Anda di halaman 1dari 14

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Mycobacterium tuberculosis

1. Klasifikasi

Filum : Thallophyta

Kelas : Schizomicetes

Ordo : Actinomycetales

Famili : Mycobacteriaceae

Genus : Mycobacterium

Spesies : Mycobacterium tuberculosis

(Pusdinakes, 1989)

2. Sejarah

Penyakit tuberkulosis sudah dikenal sejak beribu-ribu tahun

sebelum Masehi. Hal ini terbukti dari adanya sisa-sisa penyakit ini yang

didapatkan pada mummi-mummi dari zaman Mesir kuno dan adanya

tulisan tentang penyakit ini dalam Pen Tsao yakni materia medika Cina

yang sudah berumur 5000 tahun. Penyakit ini dulunya bernama

Consumption atau Pthisio dan semula dianggap sebagai penyakit

degeneratif atau penyakit turunan. Barulah Leanneca (1819) yang

pertama-tama menyatakan bahwa penyakit ini suatu infeksi kronik, dan

Koch (1882) dapat mengidentifikasikan kuman penyebabnya. Penyakit ini

dinamakan tuberkulosis karena terbentuknya nodul yang khas yakni


6

tuberkel. Hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang

paling banyak adalah paru-paru (Soeparman dan Waspadji, 1990).

3. Distribusi Geografis

Infeksi ini tersebar luas di seluruh dunia. Sumber infeksi

tuberkulosis pada manusia adalah penderita tuberkulosis , tetapi ternak

penghasil susu juga dapat berperan. Tingginya angka kesakitan, beratnya

penyakit dan jenis-jenis gejala klinik yang ditimbulkannya dipengaruhi

oleh keadaan sosial ekonomi, faktor keturunan dan ras dan berbagai faktor

lainnya (Soedarto , 1995).

4. Morfologi dan Fisiologi

Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman batang lurus atau

agak bengkok, berukuran panjang 1 sampai 4 µ dan lebar 0,2 sampai 0,8

µ, dapat sendiri-sendiri atau berkelompok. Kuman ini tidak bergerak, tidak

berspora dan tidak bersimpai. Kuman ini bersifat Gram positif dan tahan

asam ( Gupte, 1990). Sifat tahan asam ini berkaitan dengan kandungan

lemak dan lilin yang sangat tinggi pada kuman ini. Hal ini menyebabkan

susah untuk diwarnai; akan tetapi, sekali terwarnai basil tersebut sangat

resisten terhadap pemudaran warna (Volk dan Wheeler, 1990).

Unsur-unsur basil tuberkel :

a. Lipid

Mencakup asam mikolat, lilin dan fosfatida. Lipid dalam batas-batas

tertentu bertanggung jawab terhadap sifat tahan asam bakteri.


7

b. Protein

Protein dapat memacu reaksi tuberkulin.

c. Polisakarida

Peranannya pada patogenesis tuberkulosis tidak jelas (Jawetz dkk,

1996).

Dikenal 3 macam tipe yaitu :

a. Mycobacterium tuberculosis tipe human.

b. Mycobacterium tuberculosis tipe bovine.

c. Mycobacterium tuberculosis tipe avian .

Kuman ini tidak dapat tumbuh pada media biasa, tetapi dapat

tumbuh lambat pada serum yang diuapkan, telur yang dikoagulasi atau

media kentang. Setelah diinkubasi selama 10-20 hari pada suhu 37 0C,

koloni tampak kecil kering dengan permukaan yang berombak. Suhu

optimal untuk tipe humane dan bovine 37 0C, sedangkan untuk tipe avian

suhu optimalnya 400C. Kuman dapat tumbuh pada pH media 6,0-7,6 dan

dalam pertumbuhannya membutuhkan O2 (Pusdiknakes, 1989).

Kuman tuberkulosis cepat mati dengan sinar matahari langsung,

tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab.

Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama

beberapa tahun (DEPKES RI, 2002).

