat terjadi dari bayi sampai orang dewasa. Penyumbatannya adalah
supraglottic, kabalikan dari penyumbatan subglottic dari laryngitis (Hartono & Rahmawati,
2012).

i. Pneumonia
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat (Dahlan, 2010).

2.7 PENCEGAHAN
Kejadian ISPA dapat dicegah dengan beberapa cara yaitu menghindarkan anak dari
kuman, meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki lingkungan.
a. Menghindarkan anak dari kuman
1. Menghindarkan anak berdekatan dengan penderita ISPA, karena kuman penyebab
ISPA sangat mudah menular dari satu orang ke orang lain
2. Jika seorang ibu menderita ISPA sedangkan ia butuh mengasuh anak atau menyusui
bayinya, ibu tersebut harus menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.
b. Meningkatkan daya tahan tubuh anak
1. Manjaga gizi anak tetap baik dengan memberikan makanan yang cukup bergizi
(cukup protein, kalori, lemak, vitamin dan mineral). Bayi-bayi sedapat mungkin
mendapat air susu ibu sampai usia dua tahun.
2. Kebersihan anak harus dijaga agar tidak mudah terserang penyakit menular.
3. Memberikan kekebalan kepada anak dengan memberikan imunisasi.
c. Memperbaiki lingkungan
Untuk mencegah ISPA, lingkungan harus diperbaiki khususnya lingkungan perumahan,
antara lain:
1. Rumah harus berjendela agar cukup aliran dan pertukaran udara cukup baik.
2. Asap dapur dan asap rokok tidak boleh berkumpul dalam rumah. Orang dewasa tidak
boleh merokok dekat anak atau bayi.
3. Rumah harus kering, tidak boleh lembab.
4. Sinar matahari pagi harus diusahakan agar dapat masuk ke rumah.
5. Rumah tidak boleh terlalu padat dengan penghuni.
6. Kebersihan didalam dan diluar rumah harus dijaga, rumah harus mempunyai jamban
sehat dan sumber air bersih.
7. Air buangan dan pembuangan harus diatur dengan baik, agar nyamuk, lalat dan tikus
tidak berkeliaran di dalam dan disekitar rumah.

Mengetahui masalah kesehatan anak merupakan suatu hal yang sangat penting diketahui
oleh orang tua dengan mengenal tanda/gejala dari suatu gangguan kesehatan bisa
memudahkan orang tua dalam melakukan pencegahan terhadap terjadinya penyakit
(Notoatmodjo, 2011). Orang tua harus mengenal tanda dan gejala ISPA, dan faktor-faktor
yang mempermudah balita unuk terkena ISPA.
Status kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu pejamu (host), agen
penyakit (agent) dan lingkungan (environment) seperti ditunjukkan pada (Gambar 3). Ketiga
faktor tersebut akan berinteraksi dan menimbulkan hasil positif maupun negatif. Hasil
interaksi akan menimbulkan keadaan sehat sedangkan interaksi yang negatif akan
memberikan keadaan sakit (Notoatmodjo, 2011:37)

2.8. TATALAKSANA
Menurut Rasmaliah (2005) penatalaksan ISPA ada tiga:
1. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan
sebagainya.

2. Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol per oral. Bila penderita tidak
mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kotrimoksasol keadaan
penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin,
amoksisilin atau penisilin prokain.
3. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah,
untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak
mengandung zat yang merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin.
Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala
batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah
(eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang
tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama
10 hari. Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan tanda bahaya harus diberikan
perawatan khusus untuk pemeriksaan selanjutnya.

Perawatan Dirumah
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita
ISPA:
1. Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan
parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera
dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara
pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan
diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada
air (tidak perlu air es).
2. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis
½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali
sehari.
3. Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih
sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang
menyusu tetap diteruskan.
4. Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari
biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan
menambah parah sakit yang diderita.
5. Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-
lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk
mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan
lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap.
Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk
membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat
antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan
dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik,
usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk
pemeriksaan ulang.

