Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.2 Evaporasi
Evaporasi adalah proses pengentalan larutan dengan cara
mendidihkan atau menguapkan pelarut. Di dalam pengolahan hasil
pertanian proses evaporasi bertujuan untuk, meningkatkan larutan sebelum
proses lebih lanjut, memperkecil volume larutan, menurunkan aktivitas air
aw (Praptiningsih 1999).
Di dalam pengolahan hasil pertanian proses evaporasi bertujuan untuk
(Wirakartakusumah, 1989):
1. Meningkatkan konsentrasi atau viskositas larutan sebelum diproses
lebih lanjut. Sebagai contoh pada pengolahan gula diperlukan proses
pengentalan nira tebu sebelum proses kristalisasi, spray drying, drum
drying dan lainnya
2. Memperkecil volume larutan sehingga dapat menghemat biaya
pengepakan, penyimpanan dan transportasi
3. Menurunkan aktivitas air dengan cara meningkatkan konsentrasi solid
terlarut sehingga bahan menjadi awet misalnya pada pembuatan susu
kental manis
Sebagai bagian dari suatu proses di dalam pabrik, alat evaporasi
mempunyai dua fungsi, yaitu merubah panas dan memindahkan uap yang
terbentuk dari bahan cair. Ketentuan-ketentuan penting pada praktek
evaporasi adalah (Earle, 1982) :
1. Suhu maksimum yang diperkenankan yaitu sebagian besar dibawah 212
F.
2. Promosi perputaran bahan cair melalui permukaan pindah panas, untuk
mempertahankan koefisien pindah panas yang tinggi dan untuk
menghindari setiap pemanasan global yang terlalu tinggi.
3. Kekentalan bahan cair yang selalu meningkat dengan cepat karena
meningkatnya jumlah bahan yang tidak terlarut.
4. Setiap kecenderungan untuk berbusa yang mempersulit pemisahan
bahan cair dengan uap
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan dan mempengaruhi
kecepatan pada proses evaporasi adalah (Earle, 1969) :
a. Kecepatan hantaran panas yang diuapkan ke bahan
b. Jumlah panas yang tersedia dalam penguapan
c. Suhu maksimu yang dapat dicapai
d. Tekanan yang terdapat dalam alat yang digunakan
e. Perubahan-perubahan yang mungkin terjadi selama proses penguapan.
Sedangkan menurut Buckle (1987), dalam prakteknya ada beberapa
faktor yang harus diperhatikan selama proses penguapan meliputi :
a. sirkulasi udara sehingga proses penghantaran panas tinggi.
b. terjadinya kenaikan viskositas
c. terbentuknya deposit pada evaporator
d. kehilangan aroma kelarutan zat padat.
Mekanisme kerja evaporator adalah steam yang dihasilkan oleh alat
pemindah panas, kemudian panas yang ada (steam) berpindah pada bahan
atau larutan sehingga suhu larutan akan naik sampai mencapai titik didih.
Steam masih digunakan atau disuplay sehingga terjadi peningkatan tekanan
uap. Di dalam evaporator terdapat 3 bagian, yaitu (Gaman, 1994) :
1. Alat pemindah panas
Berfungsi untuk mnsuplai panas, baik panas sensibel (untuk
menurunkan suhu) maupun panas laten pada proses evaporasi. Sebagai
medium pemanas umumnya digunakan uap jenuh.
2. Alat pemisah
Berfungsi untuk memisahkan uap dari cairan yang dikentalkan.
3. Alat pendingin
Berfungsi untuk mengkondnsasikan uap dan memisahkannya. Alat
pendingin ini bisa ditiadakan bila sistem bekerja pada tekanan atmosfer.
Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam proses evaporasi
Selama proses evaporasi dapat terjadi perubahan-perubahan pada
bahan, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Perubahan-
perubahan yang terjadi antara lain perubahan viskositas, kehilangan aroma,
kerusakan komponen gizi, terjadinya pencokelatan dll (Tejasari, 1999).