5. Cara Penularan

Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif. Pada

waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam


8

bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat

bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat

terinfeksi bila droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan

(DEPKES RI, 2002)

6. Patogenesis

Tuberkulosis paru pada manusia dapat dijumpai dalam 2 bentuk

yaitu :

a. Tuberkulosis primer

Bila penyakit terjadi pada infeksi pertama kali.

b. Tuberkulosis paska-primer

Bila penyakit timbul setelah beberapa waktu seorang terkena infeksi

primer menyembuh, dan merupakan yang terpenting oleh karena

merupakan bentuk yang paling sering ditemukan, dan dengan

terdapatnya kuman dalam sputum merupakan sumber penularan

(Junadi dkk, 1982).

7. Gejala klinik

Gejala klinik tuberkulosis tergantung pada jenis proses dan

beratnya kelainan. Oleh karena itu gejala-gejala dan keluhan penderita

sangat berbeda-beda tergantung lokalisasi dan parahnya penyakit

(Soedarto, 1995). Tuberkulosis paru menahun sering ditemukan secara

kebetulan misalnya pada survey atau check up rutin. Tidak ada gejala yang

khas. Gejala dapat akut, sub akut, tetapi lebih sering menahun (Amin dkk,

1993).
9

Gejala klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :

a. Gejala respiratorik

1) batuk lebih dari 3 minggu

2) batuk darah

3) sesak napas

4) nyeri dada

b. Gejala sistemik

1) demam

2) gejala sistemik lain : malaise, keringat malam, anoreksia, berat

badan menurun

Gejala-gejala di atas dijumpai pula pada penyakit paru selain

tuberkulosis. Oleh sebab itu setiap orang dengan gejala seperti di atas

harus dianggap sebagai seorang tersangka penderita tuberkulosis dan perlu

dilakukan pemeriksaan sputum secara mikroskopis langsung (DEPKES

RI, 2002).

8. Diagnosa

Diagnosa tuberkulosis paru seperti juga pada penyakit lainnya

memegang peranan amat penting dalam pengobatannya (Aditama, 1996).

Dikenal berbagai macam cara untuk menegakkan diagnosa tuberkulosis,

antara lain dengan pemeriksaan rontgen, pemeriksaan bakteriologis,

imunologis, pemeriksaan klinis dan yang sekedar melalui gejalanya saja.

Semua cara itu secara sendiri-sendiri tidak ada yang dapat mendiagnosa

tuberkulosis secara dini, karena adanya keterbatasan-keterbatasan. Oleh


10

karena itu penggabungan beberapa cara sekaligus dinilai lebih bermanfaat

untuk dapat menegakkan diagnosa secara lebih cepat (Sandjaja dan Kruyt,

1995).

a. Pemeriksaan bakteriologis

Dapat dilakukan dari spesimen :

1) pus atau nanah

2) liquor cerebro spinalis

3) sputum

4) cucian lambung

5) urine

6) tinja

(Pusdiknakes, 1989)

Pemeriksaan bakteriologis meliputi :

1) Mikroskopis

Cara yang paling tepat untuk mendiagnosa tuberkulosis

adalah menemukan BTA di sputum (Sandjaja dan Kruyt,

1995).Pemeriksaan sputum penting karena dengan ditemukannya

kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan.

Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di

lapangan (Puskesmas) (Soeparman dan Waspadji, 1990).

Kuman M. tuberculosis agak sulit untuk diwarnai, tetapi

sekali berhasil diwarnai, sulit dihapus dengan zat asam. Oleh

karena itu disebut kuman batang tahan asam (BTA). Sifat tahan
11

asam ini karena sifat dinding sel yang tebal yang terdiri dari

lapisan lilin dan lemak yang terdiri dari asam lemak mikolat

(FKUI, 1994).

Tehnik pewarnaan khusus untuk BTA disebut pewarnaan

tahan asam, mula-mula dikembangkan oleh Paul Ehrlich pada

tahun 1882 ketika meneliti M. tuberculosis yang disebut pewarnaan

Ziehl Neelsen. Tehnik ini kemudian mengalami modifikasi,

perlakuan panas diganti dengan penggunaan pembasah yang

disebut pewarna Kinyoun sehingga pewarnaan ini disebut

pewarnaan Kinyoun Gabbet atau Tan Thiam Hok

(Hadioetomo,1985).Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan

sediaan langsung dengan mikroskop fluoresens (pewarnaan

khusus) (Soeparman dan Waspadji, 1990).