2.2.1. Pencegahan dan Pemberantasan


Pencegahan dapat dilakukan dengan :
1. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
2. Immunisasi.
3. Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan.
4. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Kejadian ISPA


Beberapa faktor seperti status demografi, faktor internal/faktor balita dan faktor
eksternal/kondisi rumah, dapat mempengaruhi kejadian ISPA.
1.2.1 Status Sosial Demografi
a. Pendidikan dan Penghasilan Orang Tua

Status sosial ekonomi diantaranya unsur pendidikan, serta penghasilan keluarga, juga
berperan penting dalam menciptakan rumah sehat. Tingkat pendidikan masyarakat
berkaitan erat dengan perolehan pekerjan yang layak bagi orang tua. Tingkat pendidikan
yang rendah menyebabkan hasil yang diperoleh juga rendah atau pas-pasan. Tingkat
penghasilan yang rendah menyebabkan orang tua sulit menyediakan fasilitas perumahan
yang baik, perawatan kesehatan dan gizi anak yang memadai. Rendahnya status gizi anak
menyebabkan daya tahan tubuh berkurang dan mudah terkena penyakit infeksi termasuk
ISPA.
1.2.2 Faktor Internal/Faktor Pada Balita

Menurut Depkes (2004) faktor internal merupakan suatu keadaan didalam diri penderita
(balita) yang memudahkan untuk terpapar dengan bibit penyakit (agent) ISPA yang
meliputi jenis kelamin, umur, berat badan lahir, status gizi, dan status imunisasi.
2.8 PENGOBATATAN ISPA
Terapi Utama
Antibiotik
1. Definisi Antibiotik
Antibiotik merupakan zat anti bakteri yang diproduksi oleh berbagai spesies
mikroorganisme (bakteri, jamur, dan actinomycota) yang dapat menekan pertumbuhan atau
membunuh mikroorganisme lainnya. Beberapa antibiotik merupakan senyawa sintetis (tidak
dihasilkan oleh mikroorganisme) yang juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan
bakteri. Secara teknis istilah agen antibakteri mengacu kepada keduanya tetapi banyak orang
yang lebih menggunakan istilah antibiotik. Meskipun antibiotik memiliki banyak manfaat,
tetapi penggunannya telah berkontribusi terhadap terjadinya resistensi.
Antibiotik untuk Pengobatan ISPA
Berikut adalah beberapa antibiotik yang sering digunakan untuk pengobatan ISPA:
Berikut adalah beberapa antibiotik yang sering digunakan untuk pengobatan ISPA:
a. Amoksisilin
Amoksisilin adalah antibiotik derivat penisilin yang termasuk dalam golongan
aminopenisilin yang berspektrum luas dengan mekanisme kerja menghambat sintesis
dinding sel bakteri yang mencakup E. Coli, Streptococcus pyogenes, Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae, Neisseria gonorrhoeae. Penambahan gugus
β-laktamase inhibitor seperti klavulanat memperluas cakupan hingga Staphylococcus
aureus, Bacteroides catarrhalis. Sehingga saat ini amoksisilin klavulanat merupakan
alternatif bagi pasien yang tidak dapat mentoleransi alternatif lain setelah resisten
dengan amoksisilin (Depkes RI, 2005).
Selain amoksisilin, ampisilin juga termasuk antibiotik golongan penisilin yang dapat
digunakan untuk pengobatan ISPA. Ampisilin tahan asam tetapi tidak tahan terhadap
enzim penisilinase (Siswandono & Soekardjo, 200). Mencakup banyak basil gram-
negatif yang tidak peka untuk pen-G, misalnya Hoemophilus influenza, E. coli,
Salmonela, dan beberapa suku proteus tidak aktif terhadap pseudomonas dan
enterococci. Khasiatnya terhadap kuman-kuman gram positif lebih ringan daripada
penisilin–penisilin spektrum sempit (Tjay & Raharja, 2007). Efek samping lebih
sering daripada penisilin lain yaitu menimbulkan reaksi alergi kulit (kemerah-
merahan) dan diare.
Aspek InformasiObat Pustaka

Komposisi Amoksisilintrihidrat 125mg/5ml A to Z drug Fact

 Infeksi akut otitis media


 Infeksi saluran pernafasan
 Pneumonia
Indikasi  Akut dan kronis bronkitis MIMS
 Penyakit Lyme
 Urethritis