Pemekatan dapat dilakukan melalui penguapan, proses melalui
membrane, dan pemekatan beku. Peralatan yang digunakan untuk
memindahkan panas ke bahan bermacam-macam bentuk dan jenisnya.
Penggunaan bermacam-macam peralatan ini akan berpengaruh pada
kemudahan penguapan dan retensi zat gizi. Pada waktu air menguap dan
larutan menjadi pekat, terjadi beberapa perubahan penting. Pertama zat
terlarut reaktif menjadi lebih pekat dan laju kerusakan kimiawi dapat
meningkat. Kedua terjadikenaikan titik didih. Ketiga viskositas larutan
meningkat dengan tajam, jika viskositas meningkat, maka cairan menjadi
sulit dipanaskan. Kesulitan ini menyebabkan penyebaran suhu yang tidak
seragam sehingga dapat terjadi bercak panas dan hangus. Hal ini sangat
mempengaruhi retensi zat gizi. Sebagai contoh adalah susu dan produk
olahannya yang merupakan produk umum dengan kadar protein tinggi yang
dipekatkan. Karena adanya gula reduksi kerusakan terjadi pada lisin. Hasil
riset tahum 1960 menunjukkan bahwa pada susu kental manis yang diolah
dengan retort pada suhu 113° C Selma 15 menit, retensi lisin yang tersedia
adalah 80%. Sedangkan pada susu kental manis yang tidak diolah dengan
retort retensi lisin yang tersedia adalah 97%. Kerusakan vitamin pada
proses pemekatan hamper tidak terjadi selama proses pemekatan itu
dilakukan dengan benar. Sari buah yang dikentalkan pada suhu rendah
menunjukkan retensi menunjukkan retensi vitamin C sebesar 92 – 97%.
Thiamin adalah perkecualian, selama pemekatan zat ini dapat mengalami
susut sebesar 14 – 27%. Retensi zat gizi juga dipengaruhi oleh lama waktu
pemanasan larutan di dalam evaporator. Semakin lama lama pemanasan
maka retensi zat gizi semakin menurun (Tejasari, 1999)
Besarnya suhu dan tekanan evaporator sangat berpengaruh terhadap
proses penguapan cairan. Semakin tinggi maka semakin cepat proses
evaporasi, tetapi dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan yang dapat
menurunkan kualitas bahan (Gaman, 1994).
II.1.2. Partisi Cair-Cair
Partisi adalah proses pemisahan untuk memperoleh komponen zat terlarut dari
campurannya dalam padatan dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Dapat juga
didefenisikan sebagai dispersi komponen kimia dari ekstrak yang telah dikeringkan
dalam suatu pelarut yang sesuai berdasarkan kelarutan dari komponen kimia dan zat-zat
yang tidak diinginkan seperti garam-garam tidak dapat larut. Operasi ekstraksi ini dapat
dilakukan dengan mengaduk suspensi padatan di dalam wadah dengan atau
tanpa pemanasan (Najib, 2013).
Metode Partisi Ekstraksi Cair – Cair :
Ekstraksi cair-cair adalah proses pemisahan zat terlarut di dalam 2
macam zat pelarut yang tidak saling bercampur atau dengan kata lain
perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik, dan pelarut air.