Pada pewarnaan cara Ziehl Neelsen dan Tan Thiam Hok

kuman berwarna merah dengan latar belakang berwarna biru. Pada

pewarnaan fluorokhrom kuman berflouresensi dengan warna

kuning orange (FKUI, 1994).

Pembacaan hasil sediaan sputum dilakukan dengan

menggunakan skala IUATLD sebagai berikut :

a) Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut

negatif

b) Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis

jumlah kuman yang ditemukan


12

c) Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang,

disebut + atau (+)

d) Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +

+ atau (++)

e) Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++

+ atau (+++)

Kuman baru dapat dilihat di bawah mikroskop bila

jumlahnya paling sedikit 5.000 kuman dalam satu mili-liter dahak

(DEPKES RI, 2002). Pada pemeriksaan ini harus diperhatikan

bahwa yang dikumpulkan adalah massa purulen dan bukan ludah.

Bila dicurigai tuberkulosis, dahak pertama yang dikeluarkan di

pagi hari adalah yang paling mungkin mengandung basil tuberkel

(Hare, 1993).

2) Biakan

Digunakan media Dubos, Lowenstein Jensen dan Petroff

(Pusdiknakes, 1989).

Bahan pemeriksaan yang sudah dipekatkan ditanam dalam

perbenihan Lowenstein Jensen. Kuman tuberkulosis tumbuh dalam

waktu 4 minggu sampai 8 minggu pada suhu 37 0C. Jika dalam

waktu 8 sampai 12 minggu tidak ada pertumbuhan, barulah

diberikan hasil negatif. Koloni yang tumbuh diperiksa dengan

membuat sediaan apus yang diwarnai secara Ziehl Neelsen (Gupte,

1990).
13

3) Hewan percobaan

Digunakan marmut yang disuntik dengan bahan

pemeriksaan secara intramuskular pada paha marmut (Gupte,

1990).

4) Tes biokimia

Tes biokimia yang penting untuk identifikasi kuman ini

adalah:

a) uji niasin

b) aril sulfatase

c) uji merah netral

d) uji katalase

e) reduksi nitrat

f) uji amidase (Gupte, 1990)

5) Tes resistensi terhadap obat

Obat yang dites adalah PAS, INH dan streptomycin

(Pusdiknakes, 1989).

b. Pemeriksaan rontgen/radiologis

Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang

praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis (Soeparman dan Waspadji,

1990). Pemeriksaan ini memungkinkan dugaan yang lebih dini akan

adanya proses tuberkulosis di paru. Gambaran rontgen sudah tampak

2-3 tahun sebelum ada gejala klinik (Amin dkk, 1993).


14

c. Pemeriksaan klinis

Sebagian penderita tuberkulosis tidak menunjukkan gejala,

oleh karena itu dalam menegakkan diagnosa berdasarkan gejala akan

sangat menyesatkan. Walaupun demikian arti anamnesa dan

pemeriksaan klinis sangat besar bagi penentuan penderita tersangka

(Sandjaja dan Kruyt, 1995).

d. Pemeriksaan imunologis

Suatu tes yang baik, murah dan mudah dilaksanakan, namun

dengan pesatnya perkembangan khemoterapi tuberkulosis maka tes

serologis di dalam klinik menjadi kurang penting artinya (Sandjaja dan

Kruyt, 1995).

e. Tes tuberkulin

Biasanya dipakai cara Mantoux. Biasanya hampir seluruh

penderita tuberkulosis memberikan reaksi Mantoux yang positif

(99,8%). Kelemahan tes ini juga terdapat positif palsu pada pemberian

BCG. Negatif palsu lebih banyak ditemui daripada positif palsu. Hal-

hal yang menyebabkan reaksi tuberkulin berkurang yakni :

 Penderita yang baru 2-10 minggu terpapar

tuberkulosis.

 Anergi, penyakit sistemik berat (Sarcoidosis, LE).