- 9 bln – 2 thn : sehari 3 x 2,5 ml sirup 125


mg/ 5 ml
Dosis - 2-7 thn : 3 x 5 ml sirup 125 mg/ 5ml ISO vol. 49
- 7 -12 thn : 3 x 10 ml sirup 125 mg/ 5 ml

Hipersensitivitas terhadap penisilin dan


Kontraindikasi Medscape
sefalosporin

- Hipersensitivitas
- Anemia hemolitik
- Agitasi
EfekSamping - Ansietas Medscape
- Pusing
- Mual
- Muntah

Kehamilan kategori B
Perhatian Hipersensitivitas terhadap sefalosporin dan Medscape
kerusakan renal

b. Kotrimoksasol
Antibiotik ini bersifat bakterisidika dengan spektrum kerja luas. Reabsorbsinya baik
dan cepat, kurang dari 4 jam mencapai puncak plasma dalam darah dan distribusinya
untuk semua jaringan. Dieksresi melalui ginjal sebagai zat aktif, saat ini banyak
digunakan sebagai desinfektan saluran kemih, terutama terhadap E. coli dan
enterobacteri untuk mengobati gonorrhaeae dan infeksi saluran pernafasan, untuk
pengobatan terhadap tifus sama efektifnya dengan ampisilin (Tjay & Raharja, 2007).
Karena efek sampingnya atas sel-sel darah merah, penggunaan lebih lama dari dua
minggu harus disertai pemeriksaan darah, kemungkinan kristaluria dapat dihindari
dengan minum banyak air putih, sebanyak kurang lebih 1.5 liter sehari (Tjay &
Raharja, 2007).

c. Kloramfenikol
Kloramfenikol termasuk antibiotik yang berspektrum luas. Antibiotik ini aktif
terhadap banyak kuman gram-positif dan negatif, kecuali pseudomonas. Termasuk
antibiotik bakteriostatik dengan mekanisme kerja menghambat sintesis protrein
bakteri. Diabsorbsi di usus dengan cepat, difusi ke semua jaringan dan rongga tubuh
sangat baik, diubah menjadi metabolit yang tidak aktif (glukuronida) di dalam hati.
Ekresinya di ginjal, terutama sebagai metabolit inaktif (Tjay & Raharja, 2007).
Obat ini dimetabolisme terutama dihati dan dipenetrasi secara luas, termasuk ke
otak. Efek samping yang merugikan dari kloramfenikol yaitu depresi sumsum
tulang, aplastik anemia yang irreversible, leukopenia, trombositopenia, dan dapat
menyebabkan grey baby sindrom (Anonim, 2001).

d. Makrolida
Eritromisin merupakan prototipe golongan ini sejak ditemukan pertama kali tahun
1952. Komponen lain golongan makrolida merupakan derivat sintetik dari
eritromisin. Derivat tersebut terdiri dari spiramysin, midekamisin, roksitromisin,
azitromisin dan klaritromisin.
Azitromisin memiliki aktivitas yang lebih poten terhadap gram-negatif, volume
distribusi yang lebih luas serta waktu paruh yang lebih panjang. Klaritromisin
memiliki waktu paruh plasma lebih panjang, penetrasi ke jaringan lebih besar serta
peningkatan aktivitas terhadap H. Influenzae, Legionella pneumophila. Sedangkan
roksitromisin memiliki aktivitas setara dengan eritromisin, namun profil
farmakokinetiknya mengalami peningkatan sehingga lebih dipilih untuk
infeksi saluran pernafasan (Depkes RI, 2005).

e. Sefalosporin
Sefalosporin termasuk golongan antibiotika betalaktam. Seperti antibiotik
betalaktam lain, mekanisme kerja antibiotik sefalosporin adalah dengan
menghambat sintesis dinding sel mikroba dengan menghambat reaksi transpeptidase
tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Sefalosporin aktif
terhadap kuman gram-positif maupun garam negatif, tetapi spektrum masing-masing
derivatnya bervariasi.