Hal tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang dapat larut
air dan ada pula senyawa yang larut dalam pelarut organik. Satu komponen
dari campuran akan memiliki kelarutan dalam kedua lapisan tersebut
(biasanya disebut fase) dan setelah beberapa waktu dicapai keseimbangan
biasanya dipersingkat oleh pencampuran kedua fase tersebut dalam corong
pisah (Najib, 2008). Kerap kali sebagai pelarut pertama adalah air
sedangkan sebagai pelarut kedua adalah pelarut organik yang tidak
bercampur dengan air. Dengan demikian ion anorganik atau senyawa
organik polar sebagian besar terdapat dalam fase air, sedangkan senyawa
organik non polar sebagian besar akan terdapat dalam fase air, sedangkan
senyawa organik non polar sebagian besar akan terdapat dalam fase
organik. Hal ini yang dikatakan “ like dissolves like “, yang berarti bahwa
senyawa polar akan mudah larut dalam pelarut polar, dan sebaliknya
(Dirjen POM, 1979). Jika suatu cairan ditambahkan ke dalam ekstrak yang
telah dilarutkan dalam cairan lain yang tidak dapat bercampur dengan yang
pertama, akan terbentuk dua lapisan. Satu komponen dari campuran akan
memiliki kelarutan dalam kedua lapisan tersebut (biasanya disebut fase)
dan setelah beberapa waktu dicapai kesetimbangan konsentrasi dalam
kedua lapisan. Waktu yang diperlukan untuk tercapainya kesetimbangan
biasanya dipersingkat oleh pencampuran kedua fase tersebut dalam corong
pisah (Tobo, 2001). Kelarutan senyawa tidak bermuatan dalam satu fase
pada suhu tertentu bergantung pada kemiripan kepolarannya dengan fase
cair, menggunakan prinsip ”like disolves like”. Molekul bermuatan yang
memiliki afinitas tinggi terhadap cairan dengan sejumlah besar ion
bermuatan berlawanan dan juga dalam kasus ini ”menarik yang
berlawanan”, misalnya senyawa asam akan lebih larut dalam fase air yang
basa daripada yang netral atau asam. Rasio konsentrasi senyawa dalam
kedua fase disebut koefisien partisi. Senyawa yang berbeda akan
mempunyai koefisien partisi yang berbeda, sehingga jika satu senyawa
sangat polar, koefisien partisi relatifnya ke fase polar lebih tinggi daripada senyawa non-
polar (Tobo, 2001). Fraksinasi selanjutnya yaitu suau senyawa hanya ada dalam satu
fase, hal ini dapat dicapai dengan ekstraksi fase awal berturut-turut dengan fase yang
berlawanan. Lebih baik menggunakan elusi berurytan dengan volume relatif kecil
dibandingkan dengan satu kali elusi keseluruh volume (Tobo, 2001).
II.2 Uraian Tanaman
II.2.1 Tanaman Waru
Klasifikasi tanaman waru (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hubiscus
Spesies : Hibiscus tiliaceus L.V Waru
(Hibiscus tiliaceus)
1. Morfologi
Tanaman ini tumbuh dengan mencapai ketinggian 5-15 mter, garis
tegah batang 40-50 cm, bercabang dan bewarna kecoklatan. Daun
tanaman ini tunggal, bertangkai, berbentung jantung, lingkaran besar
atau bulat telur, tidak memiliki lekukan dengan diameter daun mencapai
19 cm. Daun menjari, sebagian daun memiliki tulang daun utama
dengan kelenjar berbentuk celah dengan sisih bawah dan sisi pangkal
memiliki rambut dengan warna abu – bau rapat. Daun ini juga ditandai
dengan adanya tanda bekas hampir menyerupai cincin. Bunga tanaman
waru berbunga tunggal dengan tajuk 8-11, panjang kelopak mencapai
2-3 cm yang beraturan. Daun mahkota berbentuk hampir menyerupai
kipas, dengan panjang 5-7 cm berwarna kuning noda unggu pada
pangkal, bagian dalam berwarna oranye dan akan berubah menjadi
kemerah – merahan. Bakal buah tanaman ini beruang 5, tiap bakal buah
akan dibagi sekat semu, dengan banyak bakal biji. Buah ini pada
umumnya, bebentuk bulat telur berparuh pendek dengan panjang 3 cm,
berunag 5 tidak sempurna, yang akan membuka5 katup (Syamsuhidayat
dan Hutapea, 1991)
2. Kandungan Kimia
Kandungan kimia daun dan akar tanaman waru ini adalah saponin
dan flavononid, disamping itu tanaman ini juga mengandung lima
senyawa fenol. Sedangkan bagian akar mengandung tanin
(Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991)
3. Manfaat
Tanaman ini juga sangat bermanfaat sebagai bahan atau obat
alternatif untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit didalam
tubuh seperti menurunkan panas, daun wari dapat membantu
pertumbuhan rambut, sebagai obat batuk, diare berdarah/ berlendir,
amandel. Bunga ini juga dapat dimanfaat untuk mengobati trauma dan
juga masuk angin (Martodisiswojo da rajakwangun, 1995).