 Penyakit exanthematous dengan panas yang akut :

morbili, cacar air, cacar, poliomeilitis.


15

 Reaksi hipersensitifitas menurun pada penyakit

limforetikuler (Hodkin).

 Pemberian kortikosteroid yang lama, pemberian

obat-obat imunosupresi lainnya.

 Usia tua, malnutrisi, uremia, penyakit keganasan

(Soeparman dan Waspadji, 1990).

9. Prognosa

Sebagian besar dari penderita yang tidak begitu parah dapat

diobati, paling tidak prosesnya dihambat dengan obat-obat kemoterapi

modern. Tetapi selain dari kegagalan paru, pada beberapa kasus perjalanan

penyakit terus memburuk sehingga terjadi “destroyed lung”, suatu keadaan

yang dulu dinamakan Phtysis gallopans (sangat kurus dan lemah) (Situea

dkk, 1992).

10. Pencegahan

Tuberkulosis dapat dicegah dengan memperbaiki cara hidup dan

kesehatan umum (Pelczar dan Chan, 1988). Cara yang paling utama untuk

mencegah terjadinya penularan adalah menemukan penderita yang aktif

atau sputumnya positif BTA (Soedarto, 1995).

Pemberian vaksin BCG merupakan tindakan yang paling praktis

untuk mencegah tuberkulosis (Soedarto, 1995). Vaksin BCG (Bacillus

Calmette Guerin) terutama diberikan untuk anak-anak yang berusia kurang

dari 14 tahun, karena mereka peka terhadap serangan tuberkulosis

(Pusdiknakes, 1989).
16

11. Pengobatan

Daya musnah obat ditentukan oleh :

a. Dosis

b. Cara pemberian

c. Kadar puncak obat dalam serum darah

d. Daya penembusan obat ke dalam sel (Amin dkk, 1993).

Obat yang digunakan :

a. Pengobatan pertama : Streptomycin, INH dan PAS.

b. Pengobatan kedua : Ethionamid, pyraxinamid, cycloserin,

viomycin dan ethambutol (Pusdiknakes, 1989).

B. Masalah Tuberkulosis

Tuberkulosis masih merupakan masalah bagi manusia, baik bagi

dunia maupun Indonesia.

1. Masalah Dunia

a. Mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi sepertiga penduduk

dunia.

b. Pada tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit

tuberkulosis, karena pada sebagian besar negara di dunia, penyakit

tuberkulosis tidak terkendali. Ini disebabkan banyaknya penderita yang

tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular (BTA positif).

c. Pada tahun 1995, diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9 juta

penderita baru tuberkulosis dengan kematian 3 juta orang. Di negara-


17

negara berkembang kematian karena tuberkulosis merupakan 25% dari

seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95%

penderita tuberkulosis berada di negara berkembang, 75% penderita

tuberkulosis adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun).

d. Munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia, diperkirakan akan

menyebabkan penderita tuberkulosis meningkat.

e. Kematian wanita karena tuberkulosis lebih banyak daripada kematian

karena kehamilan, persalinan dan nifas.

2. Masalah Indonesia

Penyakit tuberkulosis merupakan masalah utama kesehatan

masyarakat :

a. Tahun 1995, hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)

menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab

kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit

saluran pernapasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu dari

golongan penyakit infeksi.

b. Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus

baru tuberkulosis dengan kematian karena tuberkulosis sekitar

140.000. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia

terdapat 130 penderita baru tuberkulosis paru BTA positif (DEPKES

RI, 2002).

c. Menurut data Dinas Kesehatan Tingkat I , jumlah kasus baru TB paru

di Propinsi Kalimantan Selatan menunjukkan peningkatan setiap


18

tahunnya, yaitu 1.555 kasus pada tahun 2001, 2.129 kasus pada tahun

2002 dan 2.217 kasus pada tahun 2003.

d. Dari data Dinas Kesehatan Tingkat I, jumlah kasus baru TB paru di

Kabupaten Banjarmasin menunjukkan peningkatan setiap tahunnya,

yaitu 247 kasus pada tahun 2001, 320 kasus pada tahun 2002 dan 407

kasus pada tahun 2003.