Saat ini ada empat generasi cefalosporin, seperti tertera pada tabel berikut:
Terapi Suportif
ANALGESIK-ANTIPIRETIK
Obat ini seringkali digunakan untuk mengurangi gejala letargi, malaise,
demam terkait infeksi pernapasan.
Nama Obat : Parasetamol

Aspek InformasiObat Pustaka

Komposisi 1 tablet mengandung 500 mg BNF 66 th


- Nyeri ringan sampai sedang
Indikasi AHFS, 2011
- Menurunkan demam

3-12 bulan = 60 -120 mg


Dosis 1-5 th = 120 – 250 mg Martindale 36th
6-12 th = 250 – 500 mg

Pharmaceutical Care
Hipersensitivitas yang terdokumentasi, untuk Penyakit
Kontraindikasi
defisiensi glukosa-6-fosfat ISPA, Dpkes RI
2005

EfekSamping Jarang terjadi AHFS, 2011

Kehamilan kagegori B
Perhatian Laktasi : terdistribusi dalam ASI Medscape
Hepatotoksik jika melebihi 2g /hari

KORTIKOSTEROID
Kortikosteroid digunakan untuk mengurangi oedema subglotis dengan cara menekan proses
inflamasi lokal. Sampai saat ini efektivitas kortikosteroid masih diperdebatkan, namun hasil
suatu studi meta-analisis menunjukkan bahwa steroid mampu mengurangi gejala dalam 24
jam serta mengurangi kebutuhan untuk intubasi endotrakeal. Kortikosteroid mengatur
mekanisme humoral maupun seluler dari respon inflamasi dengan cara menghambat aktivasi
dan infiltrasi eosinofil, basofil dan mast cell ke tempat inflamasi serta mengurangi produksi
dan pelepasan faktor-faktor inflamasi (prostaglandin, leukotrien). Selain itu kortikosteroid
juga bersifat sebagai vasokonstriktor kuat.
DEXAMETHASON
DEXAMETHASONE

INDIKASI Gangguan rematik, penyakit kolagen, penyakit dermatologis, keadaan


alergi, proses alergi alergi, inflamasi, gangguan hematologi, penyakit
neoplastik, edema serebral yang terkait dengan tumor otak primer atau
metastasis, kraniotomi atau cedera kepala, keadaan edematosa
(disebabkan oleh sindrom nefrotik)
KONTRAINDIKASI Penggunaan IM pada purpura thrombocytopenic idiopatik; pemberian
vaksin virus hidup; monoterapi topikal pada infeksi bakteri primer;
penggunaan intranasal pada infeksi lokal yang tidak diobati yang
melibatkan mukosa hidung;
DOSIS Dosis awal: PO 0.75 sampai 9 mg / hari. Tes Penguji: Sindrom
Cushing: PO 1 mg pada pukul 11 malam
INTERAKSI Aminoglutetimida: Dapat menurunkan penekanan adrenal akibat
dexamethasone. Antolinolinesterase: Dapat melawan efek
antikolinesterase pada miastenia gravis. Antikoagulan, oral: Dapat
mengubah persyaratan dosis antikoagulan.
EFEK SAMPING tromboflebitis; nekrosis angiitis; aritmia jantung atau perubahan EKG;
episode syncopal; hipertensi; ruptur miokard; CHF. SSP: Kejang-
kejang; Tekanan intrakranial meningkat dengan papilledema
(pseudotumor cerebri); vertigo; sakit kepala; neuritis; parestesia;
psikosis
PERHATIAN Kehamilan: Kategori Kehamilan belum ditentukan (penggunaan
sistemik); Kategori C (penggunaan topikal). Laktasi: Ekskresi dalam
ASI. Anak-anak: Mungkin lebih rentan terhadap reaksi merugikan dari
penggunaan topikal daripada orang dewasa