II.2.2 Tanaman Sirih (Pradhan et al.,2013)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliphyta
Kelas : Magnolipsida
Ordo : Piperales
Family : Piperaceae
Genus : Piper
Sirih
Spesies : Piper betle L (Piper betle)
1. Morfologi
Sirih merupakan tanaman terna, tumbuh merambat atau menjalar
menyerupai tanaman lada. Tinggi tanaman bisa mencapai 15 m,
tergantung pada kesuburan media tanam dan media untuk merambat.
Batang sirih berwarna cokelat kehijauan, berbentuk bulat, berkerut, dan
beruas yang merupakan tempat keluarnya akar. Morfologi daun sirih
berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling,
bertangkai, teksturnya agak kasar jika diraba, dan mengeluarkan bau
khas aromatis jika diremas. Panjang daun 6-17,5 cm dan lebar 3,5-10
cm.Sirih memiliki bunga majemuk yang berbentuk bulir dan merunduk.
Bunga sirih dilindungi oleh daun pelindung yang berbentuk bulat
panjang dengan diameter 1 mm. Buah terletak tersembunyi atau buni,
berbentuk bulat, berdaging, dan berwarna kuning kehijauan hingga hijau
keabu-abuan. Tanaman sirih memiliki akar tunggang yang bentuknya
bulat dan berwarna cokelat kekuningan (Koensoemardiyah, 2010).
2. Kandungan kimia sirih
Sirih merupakan tanaman yang berasal dari family Piperaceae yang
memiliki ciri khas mengandung senyawa metabolit sekunder yang
biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh
hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan
lain dalam mempertahankan ruang hidup. Menurut Hutapea (2000),
senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman sirih berupa
saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri triterpenoid, minyak
atsiri (yang terdiri atas khavikol, chavibetol, karvakrol, eugenol,
monoterpena, estragol), seskuiterpen, gula, dan pati. Menurut Dalimartha
(2006), Kandungan minyak atsiri yang terdapat pada daun sirih juga
berkhasiat sebagai insektisida alami. Disamping itu, kandungan minyak
atsiri yang terkandung di dalam daun sirih juga terbukti efektif
digunakan sebagai antiseptic.
3. Manfaat sirih
Daun sirih mempunyai bau aromatik khas, bersifat pedas, dan
hangat. Sirih mempunyai manfaat sebagai antiradang, antiseptik,
antibakteri. Bagian tanaman yang dapat digunakan adalah daun, akar,
dan bijinya. Daunnya digunakan untuk mengobati bau mulut, sakit mata,
keputihan, radang saluran pernapasan, batuk, sariawan, dan mimisan
(Mooryati,1998).
Sirih juga berpotensi sebagai insektisida alami yang bersifat
sebagai pestisida yang ramah lingkungan (Wijaya, dkk, 2004).
II.2.3 Awar-awar (van Steenis, 1975)
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Urticales
Family : Moraceae
Genus : Ficus
Species : Ficus septica Burm. F. Awar-awar
(Ficus septica)
1. Morfologi tanaman
Pohon atau semak tinggi tegak 1-5 meter. Batang pokok bengkok
bengkok, lunak, ranting bulat silindris, berongga, gundul, bergetah
bening. Daun penumpu tunggal, besar, sangat runcing, daun tunggal,
bertangkai, duduk daun berseling atau berhadapan, bertangkai 2,53 cm.