CTM
CTM
INDIKASI Kelegaan sementara bersin, gatal, mata berair, hidung gatal atau tenggorokan,
dan pilek yang disebabkan oleh alergi hayati (alergi) rhinitis atau alergi
pernafasan lainnya.
KONTRAINDIKASI Hipersensitivitas terhadap antihistamin; glaukoma sudut sempit; stenosing tukak
peptik; hipertrofi prostat simtomatik; serangan asma; obstruksi leher kandung
kemih; obstruksi pyloroduodenal; Terapi MAO; gunakan pada bayi yang baru
lahir atau bayi prematur dan ibu menyusui..
DOSIS Dewasa dan Anak di atas 12 tahun: PO 4 mg q 4 sampai 6 jam (bentuk pelepasan
segera) atau 8 sampai 12 mg pada waktu tidur atau q 8 sampai 12 jam (bentuk
pelepasan yang bertahan) (maks, 24 mg / 24 jam).
Anak-anak 6 sampai 12 tahun: PO 2 mg q 4 sampai 6 jam (bentuk pelepasan
segera) atau 8 mg pada waktu tidur atau siang hari seperti yang ditunjukkan
(formulir pelepasan yang bertahan) (maks, 12 mg / 24 jam).
Anak-anak 2 sampai 6 tahun PO (hanya tablet atau sirup; pelepasan yang tidak
dianjurkan) 1 mg q 4 sampai 6 jam (maks, 4 mg / 24 jam).
INTERAKSI Alkohol dan depresan SSP: Dapat menyebabkan efek depresan SSP tambahan.
Inhibitor MAO: Dapat meningkatkan efek antikolinergik dari chlorpheniramine

EFEK SAMPING Hipotensi ortostatik; palpitasi; bradikardia; takikardia; refleks takikardia;


extrasystoles; pingsan
PERHATIAN Kehamilan: Kategori B. Jangan gunakan selama trimester ketiga. Laktasi:
Kontraindikasi pada ibu menyusui. Anak-anak: Overdosis dapat menyebabkan
halusinasi, kejang, dan kematian

DEKONGESTAN
Dekongestan nasal digunakan sebagai terapi simtomatik pada beberapa kasus infeksi saluran
nafas karena efeknya terhadap nasal yang meradang, sinus serta mukosa tuba eustachius. Ada
beberapa agen yang digunakan untuk tujuan tersebut yang memiliki stimulasi terhadap
kardiovaskuler serta SSP minimal yaitu: pseudoefedrin, fenilpropanolamin yang digunakan
secara oral serta oxymetazolin, fenilefrin, xylometazolin yang digunakan secara topikal.
Dekongestan oral bekerja dengan cara meningkatkan pelepasan noradrenalin dari ujung
neuron. Preparat ini mempunyai efek samping sistemik berupa takikardia, palpitasi, gelisah,
tremor, insomnia, serta hipertensi pada pasien yang memiliki faktor predisposisi. Agen
topikal bekerja pada reseptor α pada permukaan otot polos pembuluh darah dengan
menyebabkan vasokonstriksi, sehingga mengurangi oedema mukosa hidung. Dekongestan
topikal efektif, namun pemakaiannya hendaknya dibatasi maksimum 7 hari karena
kemampuannya untuk menimbulkan kongesti berulang. Kongesti berulang disebabkan oleh
vasodilasi sekunder dari pembuluh darah di mukosa hidung yang berdampak pada kongesti.

PHENYL PROPANOLAMIN
PSEUDOEFEDRIN

ANTITUSIVE
KODEIN
DEKSTROMETORFAN

EKSPEKTORAN
GG

Aspek InformasiObat Pustaka

Komposisi 1 tablet mengandung 200 mg Medscape

Indikasi Melancarkan sekresi mukosa bronkial DIH, 17th

6-24 bulan = 25 – 50 mg
2-5 tahun = 50-100mg
Dosis DIH, 17 th
5-11 tahun = 100-200 mg
(diminum setiap 4 jam)

Kontraindikasi - Hipersensitivitas terhadap GG AHFS, 2011


EfekSamping Mual, muntah, nyeri perut, pusing, skin rash Medscape

- Pregnancy = kategori C
- Bebrapa produk mengandung
Perhatian phenylalanin Medscape
- Jika batuk tidak membaik lebih dari
7 hari, hubungi dokter

BROMEKSIN

MUKOLITIK
Mukolitik merupakan obat yang dipakai untuk mengencerkan mukus yang kental, sehingga
mudah dieskpektorasi. Perannya sebagai terapi tambahan pada bronkhitis, pneumonia. Pada
bronchitis kronik terapi dengan mukolitik hanya berdampak kecil terhadap reduksi dari
eksaserbasi akut, namun berdampak reduksi yang signifikan terhadap jumlah hari sakit
pasien. Agen yang banyak dipakai adalah Acetylcystein yang dapat diberikan melalui
nebulisasi maupun oral. Mekanisme kerja adalah dengan cara membuka ikatan gugus sulfidril
pada mucoprotein sehingga menurunkan viskositas mukus.

Asetil Sistein

Aspek Informasi Obat Pustaka

Komposisi Larutan dalam Nebulizer 10-20 % Medscape

Pengurangan viskositas sekresi mukosa,


komplikasi paru yang terkait dengan cystic
Indikasi fibrosis, pencegahan atau pengurangan A to Z Drug Facts
kerusakan hati setelah konsumsi
asetaminofen yang berpotensi toksik
Nebulizer : 1 sampai 10 ml, 2 sampai 6 jam
Dosis A to Z Drug Facts
biasanya 3 atau 4 kali sehari

- Hipersensitivitas terhadap
Kontraindikasi A to Z Drug Facts
asetilsistein

EfekSamping Mual, muntah, bronkokonstriksi, demam Medscape

- Pregnancy = kategori B
- Meningkatkan sekresi volume
Perhatian A to Z Drug Facts
bronkial

BRONKODILATOR
Penggunaan klinik bronkhodilator pada infeksi pernapasan bawah adalah pada kasus
bronkhitis kronik yang disertai obstruksi pernapasan.

SALBUTAMOL
PHENOBARBITAL

Aspek InformasiObat Pustaka

MIMS
Komposisi Phenobarbital Na
ISO Vol 49

Pengobatan jangka pendek untuk insomnia;


pengobatan jangka panjang kejang fokus
klonik-klonik dan kortikal generalisata;
Indikasi kontrol darurat terhadap kejang akut; obat A to Z drug fact
penenang preanestetik.
Penggunaan tanpa label: Pengobatan kejang
demam pada anak-anak; pengobatan dan
pencegahan hiperbilirubinemia pada
neonatus; pengelolaan kolestasis kronis

Sedasi

DEWASA: PO 30 sampai 120 mg / hari


A to Z
dalam 2 sampai 3 dosis terbagi.
Dosis Drug fact
MARTINDLE p492
Epilepsi

DEWASA: PO 60 sampai 250 mg / hari

Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap


barbiturat atau komponen formulasi;
Kontraindikasi DIH
ditandai gangguan hati; dispnea atau
obstruksi jalan nafas; porfiria; kehamilan

CV: Bradikardia; hipotensi; sinkop SSP:


Mengantuk; agitasi; kebingungan;
kegelisahan; sakit kepala; hiperkinesia;
ataxia; Depresi SSP; kegembiraan paradoks;
mimpi buruk; gangguan kejiwaan;
halusinasi; insomnia; pusing. GI: Mual;
muntah; sembelit. HEMA: Dislrasi darah
A to Z
EfekSamping (misalnya agranulositosis, trombositopenia).
Drug fact
HEPA: Kerusakan hati. RESP:
Hipoventilasi; apnea; laringospasme;
bronkospasme LAINNYA: Reaksi
hipersensitivitas (misalnya angioedema,
ruam, dermatitis eksfoliatif); demam; reaksi
di tempat suntikan (misalnya nyeri lokal,
tromboflebitis).
Kehamilan: Kategori D. Laktasi: Ekskresi
dalam ASI. Lansia: Lebih peka terhadap
efek obat; diperlukan pengurangan dosis.
Pasien yang lemah: Gunakan obat dengan
sangat hati-hati. Penyalahgunaan: Berikan
obat dengan hati-hati kepada pasien dengan
riwayat penyalahgunaan obat terlarang.
A to Z
Perhatian Ketergantungan: Toleransi atau
Drug fact
ketergantungan psikologis dan fisik dapat
terjadi dengan terus digunakan. Kerusakan
ginjal atau hati: Gunakan obat dengan hati-
hati; Pengurangan dosis mungkin
diperlukan. Gangguan kejang: Status
epilepticus bisa terjadi akibat penghentian
tiba-tiba.