Helaian berbentuk bulat telur atau elips, dengan pangkal membulat,
ujung menyempit cukup tumpul, tepi rata, 9-30 kali 9-16 cm, dari atas
hijau tua mengkilat, dengan banyak bintik-bintik yang pucat, dari bawah
hijau muda, sisi kiri kanan tulang daun tengah dengan 6-12 tulang daun
samping; kedua belah sisi tulang daun menyolok karena warnanya yang
pucat. Bunga majemuk susunan periuk berpasangan, bertangkai pendek,
pada pangkaInya dengan 3 daun pelindung, hijau muda atau hijau abu-
abu, diameter lebih kurang 1,5 cm, pada beberapa tanaman ada bunga
jantan dan bunga gal, pada yang lain bunga betina. Buah tipe periuk,
berdaging , hijau-hijau abu-abu, diameter 1,5 – 2 cm. Waktu berbunga
Januari – Desember. Tumbuhan ini banyak ditemukan di Jawa dan
Madura; tumbuh pada daerah dengan ketinggian 1200 m dpl, banyak
ditemukan di tepi jalan, semak belukar dan hutan terbuka (van Steenis,
1975).
2. Manfaat
Daun digunakan untuk obat penyakit kulit, radang usus buntu,
mengatasi bisul, gigitan ular berbisa dan sesak napas. Akar digunakan
untuk penawar racun ikan dan penanggulangan asma. Perasan air dari
tumbukan akar awar-awar dan adas pulowaras dapat digunakan
untuk mengobati keracunan ikan, gadung dan kepiting. Jika ditumbuk
dengan segenggam akar alang-alang dan airnya diperas merupakan obat
penyebab muntah yang sangat manjur. Untuk obat bisul dipakai ± 5
gram daun segar Ficus septica Burm., ditumbuk sampai lumat,
kemudian ditempelkan pada bisul. Getah dimanfaatkan untuk mengatasi
bengkak-bengkak dan kepala pusing. Buah untuk pencahar (van Steenis,
1975).
3. Kandungan kimia
Daun Ficus septica Burm. mengandung senyawa flavonoid
genistin dan kaempferitrin, kumarin, senyawa fenolik, pirimidin dan
alkaloid antofin, saponin triterpenoid, sterol, saponin dan tanin. Daun
dan batang mengandung alkaloid isotylocrebin dan tylocrebin (Wu et
al., 2002)
II.2.4 Lempuyang Gajah (Surjaningrat, 1978)
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber Lempuyang gajah
Spesies : Zingiber zerumbet SM. (Zingiber zerumbet)
1. Morfologi
Tumbuhan semak semusim, tinggi lebih kurang 1 meter. Batang
tegak, semu, membentuk rimpang. Daun tunggal, bentuk lanset, ujung
dan pangkal runcing, tepi rata, permukaan licin, panjang 24-40 cm, lebar
10-15 cm, warna hijau muda. Bunga majemuk, bentuk bongkol, tumbuh
dari pangkal rimpang, warna merah. Buah bulat panjang, diameter lebih
kurang 4 mm, warna hitam (Wahyuni, 2013).
2. Kandungan
Kandungan yang ada dalam lempuyang gajah ini cukup banyak,
diantaranya adalah minyak atsiri, sama dengan lempuyang pahit yang
terdiri dari dipenten, sineol, akurkumin, kariofilen, limonen, kadinen,
humulenepoksid I, II, III, kariofilenoksid, humulenol I, II, heksahidro
humulenon, heksahidrohumulenol II dan zerumbonoksid. Kandungan
lain yang ada dalam lempuyang gajah ini adalah lasetilafzelin (Wahyuni,
2013).
3. Khasiat
Dengan banyaknya kandungan dalam lempuyang gajah seperti
yang sudah disebutkan diatas, lempuyang gajah memiliki banyak
manfaat. Diantaranya adalah sebagai berikut (Wahyuni, 2013) :
1. Lempuyang gajah bisa untuk mengobati sakit empedu
2. Lempuyang gajah juga bisa untuk menambah nafsu makan
3. Lempuyang gajah bisa digunakan sebagai obat luar untuk mengatasi
penyakit kulit seperti borok
4. Lempuyang gajah juga ampuh untuk mengatasi disentri serta diare
5. Lempuyang gajah bisa digunakan untuk mengobati anak yang
mengalami sakit perut atau kejang
6. Pada kelinci, lempuyang bisa menghambat gerakan peristaltik di
usus halus
7. Lempuyang gajah juga bisa digunakan untuk mengobati sakit kuning
8. Lempuyang gajah bisa digunakan untuk membersihkan serta
menetralkan darah
9. Lempuyang gajah yang masih muda bisa dimakan secara langsung
sebagai lalap
II.3 Uraian Bahan
1. Methanol (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Metanol
Nama Lain : Metanol
RM/BM : CH3OH/34,00 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, bau khas


Kelarutan :.Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan
.jernih tidak berwarna
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Sebagai pelarut
2. Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Aethanolum
Nama lain : Etanol, Alcohol, Ethyl alkohol
RM/BM : C2H5OH/46,07 gr/mol
Rumus struktur :
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform I
dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
ditempat sejuk, jauh dari nyala api.
Kegunaan : Untuk mensterilkan alat.
3. N-Heksan (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Hexaminum
Nama Lain : Heksamina
RM/BM : C6H12N4/140,19
Rumus Struktur :

Pemerian :Hablur mengkilap tidak berwarna atau serbuk hablur


putih, tidak berbau, rasa membakar dan manis
kemudian agak pahit, jika dipanaskan pada suhu
lebih kurang 260o menyublim
Kelarutan :Larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5 mL etanol
(95%) P dan dalam lebih kurang 10 bagian
kloroform P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai Pereaksi
II.3 Prosedur Kerja
1. Evaporasi I
a. Siapkan alat dan bahan
b. Rangkailah alat pemanas
c. Siapkan ekstrak maserasi, perkolasi dan refluks kemudian
masukkan kedalam 3 wadah yang berbeda
d. Wadah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah pemanas
yang sudah dipanaskan terlebih dahulu. Wadah pemanasan jangan
ditutup
e. Arahkan kipas angin pada wadah pemanasan, usahakan juga
mengenai wadah 1agar terjadi proses penguapan yang
berkesinambungan
f. Lakukan proses evaporasi samapi ekstrak tersebut mengental.
AWAS JANGAN SAMPAI MENGHITAM
g. Timbang terlebih dahulu vial kosong
h. Jika sudah mengental, pindahkan ekstrak tersebut ke dalam botol
vial menggunakan sudip
i. Tentukan berapa massa ekstrak kental yang terbentuk
j. Berilah label ekstrak utama
2. Partisi Cair-Cair
a. Siapkan alat dan bahan
b. Rangkailah alat partisi cair-cair
c. Ekstrak soklet seluruhnya dimasukkan ke dalam corong pisah
d. Tambahkan pelarut N-Heksan sebanyak 2x banyak ekstrak pada
wadah II
e. Kocok corong pisah sambil sesekali dilepaskan gas yang terbentuk
f. Diamkan corong pisah sampai terbentuk dua lapisan
g. Pindahkan bagian polar dan bagian non polar yang terbentuk dalam
wadah aluminium yang berbeda dan beri label non polar dan polar
h. Ukurlah berapa mL banyak dari masing-masing bagian
3. Evaporasi II
a. Siapkan alat dan bahan
b. Rangkailah alat pemanas
c. Wadah polar dan non polar dari Partisi Cair-Cair dimasukkan ke
dalam wadah pemanasan yang sudah dipanaskan terlebih dahulu.
Wadah pemanasan jangan ditutup
d. Arahkan kipas angin pada wadah pemanasan, usahakan juga
mengenai wadah 1agar terjadi proses penguapan yang
berkesinambungan
e. Lakukan proses evaporasi samapi ekstrak tersebut mengental.
AWAS JANGAN SAMPAI MENGHITAM
f. Timbang terlebih dahulu vial kosong
g. Jika sudah mengental, pindahkan ekstrak tersebut ke dalam botol
vial menggunakan sudip
h. Tentukan berapa massa ekstrak kental yang terbentuk
i. Berilah label masing-masing ekstrak polar dan ekstrak non polar